VENUS

(Novel Remake by Phoebe)

HUN-HAN

Genderswicth

Happy Reading :) :)


Luhan berusaha menyimpan baik-baik nasihat Kris dalam otaknya. Tentu saja kedua hal itu menguntungkan bagi Luhan. Bila akhirnya dia dan Sehun akan menikahpun, Sehun seharusnya mengubah sikapnya. Ia tersenyum sekilas lalu berterima kasih dan keluar dari mobil sambil memeluk map-mapnya. Flatnya tidak memiliki lift, jadi Luhan harus menaiki anak tangga satu persatu hingga ia sampai di lantai tiga dimana dirinya dan Baekhyun tinggal. Ada perasaan aneh saat dirinya dan Kris berbincang-bincang tadi, ucapan Kris membuat Luhan diliputi perasaan yang misterius. Luhan berhenti melangkah. Ponselnya berdering dan itu adalah telpon dari Baekhyun, teman serumahnya.

"Kau dimana? Kenapa pulangnya lama?" Baekhyun menyerang seketika sebelum Luhan sempat berbicara.

"Aku lembur dan harus mengerjakan banyak pekerjaan hari ini. Tapi aku akan berada di depan pintu dalam waktu kurang dari semenit!"

"Baiklah!" Baekhyun lalu menutup telpon.

Luhan sekarang benar-benar sudah berhenti di depan pintu flatnya dan bersiap masuk. Sekilas ia melirik ke flat sebelah yang lampunya masih menyala terang. Ia kenal dengan wanita yang tinggal disana, wanita itu tidak pernah menyalakan lampu sebelum tengah malam karena ia baru pulang bekerja pada jam-jamnya orang tidur. Ia mengangkat bahu, mungkin wanita Prancis yang bernama Solaire itu sedang tidak bekerja hari ini.

"Selamat datang!" Baekhyun membukakan pintu dengan riang lalu memeluk Luhan erat-erat. "Kau jahat sekali, kenapa tidak memberitahu padaku?"

Sebelah alis Luhan terangkat, ia tidak mengerti dengan apa yang Baekhyun katakan. Luhan harus memberi tahunya tentang apa? Tapi begitu melihat Sehun berdiri dibelakang Baekhyun, Luhan rasa ia tau apa yang Baekhyun maksud. Yang jelas saat ini Luhan sama sekali tidak tau harus menjawab apa, dia hanya menunggu sampai Baekhyun melepaskan pelukanya dan memandang Sehun yang medekatinya.

"Kenapa kau tidak minta di jemput, aku pasti menjemput!"

Luhan berdesis samar mendengar ucapan manis Sehun barusan.

"Aku pulang bersama…" Sepertinya Luhan tidak bisa mengatakan kepada Sehun kalau dirinya pulang bersama Kris. Bagaimana bila Sehun sampai punya ide untuk meminta Kris memberitahunya kapan dan jam berapa Luhan pulang lalu membayar orang untuk menculik, memukuli, lalu membuangnya ke laut? Luhan mengerjapkan matanya. Mungkin pikiran anehnya sudah sangat keterlaluan.

"Siapa?" Sehun membantu Luhan membuyarkan lamunanya.

"Supir taksi!"

Sehun lagi-lagi tersenyum misterius. Senyum yang sama dengan senyuman yang membuat Luhan tidak bisa berfikir seperti waktu itu. Ia membenci keadaan seperti ini, dan membenci Sehun. Laki-laki itu selalu berhasil membuatnya merasa bodoh dan kehilangan akal sehingga ia merelakan Sehun menggenggam tanganya begitu saja. Luhan berusaha memulihkan kembali indranya dan berhasil, tapi hanya sementara. Ia kembali bingung saat melihat tangan Sehun sudah menyelipkan sebuah cincin di jarinya. Sebuah cincin bermata ruby merah yang bersinar-sinar di terangi lampu.

"Maaf karena aku terlambat memberikan cincin pertunangan kita." Sehun kemudian mengangkat tanganya dan memperlihatkan cincin dengan model serupa tanpa ruby.

"Apa maksudmu!"

"Memangnya apa lagi?" Sehun tersenyum lagi sehingga membuat Luhan merasa lumpuh. Ia mencium kening Luhan dengan mesra.

"Terimakasih atas semuanya. Kau sudah berhasil membuatku tidak bisa berhenti memikirkanmu." Ia mengedipkan mata.

Luhan tau kalau kedipan itu menjurus pada saat dimana Sehun melepaskan seluruh tali camisole yang dikenakanya pada weekend kemarin. Laki-laki itu benar-benar menerimanya? Jadi Kris sebenarnya sedang memberi petunjuk tentang hal ini kepadanya.

"Aku tidur dulu, karena besok pagi harus segera bekerja!"

"Kau yakin dengan ini?"

"Kenapa? Karena aku dicintai banyak wanita? Kau takut terserang cemburu setiap waktu? Kebiasaanku mungkin tidak bisa hilang begitu saja, tapi setidaknya aku akan berusaha menguranginya!"

"Aku tidak suka berbagi hal yang sudah menjadi milikku."

Sehun merespon ancaman Luhan dengan angkat bahu. "Baiklah, selama kau mengenakan cincin itu berarti Aku adalah milikmu dan begitu juga sebaliknya!" Kali ini Sehun benar-benar meninggalkanya untuk masuk ke Flat sebelah.

Luhan masih setengah sadar saat Baekhun menariknya kedalam rumah dan memaksanya untuk duduk di sofa ruang tengah. Sehun benar-benar menerima perjodohan itu? Luhan mencubit lenganya dan meringis sakit. Ia tidak bermimpi. Laki-laki itu mengatakan kalau dia menjadi milik Luhan dan begitu juga sebaliknya sebelum memasuki flat sebelah. Flat nyonya Solaire. Tunggu dulu, flat nyonya Solaire? Apa yang dilakukanya disana? Jangan katakan kalau nyonya Solaire juga selirnya!

"Apa yang dilakukanya disini, apa hubunganya dengan nyonya Solaire?" Luhan bertanya kepada Baekhyun yang sudah kembali duduk disebelahnya sambil membawakan segelas air putih dan memberikanya kepada Luhan. "Jangan katakan kalau dia dan nyonya Solaire…apa yang dia fikirkan?"

"Apa yang kau fikirkan?" Baekhyun tergelak. "Kau jangan berprasangka buruk, dia pindah ke flat sebelah sore ini dan wanita Prancis itu sudah pergi pada jum'at lalu. Makanya jangan pulang terlalu malam, kau jadi ketinggalan banyak informasi. Katanya dia tidak ingin jauh darimu."

"Apakah dia gila?"

"Tentu saja ku fikir dia gila saat dia mengatakan kalau kau sudah bertunangan denganya mengingat kalian berdua bermusuhan. Saat ku tanya apakah terjadi sesuatu, dia hanya tersenyum. Artinya iya kan? Memang terjadi sesuatu dengan kalian berdua kan?"

Luhan mengerang. Sepertinya hidupnya memang tidak akan pernah tenang, dia akan sibuk memikirkan masalah ini dan mungkin tidak akan tidur semalaman. Luhan memandangi map-map yang ada disampingnya, ia tidak yakin akan menyentuhnya malam ini.

"Ibuku memaksaku untuk menikah dengannya, hanya itu! Dan aku tidak yakin kalau pertunangan ini bisa bertahan lama karena aku bisa saja membunuhnya kalau melihat laki-laki itu membawa perempuan lain ke flatnya. Kau taukan? Kalau aku tidak suka membagi milikku!"

Lagi-lagi Baekhyun tertawa. Semua perkataan Luhan terdengar lucu baginya malam ini. "Aku tau, itu yang mendasari alasanmu tidak menyukainya. Ayolah, siapa yang tidak bisa menolak laki-laki sepertinya? Tampan, kaya, berprestasi, semua wanita akan mendekatinya dan laki-laki yang seperti dia bukan hanya Oppa seorang. Aku percaya Oppa orang yang baik!"

"Oppa ? Kau memanggilnya Oppa ?" Luhan memutar bola matanya.

Kelihatanya Baekhyun benar, tidak ada seorang wanitapun yang bisa menolak Oh Sehun dengan segala pesonanya. Termasuk Baekhyun sendiri yang kelihatanya juga mengagumi Sehun tanpa disadarinya. Tapi apa yang terjadi pada Baekhyun sekarang setelah ia memberikan dukungannya pada Luhan untuk memerangi Sehun selama ini? sebagai seorang dokter kandungan bukan sekali dua kali dia mengeluh karena banyak sekali wanita yang datang untuk mengugurkan kandungannya dan itu disebabkan oleh Sehun. Laki-laki yang seperti dia cukup banyak, dan Kris juga mengatakan hal yang sama. Benarkah Kris juga laki-laki dengan jenis yang sama seperti Oh Sehun? Luhan mendengus kesal, meletakkan gelasnya diatas meja kemudian membawa map dan tasnya kedalam kamar. Untuk beberapa saat ia memandangi cinicin pertunanganya yang di berikan oleh Sehun barusan. Melihat itu malah semakin membuatnya marah sehingga Luhan melepas cincin itu dan melemparkanya kedalam laci meja tulis di sudut ruangan.

.

.

.

.

Bertemu dengan Sehun setiap hari adalah beban yang penuh dengan penderitaan. Pagi hari, Luhan harus berusaha sebisa mungkin untuk bangun lebih pagi dan berangkat kerja lebih awal asalkan tidak bertemu dengan laki-laki itu. Pada malam hari saat Baekhyun ada dirumah, Luhan tidak bisa menolak untuk melihat Sehun dan Baekhyun mengobrol dan dirinya hanya bisa diam agar Sehun sadar bahwa Luhan tidak suka dengan kehadiranya. Belum lagi sikap-sikap tidak menyenangkan yang harus di terimanya. Sehun selalu menggodanya meskipun dengan sesuatu yang kecil. Menggenggam tangan misalnya, dan laki-laki itu selalu melakukanya setiap kali dia datang kerumah dengan membawa berkaleng-kaleng minuman dan tidak akan pulang sampai semuanya habis. Selama itu, Luhan harus merelakan tanganya untuk terus berada dalam genggaman Sehun. Menolak adalah kata-kata yang paling kuat yang pernah terfikirkan tapi tidak pernah sanggup untuk Luhan lakukan. Tapi selama semuanya itu tidak mengganggunya tidak akan pernah jadi masalah, Sehun pun tidak datang setiap hari kerumahnya dan terkadang seminggu penuh Sehun tidak akan Luhan lihat sepulang kerja.

Mengenai Sehun dan banyak perempuan-perempuanya, tidak pernah membuat Luhan pusing seperti hari ini. Luhan berusaha menutupi telinganya dengan bantal karena laki-laki itu mengeluarkan suara-suara aneh yang membuatnya tidak nyaman. Dia sedang bercinta, tentu saja begitu. Luhan mengambil i-pod di laci meja tulis dan berusaha mengalihkan pendengaranya ke beberapa jenis musik yang mungkin bisa membantu. Tidak berhasil, karena Luhan tidak bisa berkonsentrasi bila ada keributan. Mengerjakan pekerjaanya sambil mendengarkan musik sepertinya bukan ide bagus. Baekhyun membuka pintu kamar Luhan dan mematikan I-pod yang membuat pekerjaan Luhan malah semakin kacau. Bunyi musik berhenti dan desahan-demi desahan kembali mengganggu.

"Aku tidak bisa tidur!" Baekhyun berbisik. "Mereka keras sekali, membuatku iri!"

Mata Luhan membesar mendengar pernyataan Baekhyun barusan. "Iri?"

"Sikapmu seperti seseorang yang tidak pernah melakukanya saja!" Baekhyun berbisik polos.

Mendengar itu Luhan mengerang. Bukan masalah itu yang mengganggu, ia sama sekali tidak iri! pekerjaan yang sedang dikerjakanya kali ini benar-benar sudah deadline dan ia bahkan belum mengerjakanya lebih dari enam puluh persennya. Luhan bahkan tidak yakin akan selesai dalam tiga hari kedepan. Sekarang apa yang terjadi? Pekerjaanya di ganggu oleh suara-suara berisik tunanganya yang bercinta dengan wanita lain pada tengah malam seperti ini?.

"Aku akan memberinya pelajaran!"

Ia kemudian mengaduk-aduk meja tulisnya dan menemukan cincin bermata ruby, cincin tunanganya. Setelah mengenakanya, Luhan beranjak pergi ke flat sebelah. Baekhyun terperangah tak menyangka saat melihat Luhan menggedor-gedor pintu flat Sehun dengan brutal, kelakuanya ini bisa membangunkan semua tetangga. Untungnya tidak perlu waktu yang lama bagi Baekhyun untuk merasa tidak enak karena Sehun segera keluar hanya dengan menggunakan celana pendeknya. Laki-laki itu memandang mereka gusar.

"Untuk apa mengganggu malam-malam begini?"

Luhan tidak menjawab, ia langsung masuk kedalam flat Sehun tanpa permisi. Baekhyun hanya bisa angkat bahu saat Sehun memandangnya penuh tanya dan secepat mungkin menyusul Luhan masuk ke kamar pribadi Sehun. Xi Luhan sedang menarik rambut seorang wanita yang hampir bugil di atas tempat tidur. Mulutnya dengan kejam mencaci maki, pemandangan yang langka. Luhan sudah lama sekali tidak mengeluarkan kata-kata sadisnya. Wanita itu mencoba berontak tapi tidak begitu kuat, hasrat sudah membuatnya melemah.

"Jangan pernah kau mencoba datang lagi atau mendekati tunanganku!" Luhan berteriak. Ia memperlihatkan cincin di tanganya yang mirip dengan cincin yang dikenakan Sehun. "Sekarang cepat kenakan pakaianmu atau kau, ku usir dalam keadaan setengah telanjang seperti sekarang!"

Wanita itu memandang Sehun gugup, tapi melihat Sehun tidak melakukan apa-apa dan kelihatanya ia kecewa. Secepat mungkin ia berusaha mengenakan pakaianya dan segera berlari keluar flat sambil menangis. Malam ini dia sudah di permalukan, mustahil bila dia tidak merasa kecewa kepada Oh Sehun yang bahkan tidak membelanya. Xi Luhan tersenyum menang lalu mengangkat wajahnya dihadapan Sehun.

"Aku sudah bilang kan? Aku tidak suka berbagi hal-hal yang menjadi milikku. Seharusnya kau menyesal karena menerima perjodohan itu!"

Sehun memandangnya penuh dendam. Wanita ini sudah mengganggu privasinya dengan cara yang luar biasa, mungkin diluar pintu flatnya ada beberapa orang yang berkerumun untuk melihat keributan yang sudah di timbulkan Luhan.

"Kenapa tiba-tiba kau merasa terganggu?"

"Karena suara kalian mengganggu pekerjaanku!" Luhan membentak. "Aku harap untuk tiga hari kedepan kau tidak mengganggu pekerjaanku dengan ini. Kalau hasratmu tidak bisa ditahan, kenapa tidak kau bawa saja wanita-wanita itu ke hotel?" Ia beranjak pergi kembali ke flatnya dan menyeruak kerumunan orang.

Sehun mendesah kesal. Hari ini Luhan sudah mempermalukanya dan dia tidak akan tinggal diam. Ia mengambil kimononya dan mengganjal pintu flat sebelum Luhan menutupnya.

"Aku bersumpah kau tidak akan pernah bisa bekerja dengan tenang tanpa memikirkan aku!" desisnya.

Luhan terdiam beberapa detik, lalu berusaha menutup pintu flatnya dengan kasar. Sesegera mungkin ia kembali kekamarnya dan tidur lebih cepat dari rencana. Ia harap besok bisa mengerjakan semuanya dengan lebih baik. Sayangnya keributan itu tidak bisa membuat Luhan tidur begitu saja sehingga ia harus bangun kesiangan dan memakan hamburger sebagai sarapan sambil berlarian mengejar taksi.

.

.

.

.

"Kau lembur lagi malam ini? Mau ku buatkan kopi?"

Baekhyun meyapanya saat Luhan baru saja memasuki pintu kamarnya. Luhan sudah berusaha mengerjakan semua pekerjaan yang tersisa di kantor hingga ia harus pulang malam hari ini. Setidaknya, pekerjaan hanya tersisa sedikit dan dirinya bisa tidur tepat jam sembilan malam ini. Luhan membuka Blazer abu-abu dan roknya, lalu segera duduk diatas kursi meja tulis.

"Boleh, kalau tidak merepotkan!"

Baekhyun beranjak ke dapur dan kembali beberapa menit kemudian dengan secangkir kopi. Ia kelihatanya akan menemani Luhan seperti biasa sambil membaca novel. Tidak kurang dari setengah jam kemudian suara gaduh di ruangan sebelah terdengar lagi. Luhan dan Baekhyun saling pandang, lalu menyeringai.

"Telpon saja! Minta dia mengecilkan suaranya!"

Luhan mengambil tas Gucci-nya dan merogohnya beberapa saat. Tapi ia sama sekali tidak menemukan ponselnya. Ia berusaha mengingat-ingat dimana benda itu di letakkannya. Tapi Luhan tidak bisa mengingat apa-apa.

"Dimana ya?"

"Apa?"

"Ponselku! Coba kau telpon, semoga saja deringnya bisa membantuku untuk menemukanya!"

Baekhyun merogoh sakunya dan memainkan ponselnya dengan segera. Ia mencoba menelpon ponsel Luhan tapi tidak ada bunyi. Luhan menggeleng,

"Tidak ada bunyinya kan? Tapi ponselmu masih aktif memangnya kau tinggalkan dimana?"

Luhan kembali berusaha mengingat-ingat. Suara-suara di flat sebelah semakin Intents dan membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Ia mengerang, Luhan tidak tahan lagi dan Sehun harus siap bila kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi. Ia kembali merogoh mejanya dan berusaha menemukan cincin pertunanganya. Setelah memakainya Luhan melangkah keluar kamar.

"Kau mau kemana?" tanya Baekhyun keras.

"Kemana lagi?"

"Dengan pakaian seperti itu?"

Luhan memandang tubuhnya dengan cepat. Ia hanya menggunakan camisole sutra berwarna oranye dengan renda tebal yang meliputi bagian dadanya. Celana pendek skin-fit dengan warna senada menyelaraskan penampilanya. Meskipun ia terlihat cantik, Luhan tidak akan mengenakan pakaian seperti ini bahkan untuk keluar kamar seperti yang sekarang di lakukanya tanpa sadar. Sehun membuatnya kesal. Secepat mungkin ia meraih kimono sutra marun yang tergantung dibelakang pintu lalu mengenakanya.

"Baek, kau mau ikut?"

Baekhyun menggeleng. "Aku akan mencari ponselmu saja!"

"Baiklah,"

Luhan melangkah dan langkahnya terhenti lagi saat Baekhyun memanggil namanya.

"Luhan ! Cobalah untuk tidak membuat keributan kali ini. Jangan sampai tetangga-tetangga kita terganggu dan mengusir kita keluar malam ini juga!"

Mendengar itu setidaknya Luhan masih bisa tersenyum. Ia berjalan cepat dan mengetuk pintu flat Sehun lebih sopan. Tapi kesopanan membuatnya menunggu lebih dari semenit hingga akhirnya Sehun membuka pintu dan menatap Luhan dengan malas.

"Aku baru saja memulainya. Tidak bisakah kau menunggu sampai aku selesai?" Ujar Sehun geram.

"Kau menggangguku! Jadi ini caramu membuatku mengerjakan pekerjaan yang menumpuk dengan mengingatmu? Tuan Oh, ini tidak akan berpengaruh apa-apa."

"Lalu kenapa kau kemari?"

"Karena kau menggangguku dengan cara yang sama, aku pastikan akan menyelesaikanya dengan cara yang sama juga!" Luhan baru saja memutuskan untuk masuk kedalam kamar, tapi wanita baru yang berbeda lagi keluar dan menghampiri mereka. Pakaianya masih lengkap hanya terlihat sedikit lebih kusut saja.

"Ada apa ini?" tanyanya sopan. "Apa kami mengganggu?"

"Nona, bisakah kau meninggalkan tempat ini?" Kali ini Luhan lebih tenang. Lawan bicaranya sekarang kelihatanya bukan wanita murahan yang biasa Sehun bawa ke flat seperti sebelumnya. "Karena Oh Sehun adalah tunanganku!"

"Benarkah?" wanita itu kelihatan cukup terkejut, ia memandang Sehun heran. "Betul begitu?" Sehun mengangguk lemah.

"Tapi bukan berarti aku terlarang untuk melakukan ini kan?"

Wanita itu memegangi kepalanya. "Tapi tunanganmu kelihatanya tidak berfikir begitu! Aku tidak bisa meneruskan ini kalau harus menyakiti hati perempuan lain!"

Luhan berdesis sinis. Dia takut menyakiti perempuan lain? Tentu saja, Sehun sudah menipunya karena wanita itu kelihatanya tidak tau bahwa laki-laki yang hampir saja tidur denganya sudah bertunangan. Meskipun tampaknya sangat kecewa, wanita itu tetap berjalan anggun menuju kamar dan kembali dengan high heels dan mantelnya. Sebelum pergi ia meminta maaf setulus hati kepada Luhan dan mengatakan kalau ia tidak bermaksud untu merebut tunanganya. Mendapat reaksi seperti itu Luhan merasa tidak enak, sebisa mungkin Luhan berusaha untuk tersenyum dengan hormat dan memandangi wanita itu hingga bayanganya menghilang.

"Kali ini apa?" Sehun menatapnya geram.

"Kau lihat sekarang jam berapa? Jam delapan malam dan kau melakukan hal seperti itu pada jam-jam seperti ini dengan suara keras? Apa kau tidak malu di dengar tetangga yang lain?"

"Kau merasa terganggu?"

"Tentu saja. Karena aku tidak suka berbagi hal yang sudah menjadi milikku. Kau akan menderita dengan keputusanmu untuk bertunangan denganku! Berhentilah berpura-pura, katakan kepada pamanmu kalau pertunangan kita tidak bisa dilanjutkan lagi dan pergi dari hidupku!"

Sehun menarik tangan Luhan dengan kasar lalu memandang cincin bermata merah yang bersarang dengan indah di jari manisnya.

"Bagaimana bunyi perjanjian kita? Selama kau memakai cincin ini aku adalah milikmu, tapi kau selalu menggunakan cinicin ini pada saat kau ingin menggangguku!" Sehun kemudian mendekatkan tangan Luhan kemulutnya lalu menggigit cincin itu sehingga jari manis Luhan benar-benar terjepit, gadis itu berteriak kesakitan.

"Kau melupakan satu hal, Nona Xi ! Selama kau mengenakan cincin ini, kau juga milikku!"

Luhan terpaku, ia hanya bisa memandangi Sehun yang menutup pintu flat dengan kakinya sehingga menimbulkan bunyi debuman yang keras. Laki-laki itu tersenyum untuk pertama kalinya hari ini di hadapan Luhan dan seperti biasa senyuman itu membuatnya kehilangan akal tapi tidak cukup membuatnya bodoh dan tidak melawan saat Sehun melepaskan kimononya dengan paksa. Sehun tidak berhasil, setiap kali ia melangkah maju Luhan akan mundur dan menjaga jarak. Setidaknya sampai punggung Luhan menyentuh dinding di sebelah pintu kamar pribadi Sehun yang agak terbuka. Ia menelan ludah lalu berusaha memegangi leher kimononya saat wajah Sehun semakin mendekat.

"Kenapa, Nonan Xi ? Kau ingin melakukanya di dalam kamar? Kurasa tidak perlu karena ruangan ini cukup luas untuk kita jelajahi!"

Luhan benar-benar terkesiap saat lengan Sehun merangkul punggungnya, kedua tanganya yang tadi berada di leher sekarang sudah jatuh tertelungkup di dada Sehun. Luhan berusaha untuk protes tapi kata-katanya berhasil di rampas oleh Sehun saat laki-laki itu menemukan bibirnya dan segera melumatnya dengan liar, Luhan ingin berteriak tapi Sehun cukup pandai mengambil kesempatan dengan menjejalkan lidahnya memenuhi rongga mulut Luhan. Gadis itu bersumpah ia sedang berusaha melawan, tapi tubuhnya sangat lemah dan semua sentuhan Sehun pada akhirnya membuatnya menyerah. Ia merelakan saat kimononya ditanggalkan dari tubuhnya dan membalas cumbuan Sehun sebisanya. Sebelah lengan Sehun menekan punggungnya agar Luhan tidak mundur dan bisa lebih rapat lagi menempel padanya. Bukan hanya itu, tanganya yang satu lagi mengangkat pinggul gadis itu agar sejajar dengan bagian tubuhnya yang mengeras di pangkal paha. Kaki Luhan bahkan tidak lagi menginjak lantai, Sehun cukup kuat untuk membuatnya menggeliat merasakan sensasi sensual yang sangat tidak bisa dielakkan. Tapi perilaku Sehun berhenti saat mendengar pintu di ketuk kencang, ia melepaskan rangkulanya dari Luhan dan membiarkan gadis itu mengenakan kimono sutranya kembali. Setelah itu, Sehun bergegas membuka pintu dan menatap Kris dengan kesal. Sepupunya datang diwaktu yang sangat tidak tepat. Kris menyadari pandangan tidak suka Sehun kepadanya, melihat penampilannya, Kris tau kalau sepupunya itu sedang melakukan sesuatu dengan seorang perempuan. Tapi Kris tidak perduli, ia tetap melangkah masuk dan tekejut saat melihat Luhan dalam keadaan yang sangat kusut. Sekali lagi ia memandang Sehun, tapi kali ini dengan tatapan tak percaya. Kris berusaha untuk tidak melihat Luhan, tapi tidak bisa. Walau bagaimanapun ia bisa melihat Luhan yang mendekati Sehun dengan pandangan yang sangat kejam lalu berujar kasar.

"Jaga mulutmu, Tuan Oh ! Jangan sampai hal seperti itu terjadi lagi!" Sehun tersenyum sinis.

"Jangan pernah berharap, Venus! Aku bisa saja melakukanya lagi bila kau terus menggangguku!"

"Benarkah? Aku bersumpah akan membuatmu tidak bisa meniduri perempuan manapun bila kau melakukan hal yang nakal lagi kepadaku!" Luhan melangkahkan kakinya dengan kesal tanpa memandang Kris lagi. Ia malu karena sudah membiarkan Sehun melakukanya. Apa yang terjadi padanya sehingga ia menghentikan perlawananya? Apakah dia sudah gila karena menikmati semua perlakuan Sehun tadi? Luhan membanting pintu kamarnya kesal dan menelungkupkan tubuhnya diatas ranjang. Sedangkan Sehun, dia sendiri sulit menerima kalau ia sudah memperlakukan Luhan dengan cara seperti itu. Ini pertama kalinya Sehun memaksa seorang perempuan karena semua wanita mendekatinya tanpa paksaan, mencumbunya tanpa paksaan dan…

Sehun tidak bisa melanjutkan fikiranya lagi, ia sudah cukup terkejut dengan perasaan yang timbul karena permainan itu. Semua hal yang di maksudkan untuk sekedar mempermainkan Luhan benar-benar sudah berubah menjadi gairah yang seharusnya tersalurkan dengan serius seandainya Kris tidak datang malam ini. Sehun memandang Kris yang sejak tadi hanya diam membisu.

"Kau kenapa? Jangan berfikir yang tidak-tidak! Aku hanya membalasnya karena Xi Luhan sudah dua kali mengusir kekasihku dalam seminggu!"

"Kau membalasnya dengan apa? Kau tidak memukulnya kan?"

"Aku mana mungkin memukul wanita! Kau kesini untuk apa?"

Kris menyerahkan sebuah undangan padanya. "Undangan pernikahan dari Kyungso dan Jongin, dikirimkan ke rumah. Ibumu juga menelponku dan memintamu untuk segera menghubunginya. Lalu aku juga ingin mengembalikan ini!" Kris mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya. "Ponsel milik Luhan. Tertinggal di mobilku dan melihatnya tadi sepertinya aku tidak akan berani mengganggunya malam ini! Aku harap kau bisa memberikan kepadanya besok pagi!"

"Di mobilmu?" Dahi Sehun berkerut, sepertinya salah satu perkataan Kris sangat menarik perhatianya. Bukan tentang pernikahan Kyungsoo dan Jongin sahabatnya, bukan juga tentang telpon dari Ibunya melainkan cerita tentang ponsel Luhan yang tertinggal di mobilnya.

"Kau sering mengantar jemput Venus-ku? Kau ini sedang berkhianat ya? Berani-beraninya kau mengganggu tunanganku!"

"Mengganggu apanya? Aku cuma berusaha berbaik hati memberinya tumpangan karena dia selalu datang pagi dan pagi hari sangat sulit untuk menemukan taksi di daerah ini. Aku mengantarnya pulang juga karena alasan kesopanan, mana mungkin aku membiarkan seorang gadis pulang sendirian sedangkan langit sudah gelap!" Kris berusaha mengelak. Alasanya tentu saja lebih dari itu, tapi mendengarkan Sehun memanggil Luhan dengan sebutan Venus-ku membuatnya berusaha untuk menutupi perasaanya yang sebenarnya.

"Besok jangan kau lakukan lagi! Aku yang akan melakukanya!" Sehun berkata datar.