VENUS

(Novel Remake by Phoebe)

HUN-HAN

Genderswicth

Happy Reading :) :)


Apa yang sedang Luhan lakukan? Dia bahkan belum keluar dari flatnya sedangkan matahari sudah semakin meninggi. Padahal Sehun sudah dengan susah payah mengusahakan dirinya agar bisa bagun pagi demi mengantar Luhan ke kantor. Demi Tuhan, Sehun sama sekali tidak mengerti apa yang sudah terjadi padanya saat ini sehingga bertindak bodoh dan mau menunggu seorang perempuan dalam waktu yang sangat lama. Ia terus menggerutu mengutuki dirinya sendiri dan juga mengutuki wanita itu, tapi kaki-kakinya masih terpaku di depan gedung flat seolah-olah sudah di lem dengan sangat kuat. Luhan akhirnya keluar dan melewatinya begitu saja dengan penampilan yang agak berbeda. Kemeja berlengan panjang dan sebuah rok ketat selutut membuatnya terlihat lebih manis dari biasanya. Selebihnya masih sama, sepatu hak tinggi Sembilan sentimeter berwarna hitam dan rambut yang di ikat rapi kebelakang adalah gayanya yang biasa. Sehun memukul kepalanya dan berusaha membangunkan dirinya dari lamunan. Secepat kilat ia mengejar Luhan dan berhasil menangkap lenganya, wanita itu menatapnya dengan kaku di balik lensa kacamatanya, Ini pertama kalinya Sehun melihat Luhan menggunakan kacamata.

"Lepaskan tanganmu, Tuan Oh!" Suaranya terdengar sangat menantang, ketidak sukaan Luhan terhadapnya mungkin bertambah setelah kejadian tadi malam.

"Aku akan pergi bertemu Kris. Kalian sekantor kan? Ayo aku antar?"

Sehun berusaha berkata dengan lebih lembut. Tapi sikap memberontak Luhan membuat itu tidak bisa bertahan lama. Luhan tidak ingin di sentuh dan dia sudah berkali-kali memerintahkan Sehun untuk melepaskan tanganya dengan nada yang kasar. Sehun menggenggam lengan Luhan semakin keras sehingga wanita itu meringis dan berhenti memberontak.

"Apa yang kau takutkan? Semalam kita sudah bermesraan kan?"

"Kau pikir aku menyukainya? Kenapa kau melakukan hal itu?"

"Karena wanita yang seharusnya bersamaku sudah pergi karena kata-katamu." Sehun menyadari kalau nada suara mereka pasti sangat keras sehingga beberapa orang yang berlalu lalang memperhatikan keduanya. Tapi sepertinya berinteraksi dengan Luhan benar-benar harus membuatnya rela mempermalukan diri sendiri.

"Aku hanya menjadikanmu sebagai penggantinya. Seandainya Kris tidak datang semalam bisa saja kita sudah…"

"Jangan berharap banyak!" Luhan memotong kata-katanya.

Sepertinya wanita itu sudah berhasil untuk mengumpulkan tenaganya kembali dan melepaskan lenganya dari genggaman Sehun dengan satu hentakan.

"Sebaiknya kau tetap memakai celanamu saat bersamaku!"

Kata-kata itu terdengar seperti ancaman, Meskipun tidak berpengaruh apa-apa bagi Sehun tapi tetap saja ia terperangah. Xi Luhan bahkan tidak malu-malu saat bertemu denganya setelah kejadian tadi malam. Tidak heran, hal seperti itu mungkin sudah biasa di lakukanya karena seks bukan sesuatu yag tabu untuk London. Nyaris semua perempuan di kota ini sudah kehilangan keperawananya. Sehun segera berjalan menuju mobilnya yang ada di pinggir jalan dan mengikuti Luhan. Wanita itu berjalan dengan sangat cepat dan cukup jauh dari tempat mereka berdebat tadi. Dengan hak setinggi itu, dia bisa berjalan secepat itu? Wanita memang makhluk ajaib. Xi Luhan berhenti di sebuah rumah makan dan keluar beberapa saat kemudian sambil memakan hamburger dan melanjutkan perjalanan tangkasnya. Saat melihat sebuah taksi melewatinya, wanita itu berlarian mengejar taksi sambil terus memakan hamburgernya hingga habis. Sehun menggeleng, Luhan melakukan hal ini setiap pagi? Ia tidak mau berfikir lagi, karena hal itu malah akan semakin membuatnya mengagumi Luhan. Sehun melajukan mobilnya secepat mungkin, ia harus segera sampai di kantor pengacara itu sebelum Luhan sampai karena Sehun harus membicarakan sesuatu dengan wanita itu.

Semalam ia sudah menelpon Ibunya begitu Kris pulang, sepertinya kabar tentang perjodohan itu sudah di sampaikan oleh pamanya kepada Ayah dan Ibu Sehun. Dari suaranya, Ibunya terdengar sangat senang mendengar kabar bahagia itu. Sehun menghela nafas, Kabar bahagia? Mengingat bagaimana Luhan tega menarik rambut wanitanya beberapa hari lalu dan juga mengusir wanita bangsawan tadi malam, bisa di pastikan kalau Xi Luhan adalah wanita yang sangat dominan. Menikah dengan Luhan berarti menyerahkan dirinya untuk di perbudak. Bukankah dia tidak benar-benar berniat untuk menikah dengan Luhan? Dia hanya ingin bermain-main, iya kan?

.

.

.

"Kau disini?" Kris menyapanya saat mobil Sehun berhasil di parkir dengan mulus di depan kantor pengacara Tatou. Ia keluar dari mobilnya dan membalas sapaan Kris dengan senyum lalu berjalan bersisian menuju gedung berlantai tiga itu. Sudah sangat lama Sehun tidak berkunjung kekantor ini, masih belum berubah sama sekali. Kris mengantarkannya keruangan kerja Luhan untuk melihat-lihat. Tanpa Luhan didalamnya Sehun sama sekali tidak tertarik, ia memutuskan untuk menyapa kepala kantor terlebih dahulu dan kembali keruangan Kris setelah beberapa waktu berlalu. Kesibukan Kris yang tak terbatas itu mengingatkanya kepada Luhan yang selalu membawa map kemana-mana. Dengan santai Sehun duduk di hadapan Kent dan bersandar dengan nyaman.

"Venusku, kemana? Kenapa dia tidak datang juga kekantor?" Kata Venus-ku yang selalu di ucapkan Sehun membuat kepala Kris terangkat sebentar lalu kembali berkonsentrasi pada map-mapnya.

"Hari ini ada sidang, dia pasti masih di pengadilan!"

"Jam berapa dia kembali ke kantor?"

"Sebentar lagi, sebelum makan siang. Dia ada janji makan siang dengan klien di Birmingham!"

"Kelihatanya kau sangat tau tentangnya!"

Lagi-lagi kepala Kris terangkat. "Kau tidak sedang cemburu kan? Dia mengatakannya saat aku mengantarnya pulang. Kau ada perlu denganya? Kau tidak datang kemari untuk menjengukku kan?"

"Aku mau mengajaknya ke Korea Selatan!" Ucapan Sehun kali ini tidak hanya membuat Kris mengangkat kepalanya, laki-laki itu juga berhasil membuat Kris meninggalkan semua pekerjaanya dan berkonsentrasi untuk memandang wajah Sehun. "Ada apa?"

"Ibuku memerintahkan agar aku membawa tunanganku ke rumah! Kau belum tau? Paman tidak memberi taumu?"

Kris menggeleng. "Apa yang akan kau lakukan? Bukanya kau sedang tidak serius? Kau bilang tidak mungkin menikah denganya kan?"

"Aku juga sudah memikirkanya. Tapi walau bagaimanapun aku tetap harus membawa wanita terbaik kehadapan orang tuaku, kan? Meskipun galak Luhan bisa berkelakuan sangat sopan saat berinteraksi dengan orang yang lebih tua. Selain itu, orang tuanya juga orang timur dan dia pasti pernah di ajarkan dengan cara kita walau tinggal di London. Setidaknya dia lebih baik dari pada wanita barat pada umumnya untuk di bawa menemui orang tua yang kolot!"

Kris tertawa sopan. Ia merasa kalau penjelasan Sehun sangat masuk akal. Walau bagaimanapun Xi Luhan selalu berusaha menyesuaikan diri dengan siapa dan bagaimana dia berinteraksi dengan orang tersebut. Tidak jarang Luhan membungkukkan badanya sambil bersalaman pada hari-hari biasa. Luhan memang lebih baik dibandingkan wanita asing yang selama ini selalu bersama Sehun. Luhan mengingatkan Kris kepada Seulgi, ia menggeleng. Luhan bahkan lebih baik daripada sekretaris Sehun itu.

Pintu ruangan Kris di ketuk beberapa kali kemudian di buka, Xi Luhan menyembulkan kepalanya dan terkejut saat melihat Sehun ada disana. "Maaf aku mengganggu!" Ia kemudian menutup pintu kembali.

Sesaat Sehun dan Kris saling pandang, lalu Sehun mengejar Luhan keruanganya. Wanita itu tampak sangat Sibuk mengemasi beberapa berkas kedalam laci besi yang nyaris menyamai tinggi badanya. Dia tidak menyadari keberadaan Sehun, atau mungkin pura-pura tidak tau. Sehun sudah berkali-kali mengatakan kalau ia ingin berbicara dengan Luhan tapi berkali-kali juga Sehun harus menahan geram karena Vanessa pura-pura tidak mendengarkan apa-apa dan terus begitu sampai wanita itu benar-benar selesai di ruanganya. Perbuatan Luhan ini sama sekali tidak bisa di toleransi, dan Sehun tidak akan bersedia menerimanya begitu saja. Ia mengusahakan langkah demi langkahnya mengungguli langkah Luhan dan memanggul tubuh Luhan di iringi tatapan banyak orang.

"Turunkan Aku! Oh Sehun!" Teriakan Luhan dan segala perlawananya semakin membuat Sehun senang. "Turunkan aku sekarang!"

Sehun tidak menjawab apa-apa. Ia membuka pintu mobilnya dan menurunkan Luhan di bangku setir. Sehun tidak akan mengambil resiko seperti membiarkan Luhan melarikan diri, karena itu, memaksanya masuk dari bangku setir adalah cara paling aman. Luhan akan segera bergeser saat Sehun hampir mendudukinya, Setelah Sehun berada dalam mobil, dengan tangkas ia mengunci mobil secara otomatis. Luhan tidak akan bisa melarikan diri dan Sehun tertawa penuh kemenangan.

"Jangan salahkan aku. Kau yang memilih ini!" Sehun menyalakan mobilnya. "Sekarang aku harus mengantarkanmu kemana? ada janji dengan klien kan?"

Luhan berhenti mencaci maki. Dengan pandangan herannya ia menatap wajah Sehun lama sampai akhirnya laki-laki itu balas memandang. Luhan segera menundukkan wajahnya. "Kau mau bicara apa?"

"Katakan aku harus mengantarmu kemana? Kita bisa bicara selama perjalanan ke Birmingham. Kau akan ke Birmingham kan? Wilayah Birmingham cukup luas. Kalian akan makan siang kan?"

"Kau tidak bermaksud ikut makan siang kan?" Suara Luhan kembali angkuh. "Jangan banyak berharap. Aku tidak akan mengizinkanya!"

"Sepertinya kau yang berharap!" Sehun tersenyum. Tapi melihat Luhan segera buka mulut dan ingin melawan Sehun segera menyeringai. "Sudahlah, kau tidak suka terlambatkan? Kemana aku harus mengantar?"

Luhan menghela nafas. Sebenarnya dia juga malas untuk berdebat, tapi dia tidak akan pernah menyerah kepada Oh Sehun.

"Baiklah kalau kau tidak mau mengatakanya!" Sehun mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. Kris, dan Kris tidak pernah menolak untuk memberi tau apa yang diketahuinya. Setelah mendapatkan informasi yang di butuhkan Sehun melajukan mobilnya tanpa bicara apa-apa lagi. Luhan juga tau kalau Sehun pasti bertanya kepada Kris. Hanya Kris yang sudah diberitahunya tentang jadwal hari ini, entah mengapa ia tidak merasa kecewa akan hal itu. Jauh di dalam dirinya, ia sangat menikmati duduk disebelah Sehun meskipun dalam diam. Sehun ingin membicarakan apa denganya? Luhan harus berani mengeluarkan suaranya sekarang karena dalam beberapa menit lagi ia akan segera sampai di tempat tujuan. Sehun melajukan mobilnya semakin cepat membuat Luhan sedikit kecewa, sepertinya Sehun tidak suka berlama-lama bersamanya.

Astaga! Sejak kapan aku begini? Desis Luhan pelan.

"Ada apa?" Sehun bertanya penasaran. Sepertinya ia mendengar Luhan mengatakan sesuatu.

"Kau ingin mengatakan apa?" Dengan tegas Luhan mencoba menyembunyikan perasaannya.

Sehun tidak menjawab. Luhan semakin resah karena mereka sudah sampai, semula ia mengira Sehun akan menurunkanya di gerbang supermarket besar itu tapi ternyata Sehun masuk keparkiran bawah tanah dan memarkirkan mobilnya ditempat yang aman. Luhan tidak akan berdiam diri ia mengulangi pertanyaanya sekali lagi sebelum ia benar-benar pergi.

"Apa yang ingin kau katakan? Kau memaksaku seperti tadi karena ingin mengatakan sesuatu kan?"

"Akhir minggu depan kita ke Korea Selatan!"

Luhan terperangah. "Ke Korea Selatan? Untuk apa kesana?"

"Kau fikir apa lagi? Menemui orang tuaku! Kita akan segera menikah kan?"

"Kau serius dengan kata-katamu itu? Aku tidak mungkin menikah denganmu dan kau juga kan? Sudahlah jangan bercanda. Apapun yang terjadi aku tidak akan melakukanya. Pekerjaanku sangat banyak dan menumpuk. Aku tidak bisa meninggalkanya begitu saja!" Luhan menggenggam tas yang di pangkunya sejak tadi lalu berusaha membuka pintu mobil. Masih di kunci dan tidak bisa dibuka manual. Luhan mengerang dalam hati lalu memandang Sehun kesal.

"Buka! Aku sangat terburu-buru!"

"Katakan kalau kau akan pergi bersamaku dulu!"

"Kau mengancam? Kau tidak akan bisa melakukan hal ini kepadaku. Apapun yang kau lakukan aku tidak mungkin ikut!"

"Lalu apa yang harus ku lakukan untuk membuatmu mau pergi?"

"Kau tidak perlu melakukan apapun, Oh Sehun. Karena apapun caramu tidak akan berhasil untuk membujukku!"

Sehun memukul setir dengan kesal lalu memandang Luhan dengan tatapan aneh. "Benarkah, kalau begitu aku akan mengusahakan satu cara!"

Luhan harus shock saat tas yang ada dalam pangkuanya dilemparkan Sehun ke bawah kakinya. Laki-laki itu benar-benar bertindak lagi, tanganya meraba Luhan dari mata kaki hingga ke lutut dan mengangkat kedua kaki itu tinggi-tinggi. Dalam sekejap Luhan sudah benar-benar terjepit karena Sehun duduk di bangku yang sama denganya. Pinggul Luhan menggantung dan tidak menyentuh apa-apa, tapi kedua pahanya sudah berada dipangkuan Sehun dengan sukses.

"Hentikan! Jangan sampai aku berteriak!" Suara Luhan terdengar sangat intens.

"Silahkan. Tidak akan ada seorangpun yang mendengarkanmu, sayang. Ini parkiran bawah tanah, dan sepi. Hanya ada kamera cctv dan mobil yang sangat banyak ini menutupi kita dengan baik, lebih baik hematlah tenagamu karena tidak akan ada satu suarapun yang keluar dari mobilku yang kedap suara ini, mobilku menggunakan kaca film khusus!"

Mata Luhan terbelalak. Kedap suara? Seharusnya dia sudah tau itu karena selama di perjalanan tadi Luhan juga tidak mendengarkan suara apa-apa dari dalam. Luhan berusaha membuka kaca mobil, tapi reaksi yang di dapat sama persis dengan pintunya, terkunci dan tidak dapat dibuka. Sehun memandangi Luhan dengan pandangan senang.

"Lihat, kenapa kau memakai rok sepanjang ini? Seharusnya lebih pendek lagi!" Tangan Sehun menarik ujung rok yang dikenakan Luhan naik sehingga memperlihatkan kulit pahanya yang bersih. Luhan berusaha berontak tapi tangan kirinya terjepit oleh tubuh Sehun sedangkan tangan kananya berada di genggaman Sehun yang sangat kuat.

"Kenapa kau memakai kacamata hari ini?" Gumam Sehun dengan sangat mesra. "Karena kau tidak bisa tidur teringat kejadian semalam?"

"Ini sama sekali tidak lucu. Kau akan ku tuntut bila terjadi apa-apa denganku!"

Sehun tersenyum, ia semakin menikmati permainan ini. Sebelah tanganya yang bebas membuka kancing kemeja Luhan satu persatu sehingga Sehun bisa melihat apa yang ingin dia lihat. Nafas Luhan semakin tidak teratur dan dadanya naik turun dalam ritme yang kacau.

"Mana camisole mu? Kau punya banyak kan? Tapi tidak masalah, Kau lebih menggairahkan dengan bra ini!"

"Kau tidak bisa berhenti? Kau akan menyesalinya aku bersumpah kau akan menyesali setiap perbuatanmu padaku!"

"Kalau begitu katakan, kau akan ikut aku ke Korea Selatan!"

Luhan tidak akan berlaku lebih bodoh lagi. Ia hanya pernah ke Korea Selatan sekali seumur hidupnya dan saat itu ia masih berusia enam belas tahun. Semua tentang Korea Selatan sudah menghilang dari ingatanya. Ikut ke Korea Selatan berarti menyerahkan diri kepada Sehun dan membiarkan Sehun melakukan hal yang lebih gila dari semua yang pernah dilakukannya. Dia tidak akan melakukanya.

"Jangan pernah berharap!"

"Itu berarti kau berharap aku melakukan hal yang lebih liar lagi!" Sehun memulai aksinya.

Luhan harus merasakan bagaimana telapak tangan Sehun membelai pahanya dan menciumi lehernya sehingga meninggalkan bekas yang basah dan lembab. Ia berusaha berontak sehingga ikatan rambutnya terlepas, ia juga berusaha menggeliat tapi Sehun lebih kuat. Luhan meringis saat laki-laki itu menyelipkan jarinya di antara kedua pahanya dan terus naik menekan daerah paling sensitif dari tubuhnya dengan sangat perlahan. Ia menggeliat semakin keras. Sehun berhenti. Ia memindahkan tanganya ke dagu Luhan dan mencondongkan wajah gadis itu agar berada dalam posisi yang pas denganya. Bibir mereka sudah begitu dekat.

"Venus, katakan kalau kau akan ikut!" Sehun berbisik. "Ini tawaran terakhir."

Luhan terlena selama dua tarikan nafas Sehun yang menerpa wajahnya. Tapi dirinya segera tersadar dan mengerjapkan matanya sekali.

"Baiklah, baiklah aku akan ikut. Jangan lakukan ini lagi!"

Sejenak Sehun kecewa karena Luhan menyerah dengan begitu cepat, tapi kemudian ia tersenyum penuh kemenangan lalu menjauhkan wajahnya dari gadis itu. Sehun sama sekali tidak ingin berpindah, ia membiarkan Luhan duduk dipangkuanya lebih lama lagi, memandangi Luhan yang menurunkan roknya kembali ke posisi semula dan mengancing kemejanya dengan agak gemetaran. Luhan sempat terdiam saat Sehun membantunya memasang kancing kemejanya dan mengembalikan Tas miliknya kepangkuanya. Saat Luhan menyadari kalau rambutnya sudah mulai berantakan lagi, ia berusaha menemukan ikat rambutnya yang lain di dalam tas lalu mengikat rambutnya rapi. Sedangkan Sehun memanjangkan tubuhnya untuk menekan tombol di depan bangku stir yang kosong dan menghasilkan bunyi klik yang nyaring. Ia sudah membuka kunci mobilnya.

"Aku tidak suka dengan permainan seperti ini!" desis Luhan sambil memperbaiki duduknya sehingga ia lebih nyaman duduk dipangkuan Sehun, ia tau Sehun sama sekali tidak bermaksud untuk pindah ke bangkunya semula.

"Benarkah?" Sehun kembali menyunggingkan senyumnya lalu membuka kancing kemeja Luhan lagi, hanya satu tapi cukup untuk memperlihatkan belahan dadanya. "Kau tidak perlu menyembunyikan kecantikanmu. Aku lebih suka wanita yang seperti ini!"

"Aku tidak suka berpenampilan seperti ini!" Luhan berkeras dengan mengancing kemejanya kembali lalu membuka pintu mobil.

Sehun berusaha menahanya dan pintu mobil tertutup lagi. "Aku belum selesai!"

"Apa lagi?"

Sehun merogoh saku jasnya lalu memberikan ponselnya kepada Luhan. "Kau pakai ponselku. Ponselmu aku yang pakai!"

"Jadi ponselku ada padamu? Aku kira tertinggal di mobil Kris!" Luhan bernafas lega, Tapi segera menganalisa kembali kata-kata Sehun barusan. "Tunggu dulu. Kalau kau memegang ponselku, bagaimana jika ada telpon penting?"

"Memangnya siapa yang menelpon? Aku akan memberitahukanya kepadamu, tenanglah! Lagipula bisa di bilang kita tinggal serumah sekarang. Jadi jangan kemana-mana. Begitu jam pulang kerja tiba, kau sudah harus ada dirumah! Aku melakukan ini agar kau tidak ingkar janji, akan ku kembalikan saat kita tiba di Seoul!"

Luhan mendengus kesal, ia tidak bisa melawan. "Sekarang aku boleh turun?"

Sehun mengangguk, tapi sebelumnya ia merangkul penggang Luhan erat lalu memandangnya dengan manja."Selamat bekerja sayang!"