VENUS
(Novel Remake by Phoebe)
HUN-HAN
Genderswicth
Happy Reading :) :)
Jika akhir minggu ini Luhan memang harus menemui calon mertua semu-nya di Seoul, maka yang harus dilakukanya adalah bekerja lebih keras lagi agar semua pekerjaanya selesai sebelum waktu itu. Menikah dengan Oh Sehun? Bahkan terlintas di otaknyapun tidak pernah. Luhan hampir gila dengan semua ini sehingga beberapa perkerjaan membuatnya berteriak histeris. Belum lagi masalah bertukar ponsel, Bagaimana bila Ibunya menelpon? Seharusnya Luhan tidak perlu khawatir dengan hal itu karena Ibunya pasti senang dengan ide calon menantu impianya. Tapi Luhan merasa sangat terganggu karena ponsel Sehun selalu berdering dan selalu telpon dari perempuan.
Luhan hampir muntah membaca pesan-pesan romantis dan vulgar yang masuk ke ponsel itu setiap hari. Yang jelas Luhan selalu melakukan hal yang sama untuk wanita-wanita itu, mencaci maki mereka dan memintanya menjauhi Sehun karena laki-laki itu sudah bertunangan dengannya. Cukup sering Sehun menemuinya atau menelponya karena beberapa orang dari sekian banyak perempuan itu mendatanginya ke kantor bahkan ke flat untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Meskipun Sehun akan marah-marah pada Luhan, tapi dia selalu mengatakan
"Ya, aku sudah bertunangan setidaknya untuk sementara ini!" kepada semua perempuan yang bertanya. Beberapa perempuan kemudian pergi menjauh, tapi tidak sedikit juga yang bertahan untuk tetap berada disisi Sehun dengan alasan tunangan bukanlah pernikahan, Oh Sehun masih memiliki kemungkinan untuk membatalkan pertunanganya. Luhan mengerang, seandainya hal itu terjadi ia akan sangat bersyukur karena akan terhindar dari laki-laki itu selamanya. Setelah dua hari, telpon-telpon itu berhenti. Luhan merasa bisa lebih tenang dan bisa mengerjakan tugasnya secara maksimal dan ia optimis semuanya akan beres sore ini juga, setelah semuanya selesai, Luhan akan menemui Tuan Tatou, laki-laki Paris yang tidak lain adalah Bosnya untuk minta izin beberapa hari. Ia harap ia tidak akan menghabiskan seminggu penuh di Seoul.
"Kau tidak lapar?" Kris yang sejak tadi duduk dihadapanya sambil memainkan game ponsel. Belakangan ini laki-laki ini selalu berkunjung ke ruangan Luhan bila dia sedang tidak ada pekerjaan.
"Jam makan siang sudah lama lewat!"
"Aku akan makan setelah semuanya selesai!"
"Ada yang perlu dibantu?"
Luhan menggeleng. "Tidak perlu. Sedikit lagi selesai!"
"Kenapa kau kerjakan semua pekerjaan itu sekarang? Seharusnya kau bisa lebih santai kalau melihat tanggal deadline kasus!"
"Aku harus bertemu dengan calon mertuaku di Seoul!"
Kris berhenti memainkan ponselnya dan termenung sesaat. Sehun sudah cukup lama tidak menghubunginya semenjak minggu lalu saat ia mengatakan kalau Ibunya meminta Sehun membawa calon istrinya pulang. Dan semenjak itu Sehun sepertinya sibuk menyelesaikan semua pekerjaanya untuk rencana yang sama. Calon Mertua? Luhan serius? Baru saja ia ingin menanyakanya langsung, Kris sudah tidak sanggup bersuara. Terlebih saat mendengar dering yang dikenalnya dan Luhan mengeluarkan sumber bunyi itu dari dalam tasnya, ponsel Sehun. Ia terperangah, mereka berdua bahkan sampai bertukar ponsel?
"Ada apa?" Luhan agak membentak. Hari ini ia sedang tidak ingin mendengar suara Sehun.
"Aku jemput sekarang!" Hanya itu. Sehun segera menutup telponnya. Dengan kesal Luhan meletakkan ponsel itu kembali keatas meja. Lalu kembali mengerjakan pekerjaanya. Dalam waktu singkat semua pekerjaanya sudah selesai dan ia menghela nafas lega sambil bersandar di kursinya. Kedua alisnya bertaut saat memandang Kris yang masih menatapnya bingung.
"Ada apa?" Tanya Luhan heran.
"Kau serius mau pergi ke Korea Selatan?"
"Aku terpaksa melakukanya!"
"Terpaksa?"
"Sepupumu suka bertindak seenaknya, aku sudah berusaha menolak dengan berbagai cara dan dia juga memaksa dengan berbagai cara."
"Hubungan kalian sekarang seperti apa?" Kris menyadari kalau ekspresinya mungkin terlalu serius, ia berusaha memperbaikinya dan berusaha terlihat biasa.
"Aku sudah berusaha untuk melupakanya tapi hal ini menggangguku terus. Malam itu saat aku melihatmu di flat Sehun, kalian sedang apa? Dia bilang kau mengusir kekasihnya dan dia memberi pelajaran padamu!"
"Kalau dia mengatakan itu sebagai pelajaran, demi Tuhan itu sangat keterlaluan!"
"Dia melakukan apa?"
"Dia…" Luhan segera menutup mulutnya. Apa mungkin ia bisa menceritakan kepada Kris kalau malam itu Sehun memaksanya melakukan sesuatu? Tidak, Sehun tidak bisa disalahkan seratus persen karena Luhan tidak bisa memungkiri kalau ia juga sangat menikmatinya.
"Dia menggigit jariku!" Luhan menyentuh tanganya dan dia baru menyadari kalau cincin pertunangan itu masih dikenakanya. Luhan belum melepaskanya lagi semenjak malam itu.
"Kenapa? Maksudku hukuman yang aneh, Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan? Tidak sedang berbohongkan?"
Luhan menggeleng. Ia memang tidak menceritakan semuanya, tapi malam itu Sehun benar-benar menggigit jarinya bahkan rasa nyilu masih terasa sampai sekarang.
"Aku tidak berbohong. Dia memang melakukanya karena aku menggunakan cincin pertunangan untuk kepentinganku sendiri." Luhan memperlihatkan jarinya yang memakai cincin kepada Kris. Dan Kris menyentuhnya.
Cincin tunangan? Selama ini, Kris mengira kalau itu hanya cincin biasa, Sehun juga tidak pernah mengatakan apa-apa tentang hal ini. Tiba-tiba saja Kris merasa kalau ia sudah banyak melewatkan cerita tentang Sehun dan Venus-nya. Ia merasa kecewa.
"Dilarang menyentuh milikku, Aku tidak suka berbagi hal-hal yang menjadi milikku!" Sehun merampas tangan Luhan dari Kris, lalu memandang Luhan sambil menyunggingkan sebuah senyum menggoda. Ia senang saat melihat Luhan melengos, Sehun berhasil meniru kata-kata yang selalu di ucapkanya. "Kau sudah siap-siap? Kita ke rumah Ibumu sekarang aku sudah menyiapkan pakaianmu juga, mungkin kita akan menginap semalam!"
Luhan menarik tanganya dan berkemas-kemas.
"Aku harus menemui Bos dulu! Kau tunggu di mobil saja!" Luhan kemudian memeluk Mapnya erat-erat. Lalu tersenyum kepada Kris sebagai tanda perpisahan.
.
.
.
Langkah demi langkah Luhan menyusuri kota Seoul nyaris membuat jantungnya melompat keluar, ia belum siap untuk bertemu dengan orang tua Sehun. Bagaimana bila keluarganya memaksa Luhan menikah saat ini juga dengan Sehun? Bagaimana bila mereka menempatkan dirinya dan Sehun di kamar yang sama? Luhan tidak akan sanggup menghindar dari godaan Sehun bila itu benar-benar terjadi. Jet lag yang dirasakanya cukup parah, terlebih saat mengetahui bahwa keluarga Sehun tinggal di Jeju dan mereka harus mengalami perjalanan yang cukup panjang untuk sampai disana. Berangkat dari London dengan pesawat pagi dan sampai di Jeju pada sore hari tidak sesederhana kedengaranya. Bila dibandingkan, mungkin di Lodon sekarang sudah hampir pagi lagi. Bisa dibayangkan betapa besar keinginan Luhan untuk tidur dan mengistirahatkan diri. Meskipun Sehun dikenal sebagai seorang diplomat kaya raya di London, rumah keluarganya sama sekali berbeda dari yang ada difikiran Luhan. Rumah ini sama seperti rumah-rumah disekelilingnya bertingkat dua dan memiliki halaman yang tidak begitu luas. Begitu masuk ke rumah, Luhan disambut dengan sangat meriah oleh Ibu Sehun yang tampak ramah, sebelum berbicara dengan Luhan nyonya Oh bertanya kepada Sehun apakah Luhan bisa berbahasa Korea. Tentu saja Luhan bisa, ia selalu menggunakan bahasa Korea meskipun hanya saat berbicara dengan Ibunya, dan dengan Kris walaupun sangat jarang. Sebelum duduk di ruang tamu, Luhan merasakan kedua tangan hangat nyonya Oh menyentuh pipinya dengan penuh kasih.
"Melihatmu aku jadi ingin segera bertemu dengan Ibumu." Nyonya Oh berbicara dengan logat khasnya sambil memandang Luhan yang duduk di sebelah Sehun dengan sedikit kaku. "Aku ingin berterimakasih padanya karena sudah melahirkanmu sebagai jodoh Sehunku!"
Luhan tersenyum malu. Dia cukup senang dan lega mengetahui kalau Ibu Sehun menyukainya. Tapi Luhan masih harus bertemu dengan Ayah Sehun. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi laki-laki itu saat melihat Luhan.
"Ibu, bisakah aku istirahat? Aku benar-benar lelah!" Sehun mengeluh manja.
"Astaga, Maafkan Ibu ya! Kalau begitu kau bawakan barang-barang Luhan dulu ke kamar!"
Luhan terbelalak, Kamar? Kamar siapa yang akan di tempatinya? Kamar tamu? Semoga saja bukan kamar Sehun karena jika itu terjadi ia pastikan dirinya akan mati bunuh diri besok pagi.
"Maaf, bibi. Kalau boleh tau kamar siapa yang akan ku tempati?"
"Kau akan menempati bekas kamar Sena, Dia kakak perempuan Sehun dan sudah menikah sekarang." Nyonya Oh kemudian memandang Luhan dengan ekspresi yang aneh, tubuhnya berguncang dan salah satu tanganya menutup mulutnya yang terpekik kecil. Ia sedang teringat pada sesuatu dan sepertinya wanita itu sedang merasa sudah melakukan kesalahan.
"Astaga, Apa sebaiknya kau sekamar dengan Sehun? Kenapa aku tidak ingat kalau kalian sudah bertunangan. Aku sudah melakukan kesalahan besar!"
Luhan shock, Ia sangat menyesal karena sudah bertanya dan sekarang ia harus melihat wajah Sehun yang kelihatanya sangat senang.
"Tidak, Bibi. Jangan begitu."Luhan berusaha bersuara dengan lebih sopan. "Jika aku tidur di kamar yang sama dengan Sehun, itu bisa membuatku merasa tidak enak!"
"Tidak, tentu saja kau tidak perlu merasa begitu, aku bisa faham kalau kau ingin terus bersama Sehun, tidak apa-apa. Sebentar lagi kalian akan menikah kan?"
"Jangan Bibi, aku mohon. Ibuku pasti akan sangat kecewa kalau mengetahui hal ini!" Ucapan Luhan terdengar lebih memelas, Ibunya akan kecewa? Ibunya pasti akan merasakan yang sebaliknya. Luhan masih bisa mengingat kalau Ibunya hampir bersorak dan melompat-lompat saat Sehun meminta izin kepadanya untuk membawa Luhan bertemu dengan orang tuanya di Korea.
Nyonya Oh mengelus dada lega. "Maaf, sebenarnya aku malah merasa lega kau mengatakan hal seperti itu! Aku juga khawatir bila kau dan Sehun menginap di kamar yang sama, tapi mengingat cara barat dimana kalian berdua tinggal aku merasa bersalah kalau memaksakan kehendaku kepada kalian. Jika kau menginginkan hal baik itu mana mungkin tidak ku kabulkan!"
Kali ini Luhan yang menghembuskan nafas lega. Ia memandang wajah Sehun yang kehilangan senyumnya. Tanpa bicara apa-apa lagi laki-laki itu membawa koper Luhan masuk semakin dalam ke rumah. Luhan mengikutinya setelah mengatakan permisi kepada nyonya Oh. Kamar yang akan ditempatinya berada di lantai dua, bukan kamar yang luas, tapi bisa di pastikan memiliki kualitas yang lebih baik bila dibandingkan dengan kamar flatnya. Sehun meletakkan tasnya diatas ranjang dan kembali turun tanpa mengatakan apa-apa. Sepeninggalan Sehun, Luhan membuka koper kecilnya untuk ganti baju. Tapi mengingat ia hanya membawa pakaian dalam jumlah yang sedikit Luhan membatalkan niatnya. Sebuah tas plastik berisi perlengkapan mandi dikeluarkanya dari dalam koper. Luhan ingin mandi sebelum akhirnya beristirahat. Karena di kamar itu tidak ada kamar mandi pribadi, ia berinisiatif untuk turun ke bawah dan mencari kamar mandi. Langkah demi langkah kakinya menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu membuatnya mendengarkan bunyi berdebum. Luhan kemudian berjalan ke dapur dan memperhatikan keadaan rumah itu lebih seksana, pertama, ia menemui ruang tengah dengan televisi dan sebuah Kotatsu diatas Karpet berwarna hijau. Lalu sebuah pintu yang diduganya sebagai sebuah kamar, dan terakhir adalah ruang makan dengan kitchen set yang bersih dan luas. Nyonya Oh ada disana dan tampak sangat sibuk dengan masakanya. Luhan mendekatinya dengan agak gugup.
"Bibi, kamar mandi ada disebelah mana?"
Nyonya Oh berbalik memandangnya dengan senyum lalu menunjuk pintu yang berada disebelah kulkas. "Disana ada satu, tapi Sehun sedang didalam. Diatas juga ada, ruangan yang disebrang kamarmu!"
Luhan berusaha mengingat-ingat, ia sepertinya agak kurang perhatian karena sama sekali tidak bisa mengingat ada pintu disebrang kamarnya. Luhan berusaha tersenyum lalu membungkukkan badan sambil mengucapkan terima kasih dengan fasih. Mungkin ia akan kembali naik kelantai dua, tapi ia tidak bisa membiarkan nyonya Oh sibuk sendirian. Wanita itu pasti sedang menyiapkan makan malam dalam jumlah yang lebih banyak dari biasa karena kedatanganya, atau mungkin masakan yang dimasaknya kali ini bukan masakan yang biasa. Nyonya Oh bisa saja menyiapkan masakan yang spesial untuk menyambut kedatangan Luhan kerumahnya. Luhan meletakkan tas plastiknya diatas meja makan dan menyampirkan handuknya dikursi. Ia kembali lagi mendekati nyonya Oh yang kelihatan semakin sibuk.
"Bibi, Mau masak apa? Ada yang bisa ku bantu?"
"Ah, tidak usah. Kau istirahat saja, wajahmu sangat pucat. Pasti sangat lelah!" nyonya Oh berusaha menolak dengan sopan. Tapi Luhan tidak bisa menyerah begitu saja.
"Biarkan aku membantu apa saja! Mengiris tomat, daun bawang, mecuci piring juga tidak masalah. Bibi kelihatan sangat kerepotan mengerjakanya sendiri!"
"Tapi kau adalah tamu! Mana mungkin aku membiarkan tamu memasak!"
"Astaga, Bibi. Bukankah aku calon menantumu? Biarkan aku membantu, aku berjanji tidak akan mengacaukan masakanmu!"
Sejenak hening, Nyonya Oh lalu memandang Luhan dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti. Luhan menggigit bibirnya, mungkin dia sudah melakukan hal yang salah, sudah mengatakan sesuatu yang tidak tepat.
"Aku senang kau mengatakan itu!" Nyonya Oh akhirnya bersuara. Kata-katanya membuat Luhan mengerti makna dari pandanganya tadi.
"Aku harap kau dan Anakku bisa segera menikah. Semula aku khawatir karena anak itu bilang kalau dia tidak mungkin menikah. Beberapa waktu lalu dia bilang akan menikah dengan yang tidak aku sukai. Sepertinya dia salah, Kau gadis baik dan aku sangat menyukaimu!"
Benarkah? Ternyata nyonya Oh mengkhawatirkan itu. Wanita itu khawatir kalau Sehun menikah dengan wanita yang tidak cocok dengan keluarganya.
"Terima kasih Bibi!" Luhan mengatakanya dengan ikhlas, dan kali ini ia cukup terharu.
"Kalau begitu panggil aku Ibu. Bukankah kau calon menantuku?" Luhan tersenyum dan nyonya Oh tampak lebih berbinar-binar dari sebelumnya. Ia membiarkan Luhan memotong daun bawang secara diagonal dan gadis itu terlihat sangat senang. Luhan teringat rumahnya, teringat Ibu. Memanggil Nyonya Oh dengan sebutan Ibu membuatnya merasa bersalah karena dia tidak menginginkan Sehun sebagai suaminya. Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka membuat Luhan dan nyonya Oh menoleh. Sehun sudah kelihatan lebih segar dari sebelumnya. Luhan merasa sangat iri. Dia juga ingin mandi.
"Sudah, kalau begitu tidak usah membantuku lagi! Kau seharusnya istirahatkan. Sekarang Mandilah dan kembali kekamarmu!"
"Tapi bu, aku tidak lelah sama sekali!"
"Kalau begitu kau pergi saja bersama Sehun." Nyonya Oh kemudian memandang Sehun yang terpaku saat namanya di sebut-sebut.
"Ajak calon istrimu jalan-jalan ke pantai. Kalian disini hanya sebentar. Ibu tidak ingin ia menghabiskan waktunya di dapur!"
"Ibu, aku tidak apa-apa!" Luhan masih membujuk. Sehun menggelengkan kepalanya geram lalu mendekati Luhan dan menarik lenganya menjauh dari dapur sampai mereka mendekati tangga.
"Sekarang kau mandi di lantai atas. Ganti pakaianmu dan dalam waktu tiga puluh menit kau sudah harus selesai lalu menyusulku ke depan!"
"Tapi aku ingin…"
"Sayang, Percayalah. Ibuku tidak suka di ganggu siapapun saat memasak. Kakaku saja tidak pernah melakukanya. Suatu keajaiban saat dia membiarkanmu memegang pisaunya. Jadi jangan kecewa dengan ini. Cepatlah naik ke atas!"
Luhan menghentakkan kakinya lalu naik ke lantai atas dengan terburu-buru. Ia melupakan handuk dan tas plastik yang tertinggal diatas meja makan. Baru saja Luhan ingin mengambilnya, Sehun sudah berada dihadapanya dan memberikan kedua barang yang tertinggal tadi. Laki-laki itu kemudian kembali menuruni tangga dan masuk kekamarnya yang berada di sebelah kanan tangga, tepat dibawah kamar mandi. Seandainya boleh memilih, Luhan ingin tidur saja. Tapi tidak sopan bila ia melakukanya, kesanya pasti sangat tidak baik meskipun alasanya masuk akal. Luhan masuk ke kamar mandi dengan langkah gontai.
.
.
.
Hampir tiga puluh menit. Luhan pada akhirnya mengganti pakaianya juga dengan sebuah mini dress kaos berwarna safir. Meskipun pakaianya menutupi lengan sampai kesiku, tapi leher berpotongan rendah membuatnya memilih untuk membungkusnya lagi dengan Jaket Visa hitam kesukaanya. Melihat pantai disore musim gugur mungkin bisa jadi pengalaman yang menyenangkan karena Luhan sama sekali tidak pernah punya waktu untuk mengunjungi pantai, paling tidak selama dua tahun terakhir semenjak dirinya
memegang kendali terhadap beberapa kasus sebagai pengacara yang sebenarnya. Dengan wajah yang lebih segar, Luhan segera turun ke lantai bawah dan menyempatkan diri untuk berpamitan kepada nyonya Oh. Wanita tua itu kemudian mematikan kompornya untuk menemani Luhan keluar rumah. Luhan hanya membawa satu sepatu dan mau tidak mau ia harus memakai high heel tujuh sentimeternya sebelum keluar dari pintu. Nyonya Oh terus memujinya, Luhan adalah calon menantu tercantik didunia, bidadari untuk putranya, ungkapan yang membuat wajah Luhan merona. Tapi rona wajahnya tidak bertahan lama karena ia terkejut melihat seekor kuda yang putih bersih bersama Sehun dan seorang teman lagi. Kenapa bisa ada kuda? Penampilanya sama sekali tidak seperti penampilan seseorang yang akan berkuda dan Luhan tidak bisa naik kuda.
"Kenapa kau lama sekali?" Sehun langsung memasang ekspresi kesal saat melihat wajah Luhan yang dari tadi ditunggu-tunggunya dengan setia. Ia menyadari keterkejutan gadis itu dan berlagak tidak tau. Dengan nada yang lebih lembut Sehun memperkenalkan laki-laki yang sedang bersamanya dan darimana ia mendapatkan kuda.
"Ini kuda Pamanku, Bukan Ayah Kris, karena pamanku ada banyak! Kuda ini sangat tangguh karena dia adalah kuda dari peternakan Eternity dan biasa memenangkan pertandingan balap kuda. Dan ini adalah pengasuhnya, Haru!"
Luhan menyapa Haru hanya dengan senyumnya saja. Lalu ia kembali memandang Sehun dengan bingung. Mungkin Haru hanya kebetulan ada disini. Tidak mungkin mereka akan berkuda kan? Satu kuda untuk berdua? Sudah di pastikan itu akan terjadi jika kuda itu datang atas kehendak Sehun.
"Ayo, sayang! Kita ke pantai sambil berkuda!"
"Tidak bisakah berjalan kaki saja?"
"Ayolah, pantai dan rumahku cukup jauh! Kau tidak mungkin menginjak pasir dengan sepatumu itu kan? Aku tidak akan suka menunggumu berjalan sambil menarik hak sepatu yang terbenam dipasir setiap kali melangkah. Aku juga tidak akan membiarkanmu bertelanjang kaki karena musim dingin segera tiba." Sehun naik ke punggung kuda dengan sigap lalu mengulurkan tanganya kepada Luhan yang masih tepaku di depan pintu.
"Ayo, Kita harus segera pulang sebelum makan malam."
"Pergilah, sayang! Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa karena Haru juga akan pergi bersama kalian. Sehun juga cukup pandai berkuda, sejak kecil ia terus berlatih bekuda sebelum sekolah di Seoul!" Nyonya Oh berusaha untuk membujuk Luhan yang masih ragu.
Pelan-pelan, Luhan mendekati Sehun, memberikan tanganya dan membiarkan Sehun menggenggamnya erat. Tidak begitu sulit untuk naik ke atas kuda dengan bantuan dua orang laki-laki, tapi Luhan harus menerima kalau dirinya sekarang berada dibagian depan dan duduk menyamping ke kiri meskipun pada awalnya ia berharap bisa duduk dibelakang Sehun saja. Dalam beberapa waktu kemudian kuda sudah melangkahkan kakinya dalam tempo yang tidak begitu cepat. Haru masih dengan setia berjalan membimbing kudanya dengan optimis menjauhi rumah. Pantai sudah terlihat dan tidak sejauh yang diperkirakanya. Kata-kata Sehun tadi mengesankan seolah-olah pantai tidak mungkin bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Pembohong.
"Aku kira pantai masih beberapa kilo lagi!" Luhan menyindir.
"Memangnya kenapa? Aku kelelahan dan sekarang harus menemanimu jalan-jalan. Kau sangat keterlaluan kalau masih memaksa untuk jalan kaki."
"Jadi kau keberatan untuk melayaniku? Bukankah aku tamu kehormatan? Aku ada disini juga karenamu, kau sudah memaksa…"
"Sudahlah!" Mata Sehun membesar menunjukkan kekhawatiranya atas kelanjutan dari perkataan Luhan. Haru bisa mendengarnya dan anak itu cukup dekat dengan Ibunya. Semuanya bisa kacau karena Haru akan menceritakan apa yang dia lihat hari ini.
"Kau suka dengan caraku itu? haruskah aku mengulanginya?" Luhan terkejut bukan hanya karena kata-kata Sehun barusan. Tapi juga karena Sehun sudah menarik pengikat rambutnya sehingga rambut Luhan terurai ditiup angin. Luhan berusaha menggapai tangan Sehun berharap bisa mengambil kembali miliknya, tapi benda itu sudah tidak ada lagi.
"Ikat rambutku, Kau kemanakan?"
"Sudah ku kirim ke black hole. Kau tidak akan bertemu denganya lagi!"
"Kau ini kenapa? Aku tidak membawa cadanganya sama sekali!"
"Untuk apa? Kau tidak perlu menyiksa rambutmu setiap hari!"
Sehun kemudian terkekeh, dia sangat menikmati, selalu menikmati saat-saat dimana Luhan kewalahan menghadapinya.
"Kau punya pakaian yang cukup menarik, sayang! Tapi kau menyiksanya sama seperti menyiksa rambutmu. Menutupi Tilo dengan Visa adalah tindakan kejam. Sekarang tanggalkan Visamu!"
"Cukup! Bukankah aku sudah pernah mengatakan kalau aku tidak suka dengan permainan seperti ini!"
"Aku suka, Aku menyukai apapun yang tidak kau suka. Sekarang tanggalkan atau aku yang akan melakukanya! Kau tau betul apa yang akan ku lakukan bila itu sampai terjadi!"
Luhan merasakan nafasnya yang tidak teratur. Memangnya apa yang akan Sehun lakukan? Sangat banyak orang dijalan dan Sehun tidak akan mungkin melakukan sesuatu kepadanya dihadapan banyak orang. Dia tidak akan pernah membuka jaketnya apapun yang terjadi. Tapi tindakan keras kepalanya berbuah tidak menyenangkan laki-laki itu, Oh Sehun benar-benar menggerakkan tanganya dengan cepat merangkul pinggang Luhan dan perlahan naik mendekati dadanya seiring dengan tangan Sehun lain yang membuka resleting jaket dengan perlahan. Ia bahkan tidak kesulitan melakukanya meskipun harus melakukanya dengan perlawanan Luhan diatas kuda yang masih berjalan seolah-olah tidak mau peduli dengan apa yang terjadi diatas punggungnya. Haru juga melakukan hal yang sama, meskipun melirik sesekali, ia tetap bertindak pura-pura tidak tau dengan apa yang di lakukan Sehun. Tentu saja semua orang mengira Sehun sedang bersama dengan tunanganya, Sehun punya hak penuh atas dirinya. Luhan tidak berhenti mengutuk, tanganya mulai memukul-mukul Sehun saat resleting jaketnya habis terbuka dan merasakan remasan keras pada payudaranya. Tubuhnya melemah dan jaketnya sudah berpindah ketangan Sehun seluruhnya.
"Aku sudah bilang padamu, sayang! Lebih baik kau melakukanya sendiri seperti saranku tadi!" Sehun kelihatan sangat senang, terlebih saat melihat Luhan menyilangkan kedua lengan didepan dadanya. Luhan mungkin berfikir untuk melompat dari kuda sekarang. Tapi itu adalah tindakan bodoh karena dengan sepatu tujuh sentimeternya itu, dapat dipastikan kakinya akan terkilir dan keluarga Sehun akan memaksanya tinggal lebih lama. Luhan pasti juga sudah memikirkan hal itu, ia lebih memilih membuang wajahnya kearah lain yang jauh dari pandangan Sehun. Luhan tidak mengatakan apa-apa beberapa waktu, tidak kutukan, tidak caci maki, tidak juga ancaman. Luhan hanya membisu dan baru berbicara setelah beberapa menit berlalu.
"Bisakah kita pulang?"
Ia masih tidak ingin memandang Sehun, matanya terus tertuju pada hamparan laut yang luas yang sejak tadi terus ditelusuri oleh kuda yang mereka naiki. Harapan untuk menikmati pantai pada musim gugur benar-benar sudah lenyap. Luhan sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekecewaanya kali ini. Sehun dapat merasakan gelombang yang tidak biasa dari Luhan. Getaran suaranya membuat Sehun merasa agak tidak enak. Ia tidak akan menjawab pertanyaan Luhan barusan dan lebih memilih untuk meminta Haru berhenti dan pulang setelah memberikan jaket Visa milik Luhan. Haru hanya mengangguk dan segera pergi begitu tali kekang yang ada ditanganya berganti dengan jaket Luhan. Kali ini Luhan memandangnya dengan pandangan galak yang biasa ditampilkannya. Sehun merasa lega, mendengar Luhan megutuknya lebih baik daripada melihat gadis itu diam tak bersuara.
"Kenapa kau malah menyuruh Haru untuk pulang? Aku yang ingin pulang!" Suara Luhan kembali bertenaga.
"Sekarang beristirahatlah!" Kata Sehun dengan suara pelan.
Ia menyadari kalau Luhan memandangnya heran. Wajah gadis itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan kelelahan yang menderanya. Xi Luhan bahkan kesulitan menahan agar matanya tetap terbuka.
"Aku tau kau tidak akan bisa beristirahat dirumah. Sekarang beristirahatlah karena kau bisa saja pingsan kalau harus menahanya sampai makan malam."
Luhan tidak mungkin pingsan hanya karena kurang tidur. Pekerjaanya sudah terlalu sering membuatnya melalaikan waktu tidur. Tapi Lelah karena tidak melakukan apa-apa sama sekali tidak sama dengan lelah karena mengerjakan tugas yang menumpuk. Sehun masih cukup kagum karena gadis itu terus bertahan dengan egonya hingga akhirnya ia merebahkan kepalanya untuk bersandar didada Sehun. Luhan tertidur sambil merangkul bahunya sendiri. Ia pasti kedinginan, lalu apa yang Sehun lakukan? Kenapa tiba-tiba saja ia terpesona pada Luhan, setiap hembusan nafas Luhan benar-benar membuatnya terlena dalam gelombang gairah yang aneh. Bibir lembut itu seakan menyedotnya untuk terus mendekat sampai akhirnya Sehun hanya bisa mematung menyadari apa yang akan ia lakukan. Wajah Luhan mengingatkanya kembali pada kekecewaan yang ditunjukkan gadis itu beberapa saat yang lalu. Sehun tidak akan melakukanya, ia menjauhkan kembali bibirnya yang sudah sangat dekat dengan pelarung dahaga yang sangat diinginkanya. Luhan yang kedinginan tidak membutuhkan ciuman, Sehun melajukkan kudanya agar kembali berjalan dengan sangat perlahan dengan sekali hentakan. Ia menyerahkan semua kendali pada tangan kanan dan membiarkan tangan kirinya merangkul gadis itu agar lebih rapat kepadanya.
.
.
.
Luhan tidak menemukan jaketnya, tapi ia sama sekali tidak mau bertanya kepada Sehun tentang hal itu. Ia bahkan tidak bertegur sapa dengan Sehun pada saat pertemuan keluarga tadi malam karena masih merasa kesal dengan kelakuanya. Ditambah lagi bila mengingat dirinya terbangun dalam pelukan Sehun kemarin. Siapa yang tau, apa saja yang sudah Sehun lakukan kepadanya saat dia tidur? Meskipun begitu, Luhan sangat berlega hati dengan sikap Ayah Sehun yang tidak berbeda dengan Ibunya. Laki-laki itu bersikap hangat seperti seorang Ayah yang sudah lama tidak dimilikinya. Karena itu dengan senang hati pagi ini Luhan melayani sarapan tuan Oh sebelum laki-laki itu meninggalkan rumah seperti yang biasa dilakukanya.
"Kalian jadi ke Seoul hari ini?" Tuan Oh bertanya dengan nada suara yang penuh wibawa. Ia sudah siap untuk pergi dan sekarang mereka sedang berdiri di pintu depan. Luhan, Tuan Oh dan Istrinya tercinta.
"Iya. Nanti sore!" Suara Luhan terdengar berat. Ia sangat ingin memanggil laki-laki itu dengan sebutan Ayah, tapi masih sulit. Memanggil tuan Oh dengan sebutan itu jauh lebih sulit bila dibandingkan dengan memanggil istrinya dengan sebutan Ibu.
"Kalau begitu hati-hati di jalan! Bersabarlah dengan sikap Sehun."
"Baiklah!"
"Ayah pergi dulu!" Tuan Oh kemudian benar-benar pergi.
Bersabarlah dengan sikap Sehun? Luhan selalu berusaha untuk bersabar dan dia sama sekali tidak tau sampai kapan bisa bertahan dengan hal itu. Oh Sehun dan dirinya memiliki selang usia tidak kurang dari tujuh tahun, tapi sikapnya bahkan lebih kekanak-kanakan dibandingkan Luhan yang baru berusia dua puluh lima tahun.
Nyonya Oh masuk kerumah lebih dulu dan Luhan menyusul dibelakangnya, ia baru saja hendak menutup pintu kembali saat wanita itu menyebut namanya dengan suara Pelan.
"Ya, Ibu?" Luhan hanya mampu merespon dengan itu.
"Apakah kau dan Sehun sedang ada masalah? Ayah mengkhawatirkan hal itu makanya dia mengatakan hal-hal tadi. Meskipun kau selalu menyembunyikanya tapi Ayah mungkin bisa merasakanya. Dia sudah melakukan apa padamu?"
"Tidak ada! Kami tidak punya masalah apa-apa, mungkin cuma kelelahan makanya terkesan seperti itu." Luhan menghela nafas, sangat berat baginya untuk mengatakan ini tapi ia tetap mengatakanya.
"Dia tidak pernah melakukan hal-hal yang menggangguku. Semuanya normal!"
"Benar begitu?"
"Tentu saja!"
"Baiklah kalau begitu Ibu bisa lega. Kau mau bantu Ibu untuk membangunkan Sehun kan? Sekarang sudah hampir siang dan dia belum juga bangun sampai sekarang. Bukanya kalian harus siap-siap? Kalau dia sudah bangun, katakan kalau Ibu menunggu kalian didapur. Kalian berdua belum sarapan kan? Kau sibuk melayani Ayahmu sejak tadi pagi!" Nyonya Oh terus bergumam tentang alasanya meminta Luhan dan Sehun segera kedapur sambil terus melangkah kebelakang.
Membangunkan Sehun? Akhirnya, Luhan harus tetap bicara dengan Sehun meskipun egonya menolak. Ia harus berusaha menyimpan kekecewaannya untuk beberapa waktu. Dengan berat hati Luhan mengetuk pintu kamar Sehun dan harus menanggung rasa kesal karena laki-laki itu tidak menjawab. Mungkinkah ia harus beteriak? Moodnya terlalu buruk untuk berteriak-teriak sekarang. Luhan lebih memilih untuk membuka pintu dan berharap Sehun tidak menguncinya. Dan harapanya terkabul, Sehun tidak mengunci pintunya. Apa yang sedang Luhan fikirkan dengan memasuki kamar Sehun? Bagaimana bila Sehun melakukan hal yang lebih parah dari yang sudah-sudah? Luhan hendak melangkah keluar kamar tapi ia membatalkan niatnya dan kembali memandang Sehun yang tidur sambil memeluk jaket Visa yang dicari-carinya. Dengan kewaspadaan tinggi Luhan mendekat dan duduk dipinggir ranjang lalu menatap laki-laki itu lebih dalam. Wajah yang sama sekali berbeda, Sehun yang sedang tidur terlihat sangat manis. Sikap kekanak-kanakanya membuat wajahnya masih terlihat sangat muda, dia tampan dan menenangkan. Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali. Ini bukan saatnya untuk terpesona kan?
"Hei, Tuan Muda! Ini sudah siang, kau mau tidur sampai jam berapa?"
Sehun tidak bergeming. Ia masih terlelap dan tidak perduli dengan suara Luhan.
Luhan mengeluh. "Oh Sehun, ayo bangun!"
Kali ini dia hanya menggeliat. Luhan mulai mengusahakan banyak cara untuk membangunkanya, memanggil-manggilnya dengan keras dan kasar, menggoyang-goyangkan tubuhnya, bahkan sampai mengancam akan membanjirinya dengan air. Tapi Sehun kelihatanya tidak ingin bangun.
"Sehun!" Luhan mulai kehabisan akal.
"Bangunlah, Aku harus bagaimana lagi? Kau harusnya tau ini sulit untukku. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, aku sangat membencimu dan…" Luhan melanjutkan kata-katanya dengan teriakan kecil saat merasakan tangan Sehun menarik lenganya dengan kuat dan dalam tempo yang sangat cepat tubuhnya sudah berada dibawah tubuh Sehun, wajah mereka sangat dekat tinggal beberapa inchi lagi sebelum bibir Sehun menyentuh bibirnya.
"Diamlah!" Sehun berkata parau, ia lalu meninggalkan tubuh Luhan dan membaringkan kepalanya diatas pangkuan gadis itu.
"Biarkan aku tidur sebentar lagi!"
Semua yang begitu tiba-tiba ini membuat Luhan shock untuk kesekian kalinya. Ia bahkan sudah berniat untuk berteriak minta tolong jika laki-laki itu bertingkah lagi. Tapi Sehun tidak melakukanya, ia hanya meminta Luhan untuk diam dengan cara yang sudah pasti akan membuat gadis itu tutup mulut. Luhan berusaha bangun dan duduk dengan baik, Oh Sehun adalah laki-laki pertama yang tidur dipangkuanya seperti ini, bahkan beberapa laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya tidak pernah melakukan hal itu padanya. Sehun sepertinya hanya ingin bermanja.
Sedangkan Sehun, ia tidak benar-benar tidur. Suara Luhan yang pertama sudah membangunkanya tapi kelelahan membuatnya membiarkan Luhan ribut-ribut seorang diri. Kali ini dia benar-benar ingin tidur dipangkuan Luhan meskipun hanya untuk beberapa saat.
Kenapa? Itu yang selalu bergema didalam otaknya. Ia hanya menyukai tubuh Luhan yang hangat, tidak tubuh Luhan tidak hanya hangat, tapi panas, sangat panas. Sehun merasakan hawa panas itu saat telapak tangan Luhan menyentuh keningnya, menyelimuti tubuhnya dan membelai rambutnya. Semuanya benar-benar membuatnya ingin seperti itu lebih lama.
