VENUS

(Novel Remake by Phoebe)

HUN-HAN

Genderswicth

Happy Reading :) :)


Sehun dan Luhan sedang berada di Seoul saat ini. Mereka berdua sedang ada didalam bus dan padatnya penumpang membuat mereka harus rela untuk berdiri. Untungnya mereka berdua tidak membawa barang yang banyak sehingga itu tidak terlalu mengganggu. Tapi selama dijalan suasana benar-benar beku karena tidak ada satu orangpun diantara mereka yang berani bicara. Saat tanpa sengaja keduanya beradu pandang, Luhan akan membuang wajah lebih dulu sehingga Sehun merasa tidak ada hal lain yang harus di lakukan selain melakuan hal yang sama. Kekakuan itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya senggolan misterius dari penumpang lain yang berpindah tempat hampir membuat Luhan jatuh dan Sehun bereaksi cepat meraih pinggangnya.

"Keep Your Hand!" Bisik Luhan geram.

Reaksi yang membangkitkan semangat Sehun kembali.

"Sebaiknya biarkan aku terus seperti ini karena sangat banyak orang yang berniat menyentuhmu dan bertindak seolah-olah mereka tidak sengaja melakukanya!"

"Lalu apa bedanya denganmu?"

"Venusku sayang, Aku memang sangat suka menyentuhmu tapi aku tidak pernah berpura-pura kan? Aku akan menyentuhmu kapanpun aku suka!" Kali ini Sehun merapatkan tubuh Luhan kepadanya, melingkarkan kedua tanganya dan membelai perut Luhan yang datar, semuanya benar-benar membuat Luhan merinding.

"Selama kau memakai cincin itu, Kau adalah milikku. Jadi hanya aku yang boleh menyentuhmu!"

Luhan menggenggam kedua tangan Sehun yang terus menjelajahi perutnya agar berhenti bergerak.

"Baiklah, tapi tetap seperti ini karena aku tidak suka dengan aksimu meraba tubuhku di depan orang banyak seperti sekarang!"

Sehun tersenyum senang. Kali ini Luhan mengizinkanya melakukan hal seperti ini meskipun dengan sebuah syarat. Panas tubuh Luhan benar-benar sudah merasukinya, ia bisa mencium aroma parfum yang sangat manis merebak dari tubuhnya dan rambut coklat yang selembut sutra itu memiliki aroma yang lain lagi tapi sangat serasi. Kedua lenganya yang melingkari tubuh Luhan dapat merasakan kalau gadis itu gugup dengan hal ini, gugup karena mereka begitu dekat, karena dada Sehun menempel di punggungnya sehingga bisa merasakan detak jantungnya dan karena pandangan banyak orang yang selalu tertuju pada mereka berdua. Sehun mempererat rangkulanya dan Luhan menggeliat dia masih berusaha mengamankan diri dengan berbagai cara. Dengan posisi yang seperti ini, tidak saling bicara bukanlah masalah lagi . Detak jantung mereka yang saling berbicara, berusaha saling menyamai ritme kerjanya di dalam tubuh. Bus yang mereka naiki berhenti dengan tidak terasa, para penumpang yang sejak tadi melirik kearah mereka berdua pada akhirnya menghentikan pandangan irinya dan keluar dengan segera. Luhan berusaha melepaskan diri dari Sehun dan keluar lebih dulu dengan membawa tasnya. Sehun masih berusaha menyusul gadis yang beberapa menit lalu berada dalam pelukannya dan mengiringi langkahnya. Luhan cukup lama mengungguli egonya dan berusaha mendahului Sehun, tapi kemudian menyerah harus menjadi pilihan karena ia tetap tidak tau harus pergi kemana mereka setelah ini.

"Apa tidak bisa aku pulang ke London lebih dulu?" Tanya Luhan setelah langkahnya semakin memelan dan mereka berdua bisa berjalan bersisian dengan lebih santai.

"Sekarang? Aku takut tidak akan bisa. Kita harus menghadiri pernikahan Kyungsoo karena kakakku pasti ada disana. Meskipun aku tidak memberi tahu kepadanya tentangmu, Ibu pasti sudah memberi tau."

"Lalu setelah ini kita harus kemana?"

"Apartement Kyungsoo. Kita akan kerumah mempelai wanita, tapi kurasa calon pengantin pria juga ada disana. Ada hubungan yang rumit yang membuat mereka semua harus berada dalam satu rumah malam ini juga" Dan semuanya mengalir. Sehun menceritakan semuanya, menceritakan hubungan persahabatanya dengan Kyungsoo dan calon suaminya Kim Jongin, tentang keduanya yang memiliki satu orang kakak bernama Minho, juga tentang sebab mengapa kakak perempuan Sehun bisa berada disana. Sepanjang perjalanan benar-benar dipenuhi cerita-cerita yang menarik, Sehun terus berbicara dan Luhan mendengarkan dengan baik, sesekali gadis itu bertanya tentang hal-hal yang membuatnya merasa heran lalu Sehun akan menjawabnya dengan tepat dan baik. Kali ini tanpa sadar keduanya sudah berbicara dengan nyaman dan untuk pertama kali tidak berisi cacian Luhan atau kata-kata penuh gairah dari mulut Sehun. Semuanya kenyamanan itu terus bertahan bahkan saat mereka sudah sampai ditempat tujuan. Sehun dan Luhan memasuki lift dan dalam waktu yang singkat keduanya akan sampai di apartement dimana semua orang berkumpul.

"Jadi Kakak iparmu, adalah orang Jepang?"

"Kyungsoo, Ayahnya dan Minho jelas-jelas berdarah Korea, tapi Ibu tiri Kyungsoo adalah orang Jepang dan Ken adalah campuran dari keduanya."

"Bagaimana mereka bertemu, maksudku kakakmu dan Ken!"

Sehun mengangkat bahu. "Aku rasa semuanya dimulai saat Kyungso sakit dan harus dijemput di sekolah. Saat itu ku kira yang menjemputnya adalah Minho, tapi ternyata Ken lebih dulu tau dan memberi tahu Minho begitu dia sampai di sekolah!"

Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali dalam gerakan yang samar. Bunyi dentingan halus membuat perhatian mereka segera beralih ke pintu yang terbuka. Beberapa orang masuk setelah Luhan dan Sehun keluar dari dalam lift. Tidak perlu berjalan jauh lagi, keduanya sudah sampai di depan pintu dan Sena menyambut adiknya dengan gembira. Keberadaan Luhan juga sangat menarik perhatiannya, dalam waktu singkat ia memandangi Luhan dari ujung kaki hingga kepala lalu tersenyum diiringi pandangan dengan kilatan yang misterius.

"Kau, Luhan? Astaga! Kau sangat sempurna, benar-benar masuk kedalam kriteria idaman semua orang dan Sehun juga tentunya!" Sena kemudian tersenyum lalu menoleh kepada adiknya. "Aku benarkan?"

"Biarkan kami masuk dulu, baru kita bicara di dalam!"

"Jawab dulu pertanyaanku. Calon istri yang kau pilih adalah wanita idamanmu?"

Sehun melirik Luhan sesaat. "Kau gila? Untuk apa bertanya lagi. Lihat dadanya yang besar, pinggulnya yang bulat, perut yang rata, bukan hanya menarik untuk di lihat! Ciumanya juga sangat luar biasa!"

Luhan mengerang dalam hati. Sehun sedang memujinya? Dia hanya menyebutkan bagian-bagian tubuh Luhan yang sudah disentuh olehnya. Bagaimana mungkin Sehun bisa mengatakan hal-hal sevulgar itu didepan saudara perempuannya?

"Kalau dia menikah denganku, dia harus berhenti jadi pengacara!"

Sehun melanjutkan ucapanya sambil memandang Luhan dengan pandangan serius, beberapa saat kemudian laki-laki itu tersenyum kepada calon istrinya yang sedang jadi topic pembicaraan.

"Karena dia tidak akan ku biarkan turun dari ranjangku!"

Sena melotot mendengar pernyataan adiknya, ia lalu menoleh kepada Luhan yang menggigit bibir dan agak menundukkan wajah, sebelah tanganya menggosok-gosok tengkuknya perlahan. Luhan sedang merasa tidak enak karena ucapan Sehun yang seharusnya hanya menjadi konsumsi mereka berdua secara pribadi.

"Luhan, apa Ayahku sudah mengatakan padamu untuk bersabar terhadapnya? Aku mengerti kau pasti merasa sangat sial sekali karena harus menikah dengan orang ini!"

Luhan berusaha tersenyum. Menikah dengan orang itu? Entahlah. Sehun masuk kedalam apartement tanpa di suruh lagi, ia membawa tas Luhan juga meskipun meninggalkan pemiliknya di pintu bersama kakaknya. Sedangkan Sena masih berusaha berbicara kepada Luhan mengenai sesuatu.

"Luhan, Sehun memang seorang laki-laki yang penuh dengan gairah, tapi membicarakanmu dengan cara seperti itu sedikit banyak dia sudah menunjukkan kalau dia sedang memujamu. Sekarang masuklah, kau akan tidur di kamar perempuan malam ini!"

.

.

.

"Jongin tidak pernah menyentuhku lebih dari sebuah genggaman tangan, dia memelukku beberapa kali dan menciumku hanya sekali."

Kyungsoo bersungut-sungut saat semua wanita yang berada di rumah itu berkumpul di kamarnya. Taemin istri kakak sulungnya Minho, Sena yang merupakan istri dari Ken, Ibunya dan juga Luhan.

Semua laki-laki sedang berkumpul di kamar lain dan anak-anak sudah tidur di kamar yang berbeda juga. Pembicaraan menjelang hari-hari pernikahan selalu menjadi topik yang seru, tapi tidak bagi Luhan. Dia masih sangat lelah dan benar-benar mengantuk. Saat tiba di London nanti Luhan akan memastikan kalau dirinya bisa tidur seharian dan tidak ada seorangpun yang boleh mengganggu.

"Apa yang harus kulakukan nanti?" Lanjutnya, matanya yang bening berbinar-binar bahagia, dia akan memasuki kehidupan baru bersama laki-laki yang dicintainya.

Luhan mendesah, baginya pernikahan hanya beban. Sejak kecil ia bisa berpacaran dengan siapa saja tapi tidak pernah terfikir untuk menikah. Tapi diusia yang ke dua puluh lima tahun, ia harus mendapatkan suami karena Ibunya yang masih berfikir dengan cara yang sangat Asia itu tidak menginginkan putrinya jadi perawan tua. Itu yang menyebabkan Luhan selalu menjalani pejodohandan selalu mengusahakan agar pria-pria itu menolak perjodohan mereka. Kris Wu, seharusnya menjadi satu-satunya laki-laki yang akan dibiarkanya menjalani perjodohan secara normal denganya, karena Kis cukup dikenal dan pernah dikaguminya. Sayangnya Luhan harus menelan pil pahit saat mengetahui kalau dirinya dijodohkan dengan laki-laki yang paling dibencinya di seluruh dunia. Luhan tidak pernah menolak perjodohan, tapi dia selalu berhasil membuat pihak laki-laki yang melakukanya. Sehun seharusnya juga, tapi laki-laki gila itu cukup mampu bertahan hingga sekarang hanya karena dia menyukai tubuh Luhan, hanya karena Luhan adalah sumber gairah yang bisa membuatnya berapi-api di semua tempat. Luhan meraba perutnya yang Sehun sentuh, payudaranya yang diremas, dan lehernya. Sehun juga sudah menyentuh kaki-kakinya, membelai paha, meremas pinggul. Astaga! Meskipun bukan dalam satu waktu, nyaris semua anggota tubuhnya sudah pernah di jamah oleh laki-laki itu!

"Luhan!" Sena memanggilnya. Seluruh bayangannya tentang Oh Sehun buyar begitu saja.

"Kau baik-baik saja?" Lanjut Sena.

"Iya, tentu saja. Ada apa?"

"Tadi aku bertanya, bagaimana denganmu dan Sehun. Kalian sudah melakukan apa saja? Sudah tidur bersama?"

Mata Luhan membesar mendengarkan pertanyaan seperti itu.

"Tidak, kami tidak pernah sampai kesitu! Aku mengatakan kepadanya untuk tetap memakai celananya saat sedang bersamaku!"

Spontan tawa membahana di ruangan itu. Tawa Sena yang reda lebih cepat bertanya lagi. "Benarkah? Sehun adalah anak yang sangat gigih, apa lagi menyangkut sesuatu yang tidak bisa di tahan seperti gairah. Mengapa kau bisa mengatakan hal itu? Bagaimana dia bisa bertahan sampai sekarang?"

"Karena saat itu dia…" Luhan gugup, haruskah dia mengatakanya?

"Ayolah, katakan saja!"

"Karena saat itu dia hampir melakukanya, untungnya pada saat itu Kris datang dan aku bisa bernafas lega sampai hari ini!" Luhan menatap jam di dinding, waktu benar-benar sudah lewat tengah malam.

"Bolehkah aku tidur sekarang?"

"Aku masih ingin mendengar ceritamu tentang Sehun!" Kyungsoo merengek.

"Tidurlah!" Sena memberi izin. Lalu berbicara kepada Kyungsoo yang kelihatanya kecewa. "Dia harus kembali ke London besok siang, jangan sampai Luhan kurang istirahat!"

Luhan berdiri dari tempat duduknya, sebelum tidur dirinya ingin kekamar mandi dulu. Sebelum keluar dari pintu kamar, ia berkata kepada Kyungsoo. "Sebaiknya kau juga tidur! jika tidak, akan ada kantung mata menggelayuti wajahmu besok pagi. Bergadang bisa merusak kecantikanmu!"

"Ah, ya. Baiklah! Aku akan tidur sebentar lagi" jawab Kyungsoo sambil menarik bantal ke pangkuannya.

Berjalan ke kamar mandi sebenarnya tidak harus membuatnya melewati kamar para pria, tapi melihat cahaya lampu menyeruak dari sela-sela pintu kamar menarik perhatianya lebih lanjut. Luhan mendekat dan ingin tau apa yang terjadi di dalam dan tidak perlu waktu lama untuk menyadari kalau mereka sedang melakukan hal yang sama dengan yang perempuan lakukan. Oh Sehun bahkan tampak sangat bersemangat memberi kuliah seksnya saat ini seolah-olah dirinya sedang mengajarkan tekhnik berperang. Luhan menghembuskan tawa kecil lalu kembali beranjak ke kamar mandi. Membasuh wajahnya dengan air hangat membuatnya semakin mengantuk dan mempercepat kerjanya untuk menggosok gigi dan mencuci kaki tanganya agar bisa segera tidur, setelah semuanya selesai, Luhan berjalan keluar dengan langkah yang agah sempoyongan. Seseorang mendorong tubuhnya masuk kembali kekamar mandi membuat tubuhnya merasa nyeri karena terhempas ke dinding. Sehun lagi dan kini dirinya sudah ada dalam rangkulan laki-laki itu. Sebelah tangan Sehun melingkari pinggangnya erat sehingga tubuh Luhan benar-benar dalam kuasanya dan yang sebelah lagi membantunya memegangi leher gadis itu agar Luhan tidak bisa melarikan diri dari ciumannya yang penuh gairah. Luhan berusaha berontak dengan cara mendorong tubuh Sehun sekuat tenaga, ia tau itu tidak akan berhasil dan pasti akan sia-sia, tapi Sehun tidak menyentuh bibirnya meskipun jaraknya sudah sangat dekat, tinggal beberapa inci lagi.

"Apa yang kalian bicarakan di dalam?" Sehun bertanya, suaranya terdengar seperti sedang mendesah membuat Luhan di jalari kegugupan yang luar biasa.

"Umm…, kurasa sama…dengan apa yang kalian bicarakan!"

"Lalu apa kau tidak merindukanku? Membicarakan hal itu membuatku merasa bergairah dan aku selalu mengingatmu!"

"Ya, aku tau, jika tidak kau tidak akan seperti ini! Sepertinya…"

Luhan segera menutup mulutnya, bagaimana mungkin ia mengatakan itu seolah-olah menerima semua perbuatan Sehun telah menjadi kebiasaan baginya lalu apa yang akan dia katakan tadi?

Sepertinya aku sempat merasakan hal yang sama.

Karena itukah dia merasa sangat tertarik untuk melintasi kamar para pria tadi? Luhan menggelengkan kepalanya pelan.

"Sepertinya kau harus kecewa karena aku sudah sangat mengantuk dan ingin tidur. Jadi lepaskan aku sekarang!"

"Kalau begitu berikan aku ciuman selamat malam!"

"Kalau aku tidak mau? Kau akan memaksaku dengan cara apa lagi? Menggerayangiku seperti saat kita di mobil? Atau meremas payudara seperti waktu itu?"

Sehun terkekeh, "Kau sudah sangat hafal dengan watakku! Aku tidak akan melakukan hal yang sama kecuali saat kita berada di atas tempat tidur. Jadi ku rasa aku akan melakukan hal lain yang belum pernah ku lakukan seperti…"

Luhan memotong ucapan Sehun dengan teriakan panjang yang tertahan, satu jari Sehun yang tadi berada di bahunya kini sudah menerobos masuk ke bagian terdalam dirinya yang panas. Tubuh Luhan bergetar hebat karena kesakitan yang luar biasa sehingga membuatnya mencakar dada Sehun dan meremas pakaianya kuat-kuat. Butuh waktu yang cukup lama untuk membuatnya merasa tenang meskipun rasa perih membuatnya hampir kehilangan tenaga untuk berdiri. Luhan menyandarkan seluruh tubuhnya kepada laki-laki itu penuh penyerahan.

"Demi Tuhan, Kau sudah sangat menyakitiku kali ini!" desis Luhan lemah. "Kau sudah melanggar hak-hak reproduksiku!"

"Lalu kau akan menuntutku?" Sehun menekan lagi semakin dalam, Luhan mengerang lagi dan Sehun sangat menyukainya. "Aku masih memakai celanaku, sayang. Meskipun kau harusnya tau kalau itu membuatku kesakitan!"

Vanessa menengadahkan kepalanya untuk menyerang Sehun dengan tatapanya. "Kalau kau fikir kali ini aku menikmatinya, kau salah! Keluarkan tanganmu, aku bersumpah ini sangat sakit, Oh Sehun!"

Sehun menekan lebih dalam lagi, dan terus berusaha lebih dalam, dia hanya ingin melihat Luhan merasa kesakitan dan itu sudah pasti. Luhan sudah mengeluh berkali-kali. Ini pertama kalinya Sehun memaksa seorang perempuan dan dia menyadari kalau Luhan saat ini sedang tidak merasakan kenikmatan apapun tapi ia belum ingin berhenti.

"Ku mohon hentikan, aku sudah tidak sanggup lagi menahanya!"

Tubuh Luhan sudah sangat lemah dan tidak bertenaga. Sehun melihat sesuatu yang mengalir di pipinya, Luhan menangis? Apakah sesakit itu? Gairahnya padam secara tiba-tiba, Sehun melepaskan Luhan dengan erangan yang tertahan karena gadis itu menggigit bibirnya sendiri untuk menahan rasa sakit yang dikeluhkanya. Luhan terkulai lemah di lantai kamar mandi dengan punggung tersandar di dinding. Ia merapatkan kedua pahanya kuat-kuat sebagai tanda kalau bagian tubuh yang paling dilindunginya didera rasa perih yang luar biasa. Sehun berusaha untuk tidak hanya memandanginya saja, ia juga duduk di lantai yang sama sambil menggenggam tangan Luhan yang juga meremas tanganya dengan sangat kuat.

"Antarkan aku ke dokter!" bisiknya. "Aku benar-benar kesakitan! Sakitnya tidak bisa hilang!"

Tangisan Luhan semakin manjadi-jadi, ia bahkan menekan bagian bawah perutnya dengan kuat sambil meringis disela-sela sedu sedan yang memilukan. Gadis itu benar-benar berhasil membuat Sehun merasa takut. Dengan cepat dia berlari kekamarnya untuk meminjam kunci mobil siapa saja. Beberapa saat kemudian kembali dengan khawatir dan segera menggendong Luhan keluar dari kamar mandi. Semalaman semua orang menjadi benar-benar gaduh, beberapa orang menemaninya ke rumah sakit dan sebagian lagi tinggal di rumah. UGD menjadi sasaran pertama yang membuat jantung Sehun seakan berhenti berdetak menanti kabar, hingga menjelang pagi semuanya selesai dan Luhan sudah tertidur nyenyak di sebuah ruang rawat rumah sakit. Sena, Ken dan Minho yang semalaman menemaninya sudah pulang begitu Luhan dipindahkan keruangan itu karena walau bagaimanapun ini adalah hari pernikahan Jongin dan Kyungsoo, pernikahan tidak boleh batal hanya karena perbuatanya.

"Anda tidak bisa memaksa pasangan anda untuk melakukan treatment-treatment seks pada saat dia sedang tidak menginginkanya. Itu sangat menyakitinya, hal itu bisa menyebabkan pendarahan seperti sekarang yang dalam dunia kedokteran kita sebut dengan Vaginimus. Tapi anda tidak perlu merasa khawatir karena tidak ada yang terluka. Pasangan anda hanya sedang mengalami stress dan kelelahan. Dan dapat di pastikan akan segera pulih dalam beberapa hari."

Sehun menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia benar-benar tidak tau mengenai Vaginimus atau semacamnya, dia juga tidak menduga kalau kejadian seperti ini akan terjadi. Melihat wajah Luhan yang pucat dan diinfus dengan kantong darah membuatnya semakin merasa bersalah. Luhan tidak pernah serius menolak, dia pikir Luhan menikmati semua kelakuanya selama ini dan Luhan hanya berpura-pura tidak suka. Ternyata dugaanya salah.

Sinar Matahari sudah menggantikan cahaya lampu menerangi ruangan, Luhan membuka matanya perlahan dan melihat sebuah bayangan samar yang berbicara denganya, semakin lama semakin jelas dan ia harus menyadari kalau dirinya sedang berbaring di rumah sakit, semua ingatanya tentang rumah sakit masih sangat jelas. Saat bagaimana Sehun menggendongnya sambil berlarian di sepanjang koridor rumah sakit dengan wajah yang sangat khawatir dan teriakan-teriakanya yang memanggil dokter jaga. Ia juga masih bisa mengingat dengan baik saat dirinya dipindahkan ke ruang rawat sebelum akhirnya diberi suntikan penenang untuk kesekian kalinya agar tertidur. Ia berusaha untuk duduk dan rasa nyeri itu menyerangnya lagi meskipun tidak separah yang dirasakanya semalam, Sehun membantunya dengan teliti dan hati-hati.

"Kau masih disini, Oh Sehun?" Suara Luhan terdengar sangat parau. Tenggorokanya terasa sangat kering dan Ia kehausan. "Bisa berikan aku air?"

Dengan cepat Sehun mengambilkan segelas air dan membantu Luhan untuk memegangi gelasnya saat gadis itu minum. Setelah itu ia meletakkan kembali gelas di atas meja dan meninggalkan kursinya untuk duduk di atas tempat tidur agar bisa lebih dekat dengan Luhan.

"Kau sudah baikan?"

Luhan mengangguk. "Kau tidak pergi kepesta? Sahabatmu menikah hari ini!"

"Aku sudah sangat gila kalau aku meninggalkanmu disini untuk sebuah pesta." Desisnya. "Maafkan aku! Aku sama sekali tidak tau kalau rasa sakit yang kau katakan itu serius. Selama ini kebanyakan perempuan juga mengeluh…tapi…!"

"Tapi mereka tidak dalam keadaan di paksa!"

"Aku kira selama ini kau menikmatinya!"

"Sudahlah, Ini tidak di sengaja kan? Aku cuma tidak siap sama sekali tadi malam karena lelah dan mengantuk."

"Walau bagaimanapun aku yang salah!"

Luhan tersenyum di sela-sela rasa sakitnya, ia menggapai tangan Sehun dan menggenggamnya erat. "Mendekatlah, aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu!"

Sehun mendekat menyediakan telinganya untuk dibisiki sesuatu, tapi ia malah mendapatkan sesuatu yang lain dan tidak terduga. Luhan mencium bibirnya dengan hangat dan lembut, ciuman yang sudah sangat lama tidak pernah dirasakanya, ciuman yang hanya berisi perasaan bukan gairah. Ciuman yang cukup membuat Sehun terperangah saat Luhan menyentuh pipinya lalu mengalihkan ciumanya menjadi sebuah rangkulan. Gadis itu menepuk punggungnya beberapa kali sebelum akhirnya dilepaskan dan kembali duduk dengan tenang di posisi semula.

"Apa maksudnya ini? Kau tidak sedang menyatakan cinta padaku kan?" Tanya Sehun heran.

Luhan tertawa. "Tentu saja tidak. Aku cuma ingin memberi tahu kalau perempuan bukan hanya butuh gairah, tapi juga perasaan. Jadi jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi, bukan hanya padaku tapi juga pada wanita lain!"

Sehun masih terkesima dengan apa yang dirasakanya dan apa yang di dengarnya.

"Wanita bukan makhluk yang bisa mendapatkan gairah secara mendadak saat kau memperlakukanya dengan kasar, meskipun saat itu kau sedang menyentuh daerah sensitif di bagian manapun. Berjanjilah Jangan pernah begini lagi terhadapku tanpa izin dariku!" Luhan kemudian tertawa getir. "Seharusnya aku memberikan pengertian tentang ini sejak awal. Selama ini aku salah karena sudah menyikapinya dengan kasar!"

Hening sejenak. Luhan menundukkan wajahnya dalam sedangkan Sehun masih berusaha mencerna perkataan Luhan baik-baik, semuanya ini sudah membuat fikiranya menjadi buntu.

"Aku berjanji!" Kata Sehun kemudian. "Aku berjanji tidak akan melakukanya tanpa seizinmu. Tapi aku tidak akan memutuskan pertunangan sampai aku bisa membawamu ke tempat tidur!"

Wajah Luhan menengadah, sesaat pandanganya terpaku pada wajah Sehun yang nakal. Dia pikir umurnya sudah berapa? Oh Sehun masih bersikap kekanak-kanakan seperti sedia kala. Kata-kata terakhirnya membuat Luhan menahan tawa, dan semuanya perlahan mulai membaik.