VENUS

(Novel Remake by Phoebe)

HUN-HAN

Genderswicth

Happy Reading :) :)


Apa yang mulai dirasakanya?

Belakangan Luhan selalu menyikapi Sehun dengan penuh perasaan, mulai berharap agar Sehun tidak meninggalkanya, tidak membatalkan pertunangaanya. Semenjak pulang dari Seoul, Sehun selalu mencemaskanya, ngotot mengantarkan Luhan ke kantor dan memintanya berjanji untuk menunggunya menjemput. Kadang-kadang pada jam istirahat Sehun sengaja datang ke kantornya dengan berbagai alasan dan alasan itu selalu menyangkut Kris. Tapi hari ini Oh Sehun tidak datang ke kantor, tidak juga mengantarnya tadi pagi. Luhan sepertinya melupakan sesuatu. Dia yang pergi lebih pagi sebelum pintu Flat Sehun terbuka, sebelum jam-jam bangun tidur Sehun tiba. Luhan melihat jam digital yang ada dipojok layar ponselnya. Bukan, itu ponsel Sehun dan ponsel miliknya masih berada ditangan laki-laki itu. Meskipun Sehun berjanji akan menukar ponselnya kembali setelah mereka sampai di Korea Selatan, Sehun tidak melakukanya.

Kepulangan mereka dari Seoul juga sudah berlalu hampir dua minggu dan Sehun tidak pernah mengungkit untuk mengambil kembali ataupun mengembalikan ponsel miliknya. Praktis karena sebuah ponsel, dunia Luhan berubah. Tidak ada seorangpun yang menghubunginya kecuali Sehun dan hanya Sehun, Luhan tidak pernah mau memberikan nomor ponsel Sehun kepada orang lain yang mulai menanyakan kenapa ia sulit di hubungi? Dia hanya menjawab sambil tersenyum lalu menyarankan untuk menelpon ke telpon kantor pada pagi hari sampai jam delapan malam karena pada jam segitu biasanya Luhan masih ada di kantor. Bila tidak, mereka bisa menghubunginya di nomor yang lama karena bila ia sedang tidak berada di kantor, Luhan pasti sedang menghadiri persidaangan atau bersama dengan Sehun. Luhan juga tidak pernah membiarkan Ibunya kebingungan karena menghubunginya, itulah sebabnya ia selalu menelpon Ibunya pada saat berada di kantor sedikitnya dua hari sekali. Jadi meskipun Luhan jauh dari ponsel dia tetap tau kalau dalam dua hari kedepan Ibunya akan pindah ke China dan tinggal bersama keluarga kakaknya di Beijing. Henry tidak ikut Ibunya untuk tinggal di rumah Victoria, anak itu lebih memilih untuk tinggal di coffee shop milik kakak keduanya Zhoumi dan membantunya bekerja karena Zhoumi memang sangat butuh bantuan. Semenjak istrinya meninggal karena kecelakaan, Zhoumi selalu sibuk dan semakin kewalahan mengurusi kedua putra kembarnya yang hiper aktif.

Sekarang sudah malam, seharusnya Sehun sudah datang menjemputnya. Tapi ini bukan yang pertama kali Sehun terlambat. Apakah Luhan tetap akan menunggunya seperti biasa? Luhan merasa kalau pilihan untuk menelpon Sehun lebih baik. Dia tidak akan kebingungan harus menunggu atau tidak karena mereka benarbenar tidak berkomunikasi hari ini.

"Ya, Sayang!" Sehun masih melakukan itu. Memanggilnya dengan sebutan sayang tanpa kenal waktu dan tempat. Tapi Luhan tidak pernah protes sejak awal.

"Kau dimana? Kau akan menjemputku atau tidak? Kalau tidak bisa aku akan minta tolong Kris mengantarku pulang!"

"Jangan coba-coba melakukan itu! Aku sedang ada urusan tapi aku pasti akan menjemput meskipun agak terlambat. Jadi lebih baik cari hiburan saja sampai aku datang!"

"Urusan dengan siapa?"

"Kang Seulgi. Teman!" Suara Sehun terdengar tidak yakin saat mengatakan kata teman. "Jangan pulang dulu. Tunggu sampai aku menjemput!"

Telpon di meja Luhan berdering dengan bunyi yang sangat mengganggu. Ia sedang berusaha untuk tidak memperdulikanya dan tetap berbicara dengan Sehun "Baiklah, aku akan menunggu, Kalau kau tidak datang kau akan mati!"

"Kalau aku datang? Aku dapat hadiah kan?"

Bunyi dering telpon semakin intens. Sepertinya itu sebuah telpon yang sangat penting dan Luhan tidak bisa untuk terus pura-pura tidak peduli, ia mengakhiri percakapanya dengan satu kalimat pendek. "Kita lihat nanti!" Luhan lalu mematikan ponsel yang ada ditanganya dan memasukkanya kembali kedalam tas. Setelah itu tangannya berganti dengan telpon kantor yang sejak tadi terus berbunyi nyaring.

"Hallo, Xi Luhan disini, Ada yang…!"

"Luhan! Aku sudah menduga kau masih ada di kantor? Kau belum akan pulang kan? Aku ada sedikit masalah dan aku harus mengorbankanmu, aku sangat minta maaf."Baekhyun terdengar sangat terburu-buru, ucapannya yang memberondong dengan sangat cepat membuat Luhan jadi merasa bingung.

"Kau ini sedang berbicara apa? Ceritakan pelan-pelan!"

"Baiklah," Baekhyun terdengar sedang menghela nafas. "Hari ini aku memiliki agenda diluar rencana. Tadi siang aku pergi bersama Dokter Mark dan rencananya kami pulang sebelum malam. Tapi kendaraan yang kami pakai sedang mogok, jadi aku tidak bisa pulang sekarang! Mungkin aku akan pulang terlambat!"

"Sudahlah, itu bukan masalah yang besar."

"Tapi kau tidak bawa kunci flat hari ini!"

"Iya, tidak masalah! Aku bisa menunggu di flat sebelah sampai kau pulang. Tapi berjanjilah kalau malam ini juga kau harus pulang! Jangan sampai aku menunggumu terlalu lama karena aku tidak suka merepotkan tetangga terlalu banyak."

"Oke, thanks!"

Luhan menghirup udara yang masih berkeliaran di ruang kerjanya. Sesekali ia menggosok hidungnya yang gatal, flu yang menyerang sejak dua hari yang lalu sudah membuatnya tidak berselera makan sama sekali dan sekarang ia merasa sangat lemah. Luhan sudah berencana untuk tidur setelah sampai di rumah, tapi sepertinya ia harus menunda hasrat yang satu itu sampai Baekhyun pulang. Musim dingin yang sudah menyerang membuat udara di luar sangat dingin dan perutnya semakin lapar. Vanessa mengambil kembali ponsel Sehun yang ada dalam tasnya dan mengirimkan pesan agar Sehun membelikannya makanan cepat saji dalam perjalanan menjemputnya disini.

"Kau belum pulang?" Kris menyapanya dengan suara keras dan kepalanya menyembul dari balik pintu sambil memandang Luhan dengan senyumnya. Tanpa di persilahkan Kris masuk ke ruangan itu dan duduk di meja karyawan lain yang berada di sebelah meja Luhan.

"Semua orang sudah pulang!"

"Aku sedang menunggu Sehun. Dia bilang akan sedikit terlambat hari ini!"

"Kau tidak mau pulang bersamaku?"

"Kau ingin segera pulang? Kalau begitu pulanglah duluan!"

"Tidak. Lebih baik aku menunggu sampai Sehun menelpon kalau dirinya tidak bisa datang menjemput." Kris kemudian memamerkan giginya lewat senyum yang mengembang jenaka. "Kita sudah cukup lama tidak pulang bersama. Kau selalu bersama Sehun. Apa hubungan kalian serius?"

"Kau ini sedang mengatakan apa? Aku tidak yakin dengan itu. Aku rasa kami dekat karena bertetangga."

"Tapi kalian dulu sangat bermusuhan!"

"Mungkin karena waktu itu aku tidak pernah mencoba untuk menjalin hubungan yang baik denganya. Kebersamaan di Korea cukup bisa dikatakan sebagai moment yang memperbaiki komunikasi kami berdua!"

"Benarkah? Apa disana terjadi sesuatu?"

Apakah terjadi sesuatu? Tentu saja iya, tapi Luhan tidak pernah menceritakan apa-apa kepada siapapun dan dia harap Sehun juga melakukan hal yang sama.

"Tentu saja, sesuatu yang sangat parah seperti kelelahan misalnya! Perjalanan di sana cukup singkat dan ternyata aku tidak hanya diajak mengunjungi satu tempat. Jet lag dan pesta pernikahan sudah membuatku kehilangan waktu tidur!"

"Jadi karena itu kau terlihat sangat tidak sehat pada minggu pertama kepulanganmu ke London?"

"Sepertinya begitu, aku kurang istirahat dan butuh istirahat yang cukup!"

"Tapi sepertinya istirahatmu belum begitu sempurna, nona!" Kris menarik kakinya sehingga ia duduk bersila di atas meja. "Kau hanya terlihat membaik tidak lebih dari lima hari dan sekarang wajahmu bahkan lebih pucat di bandingkan dengan saat kau kembali dari Korea!"

Luhan hanya bisa menjawab dengan senyum tipis disudut bibirnya. Ia memandang jam di dinding. Sudah jam delapan malam dan Sehun belum juga datang. Tadi dia mengatakan kalau dia sedang ada urusan dengan seseorang. Kang Seulgi.

"Kris, boleh aku bertanya sesuatu?"

Kris mengangkat sebelah alisnya. "Asalkan kau tidak bertanya berapa banyak hutangku atau berapa berat badanku! Belakangan ini aku semakin gemuk dan aku tidak suka saat orang-orang menanyakan hal itu!"

"Tidak. Bukan itu. Apakah kau kenal dengan Kang Seulgi? Dia siapa? Seorang wanita, Kan?"

Kang Seulgi? Luhan tau darimana? Kris sempat mematung beberapa saat karena didera rasa ragu akan memberi jawaban seperti apa. Tapi dia tidak seharusnya menutupi semuanya. Cepat atau lambat Luhan pasti mengetahui segalanya.

"Dia sekretaris Sehun!"

"Berarti wanita yang di restoran waktu itu!" desisnya. Luhan tau kalau wanita yang bersama Sehun di restoran waktu itu adalah sekretarisnya, tapi ia tidak pernah mendengar namanya. Kelihatannya bukan sekretaris biasa karena saat itu Sehun menggenggam tanganya, bukan sekretaris biasa karena tidak mungkin Sehun mengajak seorang sekretaris makan malam berdua di restoran mahal.

"Seperti apa hubungan mereka berdua!"

"Kau benar-benar ingin tau? Kau tidak takut?"

"Takut apa? Ceritakanlah karena sepertinya kita sudah kehabisan bahan pembicaraan. Anggap saja untuk mengisi waktu sampai jemputanku datang."

Kris mengangkat bahunya, tidak yakin kalau dirinya dan Luhan sudah benar-benar kehabisan bahan pembicaraan. Semenjak perjodohan Luhan dan Sehun dilaksanakan, hubungan Kris dan Luhan tidak sekaku biasanya. Dengan ragu Kris menjawab pertanyaan Luhan tadi.

"Sama seperti yang lainnya!"

Luhan mengerutkan keningnya tak mengerti. Sama seperti yang lainnya?

"Sama seperti semua makhluk sejenis yang berada disekitarnya. Kecuali kau, karena Xi Luhan memiliki ikatan dengan Oh Sehun."

Luhan menyentuh kembali cincin bermata ruby yang masih setia melekat di jarinya. Ya, dia berbeda karena hanya dia satu-satunya orang yang menggunakan cincin yang Sehun berikan. Bukan karena ia memiliki hati Sehun seperti yang sedang dia harapkan.

"Kau menyukainya?" Kris memandangnya dengan pandangan misterius. "Katakan padaku, apakah kau menyukai Oh Sehun?"

"Apa yang sedang kau fikirkan!"

"Benar. Pertanyaan yang sangat pas untukmu. Apa yang sedang kau fikirkan?" Pandangan Kris masih belum lepas dari Luhan yang mulai kelihatan kikuk. "Kau masih tidak ingin cerita? Biasanya kau selalu menceritakan apa saja kepadaku!"

Luhan berusaha meruntuhkan perasaan kikuknya, tidak ada salahnya mengatakan bagaimana perasaanya sekarang kepada Kris. Mungkin Kris punya pendapat yang baik tentang masalahnya, setidaknya Luhan tidak perlu menyimpannya sendirian lagi.

"Suka? Mungkin aku menyukainya karena belakangan ini kami bisa berkomunikasi dengan baik. Dia sedikit lebih sopan dan tidak pernah lagi menyentuhku, aku fikir hanya itu dan mudah-mudahan saja tidak lebih!"

"Dia pernah menyentuhmu?"

Luhan menelan ludahnya. "Kau jangan berfikir yang aneh-aneh dulu. Maksudku, seperti…, seperti apa ya?" Luhan berusaha mencari contoh yang mungkin lebih bisa diterima oleh banyak orang karena dia masih ingin merahasiakan bentuk interaksinya dan Sehun yang tidak biasa.

"Seperti saat dia menggendongku keluar dari sini waktu aku melihatnya di ruanganmu. Atau memegang tangan saat bersama Baekhyun. Seperti itu!"

"Tidak ada yang berlebihan kan?" Kris memandangi Luhan dengan serius dan mulai merasa lega saat gadis itu menggelengkan kepalanya pelan.

"Kau menyukainya karena dia tiba-tiba saja bersikap lebih baik. Itu wajar. Dia bersikap seperti itu juga karena semakin menyukaimu, begitu katanya."

"Dia mengatakan sesuatu tentangku padamu?"

"Dia mengatakan banyak hal kepadaku, meskipun tidak semuanya! Walau bagaimanapun aku adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya di London. Sehun bilang, saat di Korea dia melihat sisi lain dari dirimu. Kau tidak segalak yang selalu kau tunjukkan selama ini, tidak juga sekejam yang selalu kau tunjukkan. Seandainya kau bisa menjadi seperti yang di inginkannya mungkin dia akan mengikatmu selamanya disisinya. Perlu kau tau, pada awalnya Sehun mendekatimu hanya untuk bermain-main dan saat dia mengatakan akan mengikatmu selamanya aku nyaris percaya jika saja dia tidak tertawa sambil mengatakan kalau itu semua tidak mungkin terjadi, dan dia juga tidak pernah berharap sama sekali!"

"Menjadi seperti yang dia inginkan? Maksudnya apa?"

"Apa lagi yang menarik minatnya kepada wanita? Maaf kalau aku kurang sopan, tapi kau sendiri pasti sudah tau kalau Sehun sangat menyukai tubuhmu, kau selalu jadi perhatianya semenjak kemunculanmu yang pertama kali, saat aku mengatakan kalau aku mengenalmu, dia sangat antusias dan berharap bisa menggenggam Xi Luhan erat-erat. Tapi sayangnya interaksi pertama kalian adalah saat kau menangani kasus artis yang punya hubungan sumbang denganya, waktu itu kau menamparnya untuk yang pertama kali didepan umum. Sadar atau tidak, kalian berdua selalu jadi sorotan media karena permusuhan yang menarik itu. Tapi semenjak kalian berbaikan, media jadi bungkam." Kris tertawa, "Kenapa aku jadi membicarakan tentang media?"

Luhan juga ikut tertawa meskipun tawanya palsu. Dia sangat tau kalau Sehun hanya ingin bermain-main dan Luhan mengikuti semua permainanya dengan harapan Sehun akan melepaskanya suatu saat nanti setelah dia lelah. Tapi sepertinya sekarang Luhan tidak menginginkanya, melepaskan Sehun seperti melepaskan nyawanya karena saat bersama Sehun dirinya merasa lebih bernyawa.

"Kapan kalian akan mengakhirinya?"

"Aku sedang menunggunya melakukan itu!"

"Biasanya kau selalu bisa membuat semua laki-laki yang dijodohkan denganmu menolak perjodohanya, tapi sepertinya kau tidak melakukan apa-apa kepada Sehun. Apa karena kau mengharapkanya? Keputusan mengenai kalian berpisah atau tetap bersama sebenarnya ada ditanganmu sendiri!"

Kris benar. Selama ini Luhan tidak benar-benar menjauhkan diri dari Sehun, tidak benar-benar memerangi Sehun agar laki-laki itu menjauh darinya, dia selalu mencari-cari alasan yang selalu mendekatkan dirinya kepada Sehun. Apa yang terjadi padanya? Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam Luhan pernah mengagumi Sehun sebagaimana wanita lain mengaguminya. Lalu mengapa pada akhirnya dia membenci Oh Sehun? Mungkin karena Sehun selalu bersama wanita lain. Apakah dia memiliki perasaan khusus kepada Sehun? Lalu mengapa Luhan selalu mengatakan dengan bangga kepada perempuan-perempuan yang selalu mengitari laki-laki itu kalau dia adalah tunangannya?

"Kris, bisakah kau mengantarkan aku pulang sekarang?" tanya Luhan, dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Luhan harus memastikan semuanya malam ini juga, apakah dia dan Sehun harus melanjutkan pertunangan mereka atau tidak. Ia mengetik sebuah pesan kepada Sehun sambil berjalan keluar gedung kantornya bersama Kris.

Bisakah kau pulang lebih cepat?

Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan

Aku tidak bisa menunggumu lebih

lama lagi karena kantor sudah

harus di kunci.

Aku pulang duluan!

(Delivered: Venus xxxx)

.

.

.

.

"Kau sedang ada janji? Sejak tadi kau melihat jam tanganmu terus menerus!" Seulgi kelihatan gusar dengan perilaku Sehun hari ini sejak tadi dengan susah payah ia menahan Sehun untuk terus bersamanya.

Seulgi ingin bercerita tentang kekecewaanya terhadap suami, sesuatu hal yang sangat sulit di terima oleh pasangan yang baru sebulan menikah. Suaminya sangat sibuk dan tidak punya waktu, bahkan untuk sekedar bulan madu meskipun hanya seminggu. Karena itu ia mencari Sehun ke kantor dan berharap Sehun mau menemaninya. Tapi kenyataan yang di terimanya, Sehun menolaknya mentah-mentah dengan alasan sedang tidak bergairah. Sehun malah menyarankan Seulgi untuk menghibur diri dengan makan makanan yang manis seperti cake, hal yang menjadi penyebab mereka berdua ada di sini sekarang. Di sebuah café yang sebenarnya cukup jauh dari kantor, Seulgi tidak mengerti kenapa Sehun memilih tempat ini dan tidak bersedia di ajak pindah ke café yang lain.

Sehun kembali menutupi jam tangan dengan lengan kemejanya lalu memandang keluar, di luar sedang hujan dan sangat lebat. Hujan di musim dingin seperti ini bisa membuat flu yang Luhan derita semakin parah, udara sedang tidak bersahabat.

"Sebenarnya, aku ada janji dengan teman. Dia sedang menungguku di flat. Bisa kita pulang sekarang?"

"Kalau begitu bawa aku ke flatmu, setelah urusan dengan temanmu selesai kita bisa…"

"Tidak, aku takut tidak akan bisa." Sehun memotong perkataan Seuli. Dia tidak akan bisa melakukan apa-apa karena Sehun tidak pernah berhasil menghabiskan malam bersama satu wanitapun di flatnya. Lagipula, bukankah Seulgi sudah tau kalau Sehun sedang tidak bergairah? Sehun sangat merindukan hubungan yang seperti itu setidaknya selama hampir sebulan terakhir, Tapi Seulgi tidak cukup menarik perhatianya lagi seperti dulu.

"Kenapa? Kau sudah membuatku kecewa seharian ini."

"Kau tidak akan suka dengan flatku yang baru. Sebaiknya pulanglah, jangan sampai kau tidak ada saat suamimu ada di rumah!"

Sehun memakai jasnya yang tadi tersampir di kursi dan segera berdiri dari duduknya.

"Bisa kita pergi sekarang?"

"Baiklah!" Seulgi mendesah.

Sehun tau Seulgi mungkin sangat kecewa denganya hari ini. Tapi Seulgi seharusnya tau kalau Sehun bukanlah orang yang suka bersandiwara dengan perasaanya, seharusnya dia sudah pergi meninggalkan Sehun sejak tadi. Tapi Kang Seulgi malah lebih memilih untuk pura-pura tidak tau dengan perasaan Sehun kepadanya.

Meskipun begitu, Sehun bukanlah tipe orang yang menolak membantu orang yang sedang membutuhkanya. Karena itulah sampai detik ini dia masih bisa bertahan menemani wanita itu. Seandainya Luhan tidak mengirimkan pesan, mungkin dia tidak akan pergi juga dari tempat itu. Sehun keluar dari café setelah membayar semuanya dan harus sangat terkejut saat melihat Luhan berdiri di depan etalase yang memperlihatkan kue-kue dengan pakaian yang basah kuyup, dia sedang berteduh? Luhan mendekatinya pelan-pelan dengan tubuh yang gemetaran.

"Aku menunggumu, Tadi aku melihat mobilmu disini tanpa sengaja, jadi aku minta Kris menurunkanku disini." Luhan merangkul tubuhnya sendiri, erat.

"Kenapa tidak masuk?"

"Takut mengganggu urusanmu. Tidak masalah, aku baik-baik saja. Jangan khawatir!"

Sehun memandang Luhan terkesima, dia masih mengusahakan senyum sedangkan bibirnya sudah hampir membiru. Spontan Sehun membuka Jasnya dan menyelimuti Luhan, berharap kedinginanya bisa sedikit berkurang.

"Dia?" Seulgi bergumam pelan, sepertinya sangat terejut dengan keberadaan Luhan dan perhatian Sehun kepadanya. Setahu Seulgi, Sehun dan Luhan adalah dua orang yang akan saling membuang muka bila berpapasan. Sekarang Luhan menunggu Sehun seperti orang bodoh di depan café dalam keadaan basah kuyup?

"Dia Xi Luhan kan?"

Luhan berusaha membungkukkan wajahnya dengan hormat. Meskipun dia sedang tidak menyukai keberadaan Seulgi di dekat Sehun, Luhan tidak bisa bertindak buruk kepadanya seperti yang selalu dilakukannya kepada wanita-wanita lain sebelumnya, Luhan sedang berusaha untuk lebih menghormati privasi Sehun.

"Iya, Aku Xi Luhan. Maaf kalau selama ini pertemuan kita sudah meninggalkaan kesan yang tidak baik!"

Sehun berdehem, berharap Seulgi tidak melakukan hal-hal yang mungkin menyakiti Luhan. Untuk mengindari hal tersebut ia segera menyela pembicaraan antara kedua wanita itu.

"Seulgi, Aku mohon maaf sekali, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang. Tapi aku akan mencarikan taksi untukmu!"

Baik Luhan maupun Seulgi lalu tidak bicara apa-apa lagi. Sehun menembus hujan untuk mencegat taksi di pinggir jalan. Beberapa taksi yang lewat menolak untuk berhenti hingga akhirnya, ada sebuah taksi yang bersedia berhenti untuknya. Luhan merasa sedih saat Sehun melakukan hal itu, Sehun rela seperti itu karena Seulgi? Dia sangat cemburu dan memutuskan menyembunyikan perasaanya mungkin lebih baik. Luhan akan melupakan niatnya yang semula, ia tidak ingin memperjelas apa-apa. Sedangkan Seulgi, entah mengapa ia merasa bahwa Sehun sangat ingin agar dirinya segera menjauh. Ada urusan yang seperti apa dengan Xi Luhan? Yang bisa dilakukanya, hanya menyimak semua yang terjadi dengan penuh tanda tanya, sampai akhirnya laki-laki itu mendekat setelah meminta taksi menunggu.

"Taksimu sudah datang, kau cukup berjalan cepat kesana karena pintunya sudah ku buka. Jadi kau tidak akan basah kuyup sepertiku!"

"Terima kasih," ujar Seulgi sambil menepuk bahu Sehun. "Kalau kau membutuhkanku suatu saat nanti, katakan saja! sekarang aku pulang dulu!" Seulgi memberikan senyumanya yang terakhir lalu mendekati Luhan dan membelai wajahnya yang dingin. Setelah itu Seulgi berlari kecil menuju taksi yang menunggunya dan pergi setelah melambaikan tangan sebelumnya.

Kepergian Seulgi membuat Sehun lega, ia kembali memandang Luhan dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti.

"Kau mau makan kue? Tadi kau memintaku membelikan makanan untukmu."

"Tidak usah, aku ingin segera pulang!"

"Tidak apa-apa. Flu pasti membuat mulutmu terasa pahit. Sebentar aku belikan dulu, kita makan di rumah saja!"

Sehun langsung memasuki toko kembali begitu dia selesai mengatakan kata-kata itu sehingga Luhan tidak bisa berbuat apa-apa.

Yang diketahuinya, Sehun keluar dalam waktu beberapa menit kemudian dengan membawa sebuah kotak dibungkus rapat dengan kantong plastik berwarna merah muda. Keduanya lalu berjalan santai menuju parkiran di bawah hujan, kemudian pulang kerumah dengan mobil setelah Sehun menyempatkan diri untuk mampir ke apotik dan membeli beberapa jenis obat. Luhan harus menjelaskan dengan susah payah tentang Baekhyun yang tidak ada di rumah karena rasa dingin membuatnya benar-benar tidak bisa menyusun kata-kata dengan baik.

Untungnya Sehun mengerti dengan penjelasanya dan mempersilahkan Luhan masuk ke Flatnya untuk menunggu. Dia tidak akan tega membiarkan Luhan menunggu di luar dengan pakaian basah dan udara dingin seperti sekarang.

Meskipun sudah berada di dalam flat, udara dingin masih menusuk walau tidak separah di luar sana. Bunyi hujan juga tidak begitu terdengar. Mereka beruntung tidak tinggal di lantai teratas karena penghuni flat yang paling atas pasti sedang terganggu dengan bunyi hujan yang menimpa atap rumahnya. Sehun memasuki kamarnya dan mengganti pakaianya yang basah, ia juga mencari-cari pakaian yang cocok untuk Luhan, tapi ia menyerah. Di saat seperti ini Sehun sama sekali tidak bisa mencegah gairahnya untuk bangkit, tidak ada pakaian yang pantas untuk Luhan karena benaknya berfikir begitu. Sehun tidak ingin Luhan berpakaian, ia ingin gadis itu berbaring telanjang di

atas tempat tidurnya, membayangkan Luhan menggodanya dan kemudian…

Berhentilah Sehun! Kau tidak boleh melakukan apa-apa malam ini!

Bentaknya keras meskipun hanya dalam hati. Sehun keluar dari kamarnya dan melihat Luhan masih berdiri di dekat pintu yang tertutup rapat. Dia tidak beranjak dari sana sejak masuk tadi.

"Kenapa kau masih disitu? Kenapa tidak duduk disini?" Sehun menunjuk sofa yang ada di ruangan itu. Sekotak kue sudah siap menanti tapi pemiliknya malah terpaku kedinginan sejak tadi.

"Nanti sofamu bisa basah!"

"Ayolah! Kalau kau bersikap begitu maka dirimu tidak akan pernah beranjak dari sana sampai besok pagi!"

"Sehun, Kau punya ember plastik? Bisa bawakan kemari! Kalau boleh aku mau pinjam handukmu juga. Aku harus membuka pakaianku karena besok aku masih harus bekerja. Aku tidak boleh sakit dulu sekarang!"

Sehun menelan ludah dalam. Luhan ingin membuka pakaianya di tempat itu? Fantasinya mulai melayang lagi. Hasrat yang tidak bisa muncul saat bersama Seulgi mendadak timbul tanpa di minta. Sehun tidak ingin berkomentar banyak, ia pergi ke dapur dan kembali membawa sebuah ember plastik berwarna biru langit lalu meletakkanya di hadapan Luhan. Sebuah handuk juga sudah tersampir di bahunya.

"Kau yakin akan membukanya disini?"

"Apa boleh buat. Aku tidak bisa begini terus sampai Baekhyun pulang."

Sehun masih memaksa dirinya untuk berhenti bertindak bodoh. Mungkin dirinya akan membiarkan Luhan mengganti pakaianya dengan handuk dan dia akan mengunci diri di kamar. Dengan begitu, baik dirinya maupun Luhan bisa lebih aman. Sehun mengambil handuk di bahunya dan memberikanya kepada Luhan. Tapi gadis itu kewalahan harus meletakkanya dimana karena membuka pakaianya yang berlapis-lapis itu mungkin akan merepotkanya, lantai di sekitar tempatnya berdiri sudah basah di genangi air dan Luhan tidak mungkin meletakkanya disana.

"Kau bisa membantuku?" Tanya Luhan, gadis itu kemudian memberikan tas dan handuk di tanganya kepada Sehun.

"Bisa letakkan tasku di atas sofa?"

"Baiklah!" Sehun mengambil Tas milik Luhan dan meletakkanya di atas sofa. Handuk yang Luhan berikan kembali disampirkanya ke bahu dan iapun membalikkan tubuhnya.

"Kau bisa membuka pakaianmu dalam keadaan seperti ini kan? Aku berjanji tidak akan melihat apa-apa. Aku tidak akan memutar kepalaku sama sekali. Kalau kau sudah selesai, kau bisa ambil handuknya di bahuku. Aku cuma mempermudahmu, sungguh bukan untuk bermaksud apa-apa!"

"Iya, aku tau!" Luhan berusaha menekankan suaranya dengan sedikit bertenaga.

Perlahan, Luhan membuka jas yang Sehun berikan tadi, lalu mantelnya dan kemudian kemejanya. Luhan tau kalau Sehun memperhatikanya dari cermin, menantinya membuka Camisole sutranya, kemudian bra dan yang lain sampai ia benar-benar polos. Tapi Luhan tidak bisa bersikap setenang sebelumnya, ia mengangkat Camisolenya perlahan, lebih pelan daripada hembusan nafasnya, kadang-kadang ia berhenti dan ragu, haruskah ia melakukan hal ini? Luhan menatap cermin sekali lagi, Sehun sudah memejamkan matanya. Membuatnya lebih tenang dan bisa melanjutkan kegiatanya. Handuk yang tersampir di bahu Sehun di tarik pelan-pelan. Sehun bisa merasakanya meskipun ia masih memejamkan mata. Semakin sedikit handuk yang bergeser di badanya, semakin lemah pertahanan Sehun terhadap semua ini. Luhan seperti apa sekarang? Dia pasti sangat menggairahkan tanpa pakaian membungkus tubuhnya. Sehun menahan nafas saat handuk benar-benar berpisah dari tubuhnya. Luhan sudah membungkus tubuhnya sekarang dan Sehun lebih baik menghentikan pikiran-pikiran gilanya. Dia tidak mungkin memaksa Luhan kan? Bagaimana jika Luhan tidak siap? Dia bisa saja sedang sangat stress. Bukankah tadi Luhan bilang dirinya tidak boleh sakit karena besok masih harus bekerja, itu berarti sangat banyak pekerjaan yang bisa membuatnya mengalami stress. Sehun tidak akan membiarkan dirinya melukai Luhan seperti yang pernah dilakukanya.

"Kau sudah selesai?" Sehun bergumam parau, entah mengapa suaranya tiba-tiba tercekat.

"Iya!"

Mendengar jawaban singkat dan pelan itu, Sehun langsung membalikkan tubuhnya, ia berusaha menundukkan pandanganya agar tidak melihat Luhan yang mungkin bisa membuat fikiran warasnya yang masih tersisa lenyap begitu saja. Ia membungkuk mengambil ember yang sudah penuh dengan pakaian gadis itu. Luhan benar-benar sudah menanggalkan pakainya, semuanya. Melihat tumpukan pakaian basah yang sangat lengkap membuat Sehun merasa semakin lapar. Ia kembali membelakangi Luhan sambil memejamkan mata.

"Kau mau membawanya kemana?" suara Luhan terdengar cemas.

Sehun membuka matanya. Tapi dia tidak akan menoleh. Tidak boleh menoleh.

"Aku mau mencucinya di belakang!"

"Tidak perlu, kurasa biar aku saja yang melakukanya!"

"Aku tau kau lelah. Kau mandi saja pakai air hangat biar aku melakukanya!"

"Tapi aku mana boleh membiarkan laki-laki menyentuh pakaian dalam…"

"Kau tidak usah khawatir karena aku mengenakan mesin cuci!"

Sehun segera memotong perkataan Luhan. Pembicaraan ini hanya akan memperpanjang waktunya untuk berfikir mengenai semua hal yang ajaib.

"Ini bukan pertama kalinya aku menyentuh pakaian dalam wanita. Biasanya aku membukanya sendiri dari tubuh pemiliknya! Sekarang kau mandi saja, setelah itu kekamarku, cari pakaian yang sesuai. Jangan pakai T-shirt, pakailah kemeja yang tebal dan hangat karena pemanas ruangan sepertinya sedang rusak."

Sehun kemudian berjalan kedapur tanpa menoleh. Dia melarang Luhan menggunakan T-shirt untuk kebaikanya. T-shirt bisa membuat lekuk tubuhnya tergambar jelas apa lagi Luhan tidak menggunakan pakaian dalam,

udara yang dingin ini bisa saja membuat puting payudaranya mengeras dan itu bisa…

Astaga, Sehun! Hentikan!

.

.

.

.

Luhan sudah duduk di atas sofa, kemeja lengan panjang berwarna putih dengan garis-garis vertikal berwarna merah hati membungkus tubuhnya, itu saja belum cukup karena Luhan masih membungkus tubuhnya dengan selimut tipis yang di temukanya dalam lemari pakaian Sehun. Laki-laki itu sedang menyiapkan kue yang tadi dibelinya di dapur. Lalu wajah cerianya segera hadir kembali dengan nampan berisi chesse cake ukuran besar dan segelas air putih. Setelah meletakkanya di atas meja, Sehun duduk di sebelah gadis itu karena hanya itu satu-satunya tempat yang kering.

"Makanlah, setelah itu minum obat!" Katanya.

Chocolate cake bukan kue favorit Luhan tapi dia tau kalau Sehun sangat menyukainya. Sehun pernah mengatakan kalau dia sangat menyukai cokelat dan apapun yang mengandung cokelat adalah makanan favoritnya. Bunyi sendok beradu dengan piring keramik terdengar cukup nyaring. Luhan menyendok kuenya dalam ukuran besar dan menyodorkanya kepada Sehun.

"Makanlah!"

"Kau saja yang makan, aku sudah makan bersama Seulgi tadi!"

"Satu suapan saja, ini kue kesukaanmu kan? Aku ingin kau mencicipinya sebelum aku!"

"Kenapa? Aku bersumpah tidak meletakkan apa-apa di dalamnya!"

Luhan tertawa pelan. "Kau berniat melakukan hal yang seperti itu? Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya rasa terima kasih untuk semua ini!"

Sehun memandang Luhan sesaat lalu beralih ke potongan chocolate cake yang ada di dalam sendok. Tangan Luhan gemetar, mungkin karena dia sedang sakit dan tidak sanggup menahan tanganya dalam posisi seperti itu lama-lama. Tapi udara dingin yang menusuk membuatnya merasa Luhan begitu juga karena udara yang kejam ini. Dengan perasaan tak menentu Sehun menerima suapan Luhan dan mengunyah kuenya dengan baik. Ia harus menahan degupan jantungnya saat melihat gadis itu memakan kuenya lahap dengan menggunakan sendok yang sama. Luhan tidak merasa jijik? Sehun tertawa dalam hati menyadari betapa konyol pertanyaanya. Kenapa harus jijik? Bukankah mereka berdua pernah flirting di ruangan yang sama?.

Dalam waktu singkat Luhan sudah menyelesaikan semuanya. Gadis itu kemudian menghabiskan waktunya dengan termangu menghitung waktu. Sudah hampir tengah malam, Baekhyun belum kembali. Ia mengambil ponsel Sehun yang ada di tasnya lalu berusaha menelpon Baekhyun. Tapi tidak bisa tersambung meskipun ia sudah melakukanya berkali-kali, cuaca yang buruk mungkin sudah mengganggu sinyal telpon.

"Kau tidur disini saja!" Sehun bergumam pelan. Tapi Luhan mendengarnya dan menoleh kearahnya. "Baekhyun mungkin juga sedang terjebak hujan di suatu tempat."

Luhan menyodorkan ponselnya kepada Sehun.

"Kapan ponselku akan di kembalikan? Ini milikmu!"

"Kau simpan saja. Aku tidak mau menukarnya kembali!"

"Kalau begitu tukar nomornya saja!"

Sehun menggeleng keras. "Tidak mau! Aku sudah cukup tenang karena nomor baru yang tidak diketahui banyak orang."

"Kau curang! Kau pasti sudah memberikan nomorku kepada teman-temanmu kan? Atau kau punya ponsel lain? Di ponselmu tidak ada seorangpun yang ku kenal selain Kris. Ponselku cuma akan berdering kalau itu adalah pesan darimu!"

"Di ponselmu juga tidak ada yang ku kenal selain Kris!" Sehun membalas. "Bahkan nomor Baekhyun juga tidak ada, nomor keluargamu juga tidak ada. Semuanya klien. Jadi impas kan?"

Luhan menghela nafas. Ia tidak pernah menyimpan nomor yang sudah di hafalnya. Lagi pula ia membeli ponsel hanya untuk menunjang pekerjaannya. "Sekarang aku mau tidur! Kau kembalilah ke kamarmu!"

Sehun mematung, jadi Luhan akan tidur disini malam ini?.

Tadinya Sehun mengira Luhan menolak idenya, makanya gadis itu mengalihkan pembicaraan. Sehun merasa gembira tapi hasratnya juga semakin besar, Sehun tau dia akan kesulitan menahan gairahnya.

"Biar aku yang tidur disini. Kau kekamar saja, tidur di sofa bisa membuat punggungmu sakit!"

"Tapi disini bisa membuatmu membeku!"

"Di dalam juga akan sama saja! Jadi pergilah ke kamar dan kunci pintu rapat-rapat!"

Luhan menggosok-gosokkan kedua telapak tanganya.

"Bagaimana bisa pemanas ruanganmu rusak? Kalau hal seperti ini terjadi bagaimana? Apakah tidak pernah terfikir olehmu?"

"Aku tidak butuh pemanas, selama ini bagiku tubuh wanita cukup panas dan di musim dingin aku selalu di temani wanita setiap malam!"

Luhan mendengus sinis. Mulutnya tidak mengatakan apa-apa lagi dalam waktu yang lama, lalu gadis itu berdiri dan memandang Sehun tajam.

"Kalau kau mau kita bisa berbagi kehangatan tubuh!"

Sehun terkesiap, Luhan sedang menawarkan dirinya.

"Apa?"

"Kenapa ekspresimu begitu? Aku tidak mungkin membiarkan tuan rumah mati beku di kandangnya sendiri. Dan aku juga cukup egois untuk tidak membiarkan diriku mengalami hal itu. Jadi, kenapa kita tidak tidur di ranjang yang sama. Aku mengatakan tidur disini secara harfiah, jadi kau jangan berfikir yang macam-macam!"

Sehun kecewa. "Kau duluan saja, Nanti kalau aku sudah sangat kedinginan aku akan masuk ke kamar!" Ia berkata seolah-olah sedang sangat tidak perduli dan membaringkan tubuhnya di sofa dibungkus selimut yang tadinya membungkus Luhan. Gadis itu sudah masuk kekamar dan berbaring disana, sedangkan Sehun berusaha memejamkan matanya dengan susah payah. Gairahnya semakin mendesak karena Luhan mengatakan tentang berbagi kehangatan tubuh. Tapi ternyata maksud Luhan dan Sehun tentang kehangatan tubuh sama sekali berbeda. Mungkin Sehun akan bertahan begini sampai besok pagi, dia berusaha menahan gairahnya yang terus mendorong kuat sampai ia merasakan sakit. Memejamkan mata dan pura-pura tidur adalah sebuah hal yang paling miris yang pernah Sehun rasakan seumur hidupnya, ini bahkan lebih menyedihkan bila dibandingkan dengan saat Seulgi mengatakan kalau dirinya akan segera menikah pada hari yang sama dengan hari dimana Sehun melamarnya. Sehun membuka matanya, baru berlalu dua menit lebih dan sepertinya ia sudah tidak bisa bertahan. Rasa dingin yang menusuk-nusuk juga telah meruntuhkan pertahanannya. Terserah apa yang terjadi, Sehun tidak akan menahan diri lagi.

Luhan meringkuk semakin dalam, bukan hanya karena udara dingin yang menyerang, tapi karena kedatangan Sehun yang sejujurnya sangat diharapkannya. Hanya untuk berada di dekatnya dalam waktu lama, tidak lebih. Tapi mendengarkan bunyi pintu dikunci dan melihat Sehun membuka pakaianya Luhan tau sesuatu yang lain mungkin akan terjadi, bukan hanya berdekatan lebih lama seperti yang diinginkanya. Berpura-pura tidak tau dengan apa yang sedang Sehun lakukan entah mengapa menjadi pilihannya padahal Luhan tau dirinya masih punya pilihan lain. Luhan menarik selimutnya lebih tinggi, memejamkan mata dan membelakangi Sehun tetap tidak akan bisa menghentikan debaran jantungnya begitu saja.

"Venus, Kau tidak melupakan undanganmu kan? Boleh aku berbaring di dekatmu?" Suara Sehun terdengar sangat pelan. Dia tengah menahan diri untuk tidak merayu dan hal itu sepertinya akan segera membunuhnya.

Luhan bergerak ke sisi lain tempat tidur dan memberi ruang kepada Sehun untuk berbaring disana. Sehun tersenyum tipis, ini sebuah pertanda baik.

"Bisakah kita berbagi selimut?"

Luhan mengulurkan selimutnya dan menyisakan cukup banyak untuk dirinya sendiri. Selimut yang Sehun miliki tidak begitu besar, cukup untuk berdua tapi harus membuat mereka berdekatan.

"Tapi jangan coba-coba menyentuhku!"

Luhan masih berusaha mempertahankan nada galak dalam setiap kata-katanya meskipun Sehun tidak membalas kata-katanya barusan. Luhan hanya bisa merasakan kalau ranjang menampung gerakan lain yang tidak berasal dari tubuhnya dan selimut bergerak menggesek kulitnya. Sehun dan dirinya sudah berada dalam selimut yang sama.

"Aku masih merasa dingin. Bolehkah aku merapatkan tubuhku kepadamu?"

Kali ini Luhan menoleh kebelakang memandang Sehun yang sudah begitu dekat denganya. Sesegera mungkin ia kembali membuang wajahnya dan merapatkan selimut menutupi leher. Bulu kuduknya meremang tapi Luhan berusaha untuk menunjukkan kekesalanya.

Kalau kedinginan kenapa tadi membuka baju? Desisnya pelan.

"Karena aku selalu tidur seperti ini. Apa kau tidak pernah tidur tanpa pakaian, percayalah kau harus mencobanya agar bisa merasa lebih rileks! Aku rasa itu yang menyebabkan dirimu selalu kelihatan kaku karena hidupmu selalu berisi hal-hal yang sama dan kau tidak pernah berusaha keluar dari rutinitas anehmu itu!"

"Aku tidak butuh komentar tentang hidupku, dari orang sepertimu!"

Luhan tidak menyangka kata-kata seperti itu keluar dari mulutnya. Sudah lama sekali dirinya tidak berbicara dengan nada sesinis itu pada Sehun. Tapi kata-kata itu berhasil membuat Sehun menghentikan usahanya untuk sementara sampai akhirnya kaki-kaki mereka saling bersentuhan. Luhan berusaha menjauhkan dirinya dan Sehun mengikutinya. Luhan harus menelan ludahnya untuk kesekian kali saat tubuhnya dirangkul erat memberikan kehangatan yang menenangkan. Ia terlena beberapa saat dan tersadar saat Sehun membuka kancing kemeja yang di kenakanya. Luhan tau dia tidak bisa melawan, sebelah tangan Sehun yang lain sudah mengambil alih tubuhnya secara mutlak.

"Hentikan Sehun. Kau sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang seperti ini tanpa izin. Dan kau belum mendapat izin dariku!"

Sehun menempelkan dagunya ke bahu Luhan yang sudah terbuka sebagian. Gerakan tangannya berhenti, masih ada beberapa butir kancing lagi yang harus di urus.

"Kau yang mengundangku, sayang!"

"Aku tidak mengundangmu untuk membuka pakaianku!"

"Pakaianmu? Kau sudah membukanya sendiri tadi, sekarang aku sedang membuka pakaianku sendiri!"

Sehun meniup leher Luhan dan gadis itu menggeliat. Bagian terpenting dari permainan ini sudah mengeras menusuk pinggul Luhan, gadis itu bergerak berusaha menjauhkan pinggulnya dari godaan. Tapi hal itu tidak akan membuatnya berhenti bergerak karena Luhan kelihatannya tidak memberikan perlawanan yang signifikan selain menggeliat setiap kali Sehun menyentuh tubuhnya. Sesekali terdengar desahan pelan yang menandakan kalau dia sudah mulai menikmati permainan liar ini.

Sehun menggerakkan tanganya semakin kebawah, ia melupakan beberapa kancing yang masih harus diurus, dia melupakan simpatinya kepada Luhan selama dua minggu terakhir, melupakan kalau Luhan sedang dalam keadaan tidak sehat dan masih butuh istirahat ekstra.

Bagian paling sensitif yang seharusnya menjadi puncak permainan ini sudah sangat basah, Luhan sudah merasakan gairah meluap-luap di atas kepalanya.

Sepuluh menit menjelang tengah malam, semua kenikmatan seakan-akan terganggu, suara Baaekhyun mengetuk-ngetuk pintu sudah berhasil membuat Luhan sadar dan memberontak.

"Sudah Cukup!"

Gadis itu melemparkan selimutnya dan bergerak turun dari tempat tidur. Tapi Sehun berhasil menyelipkan kedua tangan di pinggangnya dan mengembalikan Luhan ke atas ranjang dengan posisi yang tersudut. Sehun memegangi kedua tanganya kuat, dadanya menghimpit Payudara Luhan menahan gadis itu untuk tetap berada disana. Gadis itu mengeluh dan meminta Sehun menjauh, Sehun tidak akan bisa melakukanya.

"Aku tidak bisa melakukanya. Kau pasti tau kalau aku sangat kesakitan menahan semua ini. Apakah kau ingin terus menyiksaku? Sampai kapan begini? Sejak bertemu denganmu di perjodohan waktu itu, aku tidak pernah berhasil untuk tidur dengan wanita lain karena kau selalu mengganggu, sekarang sudah hampir dua bulan, Bisa kau banyangkan betapa laparnya aku sekarang?"

"Tapi Baekhyun sudah pulang!"

"Lupakan aekhyun sebentar! Aku tidak akan membiarkan apapun mengganggu kali ini!" Sehun merasakan sesuatu yang berbeda, dia sedang menginginkan Luhan dengan seluruh jiwa raga tanpa disadarinya. Wanita itu bernafas dalam tempo yang semakin menggebu-gebu.

"Ini tidak akan berhasil!"

"Jelas tidak akan berhasil sampai aku terlelap di atas tubuhmu!"

"Sehun, tolonglah! Jangan memperlakukanku dengan cara ini. Aku tidak pernah melakukanya!"

"Aku tau!" Suara Sehun terdengar sedikit lebih intens. Begitu sadar kalau dirinya sudah lepas kendali, ia berusaha memelankan suaranya kembali.

"Aku tau, aku bisa merasakanya saat aku menyentuhmu di kamar mandi sewaktu di Seoul. Aku bersumpah, aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya kepada seorang wanita yang tidak berpengalaman. Aku berusaha melupakan hasratku semenjak itu, tapi malam ini aku tidak bisa! Kau sudah menyebabkanku melakukan hal yang paling tidak aku sukai selama dua minggu terakhir."

Luhan memandang wajah Sehun dalam. Hal apa?

"Masturbasi!" Sehun menjawab seolah-olah fikiranya dan fikiran Luhan menyatu. Tapi itu khayalan belaka. Sehun tidak tau apa yang sedang Luhan lakukan sekarang. "Aku tidak sanggup lagi!"

"Kau sangat menginginkan aku? Karena apa? Karena tubuhku?"

Sehun tidak menjawab karena Luhan sudah membuat jawaban menjadi pertanyaan. Ia kembali berusaha mencumbu bibir Luhan dengan liar, lidahnya bergerak dengan sangat erotis dan Sehun sadar Luhan juga sedang melakukan hal yang sama. Semuanya semakin intens saat Luhan merasakan belaian, remasan, cubitan yang dilakukan Sehun pada payudaranya. Saat Sehun menekan bagian terdalam di pangkal pahanya dengan cara yang sama seperti yang pernah Sehun lakukan di Seoul, sebuah lenguhan parau menggema dikedalaman ciumanya. Luhan mendorong tubuh Sehun menjauh dan kali ini Sehun kelihatan benar-benar kecewa.

"Baiklah!"

Sehun mengerjapkan matanya. Luhan mengatakan sesuatu

"Apa?"

"Baiklah, lakukan sekarang juga sebelum aku berubah fikiran!"

Sehun nyaris bersorak senang dan Luhan hanya tersenyum. Kali ini Sehun melakukan semuanya tanpa ragu sehingga Luhan merasa luluh dan hancur. Sejenak tubuh Luhan berubah jadi kaku, saat penetrasi pertama. Sehun menghentikan gerakannya saat melihat airmata mengalir lepas di wajah Luhan, gadis itu meringis dan untuk pertama kali dalam hidupnya Sehun merasa ketakutan saat berada di atas ranjang. Tapi Luhan segera menghapus airmatanya sendiri, kedua kakinya membantu Sehun menekan pinggulnya untuk melarung ketakutan. Semuanya kembali membaik saat Luhan menyebut namanya dengan mesra dan mengatakan kalau dia sudah bisa menikmatinya. Segala ketakutannya sirna dan mereka terus berpacu dalam gerakan-gerakan yang erotis. Luhan cukup banyak menuntut di pengalaman pertamanya, semua yang seharusnya dilakukan oleh orang yang sudah berpengalaman dalam hal ini. Tapi sedikitpun Sehun tidak menolak untuk melakukan semuanya. Dia juga sangat menyukai hal itu, terlalu.

Tiga kali klimaks bukan sesuatu yang aneh bagi Sehun. Tapi Luhan mengakui kalau semuanya terlalu luar biasa untuknya. Apapun yang terjadi, dirinya merasa sangat lelah, kesehatan yang tidak baik juga sudah membuatnya mati rasa.

"Makan ini!" Sehun memberikan sesuatu yang tadi diambilnya dari laci di meja sebelah tempat tidur. Sebuah kapsul berwarna gelap dan dia sudah memakanya sebelum menawarkan benda itu kepada Luhan.

"Apa ini?"

"Perangsang, atau sejenis itulah!"

Ekspresi Luhan kelihatan sangat terkejut apa yang Sehun fikirkan?.

"Untuk apa? Kau tidak merasa puas kepadaku?"

"Tidak, Kau sangat luar biasa!" Sehun tidak bohong.

Untuk seseorang yang baru memulai semuanya, Luhan sangat liar dan dia menyukainya. Sehun bukan tidak puas dengan Luhan, dia tidak puas dengan dirinya sendiri.

"Aku hanya ingin kau sedikit lebih kuat karena aku ingin melakukanya lebih lama, sekarang kau sedang sakit dan aku takut…"

Luhan membuat Sehun berhenti berkata-kata hanya dengan mengambil kapsul itu dan memakanya. Kapsul itu bukan hanya mengembalikan tenaganya, tapi juga memulihkan gairahnya seperti saat pertama mereka melakukanya. Luhan bahkan sudah bisa merasakan sentuhan Sehun pada tubuhnya, dan beberapa kali erangan kelihatanya masih belum cukup. Keduanya sudah berganti posisi dan Luhan sekarang yang mengambil kendali gerakan demi gerakan mengingatkanya pada kuda putih di pantai Jeju. Ia merasa semakin gila dan Sehun membuatnya ketagihan, Luhan masih berusaha terus bergerak meskipun tubuhnya mengejang dalam lenguhan panjang lalu berakhir di atas tubuh Sehun dalam keadaan yang sangat tidak bertenaga. Malam yang dingin sudah berhasil mereka ubah menjadi sangat panas. Dua nafas menyatu dari tarikan yang terburu-buru sampai kepada helaan yang semakin mereda. Luhan memandangi jam dinding, ternyata sudah hampir pagi. Empat atau lima jam lagi London akan kembali kasak kusuk. Hujan juga sudah lama mereda tanpa disadari.

"Kau sudah puas?" Tanya Luhan.

Pipinya masih menyentuh dada Sehun yang hangat. Sejak pertama, tubuh mereka tidak pernah berpisah, dan hingga saat ini bagian-bagian dari tubuhnya masih menyatu. Sehun masih ada dalam dirinya, merasakan detakan di sana selama berjam—jam.

"Kau bilang tadi, dirimu sedang sangat lapar, sekarang bagaimana?"

"Entahlah!" Jawab Sehun, "Aku masih ingin bersamamu, masih tidak ingin berpisah. Bisakah kita begini terus sampai pagi?"

"Dingin sudah mulai terasa lagi. Aku rasa lebih baik kita pakai selimut."

"Tidak usah! Kenapa kita tidak mengkonsumsi kapsul itu sekali lagi!"

Luhan mengangkat wajahnya dan menempelkan dagunya di dada laki-laki itu. Kapsul itu? Obat perangsang lagi. Tidak, dia tidak akan melakukanya lagi. "Aku harus pergi!" kedua lengan Luhan mencoba menopang tubuhnya untuk berdiri. Sebaiknya dia pergi menjauh. Malam ini seharusnya menjadi malam yang membahagiakan karena Sehun menginginkanya, karena mereka sudah terlibat dalam percintaan yang panjang. Tapi ucapan Sehun tentang kapsul itu telah berhasil membuat semangatnya runtuh. Walau bagaimanapun Luhan merasa bodoh karena hati Sehun tidak menginginkanya, tubuh laki-laki itu yang menginginkanya. Sebuah kekecewaan yang besar membuatnya merasa kalau menjauh adalah jalan keluar yang terbaik, dia akan pergi.

Sehun menolak, ia memeluk tubuh Luhan erat-erat karena ada sesuatu yang akan terjadi. Tubuhnya bergetar hebat memberikan kepuasan yang paling maksimal untuknya. Sehun klimaks tanpa melakukan apapun? Sepertinya Luhan tidak menyadarinya dan baru terbelalak saat sperma memenuhi dirinya untuk yang kesekian kali.

Gadis itu menggigit bibirnya dan mematung sesaat. Pelukan Sehun yang melemah membuatnya bisa melepaskan diri dan memakai kemeja Sehun yang tadi dikenakanya setelah mengambilnya di atas lantai, Sehun melempar benda itu terlalu jauh.

"Kau mau kemana? Tidak mau mencobanya lagi? Kapsul itu aman untuk dikonsumsi lebih dari satu kali!"

Luhan tidak menjawab, ia membuka pintu kamar dengan kunci yang masih tergantung disana lalu keluar dan pergi. Sehun termenung, gadis itu bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal, ataupun terima kasih? tidak! Luhan bahkan tidak menoleh kepadanya dan pergi begitu saja. Sehun memegangi kepalanya. Wanita itu sudah membuatnya hampir gila.