VENUS
(Novel Remake by Phoebe)
HUN-HAN
Genderswicth
Happy Reading :) :)
Luhan memandangi cermin, wajahnya benar-benar kelihatan sangat buruk. Sebuah lingkaran hitam menemani bola mata yang agak memerah semakin memperburuk penampilanya. Dia tidak mungkin menggunakan lensa kontak seperti biasa dalam keadaan seperti sekarang, karena itu kaca mata akhirnya menjadi pilihan yang cukup bisa menyembunyikan keganjilan di wajahnya. Sekarang sudah hampir siang dan Luhan harus kembali bekerja. Meskipun perasaanya sedang tidak baik, Luhan tidak akan memaafkan dirinya bila salah satu klienya kecewa.
"Kau serius mau bekerja?" Baekhyun bertanya sambil menatap pancake buatanya yang sudah tidak berbentuk.
Dengan susah payah Baekhyun membuatkan makanan itu untuk Luhan karena dia tau Luhan sedang tidak sehat. Sandainya Luhan berniat untuk libur hari ini, Baekhyun tidak akan merasa sekhawatir sekarang.
"Sampai kapan kau terus seperti ini?"
"Aku hanya sedang tidak berselera!"
Baekhyun menghela nafas berat.
Semalam Luhan pulang dalam keadaan yang tidak biasa. Gadis itu bertelanjang kaki dan hanya menggunakan sebuah kemeja yang entah milik siapa sambil menenteng tas Gucci kesayangannya. Saat Baekhyun bertanya Luhan dari mana, gadis itu tidak menjawab dan masuk kekamarnya. Pasti telah terjadi sesuatu. Semalam Baekhyun sudah berusaha mengetuk pintu flat Sehun dan tidak ada menjawab, jika Sehun semalam tidak berada di rumah, lalu Luhan kemana?. Bunyi ketukan pintu mengagetkan Baekhyun, ia terbangun dari lamunanya dan memandang Luhan sebentar sebelum akhirnya membuka pintu. Sehun berdiri disana dengan senyum terbaiknya.
"Venusku ada?"
"Ada, tentu saja! Dia sedang…" Baekhyun menggantung ucapanya, ia bingung memilih kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kegiatan Luhan sekarang, sarapan atau makan siang?. Hei, Luhan bahkan tidak memakan apa-apa, gadis itu hanya berusaha membuat pancake tidak berbentuk dengan garpu. "Dia sedang di ruang makan!"
"Kalau begitu boleh aku masuk?"
"Silahkan!"
Sehun masuk kedalam flat dan segera menuju keruang makan. Luhan ada disana dengan pandangan kosongnya sambil mengaduk-aduk pancake yang sudah sangat kacau balau. Ia merindukan Luhan, melihat wajah gadis itu pagi ini membuat hati Sehun senang sekaligus khawatir. Luhan kelihatan sangat tidak sehat.
"Kelihatanya enak!"
Luhan mengangkat wajahnya dan menatap Sehun dengan mata yang membesar. Dia sedang terkejut karena tidak menyangka laki-laki yang bergumul denganya hampir semalaman sekarang sedang duduk di depanya dan berada di ruang makanya.
"Sedang apa disini?"
"Aku membawa pakaianmu!" Sehun mengangkat kantong kertas yang sejak tadi dibawanya dan harus tekejut saat Baekhyun menariknya.
"Jadi semalaman kalian bersama? Dimana? Aku menggedor pintu rumahmu, Oppa ! Aku fikir tidak ada orang. Tunggu dulu, jangan bilang…" Baekhyun memandang wajah Luhan dan Sehun bergantian, laki-laki itu tersenyum sambil mengangguk membuatnya bersorak kegirangan.
"Pantas aku mendengar sesuatu semalam. Ku kira dari tetangga , ternyata kalian…"
"Baek, bisa tolong buatkan aku kopi?"
Ekspresi bahagia Baekhyun memudar seketika menyadari Luhan yang terlihat sangat terganggu. Ada masalah apa? Baekhyun baru teringat sekarang, semalaman setelah pulang Luhan sama sekali tidak berhenti menangis. Meskipun dia berusaha untuk tidak bersuara tapi isakannya tetap bisa didengar oleh Baekhyun yang berusaha keras untuk tidak menanyakannya. Luhan bukanlah orang yang suka diganggu saat ia menangis, karena itu Baekhyun bersusah payah untuk tidak perduli.
"Baiklah, Oppa kau juga mau?"
"Boleh!"
Baekhyun kemudian berjalan ke dapur meninggalkan Sehun dan Luhan di ruang makan. Ada perasaan yang aneh menelusup di hati Sehun tapi dirinya berusaha untuk tidak memperdulikanya. Ia memandangi Luhan yang kelihatanya tidak suka dengan kehadirannya.
"Kau kelihatan sangat pucat!" Sehun berusaha memulai pembicaraan.
"Lalu?"
"Aku ingin berterima kasih atas hadiah manis yang kau berikan tadi malam. Aku sangat menghargainya!"
"Itu tidak akan terulang lagi. Aku melakukanya karena kau selalu mengatakan betapa menderitanya dirimu karena itu! Jadi…"
"Iya, Aku juga tidak berharap untuk mengulanginya."
"Mr. Oh!" Luhan kembali memanggil Sehun dengan kata-kata seperti itu, Mr. Oh. Ia bertindak seolah-olah apapun yang terjadi diantara mereka tidak pernah ada. Luhan diam beberapa saat untuk mengendalikan dirinya lalu mengatakan sesuatu dengan suara mantap meskipun keragu-raguanya sama sekali tidak bisa di tutupi.
"Bagimu aku ini apa?"
Kening Sehun berkerut. Apa? Baginya Luhan itu apa? Luhan adalah satu-satunya wanita yang dekat denganya sekarang. Karena itu di dalam otaknya hanya ada Luhan dan Luhan. Tapi bila di tanya seperti itu Luhan seolah-olah sedang menanyakan tentang perasaan Sehun kepadanya.
"Kau tidak usah menjawab apa-apa lagi karena aku sudah tau jawabanya!" Luhan kembali bersuara.
"Venus, Kau ingin mengatakan apa sebenarnya? Kau tidak sedang bertanya bagaimana perasaanku kepadamu kan?"
"Jawab yang jujur. Kau bertunangan denganku hanya untuk bermain-main kan?"
"Pada awalnya memang begitu, tapi belakangan aku benar-benar menganggapmu sebagai seorang teman yang…" Sebuah bunyi keras membuat lidah Sehun membeku. Luhan melayangkan sebuah tamparan lagi kepadanya setelah sekian lama ia tidak melakukan itu. Sehun tak tau harus berbuat apa-apa. Apa dirinya sedang melakukan kesalahan? Apakah karena tadi malam makanya Luhan jadi marah padanya? Tapi tidak ada gurat kemarahan dalam wajah Luha, dia kelihatan lebih tenang. Memukul Sehun mungkin obat terbaik baginya. Sehun semakin bingung saat Luhan melepaskan cincin di jarinya dan meletakkanya di atas meja.
"Aku memutuskan pertunangan kita lebih dulu. Maaf aku menamparmu. Kau sangat brengsek dan aku tidak mau menikah dengan orang sepertimu!"
Sehun terpaku. Luhan mengatakan kata-kata seperti itu dengan sangat datar. Dia tidak marah? Tapi Sehun merasa sangat marah meskipun dirinya juga tidak tau penyebabnya. Mungkin karena tamparan itu, bukan karena Luhan memutuskan pertunangan mereka kan? Tidak mungkin.
"Kenapa kau melakukan hal seperti ini lagi?" Suara Sehun terdengar lebih tinggi.
"Karena aku tidak mau menjadi teman!"
"Tapi saat ini aku merasa…"
"Berhentilah. Aku menyerah! Kau tidak menerimanya? Kau tidak sedang jatuh cinta padaku kan?"
Apa? Benarkah Luhan mengatakan hal itu? Sehun tau kalau dirinya sangat menginginkan Luhan. Tapi dirinya masih menolak untuk menamainya dengan cinta. Sehun tidak yakin kalau yang dirasakanya adalah cinta karena hal seperti ini sudah beberapa kali dirasakanya dan berakhir dengan kebosanan. Seharusnya cinta tidak pernah membuat kita merasa bosan kan? "Mana mungkin aku jatuh cinta padamu!"
Luhan menyunggingkan senyum kecewanya dan pergi keluar flat tanpa mengatakan apa-apa. Cincin bermata ruby itu ditatapnya lekat-lekat, sekarang benda itu benar-benar sudah kehilangan harga. Cincin itu bukan cincin termahal yang pernah diberikanya kepada seorang perempuan, tapi selalu terlihat sangat bernilai saat berada di jari Luhan. Sekarang nilai itu sudah menguap begitu saja.
"Oppa, aku sangat kecewa padamu!" desis Baekhyun yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatnya.
Sehun menghela nafas berat. "Dia yang meninggalkanku!"
"Kau yang membuatnya meninggalkanmu! Tadi malam sejak dia memasuki pintu flat ini, dia terus menangis sampai pagi. Aku tau pasti terjadi sesuatu, ini bukan pertama kalinya kau menggodanya. Kau bahkan sudah menyentuh sebagian besar tubuhnya sebelum kalian berada di ranjang. Sekarang aku tanya, kenapa semalam kalian bisa melakukanya? Kau memaksanya?"
"Apa yang kau katakan?" Sehun terdengar kesal.
"Aku tidak pernah memaksa wanita untuk melakukan itu. Dia yang memberi izin. Kalau dia menolak saat itu, aku pastikan hal semalam tidak akan terjadi!"
Sehun berkata jujur, semalam saat Luhan mendorong tubuhnya, menjauhkan bibirnya dari ciuman Sehun, Sehun merasa sangat kecewa dan menyerah. Tapi saat itu juga Luhan memintanya untuk melakukan hal itu dan membuat rasa pesimisnya lenyap.
Baekhyun berdesis. "Sekarang berdiri dan keluar dari rumahku!"
"Apa?" Sehun terkejut. Baekhyun sedang mengusirnya?
"Keluar! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!"
"Kenapa? Salahku apa?"
Baekhun tidak menjawab sepatah katapun. Kedua tangan gadis itu berusaha menarik lengannya agar Sehun segera berdiri dari kursi meja makan. Sebenarnya Baekhyun tidak cukup kuat untuk melakukan hal itu kepadanya, tapi Sehun sedang tidak ingin melawan. Tubuhnya mengikuti kehendak Baekyun kemanapun ia ingin membawa Sehun pergi dan saat Baekhyun membawanya untuk semakin mendekati pintu, Sehun mencoba bertahan di posisinya yang sekarang, berdiri dan mematung.
"Sekarang pergi dari rumahku!" Baekhyun mengerang, ia masih berusaha membuat Sehun bergerak. Begitu dirinya menyadari bahwa usahanya untuk menyeret Sehun keluar gagal, Baekhyun masih belum menyerah untuk mendorong tubuh Sehun meskipun laki-laki itu sama sekali tidak bergeming.
"Sudahlah. Percuma kau melakukan ini! Kenapa kau melakukan hal ini? Kenapa hari ini para wanita bersikap aneh?"
Baekhyun menghentikan usahanya lalu memandang Sehun kesal sambil bertolak pinggang. "Kau membuatku merasa bersalah. Seandainya aku tidak pergi kemarin siang, aku tidak akan membiarkannya bersamamu dan melakukan hal itu!"
"Apanya yang aneh? Kau juga sering melakukanya dengan pacarmu? Jangan katakan tidak karena aku tidak akan pernah percaya!"
"Memangnya kenapa?" Baekhyun melotot. "Aku hanya melakukanya dengan orang yang aku cintai dan juga mencintaiku. Apakah kau mencintai Luhan? Kau tau tidak kalau seks sama dengan perasaan bagi perempuan."
"Apakah Venus mencintaiku?" Sehun memandang Baekhyun dengan tatapan serius. Mana mungkin hal itu terjadi, Luhan yang memutuskan pertunangan mereka barusan. Lalu mengapa gadis itu menangis setelah pulang dari flatnya padahal semalam ia terlihat sangat bahagia. Sehun teringat pada pesan yang Luhan kirimkan kepadanya semalam, ia ingin membicarakan sesuatu. Apakah tentang itu? Sehun tidak mengerti apa yang terjadi dengan tubuhnya, tubuh itu bergerak tanpa di perintah untuk kembali masuk kedalam untuk mengambil cincin yang tertinggal di atas meja makan. Secepat kilat Sehun menuruni anak tangga sambil berlari, berharap kalau dirinya masih bisa mengejar Luhan. Gadis itu dimana? Sehun sudah berada di pinggir jalan dan berharap bisa melihat Luhan. Tapi tidak ada yang terlihat olehnya, Luhan sudah pergi.
Kekantor,kan? Aku akan kesana! Pikir Sehun. Ia harus mengambil kunci mobilnya yang tertinggal di flatnya. Berlari dengan kecepatan penuh adalah pilihannya, tapi langkahnya terhenti saat melihat Luhan duduk sambil menyembunyikan wajahnya dikedalaman telapak tangannya sendiri. Gadis itu sedang apa? Sedang menunggu taksi? Taksi sudah lewat dalam jumlah yang banyak dan dia sedang berkonsentrasi di bangku taman apartement sambil menelungkupkan wajahnya. Luhan mengangkat wajahnya, ia menguap beberapa kali lalu menggeliat. Sehun menertawai dirinya sendiri, semula dia fikir Luhan sedang menangis karenanya dan ternyata, gadis itu sedang tertidur?
"Kau sedang apa disini? Aku kira kau sudah pergi kerja!" Sehun bertanya setelah dirinya berhasil duduk di sebelah Luhan, gadis itu menatapnya. "Apakah kau mencintaiku? Semalam kau bilang ingin mengatakan sesuatu, apa tentang itu?"
Luhan mengerutkan keningnya lalu menoleh kearah beberapa pejalan kaki yang melintas.
"Kalau iya, Apa yang akan kau lakukan?"
Apa?
Sehun terperangah, ia bahkan merasa kalau waktu sedang membeku mendengar pertanyaan itu.
Apa yang akan dia lakukan?
Mempertahankan pertunanganya?
Dia memang belum siap untuk jauh dari Luhan semendadak ini, bagaimana mungkin wanita itu memutuskan pertunangan mereka sedangkan semalam mereka sudah menghabiskan waktu bersama dengan cara yang sangat luar biasa. Tapi sekali lagi, untuk mencintai seseorang bukanlah hal yang mudah bagi Sehun.
"Entahlah, Kalau memang begitu aku tidak tau harus berbuat apa. Aku bukan orang yang suka dengan komitmen."
Luhan tertawa, dan sekali lagi Sehun terperangah karenanya. Gadis itu sedang menertawakanya?
"Jawabanmu sesuai dengan dugaanku!" Katanya.
"Kau tertawa? Baekhyun bilang semalaman kau menangis dan aku kira karena itu. Bukankah kau juga bilang ingin berbicara denganku! Kalau bukan tentang itu, lalu tentang apa?"
"Kenapa kau terlihat seperti orang bodoh, Mr. Oh? Ini bukan pertama kalinya kan kau menanyakan kepada seorang gadis apakah dia sedang jatuh cinta kepadamu?" Luhan lagi-lagi tertawa seolah-olah sedang menganggap remeh Sehun.
"Tadi malam Kris bertanya apakah hubungan kita serius? Aku tidak yakin, kau hanya bermain-main denganku dan aku juga begitu. Dia juga bertanya tentang Korea. Bagaimana Ibumu dan Ayahmu. Bagaimana dengan saudara yang lain? Aku merasa sudah membohongi banyak orang. Karena itu tadi malam, seharusnya aku sudah mengembalikan cincin pertunangan itu kepadamu!"
"Cuma itu?"
Luhan mengangguk. "Aku menangis karena sepertinya Ibuku akan marah besar dan memaksaku menjalani perjodohan dengan pria tua setelah ini asalkan aku segera menikah. Aku masih sangat muda dan aku belum ingin menikah. Karena itu aku selalu berusaha untuk membuat orang-orang membatalkan perjodohanya denganku. Tapi denganmu aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak berusaha agar kau menjauhiku sekeras usahaku untuk menjauhkan orang lain!"
"Kenapa?"
"Mungkin karena aku tau, menikah denganmu adalah suatu hal yang mustahil! Aku sedang memanfaatkanmu secara tidak sadar untuk membuat diriku aman dari perjodohan." Luhan mendesah.
Ia mencoba mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah ponsel milik Sehun. Luhan tidak memberikan ponsel itu kepada Sehun secara langsung, ia lebih memilih untuk meletakkan benda itu di antara mereka.
"Ini milikmu. Kalau ponselku memang sangat menarik, kau boleh mengambilnya." Luhan kemudian berdiri dan meninggalkan Sehun seorang diri.
Sehun terpaku sesaat sambil memandangi ponselnya yang tergeletak begitu saja. Hanya itu? Lalu apa? Mereka berpisah? Sama sekali tidak terkesan seperti itu meskipun Luhan sudah memutuskan pertunangan mereka lebih dulu. Sehun meraih ponselnya dan memutuskan untuk menyusul Luhan yang menyusuri jalanan tanpa berusaha menyetop taksi sama sekali. Gadis itu berjalan pelan langkah demi langkah, dan Sehun berhasil mengimbanginya setelah berusaha dengan cukup susah payah. Luhan memandang kearahnya sekilas, hanya sekilas lalu tersenyum seolah-olah Sehun sedang melakukan tindakan yang lucu.
"Kau mengikutiku?" Tanya Luhan di sela senyumnya. "Masih ada yang mau dibicarakan?"
"Aku menolak pemutusan sepihak ini!"
Luhan berhenti melangkah. Ia memutar tubuhnya menghadap ke arah Sehun dan memandangnya dengan pandangan yang penuh tanya. Menolak? Sehun menolak? Karena apa? Karena dirinya masih menginginkan Luhan? Tidak, Luhan sebaiknya tidak terlalu berharap.
"Tapi aku menginginkanya!"
"Kau tidak ingin terlibat perjodohan lagi kan? Aku juga mustahil untuk berkomitmen. Tidakkah kau berfikir kalau kita sekarang sangat cocok? Tetaplah bertahan menjadi tunanganku dan kita tidak perlu repot dengan komitmen apapun. Kau bisa tetap bekerja dengan tenang dan aku juga akan melakukan hal yang sama. Dan sebaiknya kau kenakan kembali cincin ini!" Sehun meraih tangan Luhan dan kembali menyelipkan cincin bermata ruby itu ke tanganya. Selain itu Sehun juga meletakkan ponsel miliknya ke genggaman Luhan.
"Aku tidak bisa di tolak. Tetaplah jadi tunanganku dan bawa ponsel ini! Aku tidak ingin ada perubahan apa-apa. Tetaplah bersikap seperti biasanya."
"Kau jangan pernah berharap, Mr. Oh! Aku tidak akan bersikap seperti biasa karena aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku lagi."
Luhan melambaikan tanganya dan sebuah taksi berhenti di dekat mereka, gadis itu membuka pintu taksi, dan masuk dengan anggunnya. Dalam hitungan detik Luhan sudah menghilang dan Sehun masih termenung.
Apa yang terjadi? Luhan menerima tawarannya? Tapi Luhan membiarkan Sehun memakaikan cincin itu di jarinya sekali lagi. Ya, Luhan menerimanya. Sehun bersorak, Entah mengapa hal ini menjadi hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya saat ini. Apa arti Luhan untuknya? Apapun itu Sehun cukup puas karena Luhan tidak benar-benar bermaksud menjauh darinya.
.
.
.
.
Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, sebulan, dan sampai sekarang Luhan bersikap sangat biasa. Ia berusaha untuk tidak begitu sering berinteraksi dengan Sehun kecuali hal itu benar-benar dibutuhkan. Sebisa mungkin Luhan juga menolak setiap kali Sehun ingin mengantarnya ke kantor atau menjemputnya pulang. Tapi Luhan sama sekali tidak bisa menolak jika Sehun berkunjung ke flatnya kecuali saat Baekhyun tidak berada di rumah. Entah karena hal itu atau bukan, Luhan merasa selera makanya berkurang dan seringkali tidak bersemangat. Melihat Sehun belakangan ini membuatnya terus terbayang-bayang saat-saat mereka bermesraan, semua adegan itu bermain dengan begitu jelas di kepalanya. Dengan kata lain Luhan merasakan sebuah gairah yang luar biasa dan dirinya harus mederita karenanya.
"Mana mungkin bisa seperti itu tanpa sebab!" Ujar Baekhyun saat Luhan bercerita kepadanya mengenai keluhan yang sangat mengganggu.
Hari ini adalah hari minggu dan keduanya sedang tidak bekerja. Mereka baru saja selesai membersihkan flat dan Baekhyun harus mengeluh karena Luhan juga selalu mengeluh kelelahan sehingga menyebabkan pekerjaan mereka jadi lambat.
"Tapi bukan hal yang aneh kalau kau merindukannya. Pengalaman pertamamu sangat luar biasa kan? Karena itu berhentilah untuk berpura-pura tidak perduli padanya. Oppa selalu mengeluh karena dirimu selalu menganggap keberadaanya tidak begitu penting belakangan ini."
"Aku harus begitu untuk menjaga diri." Luhan memijat-mijat lenganya yang terasa sangat lelah. "Aku ini kenapa? Badanku terlalu mudah untuk merasa lelah. Baek, kau dokter, kan? Seharusnya kau bisa membantuku! Semua obat-obatan dirumah ini sama sekali tidak memberikan efek apa-apa!"
"U-huh? Kau fikir aku ini dokter umum? Aku tidak bisa menyembuhkan keluhanmu itu kecuali kalau kau sedang hamil!" Baekhyun tertawa, tapi kemudian tawanya sirna karena dirinya sedang terkenang sesuatu.
"Tunggu dulu! Lu, kau tidak sedang hamil kan?"
"Apa? Mana mungkin? Aku sama sekali tidak muntah-muntah kan?"
"Tapi semua ciri-cirinya ada. Kau sangat gampang lelah, tidak suka bau daging padahal daging adalah makanan yang sangat kau sukai. Tidak semua wanita hamil mengalami morning sick yang mengharuskan mereka untuk muntah-muntah."
"Mana mungkin itu terjadi. Aku masih menstruasi beberapa hari setelah malam itu!" Luhan menggumam dengan suara lemah. Tapi setelah itu dia tidak mengalami haid lagi sampai sekarang, bulan kedua sudah hampir berakhir. "Mana mungkin!"
"Mana mungkin apanya? Haidmu saat itu cuma berlangsung tiga hari dan sangat sedikit. Aku kira saat itu kau cuma sedang stress, tapi dua minggu setelah itu kau mengaku kalau payudaramu sakit. Aish…sekarang bagaimana?"
Baekhyun kelihatan bingung bahkan ia lebih bingung dibandingkan Luhan yang mengalaminya. Secepat mugkin Baekhyun berusaha masuk ke kamarnya dan keluar dengan beberapa peralatan yang asing.
"Sekarang kita lakukan tes, sudah dua bulan seharusnya tidak ada keraguan terhadap hasilnya. "
"Dengan semua alat aneh ini?" Luhan mendesah. "Test pack saja! Biar ku lakukan sendiri!"
Dengan berat hati Baekhyun meraih test pack yang juga berada dalam tas kerjanya dan memberikannya kepada Luhan. Baekhyun khawatir, tentu saja. Gadis itu bukan orang Eropa meskipun Luhan tinggal dan besar disini. Luhan tetap dididik dengan cara timur, hal seperti ini bisa membuat Ibunya jantungan. Baekhyun khawatir karena Luhan harus mendapat cobaan seberat ini sebagai akibat dari pengalaman seks pertamanya dengan laki-laki paling brengsek sedunia. Astaga, bagaimana Luhan bisa menjalani semuanya sendiri kalau dia benar-benar sedang hamil? Tunggu dulu, semoga hasilnya negatif.
Negatif, negatif, negatif, negatif…
Luhan membuka pintu kamar mandi dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Apa hasilnya? Pasti negatif, meskipun belum pasti Baekhyun merasa lega.
"Bagaimana hasilnya?"
Luhan mengangkat bahunya. "Sepertinya positif!"
"Astaga. Sekarang kau harus bagaimana? Kau harus mengatakan kepada Sehun oppa dan memaksanya bertanggung jawab secepatnya. Usia kandunganmu sudah dua bulan, sebulan berikutnya perutmu sudah membesar.!"
Luhan termenung. Bagaimana perasaanya sekarang? Tidak sedih, tidak juga senang. Semuanya terasa kosong dan hampa. Sekarang apa yang harus dilakukanya? Benarkah dirinya harus mengatakan semuanya kepada Oh Sehun? Kalau harus mengikuti kata hati, dia sesungguhnya sangat ingin segera menemui lak-laki itu dan memohon pertanggung jawabanya. Tapi Oh Sehun bukan orang yang suka dengan komitmen, dan kehadiran seorang anak akan mengancam prinsipnya, Luhan harus menyembunyikan perasaanya selama ini karena tidak ingin berada jauh dari Sehun. Sepertinya hal ini harus disembunyikan juga, Sehun akan benar-benar menjauhinya kalau mengetahui kehamilannya.
"Cepat telpon dia!" Baekhyun menyodorkan ponselnya.
"Tidak. Aku harap kau bisa membantuku merahasiakan semuanya! Aku tidak ingin ada seorangpun yang tau tentang ini. Siapapun kecuali dirimu! Soal kehamilanku, aku akan cari jalan keluarnya!"
"Tunggu dulu, kau akan menggugurkanya?"
Luhan terdiam lama. Menggugurkanya? Dia bahkan tidak terpikir untuk melakukan hal seperti itu? Apakah menggugurkan kandungannya adalah ide yang bagus? Luhan tidak mungkin melakukan hal yang bodoh untuk saat ini. Yang pasti di lakukannya dalam waktu dekat adalah memastikan kehamilannya sekali lagi untuk meyakinkan apa yang harus dilakukanya setelah ini.
.
.
.
.
Luhan berjalan di sepanjang koridor rumah sakit lalu masuk ke sebuah ruangan dokter. Ternyata semuanya sama sekali bukan mimpi belaka, sebuah janin sedang berusaha untuk terus tumbuh dalam rahimnya dan itu sangat mengejutkan sekali. Dua bulan terlalu cepat untuk USG, tapi ia sudah mencobanya. Dokter Mark menyarankannya untuk melihat janinnya saat Luhan mengatakan keinginannya untuk menggugurkan kandungannya. Satu minggu yang lalu setelah USG itu, Luhan terus memikirkan ulang niatnya untuk menggugurkan kandungannya dan akhirnya pilihannya jatuh kepada niat untuk melahirkannya.
"Walau bagaimanapun, pilihanmu untuk melahirkannya adalah pilihan yang bijaksana. Walaupun dirimu belum siap, tapi tidak ada alasan yang tepat untukmu menggugurkannya. Jujur sekali aku sangat kecewa saat kau mengatakan kalau kau memiliki keinginan untuk menggugurkannya. Usiamu memang masih muda, tapi percayalah usiamu itu adalah usia yang tepat untuk melahirkan bayi yang sehat."
Dokter Mark kembali menceramahinya. Laki-laki ini adalah dokter yang disarankan oleh Baekhyun untuk memeriksanya dan selama di rumah sakit ini, Baekhyun selalu bertindak sebagai asistennya.
"Aku menanyakan masalahmu kepada Baekhyun tapi dia tidak mau mengatakannya. Apakah kau mau bercerita tentang alasanmu untuk menghilangkan calon bayimu minggu lalu?"
"Mungkin alasannya terlalu sepele, tidak ada yang akan bertanggung jawab terhadap anak ini!" Luhan tertawa getir.
Dokter Mark terkekeh. Pria itu membuat Luhan merasakan kembali kehadiran seorang Ayah meskipun dokter Mark mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dibandingkan dengan Victoria kakak sulungnya.
"Memang sangat sepele untuk seorang wanita brilian sepertimu." Katanya. "Kau sudah bukan anak kecil lagi untuk melakukan perbuatan yang sangat disayangkan seperti menggugurkan kandungan. Sedangkan di luar sana, tidak sedikit orang yang siap melakukan berbagai cara dengan harapan dirinya bisa memiliki buah hati."
"Aku sangat khawatir. Aku sangat meragukan Ayahnya, orang tuaku juga pasti tidak bisa menerima begitu saja jika tau kalau ayahnya tidak akan mau bertanggung jawab. Jadi ku fikir, aku harus memilih antara anak ini dan keluargaku, makanya aku memilih menyingkirkannya selagi belum terlambat. Tapi melihatnya kemarin tiba-tiba saja aku merasa sangat jahat." Luhan menunduk.
Memilih untuk melahirkan janin yang di kandungnya adalah hal yang sangat sulit untuknya. Semalaman Luhan bahkan memandangi buku tabungannya dan berfikir akan dibawa kemana calon anaknya ini.
"Aku akan terus berusaha menyembunyikannya karena akan sangat banyak yang menentangnya. Tapi aku akan tetap berusaha untuk melahirkannya."
Kali ini sebuah senyum penuh kasih terulas di bibir dokter Mark, ia memandang Luhan dengan iba.
"Kelak, kalau kau sudah sangat kesulitan untuk menyembunyikannya, kau bisa ikut aku ke Dalas, istriku pasti senang kalau kau ikut dengan kami."
"Tentu saja, pada akhirnya aku akan mencarimu untuk membantu!"
Luhan tersenyum nakal membuat seluruh rasa kasihan yang dirasakan dokter Mark sirna begitu saja. Luhan memang bukan seseorang yang suka menyimpan beban dihatinya berlama-lama.
"Kapan kau akan pindah, ku dengar dari Baekhyun…"
"Secepatnya, Baekhyun akan di promosikan untuk menggantikanku. Tapi aku pastikan sebelum aku berangkat, kau harus sudah melewati trimester pertamamu dengan baik! Kapan-kapan berkunjunglah ke flatku, istriku sangat antusias mendengar cerita tentang dirimu!"
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu!" Luhan berdiri dari tempat duduknya dengan hati-hati, dia selalu berusaha untuk tidak sembarangan lagi dalam setiap gerakannya karena di dalam dirinya sudah ada sesuatu yang sangat berharga. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaganya. Sebelum membuka pintu, Luhan memandangi Dokter Mark lagi dengan tatapan ragu.
"Dokter Mark, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja!"
"Ini agak memalukan, tapi gairahku sangat menggebu-gebu selama kehamilanku! Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan pada saat bercinta yang mengakibatkan kehamilanku yang sekarang. Apakah hal itu normal?"
"Ya, sangat normal. Biasanya hal seperti itu sangat mengganggu pada trimester awal karena semua gejala kehamilan yang menyakitkan, tapi karena gejala yang kau tunjukkan tidak semenderita wanita hamil lainnya aku rasa gairah yang menggebu-gebu bukan masalah yang signifikan selagi kau tau bagaimana cara mengatasinya. Untuk lebih lanjutnya, akan lebih baik bila kau bertanya pada Baekhyun sebagai sesama wanita!"
Luhan mengangguk mengerti. "Terimakasih, Dokter !"
"Jaga Kandunganmu."
"Baiklah!" Luhan membuka pintu ruang dokter dan hampir saja keluar saat Dokter Mark memanggil namanya.
"Luhan ! Hentikan kebiasaanmu menggunakan high heels, untuk berjaga-jaga saja karena kandunganmu tidak begitu kuat!"
Untuk kesekian kalinya Luhan mengucapkan terima kasih. Sangat banyak terimakasih untuk Dokter Mark yang bukan hanya memeriksa kandunganya, tapi juga menyadarkannya betapa pentingnya untuk anak itu tetap bertahan hingga dia dilahirkan, menyadarkan kalau Luhan seharusnya bahagia menjadi seorang Ibu sedangkan tidak sedikit orang di luar sana tidak bisa merasakan hal yang sama. Ia membungkuk sebagai penghormatan yang biasa dilakukannya dan akhinya benar-benar keluar dari tempat itu. Kembali menyusuri koridor rumah sakit`seorang diri dengan langkah pelan membuat Luhan membayangkan betapa bahagianya bila Sehun menemaninya. Betapa bahagianya bila rasa ketakutan dan kebingungan yang dirasakannya menemukan tempat untuk berbagi. Tapi Luhan tidak mendapatkan itu dari Ayah janin yang dikandungnya, dan dirinya sama sekali tidak boleh kecewa. Semua ini adalah pilihannya, pilihan untuk tidak memberi tahu Sehun keadaan yang sebenarnya karena Sehun pasti akan pergi jauh-jauh darinya. Lebih buruk lagi, Laki-laki itu akan memaksanya untuk menggugurkan kandungannya. Luhan tau dalam waktu dua atau tiga bulan lagi perut besarnya tidak bisa disembunyikan, maka mulai saat ini sampai hari itu tiba dia akan berusaha menikmati keberadaan Sehun disampingnya. Meskipun begitu ia tidak akan membiarkan Sehun menyentuhnya meskipun Luhan sangat menginginkanya.
"Kau sedang apa disini?"
Luhan terbelalak, Sehun berdiri di hadapannya secara mendadak, kedatangannya sangat tidak bisa di duga dan ini cukup membuat gadis itu kehabisan kata-kata.
"Aku? Baru mengunjungi Baekhyun, dia meninggalkan sesuatu dan aku harus mengantarkannya! Kau sendiri sedang apa disini?"
"Menjenguk seseorang. Karena ini rumah sakit!" Sehun tersenyum.
Ya, ini adalah rumah sakit dan orang bisa datang kemari dengan berbagai alasan. Apa yang sedang Luhan fikirkan sehingga dalam otaknya semua orang yang datang kemari dengan tujuan yang sama dengannya.
"Oke, baiklah. Sampai jumpa kalau begitu."
"Tunggu dulu!" Sehun mengagkat kedua tangannya ke depan dada saat melihat Luhan hendak melangkah. "Kau mau kemana lagi setelah ini?"
"Aku mau, belanja?" Luhan kemudian mengangkat bahunya karena dia sendiri sedang meragukan tujuannya. Mungkin dia hanya ingin pergi membeli sepatu yang bisa membuatnya merasa nyaman untuk menggantikan high heelnya. Yang pasti ia ingin pulang dan segera beristirahat untuk besok.
"Mau ku antar? Aku sudah selesai menjenguk temanku jadi ku fikir, tidak ada salahnya jika kita pergi bersama!"
Tentu saja! Luhan berteriak dalam hati. Dirinya sangat ingin bersama dengan Sehun tapi egonya melarang. Sehun boleh berada didekatnya tapi hanya sebagai orang yang biasa, cukup untuk sekedar bisa dilihat sebelum ia pergi bersembunyi. Luhan tidak akan membiarkan dirinya hanya berdua dengan laki-laki itu karena terakhir kali ia melakukannya, ia mendapatkan akibat yang cukup membuat dadanya sesak.
"Aku bisa pergi sendiri. Sampai jumpa!"
"Aku juga perlu membicarakan sesuatu denganmu!"
"Sekarang aku sedang tidak ingin diganggu. Bagaimana dengan besok malam? Kau boleh datang ke flatku besok!"
"Aku tidak yakin!" Sehun terlihat sedih. "Minggu depan adalah Natal dan aku ingin mengajakmu ke Korea. Ibuku memintaku untuk pulang dan membawamu kesana. Bisakah kau ikut?"
"Kau tidak akan memaksaku kan?"
Sehun menggeleng. Bagaimana bisa ia memaksa Luhan seperti sebelumnya sedangkan Luhan selalu menjaga jarak dengan dirinya. Sehun selalu berusaha mendekatinya dengan susah payah, ia merindukan Luhan dengan sangat dan kerinduan itu sepertinya tidak akan terlarung dalam waktu dekat ini.
"Aku hanya berharap kau bisa ikut bersamaku! Kau dan aku bertunangan kan?"
"Ya, sampai aku menemukan orang lain untuk menggantikanmu!" Luhan mendesah. "Aku tidak bisa. Aku juga punya keluarga disini, kapan kau akan berangkat?"
"Besok pagi, bersama Kris!"
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa lagi tahun depan, Marry christmas!" Luhan meninggalkan Sehun sambil melambaikan tangannya.
Aku harap kau segera berubah fikiran. Bisik Sehun lirih.
Selalu ada perasaan yang seperti ini setiap kali Luhan bertindak seakan-akan dia sedang tidak perduli. Sehun tidak mengerti kesalahan seperti apa yang sudah dilakukannya. Semenjak kejadian itu, Luhan bersikap antipati meskipun tidak seratus persen.
.
.
.
.
Luhan bersandar di dinding yang berada di antara pintu flatnya dan flat Sehun. Tangannya menenteng sebuah tas kertas ukuran kecil berwarna biru langit. Ia sedang menunggu Sehun pulang dan seharusnya sekarang laki-laki itu sudah berada di flatnya bila besok pagi dirinya benar-benar akan pergi. Suara langkah demi langkah menaiki anak tangga membuat jantung Luhan berdetak dalam ritme yang sangat cepat. Ia tau itu adalah Sehun, Luhan bisa melihat kepalanya dan perlahan-lahan semakin jelas, wajah, leher, dada, pinggang, dan kaki, Oh Sehun sudah berada di hadapannya sekarang. Wajahnya yang semula terlihat lesu menjadi bersemangat saat melihat Luhan berada di hadapannya.
"Kau sedang apa disini?" Tanya Sehun antusias.
"Besok jadi berangkat?"
"Kau mau ikut? Apakah kau berubah fikiran?"
Luhan menggeleng. Dia telihat manis dengan gaun tidurnya dan dia memakainya untuk Sehun, karena Sehun tidak akan pernah melihatnya seperti ini lagi. Begitu Sehun pulang setelah tahun baru, maka waktu mereka bertemu hanya tersisa beberapa minggu. Setelah trimester pertama kehamilannya berlalu, ia akan ikut keluarga Dokter Mark ke Dalas, setidaknya sampai bayinya lahir. Semuanya sudah difikirkannya masak-masak. Dan disisa-sisa pertemuan mereka, Luhan akan sangat sibuk meskipun hanya untuk menggunakan gaun tidur. Luhan memang tidak mungkin menggunakannya lagi karena perutnya akan membesar. Gadis itu menyentuh perutnya, untuk sekarang penampilannya belum banyak berubah tapi dia tidak akan menjamin ini akan terus bertahan sampai tahun baru. "Aku minta maaf, tidak bisa memberi jawaban yang positif! Aku mau menitipkan ini untuk Ayah dan Ibumu" Luhan memberikan tas kertas yang berada digenggamannya kepada Sehun.
Sehun meraihnya dan melihat isinya. "Biskuit. Kau buat sendiri?"
Luhan mengangguk. "Sore ini aku berusaha membuatnya. Sampaikan salamku kepada mereka, katakan kepada orang tuamu aku sudah menganggap mereka sebagai orang tuaku sendiri. Aku juga minta maaf tidak bisa mengunjungi mereka lagi!"
"Tidak, Jangan begitu. Mereka pasti bisa mengerti. Lalu apakah kau membuatkannya juga untukku?"
"Tentu saja, juga ada disana!" Luha tersenyum. "Aku masuk dulu!"
"Kau tidak ingin mengobrol lebih lama? Masuklah ke flatku!"
Luhan menggeleng sambil mengucapkan maaf. Sejurus kemudian dia berbalik dan meninggalkan Sehun seorang diri. Sehun nyaris saja terjatuh lemas. Kenapa interaksi mereka menjadi sekaku ini? Luhan tadi sangat cantik, dan alangkah indahnya bila dengan kecantikanya Luhan bisa menemaninya semalaman ini, bila Luhan bisa ikut dengannya ke Korea. Sehun membuka pintu dan masuk ke flatnya dengan perasaan kecewa.
Sedangkan Luhan, perlahan-lahan ia membuka pintu lagi dan memastikan bahwa Sehun benar-benar masuk ke flatnya. Setelah memastikannya, ia kembali masuk kedalam flatnya dan bersandar dibalik pintu sambil memegangi perutnya. Dia sangat merindukan Sehun dan itu nyaris saja tidak bisa di bendung. Perasaan yang bisa saja semakin kuat karena Sehun akan benar-benar jauh dari pandangan matanya selama dua minggu atau lebih. Seandainya bisa, ia sangat ingin berada didalam flat Sehun dan memeluknya, meciumnya…
"Mau sampai kapan kau disana?"
Baekhyun berteriak dari ruang tengah sambil memandangnya. Gadis itu meletakkan segelas susu di atas meja. Luhan berjalan perlahan mendekati Baekhyun yang kembali sibuk dengan televisi. Untuk seorang dokter, Baekhyun terlalu santai dan dia selalu menghabiskan waktu senggangnya untuk menghibur diri, sangat berbanding terbalik dengan Luhan yang selalu membawa pekerjaan ke rumah.
"Ini susu untukmu. Mulai malam ini rajin-rajinlah minum susu ini untuk kesehatanmu dan juga calon bayimu itu. Kalau aku tidak ada, kau bisa buat sendiri kan? Aturan pakai bisa kau baca di kalengnya dan kaleng itu aku letakkan di lemari dapur."
Luhan mengangguk. Ia mengambil gelas dan meminumnya pelan-pelan. Memang cukup memakan waktu, tapi Luhan bisa menghabiskannya. Hal yang terbilang luar biasa untuk seseorang yang tidak begitu menyukai susu.
"Wah, kalau begini berat badanku dengan gampangnya bisa naik!"
"Kalau berat badanmu tidak naik itu artinya bahaya. Seorang Ibu harus memaklumi peningkatan berat badannya yang akan terus bertambah sesuai dengan usia kandungannya." Gumam Baekhyun.
"Kau tadi berbicara dengan Sehun Oppa? Kenapa tidak kau katakan saja kepadanya kalau kau sedang hamil?"
"Percuma. Dia tidak akan perduli. Begitu dia tau aku sedang mengandung, dia akan pergi meninggalkanku."
"Karena itu kau berfikir untuk meninggalkannya lebih dulu? Bagaimana dengan Ibumu? Keluargamu? Pekerjaanmu?"
Luhan menghela nafas. "Semuanya akan ku tinggalkan. Keluargaku, kurasa tidak akan ku beri tau sampai anakku cukup kuat untuk kubawa kembali ke London. Kalau aku datang kesana dalam keadaan hamil, Ibuku pasti memaksaku untuk menggugurkannya. Aku sudah bilang kepada mereka kalau aku akan melakukan perjalanan kerja ke Dalas. Soal pekerjaan, aku masih memikirkannya!"
Baekhyun mematikan televisinya lalu memandang Luhan dengan pandangan yang sangat iba. Gadis itu tidak pernah suka menunjukkan kesedihannya, Baekhyun tidak pernah melihat Luhan bersedih kecuali hari itu saat dirinya pulang ke rumah dan menangis sampai pagi. Kejadian itu bahkan lebih memilukan bila dibandingkan dengan saat-saat dia tau kalau ada sebuah nyawa dalam perutnya.
"Coba ceritakan padaku. Kau mencintai Sehun Oppa?"
Luhan mengangkat bahunya.
"Aku kira aku memang menyukainya, tapi tidak cukup kuat untuk dinamai cinta!"
"Lalu kenapa kau menangis pada malam kalian bercinta? Setidaknya kau bercinta dengan orang yang kau suka, seharusnya itu bukanlah hal yang menyedihkan."
"Aku bahagia, demi Tuhan! Pada awalnya aku sangat bahagia, aku berusaha melakukan yang terbaik meskipun saat itu aku kesakitan dan dalam keadaan tidak sehat. Tapi ada satu hal yang membuatku kecewa, dia memintaku meminum kapsul, sejenis obat perangsang. Pada awalnya aku melakukannya karena ku fikir, dia hanya takut aku jatuh sakit atau malah pingsan saat dia sedang menikmati semuanya. Tapi saat dia memintaku melakukannya lagi untuk yang kedua kalinya, rasa kecewa muncul. Semalaman, aku mengira kalau dia benar-benar menginginkanku, tapi saat itu semuanya runtuh, sangat sakit saat menyadari hanya tubuhnya yang menginginkan aku!"
"Kau yakin akan melahirkan anaknya? Anak itu pada akhirnya akan selalu mengingatkanmu kepada Ayahnya."
"Aku juga berfikir begitu. Kekecewaanku karena menyadari hanya tubuhnya yang menginginkan aku, juga hanya tubuhku yang menarik untuknya membuatku melawan kata hati untuk berdekatan dengannya. Aku selalu menjauhinya tanpa sadar dan aku juga takut itu akan terjadi kepada anaknya. Aku takut kalau nantinya kekecewaan kepada Ayahnya berlanjut dan membuat bayiku menderita karena tersakiti oleh Ibunya sendiri. Tapi hari itu, saat Dokter Mark menyarankan aku untuk melihat bayiku, saat aku bisa memandangnya meskipun hanya gumpalan belaka, aku merasa dia hidup. Setiap aku menyentuh perutku, aku merasa dia begerak."
Luhan menitikkan air mata, ia tau kalau ucapannya terdengar sangat mengada-ngada. Janin itu tidak mungkin bergerak diusia kandungan yang baru dua bulan. Tapi dia benar-benar merasakannya, benar benar merasakan keharuan seorang Ibu karena ada keajaiban tumbuh dalam dirinya. Baekhyun menghapus air mata Luhan lembut. Luhan tidak sedang bersedih, gadis itu sedang bahagia dan Baekhyun juga sangat bahagia mendengar ucapannya.
"Dia adalah hadiah natal untukmu! Karena kau sudah bersikap sebagai anak yang baik selama ini!"
"Ya, hadiah yang sangat luar biasa." Luhan menyentuh perutnya kembali dan membelainya lembut. "Kau akan datang ke Dalas untuk menjengukku, kan?"
"Pasti. Aku akan ada di saat kelahirannya. Anak pertamamu, hanya aku yang boleh menyambutnya, aku akan mengucapkan welcome dear kepadanya. Suaraku adalah satu-satunya suara pertama yang boleh didengarnya."
"Oke, Baiklah kalau begitu!"
Luhan menyeka pipinya lagi meskipun Baekhyun sudah menghapus airmatanya. Ia hanya memastikan bahwa wajahnya tidak basah.
"Sekarang kau harus tidur. Tidak ada lagi kata bergadang karena itu bisa mengganggu kesehatan bayimu. Kalau tidak kau lakukan sekarang, aku pastikan insomnia akan mengganggumu selama berbulan-bulan kedepan!"
.
.
.
.
Sehun menanti dengan sabar pengumuman keberangkatan pesawat yang akan di tumpanginya sampai ke Korea. Lagi-lagi ia berharap kalau Luhan hadir untuk menyertainya menemui keluarga besarnya di Jeju. Ia mengambil sebuah kotak plastik berwarna merah dengan tulisan marry christmas di iringi dengan namanya, Oh Sehun. Natal masih beberapa hari lagi, tapi Sehun sudah sangat tidak sabar untuk membukanya. Ia menarik pita merah yang mengikat kuat lalu membuka tutupnya. Beberapa buah biskuit coklat berbentuk kaki-kaki bayi membuat Sehun tersenyum kecut. Ia tidak akan tega untuk menyantap ini.
"Astaga, lucunya!" Kris ikut memandangi biskuit itu dengan senyum gemas. "Ini apa?"
"Biskuit natal dari Luhan!"
"Dia membuat ini? Dia seperti sedang mengatakan kepadamu kalau seorang bayi lucu akan menyatukan kalian berdua!"
Sehun tidak yakin. Seorang bayi kecil?
"Dia bahkan selalu menjauh dariku. Bagaimana mungkin kami bisa punya bayi kecil?"
"Siapa yang mengatakan kalau itu bayi kalian. Bodoh!" Ujar Kris kesal. "Katakan padaku, apakah kau dan dia sudah melakukan sesuatu? Kenapa dia bisa berfikir seperti ini?"
"Kau ingin tau? Kau jangan cemburu ya? Aku sudah bercinta dengannya dan malam itu akan jadi malam yang tidak terlupakan seumur hidupku!"
Kris tercekat. Kapan? Kenapa Luan tidak pernah bercerita apaapa? Gadis itu bahkan tidak pernah menunjukkan keanehan apa-apa selama di kantor. Ia kecewa, tapi Luhan mungkin tidak merasa kecewa dengan itu. Buktinya Luhan tidak pernah menganggap itu sebagai masalah dan tidak menceritakan masalah itu kepadanya.
"Benarkah? Apa ada kemungkinan dia hamil waktu itu?"
Sehun mangangkat bahunya.
"Aku tidak menggunakan kontrasepsi dan malam itu kami mengulanginya berkali-kali. Saat itu aku berharap tidak terjadi apa-apa dengannya. Beberapa hari kemudian dia bilang kalau dirinya tidak mungkin hamil karena Luhan datang bulan dan aku lega. Tapi sekarang aku menyesali itu, seandainya bisa aku ingin dia tidak pernah datang bulan dan benar-benar mengandung anakku. Tapi sejak malam itu, dia bahkan tidak suka berbicara lama denganku!"
"Dia kecewa?"
"Kris ! Dia bahkan tidak memperlihatkan kekecewaan apa-apa. Dia bertindak seolah-olah sudah bosan dengan keberadaanku, bosan melihatku, bosan mendengar suaraku!"
"Kalau begitu kenapa dia tidak memutuskan pertunangan kalian saja? Kau terlalu pesimis."
"Aku belum menceritakannya padamu?"
Kris tersentak, megatakan apa?
"Xi Luhan sudah memutuskan pertunangannya denganku, tapi aku menolak. Dia menerima penolakanku dan mengikuti ideku untuk tetap bertunangan agar dia tidak perlu takut menjalani perjodohan dan agar aku tidak perlu menjalin komitmen dengan siapa-siapa. Tapi pertunangan itu akan putus jika dia menemukan laki-laki lain. Itu katanya!"
Kris memegang kepalanya. Ternyata ia sangat banyak ketinggalan dan tidak ada seorangpun di antara keduanya yang menceritakan hal itu kepadanya? Kris sangat kecewa benar-benar kecewa.
"Lalu apa yang terjadi bila seandainya, Luhan memang benar-benar mengandung bayimu? Tadi kau bilang dirimu sangat berharap kalau memang terjadi sesuatu padanya setelah malam itu kan?"
Sehun mematung. Apa yang akan dia lakukan? Mengapa Sehun mengatakan hal seperti itu?
"Entahlah, Lupakan saja kata-kataku yang itu! Kalaupun dia memang sedang mengandung anakku, Aku tidak akan tau harus melakukan hal yang seperti apa. Aku belum siap!"
