VENUS

(Novel Remake by Phoebe)

HUN-HAN

Genderswicth

Happy Reading :) :)


Seharusnya Sehun sudah kembali dari Korea, tapi Kris yang datang lebih dulu dan mengatakan kalau Sehun memperpanjang liburannya beberapa hari lagi. Luhan berusaha untuk tidak kecewa meskipun pada kenyataanya ia sangat kecewa karena Sehun mengurangi frekuensi pertemuan mereka. Tapi Sehun tidak bisa disalahkan karena ia sama sekali tidak tau apa-apa. Dalam beberapa hari ini, Luhan akan segera mengajukkan surat pengunduran diri karena ia akan segera pergi. Tuan Tatou juga sudah mengetahui rencananya beberapa hari yang lalu dan masih tidak menyetujui keinginannya hingga sekarang, bosnya itu malah lebih setuju untuk memberikan waktu istirahat yang cukup selama sebulan. Seandainya sebulan saja cukup, Luhan tidak akan meninggalkan pekerjaan yang sangat dicintainya itu. Tapi muncul kembali setelah satu bulan dengan perut yang membesar malah akan memancing keributan. Luhan mendesah, seandainya tuan Tatou masih ngotot untuk menolak pengunduran dirinya, ia akan memilih untuk melarikan diri tanpa kabar apa-apa.

Belakangan Luhan bahkan praktis tidak pernah berlari dan berjalan cepat seperti yang biasa di lakukannya. Sebisa mungkin ia menghindari gerakan-gerakan berbahaya, melepaskan high heels yang sangat disukainya dan juga berhenti menggunakan padu padan Camisole dan blazer, Luhan lebih suka menggunakan kemeja untuk pergi bekerja dan kemeja itu dibiarkan keluar untuk menyembunyikan sesuatu dimana hanya segelintir orang yang mengetahuinya.

Jam makan siang sudah lama lewat, tapi jam pulang kerja juga belum datang. Kantor sudah sangat membosankan dan melelahkan untuk hari ini, terlebih setelah mendapat penolakan dari tuan Tatou untuk kedua kalinya. Rasanya ingin lari saja dan tidak datang lagi. Luhan berdehem, dia pasti akan melakukannya cepat atau lambat.

"Kau sedang menghitung langkah? Kenapa jalanmu lamban sekali belakangan ini?" Kris mensejajarkan diri dengan Luhan, ia berhasi membuat Luhan tersenyum karena berusaha mengikuti langkah-langkah lambatnya.

"Aku sedang ada masalah, jadi harus jaga kesehatan!"

"Kau sedang sakit?"

"Sakit?" Luhan tidak yakin.

Dia sangat bahagia dengan semua yang di dapatnya meskipun Baekhyun selalu menganggapnya menyembunyikan tekanan-tekanan yang mungkin dimilikinya. Tapi dia juga tidak bisa dibilang sehat karena kehamilannya membuat tubuhnya lebih lemah dan sangat mudah merasa lelah.

"Mungkin seperti itulah. Aku mudah lelah, jadi Mark melarangku untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat!"

"Mark? Siapa Mark?"

"Kau fikir siapa lagi orang yang bisa mengatur tindakanku kecuali dokter? Mark adalah dokter yang selalu perduli denganku!"

"Seperduli apa? Hati-hati dengan laki-laki. Dia berbuat baik bisa jadi karena ada maunya. Mungkin dia menyukaimu?"

Luhan tertawa. Jelas saja Mark tidak begitu, Mark hanya hidup berdua dengan istrinya dan istrinya juga sama baiknya dengan laki-laki itu. Beberapa kali, Luhan berkunjung ke tempat tinggalnya di Waterloo. Mark perduli pada Luhan karena ia sedang mengkonselingi seorang Ibu muda yang pernah memiliki keinginan besar untuk menyingkirkan janin dalam kandungannya. Sedangkan istrinya belum juga dikaruniai seorang anak setelah lima belas tahun menikah.

"Dia sudah berkeluarga. Jadi jangan mengatakan hal buruk tentangnya. Aku

akan membencimu dengan mudah!"

Kali ini giliran Kris yang tertawa. "Kau mau kemana? Ada janji dengan Klien?"

"Aku mau membeli fish 'n chips lalu berjalan santai di taman Saint James"

"Kau mau bolos kerja? Sekarang bukan jam pulang kantor!"

"Kau mau ikut?" Luhan menghentikan langkahnya. Lalu memutar wajahnya menghadap Kris yang tampak sedang memikirkan tawaran Luhan. "Aku akan mentraktirmu fish 'n chips. Kita sudah lama tidak ngobrol!"

Kris memandangi jam tangannya lama, lalu mengangkat wajahnya.

"Baiklah. Tapi aku tidak bisa lama menemanimu. Kalau begitu kau tunggu disini, aku akan jemput mobilku!"

"Jalan kaki saja!"

"Apa?"

"Jalan kaki. Saint James tidak jauh kan? Kita bisa jalan kaki dengan santai menuju kesana!"

"Tapi katanya Mark melarangmu mengerjakan hal yang berat-berat!"

"Iya, Mark juga tidak melarangku untuk olah raga, dia menyaranku jalan kaki sebagai pilihan olah raga yang harus ku jalani. Kau tau, kan? Aku ini tidak suka olah raga!"

"Baiklah!" Kris menyetujuinya.

Ia agak kecewa karena tidak bisa menggunakan mobil. Tapi setidaknya bisa memiliki kesempatan yang cukup untuk menemani Luhan sudah membuatnya gembira. Sepanjang perjalanan menuju Saint James, Kris tidak henti-hentinya tertawa melihat kelakuan anehnya, Luhan berubah menjadi seorang yang periang dan keceriaanya merasuki siapa saja yang ada disekitarnya. Bahkan gadis itu beberapa kali menyapa Ibu-Ibu yang membawa anaknya jalan-jalan. Dia sedang menyukai anak-anak.

"Kau ingin punya anak?" Tanya Kris. "Kau senang sekali melihat anak kecil!"

"Perempuan mana yang tidak ingin memiliki anak?"

"Kau akan punya anak dari Sehun!"

Kris berhenti bergerak saat Luhan menghentikan langkahnya dan memandang Kris heran. Kris terkejut dengan reaksi yang diberikannya. "Kenapa? Ada yang salah dengan kata-kataku?"

Luhan menggeleng. "Kenapa kau tidak bilang kalau toko fish 'n chips sudah lewat? Kau tunggu disini, biar aku kembali lagi!"

Luhan berbalik berjalan menuju toko yang khusus menjual Fish 'n Chips yang

tidak begitu jauh terlewat di belakang mereka. Kris hanya tersenyum. Semula ia mengira Luhan terkejut mendengar kata-katanya tapi ternyata gadis itu lebih terkejut karena menyadari Toko fish 'n chips sudah terlewati.

Dia sagat ingin makan Fish 'n Chips? Bisik Kris kepada dirinya sendiri.

Bunyi dering ponsel mengejutkan Kris. Ia mengankat ponsel yang diraih dari saku jasnya, dari Sehun.

"Halo! Ada apa?" Tanya Kris galak.

"Kau kenapa? Aku mengganggu? Aku sedang berada di kantormu dan kau tidak ada. Kau kemana?"

"Aku sedang berkencan, Makan Fish 'n Chips sambil mengelilingi taman Saint James dengan seorang gadis. Kau sangat mengganggu kencan romantisku!"

Sehun tertawa keras. "Tinggalkan gadis itu, segeralah kesini. Aku mau masuk ke flat ku dan kuncinya tergantung di kunci mobilmu, kan?"

"Tinggalkan?" Kris mendesis. "Enak saja sembarangan bicara. Kau seperti tidak kenal Xi Luhan saja, dia akan marah besar kalau aku melakukan hal gila seperti itu!"

"Luhan, maksudmu Venusku? Dia sedang bersamamu? Bagaimana bisa kau berkhianat dengan mengencani calon iparmu. Kau tunggu disana, Aku akan menyusul!" Sehun menutup telponnya.

Kris tertawa. Ia tau kalau Sehun sangat ingin bertemu dengan Luhan, laki-laki itu bahkan melarang siapapun menyentuh biskuit pemberian Luhan dan biskuit itu hanya akan dipandanginya selama seharian. Kakak perempuannya mengeluhkan tingkah Sehun yang tak biasa tapi menyenangkan orang tuanya. Merindukan Luhan berarti mengharapkannya. Meskipun berat, Kris juga senang melihat Sehun bahagia.

"Kau menertawakan apa?"

Kris mengangkat kepalanya dan menatap Luhan yang menyodorkan sebungkus fish 'n chips kepadanya. Ia meraihnya dengan senang hati.

"Tidak, bukan sesuatu yang penting. Kita akan makan ini sambil berjalan?"

Luhan menggeleng. "Aku sudah lelah, kalau kesana bagaimana?"

Kris memandang lokasi yang ditunjuk oleh Luhan sebuah bangku taman yang dipenuhi dengan salju putih yang mulai menipis. Hari ini cukup kering dan duduk di atas bangku taman itu mungkin akan lebih nyaman dibandingkan berjalan kaki di udara dingin. Setelah memberi anggukan, Kris mengikuti Luhan yang berjalan kearah yang di inginkannya dan duduk di bangku taman yang kosong. Mereka mulai membuka Fish 'n chipsnya dan Luhan makan dengan sangat lahap. Ia menghabiskan Fish 'n chips miliknya dalam sekejap.

"Lihatlah, kau seperti orang yang sangat kelaparan." Suara Kris terdengar agak mengejek.

Sepertinya, Luhan tidak terpengaruh sama sekali. Ia mengusap mulutnya yang agak berminyak dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan bahagia.

"Aku semalaman memikirkan ini. Duduk disini sambil makan fish 'n chips. Aku kira aku akan melakukannya sendirian. Terima kasih sudah mau menemani!"

Kris tersenyum lagi, lalu menyodorkan fish 'n chipsnya.

"Kau mau lagi?"

"Tidak. Itu untukmu, Makanlah! Aku tidak begitu suka fish 'n chips. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya makan fish 'n chips di tempat seperti ini!"

"Kau tidak sedang merindukan Sehun kan?" Kris mulai menyantap fish 'n chips nya perlahan-lahan. "Aku tau kau sangat merindukannya, kenapa tidak temui saja dia?"

"Kenapa kau bilang begitu? Tidak ada hubungannya antara taman Saint James, fish 'n chips dan Oh Sehun."

"Memang! Tapi kau berusaha menghindari semua pembicaraan tentangnya. Beberapa hari ini, tadi juga saat kita melewati toko fish 'n chips. Kalian berdua kelihatannya saling menginginkan. Aku fikir aku akan cemburu, tapi ternyata tidak. Kalian berdua sangat serasi dan aku berharap kau tidak akan pernah memutuskan pertunangan kalian lagi!"

Luhan mendesah wajahnya yang kemerahan mendadak kehilangan keceriaanya.

"Bisakah kita tidak membicarakan hal-hal seperti itu? Aku fikir pembicaraan tentang musim semi yang akan segera datang lebih menarik."

"Baiklah, pembicaraan tentang musim semi yang seperti apa?"

"Jika aku ingin menyambut kedatangan musim semi di suatu tempat. Dimana tempat yang bagus ya? Udara musim semi konon bisa menghilangkan stress."

"Memangnya kau sedang stress?"

"Tidak, tapi siapa yang tau itu akan segera terjadi. Botany bay bagus tidak? Musim semi di daerah pertanian pasti lebih indah."

"Bagaimana kalau di Costwold, disana juga ada pertanian kan? Kalau kau ingin liburan, disana pilihan yang tepat, sarana umum cukup lengkap jadi kalau kekurangan sesuatu, tidak pelu mencari terlalu jauh. Sewa vila di Dust Stable juga tidak begitu mahal. Tapi demi kepuasan mahal juga bukan masalah." Kris menoleh tanpa sengaja kepada Luhan dan ternyata gadis itu sedang menatapnya. "Kenapa?"

"Kau makan saja dulu baru bicara!"

Kris melirik Fish 'n chips nya yang masih sangat banyak. Padahal ia merasa sudah makan cukup banyak. Makanan ini akan segera dingin jika tidak segera di habiskan. Jadi, Kris setuju untuk menghabiskan Fish 'n chipsnya tanpa bicara. Sesekali ia memandangi beberapa orang yang berlalu lalang di depan mereka sambil terus menyantap fish 'n chipsnya hingga benar-benar habis. Kris memutar kepalanya mencari tong sampah dan tanpa disengaja matanya melihat Luhan duduk dengan khusu'. Kedua kakinya menekuk dan wajahnya tenggelam di sana. Ia membuat kepalanya nyaman dengan kedua lengannya. Tidur?

"Luhan, kau sedang tidur? Kalau begitu kita pulang saja" Kris berujar lirih.

"Tidak, aku tidak tidur. Kau pulang saja duluan. Tadi kau bilang tidak bisa menemaniku berlama-lama. Aku masih akan terus disini dalam waktu yang lama!" Luhsn bicara tanpa mengangkat kepalanya.

Suaranya terdengar seperti orang yang baru bangun tidur. Mungkin Luhan tadi memang tertidur lalu terbangun oleh suara Kris. Jika saja ia tidak melihat Sehun dari kejauhan, Kris tidak akan beranjak pergi meninggalkan Luhan begitu saja. Tapi keberadaan Sehun bisa membuatnya kembali ke kantor dengan tenang.

"Baiklah. Aku pulang dulu ya?"

Luhan tidak menjawab. Pasti sudah kembali tidur. Kris berdiri dan berjalan menyongsong Sehun. Laki-laki itu memasang wajah kesal untuk menyerangnya, hal itu malah membuat Kris ingin tertawa sekuat yang ia bisa. Sehun tidak pernah merasa cemburu seumur hidupnya. Ini pasti kali pertama. "Kau jangan marah padaku. Dia yang memaksaku menemaninya makan fish 'n chips di Saint James." Kris membela diri sebelum Sehun menghajarnya. "Pergilah kesana, temani dia. Venusmu sedang tidur. Dia bilang, belakangan ini dia sangat mudah merasa lelah!" Kris pergi tanpa memberi kesempatan kepada Sehun untuk membalas semua ucapannya.

Sehun menatap Luhan yang meringkuk di atas bangku taman dari kejauhan. Melihat Luhan yang seperti itu, entah mengapa Sehun dirasuki rasa sepi yang dahsyat. Siapa yang kesepian? Dirinya? Atau Luhan yang sedang terlelap disana? Sehun melangkah perlahan-lahan dan duduk di sebelah tunangannya. Ia melihat jari Luhan yang masih menggunakan cincin pemberiannya dan hatinya bersorak. Sehun mendekatkan tangannya kekepala Luhan dan membelainya beberapa kali. Gadis itu mengangkat kepalanya dan membuka mata sehingga Sehun dengan cepat menarik tangannya dan menyembunyikannya kedalam saku celana. Sedetik mata mereka beradu pandang tapi Luhan segera membuang wajahnya kearah lain.

"Sedang apa kau disini?" Tanya Luhan dengan suara sengit.

"Kau ini kenapa? Kenapa setiap kali melihatku selalu naik darah? Salahku apa?"

Luhan menghela nafas dan mengatur suaranya agar lebih pelan dan sopan. "Suasana hatiku sedang buruk. Maaf kalau kau tersinggung!"

"Aku baru saja pulang. Seharusnya disambut dengan senyum."

Sehun masih kesal dengan respon yang di dapatnya dari Luhan.

"Ibuku sangat senang dengan biskuitmu! Dia bilang rasanya enak!"

Wajah penuh kekesalan Luhan tiba-tiba di hiasi senyum senang.

"Menurutmu bagaimana?"

"Lumayan!"

Sehun berbohong. Ia bahkan belum memakannya sampai saat ini. Sulit bagi Sehun untuk menyembunyikan kegugupannya. Tapi ia tidak perlu melakukannya karena Luhan sudah pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apa-apa. Sehun benar-benar terpaku, Apakah ia harus mengejarnya? Tapi kenapa tubuhnya tidak bergerak seincipun?

.

.

.

.

"Aku sudah bilang, kau boleh ambil cuti tapi jangan berhenti. Bagaimana bisa aku melepas seseorang yang kompeten sepertimu?"

Tuan Tatou berusaha untuk tidak memandang wajah Luhan yang berdiri dihadapan meja kerjanya. Tentu saja sangat berat untuk melepas seorang pengacara yang konsisten dan selalu tepat waktu. Luhan bahkan tidak pernah melalaikan pekerjaanya walaupun dia sering tidak berada di tempat. Luhan kecewa. Ini ketiga kalinya ia membawa sebuah amplop coklat yang berisi surat pengunduran dirinya dan ketiga kalinya juga ia di tolak. Apakah ia memang harus melarikan diri seperti yang pernah direncanakannya? Entahlah, ia benar-benar sedang bingung.

"Tapi sebulan sama sekali tidak cukup. Aku bahkan membutuhkan waktu selama setahun."

"Memangnya apa yang akan kau kerjakan sampai kau membutuhkan waktu selama itu? Kau ingin bekerja di kantor pengacara lain? Ada tawaran yang lebih baik dari semua yang sudah ku berikan?"

"Tidak, bukan seperti itu. Percayalah, Jika nanti aku berniat menjadi pengacara lagi, Aku pastikan aku akan kemari dan menemuimu. Tapi aku benar-benar membutuhkan waktu istirahat yang panjang."

"Apa itu sejenis penyembuhan kanker?" Suara Tuan Tatou sedikit mereda. Ia sengaja memelankan suaranya agar tida ada seorangpun yang mendengarkan suaranya selain mereka berdua. "Kris bilang kau sedang sakit!"

Luhan mengangkat bahunya. Bukan itu alasannya ingin mengundurkan diri tapi seandainya hanya itu yang bisa diterima Tuan Tatou…

"Aku tidak begitu yakin, Tapi aku sudah memeriksanya dan ada sesuatu yang

asing di tubuhku, tapi tidak bisa di bilang sangat asing tuan, sudah dua bulan setengah dan mau tidak mau sudah menjadi bagian dari diriku. Aku harus mengorbankan banyak waktu untuk menjaga kesehatan, meminum banyak vitamin, aku bahkan harus merubah pola hidup, tidak bisa tidur terlalu malam karena itu akan sangat berbahaya bagiku. Karena itu, Aku mohon…"

"Astaga, aku rasa itu sejenis tumor!" Tuan Tatou berseru. Ia memandangi Luhan sekali lagi lalu menghela nafas berat.

"Baiklah, Aku terima pengunduran dirimu. Tapi jangan sampai kau membuatku kecewa ketika mendengar kau bekerja di kantor yang lain dengan

profesi sama. Aku tidak akan merelakannya, kecuali kalau kau berada di luar negeri tentunya."

"Terima kasih!"

"Kalau begitu keluarlah. Mulai saat ini aku tidak mau melihatmu ada di kantor ini sampai satu tahun kedepan."

Luhan tersenyum. Ia menundukkan tubuhnya sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang sampai akhirnya Luhan berada di luar ruangan Tuan Tatou dan pintu tertutup. Sakit? Luhan berusaha menahan tawanya sebisa mungkin, tapi ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan ekspresinya.

"Kau kenapa?"

"Aku? Tuan Tatou percaya kalau anak yang aku kandung adalah tumor!" Luhan akhirnya melepaskan tawanya, tapi hanya sementara karena tawa itu langsung memudar saat menyadari kalau yang bertanya adalah Kris. Ia menutup mulutnya rapat-rapat lalu memukul keningnya dengan telapak tangan karena sudah kelepasan berbicara.

"Anak? Kau…"

"Maaf aku ada janji. Aku pergi dulu!"

Untuk sementara waktu Kris terpaku di tempatnya, tapi sesegera mungkin ia berusaha mengumpulkan semua indranya dan menyusul Luhan yang sudah masuk ke ruang kerjanya dan keluar lagi dari sana dengan membawa tas kesayangannya. Kris tetap berusaha mengejar Luhan yang terus menghindar, tapi Luhan tidak bisa bergerak cepat dan akhirnya Kris tau alasannya.

"Kau hamil? Benarkah?" Kris masih berusaha mencari tau, ia terus berusaha untuk mensejajarkan langkahnya dengan Luhan yang kelihatannya sedang merasa tidak enak dan salah tingkah.

"Kau tidak menceritakannya padaku? Menunggu waktu yang tepat atau memang tidak akan menceritakannya sama sekali?"

Luhan berhenti melangkah. Lalu memandang Kris dengan pandangan menyesal.

"Maafkan aku, berat untukku menceritakan hal ini…"

"Siapa Ayahnya?"

Kris memotong perkataan Luhan. Dia sama sekali tidak membutuhkan permohonan maaf apa-apa, yang dibutuhkannya adalah Luhan mengakui siapa yang sudah melakukan hal itu kepadanya, siapa yang seharusnya bertanggung jawab. Tapi Luhan tidak menjawab, gadis itu membuang pandangannya kearah lain.

"Siapa?"

"Aku tidak bisa mengatakannya!"

"Kenapa? Apa Oh Sehun orangnya?"

Kris memegangi kepalanya. Kenapa ia berfikir kalau Sehun orangnya? Sehun pernah mengakui kalau dia sudah bercinta dengan Luhan, dan saat itu Sehun mengaku kalau Luhan tidak hamil. Tapi bukankah Luhan memberikan biskuit

berbentuk kaki bayi kepada Sehun?

"Kau membohongi Sehun? Dia bilang tidak terjadi apa-apa kepadamu setelah kalian bercinta!"

"Kau!" Luhan mendadak gugup. "Kau tau darimana kalau aku dan dia…"

Luhan tidak meneruskan ucapannya. Ia lebih memilih untuk duduk dibeberapa anak tangga yang berada di depan pintu kantor.

"Aku juga baru tau beberapa minggu yang lalu! Saat itu, usia kandunganku sudah hampir dua bulan. Aku juga sempat berfikir untuk menggugurkannya, tapi aku tidak tega."

Kris mereda, ia duduk di sebelah Luhan masih dengan wajah yang shock.

"Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa kepadanya?"

"Karena dia tidak akan menerimanya!"

Kris menghela nafas berat. Ia teringat dengan kata-kata Sehun di bandara pada waktu Kris melihat biskuit natal pemberian Luhan untuknya. Sehun membutuhkan Luhan, tapi dia sulit untuk berkomitment. Kehadiran anak itu pasti sangat mengganggunya dan itu bisa membuatnya menjauhi Luhan. Tidak, Sehun mungkin akan tetap mempertahankan Luhan untuk terus berada di sisinya tapi Luhan harus menyingkirkan bayinya. Seorang wanita pernah hampir bunuh diri karena Sehun melakukan hal itu dulu, dan tidak ada jaminan kalau Sehun tidak akan mengulanginya lagi kali ini.

"Jadi kau memutuskan untuk melahirkannya?"

"Ya, Aku harus bersusah payah menyembunyikannya dari Ayahnya, padahal aku sangat ingin berada dekat dengan Sehun. Selama ini aku selalu menyalahkan Sehun yang hanya memperdulikan gairahnya, Aku bahkan memutuskan pertunangan karena itu dulu. Tapi sekarang aku merasakannya dan aku tau betapa menderitanya dia waktu itu."

Luhan mendesah tidak seharusnya ia menceritakan hal seperti itu kepada Kris. Ia berharap Kris tidak mengerti ucapannya.

"Sekarang apa yang akan kau lakukan?"

Luhan bernafas lega karena Kris tidak melanjutkan pembahasan anehnya tentang gairah.

"Entahlah. Sekarang yang pasti aku harus ke rumah Dokter Mark karena istrinya mengundangku untuk makan malam."

"Kalau begitu aku antar!"

"Tidak usah, Aku masih bisa pergi sendiri!"

"Jangan pernah menolak. Kau sudah membuatku merasa bersalah dengan semua ini. Aku menyerahkan gadis yang ku sukai kepada sepupuku yang berengsek. Sekarang kau tau bagaimana perasaanku mengetahui dirimu akan disia-siakan dengan sebuah beban?"

Apa? Kris menyukai…siapa?

Luhan terperangah. Kenapa Kris tiba-tiba mengatakan hal seperti itu di saat yang sangat tidak tepat seperti sekarang?. Seandainnya Kris mengatakan itu sejak dulu, Luhan pasti sudah menjauh dari Sehun sebelum semua hal ini terjadi. Tapi Luhan tidak merasa kecewa, tidak merasa menyesal. Yang dia rasakan hanya sebuah perasaan ingin tau yang sangat besar kenapa Kris tidak mengusahakannya.

"Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Maksudku…kenapa kau membiarkan Sehun yang datang bersama ayahmu? Kalau kata-katamu ini benar, kenapa bukan kau yang…"

"Karena aku terlalu takut!"

Kris berhenti bicara sejenak dan berusaha mengatur nafasnya agar lebih tenang.

"Aku sudah bilang, kan? Aku dan Sehun adalah orang yang sama. Aku takut berkomitmen, terlebih saat aku tau kalau aku harus melakukannya diusiaku yang sekarang dan dengan orang sekaku dirimu."

Luhan terdiam. Ia sangat kaku, ya dulu Luhan memang orang yang begitu dan Sehun juga pernah mengatakannya. Dia bukan orang yang menarik untuk laki-laki manapun dan saat itu dia juga menyadarinya. Karena itu Luhan mempersiapkan dirinya sebaik mungkin agar Kris bisa tertarik kepadanya. Sayangnya, Oh Sehun yang melihatnya dan Oh Sehun yang menikmatinya.

Astaga, Luhan tidak menyangka semuanya ternyata seperti ini. Tidak menyangka kalau perhatian Kris selama ini bukan perhatian seorang saudara seperti yang pernah dikatakannya. Luhan berdiri dari duduknya lalu memandang Kris dengan sebuah senyum yang diusahakan dengan susah payah.

"Sudahlah, semuanya sudah lewat danaku tidak menyesali apa-apa. Aku tidak menyesali satupun kejadian yang terjadi karena ini. Aku juga tidak menyesali kehamilanku. Aku ingin mengugurkannya pada waktu itu juga bukan karena aku menyesal, kau jangan salah sangka!"

Kris mengangkat wajahnya dan memandangi Luhan dengan serius. Luhan memang tidak terlihat seperti seseorang yang menyesal.

"Aku cuma takut dia menderita karena sangat banyak orang yang tidak menginginkannya. Tapi Dokter Mark menyadarkanku kalau cukup aku saja yang menginginkannya, maka dia akan terlahir dengan bahagia."

Mata Luhan berkaca-kaca, ia selalu dipenuhi emosi yang tidak menentu setiap kali membicarakan janin dalam kandungannya. Setetes air mata jatuh dan dengan cepat ia menyekanya.

"Maaf, secara hormonal, aku sangat kacau, jadi aku seringkali bersikap emosional seperti ini. Jadi kau tetap mau mengantarku?"

"Aku…" Kris terdiam menahan kata-katanya, ia ingin bertanggung jawab pada Luhan, ia akan menikahi Luhan dalam keadaan apapun. Tapi Kris ragu, ia tidak yakin bisa menerima anak itu.

"Aku akan tetap mengantarmu jangan khawatir!"

Luhan lagi-lagi tersenyum. Ia dan Kris dalam waktu singkat sudah berada di dalam mobil dan menjalani sebuah perjalanan yangterasa sangat panjang karena tidak ada satupun di antara mereka berdua yang bicara. Luhan keluar dari mobil dalam jarak yang masih cukup jauh dari lingkungan apartement Dokter Mark. Kris pada awalnya menolak tapi Luhan memaksa dengan alasan ia harus lebih banyak berolah raga dan satu-satunya olah raga yang bisa dilakukannya hanya jalan kaki. Mengingat sulitnya Luhan menyenggangkan waktu untuk itu, ia harus berusaha mengakali olah raga disela-sela pekerjaannya. Kris akhirnya bisa menerima meskipun dengan berat hati.

.

.

.

.

Mungkin setelah ini Luhan harus menghindar untuk bertemu dengan Kris, mengetahui kenyataan ini malah membuat perasaanya menjadi sangat tidak nyaman. Tapi bukankah dia memang tidak perlu khawatir? Luhan sudah mengundurkan diri hari ini dan mulai besok hingga minggu depan adalah waktu-waktu untuk bersantai di rumah sambil mempersiapkan kepergiannya ke Dallas.

Luhan merogoh tasnya dan mengambil ponsel yang berdering, ponsel Sehun. Ia menghela nafas karena dengan berat hati belakangan ini Luhan menggunakan ponsel itu untuk menghubungi Dokter Mark. Setelah ini ia akan meminta Dokter Mark untuk menelpon ke flat saja jika ada perlu, dan sebelum pergi ia sudah harus mengembalikan ponsel ini kepada pemiliknya. Luhan menjawab panggilan dari Elise, istri Dokter Mark.

"Hallo dear, Kau sudah sampai dimana sekarang?" Elise berbicara dengan logat Irlandia yang kental. Luhan sangat suka dengan cara bicara wanita itu sejak Mark memperkenalkan mereka.

"Aku sudah berada di bawah,tapi aku tidak bisa lama!"

"Itu biar kita bicarakan nanti saja, sekarang cepatlah naik karena makanan-makanan buatanku sudah menunggu."

"Baiklah!" Luhan menjawab lemah.

Langkah demi langakah terus di jalaninya menuju lantai delapan kawasan apartemen mewah itu. Selalu begini, Elise sangat antusias terhadap kehamilan Luhan dan tidak seharipun di lewatinya tanpa mengawasi segala hal menyangkut asupan gizi saat makan siang. Setiap jam makan siang, mendadak Luhan dikenakan kewajiban untuk menyantap semua masakan sehat ala Elise dan itu sudah berhasil membuat berat badannya naik beberapa kilo. Sebenarnya Luhan sendiri merasa bahagia karena sangat banyak orang yang memperdulikannya, tapi meskipun begitu ia tetap merasa tidak enak dan merepotkan banyak orang. Luhan menghela nafas pelan sambil menunggu lift terbuka. Mulai sekarang, ia harus membiasakan diri untuk itu karena saat di Dallas nanti Elise dan Mark adalah keluarganya yang baru.

Sebuah dentingan halus membuat Luhan kembali ke dunia nyata, lift benar-benar terbuka dan dirinya harus berebutan dengan beberapa orang untuk masuk. Kelihatannya hari ini sangat banyak pendatang, entah dari luar atau memang penghuni gedung ini juga. Yang pasti orang-orang itu menyesaki lift sehingga Luhan harus terdesak kesudut. Seseorang lagi masuk, seseorang yang sangat Luhan kenal dan orang itu langsung tersenyum saat melihat kearah Luhan. Oh Sehun seharusnya berdiri di barisan paling depan, tapi ia memilih untuk menyeruak kerumunan berdiri di sebelah Luhan. Ia sudah berhasil membuat gadis itu tidak tenang.

"Kau disini sedang apa?" Sehun bersuara tanpa melirik ke Luhan.

Tapi Luhan memandangnya, memandang dengan penuh harap, entah mengapa. Gadis itu berusaha melayangkan pandangannya ke tempat lain, kearah pintu lift yang tertutup perlahan-lahan.

"Aku ada janji!"

"Dengan siapa?"

"Apa kau perlu tau? Ini urusanku dan aku juga tidak akan mencampuri urusanmu, jadi sekarang diamlah!"

Luhan selalu dingin seperti ini, entah sampai kapan. Sayangnya, apapun yang Luhan lakukan malah membuat Sehun semakin merindukannya. Sehun meridukan Luhan!. Tapi seperti apa reaksi Luhan bila ia mengetahui perasaan rindu Sehun kali ini? Gadis itu pasti akan marah atau menamparnya. Sehun memandangi Luhan agak lama, ia terlihat berbeda tapi Sehun masih belum bisa menangkap perbedaanya. Masih dengan gayanya yang biasa, make up, rambut yang di kuncir rapi, kemeja sutra berlengan panjang dan rok pensil selututnya. Gaya orang kantoran pada umumnya. Apakah itu yang membuatnya berbeda? Sehun memandang sepatu yang Luhan kenakan, sepatu beludru lancip dan berhak datar. Sehun tersenyum pahit, Luhan tidak mungkin berubah hanya karena sepatu. Di wajahnya ada binaran yang membuatnya terlihat semakin cantik. Binaran itu ada karena apa? Luhan tidak pernah secemerlang itu sebelumnya.

Mata Sehun menatap sesuatu. Seorang laki-laki yang berdiri di depannya mengulurkan tangan menelurusuri mantel yang tersampir di lengan Luhan. Ia sudah tau kalau laki-laki maniak seperti ini sangat suka beraksi di tempat ramai dan sempit. Dia akan menyentuh wanita yang ada disekitarnya dan kemudian berpura-pura tidak tau. Yang pasti, siapapun yang berada di posisi Sehun sekarang adalah orang yang memiliki keuntungan maupun kesialan. Keuntungan bila dia bisa menangkap gerakan tangan cepat laki-laki itu dan kesialan bila semua gerakan laki-laki maniak itu tidak tertangkap maka tuduhan akan beralih kepadanya. Apapun yang akan laki-laki itu lakukan, Sehun tidak akan pernah membiarkannya.

"Venus, izinkan aku melakukan sesuatu, hari ini saja!"

Sehun merapatkan dirinya kepada Luhan membuat laki-laki itu menghentikan gerakan tangannya. Tapi tidak akan ada seorangpun yang bisa menjamin kalau laki-laki itu tidak akan mengulangi tindakannya saat Sehun lengah. Luhan memandang angka merah yang bercahaya di atas pintu lift yang tertutup rapat, mereka baru sampai di lantai tiga dan Luhan harus menunggu beberapa lantai lagi untuk sampai di apartement Dokter Mark di lantai delapan. Ia memandang Sehun gelisah.

"Melakukan apa?"

"Kau fikir apa? Aku tidak akan melakukan apa-apa!"

"Kau tidak akan berusaha menyentuhku di tengah orang banyakkan? Aku bersumpah akan menghilangkan nyawamu bila itu terjadi."

"Baiklah, aku tidak akan melakukan itu tanpa izinmu!"

Luhan menelan ludah. "Lalu kau ingin melakukan apa?"

Sehun mendekatkan wajahnya ke telinga Luhan lalu berbisik pelan, sangat pelan sehingga di ragukan ada orang lain yang akan mendengarnya selain mereka berdua.

"Rapatkan tubuhmu ke dinding. Kau hanya perlu mundur selangkah kan?"

Tanpa berkata sepatahpun Luhan mundur selangkah hingga pinggangnya menyentuh dinding lift yang memantulkan bayangan punggungnya. Jantungnya seakan-akan melompat saat Sehun berdiri di hadapannya dan membelakangi orang lain yang menyesaki lift.

"Kau sedang melakukan apa?"

"Ada seorang maniak yang akan berusaha menyentuhmu. Aku bersumpah tidak akan mengizinkannya melakukan itu!" Jawab Sehun sambil berbisik.

Luhan melepaskan sebuah senyum ejekkan sedetik.

"Lalu apa bedanya kau dengan orang lain? Kau juga maniak!"

"Aku bisa menyentuhmu kapan saja karena kau adalah tunanganku!" Ujar Sehun keras. Ia sedang memberi jawaban atas pandangan orang-orang yang menghujani mereka dengan tatapan penuh tanya.

"Setidaknya selagi kau menggunakan cincin itu, aku wajib melindungimu. Jadi berhentilah bersikap seperti ini!"

Luhan memandang angka merah di atas pintu lift sekali lagi untuk melenyapkan kegugupannya. Lantai lima, pintu lift terbuka dan ada beberapa orang yang keluar dan masuk. Luhan semakin khawatir saat seseorang berlama-lama berdiri di depan lift sehingga membuat pintu lift semakin lama terbuka. Ia gelisah, Luhan berusaha menundukkan wajahnya tapi ada sesuatu yang mendesak yang membuat kepalanya menengadah dan memandang Sehun yang masih memandangnya. Gairah yang muncul begitu saja sudah tidak bisa ditahan, Luhan sudah menunggunya terlalu lama dan ia sudah tidak sanggup lagi menahannya. Sesuatu yang merasukinya membuat Luhan mengutuki dirinya sendiri saat kedua lengannya melingkari leher Sehun, saat bibirnya menyentuh bibir Sehun dan mencumbunya dengan penuh kerinduan. Tapi Luhan hanya bisa mengutuki dirinya dalam hati dan kutukan itu sama sekali tidak kuasa untuk membuatnya berhenti. Sehun terkejut, ia bisa merasakan getaran tubuhnya, tapi Luhan tidak mau perduli. Nafasnya tersengal-sengal menanti sentuhan dan meskipun butuh waktu, Sehun memberikannya. Laki-laki itu memenuhi harapannya dengan membelai punggungnya, memeluk erat pinggangnya, meremas payudaranya, Luhan mengerang dalam hati dan ia belum ingin berhenti. Mungkin ini adalah yang terakhir kali karena minggu depan ia akan berangkat ke Dallas bersama Dokter Mark dan Elise. Dan saat itu, Luhan pasti akan sangat merindukan Sehun di setiap detik yang ia lalui.

Udara dipenghujung musim dingin dan air conditioner yang menyelubungi mereka membuat Sehun bisa merasakan panas melalui liat bibir Luhan. Ia sebenarnya sama sekali tidak mengerti dengan Luhan hari ini. Tapi kenapa ia harus peduli? Dia tidak menyentuh Luhan tanpa izin, Luhan yang memulainya lebih dulu. Sehun hanya ingin menikmati semuanya meskipun ia meragukan kalau dirinya benar-benar menginginkannya. Bisa berdekatan dengan Luhan sedekat ini saja sudah cukup membuatnya merasakan kalau anugrah Tuhan sedang melingkupinya meskipun disaat yang sama bisikan-bisikan tentang mereka terdengar jelas. Semua orang yang menyesaki lift mungkin sedang memandangi mereka saat ini beberapa memuji betapa mereka terlihat serasi dan sebagian lagi mencaci maki karena melakukan hal yang bersifat pribadi di depan banyak orang. Apapun pendapat mereka, Sehun akan lebih suka menganggap kalau semua orang sedang iri meliihat dirinya memeluk tubuh yang indah seperti yang Luhan miliki dan semua perempuan bersedih karena tidak sedang berada dalam pelukannya.

Telapak tangan Sehun menemukan kulit payudara yang lembut, meskipun harus terhalang oleh kemeja yang hanya terbuka seluas tangannya, meskipun remasannya, cubitannya, belaiannya terhalang oleh bra yang sangat ketat. Sehun bisa merasakan kalau Luhan lebih sensitif. Ada sesuatu yang terjadi dengan tubuh gadis itu dan Sehun bisa merasakan perubahannya saat menjelajahi setiap inci tubuh Luhan dengan tangannya. Tapi desahan demi desahan terus membisiki Sehun untuk berhenti berfikiran yang lain-lain, hanya Luhan yang sekarang semakin liar saat menciumi lehernya dan meninggalkan bekas yang lembab lalu kembali bibir bertemu bibir.

Ciuman erotis yang membuat Sehun melupakan sudah berapa kali lift berhenti dan sudah berapa banyak orang yang keluar sehingga hanya mereka berdua yang tertinggal di dalamnya. Luhan menggigit bibirnya, lehernya, membelai dadanya, menyentuh perut dan semakin liar menjalar ka bagian-bagian penting milikknya yang sudah menunggu cukup lama.

"Apa kita harus melakukannya sekarang?" Sehun berdesis mesra.

Tiba-tiba saja ia merasa telah melakukan kesalahan karena Luhan segera menghentikan kecupannya dan menarik tubuhnya secepat mungkin, tapi bagaimana mungkin bisa? Luhan tidak akan bisa pergi jauh karena tubuhnya tersandar di sudut.

Untuk beberapa lama mereka berdua saling bertatapan. Luhan merasa sudah melakukan kesalahan, sudah memberikan harapan sedangkan dalam waktu dekat ia akan segera pergi menjauh meninggalkan Sehun disini. Tidak, Luhan tidak sedang memberi harapan kepada Sehun tapi pada dirinya sendiri. Sebuah dentingan lembut kembali membuat perhatian Luhan teralih ke angka yang berada di atas pintu lift. Mereka sudah kembali lagi ke lantai tiga? Luhan mendesah. Pintu lift terbuka dan seorang wanita ada dibaliknya, ia mematung saat melihat Luhan dan Sehun lalu mengurungkan niatnya untuk masuk. Pintu lift tertutup lagi.

Sebuah remasan di payudaranya membuat Luhan mengerang, Sehun melanjutkan kehendaknya dengan menghujani Luhan dengan ciuman. Gadis itu menolak dan mendorong tubuh Sehun jauh-jauh.

"Sudah cukup!"

Suara Luhan yang tidak begitu kuat membuat Sehun melepaskan tubuh Luhan dari kuasanya. Ia memandangi Luhan yang memperbaiki pakaiannya. Beberapa lembar rambutnya yang keluar dari ikatan semakin membuat Luhan terlihat seksi dan membuat Sehun semakin menyesal karena sudah bersuara tadi.

"Kenapa? Kau kehilangan mood?" Tanya Sehun.

Luhan maju beberapa langkah dan menekan tuts lift yang berangka delapan. Secepat mungkin Lift yang tadinya sudah sampai di lantai dasar kambali melesat keatas tanpa hambatan.

"Maaf. Aku tadi…ummm…aku rasa secara hormonal aku sedang kacau..Jadi…aku minta maaf. Tadi itu benar-benar di luar kendali."

Sehun menunduk dan mengambil mantel Luhan yang terjatuh. Luhan mungkin terlalu gugup hingga ia melupakan mantelnya. Laki-laki itu memberikan mantel bulu berwarna coklat muda itu kepada Luhan dan gadis itu meraihnya. Luhan sedang berusaha untuk tidak memandangnya dan itu membuat Sehun lebih merasa kecewa bila dibandingkan dengan hasrat kali ini yang tidak kesampaian.

"Secara hormonal sedang kacau? Kau sedang menstruasi?"

"Sudah tidak usah di bahas lagi!" Luhan menyentuh kepalanya lalu memandang Sehun dan berbicara dengan nada yang tinggi.

"Makanya jangan pernah mendekat kepadaku!"

"Padahal aku benar-benar berfikir kita akan melakukannya di lift! Aku belum pernah seperti ini sebelumnya!"

Bunyi dentingan halus terdengar lagi. Mereka sudah berada di lantai delapan dan Luhan segera keluar secepat mungkin tanpa menoleh lagi kearahnya. Sehun menelan ludah, Luhan benar-benar sudah membuatnya gila. Sudah begitu lama Luhan bersikap dingin kepadanya, hari ini gadis itu kembali membangkitkan angan dan gairahnya. Membuat hatinya kembali merasa hangat lalu kembali memadamkan bara di dalam dirinya dengan kejam. Gadis itu selalu membuatnya bingung. Sehun kembali ke lantai lima. Kang Seulgi sedang menunggunya disana karena wanita itu ingin mengatakan sesuatu, itu yang tertulis di fax ruangan kantornya. Ia berjalan sambil menerawang, kembali memikirkan tubuh Luhan yang berubah, kembali kepada rasa yang berbeda, reaksi yang berbeda. Sehun kembali mengingat saat ia menelusuri tubuh Luhan dengan mesra lalu mengerjapkan matanya. Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya?

"Kenapa kau lama sekali? Kau hampir membuatku gila karena menunggumu!" Kang Seulgi berdiri di depan pintu flatnya yang terbuka.

Dia sedang menunggu Sehun sejak tadi. Sehun memandang wanita itu dengan perasaan yang rupa-rupa. Seulgi menggunakan sebuah gaun tidur disiang hari? Ia rasa ia tidak akan menyukai hal ini. Tapi Sehun sama sekali tidak ingin menolak saat Seulgi menarik tangannya masuk ke dalam flatnya. Ia duduk di ruang tengah dan mendapat suguhan air minum yang tidak biasa.

"Wine?" tanya Sehun.

Ia sudah tau semuanya sedang mengarah kemana. Seulgi sedang menggodanya seperti yang selalu dilakukannya dulu. Tapi Sehun tidak akan membiarkan semuanya berakhir seperti harapan Seulgi.

"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Kemana suamimu?"

"Kenapa kau menanyakannya? Aku sedang bertengkar…"

"Kalau begitu aku lebih baik kembali ke kantor!" Sehun memotong kata-kata Seulgi bukan hanya dengan ucapan tapi juga dengan gerakannya. Tapi dia tidak bisa melangkah lebih jauh lagi, Kang Seulgi sudah menghambur kedalam pelukannya.

"Kau tidak boleh meninggalkanku sekarang. Kau juga menginginkanku kan? Aku tau kalau saat itu kau akan melamarku. Seandainya kau melakukannya seminggu lebih cepat aku pasti akan menyambutmu dengan bahagia!"

Sehun menjauhkan dirinya dari pelukan Seulgi. "Sudah, lupakan itu semua! Aku sekarang tidak menginginkan apa-apa!"

"Karena ada perempuan lain? Di tubuhmu tercium bau parfum wanita. Apa kau juga menginginkannya seperti kau menginginkan aku saat itu? Apakah dia lebih cantik dariku?"

"Aku menginginkannya seperti aku menginginkanmu? Aku menginginkanmu karena ku anggap kau adalah orang yang pantas untuk mendampingiku. Tapi aku menginginkannya karena tubuhku menginginkannya. Hatiku menginginkannya. Otakku mengingginkannya. Jantungku bahkan darahku. Sekarang berhentilah membanding-bandingkan dirimu dengan dia!"

"Siapa dia?" Seulgi terdiam sesaat. Gadis itu, yang sangat di puja oleh Sehun, yang di inginkannya dengan setiap sendi dirinya apakah pengacara itu? Sehun bahkan memilih tinggal bersamanya dibandingkan pergi dengan Seulgi pada saat itu.

"Wanita yang kau sukai itu, Dia Xi Luhan?"

Sehun memandangnya lama. "Xi Luhan bukan hanya wanita yang kusukai, dia tunanganku dan kami akan segera menikah."

Ada sebersit keheranan yang Sehun rasakan pada ucapan yang keluar dari mulutnya. Benarkah dia dan Luhan akan segera menikah? Apakah dia sudah meyakininya sekarang?

Seulgi berusaha menghadirkan sebuah tawa. "Benarkah? Tapi dia seharusnya tidak menghalangi hubungan kita kan? Aku pernah mengatakan kepadamu kalau kita masih bisa berhubungan seperti biasanya meskipun aku sudah menikah. Seharusnya kau juga begitu!"

"Maaf, Aku tidak bisa. Xi Luhan adalah orang yang tidak suka berbagi apapun yang sudah menjadi miliknya dan aku adalah miliknya. Dia sudah membuat gairahku kepada wanita lain binasa. Seperti yang ku katakan, setiap jengkal tubuhku menginginkannya. Hatiku juga menginginkannya. Hanya menginginkannya!"

Seulgi menyerah, sebenarnya ia masih bisa bersikap keras kepala dan Sehun akan kalah. Tapi melihat Sehun yang berbicara dengan penuh keseriusan mengingatkan Seulgi saat mereka melihat Luhan di depan toko kue dalam keadaan basah kuyup. Saat itu Sehun membatalkan rencananya untuk mengantar Seulgi pulang dan memilih untuk mencegat taksi dalam hujan, padahal saat itu Sehun bisa saja menelpon perusahaan taksi dan menunggu sampai taksi datang. Tapi Sehun memilih untuk menyingkirkan Seulgi secepatnya dan laki-laki itu tidak pernah sekalipun melakukan itu di hadapan gadis manapun selama ini. Sehun benar-benar menganggap pengacara itu sebagai seorang yang special dihatinya. Seulgi tersenyum kecut.