Standard Disclaimer Applied

WARNING!

AU, Typo, Miss-Typo, OOC, Absurd dll

.

.

.

Pretty Man: The Series

By chocoaddicted

.

.

.

Enjoy Together!

.

.

.

Aku membanting tubuh di atas ranjang hingga membuat benda persegi yang empuk itu bergoyang. Baru saja Ino pergi dari rumahku yang berarti aku sendirian berada di rumah sederhana dengan desain minimalis modern ini. Kakakku, Sasori nii-chan baru akan pulang kuliah pada jam delapan malam dan artinya aku harus masak sendiri untuk makan malam nanti. Heuh... Merepotkan!

Aku yang berusia tujuh belas tahun ini menghela napas panjang. Kembali teringat akan cerita Ino mengenai silsilah keluarga Uchiha. Jika vampir itu sejatinya ada, berarti Sasuke adalah makhluk yang abadi. Kira-kira berapa usia laki-laki itu saat ini? Dua puluh tahun? Lima puluh tahun? Atau seratus tahun? Memikirkannya membuatku bergidik ngeri.

Aku sadar jika Sasuke dan aku adalah dua makhluk yang berbeda. Aku adalah manusia yang tidak abadi, pastinya akan menua seiring bertambahnya usia. Lalu, apakah Sasuke akan tetap mencintaiku meski aku sudah berubah jadi nenek-nenek peyot yang kalau berjalan saja harus dituntun?

Bicara soal cinta, apa Sasuke benar-benar mencintaiku? Aku terdengar seperti meragukannya. Tapi, aku rasa normal bersikap seperti ini mengingat kami baru mengenal semalam dan tiba-tiba status kami jauh lebih intim dari pertemanan. Apa kau tidak akan curiga jika ada di posisiku? Lagipula, apa yang ia sukai dariku?

Cepat-cepat aku menggelengkan kepala. Aku terlalu jauh memikirkan hal tersebut. Pacaran saja baru satu hari, tapi sudah berpikir yang tidak-tidak. Nikmati saja apa yang ada sekarang. Karena ini adalah pertama kali aku memiliki pacar, maka aku bertekad akan membuat kenangan yang indah.

Bangkit dari posisi terlentang dan duduk dengan manis, kulihat jam weker berbentuk kodok yang ada di atas meja lampu tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Berarti satu jam lagi Sasuke akan datang menjemputku untuk kencan perdana kami.

"Yosh! Aku akan melakukan yang terbaik!" seruku sambil mengepalkan tangan dengan semangat.

.

.

.

Aku mematut diri di depan cermin seukuran dengan badanku. Beberapa kali kugerakkan badan ke kanan, kiri dan menoleh melihat belakang tubuhku. Aku rasa tidak ada yang aneh dengan penampilanku. Celana jeans panjang, kaus putih pendek dengan gambar bayi beruang kurasa cukup membuat kesan imut. Tidak lupa sebuah topi berwarna hitam merah juga ada di kepalaku. Apa aku perlu memakai jaket? Atau kemeja sebagai luaran kaus?

Kubalikkan tubuh memandang ranjang yang berserakan pakaian di atasnya. Ini kencan perdanaku dan aku bingung harus memakai baju apa. Setelah mengobarak-abrik isi lemari, akhirnya baju sehari-hari untuk pergi main menjadi pilihan terakhirku. Ya... Sebenarnya kalau mau memakai dress juga aku tidak punya. Kebanyakan pakaian yang aku punyai bergaya kasual. Aku tertawa miris.

Apa tidak apa-apa memakai pakaian begini di kencan pertama? Seharusnya tadi kuterima saja tawaran Ino yang memijamkan baju terusan imut-imut itu. Aku jadi menyesal. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Heuh... Aku menghela napas tidak semangat.

Kulirik jam weker sudah menunjukkan pukul tiga sore. Aku panik dan segera menyambar kemeja panjang kotak-kotak berwarna abu-abu dan biru. Sudahlah, aku tidak mau ambil pusing. Jika Sasuke mencintaiku apa adanya, ia seharusnya dapat menerima aku berpakaian apapun.

Ceklek.

"Kyaaaa!"

Aku menjerit kaget dan refleks melangkah mundur sambil memegangi kemejaku dengan erat. Bagaimana tidak kaget ketika aku membuka pintu Sasuke sudah berdiri di sana dengan wajah datarnya yang pucat itu. Dia berniat membuatku mati muda ya?

"Bisa tidak kau muncul dengan cara yang normal?"

"Hn?" Sasuke menatapku tidak mengerti.

Aku berdehem dan memakai kemeja, "Mengetuk pintu atau memencet bel misalnya? Jangan selalu muncul tiba-tiba. Kau ingin membuatku mati muda karena serangan jantung?"

"Kalau begitu tinggal kujadikan vampir saja sebelum hal itu terjadi," ujar Sasuke enteng membuat wajahku pucat seketika.

"Ka-kau ini bicara apa sih!" aku membuang muka dan menutup pintu kamar dengan tangan begetar.

Jujur saja kata-katanya barusan berhasil membuatku takut. Bagaimana jika di tengah kencan kami Sasuke menghisap darahku hingga habis? Lalu, aku menjadi vampir. Tidaaaakk! Aku masih ingin menjadi manusia. Walaupun dunia manusia kejam, tetapi dunia manusia juga menyenangkan.

"Eh?"

Aku terdiam kaku dan tanganku yang memegang kenop pintu tidak mampu bergerak saat Sasuke memelukku dari belakang. Ia melingkarkan tangannya di bahuku. Kepalanya berada tepat di atas bahu kananku. Tidak! Wajahnya terlalu dekat dan ini membuat jantungku berdetak dengan cepat.

"Jangan takut. Aku tidak akan membuatmu menjadi vampir jika kau tidak menginginkannya."

Suara berat Sasuke terdengar lembut mengalun di telingaku. Bulu kudukku meremang merasakan sensasi ini. Wajahku terasa memanas. A-apa aku sudah jatuh cinta dengan vampir cantik ini?

Aku mengangguk menjawab ucapan Sasuke meski sebenarnya aku masih penasaran akan maksud perkataannya. Tapi, aku sudah bertekad tidak ingin membuat kencan pertama kami berantakan. Jadi, aku harus melupakan masalah ini untuk sementara.

Sasuke melepaskan pelukannya. Jujur saja, aku sedikit tidak rela. Pria ini membalikkan tubuhku hingga kami berhadapan. Ia menatapku dari atas hingga ke bawah, lalu senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Kau cantik seperti biasa."

Blush!

Ca-cantik seperti biasa? Ugh... Kata-katanya itu seolah ia sudah sering melihatku. Dan ini benar-benar di luar dugaan. Ternyata ia menyukai penampilan kasualku seperti ini.

"Maaf aku tidak bisa berpakaian lebih manis di kencan pertama kita," sahutku malu-malu sambil melirik matanya sesekali.

Ia menepuk kepalaku lembut, "Tidak masalah. Aku lebih suka kau apa adanya."

Aku menatap matanya lurus. Netra sekelam malam itu tidak berbohong. Ia tulus mengatakannya. Aku sungguh merasa tersanjung. Bagaimana ini? Sasuke membuatku semakin dalam jatuh pada perasaan hangat ini. Kalau begini terus, aku tidak tahu bisa keluar dari pusaran perasaan ini atau tidak.

Uluran tangan Sasuke tepat berada di depanku, "Ayo!"

Dan dengan senyum manis aku menyambut uluran tangan Sasuke. Kami bergandengan tangan memulai kencan pertama kami. Sejak dulu aku selalu membayangkan hal ini terjadi dalam kehidupan remajaku dan akhirnya hal ini terjadi juga dalam hidupku. Ah... Aku tidak pernah merasa sebahagia ini hanya dengan bergandengan tangan saja. Terima kasih, kami-sama sudah mengabulkan doaku dengan mengirim pacar sekeren Sasuke!

Aku menatap punggung Sasuke yang terlihat gagah. Pria tampan dan juga cantik ini memang memiliki pesona yang memabukkan, aku tidak akan menyangkal hal tersebut. Mungkin aku termasuk salah satu di antara puluhan atau ratusan wanita yang tergila-gila padanya hanya karena menatap matanya yang tajam. Tetapi, aku sangat beruntung bisa menjadi pacarnya.

Bugh!

Aduh! Hidungku menabrak punggung Sasuke yang tiba-tiba berhenti melangkah. Ia melepaskan genggaman tangan kami. Aku menatapnya bingung.

"Kau tidak mau memakai sepatu?"

Pertanyaannya membuatku malu. Aish~ Aku terlalu banyak melamunkan pria ini sampai tidak menyadari bahwa kami sudah berada di depan rak sepatu. Dengan kikuk aku mengangguk dan memakai sepatu sneaker putih-biru sedangkan Sasuke memerhatikanku dalam diam.

Bagaimana bisa hanya dengan sebuah kaus biru berlengan pendek, celana jeans panjang dan sepatu hitam-biru itu membuat Sasuke keren maksimal? Apakah ini benar-benar mukjizat keturunan Uchiha? Kenapa vampir selalu tampan dan keren? Aku kira itu hanya ada di televisi saja, tapi pria di hadapanku membuktikan bahwa keturunan vampir memang keren. Aku berdecak kagum dalam hati.

Ketika aku memandangi wajahnya, lagi-lagi Sasuke mengulurkan tangan di depanku saat aku selesai mengikat tali sepatu. Mungkin ia bermaksud membantuku berdiri. Aku meraih tangannya dan tiba-tiba ia menarik tubuhku hingga kami berpelukan.

"Pegangan yang erat!"

"Apa?" aku menatap Sasuke bingung, kemudian aku merasa cahaya mengelilingi kami membuatku mengeratkan pelukanku pada Sasuke dan memejamkan mata dengan erat.

.

.

.

"Kyaaaaa!"

Aku menjerit ketika kaki ini menapak seolah jatuh dari pohon yang tinggi. Aku masih menutup mata dan memeluk Sasuke dengan erat. Apa yang baru saja terjadi? Aku begitu takut hingga tanganku bergetar.

"Sakura, buka matamu. Kita sudah sampai."

Perlahan aku membuka mata dan yang pertama kali menyapa indra penglihatanku itu adalah cahaya yang menyilaukan. Setelah beberapa saat beradaptasi dengan cahaya, aku memandang ke depan dan berdecak kagum dengan apa yang aku lihat. Ini seperti padang rumput yang dipenuhi bunga matahari!

"Indahnya!"

Aku berseru kagum dan melepaskan diri dari pelukan Sasuke. Tanpa sadar aku berlari ke tengah-tengah rimbunnya bunga matahari. Tidak peduli dengan topiku yang terbang tertiup angin saat aku berlari tadi hingga rambutku berkibar tertiup angin.

Kusentuh bunga-bunga berwarna kuning-oranye itu dengan tawa riang. Aku seperti anak kecil? Biar saja. Aku memang sangat menyukai pemandangan ini dan ini pertama kalinya aku melihat bunga matahari sebanyak ini. Ini benar-benar surga dunia.

Aku masih berlari-lari kecil dan berhenti di tengah-tengah taman bunga matahari. Kubentangkan tanganku sambil memejamkan mata menikmati harum bunga matahari yang tertiup angin.

Grep!

Aku membuka mata ketika merasakan seseorang memelukku dari belakang. Tangannya melingkar di perutku. Dagu Sasuke bersandar di bahu kananku. Aku merasa jantungku memompa dengan tidak normal. Sentuhan lelaki ini memang selalu sukses membuatku berdebar dan merona.

"Kau menyukainya?"

Aku mengangguk mantap dan menoleh menatapnya, "Terima kasih, Sasuke-kun."

Sasuke mengeratkan pelukannya dan aku membalas dengan meletakkan tangan di atas tangannya. Aaaaakkk! Kencan pertamaku benar-benar romantis! Aku bisa meleleh kalau begini terus.

"Kalau begitu beri aku hadiah," ujar Sasuke dengan nada datarnya.

Aku menoleh menatapnya bingung, "Hadiah?"

"Ya, hadiah. Seperti ini."

Sasuke mencium bibirku tanpa melepaksan pelukannya. Tangan kanannya mengusap pipiku dengan lembut. Terbuai akan perlakuannya yang begitu lembut dan manis, aku memejamkan mata dan membalas kecupan Sasuke. Hei, ini juga bisa dikatakan hadiah untukku bukan?

.

.

.

Pria bersurai merah itu memasukkan buku-buku kuliahnya dengan cepat ke dalam tas. Untunglah dosen terakhir tidak masuk sehingga ia bisa pulang cepat dan memasak untuk makan malam. Ia tidak bisa membayangkan jika adiknya yang tidak bisa memasak itu menggunakan dapur. Akan menjadi seperti apa dapurnya nanti? Lagipula, yang lebih ia takutkan adalah jika Sakura kembali masuk rumah sakit karena keracunan makanan yang gadis itu masak sendiri.

"Sasori, kau bawa mobil 'kan? Aku ikut ya?" Deidara menghampiri sahabatnya yang terlihat sedang terburu-buru.

Merasa tak ditanggapi, Deidara mengeluarkan suara yang lebih kencang, "Hei, Sasori! Kau dengar aku tidak? Hei!"

"Maaf, Dei. Aku sedang buru-buru. Sakura-chan sendirian di rumah."

Menggendong tasnya di punggung, Sasori segera berlari keluar kelas. Tidak peduli dengan panggilan sahabat pirangnya tersebut.

"Dasar! Pengidap sister complex akut." Deidara mendengus kesal dan melanjutkan membereskan buku kuliahnya.

.

Menutup pintu mobil berwarna hitam itu dengan kencang, Sasori segera berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Ketika memutar kenop pintu rupanya pintu dikunci. Sasori segera mencari kunci cadangan di dalam tas dan membuka pintu.

"Tadaima," ucapnya lalu membuka sepatu dan memakai sandal rumah, namun tidak ada sahutan dari Sakura.

"Sakura-chan?" panggilnya setengah berteriak, "mungkin dia tidur siang. Lebih baik aku masak dulu," lanjutnya dalam sebuah gumaman.

Setelah meletakkan tasnya di dalam kamar, Sasori menggulung kausnya hingga batas siku. Ia memakai celemek berbentuk kotak-kota merah dengan pinggiran bergambar bayi beruang. Itu adalah celemek yang dihadiahkan Sakura untuknya ketika Sasori berulang tahun dua tahun yang lalu dan sekarang menjadi salah satu benda favorit Sasori, meski awalnya ia menolak memakai celemek yang terlalu imut tersebut.

"Hm, mungkin aku akan memasak ayam goreng krispi kesukaan Sakura-chan."

"Onii-chan, ayam goreng krispi buatan onii-chan memang nomor satu!"

Hanya dengan membayangkan Sakura dengan lahap memakan masakannya saja sudah membuat Sasori melayang tinggi dalam lamunan. Lihat saja, pria berusia dua puluh dua tahun itu sedang menyatukan telapak tangannya di pipi kanan sambil senyum-senyum dengan aura bunga berterbangan di mana-mana.

"Ah! Aku harus cepat membuatnya!" akhirnya Sasori tersadar dari imajinasinya dan mulai memasak.

.

.

.

"Selesai juga."

Sasori mengelap keringat yang mengalir di pelipisnya dengan punggung telapak tangan. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore. Tetapi, Sakura belum juga turun dari kamar. Apa gadis itu seharian bermain game sampai waktu tidur siangnya lebih lama dari biasa?

Pria yang memiliki netra hazel itu mengernyitkan dahi. Ia sangat hafal dengan kebiasaan adiknya dari hal besar sampai detail yang terkecil. Jadi, ini bukan Sakura yang biasanya meski gadis itu memang makhluk yang suka hibernasi. Sakura akan bangun ketika lapar dan gadis itu memiliki kebiasaan setiap empat jam sekali perutnya akan mengerucuk karena kelaparan.

"Sebaiknya aku cek."

Karena khawatir adiknya akan sakit apabila tidak makan sesuai waktunya, Sasori memutuskan untuk menuju kamar Sakura di lantai dua. Sesampainya di depan pintu kamar berwarna cokelat itu, Sasori mengetuk pintu tiga kali seperti kebiasaannya.

"Sakura-chan, bangun! Makan malam sudah siap."

Tanpa menunggu jawaban dari pemilik kamar, lelaki yang terlihat awet muda itu membuka pintu. Matanya melebar seketika saat melihat kasur yang berantakan dengan pakaian Sakura. Lemari gadis itu juga masih terbuka dan pintu kaca balkon kamarnya terbuka lebar hingga angin menerbangkan gordennya. Karena panik Sasori segera masuk dan mengecek keadaan.

"Sakura-chan! Kau di mana?" Sasori membuka pintu lemari dan tidak ada tanda-tanda Sakura di sana, "Sakura-chan!" ia membuka pintu kamar mandi, namun tidak ada juga gadis bersurai merah muda di dalam sana.

Di tengah-tengah kepanikannya, Sasori teringat berita penculikan gadis-gadis muda yang akan dijual ke luar negeri.

"Jangan-jangan Sakura-chan diculik! Tidaaaaak! Adik kesayanganku!" Sasori menjabak rambutnya sendiri dan berteriak histeris, "ini salahku membiarkannya tinggal seorang diri di rumah!"

Sasori merogoh kantung celana dan mengambil ponsel pintarnya di dalam sana. Ia langsung menekan tombol satu yang segera tersambung ke nomor ponsel Sakura. Namun sayang, ia justru mendengar nada dering ponsel Sakura di atas meja nakas. Sasori merasa kakinya lemas. Ia jatuh terduduk di pinggir kaki ranjang dengan aura suram.

"Sakura-chan tidak membawa ponselnya!" Sasori hampir saja menangis kalau saja tidak ingat jika tadi pagi adiknya bilang akan bermain bersama Ino.

"Mungkin Sakura-chan ada di rumah Ino!"

Sasori melesat cepat tanpa memedulikan bahwa ia masih memakai celemek imut. Saat ini keadaan adiknyalah yang terpenting. Sasori bahkan rela menukar nyawanya dengan sang adik jika dirasa perlu.

.

.

.

Tap!

Aku membuka mata karena cahaya yang mengelilingi tubuhku dan juga Sasuke perlahan menghilang. Saat ini kami sudah sampai di depan rumahku. Sebenarnya Sasuke tidak rela jika kencan pertama kami harus usai pada jam enam sore. Tapi, mau bagaimana lagi? Ini sudah menjelang malam dan firasatku mengatakan bahwa Sasori nii-chan akan pulang cepat.

Mengingat kakakku yang sister complex, aku tidak ingin Sasuke terlibat masalah dengannya. Karena Sasuke sekarang sudah jadi pacarku, tentu saja aku ingin mendapatkan restu dari onii-chan. Dan tidak mudah mendapat restu darinya, aku saja menembak cowok selalu digagalkan oleh kakakku itu. Miris sekali nasibku.

Kulirik Sasuke yang menatapku cemberut. Ya, walau orang awam yang tidak tahu pasti mengira wajahnya datar seperti biasa. Tapi, aku menyadari ada perbedaan di ekspresinya itu. Bibirnya yang biasanya segaris horizontal terlihat melengkung sedikit ke bawah. Lucu sekali. Aku jadi tidak tahan untuk terkekeh geli.

"Apa?" tanya Sasuke dengan jutek.

Aku menghentikan tawaku karena takut membuatnya tersinggung, "Jangan cemberut begitu. Besok kita bisa bertemu lagi kok," ujarku dengan senyum manis menatapanya.

Ia memalingkan wajah dari tatapanku. Sepertinya ia malu. Hihihi... Manis sekali!

"Hn."

Brak!

"Sakura-chan!"

Mendengar pintu pagar yang ditutup kasar, aku membalikkan badan dan melihat kakakku berdiri sambil meneriakkan namaku. Ia terlihat begitu panik.

"Sasori nii-chan," panggilku.

Grep!

"Onii-chan, lepas! Kau terlalu erat memelukku."

Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi tiba-tiba Sasori nii-chan memelukku dengan begitu erat sampai membuat dadaku sesak. Terakhir kali ia bersikap seperti ini adalah ketika aku terjatuh dari pohon apel di rumah nenek. Ia benar-benar kalut saat itu dan berjanji akan selalu menjagaku. Padahal aku hanya luka gores saja.

"Kau ke mana saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu!"

Sasori nii-chan melepaksan pelukannya dan memegang kedua bahuku dengan erat. Aku bisa melihat hazel-nya menatapku dengan penuh kecemasan. Salahku juga yang pergi tanpa memberitahunya, pasti ia kalut sekali tadi. Tapi, bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan? Haruskah aku bilang kalau aku habis pergi kencan?

"Aku... Aku..."

Aku gugup tidak berani menatap mata kakakku. Kugigit bibir bawahku memikirkan alasan lain agar ia tidak curiga. Tapi, apa? Apa? Ugh! Otakku benar-benar buntu.

"Sakura-chan."

Sasori nii-chan menatapku penuh intimidasi. Aku hanya bisa tersenyum kikuk melihatnya. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan, pada dasarnya aku tidak pandai berbohong di hadapan kakakku yang tersayang. Matanya yang sejak tadi hanya fokus padaku tiba-tiba bergerak ke arah lain.

"Siapa kau?"

Mendengar pertanyaan Sasori nii-chan yang terdengar ketus, aku ikut menggerakkan kepala melihat ke arah yang ia pandang. Betapa terkejutnya aku melihat Sasuke masih berdiri dengan santai di belakangku. Kupikir ia sudah pergi mengingat kebiasannya ketika Sasori-niichan muncul pasti ia menghilang bagai angin. Tapi, kenapa pria itu masih di sana?

"Uchiha Sasuke. Pacar dari Haruno Sakura. Salam kenal, Onii-san!" Sasuke membungkukkan badannya sedikit dengan hormat dan kembali memandang kakakku.

Jeduaaar!

Apa yang dikatakan Sasuke? Kenapa lelaki itu bicara dengan santai begitu! Kulirik Sasori nii-chan yang tampak syok. Badan kakakku ini bahkan sampai kaku begini.

"APA!"

"Hari ini adalah kencan pertama kami. Kami menikmati kencan pertama yang begitu romantis." Sasuke berujar dengan nada datarnya dan menatap lurus ke mata Sasori nii-chan. Mulut kakakku terbuka dan tertutup dengan wajah semakin pucat.

"Aku berjanji akan mencintai Sakura sepenuh hati dan menjaganya dengan baik."

Sasuke melangkah mendekatiku. Ucapannya barusan membuat pipiku merona. Tidak pernah kubayangkan memiliki kekasih se-gentle ini. Aku benar-benar beruntung, rasanya sampai mau menangis saja.

Cup!

"Oyasumi,"

Sasuke tersenyum manis setelah mengecup pipiku. Aku berdiri kaku dengan dentuman kencang di dada. Dapat kusadari Sasori nii-chan juga berdiri dengan tegang sambil menatap kami dengan mata yang melotot, ia bahkan tidak bisa berkata apapun.

"Permisi."

Sasuke membungkukkan badan sedikit dan pergi dari hadapan kami. Setelah Sasuke menghilang di balik tikungan jalan, kulirik tangan Sasori nii-chan yang bergetar hebat. Rahangnya mengeras menahan kesal. Matanya memancarkan api kemarahan yang membara. Aku meneguk ludah gugup.

"Bocah sialan! Beraninya mencium Sakura-chan di depanku!"

Dan aku hanya bisa menghela napas panjang. Sepertinya malam ini aku akan mendengar "dongeng" Sasori nii-chan sebelum tidur. Tapi, tidak apa-apa karena hari ini sangat menyenangkan.

Aku mencintaimu, Sasuke-kun.

.

.

.

Srek. Srek. Srek.

Sepasang kaki yang memakai sneaker hitam berhenti melangkah tepat di tepi jurang. Siluet hitam itu memandang kota Konoha yang bersinar cantik seperti bintang di malam hari sambil bersidekap tangan. Rambutnya bergerak ditiup angin malam. Matanya berkilat dengan tajam dan seringai tampak terlukis di bibirnya.

"Uchiha Sasuke, aku kembali!"

Sosok itu menghilang dengan cepat setelah dedaunan yang berterbangan jatuh karena tertiup angin kencang.

.

.

.

Tsuzuku

.

.

.

Area bacot author:

Halo minna-san! Bagaimana dengan chapter 2nya? Beruntung saya lagi ada imajinasi jadi bisa nyelesain chapter ini dengan cepat. Mudah-mudahan ke depannya saya masih punya stok imajinasi yang banyak. XD

Ada pertanyaan dari Sasa-san dan Uchiha Shesura-chan: Apakah akan ada perubahan rated?

Eto... kalau pikiran saya lagi nggak aneh-aneh kemungkinan nggak akan berubah rated. Tapi, kalau pikiran aneh tiba-tiba muncul mungkin akan dibikin side story atau sequelnya di rated yang lebih tinggi atau berubah rated aja ya? *maksud banget ini authornya!* *dijitak Sasuke karena plin-plan* sebenernya Sasuke maunya rated yang "itu" tuh... *diamaterasu* XDD

Arigatou yang udah review chapter 1. Saya teharu baca review positif kalian *ngelap air mata di kaos Itachi*:

sofi asat, imahkakoeni, Sasa, Tomat-23, Shawokey, me, sonedinda2, Uchiha Sakura, sudoer arekndapblekputrakeramat, Uchiha Shesura-chan, ravenpink, JaeJung, Mia Rinuza, Kumada Chiyu, mega naxxtridaya, pw sasusaku, hanazono yuri, ifaharra sasusaku, aliya, Sya Sabaku, iya baka-san.

Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan nama ya.. Sampai jumpa di chapter selanjutnya! Bubye~! XD