"Makan siang dan makan malam sudah nii-chan siapkan, nanti tinggal dihangatkan."
"Ano, onii-chan—"
"Game yang kau inginkan sudah nii-chan beli kemarin, jadi kau bisa main sepuasnya hari ini."
"Eto..."
"Onii-chan juga sudah membeli camilan kesukaanmu,"
"Wah! Camilan! Eh, tapi—"
"Onii-chan harap Sakura-chan mau menjaga rumah hari ini."
"Ta-tapi, aku ada janji dengan Sasuke-kun."
"Sakura-chan mau 'kan berjanji sama onii-chan untuk tetap tinggal di rumah selagi onii-chan kuliah?"
Glup!
Hiiiii! Aku merinding melihat wajah Sasori nii-chan yang tersisa jarak sejengkal dari wajahku. Muka onii-chan terlihat parah sekali. Kantung matanya begitu kentara, bahkan aku nyaris mengiranya hantu ketika tadi pagi melihat onii-chan menyiapkan sarapan untuk kami.
Sasori nii-chan begitu berusaha keras. Ia menyiapkan tiga hidangan makanan yang akan aku makan hari ini sebelum matahari terbit. Alasannya kali ini berbeda. Bukan karena ia takut aku akan meracuni masakanku sendiri, tapi karena ia tidak mengizinkanku keluar rumah barang sesenti pun.
Semua ini berawal karena ketakutannya kalau Sasuke akan membawaku pergi lagi. Takut Sasuke berbuat mesum lagi padaku. Hey! Itu bukan mesum. Bukankah sepasang kekasih biasa bermesraan seperti itu? Apalagi kami adalah pasangan baru. Pastinya cinta kami sedang mekar-mekarnya.
"Onii-chan, dengarkan aku—"
"—Tidaaaaak! Onii-chan tidak mau dengaaaaar!"
"Eh?"
Aku sweatdrop melihat Sasori nii-chan yang tiba-tiba berteriak sambil menutup kedua telinganya. Ekspresinya itu loh seperti tokoh yang sedang depresi dalam sinetron-sinetron. Sekarang ia berjongkok, masih menutupi telinganya. Aura suram benar-benar terasa mengelilinginya, aku bahkan mendengar isak tangis Sasori nii-chan.
Haaah... Aku mendesah lelah.
"Hai, hai! Aku mengerti. Sekarang sebaiknya nii-chan berangkat kuliah."
Grep!
Astaga! Sasori nii-chan bergerak cepat sekali! Ia memegang bahuku erat dengan mata berbinar ceria. Aura suramnya tergantikan dengan bintang-bintang bertebaran yang menyilaukan di sekelilingnya. Silau sekali!
"Berarti kau akan putus dengan Sasuke baka itu 'kan?"
"Eh?"
"Yokatta, yokatta. Baiklah, aku berangkat! Jaga rumah ya, Sakura-chani!"
Sasori nii-chan pergi begitu saja dengan riangnya. Ia melompat-lompat kecil sambil bersiul meninggalkan aku yang berdiri cengo. Aku mengedipkan mata beberapa kali dengan heran.
"Haaaaahhh!"
.
.
.
.
.
.
Standard Disclaimer Applied
WARNING!
AU, Typo, Miss-Typo, OOC, Absurd dll
.
.
.
.
.
.
Genre: Romance and Fantasy
Rate T
.
.
.
.
.
.
Pretty Man: The Series
By chocoaddicted
.
.
.
.
.
.
Enjoy, Minna-san!
.
.
.
.
.
.
"Mattaku..."
Kukeluarkan desahan lelah saat Sasori nii-chan sudah pergi sekitar satu jam yang lalu. Sepertinya sister complex kakak laki-lakiku itu semakin parah. Buktinya sudah tiga hari ini aku dikurung di dalam rumah dengan seribu satu alasan. Ponselku bahkan "dipinjam" olehnya dengan dalih ponselnya rusak. Aku mendengus dan bibirku berkedut kesal.
Ketika Sasuke datang pasti Sasori nii-chan berdiri di antara kami seperti benteng, membuat aku dan Sasuke tidak dapat berbuat apa-apa. Bukan berarti aku ingin terjadi apa-apa di antara kami! Aku hanya ingin kebersamaanku dengan Sasuke menjadi privasi kami saja. Lagipula aku malu kalau ada orang lain di antara kami. Kembali aku mengembuskan napas.
Kalau bukan karena Deidara nii-san menelepon rumahku untuk menanyakan keberadaan Sasori nii-chan yang seperti di telan bumi karena tidak muncul selama tiga hari di kampusnya, aniki itu pasti masih berada di rumah menjagaku seperti satpam dua puluh empat jam. Akhirnya aku memaksa Sasori nii-chan untuk kuliah dengan ancaman akan mengadukannya ke ayah dan ibu. Dan ancaman itu selalu berhasil.
Menopang dagu, aku menatap langit cerah yang membentang dengan warna birunya nan indah dari jendela kamar yang kubuka lebar. Angin semilir menerbangkan rambut merah mudaku. Setidaknya angin sejuk ini dapat menentramkan otakku yang pusing memiliki kakak seperti Sasori nii-chan.
Saat ini Sasuke sedang apa ya? Aku tidak bisa menghubunginya karena ponselku disita oleh Sasori nii-chan yang aku yakin saat ini ia bawa serta di dalam tasnya itu. Heuh... Untunglah Sasori nii-chan belum tahu kalau Sasuke adalah vampir. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika onii-chan mengetahui hal tersebut.
Brak!
"Apa itu?"
Aku mendengar suara sesuatu yang jatuh dengan sangat kencang. Kuedarkan mataku menatap sekeliling halaman rumah dan betapa terkejutnya aku saat melihat seekor binatang berwarna oranye jatuh tak jauh dari pot bunga.
Kaki ini bergerak dengan cepat, berlari menuruni tangga, melewati dapur dan ruang tamu sampai akhirnya tiba di halaman depan. Aku duduk bersimpuh. Kulihat binatang oranye ini mengernyit kesakitan. Sepertinya ia pingsan. Wajahnya yang imut itu terlihat menderita. Tak tega melihat hal ini lebih lama, aku segera menggendongnya dalam pelukan.
.
.
.
.
.
.
Cahaya matahari bersinar terik. Tampak hiruk pikuk manusia sedang sibuk berlalu-lalang dengan kegiatan mereka masing-masing. Terlihat sneaker hitam berjalan lambat di antara kerumunan manusia yang berdesak-desakan. Rambut pirangnya terlihat menyilaukan di bawah guyuran cahaya matahari hingga keringat menetes di pelipis dan jatuh melewati pipinya yang memiliki tiga goresan seperti kumis kucing.
Punggung telapak tangannya mengarah ke pelipis, menghapus keringat yang bercucuran. Ia menengadah menatap langit dengan kedua netra blue saphire yang dipayungi telapak tangan.
"Hari ini lebih panas dibanding kemarin," gumamnya lemah, "dan sekarang aku haus."
Saat itulah ia melintasi toko es krim yang tampak menggoda dahaga. Tapi, ia harus menelan ludah pahit karena pria yang bernama Uzumaki Naruto ini tidak memiliki uang sepeser pun.
Sudah tiga hari pria ini tidak makan dengan layak, ia bahkan minum dari air sungai maupun keran. Ia merutuki kecerobohannya yang menjatuhkan dompet entah di mana. Tidak mau berlama-lama di depan toko es krim karena setiap pasang mata memerhatikannya seperti gelandangan yang kelaparan, maka Naruto melanjutkan langkahnya dengan rasa malu.
"Aku kembali ke sini untuk membalas dendam. Tapi, kenapa kesialan yang aku dapatkan?" Naruto menghela napas berat dengan lemas. Pria keturunan Uzumaki itu berbelok memasuki gang sempit yang gelap.
"Kalau terus berjalan dengan bentuk seperti ini, aku bisa mati kepanasan."
Naruto mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Setelah merasa dirinya aman dan tidak ada satu orang pun manusia yang melihatnya, pria itu membuat sebuah segel dengan kedua tangan. Lalu, tak lama kemudian tubuh Naruto dikelilingi asap. Asap putih itu perlahan menghilang dan muncullah seekor rubah berwarna oranye.
"Begini lebih baik," Naruto mengibaskan ekornya, "aku harus cepat," kemudian rubah oranye itu melompati atap-atap rumah penduduk dengan cepat laksana anak panah.
.
.
.
.
.
.
Kruyuk~
Entah sudah berapa kali perut rubah kecil itu berbunyi. Naruto hanya dapat menahan rasa laparnya. Lapar dan haus di tengah cuaca panas yang menyengat membuat tubuhnya makin lemas. Apalagi sudah selama tiga hari ia tidak tidur karena terus berlari mencari keberadaan seseorang, tapi hasilnya nihil.
Kaki-kakinya semakin terasa tak menapak. Badannya terasa makin lemas dan kepalanya pusing. Naruto tidak pernah merasa selemah ini. Mata rubah oranye itu berkunang-kunang, lalu ia tidak dapat menahan keseimbangan sampai akhirnya Naruto merasa tubuhnya melayang bebas terjun dari sebuah atap rumah.
"Kuso!" geramnya tertahan.
Brak!
Uzumaki Naruto sudah pasrah sekarang. Apakah ia akan mati kelaparan di kota kelahirannya sendiri? Apa kata ayah dan ibunya nanti? Bisa-bisa ia dikirim ke Afrika untuk dimakamkan di sana. Naruto benar-benar tidak menginginkan hal itu.
Matanya terpejam rapat. Seharusnya ia mendengarkan apa kata ayah dan ibunya bahwa balas dendam itu bukan perbuatan baik. Sekarang ia mendapatkan akibatnya karena menentang ucapan orang tua.
Tap. Tap. Tap.
Di tengah kecemasan, Naruto merasa ada suara kaki yang mendekat. Tak lama kemudian tubuhnya terasa terangkat dan merasakan kehangatan yang menentramkan hati. Sekuat tenaga ia mencoba membuka mata. Hal yang pertama kali ia lihat adalah rambut merah muda dan mata emerald yang menatap lurus ke depan dengan cemas. Kemudian ia jatuh pingsan.
.
.
.
.
.
.
"Tidak onii-chan izinkan. Ini hewan liar, Sakura-chan!"
"Tapi, onii-chan... Apa kau tidak kasihan dengan hewan malang ini? Ia tampak kesakitan."
"Onii-chan tahu, tapi tetap saja itu hewan liar. Aku tidak mau kau sampai dilukainya!"
"Tenang saja. Hewan seimut ini tidak mungkin melukaiku."
Naruto mendengar percakapan dua orang manusia dengan samar-samar. Perlahan ia membuka mata dan netra biru itu menangkap dua sosok yang sedang berdiri berhadapan tak jauh darinya. Ia memfokuskan penglihatan sampai menangkap sesosok manusia yang ia kenali sebelum ia jatuh pingsan.
Rambut merah muda. Tatapan emerald yang indah. Wajah yang cantik. Naruto terus memandangnya sampai tatapan mereka bersirobok. Si gadis tampak terkejut, namun kemudian ia duduk di samping Naruto dan menatapnya dengan kelegaan.
"Syukurlah kau sudah sadar, Rubah-chan."
Naruto tidak dapat menahan debaran yang tiba-tiba menghantam jantung. Wajahnya memanas dan matanya membulat begitu melihat senyum manis Sakura yang ditujukan untuknya.
"Ma-manis sekali!"
"Untunglah binatang ini sudah sadar. Dengan begitu kita bisa melepaskannya." Sasori ikut menatap Naruto dengan malas. Tangannya bersidekap dan dagunya terangkat sedikit.
"Onii-chan! Kau itu 'kan calon dokter hewan! Masa tidak berperikehewanan sih?" Sakura menatap sengit Sasori dengan kesal.
"Habis, aku takut perhatianmu untukku terbagi dua. Kau akan sering bermain dengannya dibanding denganku." Sasori memainkan jari telunjuk dengan bibir manyun.
Sakura mengembuskan napas berat, "Sasori nii-chan berpikir terlalu jauh."
Sasori menoleh cepat ke arah Sakura, "Jadi, kau tidak akan cuek padaku?" Sakura mengangguk menjawabnya, "yatta! Baiklah, kau boleh merawatnya sampai sembuh, Sakura-chan!" Sasori berjingkak senang dan pergi menuju kamarnya begitu saja.
Sakura dan Naruto sweatdrop melihat tingkah laku Sasori. Menghela napas, Sakura kembali mengalihkan pandangannya pada Naruto.
"Kata Sasori nii-chan, kakimu terkilir sewaktu jatuh dari atap rumah. Tapi, tenang saja ia calon dokter hewan yang hebat. Jadi, kakimu sudah diobati olehnya." Sakura tersenyum menatap sang rubah oranye.
Naruto tidak tahu harus menjawab apa. Ia melihat kakinya dan memang benar kaki depan sebelah kirinya telah dibalut oleh perban. Kemudian ia kembali memandang Sakura yang sedang menyiapkan sesuatu di atas meja. Saat ini ia baru sadar kalau terbaring di sebuah kasur. Ia mengedarkan pandangan dan melihat ruangan yang ditempatinya ini seperti sebuah kamar.
"Mungkin kamar gadis ini."
"Apa kau bisa makan sendiri?" Sakura bertanya pada si rubah seolah rubah ini mengerti akan perkataannya. Ia menggaruk kepala menyadari bahwa ia bertanya hal yang tidak mungkin dijawab oleh seekor hewan.
"Mungkin aku harus menyuapimu. Sepertinya botol susu Kitty masih ada. Aku akan mengambilnya sebentar."
Naruto memandang Sakura yang berlari cepat keluar kamar. Ia melihat ada dua buah mangkuk berisi buah-buahan dan susu yang tergeletak di atas karpet dekat kaki tempat tidur. Naruto mencoba berdiri meski merasa nyeri, tapi luka seperti ini bukan hal yang berarti. Naruto bahkan pernah mendapatkan luka yang lebih parah dari ini.
Naruto melompat dan mendarat di atas karpet dengan selamat. Ia mendekati mangkuk berisi buah-buahan dengan kaki pincang.
"Gadis yang baik," gumam Naruto. Kemudian ia memakan buah-buahan itu dengan lahap.
Sakura membuka pintu kamar setelah mengambil botol susu. Matanya melebar sedikit melihat rubah yang dirawatnya sedang makan dengan rakus. Ia berjalan mendekat sampai si rubah menyadari dan menoleh padanya. Sakura berjongkok di hadapan sang rubah.
"Namaku Haruno Sakura. Mulai sekarang aku akan merawatmu sampai sembuh, Saphire-chan!" Sakura tampak berpikir sejenak dengan jari telunjuk menyentuh dagunya, "sepertinya nama itu cocok untukmu, ne?"
Naruto menganga terpesona melihat Sakura yang tersenyum manis. Sekali lagi jantungnya berdetak dengan cepat dan wajahnya merona meski tidak akan ada yang menyadari kecuali ia sendiri. Gadis di hadapannya ini telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Uzumaki Naruto, seorang siluman rubah jatuh cinta pada gadis manusia.
.
.
.
.
.
.
Naruto memandang langit malam yang bertabur bintang dari balik jendela kamar Sakura. Ia sudah berubah dari sosok rubah menjadi manusia, meski telinganya masih berbentuk telinga rubah berwarna pirang sesuai warna rambutnya dan ekornya berkibas pelan.
Pria itu sedang melamun. Jika bukan karena Sakura menolongnya, ia tidak tahu nasibnya seperti apa. Ia terselamatkan dan berhutang budi pada gadis itu. Selain itu, ia merasakan perasaan berbeda tiap kali berdekatan dengan Sakura. Naruto tersenyum ketika mengingat senyum manis Sakura seharian ini.
Senyumnya memudar ketika ia ingat tujuannya ke Konoha. Kembali teringat di benaknya kekalahan yang membuat Naruto merasa malu. Waktu itu ia masihlah sangat muda, umurnya baru delapan tahun. Ia berkelahi dengan seseorang yang sudah dianggap sahabatnya, namun ia dapat dikalahkan dengan mudah.
"Kau lemah."
Ucapan anak itu kembali terngiang di telinga Naruto. Suara datar dan seringai meremehkan yang masih sangat diingat Naruto seolah berada di pantulan kaca jendela. Naruto menggeram kesal dengan kepalan tangan yang mengeras.
"Mmmm... Ayam krispi... Mm... Nyam nyam..."
Naruto menoleh ketika mendengar igauan Sakura. Gadis itu sedang tidur dengan lelap. Lelaki berkulit tan itu tersenyum geli melihat Sakura yang tampak manis ketika tersenyum, namun terlihat acak-acakan ketika tidur. Bahkan bantal, guling dan selimut sudah tidak berada di posisi semula.
Pria bersurai pirang itu mendekati ranjang Sakura. Ia menarik selimut sampai menutupi bahu gadis itu. Ketika menarik selimut, Naruto melihat tangan kirinya yang dibalut perban. Ia mengusap perban itu dengan pelan dan kembali menatap Sakura yang terlelap.
"Arigatou, Sakura-chan," ucap Naruto tulus dengan sebuah senyum lembut.
"Mmm... Ayam krispi..."
Dan Naruto terkekeh pelan mendengar jawaban Sakura. Tentu saja gadis itu mengucapkannya tanpa sadar karena mengigau. Bagaimana reaksi Sasori kalau tahu Sakura mengigau ayam krispi buatannya ya?
.
.
.
.
.
.
Uchiha Sasuke menopang dagu di balkon kamar. Ia menatap kota Konoha dengan tatapan datar. Sudah seharian ini ia tidak mengunjungi kekasihnya yang tinggal di sana karena kakak kekasihnya yang menyebalkan itu dengan terang-terangan melarang Sasuke datang ke rumah mereka. Kata pria bersurai merah yang Sasuke ketahui bernama Haruno Sasori, Sasuke tidak perlu datang setiap hari kalau perlu tidak usah datang lagi.
Sasuke mendengus keras. Tidakkah pemuda baby face itu ketahui bahwa rasa rindunya pada Sakura sudah sebesar bukit tempat tinggal klannya ini? Sasuke bahkan sampai dibuat gusar karena menahan rindu.
Sebenarnya bisa saja Sasuke datang ke rumah Sakura, tentu saja dengan caranya yang khas sebagai vampir. Tetapi, ia tidak mau ambil resiko jika ia datang lalu Sasori sedang berada di rumah mereka. Ia ingin menciptakan imej baik di mata kakak lelaki Sakura itu, namun sepertinya Sasori memiliki semacam penyakit sister complex yang akut sehingga membuatnya sedikit repot.
Sasuke mengusap layar sentuh ponsel pintarnya. Ia menatap wallpaper ponsel tersebut yang merupakan fotonya dan Sakura dengan Sasori yang ikut nyempil di belakang mereka, tapi sudah ia edit dengan membuat blur wajah calon kakak iparnya itu. Di foto tersebut Sakura tampak tersenyum lebar dengan pipi yang ternodai krim kue. Sasuke tanpa sadar menghela napas berat lagi. Ia benar-benar rindu Sakura.
"Adikku sedang galau rupanya."
Sasuke sedikit terkejut mendengar suara seseorang yang tiba-tiba muncul. Ia memang sedang fokus pada dunianya sendiri sehingga tidak menyadari kehadiran orang lain yang sejak tadi sudah memerhatikannya dengan senyum geli.
"Berisik, Itachi!"
Itachi tertawa, lalu berjalan mendekat tepat di samping Sasuke yang masih memandang wallpaper ponselnya.
"Jadi, itu calon adik iparku?"
Sasuke terdiam untuk sesaat, lalu mengunci ponsel pintarnya dan memasukkan ke dalam saku celana, "Hn," sahutnya.
"Cantik. Bawalah ke sini, aku ingin mengenalnya," kata Itachi memandang kota Konoha yang berkilauan karena lampu-lampu yang menyala.
"Tapi, dia manusia." Sasuke menerawang ikut memandang kota Konoha.
Itachi tersenyum tipis, "Tidak apa-apa. Ayah dan ibu pasti mengerti," sahutnya.
Sasuke melirik Itachi, "Ayah dan ibu mungkin bisa menerimanya. Tapi, kakek?"
Itachi menoleh cepat dan memandang Sasuke dengan tatapan tidak percaya. Adiknya yang selalu optimis dan tidak pernah ragu kini terlihat berbeda.
"Hei, ini tidak seperti Sasuke yang kukenal." Itachi tersenyum mengejek.
Sasuke berbalik dan menyenderkan tubuhnya di teralis balkon. Kepalanya mendongak memandang langit malam yang dihiasi bintang.
"Dunia kami berbeda," gumam Sasuke nyaris berbisik.
Itachi tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Sasuke hingga adiknya itu menoleh menatapnya.
"Jangan putus asa. Cinta bisa menyatukan segala macam perbedaan. Yakinlah, kakek pasti menerima gadis itu," ujar Itachi lembut.
Sasuke melebarkan matanya sedikit, lalu mendengus sambil menepis tangan Itachi dengan pelan.
"Kenapa kau begitu yakin?" tanya Sasuke yang kini berhadapan dengan Itachi.
Itachi memasukkan tangan yang ditepis oleh Sasuke ke dalam saku celananya, "Nanti kau akan tahu sendiri."
Dengan senyum yang misterius, Itachi pergi meninggalkan Sasuke yang memandangya dengan penuh tanda tanya. Namun, setidaknya ia sedikit berterimakasih pada kakaknya tersebut karena sudah mencoba menghibur Sasuke yang sedang galau.
"Aku merindukanmu, Sakura." Sasuke menatap langit malam dengan senyum tipis.
.
.
.
.
.
.
"Hoaaaam!"
Sakura merenggangkan tangannya yang terasa kram sehabis tidur. Dengan mata yang masih mengantuk ia mematikan alarm yang terus berbunyi. Menyingkapkan selimut, Sakura pergi menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi.
Dengan rambut yang berantakan, Sakura memandang pantulan dirinya di cermin. Wajahnya benar-benar jelek ketika baru bangun tidur. Air liur bahkan masih tercetak di pinggir bibirnya. Apakah wajah ini yang dilihat Sasuke ketika pemuda itu tiba-tiba muncul di kamar mandi?
Nyut!
Sakura meremas piyama di balik jantungnya. Jantungnya berdenyut menyakitkan. Bukan karena ia sedih karena wajahnya terlihat jelek ketika bangun tidur lalu dilihat Sasuke, tetapi karena gadis itu merindukan kekasihnya.
"Ini semua karena Sasori nii-chan," dengusnya dan menggosok gigi dengan kasar hingga gusinya berdarah dan ia merintih kesakitan.
.
.
.
.
.
.
Hari terus berlalu, tanpa terasa sudah satu minggu Sakura tidak bertemu dengan Sasuke. Sasori sudah mengembalikan ponsel Sakura dan ketika Sakura membuka ponselnya ternyata tidak ada satu pun pesan atau panggilan telepon Sasuke. Namun, tingkah Sasori yang terlihat begitu berbinar ketika mengembalikan ponsel Sakura membuat gadis itu curiga. Jangan-jangan semua pesan dan panggilan telepon Sasuke sudah dihapus kakaknya.
Sakura hanya mampu menghela napas kalau mengingat tingkah laku sang kakak. Ia ingin memarahi Sasori, tapi tak tega. Jadilah kini sang adik yang selalu mengalah dan membiarkan dirinya dimonopoli oleh sang kakak. Meskipun Sasori sangat menyayangi Sakura, adakalanya gadis itu ingin kebebasan.
Sakura yang sedang melamun di ruang makan merasa kaget ketika bulu halus menyentuh kakinya. Ternyata rubah yang dirawatnya sedang mengusap kaki Sakura dengan punggung hewan itu. Sakura yang tadinya cemberut jadi tersenyum kembali. Ia mengangkat si rubah ke pangkuan dan mengusap punggungnya hingga si rubah mencari posisi nyaman.
"Untung kau datang, Saphire-chan. Kalau tidak, aku pasti sudah jadi zombi karena dikurung terus di rumah ditemani game seharian."
Sakura terus mengusap punggung si rubah sambil menikmati bulu-bulunya yang halus. Seolah mengerti ucapan Sakura, rubah itu mendongak dan menatap matanya. Sakura mengusap kepala rubah itu dengan senyum lembut.
"Arigatou."
"Jangan sedih, Sakura-chan."
.
.
.
.
.
.
"Aaargghh!"
Sasuke sudah tidak tahan lagi. Satu minggu tidak bertemu dengan Sakura rasanya seperti satu tahun tidak makan tomat. Meskipun ia vampir, tetapi ia memakan makanan manusia. Jangan samakan vampir zaman sekarang dengan vampir zaman dulu yang hanya bisa menghisap darah manusia.
Keadaan Sasuke semakin kacau. Rambutnya yang jabrik di bagian belakang tampak mencuat di mana-mana. Wajahnya yang pucat tambah menyeramkan dengan lingkaran hitam di bawah mata. Pakaiannya tampak kusut dan kancing kemejanya dikancingkan dengan asal. Mungkin sekilas ia tampak seksi, tapi dilihat dari auranya ia tampak mengenaskan.
Ia melihat kembali ponsel di tangannya. Sudah empat puluh kali ia mencoba menelepon gadisnya, tetapi selalu di-reject. Tiga puluh pesan ia kirim, tapi tak ada balasan. Sekalinya ada balasan, namun membuat Sasuke sangat kesal. Bagaimana tidak kesal jika isi pesan tersebut adalah 'Jangan ganggu aku lagi, Baka Hentai Sasuke!'. Apa maksud Sakura membalas pesannya seperti itu? Apa gadis itu ingin hubungan mereka berakhir?
"Baiklah, aku akan menemuinya nanti malam!"
Akhirnya Sasuke bertindak juga setelah sekian lama menahan diri. Menurutnya Sakura tidak mungkin mengirimkan pesan seperti itu. Ia sangat yakin jika pelakunya adalah Sasori. Namun, ia perlu memastikannya malam ini ketika Sasori sudah terlelap pastinya karena pria ini tidak mau ada pengganggu lagi.
.
.
.
.
.
.
Suara jangkrik musim panas bersahut-sahutan di tengah malam membuat manusia semakin telelap dalam tidurnya. Keadaan sebuah perumahan di kota Konoha terlihat begitu sepi karena jam menunjukkan pukul satu dini hari, jadi tak ada satu pun warga yang terlihat berada di luar rumah.
Di balik sepinya perumahan itu terlihat bayangan yang bergerak cepat dan melompati atap-atap rumah warga. Bayangan hitam itu berhenti tepat di sebuah atap rumah kosong di samping kediaman Haruno. Mata sehitam jelaganya mengamati sebuah kamar yang redup akan cahaya. Ia yakin pemilik kamar sedang tidur dengan nyenyak.
.
.
.
.
.
.
Seekor rubah membuka matanya dan berdiri dengan cepat dari keranjang tidur. Ia bersikap siaga saat merasakan sebuah aura yang sangat dikenalinya. Tanpa pikir panjang lagi, Naruto kembali ke wujud aslinya.
Tap!
Alisnya hampir menyatu ketika mendengar suara kaki orang yang mendarat di balkon kamar Sakura. Ia tahu siapa orang tersebut. Seseorang yang sudah membuatnya ingin membalas dendam. Seseorang yang merupakan sahabat sekaligus musuhnya sejak kecil.
Sret!
"Uchiha Sasuke."
.
.
.
.
.
.
Tsuzuku
.
.
.
.
.
.
Mattaku: Ya ampun
Kuso: Sial
Yatta: Yeah!
Yokatta: Syukurlah
Area bacot author:
Serius! Saya ini paling nggak bisa bikin sesuatu jadi misterius. Alur saya mudah ketebak ya? Hahaha... *garuk-garuk kepala* Tapi, ada yg nebak nggak kalau orang yang saya bikin sok misterius itu Naruto? XD
Oke! Ada cinta segitiga di sini. Bayangin aja dah kayak twilight gitu... *maksa padahal ceritanya beda banget* XD
Ada yang nebak kemarin Naruto itu Karin, Hinata, bahkan Obito? Tapi, maaf kalian belum beruntung. Coba lagi nanti. *udah kayak undian snack* Oh ya, tenang aja nggak akan ada SasuHina di sini ;D
Untuk next chap, ada yang bisa nebak apa yang akan terjadi antara Sasuke dan Naruto? Pasti udah ada yang bisa nebak nih... XDD
Arigatou Gozaimasu kepada nama-nama di bawah ini yang berbaik hati mereview chapter kemarin:
Sasa, aliyah, hanazono yuri, sofi asat, Uchiha Shesura-chan, KazuRin shippers, sonedinda2, cheryxsasuke, iya baka-san, Ifaharra sasusaku, haruchan, ravenpink, Mia Rinuza, Tomat-23, Uchiha Sakura, Erika Liana19, sudoer arekndapblekputrakeramat, ichiro kenichi, mega naxxtridaya, sakira nata-chan, imahkakoeni, Shawokey, Lhylia Kiryu.
Mohon maaf kalau ada kesalahan pengetikan nama ya : )
Area curhat author part 2:
Saya suka sedih lihat trafic pembaca banyak banget tapi reviewnya sedikit. *pundung* #abaikan
Oke, see you next chap!
Bubye~! XD
