Standard Disclaimer Applied

WARNING!

AU, Typo, Miss-Typo, OOC, Absurd dll

.

.

.

.

.

.

Genre: Romance and Fantasy

Rate T

.

.

.

.

.

.

Pretty Man: The Series

By chocoaddicted

.

.

.

.

.

.

Enjoy, Minna-san!

.

.

.

.

.

.

Naruto berdiri dengan sikap siaga menghadap pintu balkon kamar Sakura yang baru saja dibuka. Angin berhembus menerbangkan gorden berwarna hijau army. Kedua saphire-nya menyalak menatap sesosok makhluk yang berdiri dengan wajah datar di hadapannya. Emosi Naruto berkumpul menjadi satu di kepalan tangan yang semakin erat.

Angin malam yang terasa dingin menerbangkan surai kedua insan berjenis kelamin laki-laki tersebut. Tak ada satu pun yang berniat melepaskan tatapan tajam mereka. Naruto bahkan terdengar menggeletukkan giginya sedangkan pria di hadapannya terlihat begitu tenang.

"Uchiha Sasuke."

Naruto menyebut nama itu dengan desisan tajam seolah ia begitu membenci makhluk berjenis vampir tersebut. Teringat akan tujuan utamanya kembali ke Konoha dan orang yang ingin ditemuinya justru muncul secara tak terduga di depan wajah Naruto. Apakah Naruto patut mensyukuri kebetulan ini?

Tiba-tiba saja Naruto teringat bahwa ia berada di kamar Sakura. Naruto mengernyitkan alis tanda ia sedang menganalisis keadaan. Sasuke muncul di kamar Sakura dapat dikatakan bukan sebuah kebetulan, pasti ada tujuan tertentu yang menyebabkan seorang vampir mengunjungi kamar gadis manusia di tengah malam begini. Naruto tersentak akan analisanya. Jika seorang vampir mendatangi manusia, berarti jawabannya hanya ada satu.

"Apa yang kaulakukan di sini?" Sasuke menatap nyalang seorang sahabat lama yang sudah sepuluh tahun tidak bertemu.

"Aku datang untuk membalas dendam!" Naruto menjawab dengan tak kalah tegas.

Sasuke melebarkan matanya sedikit lalu kembali datar, "Jadi kau ingin menggunakan cara licik?"

Taring Sasuke memanjang seiring dengan emosi yang perlahan meluap. Ia tak habis pikir jika Naruto datang dengan tujuan membalas dendam padanya dan memanfaatkan keberadaan Sakura. Ya, pria bersurai raven ini menyangka jika Naruto menggunakan Sakura sebagai sandera mengingat keberadaan pria itu saat ini di kamar Sakura.

"Jangan samakan aku denganmu! Makhluk vampir rendahan!" Naruto berseru lantang hingga menyebabkan Sakura yang terlelap merasa terusik.

"Lalu, kenapa kau bisa berada di kamar Sakura?" Sasuke menaikkan volume suaranya sedikit dengan mata berubah menjadi merah-hitam yang disebut sharingan.

Sayup-sayup Sakura mendengar suara Sasuke yang terdengar marah. Perlahan gadis itu membuka mata dan melihat dua siluet manusia berada di depan pintu balkon kamar. Sakura yang masih belum sadar tidak begitu paham akan apa yang terjadi. Ia mengucek mata beberapa kali hingga penglihatannya jelas dan menangkap sosok Sasuke serta sosok manusia dengan kuping dan ekor aneh berdiri di hadapan Sasuke.

"Cih! Bagaimana bisa aku membiarkan seorang manusia dimangsa oleh makhluk sepertimu! Tidak akan kubiarkan Sakura menjadi korban taring sialanmu itu!" Naruto berseru lantang dan menerjang Sasuke dengan kepalan tinju mengarah lurus ke wajah Uchiha bungsu tersebut.

"Sasuke-kun!" Sakura memekik kaget ketika melihat kekasihnya akan dipukul oleh makhluk asing yang tak ia kenal.

Sasuke berhasil menghindari tinjuan Naruto dengan mudah. Ia melirik ranjang Sakura, gadisnya sudah terbangun dan memandangnya dengan ekspresi kaget. Ia tidak bisa berkelahi di sana, bisa-bisa rumah Sakura menjadi hancur karena kekuatannya dan Naruto.

"Kau membangunkan Sakura," desis Sasuke tajam.

"Tidak akan kubiarkan kau menghisap darah Sakura-chan!"

Sasuke mengernyitkan alis tak suka ketika Naruto memanggil Sakura dengan panggilan akrab. Ia melompat dan berdiri di atap rumah kosong yang berada di samping rumah Sakura setelah berhasil menghindari tendangan Naruto.

"Kau tetap saja lemah," ujar Sasuke sinis dengan wajah datar.

Naruto menggeletukkan gigi kesal, "Teme!"

Melihat Naruto yang akan melompat, Sasuke berlari dan melompati atap-atap rumah guna memancing Naruto agar menjauh dari rumah Sakura. Sementara itu, Sakura yang tidak mengerti apa-apa berlari menuju balkon kamar dan melihat Sasuke yang melompat dikejar oleh Naruto.

"Sasuke-kun!" panggilnya, namun Sasuke sama sekali tidak menoleh.

Sakura panik. Ia takut terjadi apa-apa pada kekasihnya itu. Tanpa pikir panjang, gadis yang masih memakai piyama kotak-kotak merah muda itu turun dari balkon kamar dengan merambat di dinding. Tidak begitu sulit, mengingat Sakura adalah gadis yang tomboy dan ia pernah beberapa kali kabur dari rumah karena sister complex Sasori.

Sakura memanjat pagar rumah tanpa kesulitan. Ia berlari mengikuti Sasuke dan Naruto. Rasanya ia benar-benar mengkhawatirkan Sasuke. Entah bagaimana caranya, tetapi Sakura bisa merasakan aura berbahaya dari makhluk berekor yang mengejar Sasuke. Ia tidak ingin terjadi apapun pada kekasihnya. Sakura harus bisa menghentikan perkelahian kedua pria tersebut.

Sakura kelelahan karena berlari. Ia kehilangan jejak Sasuke. Tangan gadis itu bertumpu di lutut sambil mengatur napas. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ia tidak tahu di mana Sasuke berada.

"Sial!" dengus Sakura, kesal.

Sakura berdiri tegak dan menghapus keringat yang membasahi dahi. Ia mendongak memandang bulan purnama yang begitu indah. Saat memerhatikan bulan itu, tiba-tiba sebuah ide muncul di otaknya.

"Aku harus memberitahu keluarga Sasuke-kun. Mereka pasti bisa menolongnya!" dengan semangat yang kembali muncul, Sakura berlari menuju bukit Konoha.

.

.

.

.

.

.

Gulp!

Sakura menelan ludah ketika sudah sampai di kaki bukit. Ia memandang ngeri pepohonan rimbun yang ada di depannya. Di dalam sana pasti gelap. Tentu saja demikian, karena itu adalah hutan terlarang yang diceritakan oleh Ino beberapa waktu lalu. Dan sekarang ia justru berada di depan hutan untuk menemui keluarga vampir. Apa ia sudah gila?

Gulp!

Sekali lagi Sakura menelan ludah karena takut dan gugup. Akan tetapi, demi Sasuke apapun akan ia lakukan. Ia tidak ingin menyesal tanpa melakukan apapun. Sakura tidak ingin kehilangan Sasuke. Sungguh tragis jika mereka berpisah padahal baru memulai hubungan.

"Aku mungkin sudah gila!"

Seiring teriakannya yang terdengar putus asa, Sakura berlari masuk ke dalam hutan. Ia terus berlari dan tidak berani memandang ke sekeliling. Gadis itu hanya fokus pada jalan di depan hingga ia terjatuh karena tersandung batu.

"Ittai!"

Sakura meringis memegangi lutut yang berdarah cukup banyak. Celana piyama yang pendek membuat kulit lututnya mudah tergores karena terjatuh cukup keras. Sekarang ia merasakan nyeri begitu hebat pada lutut kanannya itu.

Srek srek...

Sakura mendengar suara daun kering yang diinjak. Ia merasa ketakutan hingga keringat dingin turun dari pelipisnya. Jika yang mendekat ke arahnya saat ini adalah binatang buas, Sakura akan sulit berlari karena lutut yang terluka. Dan jika yang muncul adalah hantu, Sakura lebih takut akan hal itu. Gadis itupun hanya mampu berdoa dalam hati sambil memejamkan matanya.

Tap.

Tap.

Tap.

Suara langkah kaki itu terdengar semakin dekat dan berhenti. Sakura membuka matanya perlahan. Jantungnya berdetak kencang begitu melihat sosok yang begitu pucat berdiri beberapa langkah di hadapannya. Pria tampan itu berdiri menatap Sakura dengan wajah datar. Ekspresinya mengingatkan Sakura pada seseorang.

"Wangi darah yang sangat manis."

"Astaga! Jangan katakan bahwa ia adalah vampir!"

Sakura mengangkat bahunya kaget mendengar pernyataan dari suara berat yang terdengar menakutkan. Ia menelan ludah susah payah dan takut setengah mati menatap pria yang sekarang tersenyum memandangnya. Senyum itu bahkan terlihat begitu menyeramkan bagi Sakura. Rasanya ia ingin berteriak memanggil Sasuke, tapi kekasihnya itu entah berada di mana. Yang jelas Sakura tahu jika keadaannya saat ini tidak aman.

.

.

.

.

.

.

Bugh!

"Aku akan mengalahkanmu kali ini! Dan berjanjilah untuk tidak mendekati Sakura-chan lagi!"

Naruto berhasil meninju wajah Sasuke hingga pria itu terpental dan menabrak pohon di belakangnya sampai tumbang. Sasuke mendecih, lalu mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Ia tidak menyangka bahwa Naruto memiliki kekuatan sebesar ini. Bocah rubah itu pasti sudah berlatih keras hingga bisa memukulnya dengan kuat.

Sasuke berdiri dan melemaskan lehernya. Ia tidak akan main-main lagi karena hal ini menyangkut Sakura. Pemuda itu tidak akan membiarkan Naruto mendekati Sakuranya lagi. Ia akan memusnahkan siluman rubah itu bagaimanapun caranya, meski mereka adalah sahabat.

"Sakura adalah milikku!"

Sasuke berlari dengan cepat dan tiba-tiba sudah berada di hadapan Naruto dengan tangan yang dialiri kekuatan listrik. Naruto sangat terkejut, namun ia memiliki refleks yang cepat dengan menghindari chidori Sasuke. Sasuke menoleh menghadap pohon di mana Naruto berhasil menghindar dengan melompat ke sana.

Naruto mengumpulkan chakra di tangan kanan hingga membentuk gumpalan angin berwarna biru. Ia melompat dan bergerak cepat menuju Sasuke yang juga berlari ke arahnya. Kejadian ini nampak persis seperti sepuluh tahun yang lalu.

"Tidak akan kubiarkan kau memiliki Sakura-chan! Rasengan!"

.

.

.

.

.

.

"A-apa kau va-va-va-va—"

"—Vampir? Ya, aku vampir."

Sakura yakin saat ini wajahnya sudah sangat pucat karena ketakutan. Ia tidak mengenali vampir di hadapannya ini. Jadi, ia tidak tahu apakah vampir ini baik atau jahat.

Vampir yang memakai kaus hitam itu berjalan mendekati Sakura membuat gadis itu mencoba mundur, tetapi karena kaki yang terluka membuat Sakura tidak dapat bergerak. Ia sekarang hanya bisa pasrah melihat lelaki di hadapannya berjongkok dan memandang lukanya yang berdarah dengan wajah datar. Sakura tidak berani menatap sang vampir, ia memejamkan mata dengan tangan meremas piyamanya.

"Eh?"

Sakura membuka mata ketika merasakan sebuah kain menyentuh lukanya. Gadis bernetra hijau daun itu melihat vampir laki-laki di hadapannya ini sedang membalut lutut Sakura yang terluka. Karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi, Sakura hanya terdiam memerhatikan.

"Tidak usah takut, Sakura-chan. Aku tidak akan memakanmu. Lagipula jika aku sampai menyentuhmu, kurasa aku akan mati di tangan Sasuke."

Sakura sekali lagi dibuat terkejut mendengar apa yang diucapkan pemuda asing ini, ditambah pemuda itu tersenyum begitu ramah padanya. Apa Sakura hanya berhalusinasi saja? Tapi, ia yakin semua ini adalah nyata.

"Sasuke?" Sakura menggumamkan nama kekasihnya, "ah! Apa kau keluarganya Sasuke-kun? Dan bagaimana kau bisa mengetahui namaku?" lanjut Sakura dengan nada menuntut serta bingung.

"Ya, aku kakaknya. Namaku Itachi. Dan bagaimana aku bisa tahu namamu karena kau adalah pacar adikku." Itachi mengusap kepala Sakura pelan membuat gadis itu mengeluarkan semburat merah di wajah.

Sakura hampir saja tenggelam dengan perasaan bahagianya jika saja ia tidak ingat tujuan awal pergi ke bukit.

"Itachi-nii, aku butuh bantuanmu!" Sakura mencengkram kaus Itachi membuat pria itu tersentak kaget.

"Bantuan apa?" tanya Itachi bingung.

"Tolong selamatkan Sasuke! Dia sedang berkelahi dengan makhluk yang memiliki ekor berwarna kuning!"

DUAAAARRR!

Sebuah ledakan besar dan goncangan tanah membuat Sakura memekik kaget. Sedangkan Itachi menoleh ke arah sumber ledakan dan mendesah mengerti. Ia melepaskan cengkraman tangan Sakura lalu menggendong Sakura ala bridal style.

"I-Itachi nii-san," cicit Sakura karena bingung dengan apa yang dilakukan Itachi.

Itachi menatap Sakura dan tersenyum, "Aku mengerti. Kita akan menemui baka otouto itu."

Lalu Sakura sekali lagi memekik kaget karena Itachi mendadak berlari dengan cepat. Ia benar-benar tidak habis pikir, kenapa berhubungan dengan vampir membuat jantungnya nyaris copot terus?

.

.

.

.

.

.

"Hah... Hah... Hah..."

Sasuke dan Naruto terlihat kelelahan. Keadaan keduanya tampak tidak begitu berbeda. Meskipun mereka mengeluarkan kekuatan yang besar, tapi luka keduanya tidak begitu parah. Mereka bahkan masih dapat berdiri dengan gagah.

"Aku berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu. Jangan meremehkanku, teme!" Naruto mengusap hidungnya dengan ibu jari dan menunjuk dirinya dengan bangga.

"Hn," sahut Sasuke dengan seringai terlukis di bibir. Meskipun begitu, ia mengakui dalam hati jika Naruto sudah bertambah kuat bahkan bisa menandinginya.

"Mungkin awalnya aku datang untuk balas dendam, tapi kali ini aku akan mengalahkanmu untuk Sakura-chan!" Naruto merilekskan diri dan memejamkan mata.

"Apa hubunganmu dengan Sakura?" Sasuke begitu kesal akan kata-kata Naruto yang terdengar seperti sudah mengenal lama Sakura. Ia pun membuka telapak tangan hingga sebuah cahaya muncul beserta katana di genggaman Sasuke.

"Karena Sakura-chan adalah penolongku dan gadis yang aku sukai!" Naruto membuka matanya yang tampak seperti kucing dengan warna kuning keemasan, ia meluncur dengan cepat ke arah Sasuke dengan tinjunya.

Sasuke menahan tinju Naruto dengan katana. Jarak wajahnya dengan Naruto begitu dekat sehingga ia bisa melihat perubahan sempurna Uzumaki Naruto dalam mode sage.

"Cih!" Sasuke berdecih dan kemudian melommpat menjauh, begitu pula Naruto.

"Walaupun kau adalah sahabatku, tapi tidak akan kubiarkan kau menyentuh gadis yang kusukai!" seruan lantang Naruto membuat Sasuke menatapnya kesal.

Sasuke mengayunkan pedangnya dan menyampirkan ke belakang pinggang. Ia memandang Naruto dengan angkuh serta aura mencengkam. Pria rubah itu sudah mengambil jalan yang salah dengan menantang Sasuke karena Uchiha Sasuke juga tidak akan menyerahkan Sakura begitu saja.

"Kau banyak bicara!"

Sasuke meluncur dengan cepat dan memukul Naruto hingga siluman rubah itu terpental dan menghantam tanah hingga hancur. Debu dari tanah yang tandus akibat pertarungan mereka berterbangan dengan cukup pekat. Satu hal yang pasti, jangan pernah remehkan kekuatan Uchiha Sasuke ketika ia marah.

Naruto merintih kesakitan dan bangkit berdiri lalu kembali membalas serangan Sasuke. Tidak ada yang kelihatan mau mengalah. Keduanya sama-sama keras kepala untuk melindungi Sakura yang mereka klaim sebagai milik mereka. Mereka berdua pun tidak sadar jika Itachi dan Sakura baru saja tiba di medan pertarungan.

Itachi membulatkan mata melihat arena pertarungan yang sangat kacau. Pohon-pohon tumbang dan tanah pun hancur. Keadaan ini lima kali lipat lebih parah dibanding ketika ia menyaksikan Sasuke dan Naruto bertarung terakhir kalinya.

Sasuke dan Naruto tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi, kalau tidak bisa saja bukit ini hancur oleh kekuatan mereka berdua. Itachi menurunkan Sakura dan merenggangkan otot tangannya sebentar. Sementara itu Sakura menatap ngeri arena pertarungan yang lebih mirip seperti kawasan yang baru saja diterjang angin tornado.

"Sakura-chan, kau tetap di sini. Aku akan menghentikan mereka." Itachi melirik Sakura dan bersiap pergi menghentikan dua pria yang masih adu jotos.

"Ta-tapi," cicit Sakura yang khawatir memandang Itachi.

"Tenang saja. Aku sudah terbiasa melakukan hal ini." Itachi mengelus kepala Sakura dan tersenyum lembut kemudian menghilang dari pandangan Sakura.

"Semoga Itachi-nii berhasil menghentikan mereka." Sakura menyatukan telapak tangannya seperti berdoa.

Dari jauh Sakura bisa melihat Itachi tiba-tiba muncul di antara Sasuke dan Naruto. Sulung Uchiha itu menghentikan pergerakan mereka dengan membuat sebuah pantulan sehingga Sasuke dan Naruto terpental cukup keras.

"Apa yang kau lakukan, Itachi!" Sasuke yang pertama kali berdiri menatap tajam kakakknya karena ikut campur dalam perkelahian.

"Tentu saja memisahkan kalian berdua," sahut Itachi tegas, kemudian ia menghadap Naruto yang berusaha bangkit, "halo, Naruto. Lama tidak berjumpa!" sapanya ramah.

"Halo, Itachi -nii. Kekuatan pantulanmu masih hebat seperti dulu," sahut Naruto dengan cengiran lebar.

"Dan kau sudah bertambah kuat, Naruto," balas Itachi.

"Minggir kau, Itachi!" teriak Sasuke dengan sharingan yang bertransformasi menjadi mangekyou sharingan.

"Sebaiknya hentikan semua ini," ujar Itachi.

"Berisik!"

"Sasuke-kun, hentikan!"

Sasuke menerjang Itachi dengan melayangkan tinju pada kakaknya itu, namun ia terkejut begitu melihat Sakura berdiri melindungi Itachi. Sasuke tidak sempat menghentikan gerakannya hingga membuat Sakura terpental jauh akibat tinjuan Sasuke. Itachi dan Naruto tidak kalah terkejut melihat Sakura yang berguling di atas tanah. Mereka bertiga lantas berlari menghampiri Sakura yang pingsan.

"Sakura!" Sasuke begitu panik melihat Sakura yang pingsan dengan darah dan luka di wajahnya.

"Apa yang kau lakukan, Sasuke?" Naruto berteriak marah dan hendak menghajar Sasuke kembali, namun berhasil dihentikan Itachi.

"Sebaiknya kita bawa Sakura ke mansion. Kurasa ibu bisa menyembuhkannya," ujar Itachi yang terlihat paling tenang di sana.

Sasuke mengangguk dan menggendong Sakura dengan hati-hati. Naruto sebenarnya tidak terima, tapi apa yang dikatakan Itachi benar. Kekuatan Sasuke itu sangat besar dan jika mengenai manusia pasti akan berakibat fatal. Oleh karena itu, kekuatan ibu Sasuke sangat dibutuhkan karena hanya ia yang mampu mengobati Sakura.

.

.

.

.

.

.

Brak!

Sasuke membuka pintu kamarnya kasar dan membaringkan Sakura di atas ranjang. Ia memandang pilu wajah kekasihnya yang penuh luka. Sasuke menyusuri tubuh Sakura dan menemukan sapu tangan Itachi membalut lutut kekasihnya. Sasuke membuka balutan sapu tangan itu dan miris melihat luka Sakura di sana.

Sungguh saat ini wangi darah Sakura sangat menggoda, namun Sasuke berusaha sekuat tenaga agar nafsu vampirnya tidak menguasai. Ia berusaha keras mengontrol diri dengan menggigit bibirnya sendiri. Sementara itu, Naruto memerhatikan Sasuke dalam diam. Jika Sasuke datang ke kamar Sakura untuk memakan gadis itu, mengapa saat ini Sasuke sama sekali tidak menyerang Sakura ketika gadis itu terluka dan mengeluarkan darah? Dan mengapa Sasuke menolong Sakura? Lalu, kenapa Sasuke memandang Sakura dengan ekspresi sedih begitu? Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua?

Pertanyaan di otak Naruto begitu banyak dan tak mampu terucap. Saat ini ia lebih memilih diam dan mengawasi Sasuke saja. Ia pun sebenarnya ragu jika Sasuke menghisap darah manusia karena setahunya keluarga vampir Uchiha tidak pernah menghisap darah manusia lagi sejak konoha berhasil dipertahankan dari iblis.

"Apa yang terjadi di sini?"

Suara lembut itu terdengar memasuki kamar Sasuke. Naruto dan Sasuke menoleh melihat Uchiha Mikoto dengan gaun tidur berwarna hitam masuk ke dalam kamar Sasuke diikuti Itachi.

"Aku tidak sengaja memukulnya," sahut Sasuke sambil berdiri memersilakan ibunya duduk di dekat Sakura.

Mikoto duduk di pinggir ranjang dan menatap Sakura meneliti, "Kau seharusnya lebih berhati-hati. Gadis ini adalah manusia."

"Maafkan aku," Sasuke menunduk menyesali perbuatannya.

Mikoto tersenyum dan menyentuh tangan Sasuke, "Jika kau ingin minta maaf, minta maaflah dengannya nanti setelah ia bangun. Saat ini biar ibu mengobatinya. Sebaiknya kau dan Naruto pergi membersihkan diri, luka kalian juga harus diobati."

"Baik, kaa-san,"

"Baik, baa-san,"

"Ayo ikut aku, Naruto," Itachi pergi dari kamar Sasuke diikuti Naruto. Sedangkan Sasuke masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya.

"Kau gadis yang sangat kuat."

Mikoto tersenyum lembut memandang wajah Sakura yang pingsan. Kemudian ia memancarkan kekuatannya pada telapak tangan dan menyembuhkan luka-luka Sakura.

.

.

.

.

.

.

"Kaa-san, bagaimana keadaan Sakura?" Sasuke langsung menghampiri ibunya yang baru saja keluar dari kamar pria itu.

"Apa Sakura-chan baik-baik saja?" Naruto ikut bertanya penasaran. Wajah siluman rubah itu sudah diobati oleh Itachi, terlihat dari beberapa plester menempel di sana.

Mendengar Naruto ikut bertanya mengenai keadaan pacarnya, Sasuke menatap tajam lelaki rubah itu. Naruto pun tak kalah tajam membalas tatapan Sasuke. Sepertinya aura permusuhan masih kental mengudara di antara mereka.

Mikoto tertawa kecil melihat tingkah laku kedua remaja di hadapannya, "Sepertinya ia adalah gadis yang sangat penting bagi kalian," ucapan Mikoto berhasil mengalihkan kedua pria yang sedang beradu tatapan tajam.

Naruto tersipu malu, sedangkan Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah lain. Uchiha Mikoto tersenyum lembut melihat reaksi anak bungsunya yang selalu terlihat dingin kali ini malu-malu karena seorang gadis manusia.

"Jadi namanya Sakura? Ia baik-baik saja. Saat ini biarkan ia istirahat dulu. Sebaiknya kalian juga beristirahat,"

"Arigatou, kaa-san," Sasuke berucap pelan namun begitu tulus hingga membuat Mikoto sedikit tertegun. Ibu dua anak itu tersenyum lembut membalas ucapan Sasuke. Ia pun berlalu menuju kamarnya setelah menepuk lembut pundak Sasuke.

Tanpa ada yang menyadari Sasuke tersenyum tipis. Ia lega karena tidak terjadi hal yang fatal terhadap Sakura dan sepertinya ibunya tidak begitu mempermasalahkan kehadiran Sakura yang notabenenya seorang manusia. Perasaan optimis pun perlahan muncul di sanubari Sasuke. Ia yakin keluarganya mampu menerima kehadiran gadis bersurai merah muda itu.

"Hei, Sasuke!" panggilan menyebalkan Naruto mengalihkan lamunan Sasuke. Pria dengan mata sekelam malam itu melirik Naruto dengan sebal.

"Aku akan tidur di kamar yang biasanya. Kalau Sakura-chan bangun segera panggil aku!" setelah berucap demikian Naruto bermaksud untuk pergi menuju kamar tamu yang memang biasa ia tempati ketika menginap di kediaman Uchiha.

Sasuke menghadap punggung Naruto, "Kenapa kau membiarkanku menjaga Sakura? Bukankah kau berpikiran bahwa aku akan memakannya?"

Naruto menoleh sedikit dan dengan cengiran lebarnya ia menjawab, "Aku yakin kau tidak akan melakukan hal itu. Hanya insting saja dan biasanya instingku tepat. Oyasumi!"

Sasuke mendengus mendengar jawaban Naruto. Jika dari awal pria rubah jadi-jadian itu mendengarkan Sasuke, maka Itachi tidak perlu repot membuat arena pertempuran Sasuke dan Naruto kembali seperti sedia kala dengan kekuatannya.

Menghiraukan kesialan kakaknya, Sasuke lebih memilih masuk ke dalam kamar dan menjaga Sakura yang terlelap dengan damai. Gadis itu sudah kelihatan lebih baik dari sebelumnya. Bahkan luka-luka yang menggores tubuhnya telah hilang tak tersisa. Sungguh hebat kekuatan Uchiha Mikoto dalam peyembuhan.

Sasuke menggenggam tangan Sakura. Ia terus memerhatikan wajah kekasihnya hingga perlahan rasa kantuk menyerang. Vampir tampan itu pun terlelap dengan genggaman tangan yang enggan ia lepaskan dari Sakura seolah gadis itu akan pergi meninggalkannya diam-diam.

.

.

.

.

.

.

Suara cicitan burung gereja menyapa indra pendengaran Sakura. Cahaya matahari yang sedikit merembes dari gorden tebal kamar Sasuke menyambut netra emerald-nya kala membuka mata. Gadis itu mengedipkan mata beberapa kali hingga tersadar bahwa ia tidak berada di kamarnya.

Sakura yang terkejut segera duduk sampai merasakan bahwa telapak tangannya digenggam oleh seseorang. Ia menoleh dan mendapati Sasuke yang tidur di pinggir ranjang sambil menggenggam tangannya. Wajah pria itu sangat tenang dan ketampanannya berubah berkali-kali lipat. Sakura bahkan tidak sadar jika wajahnya kini sudah memerah hanya dengan memandangi Sasuke.

Sasuke perlahan membuka mata dan yang pertama kali ia lihat adalah kekasihnya sedang menatap dirinya dengan wajah memerah. Namun, ia bersyukur Sakura sudah sadar dan kelihatan baik-baik saja.

"Ohayou, hime," Sasuke tersenyum menatap Sakura, masih dengan badan yang setengah terbaring di ranjang.

Sakura yang mendapati sikap lembut Sasuke menjadi salah tingkah. Ia dapat merasakan pipinya semakin menghangat padahal cahaya matahari begitu minim di kamar itu.

"O-ohayou, Sasuke-kun," sahut Sakura membuang muka sambil menggaruk pipinya dengan tangan yang tak digenggam Sasuke.

Sasuke tersenyum geli melihat tingkah Sakura yang salah tingkah. Ia lantas duduk di pinggir ranjang berhadapan dengan gadisnya. Sasuke mengusap pipi Sakura dengan lembut. Sakura semakin dibuat salah tingkah.

"Maafkan aku," ujar Sasuke dengan datar. Meskipun begitu, Sakura tahu jika kekasihnya sangat menyesal.

Gadis itu menoleh dan matanya bersirobok dengan onyx yang selalu berhasil menjeratnya. Dengan senyum lembut ia mengangguk.

"Tidak apa. Tapi, perkelahian itu bukan hal yang baik, Sasuke-kun," sahut Sakura.

"Aku mengerti. Tapi, tidak akan kubiarkan seorang pun melukaimu," ujar Sasuke tegas.

Sakura tertegun. Ia merasa sangat berarti bagi Sasuke. Pria dingin yang mempunyai berbagai macam kejutan ini memang selalu mampu membuat jantungnya berdegup dengan tidak normal.

Keduanya saling menatap penuh kasih sayang. Hingga perlahan Sasuke memajukan wajahnya untuk meraih bibir Sakura yang selalu menggoda. Sakura secara refleks menutup mata menanti bibir tipis Sasuke menyapa bibirnya di pagi hari. Bibir keduanya hampir bersentuhan jika saja dobrakan pintu kasar oleh Naruto tidak menginterupsi kegiatan mereka.

Sakura mendorong bahu Sasuke agar menjauh. Jantungnya berdegup dengan kencang, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Sungguh ia benar-benar malu saat ini. Sementara itu, Sasuke menahan kesal karena ulah Naruto. Rubah sialan itu telah merusak pagi romantis Uchiha bungsu yang jarang sekali ia dapatkan.

"Sakura-chan! Kau sudah bangun?" Naruto tidak memedulikan aura membunuh dari Sasuke. siluman rubah itu langsung berlari ke arah ranjang Sakura dan memegang bahu gadis itu dengan cemas.

Sakura menatap Naruto dengan bingung. Pasalnya ia tidak mengenali lelaki bersurai pirang yang saat ini sedang menatapnya dengan cemas.

"Kau... Siapa?" tanya Sakura bingung.

Naruto tertohok mendengar pertanyaan Sakura yang tidak mengenalinya. Namun, ia tersadar bahwa itu adalah hal yang wajar karena Sakura mengenali Naruto dalam wujud rubah kecil.

"Aku Shapire!"

"Shapire?" Sakura memandang tidak percaya Naruto. Mana mungkin manusia di hadapannya ini adalah Shapire yang jelas-jelas adalah seekor rubah.

"Ya, aku Shapire! Namaku yang sebenarnya adalah Naruto, Uzumaki Naruto," Naruto menunjuk perban di tangannya membuat Sakura melebarkan mata, "terima kasih karena sudah menolongku. Berkatmu aku masih bisa hidup hingga saat ini."

"Ka-kau, benar-benar Shapire-chan?" Sakura menatap Naruto tidak percaya. Naruto mengangguk dengan pasti.

"Dia itu siluman rubah," Sasuke menyahut dengan malas.

Sakura menoleh pada Sasuke karena terkejut dan kembali memandang Naruto. Ia teringat sosok laki-laki berekor yang berkelahi dengan Sasuke tadi malam.

"Jadi, kau yang semalam berkelahi dengan Sasuke-kun?" Sakura memekik kaget.

"Aku hanya ingin melindungimu dari Sasuke teme," jawab Naruto.

Sakura menghela napas mendengar jawaban Naruto, "Kau tidak perlu sampai seperti itu. Lagipula, Sasuke-kun tidak mungkin melukaiku, Naruto,"

"Kenapa?" Naruto menyahut cepat karena tidak mengerti dengan keadaan sebenarnya.

"Karena Sasuke-kun adalah kekasihku," ujar Sakura dengan senyum manisnya.

"APA?" Naruto memekik kaget dengan mulut menganga. Ia menatap Sasuke dan Sakura bergantian. Sementara itu, Sasuke menyeringai menang.

"Kau yakin, Sakura-chan? Kau tidak sedang di-genjutsu oleh Sasuke 'kan?"

Sakura menggeleng dan lagi-lagi tersenyum, "Tidak. Sudah jangan bicarakan hal ini. A-aku malu!"

Sakura membuang muka menutupi wajahnya yang memerah. Sasuke menyeringai senang. Sedangkan Naruto menggigit jarinya karena syok. Siluman rubah itu mendengus dan tertawa riang.

"Baiklah! Meskipun kau sudah menjadi kekasih Sasuke, aku tetap akan menyukaimu, Sakura-chan!" seru Naruto sambil memeluk Sakura.

Sakura kaget dengan perlakuan Naruto. Gadis itu merona tanpa sadar. Sasuke sangat kaget melihat Naruto yang tiba-tiba memeluk Sakura. Pemuda berambut raven itu langsung menarik Naruto agar melepaskan pelukannya.

"Jangan coba-coba menyentuh Sakuraku!" ujar Sasuke kesal.

"Biarkan aku memeluk Sakura-chan! Biasanya juga Sakura-chan memelukku setiap pagi!" Naruto berusaha melepaskan diri dari Sasuke.

Sasuke yang mendengar penuturan Naruto semakin kesal. Ia menjitak kepala pirang itu dengan keras. Sementara Sakura tertawa geli melihat kedua sahabat yang saling memperebutkannya.

.

.

.

.

.

.

Sasori mengucek mata sambil berjalan menuju kamar Sakura. Pria bersurai merah itu tidak menyadari jika Sakura menghilang sejak semalam. Dengan aktivitas seperti biasa, kakak dari satu adik itu membuka kamar Sakura tanpa mengetuk terlebih dahulu.

Masih setengah sadar, Sasori duduk di ranjang Sakura dan menggoyangkan sesuatu dibalik selimut.

"Sakura-chan, bangun! Temani aku belanja sehabis sarapan,"

Tidak ada jawaban dari Sakura. Sasori mengernyitkan alis dan menggoyangkan sesuatu dibalik selimut lagi.

"Sakura-chan! Ayo bangun!"

Sama sekali tidak ada sahutan. Dengan penasaran Sasori membuka selimut Sakura dan terkejut melihat yang berada dibalik selimut adalah guling. Lalu, ke mana perginya adik semata wayang itu? Sasori panik. Ia menoleh ke pintu balkon dan lagi-lagi terkejut melihat pintunya terbuka.

"Sakura-chan!"

Sasori berdiri di balkon kamar Sakura, namun tidak menemukan adanya tanda-tanda gadis itu. Ia kembali masuk ke dalam kamar Sakura dan memeriksa kamar mandi, namun gadis itu tidak ada. Sasori berlarian keliling rumah guna mencari adik kesayangannya, tetapi Sakura tetap tidak dapat ditemukan.

Dengan hampir menangis, Sasori berlari keluar rumah dan saat itu matanya melotot melihat Sakura masih dengan piyamanya berjalan diapit oleh Sasuke dan seorang pria berambut pirang. Ketiganya tampak sedang mengobrol akrab. Kepala bersurai merah Sasori semakin mengembuskan asap berbahaya.

"Ni-nii-chan!" Sakura merasakan firasat buruk ketika melihat Sasori berdiri tegap dengan wajah dingin dan hidung kembang kempis.

"Oh, Sasori nii-chan! Ohayou!" Naruto menyapa Sasori riang sambil menepuk-nepuk bahu pria itu.

Sasori melotot melihat bahunya yang ditepuk oleh Naruto. Sasuke menghela napas karena sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Sasori nii-chan, mulai saat ini kau tidak perlu khawatir pada Sakura-chan. Aku akan selalu menjaganya karena aku menyukai Sakura-chan!" seru Naruto lantang dengan ibu jari mengacung sempurna.

Sasori semakin mengembang kempiskan hidungnya hingga terasa asap keluar dari sana. Sakura tersenyum canggung. Sasuke menghela napas sekali lagi.

"Kami permisi," Sasuke membungkukkan badan sedikit lalu menarik Naruto pergi.

Naruto melambaikan tangannya pada Sasori dan Sakura. Naruto sama sekali tidak menyadari jika Sasori seperti gunung merapi yang akan meletus. Melihat kakaknya yang murka, Sakura secara perlahan pergi diam-diam.

"Bocah-bocah tengik sialan! Beraninya menculik Sakuraku yang manis!"

Burung-burung gereja yang bertengger di kabel tiang listrik pun berterbangan mendengar teriakan murka Sasori. Pagi yang menyebalkan, ne Sasori-kun?

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Area bacot author:

Huwaaaaa! Maaf ane telat banget ini updatenya. Kurang memuaskan ya chapnya? Iya ane tau, maaf ya readers~ huhu. Sibuk banget di dunia nyata. Kerjaan ane menguras waktu. Maaf banget nggak bisa bales review kalian kali ini. tapi, ane bener-bener terima kasih atas semua review kalian. Itu hal yang mendorong ane untuk tetep usahain update penpik ini.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Ditunggu reviewnya untuk chapter ini ya..

Jaa!

:*