Uchiha Sasuke sebelumnya tidak pernah seperti ini. Di tengah terik matahari ia memilih berjalan kaki menuju kediaman kekasih tercinta, Haruno Sakura. Jikalau bukan karena Sakura yang meminta ia datang dengan cara normal layaknya manusia, Sasuke sudah pasti tidak mau melakukan hal merepotkan begini.
"Sepertinya aku harus menerima tawaran Itachi menggunakan mobil manusia," Sasuke menghapus keringat yang turun di pelipis dengan gerakan sensual membuat wanita yang kebetulan melihat menahan napas.
Lelaki itu bukan tidak mengetahui ketika sedang ditatap penuh damba oleh wanita di sekitarnya, namun ia lebih memilih tak peduli. Ia pun tak habis pikir kenapa ia mau saja menuruti permintaan Sakura yang menyuruhnya membeli es krim di distrik yang penuh dengan toko-toko dan hiruk pikuk manusia. Dan mengapa berhadapan dengan mata memelas gadis itu hati Sasuke terenyuh begitu saja? Ini mengerikan.
"Cih! Tahu begini aku tidak akan mau menuruti permintaannya," Sasuke mendumel sambil berjalan cepat ke sebuah gang sepi guna menghindari beberapa gadis yang menguntit sejak ia keluar dari toko es krim. Kantong plastik yang berisi berbagai macam es krim itu ikut berbunyi berisik di gang sepi mengikuti langkah kaki Sasuke yang berjalan cepat.
"Tidak ada cara lain. Aku tidak peduli jika Sakura marah padaku."
Berakhirnya dengan ucapan Sasuke, sebuah cahaya muncul dari tubuhnya. Perlahan cahaya itu semakin terang dan menghilang begitu saja seperti ditelan oleh lubang hitam. Gadis-gadis yang menguntitnya pun terlihat kebingungan ketika mereka tiba di gang sempit itu ternyata tidak menemukan Sasuke di sana.
"Ke mana perginya pria tampan tadi?"
.
.
.
.
.
.
Standard Disclaimer Applied
WARNING!
AU, Typo, Miss-Typo, OOC, Absurd dll
.
.
.
.
.
.
Genre: Romance and Fantasy
Rate T
.
.
.
.
.
.
Pretty Man: The Series
By chocoaddicted
.
.
.
.
.
.
Enjoy, Minna-san!
.
.
.
.
.
.
Naruto sedang tengkurap sambil membaca majalah olahraga milik Sasori di ruang keluarga kediaman Haruno. Mulutnya sibuk mengunyah keripik kentang, sementara kipas angin menerbangkan rambut pirangnya yang berkilauan terkena sinar matahari. Ia merasa berada di rumahnya sendiri karena ia sudah tinggal di sana selama hampir tiga minggu.
SRING!
Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dan menghilang dengan cepat. Uchiha Sasuke berdiri di belakang Naruto sambil mengernyitkan alis melihat pria pirang itu berada dalam posisi santai di rumah kekasihnya. Lagipula, di mana kekasihnya itu? Kenapa ia membiarkan orang asing tinggal di kediamannya seperti ini?
"Sakura-chan, aku haus! Bisakah kau memberiku sebotol cola?" Naruto berteriak tanpa mengalihkan matanya dari majalah yang ia baca. Tingkah lakunya seperti tuan rumah saja.
CTAK!
Perempat siku mulai muncul di dahi Sasuke ketika mendengar bocah siluman rubah itu memerintah Sakura seenaknya.
"Baik! Tunggu sebentar!"
CTAK!
Mendengar sahutan Sakura yang Sasuke yakin sedang berada di dapur membuat perempat siku bertambah di dahi Sasuke. Kenapa gadis itu mau menuruti permintaan Naruto? Tak lama kemudian Sakura muncul dari dapur dengan mengenakan celemek berenda warna merah muda yang membuat gadis itu terlihat manis. Sasuke semakin dimakan api cemburu menyadari bahwa Narutolah yang lebih dulu melihat penampilan Sakura semanis itu.
"Loh? Sasuke-kun kapan datangnya? Kok aku tidak tahu?" Sakura memandang bingung pada sosok kekasihnya.
Tatapan polos Sakura membuat Sasuke ingin mencium gemas pipi chubby gadis itu. Tetapi, sebuah suara cempreng menyebalkan menginterupsi khayalan Sasuke.
"Teme, kau sudah beli es krimnya?" Naruto memandang gembira kantong plastik yang Sasuke pegang. Ia memang yang meminta Sakura untuk menyuruh Sasuke membelikan es krim karena ia tahu Sasuke tidak akan pernah menolak permintaan gadis itu.
"Sudah," sahut Sasuke datar dengan seringai di wajah.
"Wah! Aku tidak sabar ingin memakannya!"
"Ini," Sasuke menyodorkan kantung berisi es krim.
"Teme, kau baik sekali!"
Naruto menghampiri Sasuke dengan riang gembira. Cengiran lebar siluman rubah itu nampak jelas di mata Sasuke. Namun, sebelum Naruto berhasil mengambil kantung es krim yang berada di tangan Sasuke, vampir itu sudah terlebih dahulu melayangkan tinjunya di wajah Naruto membuat ia terpental menabrak tembok. Sakura yang melihat Naruto terpental dan menabrak tembok hanya dapat ternganga kaget.
"Beraninya kau mengerjaiku!" desis Sasuke sambil menginjak kepala Naruto dengan seringai menyeramkan di bibir.
"Maafkan aku," ujar Naruto dengan darah yang mengalir di hidung dan bibir. Sungguh suatu kesalahan besar mengerjai Uchiha bungsu.
.
.
.
.
.
.
"Sa-Sasuke-kun, maafkan aku,"
Sakura dan Naruto duduk bersimpuh di hadapan Sasuke yang sedang duduk dengan angkuh pada sofa ruang keluarga Haruno. Satu-satunya gadis di sana memandang takut kekasihnya yang terlihat marah. Wajah Sasuke begitu angkuh, dingin dan menyeramkan dikala marah. Sungguh ini merupakan hal yang tidak pernah terlintas di benak Sakura.
"Sakura-chan tidak salah. Akulah yang salah telah meminta Sakura-chan menyuruh Sasuke membeli es krim di distrik yang banyak manusianya. Maafkan aku,"
Naruto menghadap Sakura dan memegang tangan gadis itu dengan ekspresi bersalah. Sementara Sakura mengedipkan mata beberapa kali menyadari tangannya digenggam oleh pria selain Sasuke.
PLETAK!
"Ittai~!" Naruto meringis dengan posisi terlentang karena baru saja Sasuke melemparkan remote TV ke wajahnya.
"Berani kau menyentuh Sakura lagi, akan kubunuh kau," desis Sasuke tajam lalu kembali duduk dengan kaki menyilang angkuh.
Sakura menatap kasihan Naruto, ingin menolongnya tapi aura intimidasi Sasuke membuatnya urung melakukan hal itu.
"Kenapa kau membiarkan siluman rubah ini tetap tinggal di rumahmu, Sakura?" suara datar dan sepasang onyx yang menatapnya tajam membuat Sakura menelan ludah agak susah.
"Ka-karena Na-Naruto tidak punya tempat tinggal," Sakura melirik Sasuke yang masih memandangnya tajam dengan dagu yang diangkat, "ja-jadi aku pikir tidak apa-apa ia tinggal di sini sementara waktu," cicitnya semakin ketakutan melihat rahang Sasuke mengeras.
"Kau seharusnya mengerti jika kau sudah memiliki kekasih dan tidak sepantasnya tinggal bersama seorang pria yang bahkan tidak kau kenal," ujar Sasuke melipat kedua tangannya.
Sebenarnya ia tidak menyalahkan Sakura yang mau menampung Naruto di rumah gadis itu. Ia sangat tahu jika gadisnya mempunyai hati yang lembut dan tentu saja Sakura tidak akan membiarkan seseorang seperti Naruto hidup berkeliaran di luar sana dengan kondisi tidak memiliki apapun.
"Maafkan aku," Sakura menunduk menyesali perbuatannya membuat Sasuke terenyuh dan kasihan melihat kekasihnya bersedih.
Sasuke bangkit dari duduknya dan berjongkok di hadapan Sakura. Ia mengangkat dagu Sakura agar mata mereka saling menatap. Gadisnya tetaplah cantik meski raut penyesalan tercetak jelas di hijau bening matanya. Sasuke benar-benar telah terperosok semakin dalam untuk mencintai Sakura.
"Kau mengerti 'kan apa yang kurasakan jika melihat kau bersama pria lain?" tanya Sasuke selembut yang ia bisa meski yang keluar tetaplah suara yang datar.
"Ta-tapi, Naruto itu sahabatmu," sahut Sakura mencoba meminta pengecualian.
"Dia bukan sahabatku," sahut Sasuke malas dan melepas genggaman tangannya di dagu Sakura, lalu ia berdiri menghampiri Naruto yang sedang mengusap dahinya. Sakura menatap bingung Sasuke.
"Jahat sekali kau tidak mau mengakui aku," kata Naruto dengan sebal.
"Cih!" Sasuke berdecih dan menyeret Naruto menghilang bersama dengan dirinya. Sakura semakin dibuat tak mengerti.
.
.
.
.
.
.
Esok paginya Sasori baru saja kembali dari pasar dengan membawa beberapa kantung belanja. Ia melewati rumah kosong yang berada di samping rumahnya kini terlihat sudah dihuni oleh orang lain. Sebuah truk barang terparkir di halaman rumah tersebut dan terlihat beberapa pria sibuk mengangkat kardus serta furniture ke dalam rumah bergaya minimalis.
Sasori tersenyum senang karena akhirnya ia akan memiliki tetangga baru. Lantas pria bersurai merah itu cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan mendapati Sakura yang baru saja bangun tidur sedang minum di depan kulkas. Gadis itu masih setengah sadar dengan rambut berantakan dan piyama yang kusut.
"Sakura-chan!" pekik Sasori bahagia hingga membuat Sakura tersedak kaget.
"Kau mengagetkanku, onii-chan!" Sakura mengelap dagunya yang basah karena air minum yang tumpah.
"Maaf," Sasori terkekeh dan meletakkan kantung belanja di meja pantry.
"Tidak apa," sahut Sakura sambil meletakkan gelas. Ia melirik Sasori yang tampak bersemangat memulai acara masak-memasaknya, "ada apa nii-chan? Sepertinya kau bahagia sekali?" tanya Sakura penasaran.
Sasori meletakkan panci berisi air di atas kompor sebelum menjawab pertanyaan Sakura, "Kita punya tetangga baru!"
"Serius? Rumah kosong keluarga Inuzuka akhirnya terbeli juga?" sahut Sakura tak kalah antusias.
Sasori mengangguk dan memasukkan bubuk agar-agar serta gula ke dalam panci, "Dan sebaiknya setelah sarapan kita menyambut mereka. Aku akan membuat puding cokelat untuk tetangga baru kita,"
"Mereka pasti akan menyukainya karena puding buatan onii-chan nomor satu di Konoha!" Sakura mengangkat jempolnya ke arah Sasori membuat pria itu semakin melambung tinggi.
"Terima kasih!" Sasori memeluk adiknya dengan mata berkaca-kaca saking bahagianya. Inilah yang paling ia suka, saat Sakura memuji dirinya rasanya lebih bahagia dari menemukan harta karun, "mandi sana. Kau bau asem! Nanti kita berdua akan berkunjung ke rumah tetangga baru, jangan sampai mereka mencium baumu ini,"
"Onii-chan!" Sakura memajukan bibirnya kesal sementara Sasori tertawa senang sudah mengerjai adiknya.
.
.
.
.
.
.
Truk barang berwarna perak itu baru saja keluar dari halaman rumah tetangga baru keluarga Haruno. Sasori dan Sakura saat ini berada di depan rumah kosong yang sekarang sudah diisi penghuni baru dengan sebuah puding cokelat di tangan Sakura. Rumah dengan dua lantai itu terlihat cukup bersih meski sudah tidak ditinggali selama tiga bulan.
"Ayo kita sapa tetangga baru kita, Sakura-chan," Sakura mengangguk dan mengikuti Sasori yang lebih dahulu masuk ke dalam halaman rumah bercat putih itu.
Sesampainya di depan pintu, Sasori mengetuk pintu beberapa kali hingga terdengar suara langkah kaki seseorang dari dalam. Sasori begitu excited karena baginya tetangga adalah saudaranya sendiri. Ia memang laki-laki yang tampan dan terlihat sulit didekati, tetapi ia tidak segan bercengkrama dengan tetangganya baik itu ibu-ibu atau kakek-kakek sekalipun. Ia benar-benar makhluk sosial yang ramah.
Tetapi, jangan tanyakan mengapa ia kurang begitu akrab dengan lelaki muda yang selalu menatap Sakura penuh ketertarikan. Dijamin esok atau lusa, Sasori merangkul erat Sakura saat melewati laki-laki muda itu. Dan kalau boleh dikatakan, saat ini Sasori berharap supaya tetangga barunya tidak memiliki anak laki-laki yang masih remaja atau dewasa awal karena ia akan menarik bendera perang untuk mereka.
Langkah kaki yang berasal dari dalam rumah itu berhenti. Perlahan kenop pintu ditarik dari dalam dan pintu pun terbuka. Tanpa menyadari siapa yang berada di depannya, Sasori membungkukkan badan hormat menyapa tetangga baru. Sedangkan Sakura ternganga melihat siapa yang berdiri membukakan pintu.
"Salam kenal! Aku Haruno Sasori, tetangga di sebelah—" ketika tubuh Sasori terangkat ia begitu kaget melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Aku, Uchiha Sasuke. Mohon bantuannya, onii-san," Sasuke membungkukkan badannya sedikit dan tersenyum tipis.
"Ah! Sasori nii-chan! Aku Naruto, kami sekarang tinggal di sini. Mohon bantuannya~" tiba-tiba Naruto berlari dari dalam rumah dan merangkul Sakura membuat Sasori memekik tak terima dan Sasuke melotot kesal.
"Kenapa kalian yang tinggal di sini?! Ini suatu musibah!"
Sasori mengambil puding yang dipegang Sakura dan memberikannya pada Sasuke secara tidak sadar. Lalu ia menarik Sakura dari rangkulan Naruto dan membawa pergi adik kesayangannya itu setelah memberikan tatapan paling tajam pada Naruto.
"Sasuke-kun, Naruto, semoga kita bisa bertetangga dengan baik, ya!" ucap Sakura sambil melambaikan tangan sebelum Sasori menyeret gadis itu pergi dari kediaman Sasuke.
"Jangan mengatakan itu pada mereka, Sakura-chan!" Sasori menatap adiknya dengan alis tertaut tak suka.
"Kata onii-chan kita harus menyambut tetangga baru dengan baik," sahut Sakura dengan polos.
"Terkecuali untuk mereka!"
"Hey, Sasori nii-chan! Tidak ingin mengobrol dulu di dalam sambil memakan pudingmu ini?" teriak Naruto.
"Tidak akan!" sahut Sasori galak dan menutup gerbang dengan kasar. Sakura hanya bisa menoleh bingung ke belakang melihat Sasuke dan Naruto sambil diseret oleh Sasori kembali ke rumahnya.
"Tapi, terima kasih untuk pudingnya, onii-chan!" teriak Naruto lagi.
"Jangan panggil aku onii-chan!"
Dan Sasori benar-benar menghilang dari pandangan mereka. Naruto menatap cengo kepergian Sasori. Sasuke menahan tawanya melihat bagaimana sikap Sasori yang seperti kebakaran jenggot. Tawanya bisa saja meledak jika ia tidak ingat bahwa ia keturunan Uchiha yang terhormat.
"Siapa yang ribut-ribut tadi, Sasuke?" Itachi tiba-tiba muncul di samping adiknya.
"Anak sulung keluarga Haruno," sahut Sasuke.
"Well, sepertinya kau akan mendapatkan kakak ipar yang merepotkan," kata Itachi sambil tekekeh, "setidaknya ia sudah berbaik hati memberikan puding cokelat ini untuk kita. Baiklah, Naruto ayo kita nikmati puding ini!" Itachi mengambil puding dari tangan Sasuke dan masuk ke dalam rumah.
"Baik!" sahut Naruto gembira.
"Hey, aniki! Kapan mobilku datang?" Sasuke sedikit berteriak dan ikut masuk ke dalam rumah. Sepertinya vampir ini akan menjalani hidup layaknya manusia.
.
.
.
.
.
.
"Sakura-chan, mulai saat ini kau harus menjaga jarak dalam radius lima meter dari kediaman Uchiha," Sasori memberikan inspeksi pada adiknya di meja makan. Ia bahkan membuat denah rumah untuk membuat berbagai macam jebakan guna mencegah Sasuke dan Naruto masuk ke dalam rumah mereka.
"Onii-chan, itu berlebihan. Bukankah kita harus bersikap baik terhadap tetangga? Lagipula jika kau menggali halaman rumah dan menanamkan ranjau di sana, aku yakin okaa-san akan mengamuk karena kau merusak tanamannya," sahut Sakura memandang ngeri denah yang digambar Sasori. Hampir di sekeliling halaman rumahnya ditandai untuk menanam ranjau.
"Kalau begitu, aku akan meninggikan tembok pembatas kita dan memasang listrik di pintu pagar," kata Sasori yang bersikap layaknya profesor gila.
Sakura menepuk jidat, "Kalau begitu, bagaimana aku bisa keluar?"
"Ah! Benar juga," Sasori membuka ponsel pintar miliknya, "kalau begitu, aku akan mencari cara di internet agar dua bocah ingusan itu tidak akan menculikmu lagi," dan sekali lagi Sakura menepuk jidatnya.
TING TONG!
Suara bel rumah keluarga Haruno berbunyi. Melihat Sasori yang masih sibuk dengan dunianya maka Sakura berinisitaif membukakan pintu. Di depan pintu sudah berdiri teman kakaknya yang Sakura ketahui bernama Deidara.
"Ohayou, Sakura-chan! Sasori ada 'kan?" tanya Deidara dengan cengiran khasnya.
"Ohayou, Deidara-nii. Onii-chan ada kok di ruang makan," sahut Sakura dan memersilakan Deidara untuk masuk.
"Siapa yang datang, Sakura-chan? Bukan dua bocah tengik itu 'kan?" Sasori segera keluar begitu mendengar Sakura berbicara dengan seorang pria.
"Hey, ini aku!" Deidara langsung mendekati Sasori dan berkacak pinggang, "kau ke mana saja? Aku dan yang lain sudah menunggu satu jam di kampus untuk menyusun laporan praktik kita, baka!"
Sasori menepuk jidatnya—tertular Sakura, "Aku lupa. Semua ini karena bocah tengik itu," Sasori segera pergi ke dalam kamar.
"Bocah tengik?" Deidara menggumam tidak mengerti, "apa ada laki-laki yang mendekatimu, Sakura-chan?"
Sakura menghela napas, "Kami punya tetangga baru dan mereka laki-laki yang dekat denganku,"
"Wow! Pasti Sasori sangat ketar-ketir," Deidara menyeringai.
Sakura mengangkat bahu, "Deidara-nii ingin minum apa?"
"Aku—"
"—Tidak perlu, Sakura-chan. Kami akan segera pergi. Kau jaga rumah dan jangan biarkan dua bocah tengik itu masuk ke dalam sini," Sasori segera menyeret Deidara pergi.
"Hey! Aku haus tahu!" Deidara tidak terima diseret oleh Sasori.
"Kita bisa beli minum di luar!"
"Dasar menyebalkan!"
Sakura melambaikan tangan melihat mobil Deidara yang ditumpangi kedua pria itu bersiap pergi menuju kampus mereka. Ketika mobil itu menghilang dari pandangannya, Sakura bersiap menutup pintu rumah. Namun, baru saja ia akan berbalik seseorang sudah memeluknya dari belakang. Sakura sangat hapal siapa yang melakukan hal ini.
"Sasuke -kun, sudah dimakan pudingnya?" tanya Sakura sambil menutup pintu.
"Aku tidak suka makanan manis," sahut Sasuke sambil menghirup aroma dari leher Sakura, "tapi, aku suka aroma manis tubuhmu,"
Sakura menegang dengan wajah yang sudah merona matang. Jantungnya berdetak dengan cepat. Kekasihnya ini sungguh sangat ahli membuatnya berdebar-debar.
"Sa-Sasuke-kun," Sakura merasa geli ketika Sasuke mengecup lehernya.
"Hn?"
"Ge-geli,"
"Tapi, aku suka," Sasuke menjilat daun telinga Sakura membuat gadis itu merinding seketika.
"Sakura-chaaaaaannn!" Naruto membuka pintu rumah Sakura dan terkejut melihat posisi Sasuke dan Sakura yang terlihat intim. Wajah siluman rubah itu merona, "Sa-Sasuke! Apa yang kau lakukan pada Sakura-chan?!"
"Cih! Mengganggu saja!" Sasuke berdecak kesal dan semakin mengeratkan pelukannya pada Sakura.
"Sa-Sasuke-kun, lepaskan. Tidak enak dilihatnya," Sakura melepaskan diri dari pelukan Sasuke membuat kekasihnya itu sedikit tidak rela.
"Kenapa kau ke sini?" tanya Sasuke sengit pada Naruto. Vampir itu sudah mendudukkan diri di kursi tamu, "bukankah kau seharusnya membantu Itachi membereskan rumah?"
Naruto mengerucutkan bibir, "Seharusnya kau juga membantu!" sahutnya kesal.
Sasuke sekali lagi berdecak, "Untuk apa? Aku yang membeli rumah itu dan kau menumpang di sana,"
"Kalau begitu, aku tinggal di rumah Sakura-chan saja. Boleh ya, Sakura-chan?" Naruto memelas menatap Sakura.
"Eh?" Sakura menatap Naruto, lalu melirik Sasuke yang sedang menatapnya tajam, "tidak bisa, Naruto. Sebaiknya kau tinggal bersama Sasuke saja. Kalau tinggal di sini kau tidak bisa leluasa," Sasuke menyeringai menang menatap Naruto. Siluman rubah itu semakin keki.
"Justru tinggal bersama si teme aku tidak bisa leluasa," Sakura hanya menggaruk kepalanya mendengar jawaban Naruto.
TING TONG!
Lagi-lagi rumah Sakura kedatangan tamu. Gadis itu membuka pintu dan muncullah sepasang manusia sedang tersenyum lebar menatapnya, bedanya yang satu tersenyum sebatas formalitas dan satunya tersenyum kelewat excited. Ada angin apa Yamanaka Ino membawa Shimura Sai mengunjungi rumahnya?
"Sakura, ayo ikut kami ke pantai!"
"Eh?"
.
.
.
.
.
.
Area bacot author:
Heyho! Terima kasih udah mau baca penpik ane sampai sini. Selanjutnya kalian pasti tau scene berikutnya akan ada di mana. Musim panas tentunya ke pantai~! Woohoooooo! Walaupun reviewnya berkurang, tapi tenang... ane tetep lanjutin ini penpik kok. *kode banget ini kode.. XDD
Mengenai kenapa jurusnya masih kayak jurus di Naruto, ane emang sengaja supaya gak ngilangin ciri khas Narutonya. *ngeles aje* tapi beneran :Dv
Maaf nggak bisa balas review lagi. Ane gak sempet bener ini : (
Reviewnya tetep ane tunggu, ok.
Jaa!
:D
