Standard Disclaimer Applied
WARNING!
AU, Typo, Miss-Typo, OOC, Absurd dll
.
.
.
.
.
.
Genre: Romance and Fantasy
Rate T
.
.
.
.
.
.
Pretty Man: The Series
By chocoaddicted
.
.
.
.
.
.
Enjoy, Minna-san!
.
.
.
.
.
.
"Yahoooo! Laut~!"
Naruto berlari riang menuju laut menyusul Ino dan Sai yang sudah berenang di sana. Sementara Sakura masih berdiri kaku di samping Sasuke yang duduk dengan melipat tangan di bawah dada. Aura yang dikeluarkan Sasuke begitu dingin hingga membuat Sakura takut bergerak sedikit pun. Sampai akhirnya Ino datang menghampiri Sakura yang masih setia berdiri di samping Sasuke.
"Sakura! Apa-apaan kau memakai jaket di cuaca panas begini!" Ino berusaha membuka jaket Sakura yang hampir menutupi setengah paha gadis itu dengan paksa.
"Ja-jangan, Ino! Aku tidak kepanasan kok!" Sakura berusaha memertahankan jaketnya. Sedangkan Sasuke memandang kedua gadis itu dengan tajam merasa ketenangannya terusik.
Sakura sangat sadar jika Sasuke sedang menatapnya dengan tatapan membunuh. Ia pun terpaksa memakai jaket itu karena Sasuke. Dan Ino tampaknya sama sekali tidak takut dengan keturunan terakhir vampir tersebut. Karena ia dengan berani membalas tatapan Sasuke dengan mata melotot hampir keluar.
Ino mendelik kesal, "Kalau ke pantai ya saatnya memakai bikini, bukannya jaket! Kaupikir sekarang musim dingin?! Coba lihat keringat di dahimu itu sudah banjir!"
"Ta-tapi,"
Sreeeekk!
Terlambat. Sakura tidak dapat memertahankan jaket biru dongker miliknya. Ino sudah mengambil alih jaket Sakura dan melemparkannya pada Sai, lalu pria pendiam itu langsung berlari dengan cepat ke arah yang Sakura tidak ketahui. Kecepatannya hampir menyamai atlet lari sprint dalam olimpiade. Sakura speechless.
"Begini lebih baik!" Ino tersenyum puas melihat Sakura memakai bikini merah muda dengan motif bunga sakura.
Sakura menutupi bagian atas dan bawahnya yang sensitif, "I-ini memalukan! Aku tidak pernah memakai pakaian seperti ini kalau ke pantai! Biarkan aku memakai kaus dan celana pendek saja, Ino!"
"Tidak bisa!" Ino menggerakkan jari telunjukknya ke kiri dan ke kanan, "aku sengaja membeli bikini ini untukmu. Lagipula bukankah pacarmu akan senang jika melihat tubuhmu yang seksi?" Ino melirik Sasuke yang membuang muka sambil mendengus kesal.
"Tidak, Ino. Aku tidak seksi," Sakura mendadak murung. Tangannya terjatuh lemas di samping tubuh gadis itu. Sasuke diam-diam melirik gadisnya.
"Memang sih dadamu tidak sebesar milikku. Tapi, setiap orang memiliki cara pandang sendiri soal arti seksi yang sesungguhnya," ujar Ino dengan cuek, "ah! Kenapa kita jadi bicara serius begini? Sekarang bukan saatnya kita dalam mode serius. Kita harus bersenang-senang karena aku dan Sai-kun berhasil pacaran! Benar 'kan Sai-kun?" Ino menatap manja kekasih yang sudah berdiri di sampingnya. Sai mengangguk dengan senyumannya. Sakura menganga tidak menyadari kehadiran pria pendiam itu.
"Tapi..." Sakura melirik Sasuke yang sudah duduk santai berselonjor di kursi pantai sambil memakai kacamata hitam. Pria itu memakai kaus putih dan celana pendek biru.
"Sakura-chan tidak usah mengkhawatirkan Sasuke. Ia memang tidak suka bermain panas-panasan," Naruto tiba-tiba muncul di samping Sakura membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget. Pria ini menyadari ketika Sasuke meliriknya dari balik kacamata hitam.
"Kau mengagetkanku, Naruto!"
Naruto tersenyum lembut dan merangkul bahu Sakura yang tidak tertutupi kain sedikit pun. Kulit gadis itu begitu halus, "Aku tahu Sakura-chan ingin bermain di pantai yang indah ini. Jika Sasuke tidak mau menemanimu, biar aku saja yang menemani karena bangsa vampir memang tidak suka bermain di bawah matahari,"
Sakura memandang Sasuke berharap lelaki itu mengeluarkan suaranya sedikit saja. Namun, yang ia dapatkan hanyalah Sasuke sama sekali tidak memedulikan dirinya. Ia bingung dengan posisinya saat ini. Gadis bermata emerald itu takut membuat Sasuke marah karena meninggalkannya seorang diri. Ya... Walaupun Sasuke memang sudah kelihatan marah sejak Sakura memutuskan untuk ikut Ino pergi ke pantai, tetapi gadis itu ingin Sasuke ikut bermain dengannya karena ini merupakan momen yang jarang sekali terjadi.
"Sasuke-kun, aku pergi main dulu ya?" izin Sakura sedikit ragu.
"Hn," sahut Sasuke datar.
"Ayo, Sakura-chan," Naruto menarik Sakura agar segera pergi menuju laut bersama Ino dan Sai. Sakura dengan perasaan tidak rela akhirnya ikut pergi bersama mereka.
Naruto menoleh ke belakang memandang Sasuke dan memberikan seringai menyebalkan pada lelaki raven itu. Sasuke menggeram kesal melihat bagaimana Naruto dengan sengaja menyentuh bahu Sakura. Rasanya ia ingin mengamuk, tapi melihat wajah Sakura yang sangat ingin bermain namun terhambat karena dirinya membuat Sasuke mau tak mau memilih untuk mengalah dan meredam amarah.
"Akan kubuat ia menjadi rubah panggang kalau berani menyentuh Sakura lebih dari itu," geram Sasuke sambil menggelutukkan gigi.
.
.
.
.
.
Sakura tidak akan menyangkal jika ia merasa senang bisa bermain di pantai bersama teman-temannya. Namun, ia tetap merasa kesenangan itu tidaklah sempurna jikalau Sasuke tidak berada di sampingnya. Ia mendesah lesu sambil memandang Sasuke yang masih sibuk tiduran di kursi pantai.
Dari posisinya yang berada di tengah air laut, Sakura bisa melihat jika banyak gadis-gadis yang sejak tadi memerhatikan Sasuke. Sakura menggeram kesal dan meremas ban sewaan yang ia pakai ketika dua orang gadis seksi menghampiri Sasuke dan mencoba merayu kekasihnya. Yang paling menyebalkannya Sasuke bangun dari posisi tertidurnya dan meladeni gadis-gadis itu, sementara tadi ketika Sakura mengajaknya bicara ia sama sekali tidak melirik Sakura.
Sakura mendengus kasar dan membalikkan badan memunggungi Sasuke. Ia berenang dengan kesal ke arah tengah lautan. Sakura benar-benar kesal. Selama ini ia mencoba menuruti semua kemauan Sasuke. Gadis itu bahkan rela memakai bikini memalukan agar menarik hati Sasuke. Tapi, semua tidak ada gunanya. Sasuke tidak pernah memandangnya sebagai gadis yang seksi. Padahal Sakura sangat menginginkan pujian itu keluar dari mulut Sasuke.
"Dasar Sasuke-kun no baka!" Sakura mengumpat kesal dan tanpa sadar sudah berada jauh dari bibir pantai.
Sakura panik bukan main. Ia mencoba kembali ke bibir pantai tetapi ombak terus menariknya semakin ke tengah lautan. Ia yang tidak bisa berenang tentu merasa ketakutan apalagi ketika kakinya mendadak kram dan tak bisa digerakkan.
Sakura terlalu fokus memegangi kakinya yang kram hingga sebuah ombak besar datang menenggelamkan Sakura ke dalam laut. Gadis itu mencoba meraih ban kuning yang ia sewa, namun tangannya tak sampai dan ia semakin jatuh ke dalam air laut yang asin.
Sasuke-kun! Tolong aku!
Gelembung udara keluar dari mulut Sakura. Gadis itu tak bisa bernapas lagi karena kehabisan oksigen. Matanya terpejam dan tubuhnya lemas. Ia berpikir apakah hidupnya akan berakhir sampai di sini? Bahkan di saat hubungannya dan Sasuke sedang tidak baik. Gadis itupun menangis dalam ketidaksadarannya.
.
.
.
.
.
.
Ino yang asyik berenang merasa ada yang kurang. Ia melihat ke sekelilingnya dan tak menemukan Sakura di mana pun. Gadis itu mulai panik saat menyadari kalau Sakura menghilang.
"Sai-kun! Sakura menghilang! Aku sudah mencarinya di mana-mana tapi tidak kutemukan!" Ino mencengkram lengan Sai yang sedang bermain voli dengan Naruto.
Naruto yang mendengar ucapan Ino segera menghampiri gadis itu, "Sakura-chan menghilang? Bagaimana bisa? Bukankah tadi kau berenang bersamanya?"
"Iya! Tapi, aku tidak sadar ketika ia pergi dari sampingku! Aku baru ingat jika Sakura tidak bisa berenang! Bagaimana ini?!" mata Ino sudah berkaca-kaca dan siap menangis kapan saja. Sakura adalah sahabat terbaiknya yang bodoh, ia tidak ingin kehilangan sahabat yang sangat berarti bagi hidupnya.
"Tenanglah, Ino. Kita sebaiknya meminta tolong penjaga pantai," ujar Sai tenang walaupun matanya terlihat panik.
"Tidak. Sebaiknya kalian memberitahu Sasuke. Aku akan mencari Sakura-chan!" usul Naruto dengan wajah yang lebih tenang.
"Baiklah!"
Tanpa pikir panjang Ino langsung berlari menuju tempat Sasuke. Pria itu sedang dikelilingi oleh dua orang gadis yang sedang menggodanya. Ino dapat melihat jika Sasuke merasa terganggu hingga vampir itu bangun dari posisi tidurnya dan berkata cukup kasar pada gadis-gadis itu.
"Pergilah! Kalian mengganggu tidur siangku!"
"Hei, jangan begitu tampan. Kau pasti kesepian di sini 'kan?" gadis bersurai merah mulai merapat pada tubuh Sasuke, namun Sasuke menghindar.
"Sasuke! Apa yang kau lakukan di sini, baka?!" Ino berteriak memandang kesal gadis-gadis genit yang berada di kanan dan kiri Sasuke.
"Siapa dia, tampan? Kekasihmu? Kurasa bukan," kata gadis berambut pirang sambil tersenyum mengejek pada Ino.
"Ya! Aku memang bukan kekasihnya karena kekasihnya sedang tenggelam di dasar lautan! Sasuke—"
Wuuuussshh!
"—baka. Hei! Tunggu aku!" belum sempat Ino menyelesaikan ucapannya, Sasuke sudah berlari dengan cepat ke arah laut, "dan kalian sebaiknya pergi menjauh karena kalian berdua tidak sebanding dengan pacar Sasuke!" Ino mendengus kasar dan berlari menyusul Sasuke. Sedangkan kedua gadis itu berdiri bingung.
.
.
.
.
.
.
Sasuke sangat panik mendengar ucapan Ino. Meski jantungnya tidak dapat berdetak layaknya manusia, tapi ia tahu bahwa perasaannya sangatlah takut. Tanpa menunggu Ino menyelesaikan ucapannya, pria itu segera berlari secepat mungkin untuk menyelamatkan gadisnya.
Sasuke menyesal. Sangat menyesal telah berlaku dingin pada Sakura. Ia berbuat seperti itu karena merasa cemburu dan tidak rela jika kemolekan tubuh Sakura dilihat oleh pria lain selain dirinya. Ia tahu tindakannya amat egois, tetapi ia juga tahu tidak semestinya berbuat seperti itu. Sakura pasti memiliki hal yang ingin dilakukan dan sebenarnya Sasuke ingin menemani Sakura bermain hanya saja provokasi Naruto berhasil membuatnya bete.
Saat ini Sasuke berdoa sepenuh hati agar kekasihnya itu selamat dan ia akan berusaha sampai mati untuk menyelamatkan Sakura. Ia tidak peduli jika harus berlari di bawah teriknya matahari dan menyelam puluhan meter di dalam laut asalkan ia bisa melihat senyum ceria Sakura lagi.
"Aku tidak dapat menemukan Sakura-chan! Bagaimana ini?!" Naruto menghampiri Sasuke sambil berlari. Pria itu sudah basah kuyup, rambutnya masih berantakan dan raut cemas jelas terlihat di sana menggantikan wajah Naruto yang selalu ceria.
"Bodoh!" desis Sasuke menatap Naruto dengan sharingan yang sudah aktif. Naruto terdiam melihat perubahan mata Sasuke. Ia tahu jika Sasuke sudah dalam mode sangat serius.
Naruto berhenti berlari dan memandang punggung Sasuke yang semakin lama semakin masuk ke dalam laut lalu menghilang. Baru kali ini ia melihat Sasuke yang sangat serius dan panik. Ini sangat di luar ekspetasi Naruto. Ia tahu jika Sasuke mencintai Sakura, tetapi ia tidak pernah tahu jika Sasuke serius mencintai Sakura yang notabenenya adalah manusia.
.
.
.
.
.
.
Semuanya gelap dan dingin. Sakura tidak sadar ia masih hidup atau tidak. Yang ia tahu saat ini tubuhnya terasa melayang dan tanpa beban. Semuanya terasa kosong. Saat itu di dalam benaknya terlihat jelas sosok Sasuke yang diselimuti cahaya. Pria itu tampak membelakanginya.
Sasuke-kun...
Sakura hendak meraih punggung tegap Sasuke, tetapi sosok itu semakin menjauh atau ia yang makin terseret ke belakang. Ia nyaris berteriak, tangannya masih mencoba meraih punggung Sasuke dan perlahan matanya terbuka. Saat itulah Sakura melihat dua buah cahaya merah dengan cepat bergerak ke arahnya.
Senyum lemah Sakura terukir saat menyadari dua buah cahaya merah itu berasal dari mata Sasuke. Pria itu datang untuk menyelamatkannya. Pria itu tidak meninggalkannya. Tangannya yang mungil berhasil digenggam oleh Sasuke, lalu semua kembali mengabur dalam pandangan Sakura sebelum Sasuke memeluk dan menyelamatkan gadis itu.
.
.
.
.
.
.
"Sakura-chan! Sasuke!"
Naruto, Ino dan Sai langsung menghampiri Sasuke ketika pria itu muncul di permukaan air dengan menggendong Sakura bridal style. Sasuke tidak begitu memedulikan mereka karena ia langsung pergi menuju kursi yang tadi ia tempati dan meletakkan Sakura di sana.
Wajah Sakura terlihat pucat. Dengan cekatan Sasuke mendongakkan sedikit kepala Sakura dan memberikan napas buatan padanya. Berkali-kali pria itu memberikan napas buatan sambil menekan dada Sakura. Suasana semakin menegang di antara Ino, Sai dan Naruto. Mereka terus memerhatikan Sasuke dan Sakura sambil berdoa agar Sakura selamat.
"Uhuk! Uhuk!"
Akhirnya Sakura terbatuk beberapa kali dan mengeluarkan air dari mulutnya. Gadis itu membuka mata dan melihat wajah lega Sasuke, Naruto, Ino dan Sai.
"Sakura!" Ino langsung berhambur memeluk Sakura ketika gadis bersurai merah muda itu tersadar. Ia menangis terisak di bahu Sakura membuat gadis itu tersenyum simpul.
"Syukurlah kau selamat, Sakura-chan," Naruto ikut menangis sambil menutupi matanya dengan lengan.
"Syukurlah," Sai mendesah lega dan mengusap punggung Ino. Ino melepaskan pelukannya memberikan momen untuk Sasuke dan Sakura.
"Maaf sudah membuat kalian semua khawatir," ucap Sakura lemah.
Sasuke memeluk Sakura protektif, "Tidak akan kubiarkan kau meninggalkanku!" ucapnya dengan raut wajah kelegaan.
"Ya, Sasuke-kun. Terima kasih sudah menyelamatkanku dan tidak meninggalkanku," Sakura tersenyum lembut membalas pelukan Sasuke.
"Hn."
"Sebaiknya kita kembali ke hotel saja. Aku takut terjadi apa-apa dengan Sakura," ujar Ino masih terlihat jelas gurat kecemasan di wajahnya yang biasa terlihat jahil.
Sakura melepaskan pelukannya dengan Sasuke, "Aku tidak apa-apa, Ino! Dan jangan menatapku dengan wajah menyedihkan begitu!"
"Aku mengkhawatirkanmu, jidat!" Ino menjitak kepala Sakura membuat mereka semua tertawa kecuali Sasuke yang tetap fokus memerhatikan Sakura.
"Kau juga tidak perlu mengkhawatirkanku, Sasuke-kun. Aku baik-baik saja," Sakura menggenggam tangan Sasuke.
"Hn,"
"Baiklah, kami akan kembali bermain. Kau di sini saja bersama Sasuke," Ino menarik tangan Sai dan Naruto.
"Aku juga mau bersama Sakura-chan!" seru Naruto tidak mau pergi bersama Ino dan Sai.
"Tidak bisa! Kau tidak boleh mengganggu mereka, baka Naruto!" Ino menyeret paksa Naruto yang masih berusaha melepaskan diri sehingga terpaksa Sai ikut membantu Ino menyeret pria pirang itu menjauh dari pasangan yang terlihat sudah berbaikan.
Sakura terkekeh melihat tingkah Naruto dan menyadari Sasuke masih menatapnya intens. Ia menoleh dan mengusap pipi Sasuke dengan tangannya yang dingin. Sasuke terpejam menikmati sentuhan Sakura. Pria ini benar-benar tidak dapat membayangkan apa jadinya jika Sakura tidak dapat ia selamatkan.
"Ne, Sasuke-kun. Saat aku tenggelam tadi, aku bermimpi bahwa kau akan meninggalkanku," gumam Sakura sendu dan pergerakan tangannya berhenti mengusap wajah Sasuke.
Sasuke membuka kedua mata hitamnya dan menggenggam tangan Sakura, "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu karena..."
Sasuke mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura dan memiringkan kepala sedikit. Ia melihat gadisnya menutup mata menunggu apa yang selanjutnya akan Sasuke ucapkan. Pria itu tersenyum tanpa ada satu pun yang mampu melihat senyumannya yang lembut.
"... karena aku mencintaimu,"
Dan kecupan manis itu tercipta di sepasang bibir menggoda milik Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura.
.
.
.
.
.
.
.
Musim panas selain identik dengan pantai, tentunya dengan pemandian air panas. Maka, di sinilah Sakura berada bersama Ino. Kebetulan sekali mereka menginap di sebuah hotel yang terdapat pemandian air panas. Mandi dengan air panas sangat baik untuk kesehatan apalagi setelah seharian bermain di pantai dan membuat tubuh Ino menjadi hitam. Sakura tertawa melihat tubuh Ino ketika gadis itu masuk ke dalam kolam air panas.
"Badanmu jadi belang begitu, Ino!" Sakura masih tertawa.
"Kau masih bisa tertawa? Syukurlah aku masih bisa mendengar tawamu itu, jidat menyebalkan!" Ino mencipratkan air ke arah Sakura membuat surai merah mudanya basah.
"Aku sangat senang kau mencemaskanku, pig," Sakura tersenyum tulus.
Ino membuang muka karena malu, "Hei! Yang lebih cemas itu kekasihmu, nona. Aku baru kali ini melihat seorang vampir terlihat panik karena seorang manusia yang tenggelam di laut,"
"Benarkah?"
.
.
.
.
.
.
Sasuke sebenarnya sangat malas pergi ke pemandian air panas. Apa gunanya? Bahkan tubuhnya tidak memiliki suhu. Namun, sepertinya Naruto lebih keras kepala menyeret Sasuke ke dalam kolam pemandian air panas yang bersebelahan dengan kolam air panas wanita. Mereka sengaja menyewa ruangan VIP karena mereka tahu jika Sasuke tidak suka keramaian.
Sasuke melihat Sai sudah berendam di dalam kolam dengan sikap tenangnya. Pria itu bahkan hanya tersenyum membalas sapaan Naruto yang menggelegar di dalam ruangan. Sasuke masuk ke dalam kolam dan duduk dengan tenang di sana.
"Sasuke, sebelum masuk kau harus membersihkan diri dulu! Ayo, bantu menggosok punggungku!" seru Naruto sambil membawa ember kayu kecil dan juga sabun di dalamnya.
"Tidak akan!" sahut Sasuke ketus sambil melipat tangan di bawah dada.
"Tidak asyik!" Naruto mengerucutkan bibir, lalu memandang Sai, "Sai, bantu aku menggosok punggung~" pintanya memelas.
"Aku malas," sahut Sai datar kemudian tersenyum membuat Naruto kesal.
"Aaaargghhh! Kalian tidak asyik!" Naruto berbalik dan pergi ke bawah shower untuk membersihkan tubuhnya sendiri.
Sasuke merasa canggung berada di samping Sai. Manusia yang satu itu hanya diam sambil terus tersenyum. Sesekali Sasuke melirik dan tetap mendapati Sai tersenyum tanpa sebab yang jelas. Pria raven itu heran kenapa Sakura memiliki teman yang aneh aneh?
"Ada apa, Sasuke?" tanya Sai masih dengan senyumannya sambil menoleh pada Sasuke yang menatap arah depan dengan datar.
"Tidak ada," sahut Sasuke.
Sai kembali menatap lurus seperti yang Sasuke lakukan. Sesungguhnya kedua makhluk ini memiliki paras yang agak mirip, namun Sai selalu tersenyum dengan mata yang menyipit bak bulan sabit, sedangkan Sasuke berekspresi datar dengan tatapan mata tajam.
Jangan lupakan perbedaan gaya rambut keduanya yang sangat signifikan, Sasuke dengan bagian belakang rambut yang mencuat ke atas sedangkan Sai dengan rambut lurus nyaris klimis. Tapi, semua tidak akan ada bedanya apabila kepala keduanya tersiram air jika warna rambut mereka tidak berbeda, Sasuke dengan biru dongker nyaris hitam sedangkan Sai hitam pekat.
"Oh ya, tolong sampaikan terima kasihku pada kakakmu karena ia pernah menyelamatkanku di hutan terlarang,"
"Itachi?"
"Jadi namanya Uchiha Itachi?"
"Bagaimana bisa kau tahu jika ia kakakku?"
"Aku tahu dari Ino. Dan kau tahu sendiri Ino tahu dari siapa,"
"Hn,"
BYUUURRR!
"Ah~ hangatnya~!" Naruto tersenyum senang saat masuk ke dalam kolam.
Sasuke dan Sai menatap Naruto kesal dengan cara mereka masing-masing karena pria itu telah membuat rambut keduanya basah. Kali ini kedua pria itu terlihat mirip, tapi tetap berbeda. Sasuke jelas menatap Naruto dengan tatapan tajamnya, namun Sai dengan senyum yang menyeramkan.
"Kenapa kalian menatapku begitu?"
PLETAK!
"Ittai!" ringis Naruto karena mendapat lemparan ember kayu tempat sabun sebanyak dua kali.
"Hahaha..."
Suara tawa seorang gadis yang mereka yakin bukan berasal dari Sasuke ataupun Sai mengalihkan perhatian ketiga pria itu. Setelah dicermati secara seksama ternyata itu adalah suara tawa Sakura. Rupanya gadis itu berendam di ruangan sebelah di mana sekatnya hanya terpisah dengan sebuah dinding kayu tipis.
"Aku sangat senang kau mencemaskanku, pig," suara Sakura terdengar begitu jelas di telinga Sasuke, Sai dan Naruto. Mereka bertiga tanpa sadar sudah merapat ke dinding pembatas.
"Hei! Yang lebih cemas itu kekasihmu, nona. Aku baru kali ini melihat seorang vampir terlihat panik karena seorang manusia yang tenggelam di laut," Sai tersenyum mendengar suara kekasihnya, Ino. Jadi, kedua gadis itu sedang membicarakan Sasuke?
"Benarkah?" suara Sakura terdengar penasaran. Sasuke meskipun memasang wajah datar, namun telinganya sangat siap siaga mendengar ocehan Sakura. Sedangkan Naruto mengerucutkan bibir kesal.
"Kau tahu? Saat aku memberitahu bahwa kau tenggalam, ia langsung lari secepat kilat dan wush! Ia sudah sampai di depan air laut!"
"Wow!" Sakura berdecak kagum, Sasuke menyeringai bangga.
"Sebenarnya apa yang menyebabkanmu tenggelam, jidat? Setahuku kau memakai ban," tanya Ino penasaran. Para pria semakin merapat ke dinding.
"Kenapa Sakura-chan hanya membicarakan Sasuke? Dan kenapa Ino tidak menceritakan bahwa aku juga mencari Sakura-chan ke dalam laut?" Naruto merengut kesal.
Sasuke menyeringai sambil mendongakkan dagu, "Tentu saja karena aku adalah pacarnya," ujar Sasuke dengan penekanan. Sementara Sai hanya memerhatikan kedua makhluk itu kembali bertengkar.
"Hei, jidat! Kau tidak mau menceritakannya?" suara Ino kembali terdengar setelah jeda yang cukup lama. Sasuke sendiri juga merasa penasaran dengan jawaban Sakura. Kenapa gadis itu bisa terbawa ombak hingga ke tengah lautan dan berakhir tenggelam?
"Itu... Sebenarnya saat itu aku sedang memerhatikan Sasuke-kun dari laut," telinga Sasuke langsung bergerak naik ketika mendengar namanya disebut. Naruto dan Sai diam mendengarkan suara Sakura di sebrang ruangan.
"Lalu?" tanya Ino semakin penasaran.
"Aku melihat Sasuke-kun dikelilingi gadis-gadis. Aku kesal karena Sasuke-kun merespon mereka sedangkan ia tidak memedulikanku. Padahal aku ingin sekali bermain bersamanya. Karena kesal tanpa sadar aku berenang sampai jauh dan kakiku kram lalu ombak besar menenggelamkanku," ujar Sakura dengan nada sedih. Sasuke yang mendengar itu menundukkan kepala. Naruto melirik Sasuke tajam dan mendengus kasar.
"Jadi, kau cemburu?" Ino terdengar menggoda Sakura.
"Ti-tidak! Te-tentu saja tidak!" Sakura mencoba berkilah. Sasuke menyeringai dan mengangkat kepalanya lagi. Naruto mengerucutkan bibir dan Sai kembali memerhatikan mereka berdua.
"Sudahlah akui saja," goda Ino dan melanjutkan, "jika yang kau maksud adalah gadis berambut merah dan pirang, kau tenang saja karena Sasuke sama sekali tidak tertarik pada mereka,"
"Maksudmu?"
"Tuh 'kan wajahmu gembira begitu. Berarti benar kalau kau tadi cemburu, jidat!" Ino terdengar tertawa.
"Ti-tidak! Aku tidak cemburu!"
"Lalu kenapa wajahmu merah?" Ino semakin terbahak-bahak.
"Ini karena efek air panas!" kilah Sakura.
"Ah~ masa?" Ino kembali menggoda Sakura.
"Sudahlah! Aku mau kembali ke kamar!"
"Hei! Jangan malu-malu begitu!" Ino masih tertawa.
"Be-Berisik!"
Mendengar Sakura pergi, Sasuke tiba-tiba berdiri mengambil handuknya dan beranjak dari kolam. Hanya Sai yang menyadari kepergian Sasuke sedangkan Naruto sedang pundung di pojok kolam dengan wajah suram.
"Dua orang aneh," gumam Sai dengan senyum palsunya.
.
.
.
.
.
.
Sakura duduk di pinggir pantai memandangi langit yang bertabur bintang. Angin malam menerbangkan surai merah mudanya. Suasana tenang dan damai inilah yang sangat Sakura sukai. Jarang sekali ia mendapatkan suasana seperti ini jika ada Sasori. Kakak lelakinya itu pasti sedang membuat kehebohan sekarang mengingat Sakura pergi hanya bermodalkan catatan kecil di kulkas.
Gadis yang lahir di musim semi itu kembali teringat dengan percakapannya bersama Ino ketika di kolam pemandian air panas. Wajahnya memerah tiap kali kata-kata Ino berdengung di telinga. Dan mengapa kata-kata itu terus terulang layaknya kaset yang rusak?
Jadi, kau cemburu?
"Apa aku cemburu?" gumam Sakura pada dirinya sendiri.
"Hn, kau cemburu," Sakura hampir saja terjengkang saat mendengar suara Sasuke menyahuti gumamannya.
"Sasuke-kun!" Sakura menoleh ke sebelah kiri dan melihat Sasuke sudah duduk dengan tenang di sana. Pria itu bahkan tersenyum tipis pada Sakura membuat sang gadis musim semi merona.
"Ka-kau mendengarnya?" tanya Sakura sambil membenarkan posisi duduk dan melirik Sasuke malu-malu.
"Hn, aku mendengar semuanya,"
"Kau menguping?!"
"Hn, tidak,"
"Kau menguping!" Sakura menatap kesal Sasuke.
"Tidak,"
"Ya!"
Cup!
Sakura terdiam ketika Sasuke mengecup lembut bibirnya. Ia dapat melihat Sasuke tersenyum dan merengkuh tubuhnya yang mungil dalam dekapan pria itu. Sakura sama sekali tidak memberontak. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Harus kukatakan berapa kali padamu?" Sasuke melirik Sakura walaupun ia hanya dapat melihat rambut gadis itu, "aku takkan pernah meninggalkanmu. Aku tidak akan tertarik pada gadis lain karena hanya ada Haruno Sakura di hatiku,"
Sakura merasa pipinya memanas dan hatinya menghangat. Ia tidak tahu harus merespon apa jadi ia hanya menganggukkan kepala. Terkadang Sasuke bisa sangat menyebalkan dan juga sangat romantis. Sakura membalas pelukan Sasuke. Ia membenamkan wajahnya di perpotongan leher pria itu.
Ia adalah vampir termanis yang pernah kutemui.
.
.
.
.
.
.
Dari dalam restoran di pinggir pantai tampak seseorang sedang duduk sambil memerhatikan dua siluet yang duduk di tepi pantai. Ia memandang selembar foto di mana Sasuke dan Sakura sedang saling menatap di pantai siang tadi. Bibirnya menyeringai memandangi foto tersebut. Lalu, sebilah pisau perak berbentuk salib yang ia genggam ditancapkan tepat di dada Sasuke.
"Nikmatilah waktu kebersamaan kalian yang tersisa sedikit," desisnya menyeramkan.
.
.
.
.
.
.
To be continue.
.
.
.
.
.
.
Area bacot author!
Yahoooooo~! Ane persembahin chapter ini untuk readers yang setia ngereview penpik ini. thank you bro, sist! Hihihi XDD
Mumpung banyak off day, jadi ane bisa update cepet dan sekarang ane tepar. *terkapar di atas kasur*
Sekali lagi ane belum bisa balas review, maaf banget ye... tapi ane mau jawab pertanyaan di kotak review. Nggak apa-apa kan?
..
Question 1:
Hinata muncul atau nggak?
Answer:
Muncul but still wait for it. I'll show her asap beside on story :D *gaya banget gue nginggris* XDD
..
Question 2:
Di ending penpik Sakura will be vampire or not?
Answer:
Hm... Masih dalam tahap pertimbangan. Author harus melakukan sidang paripurna(?) untuk menyelesaikan pertanyaan ini dulu. *ngaco* XD
..
Question 3:
Sasuke bakal ngejalanin hari-harinya kayak manusia seperti sekolah atau nggak?
Answer:
Gotcha!
..
Question 4 (OOT):
Kapan The Wizards Sequel diupdate?
Answer:
Ya ampun cyiiiiinnnn! Masih ada yang nungguin yak ternyata? Itu penpik dari tahun 2011 ane buat. Hihihi.. duh jadi terharu. Tapi, ane belum bisa janji dulu macam pemilu. Ane cuma bisa bilang kalau ane bakal baca ulang itu penpik terus ane usahain cari inspirasi lagi untuk ngelanjutinnya. Thanks banget udah ngingetin. Kecup basah kamu yg di sana :* (warning: author kadang lebay kalo udah stress, harap dimaklumi).
..
Banyak spoiler yak kayaknya dari pertanyaan itu. Karena udah dikasih spoiler dan update kilat geluduk petir cetar membahana ulala, reviewnya bisa keleus~~ :DD
Jaa~! :*
