Sasori membiarkan Deidara masuk ke dalam rumahnya. Karena ia cukup tahu diri dengan berterimakasih pada orang yang sudah berbaik hati mengantarkannya pulang. Meskipun di sepanjang jalan pria pirang itu terus saja mendumel soal keterlambatan Sasori yang akhirnya membuat mereka harus bertahan di kampus hingga malam.

"Tadaima," ucap Sasori lemas dan melemparkan tas ke sofa ruang tamu. Deidara setia mengekor di belakangnya.

"Kenapa sepi sekali?" tanya Deidara sambil merebahkan diri di sofa panjang keluarga Haruno.

"Mungkin Sakura-chan sudah tidur," sahut Sasori dari arah dapur. Pria itu berniat mengambil minum untuknya dan Deidara.

Sasori membuka kulkas lalu mengambil sebotol jus jeruk dan meletakkannya di atas nampan yang telah berisi dua buah gelas. Ketika ia berniat membuka kulkas untuk mengambil kue, saat itu ia baru sadar ada sebuah memo yang ditulis Sakura untuknya.

Gomenne, onii-chan. Aku hari ini pergi ke pantai bersama Ino, Sasuke, Naruto dan Sai. Kami akan menginap di sana. Mungkin aku akan pulang besok. Jangan mencemaskanku dan jangan lapor polisi.

Adikmu yang manis,

Sakura.

Karena terlalu syok, Sasori tidak bergerak sama sekali. Kertas yang ada di genggaman tangannya perlahan terjatuh ke lantai. Ia kembali kecolongan untuk ke sekian kalinya. Seharusnya ia tidak meninggalkan Sakura seorang diri dan berujung diculik oleh teman-temannya. Apalagi sampai menginap di luar pengawasan Sasori.

Deidara yang tidak kunjung melihat Sasori datang membawakan minuman akhirnya memutuskan untuk menyusul Sasori ke dapur. Di sana ia mendapati Sasori sedang berdiri bergeming dengan wajah syok. Deidara langsung menghampiri dan menepuk pundak sahabatnya itu karena khawatir.

"Sasori, kau baik-baik saja?"

Sasori menoleh seram ke arah Deidara membuat pria pirang itu merinding. Kesadaran kakak dari Haruno Sakura itu sudah terkumpul di ubun-ubunnya. Emosinya siap tumpah kapan saja.

"Bagaimana aku baik-baik saja jika adikku dibawa kabur oleh bocah-bocah sialan itu?!"

"Hah?" Deidara melongo seperti orang tolol.

"Aku harus lapor polisi!" seru Sasori panik.

"Hah?!" Deidara semakin melongo.

Sepertinya malam ini Deidara akan sibuk menenangkan Sasori agar pria itu tidak melapor polisi untuk alasan yang konyol.

.

.

.

.

.

.

Standard Disclaimer Applied

WARNING!

AU, Typo, Miss-Typo, OOC, Absurd dll

.

.

.

.

.

.

Genre: Romance and Fantasy

Rate T

.

.

.

.

.

.

Pretty Man: The Series

By chocoaddicted

.

.

.

.

.

.

Enjoy, Minna-san!

.

.

.

.

.

.

BRUUUUMMM!

Van yang dikendarai Sai itu berhenti tepat di depan rumah Sakura. Satu persatu mereka semua turun kecuali Ino dan Sai. Sebenarnya Sai ingin membantu Sakura, Sasuke dan Naruto mengeluarkan barang bawaan mereka namun Ino menahan lengannya agar tetap duduk di kursi kemudi. Sai yang tidak mengerti hanya menatap bingung kekasihnya.

"Bersiaplah untuk tancap gas karena akan ada badai menyerang kita!" seru Ino seakan menyahuti pertanyaan Sai yang bersemayam di otak.

Sai yang mendengar ucapan Ino semakin tidak mengerti. Setahunya ini musim panas dan ramalan tadi pagi mengatakan bahwa hari ini akan cerah. Lalu, mengapa kekasihnya tiba-tiba berkata seperti itu?

"Sai, Ino, terima kasih sudah mengantarkan kami," ujar Sakura riang. Tasnya dibawakan oleh Sasuke yang berdiri di samping gadis itu.

"Lain kali ajak kami berlibur lagi ya!" seru Naruto senang.

"Tentu saja!" sahut Ino dengan cengirannya sedangkan Sai tersenyum seperti biasa.

Gadis pirang ini melihat Sasori keluar dari rumahnya dan berjalan terburu-buru ke arah mereka. Di belakang Sasori terlihat seorang pria berambut pirang tampak mengejar Sasori yang kesetanan.

"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa!" Ino terlihat panik dan segera menyuruh Sai tancap gas. Sai yang bingung hanya menuruti perintah kekasihnya.

"Hei, pig!" Sakura berteriak kaget karena Ino dan Sai pergi begitu saja, "baru saja aku ingin menawarkannya minum di rumah," Sakura menghela napas.

Sasuke yang berdiri di samping Sakura merasakan kehadiran Sasori dan seseorang mendekat dengan langkah yang cepat. Lelaki ini sama sekali tidak panik. Ia sudah menduga apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Sakura-chaaaaan!"

Teriakan melengking Sasori membuat bulu kuduk Sakura meremang. Gadis itu dengan kaku memutar tubuhnya dan melihat Sasori serta Deidara berlari ke arahnya. Dengan susah payah Sakura mencoba tersenyum memandang kakaknya yang terlihat begitu panik dan menyeramkan disaat bersamaan. Kantung mata pria itu terlihat begitu kentara. Sasori pasti tidak tidur semalaman.

"O-ohayou, onii-chan," sapa Sakura kikuk.

"Ohayou imouto-chan," Sasori tersenyum manis menatap Sakura, lalu senyumnya hilang menatap Sasuke dan Naruto, "lagi-lagi kalian menculik adikku! Aku akan melaporkan kalian pada polisi!" seru Sasori kesal.

"Hei! Kami tidak menculik Sakura-chan, onii-chan! Kami hanya berlibur," sahut Naruto sebal.

"Sama saja! Kalian tidak meminta izin dariku dulu!" Sasori mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Naruto dan Sasuke, "dan jangan panggil aku onii-chan!" lanjutnya kesal.

"Sasori, apa kau tidak berlebihan? Mereka hanya menginap semalam di pantai," Deidara ikut menyahut karena kasihan pada ketiga muda-mudi yang harus menghadapi sister complex-nya Sasori.

"Ini masalah yang sangat krusial, Dei!" ujar Sasori kesal dan sedikit mendramatisir. Deidara memutar bola matanya bosan.

"Sudahlah, onii-chan. Tidak enak dilihat tetangga," ucap Sakura sambil memegang lengan Sasori.

Benar saja, Sasori melihat banyak tetangga yang berjalan di sekitar rumah sedang menonton mereka. Sasori mendengus kesal dan merangkul bahu Sakura protektif. Ia merebut paksa tas Sakura dari tangan Sasuke. Lalu sebelum ia pergi, Sasori memberikan tatapan mengancam pada Sasuke maupun Naruto yang tentu saja tidak akan mempan untuk kedua makhluk tersebut. Deidara setia mengekori Sasori ke manapun pria itu pergi.

"Lain kali aku tidak akan memaafkan kalian," desis Sasori sambil merangkul Sakura masuk ke dalam rumah. Sakura hanya tersenyum canggung pada Sasuke dan Naruto.

"Sampai jumpa Sasuke-kun, Naruto!" seru Sakura dengan senyum riangnya yang dihadiahi pelototan Sasori.

"Hn," sahut Sasuke sambil memandang kedua kakak beradik itu masuk ke dalam rumah.

"Sampai jumpa Sakura-chan!" Naruto melambaikan tangannya yang tentu saja dihadiahi tatapan tajam oleh Sasori.

.

.

.

.

.

.

Sakura sedang duduk di halaman belakang rumah sambil mengerjakan tugas sekolah yang belum selesai. Libur musim panas segera usai dan ia akan kembali ke bangku sekolah. Ia sangat menyesal karena selalu menunda mengerjakan tugasnya sehingga hari ini mau tidak mau ia harus menyelesaikan semua tugas yang diberikan guru padanya.

Hari ini Sasori tidak ada di rumah karena lelaki itu sedang kuliah. Ia sejak pagi sudah mewanti-wanti Sakura agar tidak membiarkan Sasuke dan Naruto masuk ke dalam rumah. Bukan salah Sakura apabila ia tidak membukakan pintu rumahnya, namun kedua pria itu tetap bisa masuk dan sekarang duduk memerhatikan Sakura yang sibuk dengan soal matematika. Setidaknya Sakura sudah menuruti perintah Sasori.

"Sakura-chan, ayo main play station denganku~" rajuk Naruto sambil menarik-narik ujung kaus Sakura yang berakhir dengan jitakan Sasuke di kepalanya.

"Apa yang kau lakukan, teme?!" Naruto mendelik kesal pada Sasuke sambil mengelus kepalanya yang terasa akan benjol.

"Memberimu pelajaran," sahut Sasuke tak acuh.

"Kenapa kau suka sekali memukulku?!"

"Kalian jangan bertengkar!" seru Sakura mengalihkan perhatiannya sebentar pada Sasuke dan Naruto yang sedang adu mulut, "aku harus menyelesaikan tugas sialan ini. Naruto, kau bisa bermain sendiri kalau mau," Sakura mengacak rambutnya frustrasi melihat soal-soal yang begitu banyak.

Sasuke menghela napas dan menghampiri gadisnya, "Soal mana yang sulit?"

"Eh?" Sakura menoleh menatap bingung Sasuke.

"Biar aku bantu," Sasuke duduk di samping Sakura sambil membaca soal-soal yang tidak bisa dikerjakan Sakura.

Akhirnya siang itu dihabiskan dengan Sasuke yang membantu Sakura belajar dan Naruto yang tertidur ketika membaca buku sejarah Sakura. Sakura kagum pada pengetahuan Sasuke yang sangat luas. Kekasihnya itu sangat jenius.

Sakura bertanya-tanya dalam hati, dari mana Sasuke bisa mengetahui pengetahuan manusia? Sedangkan pria itu adalah vampir. Bukankah selama ini Sasuke selalu tinggal di dalam mansionnya? Pertanyaan-pertanyaan penasaran Sakura hanya bersemayam di dalam otaknya. Saat ini ia hanya ingin fokus terlebih dahulu pada tugas sekolah.

Waktu yang mereka lalui bersama tidak terasa sampai akhirnya petang menyambut bumi. Sakura begitu senang saat melihat seluruh tugas libur panasnya sudah selesai.

"Ah~ selesai juga! Terima kasih, Sasuke-kun!" Sakura bersorak gembira sambil mencium pipi Sasuke sekilas. Rona merah menjalar di wajah manisnya begitu menyadari tindakan spontan yang baru saja ia lakukan.

"Hn," sahut Sasuke tersenyum tipis sambil merangkul pinggang Sakura agar lebih mendekat ke arahnya.

"Kalian membuatku cemburu!" Naruto cemberut melihat kemesraan sepasang kekasih itu. Rupanya ia sudah terbangun sejak sorakan gembira Sakura.

"Carilah pacar kalau begitu! Jangan mengganggu pacar orang lain!" Sasuke menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Sakura membuat gadis itu merasa geli.

"Sasuke-kun, aku keringatan dan bau," ujar Sakura menahan rona merah di wajah.

"Aku suka baumu," mulut Sasuke yang berucap menggelitik leher Sakura.

"Aaaaarrggghh! Aku benar-benar cemburu!" Naruto berseru kesal.

"Hentikan, Sasuke-kun," Sakura menjauhkan dirinya dari Sasuke karena merasa malu kemesraannya ditonton oleh Naruto. Sasuke mendengus tidak suka dan menopang dagu di atas meja.

"Ne, Naruto. Menurutku Sasuke-kun benar. Kau harus mencari gadis lain untuk kau kencani," ujar Sakura hati-hati. Ia tidak ingin membuat Naruto sakit hati.

"Tapi, aku hanya menyukai Sakura-chan," Naruto menunduk muram. Sakura semakin tidak enak dibuatnya.

"Tck!" Sasuke berdecak kesal.

"Kau tahu sendiri kalau aku sudah bersama Sasuke-kun dan aku mencintainya," Sakura berucap selembut mungkin. Ia menatap Naruto memohon pengertian.

"Aku tahu itu. Tapi, aku tidak bisa menyukai gadis lain. Menurutku Sakura-chan adalah gadis yang sangat berharga di hatiku. Kau telah menyelamatkan hidupku," Naruto tersenyum lembut dan iris matanya menunjukkan sebuah keputus-asaan.

Sasuke melirik sekilas sahabatnya itu. Ia mengerti apa yang dirasakan Naruto. Tapi, ia pun tidak akan pernah melepaskan Sakura untuk orang lain. Ia tidak akan berbaik hati dengan membagi Sakuranya dengan pria lain. Baginya Sakura hanya miliknya seorang.

Sakura menatap sendu Naruto. Ia tidaklah bodoh menafsirkan perlakuan Naruto selama ini. Siluman rubah itu selalu berusaha menarik perhatiannya, namun mau bagaimanapun Sakura tetap tidak bisa menyukai orang lain selain Sasuke. Ia pun yakin jika perasaan Naruto padanya hanyalah sebuah perasaan terhadap orang yang sudah menyelamatkan hidupnya. Bukan cinta seperti yang ia dan Sasuke rasakan.

"Kau pasti bisa menemukan seseorang yang mencintaimu dengan tulus," Sakura berucap lembut membuat Naruto terperangah.

Naruto memalingkan wajahnya menatap ke arah lain guna menyembunyikan rona merah di wajah, "Omong-omong apa sekolah itu menyenangkan, Sakura-chan?"

Sakura menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Naruto yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Setidaknya gadis itu merasa lega karena tidak harus membahas hal sensitif terus menerus. Gadis itu membereskan buku-bukunya dan merapikan alat tulis.

"Ya, sekolah sangat menyenangkan. Kau bisa mendapatkan banyak teman di sana. Meskipun tugas-tugasnya menyebalkan," sahut Sakura sambil terkekeh. Dan juga cowok-cowok yang menolakku itu menyebalkan. Lanjut Sakura dalam hati.

Naruto duduk tegap dan menghadap Sakura dengan mata berbinar, "Benarkah? Aku jadi ingin sekolah di tempat yang sama denganmu!"

"Jangan berkata yang macam-macam, dobe!" Sasuke memperingati dengan tatapan malas.

Naruto menoleh dan memberengutkan wajah, "Aku serius! Aku akan minta pada ayah dan ibuku agar memasukkanku ke sekolah Sakura-chan,"

"Eh?"

Sasuke mendengus dan menatap tajam Naruto, "Kalau kau berniat mendekati Sakura maka aku akan menghalangimu!"

"Jadi, kau juga akan masuk ke sekolah Sakura-chan?" Naruto mengembuskan napas kasar dan menatap tajam Sasuke.

"Tentu saja!" sahut Sasuke final.

"Heeeeee?"

.

.

.

.

.

.

Kepala Sakura dibuat pening oleh kelakuan dua lelaki yang dekat dengannya. Bagaimana bisa keduanya memutuskan masuk ke sekolah Sakura seperti memutuskan ingin bermain kelereng. Apa yang harus Sakura lakukan jika orang-orang tahu bahwa kedua makhluk itu bukanlah manusia? Ugh... Sakura tak habis pikir dengan yang ada di otak mereka. Semoga saja apa yang Sasuke dan Naruto ucapkan beberapa hari yang lalu hanyalah sebuah candaan mereka.

"Ohayou, Sakura-chan. Kenapa kau melamun begitu?" Sasori menatap heran adiknya yang baru tiba di ruang makan.

Sakura mengerjapkan mata beberapa kali dan menyadari bahwa ia sudah sampai di ruang makan.

"Ohayou, onii-chan. Aku tidak melamun kok," sahutnya mencoba terkekeh.

Sasori menautkan alis, namun memilih untuk mempercayai adiknya, "Kau harus semangat. Hari ini kau kembali ke sekolah 'kan?"

"Hu'um," Sakura menyahut sambil mengunyah roti panggangnya.

"Belajar yang rajin ya dan jangan dekat-dekat dengan anak laki-laki lain," Sasori menasehati, Sakura hanya mengangguk saja daripada urusannya menjadi panjang, "Haaaah~ untunglah kau sudah masuk sekolah. Berarti kau akan jarang bertemu dengan bocah-bocah menyebalkan itu," Sasori mendesah lega dan tersenyum bahagia.

Sakura tidak tahu harus merespon apa. Ia hanya nyengir dengan kaku dan segera menyelesaikan sarapannya. Begitu ia akan bangkit berdiri untuk segera berangkat, Sasori ikut berdiri dan memasukkan kotak bekal ke dalam tas Sakura.

"Aku akan mengantarkanmu ke sekolah,"

"Tapi, onii-chan 'kan harus kuliah,"

"Kuliahku jam sembilan. Tenang saja,"

"Baiklah," sahut Sakura pasrah. Sasori tersenyum manis dan menggandeng tangan Sakura keluar dari rumah.

Aku tidak akan membiarkan Sakura berangkat sekolah dengan diantar oleh dua bocah menyebalkan itu. Batin Sasori menyeringai sinis.

Kakak beradik itu memasuki mobil yang Sasori kendarai. Saat melewati rumah Sasuke, Sakura melihat rumah itu begitu sepi. Mungkin keduanya masih tidur. Tapi, biasanya pagi-pagi begini rumah itu sudah ramai dengan Naruto yang menggerutu sepanjang pagi karena Sasuke menyuruhnya membersihkan halaman rumah. Sedangkan Sasuke menyapanya dengan lembut seperti biasa.

"Pagi ini sangat menenangkan~" Sasori berucap riang saat melewati rumah tetangga barunya.

Sakura hanya melirik Sasori dan menghela napas. Bagaimana caranya ya agar kakaknya itu tidak bersikap sinis dengan dua pria yang saat ini dekat dengan Sakura?

.

.

.

.

.

.

"Okaa-san dan otou-san baru akan pulang dua bulan lagi. Urusan mereka belum selesai," Sasori menutup pintu mobil yang ia bukakan untuk adik kesayangannya.

"Begitu..."

"Nanti sore onii-chan tidak bisa menjemputmu karena kuliahku baru selesai jam tujuh malam. Hati-hati di jalan ya nanti?" Sasori mengusap lembut surai merah muda Sakura.

Sakura mengangguk dan tersenyum manis pada kakaknya, "Ya. Nah! Sekarang sebaiknya onii-chan cepat pulang dan siap-siap berangkat kuliah!" Sakura mendorong Sasori masuk ke dalam mobil.

Sasori terkekeh kecil kemudian mengecup pelan dahi Sakura, "Jaa! Semoga harimu menyenangkan, Sakura-chan!"

"Jaa!"

Sakura melambaikan tangannya memandang kepergian Sasori. Saat ia akan berbalik masuk ke dalam sekolah, Ino menepuk bahunya dengan kencang membuat gadis itu terlonjak kaget. Apalagi Sakura juga melihat Sai yang seperti mayat hidup berdiri di samping Ino.

"Pig! Kau mengagetkanku!"

"Ohayou, jidat! Seperti biasa kakak yang sister complex mengantarkanmu ke sekolah," Ino tertawa meledek.

Sakura mendengus malas, "Sasori nii-chan 'kan kakakku,"

"Ohayou, Sakura," sapa Sai dengan senyumannya.

"Ohayou, Sai," sahut Sakura dengan senyum kikuk.

"Tapi, kau sudah besar. Seharusnya kau diantar oleh pacarmu itu. Ke mana ia memangnya? Bukankah Sasuke tidak jauh berbeda dengan Sasori yang over protective?" Ino mengibas rambutnya penuh gaya.

"Sepertinya ia belum bangun," sahut Sakura acuh, "ayo kita ke kelas!"

"Ayo!" sahut Ino riang sambil merangkul lengan Sai, sedangkan Sakura memutar bola matanya bosan dan berjalan mendahului pasangan yang tengah dimabuk asmara itu.

.

.

.

.

.

.

Sakura sedang menggambar wajah guru kimianya yang bernama Orochimaru dengan semangat di buku tulis. Ia tidak memerhatikan ketika gurunya yang terkenal sangat disiplin sedang menerangkan pelajaran di depan kelas. Gadis bersurai merah muda itu sangat bosan karena di hari pertama sekolah guru dengan dandanan nyentrik tersebut sudah memulai pelajaran padahal guru yang lainnya masih santai-santai saja.

Karena sebal, akhirnya Sakura memutuskan untuk menggambar sang guru dengan hasil gambar yang tentu saja sangat buruk. Berbeda dengan kakaknya Sasori yang memiliki bakat seni alami, Sakura sama sekali tidak memiliki hal tersebut. Nilai keseniannya selalu di angka rata-rata, itupun setelah ia melakukan remedial tiga kali.

Lihatlah itu! Wajah Orochimaru terlihat gepeng dengan mata besar sebelah. Ia bahkan menambahkan taring dan juga tanduk di kepala lelaki bersurai hitam panjang tersebut. Karena saking asyiknya membuat maha karya yang sungguh tidak bisa disebut maha karya, Sakura tidak menyadari bahwa kini Orochimaru sedang memandangnya tajam dari depan kelas.

Seluruh siswa yang melihat guru mereka berhenti berceloteh mengikuti arah pandang lelaki itu. Ino sebagai sahabat yang baik tentu tidak mau jika Sakura terkena damprat di hari pertama sekolah mereka. Gadis pirang yang kebetulan duduk di depan sebelah kanan Sakura mencoba memanggilnya.

"Sakura, hei jidat!" bisik Ino hati-hati agar tidak terdengar oleh Orochimaru.

Sakura yang mendengar suara Ino pun menoleh dan memandang gadis itu dengan tanda tanya, "Kenapa? Orochimaru sensei sudah pergi?" tanyanya dengan suara bisikan.

Ino tidak menyahut pertanyaan Sakura. Gadis itu tersenyum kaku dan menggerakkan matanya ke arah depan. Sakura yang tidak mengerti segera melihat ke sekelilingnya karena mendadak suasana menjadi hening. Ia melihat seluruh atensi siswa mengarah padanya. Sakura dengan gerakan kaku mengangkat wajah dan melihat ke depan kelas. Sakura tersenyum kikuk saat melihat Orochimaru sedang memandangnya tajam, ia menelan ludah susah payah.

"Haruno, apa yang kau lakukan ketika aku mengajar di depan kelas?" desisan menyeramkan Orochimaru bagaikan lantunan lagu kematian.

Sakura menggelengkan kepala dengan cepat dan menutup buku tulis yang terdapat gambar Orochimaru jadi-jadian, "Tidak ada, sensei!"

"Jangan berbohong padaku atau penghapus papan tulis ini melayang ke jidat lebarmu itu!"

GRAAKKK!

Suasana hening menyeramkan itu teralihkan ketika pintu kelas digeser oleh seseorang. Sakura menghela napas lega karena Orochimaru tidak jadi melempar penghapus papan tulis yang keras ke dahinya.

"Yo! Aku ke sini ingin mengantarkan siswa baru," semua mata siswa di kelas XII IPA 1 menoleh saat wali kelas mereka, Hatake Kakashi datang dengan berita yang cukup mengejutkan.

"Kenapa baru di jam kelima ini mereka datang?" tanya Orochimaru.

Kakashi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Eto... Mereka terpaksa harus menungguku yang terlambat datang karena mencari jalan bernama kehidupan,"

Orochimaru dan siswa-siswa di kelas Sakura mendengus bosan mendengar jawaban Kakashi. Sementara Sakura sibuk menyobek kertas bergambar Orochimaru dan memasukkannya ke dalam saku rok.

"Suruh mereka masuk dan memperkenalkan diri," Orochimaru berjalan ke arah meja guru dan berdiri di sana.

"Baiklah," Kakashi tersenyum dengan mata menyipit. Ia menoleh ke belakang dan membuka pintu kelas lebih lebar, "ayo, kalian boleh masuk dan memperkenalkan diri,"

Kedua sosok pria dengan surai hitam kebiruan dan pirang itu melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas. Seluruh atensi siswa berpusat pada mereka. Ino bahkan membuka mulutnya ketika mengetahui siapa yang menjadi siswa baru di kelasnya. Sedangkan siswi-siswi yang lain sudah nampak heboh dengan bisikan-bisikan genit.

"Namaku Uzumaki Naruto pindahan dari Iwa. Salam kenal semuanya!" Naruto tersenyum lebar dan berseru dengan semangat.

"Uchiha Sasuke," ujar Sasuke malas. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana sekolah dengan santai.

Sakura yang mendengar nama kekasihnya disebut dengan cepat menoleh ke arah depan kelas. Kedua manik emerald-nya membulat dengan mulut terbuka sedikit ketika melihat Sasuke dan Naruto berdiri di depan kelas. Ia tidak percaya ini. Sasuke dan Naruto benar-benar serius untuk bersekolah di sekolah yang sama dengannya.

"Sakura-chan, kita sekelas!" Naruto berseru riang membuat seluruh kelas kembali memandang Sakura. Sakura tersenyum kaku menanggapi seruan Naruto.

"Kalian sudah mengenal Haruno?" tanya Kakashi yang disahuti dengan anggukan semangat Naruto dan gumaman Sasuke, "baiklah, kalian bisa duduk di samping dan belakang—"

"—Aku yang lebih dulu memilih bangku di samping Sakura-chan!"

Belum selesai Kakashi bicara, Naruto berteriak kesal ketika Sasuke melemparkan tas miliknya ke meja di belakang Sakura. Sejak kapan kedua pemuda itu berada di samping meja Sakura? Semua mata memandang bingung Sasuke dan Naruto.

"Aku yang lebih berhak duduk di sampingnya," Sasuke berujar datar dengan sorot mata tajam.

"Ah! Teme kau menyebalkan!"

Sasuke tidak memedulikan Naruto yang terus mengomel tidak terima jika tempat yang diincarnya direbut paksa olehnya. Lelaki itu memandang ke arah depan dengan wajah datar sambil sesekali melirik Sakura yang menghela napas panjang.

Ah~ Sepertinya di mana Sakura berada maka akan ada Sasuke dan Naruto di sampingnya. Dan bersiaplah ia menerima hukuman dari Orochimaru yang terlihat kesal dengan ulah Naruto dan Sasuke yang membuat kelasnya kacau karena ingin duduk di samping Haruno Sakura.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

.

.

.

Area bacot author:

Maaf kalau updatenya lama banget. Bener-bener nggak sempet soalnya dan baru hari ini aja sempetnya. Huhuhu... Makasih reviewnya minna-sama. Maaf ya belum bisa bales. Pokoknya review kalian berarti banget. Jadi, boleh minta reviewnya lagi ya? Ehehehe... dan happy fasting! XD