Standard Disclaimer Applied

WARNING!

AU, Typo, Miss-Typo, OOC, Absurd dll

.

.

.

.

.

.

Genre: Romance and Fantasy

Rate T

.

.

.

.

.

.

Pretty Man: The Series

By chocoaddicted

.

.

.

.

.

.

Enjoy, Minna-san!

.

.

.

.

.

.

"Sasuke-kun!"

"Kyaaaaa! Tampan sekali Sasuke-kun!"

"Naruto-kun juga tampan! Kyaaaa!"

"Lihat! Lihat! Sasuke-kun melihat ke arahku!"

"Tidak! Ia melihat ke arahku tahu!"

"Enak saja! Ia melihat ke arahku!"

Sasuke dan Naruto menutup pintu kelas dengan kasar membuat seisi kelas menatap bingung ke arah mereka. Naruto menyunggingkan senyum bersalah, sedangkan Sasuke tidak peduli dan memilih menuju mejanya di mana Sakura serta Ino mamandangnya bingung. Mengerti bahwa Sasuke ingin duduk di kursinya, Ino lantas berdiri dan kembali ke meja miliknya sendiri.

"Kau kenapa?" tanya Sakura begitu Sasuke mengempaskan bokongnya di kursi.

"Hn," sahut Sasuke ketus membuat Sakura menatapnya kesal.

"Kami dikejar-kejar gadis di sekolah ini, Sakura-chan!" Naruto tiba-tiba menyahut dari tempat duduknya di belakang Sakura.

"Benarkah?" Sakura sedikit memiringkan tubuh menghadap Naruto, "jadi suara-suara berisik di luar sana akibat ulah kalian?"

"Kami tidak berbuat macam-macam. Salahkan wajah kami yang terlalu tampan sehingga gadis-gadis itu histeris. Eh, tapi jangan salahkan wajah kami deh, hehe..." Naruto terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Sakura mendengus geli dan kembali memusatkan perhatian pada kekasihnya yang bertampang bete, "Bukankah bagus kalau kalian dapat banyak teman?"

"Mereka bukan teman," Sasuke membalas tatapan Sakura dengan ketus. Jelas sekali kalau Uchiha bungsu itu benar-benar kesal.

Sakura tertawa, "Tenang saja. Kalian akan terbiasa dan mungkin kalian akan senang mendapat penggemar seperti mereka,"

"Huh," Sasuke mendengus sebal.

"Aku sih lebih senang jika penggemarku Sakura-chan saja," Naruto menunjukkan cengirannya yang langsung hilang akibat dilempar pulpen oleh Sasuke, "ittai! Kenapa kau senang sekali melempari wajahku sih, teme?"

"Kau memang pantas mendapatkannya," Sasuke menyeringai membuat darah Naruto naik sampai kepala.

"Kau—"

"—Sudah sudah... Jangan mulai lagi, sebentar lagi guru datang," Sakura mencoba menengahi.

"Hn,"

"Huh!"

Gadis itu tersenyum simpul memerhatikan kedua pria yang tak pernah akur, namun saling peduli meski mereka selalu menampik hal tersebut. Keduanya memang tidak akan pernah bisa dipisahkan apapun caranya karena mereka memiliki ikatan yang sangat kuat.

.

.

.

.

.

.

Waktu berjalan begitu cepat. Bel pulang sekolah pun sudah berbunyi. Sakura berjalan diapit oleh Sasuke dan Naruto saat mereka pulang sekolah bersama. Ini adalah hal yang selalu diimpi-impikan Naruto. Pulang sekolah bersama dengan teman. Tidak melulu belajar sendirian bersama guru di ruang perpustakaan mansionnya nan jauh di Iwa.

"Hari ini aku senang sekali! Meskipun gadis-gadis itu sangat berisik," Naruto berseru riang sambil melipat tangannya di belakang kepala.

Sakura yang berjalan di samping kirinya menoleh dan tersenyum simpul, "Debut hari pertama yang mencengangkan ya?" gadis itu tertawa kecil.

Sasuke mendecih tak suka, "Hal itu bukanlah sesuatu yang dapat dibanggakan,"

Sakura menoleh ke arah Sasuke yang berjalan di sisi kirinya, "Eh? Tapi, setidaknya mereka berusaha akrab denganmu, Sasuke-kun,"

"Aku tidak butuh akrab dengan manusia-manusia berisik itu," jawab Sasuke datar.

"Kau tidak boleh seperti itu, teme. Bagaimanapun, kau tetap membutuhkan teman. Apa gunanya kau sekolah jika tidak mendapatkan teman," sahut Naruto tidak terima.

Sasuke melirik pria itu tajam, "Aku tidak butuh teman. Aku hanya butuh Sakura,"

Blush!

Sakura merona mendengar jawaban Sasuke yang terdengar serius. Gadis itu mengipasi wajahnya dengan telapak tangan. Sepertinya cuaca mendadak panas sekali di hari yang semakin sore.

"Huh! Gombal!" Naruto mencibir sebal.

"Hn," Sasuke menyahut cuek.

"Sudah jangan bertengkar. Lagipula, Sasuke-kun tidak bisa hidup seperti itu jika mengandalkan diriku saja. Cobalah membuka diri dan menjalin pertemanan dengan yang lain di sekolah," Sakura menatap kekasihnya dengan lembut.

Sasuke terpana pada sepasang emerald yang begitu lembut. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Dengan agak kikuk, Sasuke menatap lurus ke depan dan menggandeng tangan Sakura membuat gadis itu sedikit tersentak.

"Hn,"

Sakura tersenyum lebar melihat respon Sasuke. Gadis itu tahu bahwa prianya akan selalu mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan. Walaupun Sasuke terlihat acuh tak acuh, namun pria itu memiliki rasa kepedulian yang terbenam. Hanya perlu beberapa umpan untuk memancingnya keluar ke permukaan.

Menyadari sepasang kekasih yang berjalan meninggalkannya, Naruto buru-buru menyamai langkah keduanya. Meski kadang Naruto merasa seperti 'obat nyamuk', tapi ia merasa senang berada di antara sepasang kekasih itu. Setidaknya ia tidak merasa kesepian seperti dahulu.

.

.

.

.

.

.

Sasori yang hendak membuka pintu pagar rumah menghentikan gerakannya saat melihat ketiga sosok remaja yang berjalan beriringan. Hazel-nya membulat menyadari bahwa adik kesayangannya berjalan diapit dua pemuda yang memakai seragam yang sama dengan Sakura. Dan yang paling membuat hatinya ketar-ketir adalah dua orang pemuda yang mengapit gadis itu adalah dua bocah tengik yang berada dalam daftar pria-pria yang patut dijauhi dari adik semata wayangnya.

"Kenapa kalian memakai seragam yang sama dengan Sakura-chan?" tanya Sasori tidak mengerti.

"Tentu saja karena kami mulai hari ini bersekolah di sekolah yang sama dengan Sakura-chan," Naruto menyahut dengan cengirannya.

Saking kagetnya, Sasori membuka mulut tanpa sadar. Ia tidak percaya hal ini. Niatnya menjauhkan Sakura dari Sasuke dan Naruto justru malah mendapati mereka bertiga semakin dekat. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

"Kami permisi," Sasuke membungkukkan kepalanya singkat pada Sasori. Melepas genggaman tangannya pada Sakura setelah memberi senyum tipis pada gadis itu.

"Jaa, onii-chan!" Naruto melambaikan tangan ceria mengikuti Sasuke masuk ke dalam rumah pria itu.

Sasori masih bergeming di tempat memandang tidak percaya dua lelaki yang baru saja masuk ke kediaman mereka. Sedangkan Sakura hanya tersenyum sambil menggaruk pipi melihat respon kakaknya yang sangat syok. Setidaknya Sasori tidak histeris seperti kemarin-kemarin sehingga Sakura bisa bernapas lega.

.

.

.

.

.

.

"Ohayou, onii-chan!" Sakura turun dari tangga dan berjalan dengan riang menuju ruang makan.

Sasori meletakkan sarapan ala Inggris di atas meja makan, lalu menoleh membalas sapaan riang adiknya.

"Ohayou, Sakura-chan,"

"Hm... Hari ini sarapan ala Inggris! Yeah!" Sakura bersorak gembira, lalu duduk di kursi. Ia memegang garpu dan berseru, "itadakimasu!"

Sasori tersenyum kecil melihat adiknya yang begitu lahap memakan sarapannya. Ia tahu sarapan ala Inggris adalah kesukaan Sakura. Meski Sasori lebih suka sarapan dengan roti panggang dan selai kacang, namun ia berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk adiknya karena Sakura sangat berharga bagi pria itu.

"Sakura-chan, boleh onii-chan bicara?" Sasori meletakkan cangkir kopi dan memandang serius Sakura di seberang meja makan.

Sakura berhenti memotong sosis, menelan makanannya dan meminum susu sedikit. Gadis itu lantas meletakkan garpu dan membalas tatapan Sasori yang terlihat serius.

"Ada apa, onii-chan?"

"Sejak kapan bocah-bocah tengik itu sekolah di sekolahmu?"

"Baru kemarin,"

"Jadi begitu... Mereka benar-benar ingin mengibarkan bendera perang denganku rupanya," Sasori menggenggam garpu dengan kencang sampai garpu tersebut bengkok.

Sakura terdiam ngeri dan melanjutkan sarapannya dengan cepat. Aura Sasori benar-benar menyeramkan. Sebisa mungkin ia ingin menghindarinya.

.

.

.

.

.

.

"Pulang sekolah langsung pulang," Sasori bicara pada Sakura setelah menutup pintu mobil di mana Sakura duduk.

"Ya," sahut Sakura menurut.

"Jika bocah tengik itu mendekatimu, semprot saja dengan ini," Sasori memberikan Sakura sebuah botol dengan air berwanra merah.

"Apa ini?" Sakura ingin menyemprotkan botol itu ke lengannya, namun ditahan Sasori.

"Jangan! Itu air cabai," Sasori menahan tangan Sakura yang ingin menyemprotkan botol yang dikira parfum oleh adiknya.

Sakura sweatdrop. Mereka sudah seperti penjahat saja di mata Sasori nii-chan.

"Ya sudah, aku berangkat kuliah dulu. Sampai jumpa di rumah, Sakura-chan," Sasori mencium pipi kiri-kanan Sakura dan masuk ke dalam mobil.

"Kakakmu itu benar-benar pengidap sister complex yang akut,"

"Sasuke-kun!" Sakura terlonjak saat melihat Sasuke sudah berdiri di samping gadis itu dengan gaya santainya.

"Hn?"

"Kau mengagetkanku!" Sakura mengusap dadanya, "di mana Naruto?" Sakura melihat sisi kanan dan kiri Sasuke.

Sasuke berdecak, "Kenapa sepagi ini saat kau bertemu denganku yang kau tanyakan justru si bodoh itu?"

Sakura mengerucutkan bibir, "Itu karena kalian bagaikan perangko!"

"Aku tidak seperti itu dengannya," Sasuke berbalik dan menuju gedung sekolah.

Sakura menyusul dan berjalan di sisi kanan Sasuke, "Kau tidak usah malu begitu, Sasuke-kun. Aku tahu kau itu sangat peduli dengan Naruto. Meski kalian sering bertengkar, aku tahu kau diam-diam memerhatikannya," Sakura melepas sepatunya dan mengganti dengan uwabaki saat sudah sampai di depan loker sepatu yang masih sangat sepi.

"Mungkin kau tidak mau mengakuinya, tapi dari matamu terpancar perasaan hangat ketika berada di dekat Naruto. Nah, sekarang kau sudah bersekolah di sini. Ada baiknya kau mencari teman yang lebih banyak. Aku yakin kau bisa—"

CUP!

Ocehan Sakura akan terus berlanjut jika saja Sasuke tidak membungkam mulut gadisnya dengan ciuman yang cukup panjang, membuat gadis itu merasa sesak di dada karena berjuta kupu-kupu menari di sana.

"Cerewet!"

Sasuke melepas bibirnya yang melahap dengan rakus bibir kekasihnya. Dilihatnya wajah Sakura yang memerah dan syok membuat Sasuke tersenyum geli.

"Lihatlah tampangmu. Konyol sekali," Sasuke menyeringai dan pergi meninggalkan Sakura yang masih berdiri mematung di depan loker sepatu.

Sakura berkedip beberapa kali sampai kesadarannya kembali terkumpul. Seketika wajahnya semakin memanas. Ia menatap jengkel kekasihnya yang berjalan dengan santai di lorong sekolah.

"Sasuke-kun, kau menyebalkan!" teriakan Sakura menggema di gedung yang masih sangat sepi tersebut.

Tidak ada pagi yang lebih menyenangkan dari menggoda Sakura dan lepas dari Naruto yang hiperaktif. Ah... rasanya hari ini Sasuke akan merasakan hal-hal baik di sekelilingnya.

.

.

.

.

.

.

Sudah dua minggu Sasuke dan Naruto bersekolah di sekolah yang sama dengan Sakura. Setiap jam istirahat pasti ada teriakan-teriakan penggemar mereka yang mulai menjadi rutinitas di Konoha High School. Sakura tidak merasa masalah dengan semua itu. Ia justru merasa senang karena banyak orang yang menerima keberadaan Sasuke dan Naruto layaknya manusia biasa.

Gagak-gagak yang berterbangan di langit senja menjadi penanda bahwa sudah saatnya Sakura kembali ke rumah bersama Sasuke dan Naruto. Mereka bertiga berjalan beriringan di pinggir lapangan basket sambil mengobrol. Lebih tepatnya Naruto yang terus saja menggoda Sakura dan Sasuke yang menjitak pria pirang tersebut.

Tiba-tiba langkah Sasuke berhenti saat sebuah bola basket menggelinding mengenai kakinya. Ia mengambil bola berwarna oranye tersebut dan melihat beberapa siswa sedang bermain basket di lapangan olah raga sekolah.

"Ah! Sasuke, Naruto! Kebetulan sekali," seru Shikamaru yang berniat mengambil bola basket yang menggelinding ke luar lapangan.

"Kalian sedang bermain basket ya?" tanya Naruto antusias.

Shikamaru mengangguk, "Ya. Iseng saja sih untuk olah raga,"

"Wah... Seseorang sepertimu mau juga bermain basket daripada tidur?" Sakura berucap dramatis.

"Tidur terus membuat badanku pegal-pegal," sahut Shikamaru cuek.

"Ini," Sasuke memberikan bola yang berada di tangannya pada pria berambut nanas yang beberapa kali menguap.

"Kalian ingin bergabung?" Shikamaru menunjuk lapangan dengan jempol tangan.

"Mau! Mau!" sahut Naruto semangat.

"Hn..." Sasuke sebenarnya ingin ikut bermain salah satu olahraga kesukaannya itu. Namun, ia tidak mau membiarkan Sakura pulang sendirian.

Mengerti tatapan kekasihnya yang khawatir, Sakura tersenyum lebar, "Mainlah. Aku bisa pulang sendiri. Tidak usah mengkhawatirkanku,"

"Tapi..." meski suara Sasuke datar, namun Sakura bisa melihat onyx pria itu yang terlihat ragu.

"Ini kesempatanmu untuk mendapatkan teman. Kau ingin bersama Naruto terus selama hidupmu, Sasuke-kun?" bisik Sakura takut Naruto mendengar ucapannya.

"Sakura-chan, kau yakin pulang sendiri?" Naruto juga tampak segan bermain jika membiarkan gadis itu pulang seorang diri.

"Tidak apa-apa, Naruto. Aku tidak akan tersesat kok!" sahut Sakura ceria, "sudah sana! Cepat kalian main keburu hari semakin gelap!" Sakura mendorong Sasuke dan Naruto masuk ke dalam lapangan.

Saat kesepuluh pria itu berkumpul di lapangan basket. Sakura masih dapat melihat Sasuke memandang ke arahnya. Gadis itu melambaikan tangan dengan senyum merekah. Ia pun pulang dengan hati riang meski tanpa kedua pria yang selalu mengisi hari-harinya.

.

.

.

.

.

.

Sakura sedang dalam perjalanan menuju perpustakaan bersama Ino ketika keduanya mendengar kebisingan dari taman di dekat gedung perpustakaan. Jika ditilik dari jauh, mereka melihat segerombolan gadis sedang mengerumuni seorang pemuda berambut raven yang sangat mereka kenal.

"Gadis-gadis itu terlihat seperti semut yang mengerubungi gula," kata Ino menghentikan langkahnya untuk memerhatikan gadis-gadis sekolahnya yang begitu agresif.

"Aku dengar mereka adalah Sasuke Fans Club," Sakura menyahut dengan tertawa kecil.

Ino menoleh heran pada Sakura sambil berkacak pinggang, "Kau tidak cemburu melihat kekasihmu dikelilingi gadis lain seperti itu?"

Sakura menggeleng pelan, "Tidak. Bukankah ini baik untuk Sasuke-kun? Ia jadi punya banyak teman,"

"Aku benar-benar tidak mengerti denganmu," Ino menggeleng dramatis melihat kelakuan sahabatnya.

"Sudah, ayo kita harus cepat ke perpustakaan sebelum bel istirahat berakhir,"

"Ya, ya,"

Ino berjalan terlebih dahulu di depan Sakura. Sementara itu, Sakura masih memandangi Sasuke yang dikerumuni penggemarnya. Pegangannya pada buku-buku yang ia peluk perlahan mengencang. Entah kenapa hatinya merasa gelisah.

.

.

.

.

.

.

"Hari ini kau pulang duluan saja," Sasuke bicara saat bel pulang berbunyi.

Sakura menghentikan gerakan tangannya yang memasukkan buku ke dalam tas. Ia menoleh memandang Sasuke yang sibuk merapikan tasnya.

"Memangnya kau mau ke mana, Sasuke-kun?"

"Aku ada janji," setelah mengatakan itu, Sasuke segera pergi dari kelas.

Sakura menoleh ke belakang dan ia tidak melihat Naruto di kursinya. Sepertinya pria pirang itu sudah pulang lebih dulu. Tidak biasanya Naruto seperti itu. Kenapa akhir-akhir ini kedua pria itu terlihat sibuk dan jarang pulang bersama dengan Sakura? Apakah mereka sudah melupakan Sakura? Hati gadis itu berdenyut nyeri.

"Apa sih yang kupikirkan? Tch!" Sakura berdecak dan segera pergi dari kelasnya yang sudah kosong.

Gadis itu berjalan seorang diri di sekolah yang sudah sepi. Saat melalui koridor menuju loker, ia mendengar suara seorang gadis di sebuah kelas. Ia sebenarnya tidak pernah tertarik untuk menguping pembicaraan orang lain, namun ketika bayangan Sasuke terlihat di dalam kelas itu, tubuh Sakura secara refleks sembunyi di balik pintu kelas.

Gadis itu merapatkan telinganya untuk mendengar pembicaraan mereka, namun ia tidak dapat mendengar apapun.

"Apa sih yang mereka bicarakan sampai harus berduaan begitu?" Sakura semakin penasaran, namun gengsinya lebih tinggi sehingga ia tidak berani masuk dan bertanya langsung pada Sasuke.

Saat gadis itu mengintip, jantungnya terasa berdetak sakit melihat Sasuke tersenyum tipis pada gadis bersurai pirang yang merupakan gadis terpopuler di Konoha High School, Shion. Sakura merasa matanya memanas, jadi ini yang Sasuke maksudkan jika ia ada janji dan tidak bisa pulang bersama Sakura. Rupanya ia memilih untuk menemui Shion membicarakan suatu hal yang tidak diketahui oleh Sakura.

Tidak mau berlama-lama di sana, Sakura memilih pergi dengan cepat sebelum air matanya keluar dan Sasuke menyadari kehadirannya. Untuk saat ini, gadis musim semi itu tidak mau bertemu Sasuke.

Naruto sedang bermain basket dengan teman-temannya saat melihat Sakura berlari melewati lapangan tersebut, "Sakura-chan!"

Sakura berhenti berlari dan menghapus air matanya dengan cepat ketika mendengar Naruto menyerukan namanya. Gadis itu menoleh dan mendapati siluman rubah itu sedang bermain basket bersama Shikamaru, Sai dan Kiba.

"Maaf, hari ini aku tidak bisa pulang bersama. Aku ingin main basket dulu!" Naruto berseru dengan cengirannya.

Sakura mengangguk dan melambaikan tangan. Ia tidak bisa membalas ucapan Naruto karena ia khawatir suaranya akan terdengar bergetar. Lalu, gadis itu melanjutkan langkahnya menuju rumah yang saat ini terasa paling damai untuk ia kunjungi.

Tidak lama Sakura pergi dari sekolah, Sasuke tiba di lapangan basket. Ia meletakkan tasnya di pinggir lapangan bersama dengan tas-tas yang lain.

"Kau lama!" seru Naruto kesal saat Sasuke berjalan menghampirinya.

"Tadi ada gangguan sedikit," sahut Sasuke tak acuh, "jadi, hari ini three on three?" tanyanya saat melihat hanya ada ia, Naruto, Sai, Shikmaru, Kiba dan Lee yang baru saja tiba.

"Walaupun three on three, jangan pernah meremehkan semangat masa mudaku, Sasuke!" Lee berseru.

"Tch! Aku dan alis tebal pasti akan mengalahkanmu hari ini, Sasu-teme!" Naruto menunjuk Sasuke tepat di depan wajah pria itu.

"Kalian selalu merepotkan," Shikamaru menguap lebar.

"Baiklah, ayo kita mulai!" seru Kiba.

"Jadi, aku, kiba dan Sasuke satu tim lagi?" tanya Sai saat bola sudah melambung tinggi dan diterima dengan apik oleh Sasuke.

"Cepat lari, Sai!" seru Sasuke sambil mendribel bola.

Keenam remaja laki-laki itu berlari memperebutkan sebuah bola dengan antusias. Mereka tidak menyadari seseorang dari atas atap memerhatikan dalam diam. Mata jadenya menelusuri jalan yang dilalui oleh Sakura. Perlahan tapi pasti sebuah seringai merekah di bibirnya.

.

.

.

.

.

.

"Nanti malam ada hanabi di kuil. Kau harus datang!"

Suara Ino yang semangat di seberang telpon sana tidak membuat Sakura tertarik sama sekali. Padahal setiap tahunnya gadis itu sangat menantikan hanabi di musim panas. Karena hanya saat itulah ia mengenakan yukata yang menurut Sasori dan teman-temannya membuat gadis itu terlihat cantik sepuluh kali lipat dari biasanya.

"Aku malas," sahut Sakura.

Sudah tiga hari berlalu dari skandal Sasuke bersama Shion di kelas yang sepi. Dan sudah selama itu juga ia tidak berbicara banyak dengan kekasihnya. Sasuke selalu menyuruh Sakura pulang lebih dulu dan gadis itu tidak pernah berani bertanya tentang skandal tersebut.

"Apa yang kau katakan? Apakah kau sedang mabuk?"

"Aku masih di bawah umur untuk meminum alkohol, pig!"

"Bagus! Kalau begitu kau harus datang nanti malam. Kalau kau tidak datang, maka persahabatan kita berakhir!"

"Hei—"

Tut... Tut... Tut...

Sakura berdecak kesal saat panggilannya diputus sepihak oleh Ino. Sebenarnya Sakura tahu maksud Ino itu baik karena hanya Ino satu-satunya yang mengetahui kegalauan gadis itu. Sahabat terbaiknya itu bermaksud menghibur Sakura dengan mengajaknya ke festival yang menjadi favorite gadis itu setiap tahun. Hanya saja, Sakura merasa saat ini momennya kurang tepat.

Tapi, Ino tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Jadi, Sakura memutuskan membuka lemari pakaian dan memakai yukata berwarna merah dengan corak bunga Sakura. Sejenak ia teringat Sasuke dan berpikir apakah akan mengajak pria itu ke festival tersebut? Gadis itu dengan cepat menggelengkan kepala.

"Ia pasti sibuk. Lebih baik aku pergi sendiri saja," Sakura sudah memutuskan dan ia hanya berharap malam ini semua kegelisahan hatinya akan lenyap tak bersisa.

.

.

.

.

.

.

"Maaf, aku terlambat!" Sakura terengah-engah begitu sampai di tempat janjiannya untuk bertemu dengan Ino dan kekasihnya, Sai.

"Kau selalu seperti itu," ujar Ino berkacak pinggang. Sakura hanya memberikan cengiran bersalah.

"Kupikir kau datang bersama Sasuke," ucapan Sai yang begitu polos itu membuat raut wajah Sakura berubah drastis.

Ino segera mencubit pinggang Sai membuat kekasihnya itu mengaduh kesakitan. Terkadang pria yang selalu tersenyum itu tidak dapat membaca keadaan.

"Hari ini kau sangat cantik dengan yukata itu," hibur Ino sambil mengapit tangan Sakura dan mengajak gadis itu berjalan masuk ke dalam festival yang sudah ramai.

"Kau juga cantik dengan yukata ungu itu," sahut Sakura berjalan beriringan dengan Ino. Mencoba melupakan tenatang ucapan Sai yang membuat mood-nya rusak.

"Tentu saja, aku cantik mengenakan apapun," Ino tertawa membuat Sakura juga ikut tertawa.

.

.

.

.

.

.

Sasuke mencoba menghubungi Sakura, namun ponsel gadis itu tidak aktif. Kemana kekasihnya itu? Tidak biasanya ponsel yang tidak pernah lepas dari gadisnya itu tidak aktif. Karena penasaran, Sasuke memutuskan untuk menyambangi Sakura ke rumahnya.

Naruto yang baru saja mandi melihat Sasuke turun dari tangga dan berjalan menuju pintu utama. Agak aneh rasanya melihat Sasuke yang biasanya sangat malas keluar rumah setelah main basket kini terlihat akan pergi entah ke mana.

"Oi, Sasuke! Kau mau ke mana?"

Sasuke hanya menoleh tanpa menjawab pertanyaan Naruto. Mendapatkan respon seperti itu, Naruto tahu jawabannya jika Sasuke ingin mengunjungi Sakura. Pria bermarga Uzumaki itupun segera berlari menyusul Sasuke yang sudah hampir sampai di gerbang utama kediaman Uchiha bungsu ini.

"Aku ikut!" Naruto memakai sepatunya dengan cepat menyusul Sasuke yang sudah membuka pintu gerbang keluarga Haruno.

Tok... Tok... Tok...

Sasuke mengetuk pintu bercat putih itu beberapa kali, namun tidak ada sahutan dari dalam. Lelaki itu melihat ke sekelilingnya dan tidak mendapati mobil Sasori di sana yang berarti kakak sulung kekasihnya itu sedang tidak ada di rumah. Sasuke memutuskan untuk masuk ke dalam kediaman Haruno dengan kekuatannya.

"Oi, Sasuke! Tunggu!" Naruto berdecak kesal saat melihat Sasuke sudah menghilang, "kenapa dia sangat menyebalkan sih?!" gerutu Naruto, lalu menyusul menghilang dengan kekuatannya.

Sasuke berjalan di dalam rumah Sakura setelah sebelumnya mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Ia langsung menuju kamar kekasihnya yang berada di lantai dua. Kamar bernuansa hijau itu kosong, tidak ada tanda-tanda Sakura di dalamnya. Bahkan jendela dan pintu balkon pun sudah terkunci rapat dengan gorden yang tertutup.

Naruto baru saja tiba di depan kamar Sakura, namun ia melihat Sasuke keluar dari sana membuatnya bingung.

"Ada apa sih sebenarnya?" pria berkulit tan itu terus mengekori Sasuke sampai ke dapur keluarga Haruno.

Sasuke melihat ke sekeliling dapur itu dan menemukan post it di kulkas dua pintu tersebut. Pria itu mengambil post it tersebut dan membacanya. Mulutnya terkatup rapat membaca rentetan kata singkat yang ditulis oleh Sakura di sana.

"Sasuke, kau tidak punya mulut ya? Daritadi aku bertanya padamu, teme!" Naruto kesal menatap sahabatnya yang sejak tadi bertingkah aneh.

"Sial! Dia pergi tidak memberitahuku!" Sasuke menggeram kesal dan menempelkan kembali post it yang Sakura buat untuk kakaknya, Sasori.

"Ada apa sih?" Naruto membaca post it tersebut, "'onii-chan, aku pergi ke festival hanabi di kuil bersama Ino. Aku akan pulang diantar olehnya, jadi tidak usah khawatir.' Jadi, Sakura-chan ke festival yang dibicarakan teman-teman itu? Kenapa ia tidak mengajakku?" Naruto berteriak histeris.

"Dia juga tidak memberitahuku," Sasuke bergumam pelan.

"Hah? Sakura-chan juga tidak mengajakmu? Bagaimana bisa?" Naruto bertanya heboh membuat kepala Sasuke mendadak pusing.

"Tch! Aku harus segera menyusulnya," lelaki tampan itu berjalan cepat menuju pintu utama keluarga Haruno untuk memakai sepatunya dan pergi ke kuil menemui sang kekasih.

"Aku ikut, teme!" Naruto berlari menyusul Sasuke.

.

.

.

.

.

.

"Ino-chan, kenapa Sakura tidak datang bersama Sasuke?" Sai bertanya pelan saat ada kesempatan di mana mereka berdua berada dalam jarak yang tidak terlalu dekat dengan Sakura.

"Jangan menyebut nama vampir itu saat ini karena Sakura sangat sensitif mendengarnya," Ino menyahut sambil memakan dango yang Sai belikan beberapa saat yang lalu.

"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Sai ingin tahu.

Ino menoleh dan menatap kekasihnya itu curiga, "Apa kau sudah tertular virus 'penasaran' milikku?" tanyanya yang dihanya dijawab dengan senyuman Sai.

"Ino, Sai! Aku mau ke toilet dulu ya sebentar," Sakura menghampiri sepasang kekasih itu.

"Kau ingin buang air?" tanya Ino.

Sakura menggeleng, "Tidak. Aku merasa kurang nyaman dengan obi ini. Aku akan segera kembali,"

"Hati-hati, jangan sampai kau tersesat!" seru Ino begitu Sakura sudah pergi dari hadapannya dan Sai.

.

.

.

.

.

.

Sakura agak sulit berjalan di tengah kerumunan orang apalagi ia sedang mengenakan yukata. Setelah mengucapkan sumimasen berkali-kali akhirnya Sakura sampai di toilet umum. Sakura segera memperbaiki posisi obi-nya yang kurang nyaman serta memoles kembali lipgloss yang mulai hilang akibat memakan okonomiyaki tadi. Tiba-tiba saja Sakura merasa kantung kemihnya penuh sehingga gadis itu masuk ke dalam bilik toilet.

"Shion, jadi kau sudah menembak Uchiha Sasuke?"

Suara seorang gadis terdengar di telinga Sakura. Mendengar nama kekasihnya disebut, Sakura menajamkan pendengarannya. Gadis itu buru-buru menyelesaikan urusan toiletnya dan mengintip dari balik bilik toilet. Ia melihat Shion sang idola sekolah bersama dua orang temannya.

"Sudah dan ia menolakku," sahut Shion cuek sambil memoleskan lipstik di bibirnya.

"Hah?! Yang benar?!" Tayuya kaget mendengar jawaban Shion.

"Alasannya apa?" Kin juga ikut penasaran.

Shion memasukkan lipstik merahnya ke dalam clutch bag, "Katanya ia sudah punya pacar,"

"Huh? Siapa?" Kin makin penasaran.

Tayuya menjentikkan jari, "Jangan-jangan Haruno Sakura! Aku pernah melihatnya beberapa kali pulang bersama Sasuke,"

Shion menoleh menatap Tayuya, "Kau kenal Haruno Sakura?"

"Aku hanya tahu namanya. Ia sekelas dengan Sasuke," sahut Tayuya.

"Apa kita harus menemuinya dan menyuruhnya menjauhi Sasuke?" Kin bertanya dengan senyum licik. Sakura merasa jantungnya berdebar ketakutan.

"Tidak perlu," sahut Shion memandang dirinya di depan cermin, "karena aku sendiri yang akan membuat Sasuke berpaling darinya," lanjutnya dengan senyum licik.

"Dia bukan tandinganmu, Shion. Kau pasti akan menang telak!" Tayuya tertawa diikuti dengan Kin.

"Ayo kita pergi," Shion bersama dengan Kin dan Tayuya pergi meninggalkan toilet umum.

Dari sekian banyak tempat, kenapa Sakura harus mendengar semua percakapan ketiga gadis itu di saat ia berusaha menghibur diri dengan menonton hanabi? Gadis itu tidak tahu harus berbuat apa karena pada kenyataannya Sakura merasa minder dengan Shion. Shion jauh lebih cantik dan seksi dari Sakura meski gadis pirang itu tidak sepintar Sakura. Lelaki normal manapun pasti akan berpaling darinya dan memilih di samping Shion.

Sakura keluar dari bilik toilet dan memandang pantulan dirinya di depan cermin. Ia menghela napas berat dan memilih untuk tetap menjalani takdirnya apapun yang terjadi. Saat ini ia sangat ingin mempercayai Sasuke karena pria itu sudah menolak Shion demi dirinya. Sakura tersenyum simpul dan keluar dari toilet.

Gadis itu menyalakan ponselnya dan terkejut melihat ada sebelas misscall serta lima pesan dari Sasuke. Sakura membuka pesan Sasuke satu persatu.

Sakura, kau dimana?

Apa kau marah padaku? Jawab teleponku.

Aku minta maaf. Ayo kita bertemu.

Kau tidak merindukanku? Bagaimana kalau kita pergi malam ini?

Sakura, aku segera ke kuil! Jangan kemana-mana. Aku akan menjemputmu!

Deg!

Sakura merasa jantungnya berdebar cepat membaca pesan-pesan singkat Sasuke di aplikasi bernama Line. Ia memasukkan ponsel ke clutch bag miliknya dan berlari menuju gerbang kuil setelah mengirim pesan pada Ino bahwa ia akan menemui Sasuke.

Gadis itu menuruni anak tangga dengan terburu-buru hingga tak berhati-hati bahwa kemungkinan ia akan tersandung. Benar saja, kaki gadis itu terbelit dan hampir jatuh dari tangga jika seseorang tidak menarik tubuhnya. Sakura tersenyum senang mengira seseorang yang menyelamatkannya adalah Sasuke, namun senyum Sakura hilang ketika melihat orang asing di hadapannya.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya pria bersurai merah dengan tato Ai di keningnya.

Sakura merasa canggung dan mengangguk, "Ya, terima kasih,"

Lelaki itu cepat tanggap dengan situasi dan segera melepas rangkulannya dari bahu Sakura. Ia menjaga jarak satu langkah dari Sakura.

"Sebaiknya kau hati-hati meski terburu-buru," nasihatnya dan pergi meninggalkan Sakura.

"Sekali lagi, terima kasih!" Sakura membungkukkan badan dan dijawab dengan senyuman oleh pria bersurai merah tadi.

Ingat dengan tujuan utamanya, Sakura kembali berjalan menuruni anak tangga dengan hati-hati. Ia berbelok menuju taman dekat sungai mencari-cari sosok Sasuke. Gadis itu sudah kelelahan berlari dan memutuskan berhenti di tengah jembatan ketika kembang api mulai diletuskan di langit malam yang cerah. Sakura mendongak memandang penuh kagum hanabi yang selalu ia nantikan setiap tahun.

Seharusnya ia menonton hanabi ini bersama Sasuke. Tapi, ia malah terjebak seorang diri di sana. Sakura seharusnya mempercayai Sasuke dan tidak larut dalam kegelisahan seorang diri. Seharusnya Sakura tidak merasa iri karena Sasuke memiliki teman, sebab Sasuke sudah bertahun-tahun hidup seorang diri di bukit Uchiha dan pria itu pasti tidak memiliki banyak teman. Seharusnya Sakura tidak egois dan memikirkan dirinya sendiri.

Gadis itu menangis sesenggukan menyadari betapa egoisnya ia pada Sasuke. Sasuke selalu memikirkannya. Bahkan pria itu meminta maaf meski tidak tahu apa kesalahannya. Pria itu rela pergi jauh-jauh menjemputnya, mencarinya meski ia tidak pernah mengatakan apapun. Sakura menyesal. Ia merindukan Sasuke. Ia ingin memeluk Sasuke.

"Sakura!"

Sakura menoleh mendengar suara Sasuke yang memanggil namanya. Kekasihnya berlari dari ujung jembatan dengan raut wajah cemas yang kentara.

"Sasuke-kun,"

Sasuke memeluk Sakura dengan erat, "Syukurlah aku menemukanmu,"

"Sasuke-kun, maafkan aku," Sakura memeluk Sasuke dan mencengkram kaus hitam yang dikenakan pria itu.

"Kau membuatku cemas, baka!"

"Maaf,"

"Jangan ulangi lagi!"

"Ya," Sakura mengangguk dengan air mata yang masih mengalir.

Sasuke melepas pelukannya dan menatap wajah Sakura yang penuh air mata, "Kenapa kau menangis?"

Sakura tersenyum menatap Sasuke, "Mungkin karena aku merindukanmu,"

"Baka! Jangan menangis! Aku sudah ada di depanmu," Sasuke menghapus jejak air mata Sakura dengan ibu jarinya.

Sakura sekali lagi mengangguk, "Sasuke-kun, aku mencintaimu," ungkapnya setulus mungkin.

Sasuke tertegun menatap wajah Sakura. Vampir murni itu tersenyum dan membelai wajah kekasihnya. Ia mendekatkan wajah dan mencium bibir ranum Sakura penuh cinta di bawah hanabi yang bersinar dengan indah. Satu hal yang pasti, Sakura tahu jika Sasuke mencintainya dan ia mempercayai hal tersebut.

.

.

.

.

.

.

To be continue

.

.

.

.

.

.

Maafkan aku yang sekian lama hiatus. Banyak banget fict yang belum terselesaikan. Aku nggak janji untuk update cepet. Kuusahakan untuk menyelesaikan beberapa fict walaupun selambat kura-kura.

Terima kasih sudah sabar menunggu (jika ada). Terima kasih sudah sampai PM untuk update. Terima kasih untuk segala support yang diberikan. Semoga chapter ini tidak mengecewakan. : )