Assassination Classroom (c) Matsui Yuusei
Sink a Song (c) Roux Marlet
Alternate Reality, 3-nen-E gumi utatan
For #AnsatsuHalloweenPartII
.
.
.
.
.
Chapter 2: Crack
.
.
.
.
.
Seandainya dia menuruti nafsu perutnya dan makan tempura pedas itu kemarin, mungkin akan kelihatan bahwa dia tidak bisa setabah Hiroto Maehara.
Yuuma Isogai berjalan kaki ke sekolahnya hari Sabtu pagi itu sambil memikirkan kejadian malam sebelumnya.
Semuanya bermula dari sebuah paket makanan yang ditujukan untuk Karma Akabane, 'dari penggemar rahasia', yang dikirim ke belakang panggung satu jam sebelum mereka tampil di acara ulang tahun Yuuji Norita. Kayano dengan bercanda mengatakan bahwa makanan itu beracun, tapi Maehara yang belum sempat makan sejak siangnya langsung mencomot sepotong. Isogai sendiri sebetulnya juga kelaparan, tapi makanan itu 'kan bukan untuknya, dan dia masih punya cukup harga diri untuk tidak mengemis makanan orang lain.
Dalam setengah jam berikutnya ada setidaknya lima kali Maehara bolak-balik ke toilet dan Kayano mencelanya karena tim tata rias yang disewanya jadi tidak bisa segera menggarap sang casanova. Saat gadis itu pergi ke ruang ganti, barulah Maehara berbisik pada Isogai, menanyakan apakah si ikemen punya obat diare.
"Perutmu tidak tahan makanan pedas?" tanya Isogai yang untungnya selalu membawa obat-obatan.
"Sepertinya begitu," Maehara menjawab sambil meringis. Dia segera menelan tablet itu.
"Kalau sudah tahu, kenapa makan?" balas Isogai sementara Maehara lari lagi keluar ruangan.
"Maehara-kun sakit perut?" tanya Nagisa Shiota.
"Iya. Mungkin kita perlu minta minuman elektrolit untuknya, pucat sekali wajahnya," sahut Isogai.
"Hee~" Karma membungkuk, mengamati tempuranya yang hanya berkurang oleh Maehara di atas meja. "Gara-gara makan ini, ya?"
"Bisa jadi. Lebih baik jangan dimakan, Karma." Isogai beranjak untuk memanggil kru panggung.
"Aku memang tidak lapar," sahut si rambut merah dengan nada santai.
Lima menit sebelum tampil, Maehara masih di toilet sementara keempat temannya sudah bersiap naik ke panggung. Kayano sibuk berkomunikasi dengan tim tata riasnya, sudah putus asa dan mengira mereka bakal tampil hanya berempat saja. Namun ternyata pemuda itu muncul dengan suara baritonnya di panggung saat mereka sampai pada bagian refren lagu pertama, dan para fansnya menjerit-jerit.
Dramatis memang.
.
.
.
.
.
Kaede Kayano tidak sedang dalam mood yang bagus hari Sabtu itu. Dia ternyata datang bulan pagi itu, dan dalam perjalanannya ke sekolah, agensinya memberi kabar menjengkelkan.
3-nen-E gumi utatan diminta tampil dalam festival Hallowe'en yang setiap tahun diadakan di pusat Kota Tokyo. Dengan lagu baru.
Mengingat ini sudah tanggal dua puluhan, Kayano me-reset semua jadwalnya seminggu ke depan—termasuk jadwal syuting dan jadwal latihan menyanyinya. Menjadi aktris sekaligus anggota grup vokal yang pamornya sama-sama sedang naik sementara dia masih beradaptasi dengan sekolah baru bukan hal mudah untuk dijalani. Seandainya kakaknya masih hidup, dia pasti sudah mengomel panjang lebar tentang keputusan-keputusan sang adik.
Tapi baru kali ini pemerintah kota meminta mereka secara khusus, demikian Kayano diyakinkan. Bayarannya juga tidak sedikit.
Tapi, hei, memangnya mudah menciptakan lagu baru dalam hitungan hari? Belum lagi menentukan pembagian suaranya, akor iringan musiknya, dan latihannya sendiri.
Jadi jangan salahkan Kayano kalau jadwal berkumpul kelima anggota grup vokal itu maju satu hari meski itu bukan hari libur. Toh bagi Karma, sebenarnya setiap hari adalah hari libur. Nagisa dan Isogai juga pasti sudah pulang sekolah di jam yang dimintanya. Maehara... entah, kalau dia memang belum sehat mungkin dia tidak akan datang.
Sepanjang pelajaran hari itu, Kayano memutar otak, mencari ide apapun yang bisa dituangkan ke dalam lagu. Jadi temanya Halowe'en. Labu? Jack o'lantern? Tipuan atau permen? Ah, semuanya terlalu mainstream.
Bahkan sampai dalam perjalanannya ke gedung kelas 3-E yang monumental diantar supir pribadinya, Kayano tak kunjung mendapat ide. Dia frustrasi sendiri. Mana bagian bawah perutnya sakit sekali. Gadis itu berpikir ulang untuk membatalkan pertemuan hari ini—tapi dia tidak mau dicap plin-plan dan saat dilihatnya Karma Akabane sudah tidur-tiduran di atap gedung itu, dia mengurungkan niat untuk pulang.
Pemuda itu menegakkan tubuh ketika mobil Kayano mendekat. Hanya segitu. Dia memandangi saja dengan malas ketika gadis itu turun dan berjalan ke bagasi mobil.
"Karma-kun," panggil Kayano tak sabar. "Bantu aku mengangkut keyboard ke dalam."
Karma bukan Isogai yang ringan tangan atau Nagisa yang peka tapi kurang bertenaga. Dia melompat turun dari atap dengan tampang ogah-ogahan, tapi toh alat musik itu dibawanya masuk ke dalam gedung.
Dari semua orang, kenapa sih harus Karma yang datang pertama kali dan membuatnya jadi berduaan saja dengan iblis merah itu? Kayano paling tidak bisa akrab dengan temannya yang satu ini di antara yang lain.
"Kita akan buat lagu baru, ya?" Karma membuka pembicaraan setelah supir Kayano dan mobilnya berbalik ke kota. Pemuda itu membawa keyboard menuju kelas lama mereka, Kayano mengikuti di belakangnya.
"Ya, untuk Hallowe'en."
"Sudah ada ide?"
"Belum."
"Aku sudah."
Sepasang manik hazel menatapnya sebal. "Kau ini seolah-olah sudah tahu semuanya sebelum aku datang, Karma-kun. Ceritakan padaku idemu."
"Akan lebih seru kalau semuanya sudah di sini," kilah Karma sambil menyeringai. "Pintunya." Dia mengedikkan kepala, kedua tangannya menyangga beban alat musik berbodi panjang itu.
Gadis berkucir dua itu menggeser pintu dan membiarkan Karma masuk duluan.
"Oh," gumam si pemuda, mendadak melangkah berjingkat. "Awas, Kayano..."
Gadis itu sudah keburu terpekik duluan.
.
.
.
.
.
Hiroto Maehara baru saja sampai ketika Kayano di dalam gedung itu menjerit. Mengernyitkan alis, menjadi waspada mendadak, Maehara meletakkan gitarnya di koridor dan berlari menuju sumber suara. Di seberang pintu kelas dilihatnya gadis itu menempel pada dinding kayu, wajahnya sepucat mayat.
"Kayano, apa yang—?"
"Singkirkan benda itu!" jerit si gadis. "Aaah! Jangan gunakan kakimu, Karma-kun!"
"Bantu aku menyingkirkan yang ini dari atas meja." Kedengaran suara Karma dengan nada diseret-seret. "Tanganku sibuk."
Maehara mendekat dan menengok ke dalam kelas.
"Maehara-kun, tolong..." Kayano seperti hampir menangis.
Bangkai seekor tikus tergeletak persis di tengah jalan masuk dengan isi perut terburai. Maehara langsung merasa mual. Dan, setengah meter dari pintu itu, Karma memeluk sebuah keyboard, tampak sedang menimbang-nimbang hendak ditaruhnya di mana alat itu—dan barulah Maehara menyadari bahwa kertas-kertas berceceran di seluruh meja.
"Astaga..."
.
.
.
.
.
Yuuma Isogai mengira dirinya adalah yang paling akhir datang setelah menyelesaikan urusan ini-itu—karena dia harus menemui manajer kafe tempatnya bekerja sepulang sekolah, memohon izin mendadak dan bernegosiasi tentang jadwal pengganti dan pemotongan gaji. Dia sudah terlalu sering absen tanpa pemberitahuan jauh-jauh hari, masih untung dia tetap diperbolehkan bekerja di situ. Asasinasi Koro-sensei dan grup vokal memang mendatangkan uang, tapi tahun ini dua adiknya mulai masuk sekolah dan sang ikemen harus mempertahankan pendapatannya.
Jadi ketika suara Maehara memandunya menuju bekas kantor guru—bukannya bekas ruang kelas 3-E seperti biasanya—dia pikir semua orang sudah ada di sana. Ternyata Nagisa Shiota belum datang.
"Kenapa kita pindah ke sini?" tanya pemuda yang pernah jadi ketua kelas itu.
Maehara yang sedang memangku gitar meringis. "Auranya tidak mengenakkan."
"Ada bangkai tikus di sana," ujar Karma sambil mengatur perangkat keyboard. "Sudah dibuang, kok. Tapi Kayano tidak mau masuk ke ruangan itu."
"Aku 'kan bukan kamu, Karma-kun yang tidak-jijik-pada-apapun," tukas satu-satunya kaum hawa di situ yang sedang mengeluarkan lembar-lembar partitur dari tasnya.
Maehara menggeletar ngeri. "Bagaimana bisa ada bangkai seperti itu di situ..."
"Eh, ngomong-ngomong, perutmu sudah baik?" tanya Isogai.
"Yap! Aku ini kuat kok, hehehe..."
"Semalam kau tidak sepercaya diri ini ya," balas Kayano, mengingatkan semua orang akan wajah Maehara yang memelas menahan serangan internal di pencernaannya.
"Tidak...! Lupakan saja ya, teman-teman. Apa jadinya kalau para fans tahu Hiroto Maehara diare sebelum manggung?"
Isogai tertawa, Kayano mendengus, dan Karma diam saja.
"Oke, kembali ke topik. Karena Nagisa-kun belum datang, aku akan menyampaikan ideku duluan." Kayano melirik ke arah Karma yang tetap memasang senyum santai tanpa dosa.
"Kupikir untuk Hallowe'en kita akan tampil dengan konsep visual kei. Jadi utamanya pada riasan dan kostum... untuk itu, Isogai-kun, aku memintamu untuk jadi sukarelawan."
"Eh?"
Kaede Kayano mengeluarkan sekotak peralatan make-up dari tasnya. Mengherankan sekali isi tas perempuan ya, tak hanya memuat buku pelajaran atau partitur lagu, sampai-sampai Isogai membayangkannya seperti kantong ajaib robot abad dua puluh dua yang terkenal itu.
.
.
.
.
.
Hujan mulai turun saat akhirnya sosok Nagisa Shiota berjalan di kejauhan. Maehara yang melihatnya dari jendela.
"Sana, sambutlah dia di depan pintu!" ujar pemuda berambut cokelat itu pada Isogai, menahan tawa.
"Dia kelihatannya percaya, lho~" imbuh Karma dengan senyum bak iblis, tangannya menggenggam ponsel.
Kayano memandangi Yuuma Isogai dengan kurang puas. "Mata kirinya belum selesai."
"Sejak kapan eye shadow pantas digunakan oleh laki-laki?" keluh si ikemen yang sudah pasrah dijadikan kelinci percobaan. "Seperti apa reaksi Nagisa-kun kira-kira, ya?"
"Kau benar-benar kelihatan seperti habis ditonjok," komentar Karma tanpa perasaan.
"Katakan saja, Kayano yang membuatmu begini," tambah Maehara, tampak menikmati penderitaan sahabat sejak kecilnya itu. "Itu 'kan tidak bohong?"
"Serius, kenapa tidak biarkan saja Nagisa-kun masuk baru kita memanggilnya dari sini?" Isogai masih mencoba lari dari kelakar terencana itu.
"Tidak seru~" sahut Karma. "Aku sedang mencoba mencari inspirasi dari reaksinya."
"Ide yang aneh, tapi boleh dicoba," komentar Kayano. "Pergilah ke depan, Isogai-kun."
Jadi si ikemen berambut pucuk tak punya pilihan lain. Sebelum Nagisa membuka pintu, dia sudah melakukannya duluan.
Tatapan pemuda berambut biru itu langsung jatuh pada mata kanannya yang keunguan dan Isogai menahan diri untuk tidak bertindak out of character meski sangat ingin tenggelam saja ke dalam bumi.
"Nagisa sudah datang!" serunya.
"Isogai-kun..."
Eh?
Yang dipanggil menoleh keheranan. Barusan yang bicara itu Nagisa, 'kan? Kok suaranya...
...pecah?
.
.
.
.
.
"Kelakar yang tidak lucu... kalian membuatku cemas."
Lebih daripada itu, keempat teman Nagisa bukannya menertawakan kepekaan tingkat tinggi pemuda itu.
Maehara terbahak-bahak. "Akhirnya tiba juga saatnya, 'kan, Nagisa-kun? Kau sudah jadi laki-laki sejati."
"Jahatnya..." Nagisa merasa down, suaranya sejak bangun pagi itu tiba-tiba bertambah berat.
"Selamat ya, Nagisa-kun." Entah tulus atau setengah hati, Karma tersenyum penuh arti.
"Sepertinya kita kena karma, teman-teman," ujar Isogai. "Kukira lelucon kami tidak berhasil dan malah kau yang membuat kaget semuanya, Nagisa-kun."
"Ini bencana," gumam Kayano, berkebalikan dengan yang lain. Semua menatapnya dengan heran. "Aku sudah merasakan firasat buruk dengan adanya bangkai itu tadi."
Petir menyambar di luar, hujan turun semakin deras, melatarbelakangi keseriusan yang mendadak turun di ruangan yang pernah ditempati tiga orang guru unik itu.
"Karena suara Nagisa-kun berubah, pola pembagian suara di grup kita juga harus diubah."
Sekali lagi petir menyambar, lebih keras dari sebelumnya.
"Ah~ komposisinya jadi tidak seimbang, ya," komentar Karma. "Selama ini Nagisa-kun bernyanyi di ambitus suara alto. Sekarang dia jadi bas."
"Membuat lagu yang baru akan sulit dan kita tidak punya banyak waktu..." ujar Kayano lagi.
Kenapa kesannya jadi ia yang disalahkan? Nagisa merasa tak nyaman dengan percakapan itu. Apa yang sedang dialaminya sudah membuat tak nyaman, apalagi karena perubahan suara vokalis remaja laki-laki bisa berdampak fatal ke depannya.
"Pasti ada solusi," ujar Isogai optimis seolah membela Nagisa.
"Ngomong-ngomong, Nagisa-kun... ini bunga dari siapa?" Kayano bertanya seolah baru menyadari keberadaan buket yang diletakkan Nagisa di sebelah ranselnya. "Cantik sekali bunganya," tambahnya dengan riang.
"Ini untuk Maehara-kun... dari seorang penggemar," jawab yang ditanya.
Maehara tampak ragu-ragu. "Jangan sampai ini haters yang ekstrem lagi. Coba periksa bunganya, Kayano."
"Tampaknya baik-baik saja. Ayolah Maehara-kun, ini hanya bunga..." Kayano menghirup harum dari kelopak-kelopak mawar itu.
Dan semua orang terkejut sekali lagi menyaksikan Kaede Kayano tergeletak lemas beberapa detik setelahnya.
.
.
.
.
.
To be continued.
.
.
.
.
.
Author's Note:
Na-ah! Untuk Amaya-san, pertanyaannya terjawab, 'kan? :D sedikit waktu lagi menuju Hallowe'en~ multichapter ini nggak akan panjang-panjang, kok.
Terima kasih sudah membaca (dan memberi feedback dalam bentuk apapun) n_n
.
Untuk informasi, 'ambitus' bermakna suatu kisaran nada yang bisa dijangkau oleh penyanyi yang menjadi dasar pembagian jenis suara (sopran, alto, tenor, bas, dan lainnya).
Dan satu hal lagi, 'crack' dalam bahasa Inggris bisa berarti kata kerja 'pecah, retak' maupun kata benda 'kelakar' (bukan dalam artian pairing, ya XP)
RnR?
