Assassination Classroom (c) Matsui Yuusei

Sink a Song (c) Roux Marlet

Alternate Reality, 3-nen-E gumi utatan

For #AnsatsuHalloweenPartII

.

.

.

.

.


Chapter 3: Trick or Trick

.

.

.

.

.

"Apa kalian ingin melanjutkan grup vokal ini?"

Wajah bulat kuning yang senantiasa menampakkan sederet gigi rapi itu menatap kelimanya dengan intens, satu per satu, yang mestinya mustahil seandainya dia manusia biasa tanpa kecepatan Mach 20. Kala itu festival seni Kunugigaoka sudah berakhir dan meskipun kelas 3-E tidak juara satu, peringkat mereka ada di atas kelas 3-A; itu merupakan prestasi tersendiri.

"Aku mau." Hiroto Maehara yang pertama kali menyahut.

"Ya, tidak ada salahnya dilanjutkan," Yuuma Isogai mendukung.

"Kalian akan memerlukanku," imbuh Kaede Kayano. "Agensiku punya banyak relasi di dunia rekaman."

"He~ boleh juga. Sayang kalau bakat disia-siakan," ujar Karma Akabane.

"Kita berlima adalah tim yang bagus!" seru Nagisa Shiota bersemangat.

Dengan tentakel-tentakelnya, Koro-sensei menyentuh puncak kepala kelima muridnya itu.

"Maka tetaplah bernyanyi dari hati. Sensei yakin masa depan grup vokal kalian akan cerah."

"Hai, Sensei!" Kelimanya kompak berseru dengan warna suara yang berbeda-beda.

.

.

.

.

.

Kaede Kayano sebagai manajer dan penulis lagu dibantu Yuuma Isogai dan Nagisa Shiota, sementara Karma Akabane dan Hiroto Maehara sebagai arranger dan pencipta iringan lagu.

"Tidak begitu, bagian yang ini lebih baik di-staccato."

"Kalau mau pakai staccato, lebih baik bagian ini dinyanyikan Maehara sendirian."

"Tadi kau mengusulkan untuk duet di bagian ini?"

"Itu verse kedua. Maksudku di refren kedua."

"Coba Karma-kun, bagaimana kau memberi interlude di birama keempat puluh empat?"

Jemari Karma menari lincah sebentar di atas tuts keyboard disusul decakan Kayano dan bantahan Isogai.

"Atau, aku nge-rap saja di bagian itu?" usul Maehara sambil memetik gitar. "Nadanya seperti ini 'kan, tadinya?"

"He~ menurutku lebih baik kalau dibuat kanon—susul menyusul, tapi tidak seperti biasanya sopran-alto disusul tenor-bariton. Kali ini kita buat Kayano yang sopran duet dengan Isogai yang tenor lalu Nagisa denganku atau Maehara yang bariton."

Hari Minggu selalu menjadi momen berkumpul kelimanya—membuat lagu baru, latihan vokal, atau mempersiapkan konsep penampilan yang akan datang. Sudah satu setengah tahun hal ini mereka jalani, tapi suatu ketika Nagisa Shiota merasa ada yang kurang.

.

.

.

.

.

Hari itu lain dari biasanya karena mereka berkumpul di hari Sabtu. Hujan turun dengan deras sementara mereka sedang memikirkan ide untuk tampil di festival Hallowe'en minggu berikutnya. Cuaca memang sedang kelabu seperti perubahan suasana mendadak di dalam gedung sekolah itu.

Jantung Nagisa serasa seperti diremas dan Isogai langsung berdiri. Kayano barusan pingsan di depan mata mereka setelah menciumi bunga-bunga mawar yang ditujukan pada Maehara itu.

"Kayano..." bisik sang mantan ketua kelas 3-E.

"Apa yang kau lakukan padanya, Nagisa-kun?"

Nada suara Karma tidak bisa lebih menuduh lagi.

"Apa maksudmu, Karma-kun? Bunga itu bukan dariku!" Suara Nagisa pecah dengan aneh.

"Hee~ tapi tempura semalam darimu, 'kan?"

Maehara menyorotkan mata dengan ngeri di antara percakapan kedua orang itu sementara Nagisa membisu.

"Nagisa-kun... benarkah itu?" suara sang casanova bergetar.

"Lebih dari itu, teman-teman, kita harus menolong Kayano!" Isogai menengahi.

"Kau tidak pandai menyembunyikan hal lain selain nafsu membunuhmu." Si iblis merah menyerang si rambut biru tanpa ampun. "Kau memang tidak berniat membuatku mati dengan pencahar, sih."

"Hentikan, Karma-kun!" tegur Isogai yang sudah berlutut di samping Kayano. "Maehara, telepon ambulans..."

"Tidak ada sinyal," sahut yang diminta sambil menelan ludah, ponselnya tergenggam sia-sia. "Hujan sialan ini..."

"Pesawat telepon sekolah?" usul Isogai, sedang memeriksa denyut nadi Kayano.

Nagisa segera meninggalkan ruangan itu untuk menelepon. Keheningan yang ditinggalkannya terasa mencekam. Maehara tidak buka suara. Semalam dia menahankan sakit perut sampai setengah mati gara-gara makan tempura itu, dan hari ini ada kiriman bunga beracun untuknya. Demi Kami-sama, apa salahnya?

Isogai memecahkan keheningan itu dengan bertanya pada Karma,

"Apa yang kalian bicarakan tentang bangkai tikus di ruang kelas tadi?"

"Ada satu tadi di balik pintu ruang kelas," Karma menjelaskan dengan enggan, "aku nyaris menginjaknya, benda itu persis di tempat orang akan melangkah masuk."

"Jangan lupa kertas-kertas itu," tambah Maehara. "Kertas-kertas kosong, berserakan di seluruh meja."

"Mengapa bisa di situ?"

"Semua jendelanya tertutup rapat," Karma angkat bahu.

Nagisa sudah kembali ke ruangan dengan muram.

"Teleponnya tidak tersambung."

Petir menyambar lagi, seolah akan ada badai malam itu. Mereka tidak bisa ke mana-mana.

Isogai mendekatkan sebotol minyak angin berbau menyengat ke hidung Kayano, tapi gadis itu tidak bereaksi.

"Apa yang harus dilakukan kalau begini?" Isogai mendongak, berharap mendapat bantuan. Tapi ketiga temannya hanya terdiam. "Aku tidak tahu caranya memberi pernapasan buatan—"

"Memang tidak perlu."

Isogai nyaris terlonjak di tempat mendengar suara Kayano yang seperti dari dunia lain. Untuk sesaat, dikiranya gadis itu terbangun dalam keadaan trance seperti saat masih menyimpan tentakel di belakang lehernya, tapi tentu saja tidak!

Karma terkekeh pelan dan semua menoleh ke arahnya.

"Nee~ sekadar akting yang bagus, rupanya."

.

.

.

.

.

Jadi sebetulnya siapa mengerjai siapa, dan yang kena siapa?

"Maaf soal tempura kemarin, Maehara-kun. Aku hanya ingin membuat Karma sakit perut sedikit. Dia 'kan kebal makan pedas."

"Aku meminta Tsuchiya Kaho menyampaikan bunga ini lewat Nagisa. Perubahan jadwal ini hampir mengacaukan rencanaku. Kukira seharusnya orang yang membauinya akan bersin-bersin sepanjang hari. Demi apapun, harga serbuk alergennya mahal sekali..."

"Aku tahu kau yang mengirim tempura itu sejak semalam, Nagisa-kun. Dan kaurupanya termakan kebohonganku tentang Isogai-kun yang ditonjok orang, khekhekhe..."

"Kalian tidak ada yang sadar bahwa aku tadi hanya berakting pingsan? Aku memang punya firasat bahwa ada apa-apa pada bunganya, sih. Aku tidak tahu kalau pelakunya ternyata Isogai-kun."

"Dan soal ruang kelas... kalian semua lupa tentang jebakan pisau lempar tepat di pintu kelas yang pernah dipasang Itona untuk Koro-sensei, ya? Rupanya itu mengenai seekor tikus yang berkeliaran." Wajah Maehara memerah, dia sendiri tidak tahan melihat bangkai itu sekali lagi. Sebetulnya dia sudah datang duluan sebelum Karma maupun Kayano dan sengaja tidak bilang apa-apa karena iseng...

"Dan untuk apa semua ini sebenarnya?" tanya Karma. "Ini seperti trick-or-treat di mana orang tidak diberi kesempatan memilih mau tipuan atau permen. Padahal ini belum Hallowe'en." Tiba-tiba dia menjentikkan jari. "Itu dia, Kaede-san. Itu ide brilian untuk lagu baru kita. Trick or trick."

Kayano terlihat bersemangat. "Aa... boleh juga!"

"Tunggu, tunggu, aku masih belum paham," ujar Maehara. "Nanti saja menuangkannya ke dalam lagu. Aku perlu penjelasan." Tatapannya menuntut sahabatnya si ikemen. "Bunga itu."

"Kau juga harus menjelaskan, Nagisa-kun," tuntut Karma. "Tentang tempura."

.

.

.

.

.

"Dengan jadwal latihan dan manggung yang padat, aku bisa sering-sering bolos sekolah."

Karma Akabane.

"Aku akan lebih mudah dapat pacar—mereka yang akan datang kepadaku tanpa diminta."

Hiroto Maehara.

"Aku harus selalu membuat lagu baru yang spektakuler dan belum pernah ada, kalau tidak, apa kata dunia?"

Kaede Kayano.

"Gila, bayaran sekali manggung sama dengan tiga bulan aku kerja di kafe. Aku bisa jadi kaya-raya dengan cepat dan bisa selalu makan enak."

Yuuma Isogai.

"Di panggung, aku bisa tampil seperti tiga yang lain—kasual dan percaya diri, tanpa ada yang salah mengira aku bukan laki-laki."

Nagisa Shiota.

Entah sejak kapan mulainya, orientasi kelima remaja itu tak lagi semata-mata untuk bernyanyi dengan hati. Mereka bernyanyi demi kepuasan duniawi. Perlahan tapi pasti, niat baik itu berubah sepi.

Lagu-lagu ciptaan mereka tak lagi bernuansa sama. Seolah terbenam dalam lumpur pekat, tertutup gemilangnya perasaan-perasaan manusia untuk berbuat dosa.

Seandainya Koro-sensei masih hidup, mungkin amarahnya akan bangkit menyaksikan pemandangan itu.

Nagisa Shiota-lah, yang pada akhir bulan September mendapati Karma Akabane membolos untuk kesekian kalinya dan malah berkeliaran di mall dekat SMA Nagisa—yang waktu itu diberi tugas pelajaran sosial untuk survei mengenai eskalator—berinisiatif mengambil tindakan. Karma dengan santainya menyampaikan bahwa tanpa masuk sekolah pun, dia akan dapat nilai bagus—asalkan dia tetap membawa nama baik Kunugigaoka lewat grup vokalnya itu. Nagisa tidak tahan menghadapi fakta bahwa orang semalas Karma bisa bicara sedemikian.

"Oh." Karma tercenung mendengarkan penjelasan Nagisa. Tidak mungkin perkataannya waktu itu tidak menyuntikkan rasa iri di hati si rambut biru. Apalagi Karma lebih unggul darinya baik secara fisik maupun suara.

Dan Yuuma Isogai, di awal Oktober mendapati Hiroto Maehara mengencani tiga gadis dalam sehari—semuanya adalah fans-nya.

"Belajarlah untuk setia," ucap Isogai sambil menahan senyum. "Maka tidak akan ada haters terhadapmu."

"Dan kukira aku sudah kena karma, gara-gara tempura untuk Karma," balas Maehara, nyaris terkikik menyadari lucunya kalimatnya sendiri barusan. "Kau sendiri juga, Isogai. Uang tidak bisa kau bawa mati, tapi cinta abadi~"

"Apaan itu!" seru si ikemen pura-pura tersinggung. Tapi sementara itu, dalam hatinya dia sudah berikrar untuk tidak lagi rewel soal uang. Kami-sama yang diimaninya pasti mencukupkan kebutuhannya...

"Jadi semuanya beres sekarang. Ini semua hanya lelucon," ujar Kayano. "Dan aku setuju pada pemikiran Nagisa-kun dan Isogai-kun. Meskipun, eh, cara kalian sepertinya terlalu ekstrem untuk anak SMA."

"Kita 'kan anak SMA lulusan kelas pembunuhan," ujar Isogai sambil meringis.

"Lagipula, kita pernah berjanji pada Koro-sensei," Nagisa berkata, "bahwa kita akan bernyanyi karena kita ingin bernyanyi dari hati. Tak usah peduli bagaimana pandangan orang lain."

Karma masih merenung. "Kau benar, Nagisa-kun... dan aku minta maaf."

Jarang sekali si iblis mau menundukkan kepala seperti itu! Tapi Nagisa juga mengulangi permintaan maafnya pada Maehara.

"Hanya satu hal yang tidak kumengerti. Siapa yang meletakkan kertas-kertas yang berceceran di kelas itu?"

Semua memandangi Maehara yang barusan bicara.

"Eh? Itu bukan bagian dari jebakan pisau lemparnya?"

"Bukan... Seingatku Itona tidak menambahkan apa-apa."

"Hee~ jadi...?"

Di luar, petir menyambar dan angin bertiup kencang. Hujan kian deras. Dahan-dahan pohon menimbulkan suara mengetuk-ngetuk di jendela dan atap-atap berkeretak.

Tiba-tiba kelima remaja itu mendengar samar sebuah tawa, dan bulu roma mereka bangkit bersama nostalgi.

"Nurufufufu~"

.

.

.

.

.

Konon, Hallowe'en adalah saat di mana arwah orang-orang yang sudah meninggal kembali ke bumi.

"Tapi ini belum Hallowe'en!" Lebih dari lima suara berseru.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sing, sing a song

Make it simple to last your whole life long

Don't worry that it's not good enough

for anyone else to hear

Just sing, sing a song

"Sing"

-The Carpenters-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


Author's Note:

Jadi, semoga fanfiksi 3-shots ini bisa memeriahkan event Hallowe'en :) Mungkin genre friendship-nya malah lebih berasa? Atau ini cenderung ke horror, bukan mystery? Alurnya agak terlalu cepat? Kritik dan saran sangat diterima!

.

Staccato adalah istilah untuk nada yang dinyanyikan dengan durasi pendek diikuti jeda hening yang juga singkat; mirip seperti teknik menyanyi yang menghentak-hentak.

Oh iya. Mungkin ada yang familier dengan seven deadly sins yang tersamar dalam cerita ini. Unsur greed dan gluttony ada pada Isogai sekaligus, pride pada Kayano, envy pada Nagisa, sloth pada Karma, dan lust pada Maehara, menyoroti sifat playboy-nya. Dosa yang ketujuh adalah amarah (wrath) dan sebenarnya mau Roux sematkan pada Kayano (sesuai canon, tapi setting kebenciannya terhadap sang Shinigami 'kan sudah berlalu, jadi ya begitulah :P) dan malah jadinya diibaratkan pada Koro-sensei sendiri.

.

Akhir kata, terima kasih sudah membaca!

=Happy Hallowe'en=

28.10.2016 - 30.10.2016