Devil's Bride

By: Kei Tsukiyomi

.

.

Author's Note: Hola saya kembali membawa sequel ff ini. Tidak akan terlalu panjang, jadi jangan terlalu berharap karena saya tidak mau mengecewakan kalian.

Terinspirasi dari Novel "Mempelai naga"dan MV BTS-Blood, Sweet & tears.

Warning: AU, OOC, Typos, BL, Devil Hae! Dll DLDR!

Pair: Haehyuk

Rate: M

.

.

.

Suara derap langkah kaki yang berlari menggema di kawasan hutan yang cukup sepi. Setiap tapakannya tampak kuat dan tegas. Tali kekang ditarik sehingga membuat kuda yang semula berlari kencang mulai melambatkan kecepatannya dan perlahan berhenti. Udara kering beradu di kulit saat kakinya menapaki tanah. Iris hitamnya memperhatikan sekitar dengan seksama.

Jemari lentiknya menarik busur panah, matanya menatap intens pada sasarannya kemudian dalam sedetik melesatkan anak panah secepat kilat menghantam sesuatu di balik semak-semak. Raungan kesakitan terdengar sejurus kemudian. Senyum tipis terpatri di wajah cantiknya. Tapi begitu menyadari apa yang dipanahnya iris itu melebar. Dengan sangat jelas ia melihat seorang lelaki dengan sayap hitam besar terbentang di punggungnya. Bibirnya yang tipis mengeluarkan ringisan. Tangan kirinya menutup bahu kanannya yang tertancap busur panah. Tangan besarnya meraih tungkai panah dan mencabutnya. Dia membeku begitu mata semerah darah tertuju lurus padanya. Menguncinya. Iblis. Dia tahu yang berada di depannya ini iblis. Sayap hitam dan mata merah itu cukup membuktikan. Belum sempat ia membuat pertahanan iblis itu menerkamnya dengan geraman menakutkan dan semuanya gelap.

.

.

.

Eunhyuk membuka matanya. Pandangannya mengabur sesaat sebelum fokus kembali. Ia melihat langit-langit yang berhiaskan pernak-pernik langit seperti bulan, bintang, planet dan lain sebagainya. Eunhyuk mengerutkan dahi sebentar untuk kemudian terkesiap kaget. Iris hitamnya mengedar ke sekeliling dengan cepat serentak dengan tubuhnya yang terduduk di tepi ranjang. Nafasnya sedikit memburu. Ia memperhatikan sekeliling. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya.

Ini kamarnya. Benar ini kamarnya.

Eunhyuk menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Penerangan yang remang-remang karena gorden yang belum ditarik membuat kamar itu terlihat cukup gelap. Hanya beberapa berkas cahaya matahari yang mengintip malu-malu dari celah ventilasi. Ini kamarnya kan? Kenapa tiba-tiba ia sudah berada di kamarnya? Apa mungkin Eunhyuk hanya bermimpi? Semalam ia tidak kemana-mana. Tidak mencari kalungnya. Eunhyuk kembali tersentak, tangannya serampangan menyentuh lehernya dan menemukan kalung bermotif bulan tersampir manis di lehernya. Bagaimana bisa?! Eunhyuk juga baru sadar pakaiannya sama dengan tadi malam. Bahkan hoodie birunya masih melekat di tubuh. Perasaan Eunhyuk serta merta menjadi tidak enak. Debaran jantungnya semakin cepat setiap menitnya seiring dengan perasaan was-was yang ditimbul.

Aiden. Eunhyuk teringat Aiden. Apa Aiden benar-benar nyata? Patung itu juga, apa Aiden jelmaan patung tersebut? Jari lentik Eunhyuk terangkat menyentuh bibirnya. Ia bahkan masih mengingat sentuhan bibir tipis itu. Bahkan sentuhan sensual di sekujur tubuhnya.

Blush!

Wajah Eunhyuk memerah sempurna hingga telinga. Demi Tuhan, Eunhyuk lelaki! Tapi malam itu ia begitu terlena dengan sentuhan Aiden, dan pada akhirnya memasrahkan dirinya pada hasrat yang membumbung tinggi mengalahkan akal sehat. Eunhyuk juga tidak begitu ingat apa yang terjadi setelahnya. Ia merasa ada sesuatu yang merasukinya. Mengambil alih tubuhnya. Ia menggeleng pelan. Semoga itu semua hanya mimpi belaka. Tapi… kalungnya ada bersamanya sekarang. Bukankah kalung itu seharusnya masih hilang?

Eunhyuk turun dari tempat tidurnya. Dengan hati-hati dan jantung yang berdetak semakin cepat melangkah menuju cermin berukuran medium yang terpasang di lemarinya. Eunhyuk bisa melihat refleksi dirinya pada cermin itu. Tidak ada yang berubah selain wajahnya yang terlihat agak pucat. Takut-takut ia melepas hoodienya, meletakkannya di lantai disusul kemudian kaus putih yang di pakainya hingga kini ia bertelanjang dada. Eunhyuk kembali menarik nafas sebelum perlahan menatap refleksinya. Bola matanya melebar sempurna begitu melihat cermin. Di tubuhnya… di penuhi tanda merah kebiruan yang biasa disebut kissmark. Dari dada hingga pinggang. Eunhyuk tidak berani membuka celananya untuk memastikan lebih jauh. Tubuhnya bergetar takut.

Jadi… yang semalam itu nyata?! Dia benar-benar bercinta dengan Aiden?! Aiden itu benar-benar raja iblis? Kepala Eunhyuk menjadi pening mengolah informasi yang didapat. Mustahil! Di jaman serba modern ini sangat mustahil bertemu dengan makhluk mitos seperti iblis dan semacamnya. Omong kosong!

Eunhyuk menyentuh salah satu kissmark di dadanya dengan wajah merona. Benarkah ini sungguhan? Pikirnya kalut. Angin segar berhembus menerpa tubuhnya sejurus dengan lengan kekar yang memeluknya dari belakang. Eunhyuk terkejut. Ia memejamkan mata begitu merasakan sentuhan bibir yang bergerilya di leher dan pundaknya. Memberikan kecupan-kecupan seringan bulu tapi begitu memabukkan. Tangan kekar itu mencengkram bahunya dan satunya lagi turun ke dadanya. Mengusapnya lembut.

"Eunhyukie, mempelaiku." Eunhyuk mengerang lembut mendengar bisikan dengan intonasi berat sarat keposesifan yang berhembus di telinganya. Iris hitam Eunhyuk terbuka. Mendapati Aiden memeluknya dari belakang. Iblis itu berseringai dan kembali memberikan kecupan memabukkan ke sekujur tubuh ramping Eunhyuk. Dia tidak melawan, lebih tepatnya tidak bisa. Erangannya semakin keras saat Aiden tak lagi menciuminya melainkan mengeluarkan lidahnya. Menjilati setiap inchi tubuh mempelainya. Menghantarkan gelenyar panas pada tubuhnya. Eunhyuk tidak bisa berpikir jernih lagi. Yang dia inginkan sekarang hanyalah berada di bawah Aiden dengan iblis ini yang memuaskannya. Menuntaskan hasratnya.

"Hyukie, apa kau sudah bangun? Cepat bangun, sarapan sudah siap." Suara ketukan diiringi suara Sora dari luar kamarnya menyadarkan Eunhyuk. Aiden kembali menyeringai yang tampak tampan bagi Eunhyuk. Aiden menutup matanya dengan satu tangan dan saat Eunhyuk membukanya Aiden sudah menghilang. Tidak ada siapa-siapa. Meninggalkannya seorang diri. Eunhyuk menatap tak percaya. Apa dia baru saja berhalusinasi? Tentang Aiden?

"Hyukie." Sora kembali memanggil. Eunhyuk tersadar.

"Ya Noona, sebentar lagi aku turun."

.

.

.

"Kau kenapa?" Sora bertanya melihat adiknya melamun di meja makan. Tangannya hanya mengaduk-aduk makanan tanpa niat melahapnya. Tumben sekali adiknya kelihatan tak bergairah seperti ini. Di rumah hanya ada Sora dan Eunhyuk karena orangtuanya sedang berada di luar kota menangani perusahaan. Besok baru kembali. Eunhyuk menatap kakaknya dengan sorot bingung. Bibir bawahnya ia gigit tanda ia gelisah atau memikirkan sesuatu. Sora hafal kebiasaannya.

"Ada apa?" tanyanya sekali lagi.

"Noona, semalam… bagaimana aku bisa pulang?"

"Huh?" dahinya berkerut dengan alis tertaut tanda tak mengerti. Aneh sekali pertanyaan adiknya.

"Semalam aku pergi kan?" Sora mengangguk.

"Lalu bagaimana caranya aku pulang? Apa ada yang mengantarku? Apa ada kejadian aneh?" kerutan di dahi Sora makin terlihat.

"Kurasa kau yang aneh. Tentu saja kau pulang lewat pintu, memang apalagi? Lewat jendela?" Eunhyuk cukup terkejut mendengarnya. Jadi dia pulang dengan cara normal? Tapi bukankah semalam… Eunhyuk terkesiap begitu selintas wajah Aiden yang berseringai lewat di penglihatan bawah sadarnya.

"Kau ini sebenarnya kenapa?" Eunhyuk menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran buruknya. Tangan kanannya meraih segelas susu stroberi yang selalu tersedia untuknya, meminumnya dalam sekali teguk dan berdiri dari kursi. Mengambil tasnya dan segera pergi.

"Aku berangkat dulu, Noona." Di depan Junsu sudah menunggunya. Melambaikan tangan. Mereka memang selalu berangkat bersama ke sekolah. Junsu melingkarkan tangannya ke bahu Eunhyuk setelah berpamitan pada Sora dengan suara lumayan keras.

"Hyuk tadi malam kau tidak pergi ke Museum itu kan?" Eunhyuk menelan ludah gugup. Bagaimana dia harus menjawabnya? Junsu menatapnya lurus-lurus menanti jawaban sedangkan Eunhyuk hanya bisa mengusap tengkuknya gugup.

"Sebenarnya… aku pergi ke sana," jawabnya pelan. Junsu melebarkan bola mata.

"Kau benar-benar pergi ke Museum malam tadi? Kau ini keras kepala sekali. Sekarang bagaimana? Kalungnya sudah ketemu? Kau tidak apa-apa kan?" Eunhyuk meringis mendapat pukulan ringan di kepalanya.

"Ish, sakit Su. Kalungnya sudah ketemu." Ia mengeluarkan kalungnya, memperlihatkannya pada Junsu yang langsung menariknya untuk melihat secara jelas.

"Aw! Yak sakit tahu, jangan asal menariknya begitu!"

"Hehe… maaf. Tidak sengaja," balasnya dengan cengiran polos, Eunhyuk mencibir sambil mengelus-elus lehernya.

"Hyuk, lehermu kenapa? Kenapa ada tanda merah kebiruan begitu?" Eunhyuk terbelalak dan tergesa menutupi lehernya dengan sweater yang dibawanya. Ternyata masih kelihatan, padahal Eunhyuk sudah bersusah payah berusaha menutupinya dengan bedak dan pakaian yang tertutup.

"Coba lihat?" Junsu menarik sweater biru Eunhyuk yang langsung ditarik kembali oleh sang empunya.

"Tidak usah, tadi kau sudah lihat."

"Perlihatkan padaku, Lee Eunhyuk!"

"Tidak mau!"

"Eunhyuk!"

"Junsu!"

"Hei anak muda, jangan berkelahi di tengah jalan seperti itu. Masih pelajar tapi sudah berani berkelahi. Belajar yang benar!" teguran salah satu laki-laki paruh baya yang berjalan di belakang menghentikan gerakan tarik-menarik yang Eunhyuk dan Junsu lakukan. Beberapa pejalan kaki yang melintas juga tampak berhenti sebentar memperhatikan mereka. Eunhyuk dan Junsu segera melepas tarikan mereka dan tertunduk malu menjadi bahan tontonan. Memang sekilas gerak-gerik mereka seperti mengajak berkelahi satu-sama lain. Junsu menarik bahu Eunhyuk dan segera berlalu dari sana dengan langkah cepat. Wajahnya memerah karena malu.

"Kau sih, Su."

"Kau yang mulai."

"Kau!"

"Heish sudahlah, kalau terus berdebat tak akan ada habisnya." Anggukan diberikan tanda setuju tapi dalam hati tetap saja menggerutu menyalahkan Junsu. Gedung sekolah mereka sudah terlihat. Junsu mempercepat langkahnya dan menoleh ke belakang saat tak merasakan Eunhyuk di sampingnya. Eunhyuk di sana, terdiam kaku dengan tatapan terkejut mengarah ke pohon tua yang terletak tak jauh dari gedung. Diikuti arah pandangan Eunhyuk tapi tidak ada apapun di sana. Hanya anjing tua yang memang biasa tidur di bawah pohon.

"Hyuk," panggil Junsu. Eunhyuk tidak merespon, masih terdiam kaku seperti batu.

"Lee Eunhyuk! Kau lihat apa di sana? Ayo cepat!" Junsu yang tidak sabar segera menghampiri sahabatnya.

Pandangan Eunhyuk lurus melihat seseorang yang berdiri angkuh di bawah pohon tua sana. Seringai itu. Aiden! Aiden berdiri di sana, menyeringai pada Eunhyuk. Mata merahnya tampak berkilau. Sayap hitamnya terbentang angkuh menjulang ke langit-langit. Tangannya terangkat mengusap bawah bibirnya dengan seduktif. Mengingatkan Eunhyuk tentang ciuman mereka pagi tadi. Tanpa menunggu waktu lama wajah Eunhyuk memerah sempurna. Bibirnya terbuka membisikkan sesuatu yang bisa didengar Eunhyuk.

"Eunhyuk, mempelaiku." Astaga, kenapa iblis itu selalu memanggilnya mempelainya. Mungkin dulu mereka memang sepasang kekasih, tapi waktu terus berjalan. Mungkin sudah ribuan tahun berlalu. Eunhyuk bukan seorang Dewi lagi. Seharusnya Aiden paham itu. Lagipula Eunhyuk juga kewalahan mengatasi gairah yang selalu Aiden hadirkan di antara mereka. Membuatnya tak berdaya. Tak bisakah iblis itu meninggalkannya?

"Hyuk, ayo!" Eunhyuk tersadar dari lamunannya saat Junsu menarik lengannya untuk kembali berjalan. Memutus kontak mata yang terjalin. Bel yang berdentang memaksa Eunhyuk dan Junsu segera berlari ke kelas mereka.

"Kau lihat apa sih tadi?" saat berlari Eunhyuk mendengar Junsu bertanya.

"Nanti kujelaskan."

.

.

.

Waktu terus berjalan. Matahari semakin menjulang angkuh menyinari bumi. Panasnya sanggup membuat keringat berjatuhan. Bel pulang telah berdentang. Para pelajar berbondong-bondong keluar gedung sekolah, tak terkecuali Eunhyuk dan Junsu. Mereka berjalan santai sambil berangkulan. Eunhyuk belum menceritakan secara rinci tentang kejadian semalam pada Junsu. Selain karena ia sendiri belum yakin dengan semuanya, Eunhyuk juga tidak mau menjadi bahan tertawaan Junsu. Tadi saja waktu Eunhyuk menceritakan kalau dia melihat iblis di bawah pohon tua itu Junsu malah menatapnya aneh dan tertawa. Sungguh sahabat yang 'baik', gerutunya.

Langkah kakinya terhenti saat melihat seseorang yang selalu dipikirkannya berdiri tegap 20 langkah dari posisinya. Aiden. Eunhyuk tidak percaya iblis tampan itu kini berdiri di hadapannya. Memakai pakaian manusia pada umumnya berwarna serba hitam. Menambah aura maskulin pada dirinya. Rambut cokelatnya bergelombang terhempas angin semilir membuatnya berkali lipat lebih tampan. Matanya tidak lagi berwarna merah melainkan cokelat hazel. Para siswa yang lainnya menyempatkan untuk berhenti memperhatikan Aiden. Oh iblis tampan itu memang tidak pantas dilewatkan begitu saja. Ketampanan yang sempurna dipadu tubuh tegap berotot mampu membuat air liur berlinang. Aura yang ditebarkan pun sangat sensual. Kegelapan yang menggairahkan. Eunhyuk menunduk saat Aiden melangkah mendekatinya. Mengangkat dagunya dengan jemarinya. Mempertemukan iris mereka. Eunhyuk bisa mendengar pekikan dan suara terkesiap saat dengan santainya Aiden mencium bibirnya di hadapan semua orang. Bahkan Junsu membulatkan matanya melihat aksi tak terduga dari orang asing ini. Tak beda jauh dari mereka, Eunhyukpun terkejut mendapati bibirnya dilumat lembut lengkap dengan hisapan. Saat mata mereka bertemu, iris Aiden berubah menjadi merah darah. Aiden berseringai di tengah ciumannya. Sebelum memutus ciumannya Aiden menjilat penuh gairah bibir bawahnya.

"Hai sayang," ucapnya santai. Eunhyuk tidak bisa menjawab. Bibirnya terlalu kelu untuk mengucapkan sesuatu. Jantungnya juga berdetak 2 kali lebih cepat seiring wajahnya yang menghangat. Aiden terkekeh, mengusap pipi Eunhyuk lembut.

"Ya! Siapa kau? Beraninya mencium Eunhyuk seenaknya!" Junsu berteriak marah. Dia itu tipe sahabat yang overprotective pada Eunhyuk. Melihat secara langsung sahabatnya dilecehkan membuatnya marah. Aiden menatapnya datar.

"Apollo," bisiknya pelan.

"Apa?" suara lelaki ini hanya berupa gumaman tak jelas di telinga Junsu. Aiden menyeringai. Tak mempedulikan banyak mata yang masih memperhatikannya penasaran.

"Namaku Aiden, tapi kau bisa memanggilku Donghae. Aku kekasih Eunhyuk." Junsu semakin terperangah mendengar deklarasi lelaki yang mengaku bernama Donghae, begitupun dengan Eunhyuk. Kekasih?!

"Hyuk, apa benar dia kekasihmu? Sejak kapan?!" Eunhyuk menelan ludah gugup. Dia ingin membantah tapi ucapannya tertelan kembali saat melihat mata Aiden yang memerah sekilas. Seperti memberi peringatan.

"Ayo pulang, sayang." Aiden meraih tangannya, menggenggamnya erat, menyatukan jemari mereka dalam ikatan yang kuat.

"Donghae-ssi, lepaskan tanganmu dari Eunhyuk!" Junsu yang semakin geram hendak melepas tautan mereka.

"Junsu, pulanglah dulu. Biarkan aku bicara pada Donghae."

"Tapi Hyuk-"

"Kumohon, Su. Nanti kujelaskan," pintanya memelas. Junsu menghela nafas berat. Mungkin memang mereka harus membicarakannya lain waktu. Di waktu yang tepat.

"Baiklah. Tapi kau harus menepati janjimu menceritakan semuanya padaku nanti." Eunhyuk mengangguk. Junsu memberikan tatapan mematikan pada Donghae sebelum berlalu. Entahlah, melihat Donghae rasanya begitu menakutkan. Aura di sekelilingnya dipenuhi kegelapan. Membuatnya sesak. Sebenarnya Junsu tidak mau meninggalkan Eunhyuk bersamanya, takut terjadi apa-apa. Tapi jika Eunhyuk sudah mengeluarkan jurus andalannya yaitu memohon dengan mata menyendu seperti puppy yang menggemaskan Junsu bisa apa? Semoga tidak terjadi hal buruk pada Eunhyuk.

Sementara itu Eunhyuk menatap Aiden dengan berbagai macam emosi dan bingung lebih mendominasi. Tangannya masih berada di genggaman Aiden, tak dibiarkan terlepas.

"Kenapa kau ke sini?" Tanya Eunhyuk memulai percakapan. Aiden menyeringai. Berbisik rendah di telinganya, "Untuk menemuimu."

"Dengar Aiden, aku bukan Dewimu, aku bukan mempelaimu. Mungkin dulu iya, tapi sekarang tidak. Bisakah kau tinggalkan aku?" Eunhyuk menegang saat tiba-tiba Aiden mencium bibirnya dan menutup matanya. Begitu Eunhyuk membuka matanya dia sudah berada di kamarnya. Berbaring di atas tempat tidurnya. Sendirian. Tidak ada Aiden. Iblis tampan itu menghilang entah kemana. Eunhyuk segera bangun, terduduk di pinggir tempat tidur berseprai satin berwarna biru. Ia menekuk lututnya dan memeluknya. Semua ini masih mengejutkannya. Membuatnya takut. Sangat. Kemarin hidupnya masih normal seperti biasa, tapi saat malam semuanya berubah drastis.

"Hyukie, Noona pergi dulu ne." Eunhyuk mengangkat kepalanya yang tadi sempat tertunduk saat mendengar suara kakaknya dari depan pintu. Melirik jam, sudah pukul 13.00 KST. Hari ini Sora memang ada kuliah pada siang hari, dia sudah memberitahukannya kemarin. Sejujurnya Eunhyuk tidak mau ditinggalkan saat ini, tapi mau jawab apa dia kalau nanti Sora bertanya kenapa? Semua ini sungguh membuat kepalanya berdenyut sakit. Eunhyuk bisa mendengar suara tapak kaki yang menjauh. Sora sudah pergi. Sekarang rumah ini terasa lenggang oleh kebisuan. Dan sekarang terasa sedikit menyeramkan. Eunhyuk melangkah ke luar kamar bermaksud mengambil minum karena kerongkongannya terasa kering. Menjerit meminta air. Eunhyuk yang tidak melihat lantai basah terus melangkah hingga kakinya terpeleset. Ia terjatuh dengan posisi terlentang. Meringis begitu merasakan bokongnya sakit saat bercumbu dengan lantai. Begitu matanya terbuka Eunhyuk terperangah saat berada di tempat lain. Di tengah hutan. Iris hitamnya semakin membulat melihat Aiden dan seorang gadis yang memegang busur panah saling berhadapan. Aiden menyerangnya, membawa tubuh gadis itu yang sudah tak berdaya entah kemana. Tiba-tiba waktu berpindah dengan cepat, sekarang Eunhyuk berada di dalam sebuah kastil. Apa ini? Masalalunya kah? Perhatian Eunhyuk kembali tertuju pada gadis yang dibawa Aiden kini terkurung di dalam kastil dengan penjagaan begitu ketat. Wajahnya mirip dengan dirinya. Itu mengejutkan Eunhyuk kesekian kalinya. Aiden masuk dan mereka memulai pertengkaran. Rontaan gadis itu mulai melunak saat Aiden menciumnya, memeluknya erat.

"Aku mencintaimu Dewiku, Artemis."

Belum sempat mencerna semuanya lagi-lagi waktu berputar. Sekarang Eunhyuk berada di tengah kobaran api. Jeritan terdengar di segala penjuru. Aiden di sana. Di atas kastil, mencium mempelainya sebelum pergi melawan para Dewa yang memulai penyerangan yang dimulai oleh Apollo. Merebut kembali saudaranya.

Jantung Eunhyuk berdenyut sakit melihat tubuh Aiden tertembus anak panah. Eunhyuk mendengar itu, kutukan para Dewa untuk Aiden. Tubuhnya ikut terhempas jatuh bersama dengan Aiden. Ia membuka mata saat merasakan dekapan hangat melingkupi tubuhnya. Menangkapnya. Iblis itu ada di depannya sekarang. Tersenyum penuh makna dan mencium dahinya lembut. Mengembalikan Eunhyuk ke kamarnya. Eunhyuk menatapnya tak biasa. Tangannya meraba pipi Aiden.

"Kenapa?" Tanya Eunhyuk merujuk pada kejadian yang dialaminya barusan.

"Untuk menunjukkan kau adalah milikku sampai kapanpun." Aiden membalas, iris merahnya memaku iris hitam Eunhyuk agar terus melihatnya. Aiden merunduk, menangkap bibir menggiurkan di depannya. Menciumnya begitu dalam. Menjilat bibirnya meminta izin masuk. Eunhyuk mengijinkannya. Ia membuka mulut, membiarkan Aiden menikmati kemanisannya. Menyerap seluruh daya hidupnya. Eunhyuk mengerang saat bibir Aiden berpindah ke lehernya, menarik bajunya hingga pundaknya terekspose. Tangannya bergerak cepat melepas baju Eunhyuk dan membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Mencumbunya dengan segenap cinta dan gairah yang dimilikinya. Dan ruangan itu di penuhi erangan dan desahan kenikmatan.

.

.

.

Junsu menghubungi Eunhyuk berulangkali tapi tidak terjawab. Eunhyuk menggigit bibir bawahnya gelisah sambil memegang ponselnya. Apa ia harus balas menghubungi Junsu? Tapi Eunhyuk belum siap. Apa yang harus diucapkannya nanti? Junsu pasti menuntut penjelasan yang sebenar-benarnya. Lamunannya terinterupsi saat Sora melangkah masuk, baru pulang dari rutinitas kuliahnya yang sudah di semester akhir, tangannya membawa sekantong plastik makanan. Menatanya di piring dan menyuruh Eunhyuk untuk makan bersamanya. Eunhyuk tidak menolak. Masalah Junsu akan ia pikirkan lagi nanti.

.

.

.

Saat melangkah ingin memasuki kamarnya Eunhyuk mulai ragu. Apa iblis itu akan mengunjunginya lagi? Ini sudah malam. Sehabis bercinta tadi iblis itu meninggalkannya. Eunhyuk meremas dadanya. Kenapa dengan perasaannya? Kenapa saat berada dalam dekapan iblis itu dirinya merasa nyaman dan hangat? Melihat senyumnya terasa tentram, bersentuhan dengannya menghanyutkannya. Jantungnya berdebar cepat saat di dekatnya. Apa yang dirasakan Eunhyuk ini? Apa Eunhyuk jatuh cinta pada Aiden?

Tanpa sadar ia sudah memasuki kamarnya. Tempat tidurnya tampak rapi, tak seperti habis dipakai bercinta. Pipi Eunhyuk merona mengingat semua sentuhan itu. Ia menggeleng pelan, mendudukan diri di depan cermin. Memperhatikan refleksinya. Sebuah tangan menutup matanya. Dekapan ia rasakan ditambah ciuman seringan bulu di lehernya. Eunhyuk tahu ini Aiden. Begitu tangan itu tak lagi menutup matanya Eunhyuk bisa melihat dari cermin. Aiden bertelanjang dada, mencumbu lehernya dengan mata terpejam. Eunhyuk menutup mata, menikmati sentuhan yang diberikan iblis tampan ini padanya. Tangannya bergerak membuka kancing kemeja yang Eunhyuk pakai. Meraba setiap inchi tubuh mempelainya.

"Nghh…" lenguh Eunhyuk sensual. Ciuman Aiden terus turun menuju bahunya, menghisapnya sebentar dan terus turun menciumi lengan hingga jari tangan Eunhyuk.

"Aku mencintaimu Eunhyuk," ucapnya dengan suara berat tepat di telinganya. Menghembuskan nafas panas. Eunhyuk menggeliat karena sensasinya.

"Aiden…"

"Jadilah pasanganku, Eunhyukie," pintanya. Eunhyuk mendorong Aiden menjauh. Iblis itu menatapnya serius. Sayap hitamnya terbentang melingkupi tubuh Eunhyuk agar tak lari darinya.

"Apa?"

"Jadilah pasangan hidupku. Ikutlah bersamaku, sayang." Eunhyuk menggeleng sebagai respon dan itu membuat pandangan Aiden menajam. Eunhyuk meneguk ludahnya tanpa sadar.

"Eunhyuk," panggilnya dengan nada mengancam. Aiden kembali menciumnya, merebahkannya di atas tempat tidur.

"Aku tidak bisa meninggalkan keluargaku." Aiden menggeram marah, kembali mencumbu Eunhyuk yang tidak bisa melawannya.

"Aiden, aku bukan Dewimu. Aku Lee Eunhyuk, bukan Artemis. Kau harus paham itu." Eunhyuk mendorong dada bidang Aiden dan mengelus pipinya lembut. Memberi pengertian. Aiden menggeram marah. Ia menangkap tangan Eunhyuk dan menciumnya.

"Aku mencintaimu Lee Eunhyuk. Sampai kapanpun kau adalah milikku. Kau dan Artemis adalah satu kesatuan."

"Apa kau sungguh mencintaiku?" hening sejenak hingga Aiden bersuara. Menatap Eunhyuk lekat-lekat hingga bisa merasuk ke dalam jiwanya.

"Ya, aku mencintaimu Eunhyuk."Eunhyuk terdiam, menatap Aiden lekat-lekat. Aiden menggigit jari telunjuknya hingga mengeluarkan darah, tanpa suara iblis itu menyuruh Eunhyuk melakukan hal yang sama. Eunhyuk menurut. Aiden meraih telunjuk kanan Eunhyuk, menyatukannya dengan miliknya, lalu menyentuhkannya ke dadanya. Membuat sebuah pola yang tak dimengerti Eunhyuk. Pola itu bersinar sesaat, membuat Eunhyuk takjub. Wajah Aiden mendekat dan mencium bibir Eunhyuk lagi. Menciumnya penuh kelembutan.

"Dengan ini kau sudah menjadi milikku, Eunhyuk. Tidak apa jika kau tidak ikut bersamaku, tapi dengan penyatuan ini kau sudah menjadi milikku secara permanen. Tidak ada yang bisa mengubahnya." Aiden mengelus kepala Eunhyuk lembut. Menyatukan dahi mereka.

"Aku mencintaimu, kau milikku!" Eunhyuk sadar dia tidak bisa mundur lagi. Dia sudah mengikat diri pada iblis yang mengungkungnya kini. Eunhyuk juga sadar kalau ia mempunyai rasa yang sama. Eunhyuk menyukai Aiden dan sebentar lagi mungkin berubah menjadi cinta. Eunhyuk menutup mata saat Aiden kembali mencumbunya. Memulai penyatuan. Mereka mendengungkan desah kenikmatan. Gairah mereka semakin meningkat seiring intensitas percintaan yang menguat. Kamar itu dipenuhi erangan dan desahan yang menggema.

"Mempelaiku, kau milikku!"

.

END

Ini aneh dan gak jelas saya tahu kok. Serius yang saya pikirin dan yang saya ketik ini kok beda jauh ya, sigh.

Terimakasih bagi yang sudah mau membaca, mereview, dan sebagainya. Terima kritik dan saran dalam bahasa yang sopan.

Sekali lagi maaf jika ini chap ini ancur sangat. #bow

Jangan lupa review kembali ya #kasihpuppyeyes

Karena jujur saya sebenarnya ragu mau melanjutkan karena biasanya setelah saya melanjutkan jarang ada yang review kembali. Di chap sebelumnya pada semangat minta lanjut/sequel/prequel dan el el yang lainnya #hoy tapi begitu dibuat reviewers menghilang entah ke mana, kan saya jadi merasa percuma buatnya. Silahkan bilang saya ini author baperan karena memang kenyataannya begitu.

Duh jadi curhat. Maafkan~

Okeh, sampai jumpa di ff saya berikutnya~

Salam hangat~