"Apa menurutmu aku egois?"
Kuroo tidak menjawab. Ia terus melangkah ke depan, meninggalkan Bokuto yang berdiri terpaku di tempat. Kepala berambut dwiwarna tertunduk, kedua tangan menutupi telinga. "Hei, Kuroo. Jawab aku."
Yang terdengar hanya tap-tap-tap suara sepatu menapaki lantai putih.
"Kuroo."
Kuroo tidak menoleh.
"—aku tidak ingin ditinggalkan lagi."
Suara langkah kaki itu berhenti. Bokuto bisa merasakan sepasang mata oniks serupa kucing menatapnya. Tajam dan lurus, menusuk bagai panah berlumur racun. Bokuto merasa napasnya sesak. Sisi Kuroo yang satu ini mengerikan.
Ada tarikan napas panjang.
.
Amaranthine
.
(Chapter 1)
["Aku pulang!"]
.
Tidak ada kicauan burung ketika ia terbangun. Tiada pula suara klakson kendaraan yang biasa menandakan hiruk pikuk perkotaan telah dimulai. Sinar matahari tidak berhasil menembus tirai putih tipis yang menutupi jendela. Saat ia sudah benar-benar terbangun, Akaashi menyadari pagi ini dihiasi awan mendung.
Pertanda buruk, pikirnya sambil menguap. Tangan yang tidak digunakan menutupi mulut dipakai mengucek mata. Cucian sudah menumpuk, kalau tidak dicuci sekarang bisa segunung…
Alarm berbunyi nyaring tak lama kemudian. Tangan kanan bergerak otomatis untuk mematikan; cukup satu sentuhan ringan di layar ponsel dan rekaman suara teriakan Bokuto berhenti. Sebelum memulai harinya di dapur, Akaashi membuat catatan mental untuk mengganti password ponselnya nanti. Juga mengganti nada alarmnya. Tidak baik untuk kesehatan jantung orang yang baru bangun, meski harus diakui nyaris mirip seperti suara burung hantu asli.
Selama beberapa detik, Akaashi terdiam sambil memandangi layar ponselnya.
Setelah itu, ia tersenyum samar.
.
"HEI HEI HEEEEI, AKAAAASHIII! Ini Bokuto Koutarou, kalau-kalau kau sedang sibuk dan tidak sempat melihat layar ponsel sendiri! Cuma ingin mengabari kalau tugasku sudah selesai dan besok aku sudah bisa pulang! Tidak usah menjemputku; aku sudah hapal alamatnya kali ini! Sampai ketemu besok, I love—"
Akaashi segera menekan ikon 'end' tanpa ragu, bahkan sebelum kata terakhir terucap. Android silver itu diletakkannya dengan hati-hati di samping nampan. Tarik napas dalam-dalam, hembuskan perlahan. Bibir bawah tergigit tanpa sadar. Tepukan dua kali di pipi untuk mengusir semburat merah transparan gagal. Begitu pula dengan senyuman yang membentuk diri di bibirnya tanpa ijin. Mengabaikan keduanya, Akaashi menyalakan televisi dan menyantap sarapannya sambil menonton berita pagi.
Kira-kira sepuluh menit kemudian, semangkuk sup miso, sepiring telur mata sapi, dan semangkuk penuh nasi habis tanpa sisa. Selesai mengisi perut, Akaashi membawa nampan berisi piring-piring kotor ke wastafel untuk dicuci segera.
Saat ia menyibukkan diri di dapur lagi, televisi yang masih menyala menayangkan kabar meledaknya gudang barang di daerah pinggiran kota. Suaranya terdengar sampai ke dapur, tetapi Akaashi tidak terlalu mendengarkan. Fokusnya sekarang pada mangkuk dan sumpit yang harus dicuci bersih sesuai keinginan, juga cucian yang mungkin tidak kering karena kabut yang tumben saja mampir pagi ini. Tanpa sadar, semua peralatan makan sudah bersih dan tertata rapi di rak. Akaashi belum selesai mengeringkan tangannya ketika pintu depan terbuka keras.
Hapal dengan kebiasaan penghuni lain rumah ini, Akaashi tanpa ragu menghampiri sumber suara.
Pada sosok yang sedang memunggunginya dan terlihat kesusahan melepas tali sepatu bot, Akaashi menyapa, "Selamat datang, Bokuto-san."
Sosok berseragam tentara namun masih berambut dwiwarna mencuat itu menoleh. Mendapati Akaashi yang menyambutnya seperti biasa, ia tersenyum lebar dan melambaikan satu tangan. "Aku pulang dengan selamat, Akaashi! Masa' ekspresimu datar begitu?"
Akaashi hanya angkat bahu sebelum balik badan. "Sejak lahir mukaku memang begini, Bokuto-san. Mau diapakan lagi memangnya." Bukan kalimat tanya, tentu saja. Tanpa peduli pada Bokuto yang memanyunkan bibir, merajuk seperti anak kecil, Akaashi balik badan dan melenggang kembali ke dapur. Kali ini, untuk memasak sarapan jilid kedua. Dengan seulas senyuman tipis di wajah, tidak tertangkap mata keemasan Bokuto yang menginginkannya.
"Akan kubuatkan sarapan, jadi berhenti merajuk."
Bokuto masih merajuk, tangan disilangkan di depan dada dan badan disandarkan ke dinding krem.
"Bokuto-san."
Belum ada perubahan. Malah Bokuto sekarang menggerutu pelan.
Akaashi memutar bola mata. Dejected mode Bokuto belakangan ini mudah sekali terpicu. Beruntung Akaashi selalu punya solusi—atau lebih tepatnya, dirinyalah solusi itu sendiri.
"Duduklah dan biarkan aku membuat sarapan untukmu dengan tenang, Koutarou."
Ketika Akaashi membalikkan badan, Bokuto sudah duduk ke salah satu kursi kosong dengan senyuman cerah di wajah.
.
"Hei hei hei, Akaashi—"
"Bokuto-san, telan dulu makanannya sebelum bicara."
'Gulp' dan, "—apa Kuroo meneleponmu selama aku pergi?"
Alis Akaashi naik satu. Ia menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Tidak sekalipun?"
"Tidak sekalipun," Akaashi mengulang, lalu wajah Bokuto berubah muram. Mata yang biasa terlihat mengantuk (meskipun sebenarnya si empunya tidak selalu dilanda kantuk, hanya lelah menjadi babysitter seorang lelaki yang berprofesi sebagai tentara) berkedip cepat, merasakan keganjilan yang mengganjal pikiran Bokuto beberapa waktu ini.
Kuroo menghilang.
Bukan dalam artian MIA atau sampai perlu memasang pengumuman orang hilang, bukan. 'Menghilang' yang ini dalam artian 'tidak memberi kabar'. Belum pernah sekalipun sosok dengan seringaian Cheshire Cat nyaris permanen di wajah itu menghubungi mereka sejak… kapan? Enam bulan, setahun, dua tahun? Atau bahkan sejak kecelakaan maut itu, yang berarti tiga tahun lalu?
Bulir keringat menggantung di pipi Akaashi. Semoga saja ia salah ingat. Semoga.
Tunggu sebentar. "Kuroo-san tidak ikut misi kali ini?"
Bokuto menggeleng lesu. Bahunya turun, alisnya bertautan. "Dapat kabar dari Sawamura kalau dia mengundurkan diri seminggu sebelum pemberitahuan misi. Sebelum itu juga enggak ketemu sama sekali." Aduh. Tanda bahaya ini. "Akaashi…" Bokuto sudah seperti akan menangis. Akaashi segera putar otak mencari alasan atau topik untuk mengalihkan perhatian. Dua kali mengurusi dejected mode Bokuto di pagi hari bukan hal yang diinginkan siapapun, termasuk Akaashi selaku 'pawang' Bokuto sendiri. Jadilah ia mengucapkan sesuatu yang terlintas di benaknya sejak bangun pagi tadi, berusaha mempertahankan ekspresinya agar tetap datar seperti biasa.
"Bokuto-san, kalau tidak mengantuk, setelah ini bisa tolong bantu aku menjemur pakaian? Aku khawatir kalau tidak cepat-cepat hujan akan segera turun dan—"
Setidaknya, prospek berduaan dengan Akaashi seharian ini berhasil menjadi pengalih perhatian. Meski Bokuto sempat melihat cucian yang dimaksud sudah menggunung di keranjang sebelah mesin cuci…
Toh, apapun untuk Akaashi.
Setelah itu, ia bisa tidur seharian (kalau bisa ditemani Akaashi) tanpa mencemaskan serangan musuh di medan perang lagi.
.
.
Kuroo Tetsurou sedang membersihkan apartemennya saat bel pintu berbunyi nyaring. Ia melirik jam dinding. Sudah pukul nyaris tengah hari; ia memulai acara bersih-bersihnya sekitar pukul delapan, dan sekarang sudah setengah duabelas lewat sekian menit. Saking asyiknya membersihkan jaring laba-laba di sudut-sudut seluruh ruangan, ia sampai lupa waktu dan lupa memasak makan siang.
Bukan masalah besar sebenarnya, mengingat sekarang hanya ada Kuroo seorang.
Seraya menghela napas pendek dan mengubur dalam-dalam kenangan tentang penghuni lain apartemen yang telah tiada (Kuroo tidak ingin tertangkap basah meneteskan air mata saat akan menerima tamu, terima kasih banyak), si lelaki berambut hitam acak-acakan nan susah dirapihkan melangkah ke arah genkan. Mulutnya sudah terbuka, siap menanyakan identitas tamunya ketika suaranya memutuskan untuk mengepak koper dan pergi ke luar kota.
Melihat sosok yang berdiri dipapah Shirofuku, mata Kuroo membulat lebar.
Suara sosok itu serak dan nyaris tidak dikenal ketika ia berucap, "Lama tak jumpa, Kuroo-san."
Tangan Kuroo terkepal. Ingin rasanya ia mengusir mereka pergi, namun hatinya belum mati dan iba menyelimuti saat melihat kepanikan Shirofuku. Belum lagi luka-luka mengkhawatirkan di sekujur tubuh si lelaki yang dipapah Shirofuku dari lantai satu ke lantai lima. Mau tak mau, Kuroo mundur dan memberikan jalan bagi mereka untuk memasuki apartemennya.
Dalam hati, ia hanya bisa berharap persediaan makanan di kulkas bisa mencukupi kebutuhan makan dua makhluk yang dikenal barbarian dengan nafsu makan di atas rata-rata ini.
.
.
[to be continued]
A/N: Akaashi belum (?) mati, pembaca sekalian. (ovo)b /emotmu
Disclaimer: Haikyuu © Furudate Haruichi, selalu.
