Kuroo punya kemampuan mengingat yang baik. Kecelakaan tiga tahun yang lalu saja ia masih ingat jelas kronologinya, apalagi kejadian yang baru berlangsung kurang dari 24 jam yang lalu. Kuroo ingat mampir ke supermarket kemarin, membeli persediaan makanan dengan jumlah yang membuat kulkasnya penuh. Serius, dia sampai bingung harus bagaimana menata mie instan yang ia beli sendiri agar muat di rak kabinet dapur.

Datanglah dua tamu tanpa pemberitahuan sejam yang lalu, lalu kulkasnya kosong melompong sekarang.

Jejeran telur yang pagi tadi masih menghiasi bagian atas pintu kulkas kini tinggal cangkangnya, lokasinya pun sudah pindah ke tempat sampah dapur. Sayur mayur hijau berubah bau dan bentuk menjadi bermacam jenis hidangan, kini lenyap ditelan dua makhluk yang mengaku manusia namun dicurigai (terutama oleh Oikawa) sebagai alien berperut tanpa dasar. Dan yang paling buruk dari yang terburuk?

Ikan makerel favoritnya—oh, betapa Kuroo ingin menangis sekarang—sudah kehilangan seluruh daging, tinggal duri dan tulang saja yang tergeletak di atas piring.

R.I.P persediaan bahan makanan untuk sebulan ke depan, kalian tidak akan dilupakan.

Sementara kedua tamunya masih sibuk melahap makan siang, Kuroo menyeka air mata pilu dalam diam.

.

Amaranthine

.

(chapter 2)

["Hei hei hei, Akaashi!"]

.

Kuroo duduk di atas sofa, kaki kanan diparkir di atas meja dan kaki kiri ditaruh di atasnya. Kedua tangan dilipat di depan dada. Dagunya diangkat, mata hitam menatap tajam dua tamu tak diundang yang kini duduk bersimpuh di hadapannya. Sepintas, scene ini terlihat seperti bos yakuza datang menagih utang pada sepasang suami istri yang tidak punya uang.

"Jadi, bisa jelaskan sekarang? Maksud kedatangan kalian yang mendadak dan tanpa pemberitahuan…"

Shirofuku tersenyum gugup. "Kuroo-san belum lihat berita?"

Alis hitam terangkat sebelah. Sorot mengintimidasi singa digantikan penasaran kucing dewasa. "TV belum kunyalakan sejak pagi tadi; aku enggak lihat berita pagi, keasyikan bersih-bersih rumah habis sarapan," jelas Kuroo sambil menurunkan kaki, kedua telapak tangan dimasukkan ke dalam saku celana yang ia kenakan. "Memang ada berita penting apa hari ini? Terus…" Wajahnya masih menghadap Shirofuku, namun fokusnya jelas tertuju pada tamu kedua yang masih duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk di sebelahnya, "…kenapa dia bisa ada di sini?"

Shirofuku batuk ringan. "Kuroo-san, Daishou Suguru meninggal karena kecelakaan kemarin malam. Sore hari ini ia akan dimakamkan. Bokuto-san tidak memberi kabar?"

Seketika, seluruh emosi di wajah Kuroo menghilang.

.

Bokuto terdiam. Matanya tidak berkedip, bahkan sampai layar ponselnya padam. Pesan yang baru sampai ke inbox-nya barusan…

"Bokuto-san?"

Tanpa membalas panggilan Akaashi, Bokuto memasukkan ponsel itu ke saku jaketnya. Punggungnya menghadap Akaashi, sehingga Akaashi tidak bisa melihat wajahnya. Keranjang jemuran yang sudah tidak ada isinya diabaikan; Bokuto setengah berlari ke kamar, meninggalkan Akaashi di halaman belakang sendirian. Sambil membawa keranjang yang terabaikan kembali ke dalam rumah, Akaashi memanggil Bokuto untuk kedua kalinya. Tiga kali. Empat kali. Barulah saat ia akan memanggil untuk kelima kalinya, Akaashi sadar apa yang sedang Bokuto lakukan. Mata kelabunya berkedip pelan melihat Bokuto dalam balutan warna hitam dari kepala sampai kaki. "Ada acara dadakan di mana, Bokuto-san?"

Jeda beberapa saat sampai akhirnya Bokuto membalas. "Daishou meninggal kemarin malam."

Ringkas dan pendek; jawaban yang sangat bukan Bokuto. Ditambah dengan nada suara yang lebih dalam daripada biasa, mau tak mau Akaashi merasa heran. "Daishou… Daishou Suguru?"

Anggukan cepat. "Akan dimakamkan sore nanti, makanya aku ingin cepat berangkat." Jeda lagi. Setelahnya, Bokuto tersenyum—simpul, hampa energi. "Akaashi ikut?"

Akaashi putar bola mata, seolah pertanyaan barusan adalah pertanyaan paling bodoh sedunia. Keranjang jemuran ditinggalkan begitu saja di depan pintu sebelum ia melangkah mendekati Bokuto. "Bokuto-san, dasimu miring. Sini kubetulkan."

Kalau Akaashi tidak ikut, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan Bokuto lakukan. Kisarannya antara gagal duduk diam dan mulai membuat keributan sampai mengganggu jalannya prosesi pemakaman; setidaknya, begitulah kemungkinan yang bisa Akaashi pikirkan. Berdasarkan pengalaman, ngomong-omong, tidak usah disebutkan kapan kejadiannya.

(karena sudah jadi kesepakatan tanpa suara di antara mereka untuk tidak menyinggungnya lagi; ia, Bokuto, dan Kuroo yang menghilang tanpa kabar sampai sekarang)

Di langit, awan mendung berarak perlahan menuju pinggiran kota.

.

("Aku di sini, Bokuto-san.")

.

Tidak ada tetesan air mata yang mengantar kepergian Daishou Suguru. Semua berwajah muram dan berduka, ya, tetapi tidak ada pipi yang basah di antara para pelayat. Warna hitam tertangkap mata di seluruh penjuru ruangan, bela sungkawa terucap pada Nyonya Rumah yang ditinggalkan. Selebihnya hanya obrolan ringan pelayat yang bertemu kenalan guna mengusir rasa bosan menunggu pemakaman dimulai.

Kuroo, sayangnya, tidak berminat untuk tinggal lebih lama di sana. Segera setelah menyalakan dupa dan menyampaikan bela sungkawa, ia langsung menuju genkan lalu bersiap pulang ke apartemennya. Ia tidak bisa berlama-lama di sini; tidak dengan tamu yang menyatakan diri akan menginap selama beberapa hari ke depan. Kuroo merinding membayangkan harus bertarung melawan ibu-ibu rumah tangga lagi hanya untuk mendapatkan diskonan di pasar swalayan (mohon diingat lagi kalau persediaan makanan Kuroo selain mie instan sudah habis disantap kedua tamunya pagi-menjelang-siang tadi). Saking terpakunya Kuroo memikirkan tamu tak diundang yang berencana menginap di tempatnya, ia sampai tidak menyadari kehadiran teman lama yang berdiri di pintu masuk rumah.

"Kuroo?"

Cukup satu kata itu dan batallah niat Kuroo mengejar diskonan di supermarket sore ini.

Tanpa suara, Kuroo merutuki Dewi Fortuna yang sepertinya sedang hobi mengerjainya sejak pagi. Kuroo mengangguk singkat, cengirannya lebih kaku dari biasa.

Kurang dari lima menit, Kuroo menemukan dirinya berada dalam pelukan kelewat erat seorang Bokuto Koutarou. Seandainya Akaashi tidak berada di sana, mungkin harga diri Kuroo sudah terdegradasi karena ditemukan pingsan di genkan rumah orang lain.

.

.

[to be continued]


A/N: major problem bikin fic angst/tragedy - tiap pingin bikin scene angsty jatuhnya jadi komedi (garing). Samwan help orz. Terima kasih bagi yang mampir membaca dan review chapter sebelumnya; review menjadi semangat menulis bagi saya XD