Warning: KuroKen kental pahit. /apaini

Disclaimer: Masih punyanya Furudate Haruichi.

Now Playing: Yume no Mata Yume – Mafumafu (coba jadikan reff-nya bgm waktu baca dua scene KuroKen chapter ini /kabur)


Kenma tidak suka keramaian. Ia lebih suka berada di tempat sepi seorang diri, seperti kamarnya di apartemen misalnya. Satu atau dua orang bukan masalah. Dikerumuni banyak orang, lebih-lebih lagi kalau Kenma tidak mengenal mereka sama sekali, membuatnya gugup. Kenma tidak suka keramaian, apalagi menjadi pusat dari keramaian itu.

Sayup-sayup, ia bisa mendengar teriakan Bokuto.

(kenapa rasanya susah sekali bernapas?)

Hujannya semakin deras.

(kuro?)

Semuanya berwarna merah. Merah yang ini mengerikan. Beda dengan merahnya Kuro yang membuat hangat dan mengingatkan Kenma akan pai apel yang baru selesai dipanggang, merah yang ini membuat Kenma ingin menangis ketakutan seperti anak kecil dan baunya seperti besi. Tidak mengenakkan, sama sekali tidak mengenakkan. Membuat bulu romanya meremang.

(kuro, kaukah itu?)

Walau samar, Kenma bisa melihat garis kuning dan deretan kaki bersepatu aneka warna. Sedikit ke atas, Kenma melihat Kuroo dan Bokuto di belakang garis kuning. Bokuto tidak mungkin salah dikenali, gaya dan warna rambutnya bukan hal yang biasa digunakan orang kebanyakan. Dan—oh, kenapa dia berteriak? Kenapa Bokuto terlihat ketakutan begitu?

Kenapa Kuroo terlihat seperti akan menangis begitu?

(ha) Kenma ingin tertawa, namun ia tidak bisa. Kuroo menangis. Membayangkannya saja membuat perutnya serasa tergelitik. Kuroo tidak pernah menangis. Kuroo tegar, orang paling tegar yang pernah Kenma temui. Yang menuruni pipinya pastilah tetesan hujan. Mustahil Kuroo menangis. Kuroo kuat.

Tangan Kenma tidak bisa menggapainya. Menggerakkan ujung jari saja Kenma tidak bisa. Tubuhnya kaku. Kenma tidak bisa melawan saat orang-orang berseragam medis (petugas ambulans? Sejak kapan mereka ada di sini?) mengangkatnya dengan hati-hati, membaringkannya di atas tandu, lalu membawanya masuk ke dalam ambulans.

Ia tidak ingin berada dalam ambulans sendirian.

(kuro, temani aku)

(kuro)

(kuro—)

Pintu ambulans tertutup.

.

Amaranthine

.

(chapter 4)

["Mimpi?"]

.

Ketika Kuroo membuka mata, Kenma tidak ada di sebelahnya. Kucek-kucek mata sebentar, kuapan lebar, disusul peregangan yang diiringi erangan keras. Ada suara dengusan, asalnya dari balkon kamar—dari balik tirai. Kuroo bisa melihat sosok dalam balutan hoodie merah marun yang duduk memeluk lutut di balik tirai putih transparan. Senyuman lembut terkulum tanpa sadar. "Ini tengah malam, Kenma. Enggak ngantuk?"

"Kucing makhluk nokturnal, Kuro."

"Ah, akhirnya ngaku juga."

"Tapi aku bukan kucing," sergah sosok berambut mirip pudding itu cepat, belum beranjak dari tempatnya berada. "Aku bukan kucing." Gelengan keras. Kuroo harus menahan tawa melihat kekeraskepalaan Kenma. Unyu, pikir Kuroo geli. Ia turun dari kasur, keluar dari kepompong selimut tebal nan hangat untuk mendekati Kenma. Tirai disibakkan.

Kenma menoleh dengan senyuman transparan. Langit malam bertabur bintang berkilauan yang menjadi latar belakang membuat Kuroo nyaris lupa caranya bernapas. Tangan berjari kurus dan hampir tertelan lengan hoodie merah marun kebesaran terulur ke arahnya. Kuroo ambil posisi duduk di sebelah Kenma, meraih tangan yang lebih kecil darinya itu agar bisa menggenggamnya erat.

Ujung jari Kenma terasa menyejukkan di pipinya. Kuroo memejamkan mata, menikmati kesejukan itu sepenuh hati.

Air matanya meleleh.

"Terima kasih banyak, Kuro," Kenma berbisik lembut. Satu kecupan di dahi. Satu kecupan di pipi.

Ketika Kuroo membuka matanya lagi, matahari sudah bertahta di langit. Tirai putih transparan berkibar tertiup angin. Langit tidak lagi terlihat gelap, biru cerah menggantikan hitam kelam langit malam. Hilang sudah kilau bintang yang bertaburan, awan putih berarak menggantikan kedudukannya menghiasi langit.

Tidak ada lagi Kenma di samping Kuroo pagi ini.

Tidak akan ada lagi untuk selamanya, kecuali dalam mimpi.

.

"Matamu merah."

"Baru bangun tidur."

"Sembap."

"Habis nguap."

Manik kelabu yang selalu nampak sayu menatap punggung Kuroo tanpa berkedip. "Sejak kapan menguap bisa membuat mata bengkak begitu?"

Kuroo membisu. Ucapan tamunya ini bagai anak panah yang menancap tepat di kepala. Beberapa saat lamanya, dapur bernuansa hitam putih itu hanya diisi suara spatula membalik telur mata sapi; sarapan mereka untuk pagi ini. Kulkas Kuroo sudah penuh lagi setelah menyasarkan diri ke swalayan kemarin petang. Kuroo hanya bisa berharap semuanya tidak akan ludes lagi dalam satu hari. Untungnya Shirofuku sudah pulang (setelah membungkuk dalam, minta maaf karena sudah menghabiskan cemilan Kuroo). Kalau Shirofuku ikut menginap juga, isi dompet Kuroo dalam bahaya besar.

Ada suara duk saat si tamu mengistirahatkan kepalanya di atas meja makan. Satu lirikan, dan Kuroo menghela napas lega yang bersangkutan tidak pingsan tiba-tiba karena kelaparan.

Orang yang sedang dalam masa penyembuhan butuh banyak makanan, Kuroo tahu itu.

"Lapar berat?" Kuroo menggoda, seringaian Cheshire Cat menempel di wajah.

Suara perut yang memutuskan mengadakan orkestra dadakan menjadi jawaban.

Hening.

Bahu Kuroo bergetar menahan tawa. Ia tidak sanggup menoleh ke belakang, takut kelepasan tertawa dan malah membiarkan telur yang ada di penggorengan gosong sebagian. "Y-yang ini bagianmu, kalau begitu."

'Terima kasih' diucapkan dengan suara kelewat pelan. Tangan penuh bekas luka mengaitkan jari di atas kepala, berusaha menyembunyikan sepuhan merah di wajah. Malu dia, tanpa menoleh pun Kuroo tahu.

Kuroo baru selesai memindahkan telur ke piring ketika pintu depan tiba-tiba terbuka keras.

Piring berisi telur yang baru matang diletakkan cepat di atas meja. Suara tap-tap-tap tergesa-gesa menggema dari ruang tengah menuju dapur. Kuroo ambil langkah panjang, spatula dan penggorengan yang masih panas di kedua tangan jadi senjata andalan, siap menghadang si tamu tak diundang (selain yang tengah bersembunyi di bawah meja). Penggorengan sudah akan dilayangkan ke wajah si pengganggu dan—

"GYAAAAAH!"

-Kuroo menghentikan ayunan penggorengannya tepat di depan hidung sosok berjaket putih itu.

Lagi-lagi, hening menyeruak tanpa ijin. Kali ini diisi isakan pelan, datangnya dari sosok Oikawa Tooru yang matanya sembap dan bengkak.

Di bawah meja makan, tamu Kuroo lainnya mengerutkan dahi heran.

Ada apa dengan pagi ini sampai membuat dua orang muncul dengan mata sembap habis menangis?

.

"Akaashi, matamu merah."

"Aku baru bangun tidur, Bokuto-san."

Jam dinding menunjukkan pukul setengah tujuh. Bokuto bangun limabelas menit yang lalu, sedangkan Akaashi sudah mengurung diri di kamar mandi bahkan sebelum Bokuto berhasil mengumpulkan seluruh kesadarannya di pagi hari (yang diperkirakan memakan waktu nyaris setengah jam, kecuali kalau sedang dalam misi). Kebohongan terdeteksi. Bokuto segera menghampiri Akaashi, memeluknya sambil mengucapkan apapun yang kiranya bisa menenangkan hati. Serasa hari kebalikan, pikir Akaashi, balik memeluk Bokuto yang baru selesai berbenah diri. Matanya terpejam, menikmati kehangatan dan menghirup aroma mint dalam-dalam.

"Mukamu pucat sejak kemarin sore. Perlu kuantar ke dokter hari ini?"

Gelengan lemah. Akaashi tidak sedang ingin keluar rumah hari ini. Tidak setelah bertemu dengan sosok ber-hoodie merah marun itu; tidak saat kemungkinan serangan panik akibat trauma akan muncul lagi. "Aku ingin di rumah saja. Temani aku nonton TV?"

Bokuto tertawa lepas di pundak Akaashi. Tawanya menyegarkan, sampai keletihan Akaashi hilang seketika.

Jemari Akaashi mencengkeram punggung Bokuto erat.

("Sampai ketemu lagi.")

Mimpikah? Mimpi belaka 'kah kejadian pertemuan kemarin sore itu?

Akaashi memejamkan mata.

Sekali ini saja, biarkan permohonanku terkabul.

Bokuto berusaha tetap tertawa. Susah sekali rasanya saat tahu orang yang kau kasihi menangis ketakutan di pelukanmu. "Hei hei hei, Akaashi. Jangan nangis, oke? Aku enggak akan pergi lagi sementara ini, dapat libur panjang dari Sawamura. Kamu enggak bakal kesepian lagi kayak biasanya. Jangan nangis, Akaashi."

Namun air mata itu masih enggan berhenti menetes. Pundak Bokuto terasa basah.

"Akaashi, hei."

Sekali ini saja.

"Akaashi, kau mimpi buruk? Ayo cerita, biar lega sedikit," bujuk Bokuto, melepaskan pelukan agar bisa melihat wajah Akaashi langsung. Telunjuknya bergerak otomatis menyeka air mata Akaashi. Digiringnya Akaashi ke salah satu kursi makan. "Tunggu sebentar, kubuatkan teh dulu—Akaashi aku senang kamu enggak nangis lagi, tapi tolong jangan ngetawain usahaku—"

Akaashi tergelak. Melihat sosok yang biasanya kelewat cakap menangani senjata dan peralatan berbahaya kelimpungan di dapur membuatnya ingin tertawa, meski air mata tetap menumpuk di sudut mata. Bokuto merengek, merajuk main-main. Lega sudah tentu, walaupun masih ada perasaan tidak enak mengganjal. Merasa teh tidak terlalu diperlukan, Bokuto duduk di hadapan Akaashi dengan tangan terlipat rapi di atas meja. Cengiran lebar khas Bokuto Koutarou terukir di wajah. "Udah enakan? Mau cerita sekarang?"

Satu tarikan napas panjang.

"Bokuto-san," Akaashi tidak menatapnya, "apa pendapatmu tentang doppelganger?"

Krik. Bokuto berkedip cepat. "Dop-doppel—?"

Kepala Akaashi tertunduk lesu. Ia mendesah gemas, lalu menjelaskan, "Kembaranmu yang harusnya tidak ada, punya wajah mirip denganmu tapi bukan kebetulan?"

Nyaris sepuluh tahun Akaashi mengenal Bokuto. Dari awal bertemu sampai tinggal serumah dengan status mengambangcoughbertunangancough, Akaashi tahu semua kelemahan Bokuto, pemicu Dejected Mode, serta solusi mengatasinya. Berdasarkan pengalaman juga Akaashi bisa memperkirakan reaksi Bokuto dengan tepat. Ia mengira Bokuto akan tertawa dan menganggapnya lelucon. Akaashi sudah siap menghadapi reaksi seperti itu, lalu membalasnya dengan candaan pula (diucapkan dengan wajah datar seperti biasa tentunya). Ia mengira Bokuto akan menganggapnya angin lalu.

Akaashi tidak mengira Bokuto akan tertegun, diam membatu, dengan senyum yang perlahan memudar.

"…Bokuto-san?"

Bokuto tidak menjawab.

Alarm di kepala Akaashi kembali berbunyi nyaring.

.

.

[to be continued]


A/N:

…you know what, harusnya saya nganalisa film Avatar (bukan kartun) pakai teori Religinya Koentjaraningrat sekarang. Atau milih topik buat paper tugas kuliah lainnya. Atau berhenti nge-prokras ria. Yang merasa anak baik, tolong jangan contoh saya. /dogeza Eniwei, kenapa pada nebak tamunya Kuroo Kenma? Petunjuknya di chapter ini udah jelas 'kan? (ovo)b /emotnyaaduh

Akhir kata, makasih yang udah review chapter sebelumnya dan setia nungguin fic ini! Saya terharu ada yang setia review dan baca, termasuk para silent readers di luar sana /sobs Review masih ditunggu dengan sabar, sampai ketemu di chapter selanjutnya~