Doppelgänger or Doppelga(e)nger is alook-alike or double of a living person, sometimes portrayed as a paranormal phenomenon, and is usually seen as a harbinger of bad luck.*
.
Amaranthine
.
(chapter 5)
["Jangan Bercanda."]
.
Bokuto Koutarou dikenal banyak orang sebagai tipe yang selalu heboh, tak peduli tempat atau waktu. Gaya rambutnya yang unik dan menyerupai burung hantu menjadi ciri khas utama, selain hobinya berteriak, "HEI HEI HEI!" pada siapapun yang diinginkan atau menirukan suara burung hantu—saking cintanya dia pada makhluk nokturnal satu itu. Bokuto dan kata pendiam sama sekali tidak bisa disandingkan dalam satu kalimat; sekalinya kejadian, itu bukan pertanda baik bagi teman bicaranya.
Seperti yang Akaashi alami sekarang, contohnya.
"Bokuto-san?" panggil Akaashi, sedikit was-was. Bokuto tidak menjawab, tidak pula berkedip. Ia terdiam membatu di sana, bekas senyuman masih terkulum di bibirnya. Kedua tangan yang terkepal di atas meja gemetar. Akaashi baru akan meraih tangan Bokuto, siap untuk menggenggamnya seperti biasa, ketika Bokuto perlahan tertawa.
Tawa Bokuto yang biasa selalu menghebohkan. Tawa Bokuto yang biasa membuat orang-orang bersemangat, kalau bukan kesal karena tidak tahu jam atau tempat. Tawa Bokuto yang biasa—terutama kalau ada Kuroo di sebelahnya—membuat Sawamura siaga tingkat tiga dan penonton geleng-geleng kepala.
Tawa Bokuto yang sekarang membuat Akaashi terpaku dengan bulu kuduk meremang.
Tawa Bokuto yang ini menyeramkan.
"Yang begitu mustahil ada, Akaashi." Bokuto masih belum menatapnya. Pandangan Bokuto terarah pada meja, tetapi fokusnya menghilang. "Adanya cuma di film, atau novel, atau komik—"
"Bokuto-san."
"—mustahil ada—"
"Bokuto—"
"—candaanmu enggak lucu, Akaashi—"
"Koutarou," ucap Akaashi penuh penekanan, tangan yang semula berusaha meraih tangan Bokuto kini beralih menyentuh wajahnya. Mendekatkan wajah pucat Bokuto pada wajahnya, membuat perhatian Bokuto terkumpul sepenuhnya padanya. "Tenang dulu, oke?" Bokuto mengangguk kaku. "Tarik napas dalam-dalam…" Lelaki yang lebih tua setahun itu memejamkan mata (karena tangan Akaashi membimbingnya, hangat dan sedikit kasar dan nyata), mengikuti instruksi Akaashi sampai bahunya tidak lagi tegang.
Akaashi tidak lagi membahas topik itu setelahnya.
.
Lama waktu Oikawa dan Iwaizumi mengenal satu sama lain, menurut Kuroo, bisa disamakan dengan lama Kuroo mengenal Kenma. Perbedaannya hanyalah tidak ada selisih umur setahun di antara Oikawa dan Iwaizumi—seingat Kuroo malah hanya beda sebulan. Iwaizumi bulan Juni dan Oikawa lahir bulan Juli.
(ada satu lagi perbedaan antara Oikawa-Iwaizumi dan Kuroo-Kenma yang mencolok, kelewat mencolok malah. namun Kuroo tidak menyinggungnya, tidak pula Oikawa, tidak pula siapapun yang peduli pada perasaan mereka. sudah cukup dengan penampakan mata sembap pagi hari ini, tidak perlu ditambah jumlahnya)
Kuroo memijat kepalanya yang pusing di pagi hari untuk kedua kalinya.
"Biar kutebak." Kepala Oikawa tertunduk dalam, bahunya sejajar dengan telinga. Telapak tangannya terkepal di atas lutut. Kuroo yang berdiri di hadapan Oikawa tidak melihat bibirnya bergetar, tetapi tamu Kuroo yang duduk bersimpuh di depan Oikawa bisa melihat genangan air mata yang mengancam akan tumpah tak lama lagi. Juga pipi yang digembungkan. Juga wajah merajuk seorang lelaki yang harusnya sudah merayakan ulang tahun ke-26 bulan Juli kemarin.
Jujur saja, kadang Kuroo meragukan keabsahan akte kelahiran Oikawa.
Tekanan darah Iwaizumi apa kabar, kira-kira?
"Kalian tengkar. Lagi." Jeda. "Atau salah paham?" Oikawa tidak bergeming. Lampu bohlam imajiner menyala. "Ah. Kamu maksain diri latihan sampai larut lagi, terus ketangkap basah sama Izumi, terus—"
"Tetsu-chan, tolong jangan buka kartu lebih jauh lagi."
Tamu Kuroo sebelum Oikawa datang mendengus. Oikawa berjingkat, kepala diangkat. Kuroo menggembungkan pipi menahan tawa melihat wajahnya. "Jahat! Kalian semua jahat! Harusnya aku pergi ke tempatnya Yahaba; nyesel banget jauh-jauh kemari!" rengeknya dengan tangan terkepal di samping wajah.
Kuroo dan Tamunya saling bertukar pandang, bulir keringat raksasa imajiner menggantung di belakang kepala.
Ah, ini akan jadi sangat menyebalkan…
.
"Iwaizumi-san, jangan bilang kalian tengkar lagi." Suara Akaashi terdengar lelah dari seberang sambungan telepon. Iwaizumi merasa sedikit bersalah. Ia tahu tanggungan Akaashi sudah bisa dibilang berat meski hanya mengurus Bokuto seorang, tetapi ia tidak tahu lagi kemana harus mencari teman serumah corettunangannyacoret satu itu. Iwaizumi bahkan sudah menelepon satu-satu kenalan Oikawa (atau setidaknya yang juga ia kenal). Hikmah dari kejadian kali ini: jangan menelepon Shirabu Kenjirou sebelum tengah hari, terutama di hari libur menjelang musim dingin. Bulu roma Iwaizumi masih meremang mengingat panggilan yang ia buat beberapa menit sebelum ini. Beruntung Shirabu tidak tinggal sendiri; Iwaizumi berterima kasih sepenuh hati pada dua pawang mantan setter Shiratorizawa itu yang berhasil menenangkannya kembali.
"Aku marah karena aku peduli, Akaashi! Dia ngotot latihan sampai tengah malam—tengah malam! Kalau aku jadi nginap di tempatnya Makki, mungkin dia bakal latihan sampai pagi!" jelas Iwaizumi, terlalu emosi. Ada teriakan Bokuto, memanggil nama Akaashi dari seberang panggilan. Akaashi membalasnya kalem, mengatakan ia sedang berbicara dengan Iwaizumi dan, "Tolong jangan ganggu sampai kami selesai bicara, Bokuto-san. Oh, ada spongecake di kulkas, makan saja semuanya kalau masih lapar—"
Puja Akaashi dan kemampuannya mengatasi moodswing Bokuto Koutarou.
"—Iwaizumi-san, kau masih di sana?"
Iwaizumi tersentak. "Ah, ya. Maaf, melamun sebentar."
"Tidak apa-apa; aku juga minta maaf membuat menunggu, Bokuto-san protes karena, kukutip, 'Akaashi, jangan cuekin aku begini!', kutipan selesai," terucap dengan nada datar. Iwaizumi bersimpati. Mengurus makhluk kelebihan gizi seperti Bokuto dan Oikawa memang perlu kesabaran ekstra. Akaashi batuk-batuk sebentar. "Jadi, soal Oikawa-san. Di rumah Yahaba-san juga tidak ada?"
"Akaashi. Semua anggota grup chat buatan alien satu itu udah kukunjungi." Jeda. Iwaizumi garuk-garuk pipi, kaku. "Er, kecuali Shirabu sama Semi. Aku cuma nelpon mereka karena enggak tahu alamatnya, dan yah…"
"Iwaizumi-san. Kamu nelpon Shirabu-kun jam tujuh pagi. Menjelang musim dingin."
"…karena sebelumnya enggak ada seorang pun yang ngasih tahu dia itu beruang berkedok angsa, Akaashi. Aku kapok."
Ada helaan napas panjang. "Sudah coba ke tempatnya Kuroo-san?"
Iwaizumi berkedip cepat. "Yang satu itu terlewat. Saking jarangnya dia muncul ke permukaan, aku sampai lupa."
(satu topik tentang seorang mantan setter lain tidak terucap. Iwaizumi tidak ingin menyinggung topik tabu satu itu, dan ia yakin Akaashi juga begitu)
"Selamat melanjutkan pencarian, kalau begitu. Semoga berhasil, Iwaizumi-san."
"Ya, ya. Thanks, Akaashi. Sampai ketemu lagi."
"Sampai nanti, Iwaizumi-san."
Dan panggilan berakhir. Iwaizumi mendesah panjang, menatap jadwal kereta yang akan menuju Tokyo dengan tatapan frustasi. "Harus nunggu dua jam, ya…"
Iwaizumi Hajime, duapuluh enam tahun, merasa amat sangat lelah.
.
.
[to be continued]
* dikutip dari mbah Wikipedia, artikel Doppelganger. (ovo)/
Pojok bacotan arwah gentayangan:
/sembahsujud Maaf, maaf update-annya pendek begini. Saya keasyikan ngasup KawaSemiShira di AO3 orz Dan sekarang nambah Numai/Kuguri ama Bobata/Kuribayashi orz Rare Pair Hell-nya Haikyuu itu mengerikan /headdesk. Oke, curcolannya cukup segini. Makasih bagi yang udah nungguin, komentar selalu membuat hari lebih ceria~
