A Touken Ranbu Fanfiction
Pairing: Touken Danshi x OC Saniwa
Disclaimer: I just own the plot and the OC, Touken Ranbu belongs to DMM/Nitro+
Kumpulan short fic, prekuel sekaligus sekuel dari "Tubuh Penuh Luka"
Part 3
Kasen Kanesada - Sweets and Warmth
.
[Kalau saja ia cukup berani untuk menyampaikan tulus hangat perasaannya.
Akankah ia bisa menahan kepergiannya?]
.
Kasen Kanesada - pedang dengan nama yang mewakili tiga puluh enam penyair terbaik dari zaman Heian, Nara, dan Asuka - kini tengah sibuk bergelut di dapur honmaru. Menumbuk nasi untuk mochi, memasak adonan anko(1). Memenuhi seisi ruangan dengan uap dan aroma manis yang dapat membuat siapa pun tergiur. Pria berambut violet tersebut berharap masakannnya dapat sedikit mencerahkan suasana honmaru yang terus muram akhir-akhir ini.
Setiap gerakan tangan Kasen terlihat begitu terampil nan elegan. Keluwesannya tak juga berkurang walau kemudian refleks mengambil alih kesadaran sementara pikirannya terbawa ke masa lalu. Saat dimana gadis itu selalu berada di sisinya.
.
Angin hangat berhembus menerbangkan kelopak bunga sakura yang bermekaran. Kala itu pun, pedang peninggalan Hosokawa Tadaoki itu tengah sibuk berkutat dengan adonan mochi ketika merasakan seseorang menarik pelan lengan kosode-nya(2).
'Kasen-san, sedang membuat apa?' tulis sang gadis mungil.
"Ah, Aruji," senyum Kasen terkembang ketika menyadari siapa yang kini berada di sampingnya. "Sejak kemarin Jiroutachi ribut mengajak semuanya untuk hanami, jadi sekarang aku sibuk menyiapkan dango untuk malam nanti"
Gadis itu bergeming beberapa saat sambil memperhatikan pekerjaan tangan sang uchigatana sebelum akhirnya kembali menuliskan, 'Boleh aku disini melihatmu memasak?'
"Tentu saja," sang saniwa membalas senyuman Kasen sebelum kemudian duduk di sudut dapur dan mengamatinya memasak. Mata kanannya yang tidak tertutupi perban terus memperhatikan setiap gerakan sang pria dengan sunguuh-sungguh, seakan berusaha mengabadikannya dalam ingatan.
Bukan hanya saat itu, bila pekerjaannya sedang tak menumpuk, tak jarang sang saniwa menghampiri Kasen di dapur hanya untuk sekedar menanyakan apa yang sedang ia buat kala itu. Menghantarkan hangat walau hanya dengan keberadaannya.
.
Tangan sang Nosada terhenti. Ia beralih memandang ke seisi dapur. Setengah berharap gadis itu akan berdiri di salah satu sudut ruangan dan tersenyum padanya. Namun hanya sepi yang hadir menyapa. Menghela napas, Kasen kembali melanjutkan pekerjaannya kendati kini ada hampa yang terasa begitu dingin menusuk.
"Wah, botamochi!(3)" seru Midare antusias saat salah satu saudaranya membawakan hasil karya Kasen untuk dimakan bersama.
"Botamochi, botamochi!" seru yang lainnya seraya melahap manis mochi-anko dengan riang.
Sementara itu sudut lain, sang koki justru memperhatikan para tantou yang bersemangat dengan tatapan sendu. Padahal ia berinisiatif membuatkan mochi untuk mencerahkan yang terus berguram, namun ia sendiri tak bisa menahan muram kali keping kenangan kembali timbul dari dasar ingatannya.
.
Gadis itu bergeming. Mata kanannya membulat besar seakan tak percaya dengan kuantitas dan macam hidangan di depannya.
'Ini semua untukku?' tulisnya kemudian setelah beberapa saat terpaku.
"Hai' khusus kubuatkan untuk Aruji" Sang pria terkekeh pelan, "Terlalu banyak ya?"
Kala itu belum genap dua puluh empat jam Kasen datang ke honmaru. Tak ingin kalah dengan toudan lainnya sudah lebih dulu dekat dengan sang saniwa, pria beriris biru segera membuatkan banyak makanan khusus untuk tuan barunya. Selain juga karena ia prihatin dengan kesehatan saniwa-nya yang tampak begitu kurus.
Tanpa kata, gadis itu mulai mengangkat sumpitnya dan menyantap suapan pertamanya. Kedua. Ketiga. Tak juga ada reaksi.
Hening yang datang membuat Kasen merasakan tegang. Ia memang percaya diri dengan rasa masakannya, tapi kalau tidak sesuai dengan selera tuannya maka tidak akan ada artinya. Risau itu kemudian seketika berubah panik saat sang Aruji mulai terisak dan menangis diantara suapannya.
"A- Aruji?! Apa masakanku tidak enak? Kalau ada yang Anda tidak sukai, jangan dipaksakan..."gugup membuat suara sang uchigatana terdengar begitu memohon.
Gadis itu menggeleng. Perlahan ia meraih alat tulisnya dan mulai menuliskan, 'Makanannya sangat enak kok'
'Arigatou'
'Hontouni, arigatou(4)'
.
Kala itu, Kasen tidak pernah paham arti dari air mata sang saniwa, pun cara untuk menenangkannya. Ia selalu ingin menanyakan alasannya, tapi rikuh menahannya untuk maju. Ia hanya sebuah pedang, sesosok tsukumogami(5) yang bergantung pada kekuatan sang Aruji. Rasanya tak pantas bila ia menanyakan hal yang personal pada tuannya. Karenanya, ia memutuskan untuk bergeming.
Baru setelah sosoknya menghilang, pria itu mengetahui semuanya. Bahwa di luar sana tak pernah ada orang yang menginginkan keberadaan gadis itu, apalagi melimpahkannya dengan perhatian. Sebab itulah gadis itu menangis. Karena kata tak lagi cukup menahan luapan cita yang tidak pernah dirasa. Ironinya, semua informasi itu takkan ada gunanya bila yang bersangkutan sudah tak ada lagi untuk ia hapuskan air matanya.
Kasen mengalihkan pandangannya pada langit kelabu yang perlahan membeku. Gadis itu telah memberinya suam pada dingin bilah bajanya, namun pergi dengan meninggalkan kosong yang mencekik.
Kalau saja tak ada sungkan yang menghalangi. Kalau saja ia cukup berani untuk menyampaikan tulus hangat perasaannya dan menanyakan seluruh risau yang tergambar pada wajah gadis itu. Akankah ia bisa menahan kepergiannya?
-Part 2: fin-
a.n:
Special thanks for kiiromaru~
Makasih banyak buat reviewnya. Berhubung aku paling males buat buka-buka EYD, reviewmu sangat-sangat membantu^^
Untuk masa lalu saniwa dan penyerangan di honmaru, silakan baca main story-nya, "Tubuh Penuh Luka", karena sebenernya kumpulan fic ini semacam sekuel+flashback dari beberapa toudan tentang saniwa mereka.
Ditunggu review berikutnya =3
(1)Pasta kacang merah manis.
(2)Atasan tradisional jepang, biasa dipakai dengan hakama.
(3)Sering juga disebut ohagi. Jenis mochi dengan pasta kacang merah di bagian luar dan mochi di bagian dalam.
(4)Terima kasih banyak.
(5)Roh/spirit yang berasal dari benda-benda kuno berumur ratusan tahun.
