Between You
Shiroi Kage's Project
.
.
.
Teen
Between You © Shiroi Kage
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
PART II
Setelah lulus sekolah dasar. Naruto pikir dia tidak akan bertemu dengan dua orang itu lagi. Karena Naruto memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Konoha. Dia tidak bisa terus berada di Otto. Biaya sewa apartemen disana terlalu mahal. Belum lagi kondisi kesehatan ayahnya yang semakin memburuk. Karena itulah Naruto memutuskan untuk kembali ke Konoha. Dia tidak tega jika harus melihat ayahnya tinggal sendiri di rumah, siapa yang akan merawatnya nanti. Ayah dan ibunya sudah bercerai sejak Naruto kecil, jadilah dia semasa sd mengikuti ibunya yang tinggal di Otto, sedangkan ayahnya tinggal sendiri di Konoha.
Tapi siapa sangka benang takdir ternyata sudah terjalin diantara mereka bertiga. Berawal dari rasa penasarannya saat melihat banyak siswa berkemurun di depan kelas. Akhirnya apa yang diharapkannya tidak terkabul. Melihat dua anak berbeda warna rambut itu berdiri saling memunggungi. Aura permusuhan sejak mereka sekolah dasar hingga sekarang masih bisa dengan jelas Naruto rasakan. Membuat urat kesabarannya terasa diuji ketahannannya.
Baiklah. Pura-pura tidak melihat saja. Aku tidak mengenal mereka. Naruto mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Kyaa, Sasuke-kun tampan sekali."
"Gaara berapa umurmu, kyaa imut sekali."
Naruto hampir mengeluarkan lagi sarapan paginya, mendengar banyak perempuan yang mengelu-elukan si anak ayam –Sasuke. Kalau Gaara sih memang sejak awal dia memiliki wajah baby face jadi Naruto tidak terlalu mempermasalahkannya. Tapi Sasuke, tampan. Dari segi mananya. Model rambutnya saja aneh begitu, seperti pantat ayam.
Tapi tetap saja, Naruto juga tidak terlalu suka jika harus berdekatan dengan mereka berdua. Mereka selalu membuat Naruto pusing. Setiap bertemu tidak pernah akur. Belum lagi fans club mereka yang sering meneror Naruto karena terlalu dekat dengan dua bintang sekolah itu. Hell no, siapa juga yang mau dekat-dekat dengan mereka. Salahkan saja mereka yang selalu mengekori Naruto seperti Naruto itu induknya. Dasar.
"Dobe / nee-san !"
Oh my, selamat tinggal masa smpku yang berharga. Jerit Naruto tidak terima. Naruto menoleh dengan gerakan kaku. Apa kalian belum puas menghancurkan masa sd ku. Ingin sekali Naruto mengumpat saat ini. Tapi melihat wajah datar mereka, entah kemana perginya semua umpatan itu.
"Kamu / kau duduk dimana ?"
Naruto hanya bisa nyengir kuda saat semua siswi disana menatap tajam kearahnya. Apa mereka tidak melihat kalau dua anak itu yang sedang mengganggunya. Kenapa hanya Naruto yang diberi tatapan tajam seperti itu. Apa salahnya.
"Maaf kalian salah orang. Aku pergi dulu !"
Sret
Sasuke langsung menarik kerah baju Naruto. Membuat pergerakan Naruto terhenti. Akhirnya dia hanya pasrah saat Sasuke menyeretnya masuk kedalam kelas.
"Mana tasmu ?"
Naruto tidak menjawab. Dia masih mengerucutkan bibirnya, kesal dengan sifat kasar Sasuke yang tidak pernah berubah. Dia ini perempuan kalau Sasuke lupa.
"Naruto-nee aku duduk disini ya !"
Suara Gaara membuat Naruto mengalihkan pandangannya kearah Gaara. Ah, Gaara sudah menemukan tasnya ternyata. Seolah melupakan rasa kesalnya –pada Sasuke Naruto langsung berlari kearah Gaara. Lalu duduk disampingnya. Jika harus memilih dia lebih suka duduk dengan Gaara daripada Sasuke. Gaara lebih penurut dan tidak egois tentunya. Satu lagi, Gaara itu masih adik kesayangannya.
"Apa Gaa-chan sudah sarapan ?"
Gaara mengangguk. Dia mulai mengeluarkan buku catatannya. Naruto mengacak pucuk kepala Gaara gemas. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
"Jadi itu benar tas nee-san ?"
Tanya Gaara sambil melirik tas berwarna orange dengan gambar rubah berekor sembilan di depannya. Padahal awalnya dia hanya asal menebak. Karena seingatnya Naruto sangat terobsesi pada gambar rubah jadi dia pikir ini pasti tas Naruto. Ternyata benar.
"Hehe iya."
Selera Naruto memang tidak pernah berubah.
.
.
.
Sret
"Minggir."
Seorang siswa bersurai hitam berbentuk mangkok –Lee terkejut saat seseorang baru saja mengusirnya.
"Kenapa aku harus minggir ? ini tempat dudukku."
Tanya siswa itu dengan nada kesal pada si pengusir –Sasuke.
"Aku bilang minggir."
Lee langsung bergegas pergi saat merasakan hawa membunuh dari Sasuke. Akhirnya Sasuke bisa duduk bersebelahan dengan Naruto. Dan Naruto kembali duduk di tengah-tengah mereka. Poor Naruto.
"Kenapa kau mengusir Lee ? Dasar teme tidak sopan !"
Naruto yang baru sadar Sasuke sudah duduk di sebelah kanannya langsung emosi dibuatnya.
"Hn."
Sasuke hanya bergumam tidak jelas. Mengacuhkan Naruto yang masih mengomel disampingnya.
.
.
.
Naruto tahu cepat atau lambat ini akan terjadi. Saat dimana dia diseret ke belakang sekolah. Disudutkan di tembok. Memandang wajah angkuh cewek-cewek yang mengaku sebagai fans dari Sasuke atau mungkin fans Gaara. Sudah cukup masa sekolah dasarnya yang seperti itu. Harusnya dimasa smp ini dia bisa menikmati masa sekolahnya. Merawat ayahnya yang sedang sakit. Selesai. Sayang harapannya itu hanya tinggal harapan. Salahkan dua anak beda ayah beda ibu yang tidak tahu kenapa bisa satu sekolah dengannya. Menyebalkan.
"Enaknya kita apain ya?"
.
.
.
Naruto berjalan gontai menuju kamar mandi. Bajunya basah karena siraman air bekas mencuci piring. Bau menyengat di bajunya membuat Naruto mual. Pipinya memerah akibat tamparan halus –keras dari si ketua genk yang mengaku bernama Sakura. Lain kali Naruto pasti akan membalasnya. Lihat saja nanti.
"Apa salahku ?"
Bisik Naruto sambil menteskan air matanya.
Sret
Naruto terdiam. Dia menoleh kesamping. Dia melihat Sasuke yang sudah berdiri disampingnya sambil meletakkan handuk di kepalanya.
"Kau bau."
Naruto tertawa garing mendengarnya.
"Kau pikir ini gara-gara siapa ?"
Balas Naruto tidak terima.
"Si panda merah itu mungkin."
Sahut Sasuke acuh. Dia lalu menuntun Naruto untuk berganti baju di kamar mandi sekolah. Sesekali dia menatap tajam siswi yang kebetulan melewatinya. Juga pada mereka yang memandang remeh kearah Naruto. Ini sudah kelewatan.
"Pakai itu. Bajunya terlalu besar. Tidak muat untukku."
Naruto tidak menyahut. Dia hanya menerima kantong yang diberikan Sasuke dan masuk kedalam bilik toilet. Sedangkan Sasuke berjaga di depan.
.
.
.
Didalam toilet Naruto tersenyum, melihat bandrol harga masih terpasang di bungkus plastik seragam yang diberikan Sasuke. Didalamnya dia juga ada sabun mandi lengkap dengan shampo dan conditionernya.
"Dia sedang mengejekku !"
Gumam Naruto sambil membuka kancing baju seragamnya dan bergegas membersihkan diri.
.
.
.
Sasuke masih berjaga di depan. Bel masuk sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Tapi Naruto tidak juga keluar. Apa mungkin dia pingsan di dalam. Saat akan mengetuk pintu, Sasuke melihat seseorang yang sangat di kenalnya.
"Aniki !"
Seseorang yang dipanggil Sasuke menoleh. Laki-laki dewasa itu awalnya kaget melihat Sasuke, tapi akhinya dia berjalan mendekat kearah Sasuke.
"Kenapa kamu masih ada disini?"
Itachi –nama Aniki Sasuke melirik tanda di dinding toilet. Toilet perempuan.
"Sedang apa kamu di depan kamar mandi perempuan?"
Sasuke hanya ber hn ria. Tidak berniat untuk menjawab.
"Apa hari ini kau bertugas disini?"
Itachi memgangguk.
"Gaara-sama akan menjadi tanggung jawabku selama dia bersekolah disini. Lagi pula kamu kan tahu, yang diincar mereka itu Gaara-sama. Dia anak yang spesial."
Sasuke mengangguk mengerti. Walaupun dia tidak suka mendengar Itachi terlalu memuji Gaara. Tapi memang dia akui, Gaara itu berbeda dari anak seusianya. Pikirannya terlalu dewasa dan otaknya juga terlalu encer. Walaupun dia suka berpura-pura polos di depan orang lain –termasuk Naruto.
"Pasti banyak yang mengincarnya. Kudengar Yakuza di bagian barat bahkan pernah hampir menculiknya. Apa anggota tubuhnya masih lengkap?"
Itachi menghela nafas. Yah dia ingat kejadian itu. Kazekage-sama marah besar saat tahu Gaara diculik. Bahkan seluruh anak buahnya harus bekerja lembur untuk menemukan Gaara. Beruntung Gaara ditemukan dalam kondisi baik-baik saja –walaupun ada bekas sayatan di bagian pinggangnya. Telat sedikit saja, Itachi yakin ginjal Gaara pasti akan berkurang satu.
"Begitulah, dia masih terlalu kecil untuk mengerti masalah orang dewasa seperti kelompok Yakuza itu."
Sasuke diam. Sebenarnya dia prihatin pada Gaara. Dia lahir di keluarga yang tidak tepat. Terlalu banyak yang mengincarnya. Terlebih saat mereka tahu bahwa Gaara 'berbeda' dari anak seusianya. Katakan saja di jenius. Tentu dengan fakta itu organ tubuhnya akan semakin mahal jika dijual di pasar gelap.
"Untungnya Gaara-sama bukan penerus, setidaknya dia tidak harus di isolasi seperti Temari-sama."
.
.
.
Dari balik pintu toilet. Naruto mendengar semuanya. Jujur dia kaget. Dia baru tahu kalau Itachi bekerja pada keluarga Gaara –padahal Gaara sudah pernah mengatakannya. Juga dia baru tahu kalau Gaara pernah hampir di culik, oleh Yakuza. Astaga, malang sekali adik kecilnya itu. Tapi apa maksudnya penerus dan isolasi. Memangnya di keluarga Gaara ada yang seperti itu. Sepertinya Sasuke tahu banyak tentang Gaara. Padahal dia yang kenal dengan Gaara lebih dulu. Tidak adil.
.
.
.
"Sudah selesai ?"
Tanya Sasuke saat melihat Naruto keluar dari kamar mandi. Naruto hanya mengangguk ringan lalu berjalan mendahului Sasuke.
"Kau kenapa ?"
Tidak ada sahutan. Naruto masih berjalan mendahuluinya. Pikiranya melayang kemana-mana.
Ucapan terakhir Itachi membuat Naruto cemas. Sebenarnya keluarga Gaara itu keluarga seperti apa. Kenapa ada penerus dan kenapa harus ada yang di isolasi. Dan kenapa Gaara harus berurusan dengan Yakuza. Apa mungkin keluarga Gaara adalah keluarga Yakuza. Kepala Naruto berdenyut ngilu memikirkannya.
.
.
.
Beruntung Kakashi-sensei tidak masuk hari ini. Jadi mereka tidak perlu mendapatkan hukuman karena datang terlambat.
"Naruto-nee dari mana saja ?"
Tanya Gaara saat Naruto akan duduk dibangkunya. Naruto melirik Gaara dari ekor matanya. Keluaga Yakuza. Tidak mungkin. Gaara tidak mungkin berasal dari keluarga seperti itu. Wajahnya sama sekali tidak mendukung.
Sret
Mendadak Naruto menggeser kursinya mendekat kearah Gaara. Lalu dia membisikkan sesuatu di telinga Gaara.
"Uhm, mungkin saja. Kata Itachi-nii aku koma selama dua hari sejak kejadian itu. Aku juga tidak mengingat apapun."
Oh, pantas dulu Gaara pernah tidak masuk selama seminggu. Jadi karena itu. Naruto akan bertanya lagi, namun seseorang sudah lebih dulu menarik satu kepangan rambutnya.
"Hyaaa lepaskan !"
Pekik Naruto heboh. Seluruh siswa di kelas tertawa mendengar suara cempreng Naruto. Sedangkan Sasuke yang menjadi pelaku penarikan hanya memberikan dead glare gratisan pada Gaara –yang sama sekali tidak mengiraukan keberadaannya.
"Duduk di tempatmu sendiri ! Dobe."
Ucap Sasuke tanpa merasa bersalah. Dia sendiri kini sudah berjalan menuju bangkunya. Mengabaikan tatapan kesal Naruto yang ditujukan untuknya.
.
.
.
Sepulang sekolah Naruto berjalan pulang bersama dengan Sasuke dan Gaara. Sepanjang perjalanan, banyak siswi yang menatap tajam kearahnya. Ditambah lagi saat Gaara yang sekarang menggandeng tangan kanannya dan Sasuke menggandeng tangan kirinya. Hah mereka sama sekali tidak kasihan padaku. Batin Naruto miris.
"Gaara-sama."
Tiba-tiba langkah mereka terhenti saat Itachi datang menghampiri Gaara. Wajahnya terlihat panik.
"Ada apa ?"
Suara Gaara berubah dingin. Naruto kaget mendengar nada bicara Gaara yang tidak seperti biasanya. Perasaannya mendadak tidak enak.
"Kita pulang sekarang."
Gaara langsung pergi begitu saja. Naruto tidak tahu apa yang dikatakan Itachi, tapi yang jelas itu bukanlah sesuatu yang baik. Naruto memandang khawatir kepergian Gaara yang tidak mengatakan apapun padanya.
"Gaa-chan tunggu."
Sasuke menahan Naruto yang akan mengejar Gaara.
"Lepaskan aku."
Sasuke tidak bergeming. Saat mobil yang membawa Gaara pergi, barulah Sasuke melepaskan cengkramannya di tangan Naruto.
"Kau pasti tahu sesuatu. Apa yang terjadi sebenarnya ?"
Sasuke tidak menyahut. Mengingat ekspresi Itachi tadi dan banyaknya bodyguard yang menjemput Gaara sudah pasti terjadi sesuatu di kediaman utama. Sebentar lagi rumahnya akan menjadi tempat pengungsian sementara si bungsu Sabaku. Sasuke yakin itu.
"Jangan terlibat. Pura-pura saja tidak tahu."
Jawaban Sasuke semakin membuat kepala Naruto berdenyut sakit. Apa yang mereka sembunyikan sebenarnya.
.
.
.
Tbc
Ehem. Tes tes Shi desu.
Hello reader-tachi-san -?- genki desu ka?
Haha, gomen Shi sempet hiatus dan menelantarkan fict di akun ini. Sekali lagi Shi minta maaf, karena yah kesibukan di dunia nyata terlalu padat akhir-akhir ini, belum lagi sekarang Shi lagi pengabdian untuk ngajar di sd. Seru deh, main sama mereka. Padahal awalnya Shi gak suka anak kecil. Huh kenapa malah curhat. Oke sekarang sesi membalas review :
Vira-hime : iya chap kemaren itu masih tbc kok, ini kelanjutannya. Makasih udah review Vira-san.
Shafira aggraini120398 : uhm coba Shi tebak, Shafira-san angkatan 98 line ya ? lahir tanggal 3 Desember ya ? #sokTahuAliasModus hehe. Capslocknya jebol tuh, khekhe ini sudah lanjut. Makasih udah review Shafira-san.
Miyuki nishikino : Wah Yuki-san review lagi #Hug khekhe Shi juga seneng lihat Naru direbutin dua anak bertampang triplek #plak. Kalau menjamin semakin bagus Shi gak janji, soalnya cerita ini alurnya cepat, jadi maaf kalau kurang bisa dapat feelnya. Cuma kejadian penting aja yang bakal Shi ceritain. Soalnya kalau mau dibikin alur lambat takut gak sempet waktu ngerjainnya, eh malah discontinue ntar #Alesan. Btw, makasih ya udah mau review Yuki-san.
TikaChanpm : hahaha masih kawai Shi kok #plak. Becanda. Ya, jelas imutan Gaara dari mana-mana juga. Hehe. Makasih udah mau review Tika-san. Ditunggu ya kelanjutan ceritanya.
Nakamoto Yuu Na : seneng deh bisa bikin Yuu-san senyum-senyum sendiri ngebayangin cerita Shi. Yups, ada kok penjelasannya di deksripsi cerita. Jadi Naruto itu emang satu tahun lebih tua dari semua anak di kelasnya. Sedikit bocoran nih, cerita ini sudah Shi selesai in sampai tamat. Dan akan ada lima chapter. Mungkin akan ada sequel jika ada yang request –tapi gak janji tepat waktu. Btw, makasih udah review Yuu-san.
Guest : iya, Naru itu satu tahu lebih tua dari seluruh anak kelas. Ada kok deskripsinya kalau Shi gak salah inget. Guest-san benar bange, cerita ini emang alurnya cepat, jadi emang adegannya banyak di skip per jenjang pendidikan, karena masak mau bikin adegan romance pas mereka masih sd, agaknya uhm gimana gitu ya khekhe #EvilLaugh. Dan sedikit bocoran, akhirnya Naruto bakal nikah dengan salah satu dari mereka berdua. Siapa dia ? haha rahasia. Btw makasih udah mau review Guest-san.
Nina : kyaaaa, makasih atas pujiannya. Shi emang ucu kok #plak. Hehe, ini sudah lanjut. Makasih sudah review Nina-san.
Big Thanks for :
Vira-hime, Miyu-Haruno, Harun0 Laily, kuraublackpearl, Shafira anggraini120398, kadek chan, MeyMeow, kasihgwnama, Vlarensa, kutoka Mekuto, Nakamoto Yuu, , Nina, Guest, TikaChanpm, Nakamoto Yuu Na, Miyuki nishikino.
Maaf jika ada salah menulisan nama akun. Maaf juga jika belum sempet kebalas. mungkin di chap depan, karena ini Shi minjem laptop temen. hehehe
With love,
(-_-)!
Grandpagyu
