Between You

Shiroi Kage's Project

.

.

.

Teen

Naruto tetap milik Kishimoto-sensei

Btw. Mungkin setelah baca ini hampir ada mirip sama cerita 'reply' jadi Shi minta maaf, karena Shi juga baru sadar pas baca ulang cerita ini. Tapi ide cerita ini asli dari otak pas-pasan saya kok. hehe .

.

.

.

PART III

Sudah hampir sepuluh tahun Naruto tidak lagi bertemu dengan Gaara. Setelah kejadian itu, banyak orang berwajah seram datang menemuinya. Bertanya apakah dia tahu dimana Gaara sekarang atau tidak. Tentu saja Naruto menjawab tidak, dia memang tidak lagi berkomunikasi dengan Gaara sejak saat itu. Setelah itu, mereka pergi begitu saja, namun kadang Naruto juga pernah hampir dikeroyok oleh mereka jika saja Sasuke tidak datang tepat waktu. Semakin sering mereka datang menemuinya, semakin Naruto cemas dengan keadaan Gaara. Apa hubungan Gaara dengan mereka sebenarnya. Naruto sama sekali tidak mengerti. Apa Gaara melakukan sesuatu yang membuat mereka marah. Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah siapa Gaara sebenarnya.

Pluk

Naruto meringis saat seseorang menyentil dahinya. Dia melirik tajam kearah Sasuke yang memasang wajah tanpa dosa miliknya. Dia juga dengan santainya mencomot kentang goreng Naruto, padahal itu adalah kentang goreng terakhirnya.

"Kau kasar sekali, aku ini cewek kalau kau lupa !"

Sasuke tidak langsung menyahut. Setelah dia duduk dihadapan Naruto, barulah dia melihat penampilan Naruto dari atas kebawah. Rambut pendek. Cek. Wajah kusam tanpa make up. Cek. Baju kelonggaran. Cek. Celana training. Cek. Sepatu bulukan. Cek. Oke, dari segi mana Naruto bisa dikatakan cewek.

"Kupikir cowok."

Wajah Naruto memerah mendengarnya. Bukan karena malu. Tapi marah. Cewek mana yang sudi dianggap cowok oleh teman cowoknya sendiri. Padahal sudah jelas dia cewek dari dia dilahirkan. Bahkan di akte kelahiran Naruto jenis kelaminnya masih belum berubah. Masih tetap perempuan. Abaikan.

"Aku ini cewek !"

Sasuke menyeringai mesum kearahnya. Dia memandang dada Naruto yang terlihat rata akibat baju kelonggaran yang dia kenakan.

"Buktinya ?"

Naruto berpikir. Dia masih tidak sadar seringai mesum di wajah Sasuke.

"Buktinya aku punya pa -"

Naruto menutup mulutnya. Dia melirik kesekeliling. Fuh, untung tidak ada yang mendengarnya.

"Aku yakin ukurannya kurang dari 30."

Hening.

Pletak.

"Sasuke ecchi !"

.

.

.

Hari ini Naruto akan mengunjungi makam orang tuanya. Mengingat ini adalah hari peringatan kematian mereka. Ayahnya akhirnya menyusul ibunya saat Naruto duduk di kelas tiga smp. Meninggalkan Naruto sendiri. Sebatang kara. Huh, apa itu terdengar menyedihkan. Semoga saja tidak.

Naruto berdiri di depan gundukan tanah yang bertuliskan nama keluarganya. Namikaze.

"Tou-san, Kaa-san. Naru datang, apa kalian bisa melihat Naru dari sana? Apa Naru sudah menjadi anak yang membanggakan?"

Naruto terdiam. Tidak tahu kenapa, tapi dadanya berdenyut nyeri saat mengingat bahwa selama ini dia berhasil hidup tanpa kedua orang tuanya. Dia sudah dua kali merayakan kelulusannya tanpa ucapan selamat dari mereka. Dan sepertinya mereka juga tidak akan mengucapkan selamat saat dia wisuda nanti.

"Gaara belum datang. Padahal ini sudah sepuluh tahun. Kalian ingat Gaara kan ? Dia anak kecil yang aku ceritakan waktu itu. Kupikir dia satu-satunya keluarga yang aku punya, tapi dia juga pergi meninggalkanku. Huh, kalian memang suka melihatku menderita bersama si teme pantat ayam itu."

Naruto meneteskan air matanya. Tapi bibirnya tetap tersenyum –pedih. Menyedihkan.

"Apa dia baik-baik saja ?"

Tanya Naruto entah pada siapa.

Tes.

Naruto mendongak. Padahal tadi awan terlihat cerah. Kenapa tiba-tiba hujan. Naruto sama sekali tidak berniat untuk berlari mencari tempat berteduh. Dia masih memandang ribuan liquid air hujan yang jatuh membasahi wajahnya. Hingga pandangannya berubah gelap. Dia bisa mencium aroma maskulin yang entah kenapa terasa tidak asing untuknya.

"Harusnya Nee-san berteduh."

Naruto langsung menyingkirkan jas yang tadi menutupi kepalanya. Suara itu. Naruto menoleh kesamping. Dia –

Kedip.

Kedip.

Kedip.

Ini bukan mimpi kan. Dia ada di depannya. Rambut merahnya masih sama, kulitnya tetap putih seperti dulu, wajahnya datar seperti biasa. Hanya saja, sejak kapan dia mentato kening kirinya.

Bruk

Naruto langsung memeluk Gaara dan menangis sekencang mungkin. Sial. Sejak kapan juga Gaara lebih tinggi darinya. Bahkan Naruto tidak sampai seleher Gaara. Hanya mencapai pundak. Pertumbuhan laki-laki memang kadang diluar logikanya.

"Tadaima. Nee-san."

Gaara membalas pelukan Naruto.

"Hiks Gaa-chan jahat, kenapa dulu pergi tidak mengatakan apapun! Kenapa juga baru datang sekarang ?"

Suara Naruto teredan oleh suara hujan. Tapi Gaara masih jelas mendengarnya. Maaf.

"Aku bermimpi buruk sepuluh tahun ini. Aku pikir Gaa-chan benar-benar tidak akan kembali. Hiks. Padahal dulu sudah pernah kubilang, jangan membuatku cemas."

Gaara tersenyum. Dia menepuk pundak Naruto yang bergetar karena terlalu banyak menangis.

"Gomen. Aku terlambat."

Naruto segera melepaskan pelukannya. Dia memandang langsung kearah mata Gaara. Ya ampun, sejak kapan adik kecilnya tumbuh menjadi remaja tampan seperti ini. Dia bahkan lebih tampan dari Sasuke.

"Gaa-chan curang !"

Gaara mengerutkan kening. Apa lagi sekarang.

"Kenapa sekarang Gaa-chan lebih tinggi. Aku kan tiga tahun lebih tua."

Gaara terkekeh mendengar protesan Naruto. Gaara merendahkan tingginya. Sekarang bahkan dia lebih pendek dari pada Naruto. Karena memang sekarang Gaara sedang berjongkok di depan Naruto.

"Apa aku setinggi itu?"

Naruto tertawa melihat Gaara yang berjongkok di hadapannya. Naruto mengelus kepala Gaara seperti yang biasa dia lakukan saat mereka sd. Rambutnya masih saja halus, sama sekali tidak berubah.

"Adik kecilku yang manis, sudah besar ternyata."

Hening.

Tidak lama mereka tertawa bersama-sama. Dan ini adalah kali pertama Gaara tertawa selepas itu selama delapan belas tahun dia lahir kedunia.

.

.

.

Karena hujan semakin lebat, Gaara memutuskan untuk membawa Naruto ke kediamannya. Naruto sendiri hanya menurut saja. Toh Gaara tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak padanya kan.

"Nee-san mau minum apa ?"

Naruto menoleh.

"Uhm terserah. Kalau bisa yang hangat-hangat ya."

Pelayan yang berdiri di belakang Gaara mengangguk. Pelayan itupun berjalan menuju dapur.

Sementara Naruto masih sibuk melihat-lihat interior rumah Gaara yang lebih dari kata mewah. Naruto seperti berada di dalam kerajaan tertentu di masa lalu.

"Aku tidak tahu kamu sekaya ini."

Gaara terkekeh mendengar ucapan polos Naruto.

"Tidak juga. Rumah ini bukan milikku pribadi."

Naruto terkejut. Dia menoleh, menuntut penjelasan lebih.

"Ini rumah dinas. Rumahku ada di belakang bukit Konoha. Kapan-kapan aku akan mengajak nee-san kesana."

Naruto tidak menyahut. Dia tahu, Gaara masih akan melanjutkan penjelasannya.

"Setelah tou-san dan semua keluargaku tidak ada. Terpaksa aku harus menggantikan posisinya. Padahal aku bukan penerus."

Naruto mulai tertarik. Kata 'penerus' itu masih mengusiknya sampai sekarang.

"Penerus ? Memangnya keluargamu kemana ?"

Bodyguard yang berdiri di belakang Gaara terkejut dengan pertanyaan Naruto. Dia akan menyela, namun Gaara melarangnya.

"Awalnya Temari-nee yang akan menjadi penerus Tou-sama karena Temari-nee adalah anak tertua. Tapi mereka mungkin sudah ada di surga sekarang. Hah, mereka meninggalkanku sendiri."

Naruto bisa melihat dengan jelas mata Gaara berkaca-kaca. Naruto langsung berjalan menghampirinya dan membawa Gaara kepelukannya. Dia membiarkan kening Gaara yang menyender di pundaknya.

"Gaa-chan masih punya Nee-san. Gaa-chan tidak sendirian. Nee-chan disini."

Tes

Gaara menangis. Bahkan saat kematian seluruh keluarganya dia tidak menteskan air matanya. Dia hanya menatap kosong pada peti mati keluarganya. Bahkan hingga abu jenazah mereka dikuburkan Gaara masih tidak meteskan air matanya. Dia hanya diam tanpa mengatakan apapun. Yang justru karena kediaman Gaara itulah yang membuat para pelayan dan bodyguard yang mengantar kepergian keluarga Sabaku khawatir melihatnya.

"Hiks."

Gaara mencengkram baju Naruto. Dia menangis dipelukan Naruto. Sementara Naruto sibuk mengelus pundak Gaara dan sesekali menepuknya. Mencoba menenangkan.

Para pekerja disana kaget saat melihat tuan muda mereka menangis seperti itu. Apa mungkin selama ini dia menahan semuanya sendiri. Dan saat ada Naruto barulah dia bisa mengeluarkan semua emosinya.

Mungkin saja.

.

.

.

"Dia tidur."

Ujar Naruto saat seorang pelayan membawakan dua cangkir coklat panas untuk mereka. Pelayan itu hanya mengangguk. Dia lalu izin untuk kembali kebelakang. Diam-diam pelayan itu tersenyum. Senang melihat tuan mudanya akhirnya bisa tidur dengan nyenyak. Dia khawatir, semenjak kejadian itu tuan mudanya menjadi lebih pendiam. Dia juga sering tidak tidur semalaman karena bermimpi buruk. Sepulang dari kantor, dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya. Begitu terus setiap harinya.

Syukurlah sekarang tuan mudanya bisa lebih jujur pada dirinya sendiri.

.

.

.

"Uhm"

Gaara membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Naruto yang tertidur didepannya. Dengan gerakan perlahan, Gaara bergerak bangun. Dia mengamati wajah Naruto yang masih berpetualang di alam mimpi.

Gaara tersenyum. Karena terlalu lama menangis, Gaara sampai tidak sadar kalau dia tertidur di pangkuan Naruto. Tapi apa Naruto tidak pegal tidur dengan posisi duduk seperti itu. Belum lagi Gaara menggunakan pahanya sebagai pengganti bantal. Ah, itu adalah bantal ternyaman dari semua bantal yang ada di kamarnya.

Nyut

Gaara menekan pipi chubby Naruto. Bermaksud membangunkan. Bukannya bangun, justru Naruto mengingau di dalam mimpinya.

"Hehehe sejak kapan Gaa-chan berubah menjadi laki-laki setampan ini hm ?"

Gaara menutupi wajahnya dengan punggung tangan. Sial, kenapa dia bisa blushing hanya karena mendengar pujian dari Naruto.

"Jam berapa sekarang ?"

Tanya Gaara pada Itachi yang kebetulan lewat. Itachi memandang kearah Naruto yang sekarang menyandarkan kepalanya di pundak Gaara.

"Naruto ? Kenapa dia ada disini ?"

Mengabaikan pertanyaan Gaara, justru Itachi yang kini kembali bertanya. Gaara melirik kearah Naruto. Wajahnya berubah khawatir saat Naruto terus mengiau dalam tidurnya, bibirnya juga bergemelutuk seperti orang kedinginan. Saat Gaara menyentuh keningnya. Panas. Sepertinya Naruto terkena demam.

"Itachi-nii bisa tolong siapkan kamar untuk Naruto ? sepertinya dia demam."

.

.

.

Gaara membawa Naruto ke kamar tamu. Setelahnya dia meminta agar Chiyo-baa –kepala pelayan dirumahnya mengganti baju Naruto dengan piyama miliknya. Selesai mengganti baju. Gaara masuk kedalam kamar sambil membawa baskom dan handuk basah.

"Apa sekarang nee-san menyukai Sasuke ?"

Tanya Gaara sambil mengompres kening Naruto yang berkeringat dingin.

"Kalian cocok. Tapi dia terlalu kasar. Nee-san harus bersabar."

Gaara terus bermonolog. Sambil terus mengompres kening Naruto –untuk menurunkan demamnya.

"Apa selama ini nee-san tidak makan. Kenapa badan nee-san kurus kering begini."

Tanya Gaara sambil menyentuh pipi tirus Naruto.

.

.

.

Pagi harinya, Naruto harus terbangun karena suara dering panggilan masuk di ponselnya.

Klik

"Oh Sasuke ? ada apa ? oh, ne. aku baik-baik saja. Jaa."

Pip

Dia mematikan ponselnya dan akan menaruhkan di nakas sebelah kasur. Tapi tiba-tiba tangannya terhenti diudara.

Kosong.

Kemana nakas miliknya. Naruto langsung membuka matanya dan menjerit kaget saat dia terbangun di kamar asing yang tidak di kenalnya. Terlebih lagi, sejak kapan dia memakai piyama biru. Siapa yang mengganti bajunya. Astaga, jangan-jangan –

Sret.

Seseorang menarik tangan Naruto. Membuat Naruto menoleh kesamping. Rambut merah.

"Gaara ?"

Gaara yang merasa namanya dipanggil langsung mengangkat kepalanya.

"Uhm ohayou nee-san."

Jadi semalam itu bukan mimpi.

"Etto Gaa-chan apa kamu yang mengganti bajuku ?"

Gaara mengangguk polos sambil menggaruk matanya yang masih belum terbiasa dengan cahaya lampu. Sesekali dia menguap karena masih mengantuk. Naruto langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia mengganti bajuku. Oh tidak. Apa dia melihatnya. Huaa malunya.

"Nee-san kenapa?"

Naruto langsung menggeleng secepatnya. Sial. Wajahnya pasti semerah kepiting rebus sekarang.

"Apa masih sakit ?"

Gaara mendekatkan wajahnya. Lalu menyentuh kening Naruto. Sudah tidak panas.

"Kenapa wajah nee-san semerah itu ? Padahal sudah tidak panas."

Naruto menahan nafas. Astaga, sejak kapan dia bisa bereaksiseperti ini saat bersama Gaara. Memalukan, dia itu adikmu Naruto. Ingat itu.

"Benarkah ? Hahahaha."

Baru kali ini Naruto tahu, fake laugh ternyata berguna di saat seperti ini.

.

.

.

"Naruto."

Naruto menoleh.

"Itachi-nii ? Ada apa ?"

Itachi tidak menjawab, dia langsung membawa Naruto ikut bersamanya.

"Apa yang kau lakukan disini ?"

Naruto hanya mengangkat bahu.

"Aku kakaknya Gaa-chan, kenapa aku tidak boleh mampir ke rumah adikku ?"

Itachi mencengkram kedua bahu Naruto.

"Dengarkan aku. Jangan terlalu dekat dengan Gaara-sama. Mereka bisa saja mengincarmu juga !"

Naruto terdiam.

"Mereka siapa ?"

Itachi menghela nafas. Dia lalu pergi begitu saja. Tapi pergerakannya terenti saat Naruto sempat menahan tangannya.

"Ceritakan padaku. Sekarang."

.

.

.

Suasana rumah keluarga Sabaku terlihat mencekam. Banyak perabotan pecah berserakan dilantai. Suara tembakan dimana-mana, suara samurai yang bersinggungan dengan kulit juga jelas terdengar.

"Dimana anak itu ?"

Kazekage tidak menjawab. Dia masih membungkam mulutnya rapat-rapat. Sama sekali tidak bergeming saat ujung samurai itu mengiris kulit lehernya secara perlahan.

"Tidak mau buka suara ? Kau mau mati !"

Tetap tidak ada jawaban. Kau harus tetap hidup Gaara.

Splash

Darah segar mengalir dari leher Kazekage. Beberapa kali dia terbatuk, sebelum akhirnya malaikat pencabut nyawa selesai mencatatkan namanya di buku catatan kematian.

"Sial. Cepat temukan anak itu !"

Seru pemimpin kelompok itu setelah dia membunuh semua orang di kediaman Sabaku, tanpa terkecuali.

.

.

.

Naruto menutup mulutnya tidak percaya. Jadi itu alasan kenapa Gaara pergi begitu saja.

"Kenapa mereka semua setega itu ?"

Itachi tersenyum kecut.

"Mungkin karena Kazekage-sama adalah satu-satunya penghalang mereka di pemerintahan. Semua pejabat pemerintah banyak yang menutup mata atas kejahatan mereka. Hanya kazekage-sama yang berani menyelidiki organisasi mereka dan beberapa kali menggagalkan transaksi mereka."

Naruto mengangguk. Syukurlah dugaannya selama ini salah. Dia pikir keluarga Gaara adalah keluarga Yakuza yang berbahaya. Tapi justru sebaliknya. Naruto sempat merasa bodoh karena mencurigai Gaara selama ini.

"Setelah ini apa kau akan meninggalkannya."

Naruto memasang pose berpikir. Tidak lama dia tersenyum penuh arti.

"Hohoho aku tidak sepengecut itu tahu ! Mana mungkin aku meninggalkan adik kecil kesayanganku. Iyakan Gaa-chan ?"

Gaara yang tadinya bersembunyi di balok tembok kaget saat Naruto menyebut namanya. Sejak kapan Naruto tahu dia bersembunyi disini –menguping.

"Gaara-sama ?"

Bukan hanya Gaara yang kaget. Itachi tampaknya jauh lebih kaget lagi. Dia takut tuan mudanya akan marah karena menceritakan apa yang terjadi sepuluh tahun lalu.

"Tidak apa. Ada baiknya juga nee-san tahu yang sebenarnya."

Naruto hanya tersenyum lebar mendengarnya.

.

.

.

"Kemana saja ?"

Baru saja Naruto sampai di apartemennya, dia sudah di hadang oleh Sasuke yang entah sejak kapan berada di depan pintu apartemennya.

"Dari rumah Gaara."

Sahut Naruto enteng.

"Kau sudah bertemu si anak panda itu ?"

Tanya Sasuke tidak percaya.

Ceklek.

Sasuke juga ikut masuk kedalam apartemen Naruto. Menuntut penjelasan lebih detail.

"Begitulah. Dia semakin tinggi. Bahkan dia lebih tinggi dariku. Curang sekali. Kenapa kalian bisa tumbuh secepat itu."

Sasuke terkekeh mendengar gerutuan Naruto.

"Kau saja yang tidak tumbuh-tumbuh."

Naruto mencibir saat secara tidak langsung Sasuke mengejeknya pendek. Itu adalah kata terlarang di kamus hidup Naruto. Dia tidak pendek, hanya kurang tinggi saja –apa bedanya.

"Apa dia mengatakan sesuatu ?"

Naruto menghentikan aktivitasnya –memasukkan baju kedalam mesin cuci. Dia memandang bingung kearah Sasuke.

"Sesuatu ?"

Sasuke mendadak panik. Matanya bergerak gusar.

"Yah sesuatu seperti –"

Aku menyukaimu. Lanjut Sasuke dalam hati.

"Seperti ?"

Naruto berjalan mendekat. Matanya masih menatap curiga kearah Sasuke. Jangan bilang si pantat ayam ini sudah tahu semuanya. Dan hanya dia sendiri yang tidak tahu. Astaga.

"Seperti 'kau semakin jelek.' Atau 'lihat, aku bahkan tidak bisa membedakanmu dengan anak laki-laki seusiamu.'."

Switch

Perempatan imaginer muncul di kening Naruto.

"Bisakah kau tidak mengejekku sehari saja !"

Naruto menghentakka kakinya kesal. Lalu pergi meninggalkan Sasuke.

.

.

.

"Kau marah ?"

Tidak ada jawaban.

"Hei. Aku bicara padamu dobe !"

Tetap tidak ada jawaban.

Sigh

"Maaf. Aku salah."

Pft

Sasuke menoleh. Dia melihat Naruto sedang berusaha menahan tawanya. Apa dia pikir aku sedang bercanda.

"Jangan tertawa."

Bukannya berhenti, tawa Naruto justru semakin kencang. Bahkan sesekali dia memegangi perutnya yang terasa kram karena terlalu banyak tertawa.

"Haha baru kali ini aku mendengarmu meminta maaf."

Sasuke masih diam. Tapi Naruto tidak juga berhenti menertawakannya.

Sret

Tiba-tiba saja Sasuke mendekatkan wajahnya.

Hening.

Naruto tanpa sadar menahan nafasnya. Sasuke seperti akan menciumnya. Haha itu tidak mungkin kan.

"Apa aku mengganggu ?"

Sangat. Batin Sasuke kesal. Kenapa si panda merah itu datang di saat yang tidak tepat. Ah, Sasuke ingat memang sejak awal dia sudah menjadi rivalnya untuk mencari perhatian Naruto.

"Gaa-chan ? Ada apa ?"

Sial. Apa hanya Sasuke yang melihat bunga moe imaginer di sekeliling Naruto saat dia berlari kearah Gaara. Double sial.

"Hanya mampir. Kebetulan lewat."

Naruto mengangguk.

"Masuklah. Ah, apa kamu sudah makan ?"

Sudah. Bukankah kita sarapan bersama tadi.

"Belum."

Naruto yang tidak ingat kalau dia sudah sarapan bersama Gaara hanya mengangguk. Lalu berjalan menuju dapur.

"Aku akan membuat sarapan. Tidak terburu kan?"

Gaara menggeleng. Padahal memang sejak awal dia sudah berniat mengunjungi apartemen Naruto. Bahkan dia sengaja mengosongkan jadwalnya hari ini.

"Aku pergi."

Belum sempat Naruto mencegah. Sasuke sudah menghilang dari pandangannya.

"Dia itu kenapa sih?"

Gaara diam-diam tertawa melihat ekspresi cemburu Sasuke.

"Mungkin calon kakak ipar cemburu."

Naruto tertawa mendengarnya.

"Calon kakak ipar ? siapa ? Sasuke ? haha Becandamu tidak lucu."

Gaara kaget melihat reaksi Naruto. Jadi selama ini –

"Lalu kenapa nee-san tertawa ?"

Naruto membawa dua piring nasi goreng kemeja makan.

"Apa sekarang kamu sedang melarang nee-san tertawa ?"

Gaara tidak langsung menyahut. Dia berjalan menghampiri Naruto dan duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi yang ditempati Naruto.

"Apa terlihat seperti itu ?"

Naruto memberikan satu piring nasi goreng pada Gaara.

"Terdengarnya seperti itu."

Lalu mereka tertawa bersama. Menertawakan pembicaraan absurd mereka yang tidak jelas topik dan tujuannya.

.

.

.

Tbc

btw. Maaf, Shi belum sempet balas review, tapi Shi baca semua review yang masuk kok, Shi seneng banget bacanya, bikin semangat lagi, kalian terbaik.

Ini Shi upload disela-sela ngerjain tugas hehe, mumpung ada koneksi khekhekhe. Oya, cuma mau bilang aja, adegan bully disini gak akan ditindak lanjut, soalnya itu untuk nunjukkin aja kalau si teme-pantat-ayam-Sasuke itu peduli sama si Naru-chan. Walaupun pedulinya itu versi pedulinya tsundere. kira-kira dapat feel tsunderenya gk ?

Oya makasih buat kalian yang udah mendukung fict ini. Yang udah review, fav, dan follow. Shi gak nyangka akan dapat sambutan baik seperti ini jadi terharu T.T hehe

see you 2 last chapter !