Between You
Shiroi kage's Project
.
.
.
Teen
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
PART IV
Semenjak kunjungan pertamanya. Gaara menjadi rutin mampir ke apartemen Naruto setiap akhir pekan. Naruto sendiri tidak keberatan, malah senang karena bisa mencubit pipi Gaara setiap akhir pekan –saat Gaara mampir ke apartemennya. Tapi di hari lainnya, Naruto lebih banyak menghabiskan waktu bersama Sasuke. Karena memang mereka kuliah di kampus yang sama. Walaupun berbeda jurusan. Jika Sasuke di jurusan Arsitek maka Naruto di jurusan desain. Sejak bertemu dengan Gaara tiga belas tahun yang lalu, Naruto diam-diam sering menggambar baju yang mungkin cocok dengan wajah imut Gaara. Bahkan dia memiliki mimpi untuk menjadi desainer di pesta pernikahan Gaara nanti.
"Teme hari ini sibuk tidak ?"
Tidak ada jawaban dari Sasuke. Dia masih sibuk menghitung skala pada project akhir yang akan dirancangnya.
"Teme."
Ctak
Konsentrasi Sasuke langsung buyar setelah mendengar nada merajuk Naruto.
"Kau tidak lihat aku sedang sibuk ?"
Naruto mempoutkan bibirnya.
Tok tok tok
Karena bosan Naruto mengetuk meja kantin, sambil sesekali membaca menu makanan yang ada di depannya. Tapi tidak ada satu menupun yang mengundang selera makannya.
"Berisik."
Naruto menatap tajam kearah Sasuke.
"Yasudah aku pergi sendiri saja."
Sasuke hanya melirik lewat ekor matanya. Hah, kapan si pirang kesayangannya itu berubah. Dia sudah bukan anak sd lagi kan. Tidak sampai lima menit Naruto kembali lagi. Sasuke menatapnya seolah bertanya 'kenapa kau kembali lagi.'
"Apa lihat-lihat ?"
Sasuke melihat Naruto yang mengambil tasnya dengan kasar, lalu pergi lagi. Bagaimana bisa dia pergi tanpa membawa tas. Dasar.
"Dobe."
.
.
.
Naruto berjalan-jalan di sekitar pasar kain yang menjual banyak jenis kain. Mulai dari kualitas termurah hingga termahal. Dari yang berbahan benang kasar hingga benang wol. Bahkan ada juga yang menjual kain dari kulit hewan.
Sekarang tanggal 12 Januari, kurang seminggu lagi Gaara ulang tahun.
"Fuh, dingin."
Naruto mengusap kedua telapak tangannya. Dan merapatkan mantel yang digunakannya. Musim dingin memang kontras dengan Naruto yang lebih suka musim panas. Kalau tidak demi ulang tahun Gaara, Naruto lebih memilih meringkuk di kasur tercintanya sambil menyalakan pemanas ruangan. Pasti nyaman.
Eh
Pandangan Naruto langsung terfokus pada sebuah kain levis berwarna putih gading. Sepertinya Naruto sudah mendapatkan kado yang pas untuk ulang tahun Gaara. Tinggal mencari kotak kado dan pernak-pernik, san bahan membuat kue tentunya. Selesai. Hah, Naruto tidak sabar ingin segera menyelesaikan kadonya.
.
.
.
Selama seminggu ini Naruto tidak bertemu Sasuke. Selesai kelas dia langsung bergegas kembali ke apartemen dan langsung menguncinya dari dalam. Dia lembur selama seminggu hanya untuk menyiapkan kado ulang tahun adik angkatnya. Siapa lagi kalau bukan Gaara.
Sasuke sendiri juga sedang disibukkan dengan tugas akhir kuliahnya. Dia ingin segera menyelesaikan tugas akhir ini. Ada rencana besar yang akan dilakukannya setelah acara wisudanya selesai. Acara itu jugalah yang membuatnya ingin sesegera mungkin menyelesaikan tugas akhirnya. Sekarang atau tidak sama sekali.
.
.
.
Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Naruto sudah menghias apartemennya untuk memberikan Gaara kejutan. Beruntung ini adalah akhir pekan, jadi kemungkinan besar Gaara akan mampir.
Ting tong
Tuh kan benar. Naruto segera membuka pintu dan -
"Dobe."
Kenapa Sasuke ada disini. Naruto mematung saat yang dilihatnya bukan Gaara. Dan lagi, apa-apaan penampilannya itu. Apa dia akan berkencan.
"Kau mau kemana ? kencan ?"
Tanya Naruto bingung.
"Ikut aku."
Bukannya menjawab, Sasuke justru menarik tangan Naruto dan menyuruhnya masuk kedalam mobil. Naruto berusaha menolak, tapi tenaga Sasuke lebih kuat darinya. Kapan dia menang saat berdebat dengan Sasuke. Sepertinya hampir tidak pernah.
'Gaara, nee-san diculik.'
.
.
.
Ternyata Sasuke membawanya ke cafe, yang kalau tidak salah Naruto pernah kerja part time disini. Tapi aneh, kenapa cafe nya sepi sekali hari ini. Apa sebentar lagi cafe ini akan tidak, itu mengerikan.
"Duduk."
Perintah Sasuke. Naruto menurut, walaupun ekspresinya sudah sangat kesal. Dasar .
"Kenapa tidak datang."
Huh.
"Kemana ?"
Sasuke menatap Naruto tidak percaya. Jangan bilang Naruto lupa.
"Kau tidak ingat ?"
Naruto menggeleng.
"Apa aku melewatkan sesuatu ?"
Sasuke menghela nafas. Apa mungkin Sasuke lupa belum memberitahunya. Mungkin. Sasuke mencoba berpikir positif. Tidak mungkin Naruto lupa.
"Acara wisudaku."
Naruto kaget.
"Kau sudah wisuda ? Secepat itu ? Bukankah kau baru menyusun tugas akhir ?"
Sasuke tidak langsung menjawab. Dia memanggil pelayan untuk membawakan pesanannya.
Tunggu.
Kapan Sasuke memesan makanan. Entahlah.
"Pesanan anda tuan."
Naruto melirik kearah Sasuke.
"Kapan kau memesannya ?"
Sasuke mengangkat bahu. Bukannya menjawab Sasuke justru asik mencomot kentang goreng pesanannya.
"Hei, jawab !"
Lama-lama Naruto geram juga melihat Sasuke yang sejak tadi mengacuhkannya.
"Aku sudah mendaftar Wisuda sebelum menyusun tugas akhirku."
Pantas saja. Naruto mengangguk paham.
"Ayo kita menikah."
Ujar Sasuke dengan nada datar.
"Uhm. Kapan?"
Sahut Naruto tanpa sadar.
"Secepatnya."
Hening.
"Uhuk kau tadi bilang apa ? Kita ? Menikah ? Secepatnya ? Hahahahaha kau bercanda ?"
Cup
Kedua mata Naruto membola. Ciuman pertamaku.
"Apa aku terlihat sedang bercanda ?"
Naruto menggeleng. Tidak. Dia serius. Tapi ini menikah loh. Menikah. Bukan kencan. Dia mengajak Naruto menikah. Menjadi istri. Menjadi ibu rumah tangga. Mengurus rumah. Apa tidak terlalu cepat.
"Kau serius ?"
Sasuke mengangguk mantap.
"Aku juga tidak menerima penokan."
.
.
.
Sementara itu Gaara yang baru sampai di apartemen Naruto, harus mengerutkan kening melihat pintu apartemen Naruto yang terbuka, tidak ada tanda-tanda Naruto di dalam. Apa mungkin dia diculik.
"Naru -"
Gaara terpaku di depan pintu. Melihat banyak hiasan selamat ulang tahun di apartemen Naruto. Naruto mengingat ulang tahunnya.
Gaara segera masuk kedalam. Mencari keberadaan Naruto, dia ingin mengucapkan terimakasih. Baru kali ini Gaara mendapatkan surprise ulang tahun seperti ini.
Mau tidak mau dada Gaara bergemuruh senang saat membaca namanya di dinding apartemen Naruto. Bolehkah dia menganggap bahwa Naruto menganggapnya spesial. Setidaknya sebagai adik kesayangannya mungkin. Gaara takut jika harus berharap lebih.
'Kado untuk Gaa-chan. Adik kecilku yang menggemaskan.'
.
.
.
Gaara memutuskan untuk duduk di meja makan sambil menunggu Naruto. Dia menatap takjub pada kue ulang tahun yang berbentuk miniatur dirinya. Apa memang selama ini Gaara seimut itu. Gaara hanya bisa mengusap tengkuk lehernya, melihat pipi gembul miniatur dirinya dalam bentuk roti tampak bersemu kemerahan. Mengerikan.
"Tadaima."
Gaara segera menyambut Naruto yang baru saja pulang.
"Okari nee-san."
Naruto terkejut saat melihat Gaara sudah ada di dalam apartemennya.
"Kenapa kamu bisa masuk kedalam ?"
Gaara menunjuk kearah pintu apartemen. Saat itu jugalah, dia melihat Sasuke masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Apa calon kakak ipar baru saja menculik nee-san ?"
Tanya Gaara asal.
"Huh ?"
Ekspresi Naruto seolah mengatakan 'Dari mana kau tahu?'. Gaara bisa dengan jelas melihatnya. Dia juga melihat bibir Naruto yang sedikit bengkak entah karena apa. Tapi tanpa harus menebak pun dia sudah tahu jawabannya.
"Nee-san menerimanya ?"
Naruto tidak menjawab.
"Kamu bicara apa sih. Sudahlah, ayo masuk. Ah, apa kamu sudah melihat kue nya ?"
Gaara mengekor dari belakang.
"Itu mengerikan. Wajahku tidak seimut itu nee-san."
Naruto pura-pura tidak mendengar. Dia malah asik menyalakan lilin diatas rambut –kue miniatur Gaara lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
"Berdo'a dulu lalu tiup lilinnya."
Gaara memejamkan matanya sebentar lalu meniup lilin kue ulang tahunnya.
"Yeay ! Selamat ulang tahun adik kecilku. Semoga panjang umur. Bahagia selalu ! Oya kalau boleh tahu, apa permohonanmu ?"
Hening, Gaara tidak menjawab, dia hanya mengangguk ambigu, lalu mendekatkan wajahnya kearah Naruto.
"A-Apa?"
Gaara tersenyum mengejek. Dia melirik kue ulang tahunnya lalu membuat gesture meminta disuapi.
"Aa."
Naruto tertawa melihat ekspresi Gaara yang menurutnya langka itu. Dia mencubit hidung Gaara gemas, barulah Naruto menyuapinya kue ulang tahun yang sudah di buatnya sejak pagi-pagi buta.
"Uhm. Aku baru tahu rambutku rasanya seenak ini."
Naruto memutar bola matanya.
"Apa itu pujian ?"
Gaara mengangguk.
"Anggap saja begitu."
.
.
.
Malam ini Gaara lagi-lagi tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bukan karena mimpi buruk kejadian sepuluh tahun lalu. Tapi ini karena kakak angkatnya –Naruto. Apa dia adik yang jahat. Kenapa dia gelisah saat tahu kakaknya akan menikah. Apa mereka akan mengundangnya. Kalaupun diundang, apa Gaara yakin akan datang. Pikirannya kacau sekarang. Lalu pandangan Gaara teralih pada kotak kado yang diambilnya dari apartemen Naruto.
"Aku terlalu berharap."
Gumam Gaara miris. Ironi memang. Tapi dia bisa apa, kalau itu keputusan Naruto, tentu dia harus mendukungnya.
Dia adalah wali Naruto dan Naruto adalah walinya. Mereka sama-sama sebatang kara. Tidak memiliki sanak saudara. Jadi apa salahnya saling mendukung. Toh, Sasuke juga pria yang baik. Walaupun dia kasar dan ucapannya pedas. Tapi dia selalu menunjukkan perhatiannya dengan caranya sendiri. Gaara tahu itu.
"Menyedihkan."
.
.
.
Naruto kini sibuk membongkar barang-barang di apartemennya. Mencari satu benda yang harusnya dia berikan pada Gaara hari ini. Astaga, bagaimana bisa dia lupa. Padahal Naruto sampai memangkas jam tidurnya untuk menjahit jas yang akan dia berikan pada Gaara. Tapi dimana kado itu sekarang.
"Kenapa aku bisa lupa hal sepenting ini."
Naruto mengacak surai pirangnya frustasi.
"Gaa-chan gomen. Kadonya hilang."
Guman Naruto pasrah. Seluruh sudut apartemennya sudah dia bongkar. Tapi dia tetap tidak bisa menemukannya.
"Aku menyerah."
Dan si pirangpun jatuh tertidur di sofa ruang tamu. Hari yang panjang sekaligus melelahkan.
.
.
.
Tbc
maaf, lagi lagi shi belum sempat balas review. Oya, gimana di chapter ini sudah tahu belum akhirnya Naru sama siapa ? hehehe
see ya last chap !
with love,
grandpaGyu
