Between You

Shiroi Kage's Project

.

.

.

Teen

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

PART V

Naruto tidak menyangka akan secepat ini waktu berlalu. Sekarang dia sudah duduk disini. Melihat pantulan dirinya yang menggunakan gaun berwarna putih lengkap dengan riasan make up natural. Sangat pas dengan wajah manisnya. Iris sapphiernya memandang seseorang yang berdiri di belakangnya. Tepat diambang pintu, badannya terlihat menyender di tiang penyangga, sementara kedua tangannya bersembunyi di balik celana putihnya.

"Apa aku mengganggu ?"

Naruto menggeleng. Dia tersenyum miris. Kenapa dia seperti ini. Harusnya dia tersenyum bahagia, ini adalah hari pernikahannya.

"Aku mencari jas itu semalaman. Kupikir hilang. Ternyata ada pencuri di apartemenku."

Seseorang itu terkekeh. Dia berjalan mendekat. Semakin dekat. Walaupun langkahnya terasa berat. Tapi dia tetap melangkah mendekat. Hanya untuk meyakinkan dirinya, bahwa dia adalah seorang pengecut yang kalah bahkan sebelum mulai berperang.

"Apa dia mencuri sesuatu yang berharga ?"

Naruto tersenyum miring. Bukan hanya itu, pencuri itu juga yang membuatnya merasa ragu di hari pernikahannya sendiri. Menggelikan. Apa ini sebuah drama. Jika memang iya, Naruto harap sang sutradara mau mengubah sedikit jalan ceritanya.

"Begitulah. Dia mencuri dua hal yang paling penting."

Sekarang seseorang itu sudah berada tepat di belakangnya. Menatap pantulan Naruto dari cermin besar dihadapannya. Si pirang terlihat begitu cantik, pinata rias itu berhasil merubah itik buruk rupa menjadi angsa. Ah tidak, sejak awal Naruto memang cantik, hanya dia sendiri yang menutupinya. Tidak pernah sekalipun Gaara melihat Naruto menggunakan make up jenis apapun, hanya dua jenis peralatan make up yang selalu dikenakannya. Bedak bayi dan lipstick berwarna peach yang bahkan bisa dihitung jari kapan saja dia memakainya. Bahkan Gaara ragu, apakah bedak bayi dan lisptik itu termasuk peralatan make up. Entahlah.

"Kalau begitu pencuri itu harus di hukum."

Naruto mengangguk. Sebisa mungkin Naruto menahan suara isakannya yang akan keluar kapan saja. Dia tidak boleh seperti ini. Dia tidak boleh menghancurkan hari pernikahannya sendiri.

"Dia sudah mendapatkan hukumannya. Dia akan menyesalinya seumur hidup."

Seseorang itu merangkul Naruto dari belakang. Naruto memejamkan matanya. Ada perasaan tidak rela saat dia mengingat ini adalah pelukan pertama dan terakhir mereka. Sebelum akhirnya dia menyandang nama Uchiha sebagai nama belakangnya.

"Ya, itu hukuman yang pantas."

.

.

.

Mereka berdua berjalan menuju altar. Naruto beberapa kali mencengkram erat jas kemeja seseorang yang berjalan disampingnya. Di ujung sana dia melihat seseorang yang akan mengikat janji sehidup semati dengannya. Tapi kenapa langkah kakinya terasa berat.

"Apa nee-san menyesal ?"

Tidak ada jawaban dari Naruto.

Hanya cengkramannya saja yang semakin menguat. Seolah mengerti, seseorang itu lalu membisikkan sesuatu di telinganya.

"Aku bisa membawamu kabur jika nee-san mau."

Saat calon suaminya sudah mengulurkan tangan untuknya. Mendadak pikiran Naruto blank. Dia menoleh samping. Disana laki-laki itu tersenyum tulus padanya. Saat dia menoleh kedepan dia melihat calon suaminya yang juga tersenyum penuh harapan kearahnya. Lalu apa yang harus dia lakukan. Tuhan, kenapa hidupnya terasa seperti sebuah drama opera sabun yang tidak laku dipasaran.

"Kumohon -"

Nafas Naruto tercekat. Ini adalah keputusan yang akan menentukan masa depannya. Semoga dia tidak menyesalinya. Yah, semoga saja.

.

.

.

FLASHBACK

.

.

.

"Apa aku terlihat sedang bercanda ?"

Naruto menggeleng. Tidak. Dia serius. Tapi ini menikah loh. Menikah. Bukan kencan. Dia mengajak Naruto menikah. Menjadi istri. Menjadi ibu rumah tangga. Mengurus rumah. Apa tidak terlalu cepat.

"Kau serius ?"

Sasuke mengangguk mantap.

"Aku juga tidak menerima penokan."

Naruto hanya bisa menghela nafas pasrah. Muncul sudah sifat egoisnya.

"Lalu kenapa kau bertanya ? Dasar !"

Sasuke berseringai senang. Walaupun batinnya menjerit tidak terima.

"Apa itu artinya iya ?"

Naruto menyeruput jus jeruk miliknya.

"Aku bilang tidak pun, kau tetap akan menyeretku ke pelaminan. Iya kan ?"

Bukan itu yang ingin didengarnya.

"Bagus kalau kau tahu."

Maafkan aku.

.

.

.

'Kado untuk Gaa-chan. Adik kecilku yang menggemaskan.'

Gaara membuka kotak kado itu. Didalamnya dia melihat sebuah jas berwarna putih gading dengan pernak-pernik silver di kerahnya. Jahitannya terasa halus.

Apa mungkin dia membuatnya sendiri.

Gaara melirik pada sisa kain yang berserakan di dekat sebuah mesin jahit otomatis di sudut ruang tamu. Diam-diam dia tersenyum penuh arti.

"Surat ?"

Gaara mengambil surat yang terselip di kantong jas itu. Lalu mendudukkan diri di kursi sambil membaca surat yang ditujukan untuknya.

'Gaa-chan ! Omedetou . wah adik nee-san sudah sembilan belas tahun ya ? Khekhekhe karena Gaa-chan sudah dewasa, nee-san kasih hadiah jas ini. Gimana ? Bagus tidak? Huh, kapan-kapan Gaa-chan harus memijit tanganku, rasanya pegal sekali harus menjahit selama seminggu penuh hehe. Oya, sebenarnya nee-san menyiapkan jas itu untuk pesta pernikahanmu. Nee-san janji akan membuatkan pasangannya. Ide yang bagus kan ?

With love,

Naruto-nee.'

Gaara tidak bisa mengatakan apapun. Dia hanya memandang jas ditangannya dengan penuh arti.

Setelah cukup lama menungggu. Akhirnya Gaara memutuskan untuk duduk di ruang makan sambil menunggu Naruto.

Dia menatap takjub pada kue ulang tahun yang berbentuk miniatur dirinya. Apa memang selama ini Gaara seimut itu. Gaara hanya bisa mengusap tengkuk lehernya, melihat pipi gembul miniatur dirinya dalam bentuk roti tampak bersemu kemerahan. Mengerikan.

"Tadaima !"

Ah, mungkin sesekali menjahili Naruto tidak ada salahnya. Gaara langsung memasukkan jas itu kedalam kotak kado dan menyembunyikannta di dalam tas yang dibawanya.

.

.

.

"Berdo'a dulu lalu tiup lilinnya."

Gaara memejamkan matanya sebentar lalu meniup lilin kue ulang tahunnya.

"Yeay ! Selamat ulang tahun adik kecilku. Semoga panjang umur. Bahagia selalu ! Oya kalau boleh tahu, apa permohonanmu ?"

Hening, Gaara tidak menjawab dia hanya mengangguk ambigu, lalu mendekatkan wajahnya kearah Naruto.

"A-Apa?"

Gaara tersenyum mengejek. Dia melirik kue ulang tahunnya lalu membuat gesture meminta disuapi.

"Aa."

Naruto tertawa melihat ekspresi Gaara yang menurutnya langka itu. Dia mencubit hidung Gaara gemas, barulah Naruto menyuapinya kue ulang tahun yang sudah di buatnya sejak pagi-pagi buta.

"Uhm. Aku baru tahu rambutku rasanya seenak ini."

Naruto memutar bola matanya.

"Apa itu pujian ?"

Gaara mengangguk.

"Anggap saja begitu."

Permohonanku. Semoga nee-san selalu bahagia.

.

.

.

END FLASHBACK

.

.

.

Naruto duduk diatas kasur hotel tempat mereka menginap selama di pulau jeju. Matanya sibuk membaca peta pulau jeju yang diberikan oleh pemandu wisatanya kemarin malam. Setelah mereka selesai mengelilingi pulau jeju.

Ceklek

Pandangan Naruto teralih saat mendengar suara pintu di buka.

Dia pasti sengaja.

"Apa aku terlihat seksi ?"

Naruto tidak menjawab. Dia justru menutup wajahnya yang memerah dengan peta yang dipegangnya. Pura-pura tidak melihat sepertinya ide yang bagus.

Merasa diacuhkan. Laki-laki itu lalu berjalan menuju lemari pakaian, memilih baju dan memakainya langsung.

"Kyaaaa ! Kenapa kau mengganti baju disini ?"

Laki-laki itu mengerutkan keningnya, bingung.

"Aku tidak mengganti baju, aku hanya sedang memakai baju. Apa itu salah ?"

Naruto membuang muka. Sial, wajahnya semakin memerah.

"Tentu saja salah, apa kamu tidak mau ganti baju didepan perempuan ?"

Laki-laki itu tertawa. Sepertinya mulai saat ini dia punya hobi baru, menggoda Naruto. Kedengarannya bagus.

"Kenapa harus malu, kalau perempuan itu bahkan sudah melihat semuanya."

Wajah Naruto semakin memanas mendengar ucapan laki-laki itu.

"Dasar mesum !"

.

.

.

"Kumohon -"

Nafas Naruto tercekat. Ini adalah keputusan yang akan menentukan masa depannya.

Tap tap tap

Calon suaminya kini sudah berjalan mendekat kearahnya. Dia memakaikan cincin pernikahan mereka di jari manis Naruto. Saat Naruto akan meminta cincin yang lainnya, laki-laki itu menggeleng.

"Dobe, kalau memang tidak bisa harusnya kau menolak lamaranku."

Naruto menggeleng. Dia tidak bisa mengatakan apapun. Suaranya tertahan di tenggorokan.

"Jaga si dobe ini untukku. Gaara."

Gaara yang berada disamping Naruto juga tidak bisa mengatakan apapun. Terlebih saat Sasuke memasangkan cincin pernikahan itu di jari manisnya.

"Selamat."

Sasuke mengulurkan tangannya. Gaara awalnya ragu, namun saat melihat Sasuke mengangguk, akhirnya Gaara membalas uluran juga memberikan pelukan terakhirnya untuk Naruto.

"Maafkan aku. Harusnya aku tidak memaksamu."

Naruto menggeleng.

"Gomen."

Sasuke tertawa miris.

"Sejak awal kau tidak pernah mengatakan setuju, tapi aku tetap memaksakan pernikahan ini. Maaf."

Kini giliran Naruto yang terkekeh. Benar juga, sejak awal memang Naruto tidak pernah mengiyakan pernikahan ini. Tapi kenapa dia bisa ada disini begitu siapa yang paling bodoh diantara mereka.

"Tapi kau sudah mencuri ciuman pertamaku."

Uhuk

Tiba-tiba Gaara terbatuk mendengar ucapan Naruto. Sementara Sasuke hanya terkekeh geli mendengarnya. Ciuman pertama ya. Sayangnya bukan.

"Itu bukan ciuman pertamamu dobe. Apa kau tidak ingat?"

Naruto menggeleng. Sasuke lalu melirik kearah Gaara yang sejak tadi membuang muka. Ah, dia sedang menutupi wajahnya yang bersemu. Dasar.

"Tanyakan saja pada anak panda itu."

Naruto menoleh kearah Gaara. Menuntut penjelasan.

"Akan kuceritakan nanti."

Sahut Gaara dengan nada tidak ikhlas.

.

.

.

"Ne Gaa-chan. Jadi kapan kamu mencuri ciuman pertamaku ?"

Uhuk

Gaara yang sedang menikmati kopi pahitnya harus terbatuk karena pertanyaan Naruto.

"Kamu benar-benar tidak ingat ?"

Naruto menggeleng.

"Waktu hujan. Kita terjebak di sekolah karena tidak membawa payung."

Naruto menutup mulutnya. Kenapa dia bisa lupa. Kalau tidak salah itu adalah hari terakhir Naruto melihat Gaara disekolah. Pantas Sasuke memanggilnya Dobe. Hal sepenting itu saja dia tidak ingat.

.

.

.

FLASHBACK

.

.

.

Naruto masih duduk di dalam kelas. Padahal kelas sudah sepi sejak satu jam yang lalu. Sasuke juga sudah pulang, Itachi-nii datang jadi Sasuke pamit pulang dulu. Sekarang hanya tinggal Naruto sendiri di kelas. Dia tidak juga beranjak dari tempat duduknya. Padahal langit sudah berubah gelap dan tetesan air hujan sudah semakin deras. Tapi si pirang tetap tidak bergeming.

"Gaa-chan."

Gumamnya tanpa sadar. Dia masih ingat bagaimana Itachi-nii membawa Gaara pergi dengan wajah cemas. Itachi-nii yang jarang memiliki ekspresi bisa menampakkan wajah secemas itu. Apa yang terjadi sebenarnya. Gaara juga tidak berusaha menghubunginya sejak saat itu. Apa dia baik-baik saja.

Sret

Huh

Naruto kaget. Ini pasti khayalan.

Tap tap tap

Tapi kenapa suara langkah kaki itu terdengar jelas. Jangan-jangan hantu. Hiii.

"Nee-san belum pulang ?"

Kedip kedip

"Kyaaa hantuuuu !"

Pekik Naruto sambil berlari menuju kaca jendela. Dia memukul kaca jendela dengan membabi buta.

"Hyaa, tolong aku ada hantu !"

Gaara yang melihat tingkah absurd Naruto hanya bisa menggeleng kepala. Melihat sifat Naruto, entah kenapa Gaara tidak yakin kalau Naruto itu jauh lebih tua darinya. Bahkan sampai sekarang sifatnya masih sama dengan anak sekolah dasar. Kekanakan.

"Jangan mendekat. Dasar hantu, kenapa kamu menyerupai Gaara sih !"

Gaara tertawa dalam hati. Bukan menyerupai, dia memang Gaara.

"Memangnya kenapa kalau aku seperti Gaara ?"

Tanya Gaara dengan nada polosnya. Sedikit menggoda nee-san tidak ada salahnya.

"Kalau kau seperti Gaara aku tidak bisa memukulmu ! Lebih baik kau seperti Sasuke saja. Aku tidak akan ragu melemparmu dari sini !"

Memangnya apa yang membedakan dia dengan Sasuke.

"Kenapa begitu ?"

Naruto masih menutup matanya rapat-rapat. Sedangkan Gaara juga masih melangkah mendekat kearahnya.

"Tentu saja karna aku menyukainya !"

Hening.

Gaara tidak melanjutkan langkah kakinya. Apa dia tidak salah dengar.

"Jadi nee-san menyukaiku ?"

Naruto membuka matanya. Tunggu sepertinya ini terlalu nyata. Gaara kembali berjalan mendekat, hingga jarak mereka tidak ada dua langkah kaki orang dewasa. Dari jarak sedekat ini Naruto bisa mendengar detak jantung Gaara dengan jelas.

"Kamu benar Gaara ?"

Gaara tidak menjawab. Tangannya terulur untuk menyentuh kedua rahang Naruto. Mengusapkan kedua jempolnya di kedua pipi Naruto. Halus.

"Jadi nee-san menyukaiku ?"

Naruto hanya tersenyum canggung. Tidak bisa menjawab. Tapi wajahnya mengatakan semuanya. Gaara tersenyum. Bungsu Sabaku itu lalu memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya, Gaara menutup matanya saat bibirnya menyapa bibir Naruto.

Manis.

Naruto kini sudah mengalungkan kedua tangannya di leher Gaara. Sementara tangan kiri Gaara sudah turun ke pinggang Naruto dan tangan kanannya berada di tengkuk Naruto.

"Hm."

Naruto bergumam geli saat Gaara mencengkram pinggangnya, entah secara sadar atau tidak.

.

.

.

"Sudah malam. Aku akan menjemput Gaara-sama."

Itachi menyambar kunci mobil dan bergegas keluar rumah. Dia tidak mau tuan mudanya menunggu lama.

"Aku ikut."

Sasuke tanpa menunggu persetujuan Itachi langsung duduk di kursi penumpang.

"Si bodoh itu tidak membawa payung."

.

.

.

Dari parkiran Sasuke dapat melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan di dalam kelas. Sasuke tersenyum miris. Hah, jadi begini rasanya cemburu.

"Kenapa tidak masuk ?"

Sasuke menggeleng. Dia keluar dari mobil dan berjalan keluar dari pekarangan sekolah.

"Mau kemana ?"

Sasuke tidak menjawab. Dia masih berjalan tanpa tujuan. Khe, kenapa aku terlihat menyedihkan seperti ini. Sial. Apa sekarang dia sedang patah hati. Seperti drama picisan saja. Menggelikan.

.

.

.

FLASHBACK END

.

.

.

"Kalau begitu kenapa kamu diam saja ? Bukankah kamu tahu kalau aku menyukai –ah pokoknya begitulah !"

Gaara terlihat berpikir. Padahal Naruto tahu dia tidak benar-benar memikirkan apapun.

"Anggap saja aku berpikir, 'Ah, aku sudah meninggalkannya terlalu lama. Mungkin saja sekarang dia menyukai Sasuke.'"

Pletak

"Bodoh, jadi itu isi kepalamu selama ini ? Astaga. Kalau aku jadi menikah dengan Sasuke apa yang akan kamu lakukan ?"

Gaara tersenyum penuh arti.

Uh, sejak kapan Gaara ada di depan Naruto.

Sret

Gaara menarik pinggang Naruto. Membuat tubuh Naruto mendekat kearahnya.

"Jodoh itu tidak akan tertukar. Walaupun Sasuke mencoba mendahuluiku, tapi karena jodoh nee-san itu aku, nee-san akhirnya pasti akan menikah denganku."

Naruto mengangguk. Masuk akal juga. Tunggu, sejak kapan Gaara menjadi out of character seperti ini.

"Apa kamu sedang merayu nee-san ?"

Gaara tertawa. Apapun yang mereka bicarakan tidak pernah berakhir dengan serius.

"Anggap saja begitu."

Naruto menyandarkan kepalanya di pundak Gaara.

"Boleh aku menutup jendelanya ?"

.

.

.

End

Omake From Chapter 3 :

"Aku pergi."

Belum sempat Naruto mencegah. Sasuke sudah menghilang dari pandangannya.

"Dia itu kenapa sih?"

Gaara diam-diam tertawa melihat ekspresi cemburu Sasuke.

"Mungkin calon kakak ipar cemburu."

Naruto tertawa mendengarnya.

"Calon kakak ipar ? siapa ? Sasuke ? haha Becandamu tidak lucu."

Gaara kaget melihat reaksi Naruto. Jadi selama ini Naruto masih menyukainya. Entah datang dari mana pemikiran itu. Tapi kenapa Gaara masih ragu, dia sudah meninggalkan Naruto selama kurang lebih sepuluh tahun, tidak mungkin Naruto masih menyukainya. Hei, perasaan orang itu sangat mudah berubah, terlebih orang itu Naruto. Si plin plan yang bahkan masih saja bertingkah seperti anak kecil di umurnya yang sudah tidak bisa dikatakan remaja lagi.

"Lalu kenapa nee-san tertawa ?"

Naruto membawa dua piring nasi goreng kemeja makan.

"Apa sekarang kamu sedang melarang nee-san tertawa ?"

Gaara tidak langsung menyahut. Dia berjalan menghampiri Naruto dan duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi yang ditempati Naruto.

"Apa terlihat seperti itu ?"

Naruto memberikan satu piring nasi goreng pada Gaara.

"Terdengarnya seperti itu."

Lalu mereka tertawa bersama. Menertawakan pembicaraan absurd mereka yang tidak jelas topik dan tujuannya.

-END

Shi's Note :

Uhm, maaf buat yang udah berharap Naru sama si teme. Karena yah, gimana ya. Padahal sejak awal itu udah banyak kok clue-clue yang menjurus ke Gaara. Misalkan aja pas si Teme deketin wajahnya Naru malah biasa aja, eh pas giliran Gaara langsung bersemu. Juga pas adegan mereka ingin duduk sama Naruto di smp. Gaara yang pertama nemuin tas Naru. Dan buat Nina, Shi minta maaf, Shi ngeri sendiri ngebayangin Naru jadi poliandri, ntar dia bingung lagi bapak dari anaknya itu siapa. Jadi final pair tetap GaaNaru. Maaf kalau mengecewakan. Shi pengen bilang dari fict ini kalau yang pertama belum tentu akan menjadi yang terakhir. Dan masalah Sasu ngelamar Naru itu sebenarnya karena Sasuke tahu kalau Naru itu masih suka sama Gaara, makanya dia ambil start duluan. Takut kalau Naru nya sadar kalau Gaara juga masih suka sama dia. Secara Gaara sama Naru kan sama-sama lemot yak #plak. Tapi yah, namanya author kan gk suka lihat si teme bahagia, makanya dia akhirnya tetep patah hati juga khekhekhe #ketawaNista.

Dan akhirnya sampai akhir saya tidak sempat membalas review. Maafkan saya, ini upload disela-sela ngerjain tugas Jaringan haha.

See you next fict !

With love,

(-_-)!

grandpaGyu