Beautiful Accident

Cast: - Zhang Yi Xing

Kim Joon Myeon

Oh Se Hun

Byun Baek Hyun

Park Chan Yeol

And other cast.

Rating: T+

Disclaimer: seluruh cast adalah murni milik agensi terkait dan tentunya kedua orang tua mereka. Dan tentunya Tuhan Yang Maha Esa.

Warn! It's YAOI! BL! It's SuLay fanfiction!

Tata bahasa yang tidak sesuai dengan EYD dan bahasa yang bercampur aduk menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga terciptalah semangkuk es campur /eh/.

Chapter2

...
Seoul, 12 December 2013

Di luar sedang turun salju. Butiran butiran benda berwarna putih itu yang dengan indahnya berjatuhan dapat kulihat melalui jendela gedung ini.

Tapi...
Ugh! Mengapa aku merasa panas sekali?
Karena keberadaan seseorang disampingku kah? Ah, terlalu naif kedengarannya.

Wahai Zhang Yixing... Sadarlah!
Setidaknya ada banyak orang selain kalian berdua di ruangan ini. Perhatikan saja peserta yang lain. Jangan terus-terusan mencuri pandang ke arahnya. Atau lebih baik jika kau menghafalkan kembali teks pidatomu (tolong ingatlah dengan ingatanmu yang buruk itu!).

Oh tunggu..
Pidato?

Benar. Aku sedang berada di ruangan peserta lomba pidato bahasa inggris (speech contest). Lucunya adalah aku sendiri bingung mengapa sekolah ku menunjukku sebagai peserta karena.. Hei, sebelumnya aku ini belum pernah mengikuti lomba yang mengharuskan ku tampil di depan banyak orang. Aku hanya sukses di kompetisi yang bersifat 'pasif', tanpa perlu berdiri seorang diri di depan puluhan orang. Olimpiade Fisika contohnya.

Jujur saja, aku gugup luar biasa.

Lebih lucunya lagi adalah bagaimana bisa seseorang siswa pasif sepertiku ini bisa terjebak dalam situasi ini?
Menjadi peserta lomba bersama dengan...
Err...

...Yeah seorang siswa perfect -ya, dimataku ia memang selalu dan selamanya perfect-
dan posisi kami yang duduk bersebelahan.

Akan berlangsung berapa lama kah hal ini?
Dan aku pun hanya menghela nafas, berusaha agar bernafas seperti orang normal pada umumnya. Yeah, klasik memang.

"Ini... nulisnya disini ya?"

Ouh dia berbicara?
Aku tak salah dengar kan?
Hei, aku baru saja membersihkan telingaku tadi malam.
Tapi, Pada siapa?

Ah.. tak ingin mengaktifkan mode 'berimajinasi', aku pun kembali mencoba mengembalikan fokus ku ke teks pidato yang aku genggam.

Gagal.
Seseorang menyentuh tanganku. Pertanda seseorang itu ingin berbicara denganku.
Segera saja aku 'pergoki' sang pelaku hal tersebut.

Oh... Demi uang bulanan ku yang sedang menipis!

Dia menatapku.

Ya, benar.

'Dia'.

Menantikan sebuah jawaban?

Sesekali ia menatap bingung pada kertas formulir biodata peserta yang ada di tangannya.

"I-iy -yaa.. S-ssseon b-bbae.."

Sial, lidah ku tak bisa dikondisikan!

Satu hal yang cukup ku ketahui adalah..
.. Itu menjadi percakapan pertama kami.
Awal dari sesuatu yang tak bisa ku ketahui kelanjutannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Seoul, 11 Agustus 2015

"Hei... Zhang Yixing... Apa kau baru saja kehilangan nyawamu?"

Baekhyun bertanya dengan nada khawatir, yang dibuat-buat tentunya -bermaksud mencairkan suasana-. Memperhatikan wajah sahabatnya yang kini berhasil ia buat untuk menatap ke arahnya.

" Huh? Apa kau barusan bertanya tentang persamaan gerak parabola, Baek?"

Deng..

Baekhyun dengan otomatis pasang wajah face-palm.
Sahabatnya ini.. kenapa sih?

Bisakah kini ia menyematkan gelar "budeg + lemot" pada sahabat kesayangannya ini?
Ah.. Mungkin 'koneksi'nya sedang 3G, atau EDGE malah. Jadinya ada sedikit 'error'.
Baekhyun tak ingin negative thinking, kawan.

Suasana riuh disekitarnya yang menandakan bahwa kantin sekolah sedang ramai, tak berhasil merubah suasana hati Yixing. Sedari tadi ia hanya mengaduk-ngaduk jjajangmyeon miliknya tanpa berminat untuk memasukkan barang satu suap pun ke mulutnya.

Dan jangan lupakan ekspresi wajahnya yang tentu tadi membuat Baekhyun khawatir.
Kosong. Hampa.
Wajah yang seolah berkata "Aku segan untuk hidup, tapi juga tak mau mati"
Horror memang .
Seolah memperlihatkan bahwa ia bukanlah sesuatu yang 'hidup'.
Wajah tanpa jiwa.

"Yixing hyung... Aku sudah kehilangan mood ku tadi ketika Chanyeol bilang tak bisa menemaniku ke kantin karena sedang asyik bermain sepak bola bersama teman-teman absurdnya itu. Jadi... tolong jangan membuatku memasang ekspresi 'wajah tanpa jiwa' juga.. Ya? Jika ada masalah tolong ceritakan saja, hyung".

Yang diajak bicara rupanya tak bergeming sama sekali. Justru semakin memfokuskan pandangannya pada semangkuk jjajangmyeon tadi. Tapi sayangnya masih dengan ekspresi wajah seperti detik-detik sebelumnya -wajah tanpa jiwa-.

"Baek..."

"Hm?"
Apakah dia akan mulai bicara?
-Batin Baekhyun berkata.

"Kenapa makanan ini bernama jjajangmyeon? Kenapa harus ada embel-embel 'myeon' sih? Aku jadi tak ingin memakannya!"

PRAANGG!

Dengan brutalnya, Yixing membanting sumpit yang ada di tangannya. Sumpit yang tak berdosa padahal.

Membuat sang sahabat dihadapannya memasang tampang cengo luar biasa atas kelakuannya barusan.

"Baek, katakan padaku jika dunia ini memang sempit! Katakan! ARRRGGHHHH DEMI CELANA DALAM UNICORN!"
Yixing mengerang frustasi. Lengkap disertai dengan tatapan horror dari para siswa lain penghuni kantin yang otomatis tertuju padanya.

Baekhyun semakin memasang wajah yang tak bisa dideskripsikan. Lebih tepatnya seperti seseorang yang terkena stroke.

Astaga! Makhluk satu ini kenapa lagi sih!?
-Baekhyun hanya mampu berkata dalam hati. Ia telah kehabisan kata-kata untuk menanggapi Yixing. Ia pikir sahabatnya ini hanya sebatas kehilangan nafsu makan. Tapi kenyataaannya mungkin lebih dari itu. Ada apa sih memangnya dengan 'myeon' huh?
Dan tebak... Sekarang apa yang ia pebuat? Hanya membiarkan orang-orang mulai menatap heran juga padanya yang terlihat mematung terdiam.

Kalau boleh, ia sekarang juga telah perlahan pamit meninggalkan TKP ini sambil berkata "Dia bukan temanku" pada para penghuni kantin ini.

Ah tidak.. Rasanya itu terlalu klasik.

5 detik...

10 detik...

15 detik...

Yixing masih dalam keadaan 'kacau'nya.
Baekhyun juga masih dalam keadaan 'cengo'nya.
Hingga akhirnya suara kursi yang berderit disamping Yixing terdengar oleh keduanya. Pertanda ada seseorang yang datang.

"Tumben hanya berdua?! Kemana perginya sang tiang listrik huh?"

Sensor pendengaran Baekhyun kembali normal ketika mendengar kata tiang listrik terlontar tadi.

"Ah! Untung kau datang Sehun-ah.. Tolong obati orang ini ya"

Sehun yang merasa baru saja bergabung pun tentu mengernyit heran. Mengalihkan pandangannya ke seseorang yang kini berada di sampingnya.

"Kau sakit ,hyung?"
Sehun menepuk lembut pundak Yixing.

"Padahal seingatku, semalam aku tak bermain kasar".

Baik itu Yixing maupun Baekhyun, langsung mengernyit horror pada pria bermarga Oh itu.
Bagaimana bisa ia dengan santainya melontarkan rentetan kalimat yang sudah jelas-jelas ambigu itu?
Maaf saja, Yixing dan Baekhyun tak terlalu bodoh dalam memahami kalimat bermakna ganda tersebut.

"Apa? Aku hanya berusaha mencairkan suasana".

Sehun memasang tampang acuh andalannya.

"Jangan! Tidak dengan wajah super datarmu tuan Oh! Bahkan mungkin jika aku ini anak TK, secepat kilat aku akan lari terbirit-birit darimu!".

Baekhyun mengatakannya dengan bersungut-sungut. Berharap agar Sehun tau bahwa hal ini tak mencairkan suasana sama sekali. Yang ada justru membuat mood keduanya semakin jatuh ke dasar.

"Aku mau ke toilet".

Yixing beranjak pergi. Meninggalkan dua makhluk lainnya itu yang memandang kepergiannya dengan terheran-heran.
Mungkin sedikit rasa khawatir juga tersirat di mata salah satu diantara mereka.

Sehun mengeluarkan benda persegi panjang berwarna silver dari saku blazer seragamnya. Terlihat seperti sedang melihat sesuatu di layar benda elektronik tersebut -entah benar atau tidaknya.
Perlahan ia pun bangkit dari posisi duduknya.

"Aku duluan ya, hyung.. Aku mau menemui Jongin. Bye!"

"Eh?"
Baekhyun mendongak kaget. Terasa seakan cepat sekali, ia sudah menemui pemandangan dimana Sehun telah berlari jauh.
Sehun mengacuhkan beberapa gadis -entah itu kakak kelas atau pun yang seang katan- yang tengah memandanginya sambil memekik riang,
"Hei! Hei! Itu Oh Sehun!"
"Si tsundere tampan! Huwaaa cool sekali!"

Hmm kepopuleran si wajah datar sialan itu memang luarbiasa! Kan aku juga ingin seperti itu.
Batin Baekhyun kembali berbicara. Hanya bermaksud untuk menghibur dirinya yang kini dilanda rasa kesepian.

Oh tunggu...

Jadi sekarang ia ditinggal sendirian, begitu?
Kok miris ya?

"ARRGGHHH YAAKKK SIALAN KALIAN BERDUA!"

Kini penghuni kantin sekolah pun disuguhi oleh lantunan suara 8 oktaf seorang Byun Baekhyun.

.

.

.

.
Suara derap langkah kaki terdengar di setiap anak tangga yang akan membawa seseorang tersebut menuju ke atap sekolah.
Di tangannya terdapat sebuah sketchbook beserta pensil.

Sesaat kemudian, sosok tersebut telah sampai di rooftop bangunan tersebut. Menjumpai seseorang yang kini tengah berdiri seorang diri, dengan tangannya yang tertumpu pada pagar pembatas.

Dengan perlahan menepuk lembut pundak pemuda itu.

"Kau tak perlu bilang ingin pergi ke toilet, hyung. Aku sudah paham".

Sang pemuda yang disapanya itu hanya menampilkan sebuah senyum tipis. Sangat tipis. Tak disertai dengan munculnya sebuah cekungan di pipi kanannya.

"Aku hanya butuh menenangkan diri, Hun-ah..".

Yixing hanya menatap kosong ke arah depan. Fikirannya melambung jauh entah kemana itu. Ia membiarkan terpaan angin menggerakkan helaian rambut hitamnya dengan bebas.

"Ini..."

Sehun menyerahkan benda yang sedari tadi ia bawa ditangannya.
Sebuah sketchbook berukuran A5 serta pensil 2B.

"Kau kehabisan sketchbook ukuran ini bukan? Ini untukmu.. Bawalah ini kemanapun kau pergi. Mungkin kau akan merasa lebih baik. Omong-omong sekalian juga untuk bahan coret-coret referensi untuk lanjutan webtoon mu itu. Kasihan para pembaca setiamu telah mati penasaran akibat menunggu kelanjutan episodenya".

Yixing kembali tersenyum. Tangannya mulai bergerak untuk menerima benda tersebut dari tangan Sehun. Kali ini dimple di pipi kanannya mulai nampak.
Membuat Sehun merasa sedikit lega.

"Terima kasih, Hun-ah...".

Sehun masih setia menatap Yixing. Ia ingin melanjutkan pembicaraan lebih tepatnya.

"Mau cerita?"

Yixing yang kini menatap balik menatap Sehun. Namun kembali ia tundukkan kepalanya dengan dalam. Dan menggeleng dengan cepat.

Terdengar helaan nafas panjang dari Sehun. Yixing yang merasa jika mungkin saja Sehun kecewa pun segera berusaha untuk merangkai kata-kata lagi.

"Belum lebih tepatnya".

Sehun kembali menatapnya. Wajah tirus yang berahang tegas serta mata tajam itu menatap Yixing dengan lembut.

"Tak apa... Kau bisa menceritakannya nanti".

Sehun berbohong.
Ia ingin agar Yixing menceritakannya sekarang juga. Tentang masalah apa yang kini tengah dihadapi oleh pria berlesung pipi ini. Tentang apa yang terjadi kemarin saat mereka sedang di perpustakaan. Tentang siapakah pria lain -yang berstatus sebagai kakak kelasnya- yang ia jumpai di sana dengan gelagat mencurigakan -menurutnya.
Ia hanya ingin mendengar penjelasan tentang semua itu.

Karena demi apapun, Yixing selalu menceritakan masalah yang terjadi padanya. Apa pun itu. Sosok siswa pendiam itu bertransformasi menjadi sosok paling cerewet dalam hidup seorang Sehun -mengalahkan sosok ibunya tentu- ketika mereka tengah bersama.

Tentu saja dengan perilaku Yixing yang sekarang ini membuat Sehun khawatir kelewat batas.
Yang ia inginkan sekarang adalah seorang Yixing yang merengek padanya kemudian menjelaskan semuanya dengan panjang lebar.
Bukan seorang Yixing yang memilih untuk memendam sendiri masalahnya. Dan jangan lupakan juga tentang 'wajah tanpa jiwa'nya yang sedari tak menunjukkan perubahan yang berarti.

Kesimpulannya adalah, Sehun ingin agar ia menjadi bahu sandaran bagi Yixing saat ini. Lagi lebih tepatnya. Sama seperti sebelum-sebelumnya selama ini.

Dan pada akhirnya, Sehun hanya bisa berkata,
"Ayo kembali ke kelas, hyung. Sebentar lagi bel berbunyi".

Ia menggenggam satu tangan Yixing. Dua jari-jemari yang sama sama berwarna kulit putih pucat itu saling bertautan. Sang pemilik tangan satunya -yang posisinya kini tengah digenggam-, hanya mengikuti melangkah pergi bersama seseorang itu.

Kaki-kaki mereka melangkah beriringan menuju ruang kelas mereka.
Sehun mengantar Yixing terlebih dahulu untuk masuk ke kelasnya.

"Nanti aku akan ke apartement mu, hyung. Jangan sampai kau hanya menyiapkan segelas air putih untukku".

Sehun berusaha untuk bercanda. Meski -masih tentunya- dengan wajah flat khas tsundere miliknya itu.
Dan Yixing hanya tertawa renyah untuk membalas canddannya tadi.

Sehun kembali melangkahkan kaki jenjangnya untuk menuju ke ruang kelasnya. Sesaat setelah ia hampir sampai, ia merasa jika bahunya menabrak bahu seseorang yang lain.
Hei, padahal ia yakin ia berjalan dengan baik dan benar menurutnya.

Ingin memaki, tapi gagal. Ia hanya memiliki firasat jika seseorang ini adalah kakak kelasnya.
Ia memang sosok 'tsundere' seperti yang orang-orang katakan. Tapi bukan berarti ia tak mengenal sopan santun. Camkan itu baik-baik.

Merasa sedikit tak enak, ia pun berusaha meminta maaf.

"M-m maaf, Seonbae".

Sosok itu kini menatap kearahnya. Tinggi badannya hanya sebahu Sehun. Sebuah senyum hangat terukir jelas di wajah yang dipenuhi aura karismatiknya.

"Tidak apa-apa.."

Sosok itu berlalu pergi dengan langkah tenangnya.
Meninggalkan Sehun yang masih terdiam di tempatnya dengan dahinya yang berkerut, berusaha mengingat sesuatu.

Wajah itu..

Seonbaenim yang kemarin di perpustakaan?
.
.
.
.
.
.
.

Bergegas pulang begitu bel sekolah berbunyi.
Setidaknya hal itu lah yang dari tadi ada di benak Yixing.

Bukan seperti sekarang.
Dirinya terjebak diantara kerumunan orang-orang. Hal yang ia benci. Menunggu sesuatu yang bahkan ia tak mengetahuinya untuk apa itu baginya.

Salahkan Baekhyun yang tadi menyeretnya tanpa ampun kemari disertai dengan rengekan memohonnya.
Melakukan perlawanan?
Percuma.
Jangan melakukan suatu hal yang mustahil dan membuang-buang tenaga.
Begitu prinsip Yixing.
Jadi ia hanya bisa pasrah.

Rupanya Baekhyun merengek minta ditemani mendaftar ekstrakulikuler seni musik.
Sedangkan dirinya?
Oh ayolah Yixing benar-benar nol di bidang tersebut. Bahkan sebut saja dia ini buta nada.
Baekhyun terus membujuknya untuk ikut juga. Segala kata-kata pamungkas ia keluarkan untuk meluluhkan hati seorang Zhang Yixing.
Hingga ia berhasil membuat Yixing pasrah untuk kedua kalinya.

"Byun Baekhyun dan Zhang Yixing? Silahkan masuk ke dalam ruangan".

Seseorang memanggil nama mereka. Persis seperti sedang audisi untuk pencarian bakat.

Baekhyun kembali menyeret Yixing. Yixing pun hanya melangkah mengikutinya dengan tampang ogah-ogahan yang tersirat jelas.

Di dalam ruangan itu terdapat beberapa meja yang dijadikan sebagai tempat pendaftaran bagi para calon anggota baru. Tentu dengan setiap seonbaenim di meja tersebut yang memeriksa berkas-berkas formulir.

Ruang musik ini yang bernuansa coklat muda, terlihat begitu tertata rapih dan bersih. Puluhan instrumen musik tertata dengan indahnya.
Baekhyun sesekali memperhatikan dengan matanya yang berbinar.
Yixing masih bertahan dengan ekspresi ogah-ogahan miliknya.

Mereka telah sampai di meja pendaftaran, dengan seorang seonbaenim yang tengah fokus memeriksa berkas formulir milik mereka.

"Jadi..."

Sang seonbaenim mulai berbicara.
Mereka pun menyimak dengan serius.
Dan disaat itu juga terdapat perubahan ekspresi pada wajah Yixing. Tepatnya saat ia melihat wajah seonbaenim tersebut.

"...apa motivasi kalian ingin bergabung dengan kami?".

Ia mengajukan sebuah pertanyaan dengan nada yang ramah. Kemudian ia melihat bergantian dua wajah calon anggota baru di hadapannya itu.

"Aku hobi bernyanyi. Dan tentunya ingin mempelajari lebih dalam tentang musik".

Baekhyun menjawab dengan semangat namun masih dalam nada bicara yang tenang.

"Bagus".
Sang seonbaenim tersenyum hangat padanya.

Hei, aku kira ini akan sulit.
Batin Baekyun berkata.

"Lalu... Bagaimana dengan mu?"

Kini sang seonbaenim menatap Yixing.
Pandangan mereka bertemu. Sedangkan yang ditatap hanya diam membeku tak bergeming.

"Apa kau menyukai musik?"
Seonbaenim kembali bertanya.

Baekhyun segera mendekatkan bibirnya dengan daun telinga Yixing. Berbisik.

"Ayo, hyung. Jawab saja. Jangan gugup".

Nihil. Yixing masih diam tak bergeming.

"Tapi sejak kapan hm?"

Benar-benar suara yang lirih.

Baekhyun tak bisa mendengarnya.

Namun Yixing bisa.

"M-mm maaf... A-aa aku permisi ijin ke toilet".
Yixing tiba-tiba beranjak pergi dari tempat itu.
Meninggalkan dua orang tersebut dengan tampang heran luar biasa.

Dan wajah gugup Baekhyun.

"Tak apa.. Mungkin dia memang 'tak tahan'".

Seonbae itu kembali melanjutkan ucapannya dengan seulas senyum di bibirnya,

"... Ah ya. Kau bisa memanggilku Joonmyeon seonbae".

Baekhyun tersenyum sedikit kikuk.

"Ah.. Ne, Joonmyeon seonbae.."

.

.

.

To be continued

Hai! Pertama-tama izinkanlah aku untuk berterima kasih kepada para pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk sekedar membaca ff sederhana ini ^^

Terutama bagi yang sempat nulis review juga ^^

Wahhh pada penasaran yaa?

Mereka mantanan?

Ada apa sih yang terjadi di masa lalu Yixing?

Hmmm.. jawab tidak yaa.. jawab tidak ya... :v

Jawabnya di kelanjutan chapter-chapternya entar dong ya :v

Terima kasih lagi udah mau luangin waktunya buat baca notes aneh ini :v

Terima Kasih~~~~ ^^

Gomawo :*

Saranghae~~

Wo ai ni~~