Beautiful Accident
Cast: - Zhang Yi Xing
Kim Jun Myeon
Oh Se Hun
Byun Baek Hyun
Park Chan Yeol
And other cast.
Rating: T+
Disclaimer: seluruh cast adalah murni milik agensi terkait dan tentunya kedua orang tua mereka. Dan tentunya Tuhan Yang Maha Esa. -Istilah kasarnya sih cuma pinjem nama mereka. Udah gitu ajah.-
Warn! It's YAOI! BL! It's SuLay fanfiction!
Tata bahasa yang tidak sesuai dengan EYD dan bahasa yang bercampur aduk menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga terciptalah semangkuk es campur /eh/.
Chapter 3
...
Seoul, 19 April 2014
Angin musim semi begitu terasa menerpa tubuh ringkihku.
Dan tentunya tanpa lelah menabrak pepohonan yang berada di lingkungan sekolahku.
Menerbangkan helaian kelopak bunga sakura dengan warna 'pink'nya yang cantik.
Hari ini...
Hari kelulusan bagi para kakak kelasku.
Tiga tahun sudah mereka mengenyam pendidikan menengah pertama di sekolah ini.
Hingar bingarnya acara perpisahan baru saja usai. Dilanjut dengan mereka yang saling berpelukan, mengikat sebuah janji diantara pertemanan mereka, berjanji untuk tidak melupakan satu sama lain meskipun nanti melanjutkan ke sekolah yang berbeda. Dan jangan lupakan tentang 'mengambil foto bersama sebanyak mungkin selagi bisa'.Terdapat pula beberapa adik kelas yang meminta foto bersama dengan para kakak – kakak kelas yang mereka kagumi. Sebagai bukti kenangan katanya.
Lalu apa yang terjadi dengan diriku?
Seperti biasa...
... menjauh dari kerumunan sebisa mungkin.
Ingin berfoto bersama?
Tentu.
Dengan siapa?
'Dia' tentunya.
Bisakah?
Tidak.
Konyol memang.
Pada kenyataannya aku hanya mampu berdiri di kejauhan dan melihatnya dengan pandangan yang tak dapat diartikan, mungkin. Dapat kulihat dari tempat ku berdri saat ini, ia sedang dikerumuni beberapa adik kelas perempuan yang berebut ingin foto bersamanya.
Maklum sajalah... penyandang gelar siswa teladan ditambah dengan wajah tampannya yang mempesona –menurutku lebih tepatnya-.
Aku masih terdiam persis seperti seonggok patung hingga saat dimana ada seseorang yang menepuk bahuku. Sayangnya bukan sebuah tepukan yang lembut. Setidaknya cukup membuatku meringis kesakitan.
"Hyung, gerbang sekolah sudah dibuka. Kau tidak mau pulang? Acaranya juga kan sudah selesai".
Si bocah albino rupanya.
Eh, ralat.
Dia punya nama tentunya.
Oh Se Hun.
"Kau mengagetkanku tau!". Balasku dengan bersungut-sungut. Dan sambil sesekali mengusap bahuku yang tadi menjadi sasaran dari tangan Sehun.
"Lalu kau mau apa memangnya? Berfoto bersama? Dengan siapa?".
Sehun tak menggubris balasanku tadi rupanya. Dengan wajah datarnya yang selalu seperti biasanya, aku berani menerka bahwa saat ini dia berada diantara rasa penasaran ataukah rasa untuk menyeretku segera pulang bersamanya.
"Konyol! Memangnya siapa coba yang mau aku ajak foto bersama?"
Ekspresiku masih belum menunjukkan bahwa ada kenaikan mood.
"Ada".
Eh?
Dengan segera aku menatapnya dengan mata berbinar. Oke, aku cukup penasaran.
"S-ss.. sia...-"
"Aku".
Sialan!
Belum juga aku menyelesaikan perkataanku, ia sudah nyeletuk duluan. Masih dengan wajah datarnya yang ingin aku hajar rasanya.
Harusnya aku sudah tau bakal seperti ini jadinya.
PLETAAKKK
"Ahrgghh!".
Aku tersenyum puas setelah melihat wajah datar makhluk albino itu kini meringis kesakitan. Ini terjadi karena aku dengan sengaja mendaratkan satu jitakan di kepalanya.
SREETTTT
Dengan segera satu tanganku meraih belakang kerah kemeja seragam sekolah Sehun. Mengajaknya –err, lebih tepatnya menyeretnya paksa- untuk pulang sekarang juga. Ini lebih baik dari pada nanti aku yang kena aksi seret paksa ini.
"Ayo pulang!".
"Y-yyy- Yaaak! Hyung! Jangan seret aku seperti anak kucing gini dong!".
"Berisik! Kau memang kucing albino yang genit tau!"
"Arrrrgghhh lepaskan aku kuda unicorn berhati iblis! Yaaakkk!"
...
Aksi seret paksa ini baru usai ketika kami telah benar-benar keluar dari gerbang sekolah. Keadaan kembali tenang. Yang dapat orang-orang liat saat ini dari kami adalah dua bocah berumur 15 tahun yang sedang pulang sekolah bersama sambil mengobrol hal ini dan itu.
"Oh ya. Kau tidak ingin berfoto bersama dengan seseorang yang pernah kau ceritakan padaku itu?"
Aku terdiam cukup lama untuk menjawab pertanyaan itu. Namun bukan berarti aku juga tak ingin menjawabnya. Yaa, hanya saja... ah entahlah.
"Hyung?"
Sehun kembali bersuara.
"Err.. jadi begini. Sebenarnya aku pernah foto bersamanya satu kali. T-tt tapi... itu jadi terasa aneh".
Jawab ku dengan ragu-ragu. Lengkap dengan gerakan tanganku yang menggaruk tengkuk ku yang padahal tak terasa gatal.
"Eh?! Benarkah? Kenapa ?"
Sehun menujukkan ekspresi antusias level tinggi di wajahnya.
"Y-yyeaahh... itu terjadi saat kami lomba bersama tahun lalu. Itu karena... errr... duh bagaimana ya mengatakannya...Hmm Oke. Itu karena tinggi badannya hanya setelingaku".
Hening.
Sehun pasang tampang cengo rupanya.
"MWO?! (apa?!) Pfffttt...mmpp.. M-MMMBUAHAHAHAHHAHAHAHHAA!"
Tawa Sehun meledak sempurna. Hmmm sudah kuduga.
Tapi memang benar. 'Dia' itu pendek! Kkkkkkk~
.
.
.
.
.
.
Seoul, 13 Agustus 2015
"Satu..."
"Dua..."
*1 menit kemudian
"Empatpuluh empat..."
"Empatpuluh lima..."
"Xing... waras?"
"Huh?"
PLETAAKKK
"AWWW..!"
Yixing meringis kesakitan sebagai bentuk respon terhadap jitakan biadab tadi yang asalnya dari makhluk bertubuh mungil di hadapannya.
"APA SIH BAEK!?"
Teriakan cempreng khas Yixing mengalun indah hingga sempat mencuri perhatian dari para penghuni lapangan olahraga saat ini.
"Nah kan.. Kalo ga 'dipencet' gini ya ga akan bunyi".
Hasdfghjklzzzz ini makhluk ngomomng bahasa apa sih!?
Batin Yixing berteriak.
"Lagian kenapa sih kau ini? Ada yang tak beres sejak kemarin. Nah sekarang? Mau sampai kapan kau menghitung daun jatuh begitu? Sampai SuperJunior rilis lagu dangdut?"
Baekhyun memulai acara 'menceramahi seorang Zhang Yi Xing'nya secara panjang kali lebar. Ia tak keberatan disebut cerewet atau pun mulut ibu-ibu di pasar ikan. Ia hanya tak tahan dengan tingkah laku sahabatnya yang... oke Yixing memang aneh, tapi bayangkan 3 hari ini ia menjadi sangat aneh. Yixing yang aneh saja sudah absurd, apalagi kalau sangat aneh? Ini yang membuat Baekhyun horn-... eh horror.
"Tahu tidak? Aku kemarin sangat panik saat kau tiba-tiba dengan seenak bokongmu keluar dari ruang musik. Untungnya Junmyeon seonbae orangnya pengertian".
Baekhyun sepertinya masih berniat melanjutkan aksi cerewetnya tanpa memperhatikan wajah Yixing barang sedetikpun.
Jelas-jelas wajah Yixing menunjukkan adanya perubahan ekspresi yang signikfikan.
Detik berikutnya ia menghela nafas dengan malas.
"Hentikan Baek..."
"Iya aku tahu mungkin kamu memang kebelet, tapi tolong ditahan sebentar kan bisa. Bisa jadi Junmyeon seonbae salah paham, gimana?"
"Baek-..."
"...coba kalau Junmyeon seonbae bukan orang yang pengertian, mungkin bisa mati ditempat aku! Xing, jadi gini-..."
"Baek cuku-..."
"...sopan santun lah sedikit. Bersyukurlah kemarin yang menginterview kita Junmyeon seonbae. Coba bayangkan saja jika kita dapat seonbae yang galak!? Xing, seharusnya..."
"Yaaa Byun hentik-..."
"...iya sih memang Junmyeon seonbae itu bisa dibilang pendek boncel bantet yaa apa pun itu lah jika dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Tapi kan tetap dia kakak kelas kita. Jadi-..."
"YAAAKKKK BRENGSEK! KAU TULI HAH!? KUBILANG HENTIKAN CELOTEHAN DARI MULUT SIALAN MU ITU!".
Hening seketika.
Seluruh penghuni lapangan olahraga saat itu yang tak lain adalah teman-teman sekelas Yixing (saat ini adalah jam pelajaran olahraga), seketika juga menghentikan kegiatan mereka masing-masing. Hanya untuk menoleh memperhatikan sejenak seseorang yang menjadi sumber dari teriakan laknat tadi.
Beberapa dari mereka bahkan terkejut luar biasa. Tak terkecuali juga Chanyeol yang mngehentikan aktivitas bermain sepak bolanya bersama kawan-kawannya yang lain.
"Heol! Bukankah itu Yixing alias Lay? Si anak dari China itu kan?"
"Heol daebak! Bukannya dia siswa pintar + pendiam ya? Bisa juga dia memaki orang. Hahaha!".
Beberapa siswa-siswi mulai berbisik-bisik tak karuan.
Dan jangan tanya apa yang Chanyeol lakukan di detik selanjutnya. Ia segera berlari menuju dua makhluk bergender sama yang kelebihan hormon itu yang berada di tepi lapangan, dibawah sebuah pohon rindang lebih tepatnya. Persetan dengan permainan sepak bolanya tadi. Ia tak ingin mati penasaran hanya karena tak mengetahui sama sekali persoalan dua sahabat absurdnya itu.
Kembali pada Yixing dan Baekhyun.
Baekhyun cengo luar biasa.
Bukan karena Yixing yang tiba-tiba berdiri dari posisi duduk jongkoknya tadi.
Tapi ini tentang Yixing yang tiba-tiba memakinya disertai dengan ekspresi wajah yang terbakar emosi luar biasa.
"Aaa... aaa... sebentar. Apa kau baru saja memaki ku?! HEOL! SIALAN KAU!".
Baekhyun tak mau kalah tentunya. Entah kenapa justru ia merasa lebih emosi daripada Yixing. Mungkin karena sakit hati? Tentu saja. Bisa-bisanya Yixing memakinya padahal ia rasa ia bicara secara baik-baik pada pemuda China tersebut.
"AKU BICARA BAIK-BAIK PADAMU XING! KENAPA KAU JUSTRU MEMAKI KU HAH!?"
"DAN HARUSKAH KAU MENYEBUTKAN NAMA J-U-N-M-Y-E-O-N BERKALI-KALI HAH!?"
Yixing masih terbakar emosi rupanya. Entah mengapa ia merasa muak karena sedari tadi Baekhyun terus-terusan dengan seenak jidatnya menyebut nama yang tak ingin ia dengar untuk sementara waktu ini. bisa-bisanya sahabatnya itu tak peka dengan kondisi moodnya saat ini.
"W..WW- WAH KAU INI MEMANG SESUATU YA! APA MASALAHMU SIH!?"
"YANG ADA ITU APA MASALAHMU MAKHLUK CEBOL!"
Baik itu Yixing maupun Baekhyun, urat-urat otot mulai terlihat di leher dan wajah mereka masing-masing.
"Yaa... apa perlu kita lerai mereka sebelum keadaan semakin memanas?".
"Ah ngapain! Kita lihat dulu saja.. toh urusan mereka".
"Heh kalau mereka jambak-jambakkan gimana?!".
"Mereka cowok please! Masa jambak-jambakan sih mainnya. Tapi iya juga sih. Mereka justru keliatannya jadi dua cewek yang lagi masa PMS'".
"Pffttt-... hahahahahaha".
Sekerumunan siswa yang tak jauh keberadaannya dari lokasi persenteruan antara Baekhyun dan Yixing, justru mulai saling berdebat tak jelas.
"APA KATAMU!? CEBOL!? LALU APA KABAR DENGAN TUBUH RINGKIH CEKING MU ITU HAH!?"
"APA!? SIALAN FFFF****CCCKKK BRENGSEK KAU!".
"STOOOOOOPPPPPPPPPPPPPP!".
Baekhyun dan Yixing terbungkam sejenak oleh suara teriakan bass milik sang 'tiang listrik'.
Chanyeol datang tepat waktu kali ini. Telat 1 detik saja, maka terjadilah aksi jambak-menjambak rambut seperti yang dibicarakan tadi. Dengan sigap, ia memisahkan sejauh mungkin yang ia bisa dua makhluk yang sudah mengambil ancang-ancang untuk saling menjambak rambut lawannya itu.
"Oke! Mari kita selesaikan ini dengan kepala dingin... ada apa huh? Apa masalahnya?".
"Tanyakan saja pada pacar cebol kesayanganmu itu, Yeol!".
Bara api amarah Yixing belum juga meredup.
"Heh yang ada itu kau yang bermasalah!".
Nihil. Baekhyun juga masih tak mau kalah dari Yixing.
Chanyeol garuk-garuk kepala frustasi.
Ampun dah ini dua biji absurd kenapa sih!
Batin Chanyeol ngedumel.
"Zhang Yi Xing! Byun Baek Hyun! Bersyukurlah aku yang datang kesini. Menurut kalian bagaimana jadinya jika yang kesini adalah Kim songsaenim hah? Bisa habis kalian diseret ke ruang BK! Dan jangan bilang kalau ini hanya karena hal sepele?!".
"Sudahlah! Aku mau ke toilet! Dan kalian! Bisa-bisanya kalian bicara banmal (*informal) padaku?! Aku ini tetap lebih tua 1 tahun dari kalian, bodoh! Jadi.. siapa disini yang tak tahu sopan santun, hah!? Perlu aku belikan cermin untukmu tuan Byun!? HA!".
Yixing langsung beranjak pergi dari TKP.
"ASDFGHJKLZZZZ YAAKKK!".
"Aa... aaa- Aaaa tunggu dulu! Yixing hyung! Baek sudah Baek-... Yixing hyung~! Lay hyung~!".
"Issshhh sudahlah Yeol! Biarkan saja! Biarkan si kuda jadi-jadian itu mendinginkan kepalanya di toilet! Aawggrrhhhhh ini benar-benar mengesalkan!".
"Sudah Baek...! sekarang... tenangkanlah dirimu dulu... oke?"
Chanyeol masih mencoba berusaha meredam amarah sang pacar kesayangan.
Sementara itu...
Hancur sudah mood Yixing.
Satu-satunya hal yang ia syukuri adalah tidak adanya keberadaan Kim songsaenim, guru olahraganya. Beliau sedang ada keperluan penting, begitu sih katanya.
Dan satu hal yang ia sangat benci tengah terjadi saat ini juga. Saat ia menjadi pusat perhatian orang banyak.
.
.
.
.
.
.
Di lain tempat namun masih di waktu yang sama, terdapat seorang siswa yang tengah terduduk di dekat jendela kelasnya yang berada di lantai 3. Entah sudah berapa menit yang ia habiskan untuk menatap lapangan olahraga yang kebetulan terletak tepat di bawah sana. Dan entah siapakah seseorang yang ia perhatikan saat itu juga.
"Eoh?".
Ia mengerutkan dahinya. Lalu ia sejenak melihat arloji hitam elegan yang melekat ditangannya.
"Jam pelajaran olahraga masih lama berakhirnya. Kenapa ia sudah meninggalkan lapangan duluan?"
Siswa itu bergumam sendiri. Kembali ia memperhatikan seseorang itu lagi.
"Aku tahu kau tak suka pelajaran olahraga. Tapi ya... bisalah jangan begitu.."
Kembali ia bergumam.
Tanpa sadar teman sebangkunya sedari tadi memperhatikan tingkah laku agak anehnya itu.
Seorang siswa berkacamata dengan frame kotak hitam tebal, dan bentuk rahang wajahnya yang tegas, semakin menambah kesan 'kotak' di wajahnya itu.
"Heh! Lagi apa sih?".
Si wajah 'kotak' itu menepuk bahu temannya itu.
"Aaaak..! mengagetkan saja kau ini!".
Si siswa tadi cukup terkaejut dari acara 'diam-diam memperhatikan seseorang'nya itu.
"Lagian kau ini dari tadi sedang apa sih? Bicara dengan angin? Mentang-mentang ini jam kosong begitu? Aku tahu kau jomblo. Tapi ga usah gitu juga bisa kan?".
"Hasdfghjkzz... terserah lah apa katamu, Kim Jong Dae".
Ia terlihat tak berminat meladeni candaan sobat karibnya itu.
*Sreeettt...
Suara bangku berdecit. Menandakan sang empu beranjak berdiri.
"Yaa.. yaa... mian~ jangan ngambek gitu dong~".
"..hhh hah...".
Si siswa tadi memutar bola matanya malas.
"Siapa juga yang ngambek.. aku mau ke ruang musik. Ada sesuatu yang tertinggal di sana".
Ia beranjak pergi ke luar kelasnya. Meninggalkan temannya begitu saja, yang diketahui bernama Jongdae itu.
"Hmmm.. memangnya siapa sih yang dia perhatikan dari tadi? Sampe bikin salah tingkah gitu".
Jongdae cukup penasaran rupanya. Ia kemudian mendekatkan dirinya ke jendela, lalu melihat-lihat pemandangan di bawah sana.
"Huh? Kalau gak salah, itu kan anak-anak kelas 1 – 3. Wah dia seleranya adik kelas ya rupanya... hihihihihi".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Splasshhh
"Bb..bwaahhhh..! kau gila Zhang Yi Xing! Sadarlah~ sadarlaaahhh~".
Yixing tengah membasuh wajahnya di wastafel sambil menatap pantulan wajah pas-pasan miliknya itu di cermin.
Jujur saja ia juga masih tak percaya dengan kejadian tadi. Makian. Umpatan. Kata kasar. Semuanya keluar begitu mudahnya dari bibir berwarna merah muda miliknya itu. Dan catat baik-baik, ia bahkan hampir saling menjambak tadi dengan Baekhyun.
Selama 17 tahun ia hidup, baru kali ini ia melakukan hal ekstrim semacam itu. Apalagi di tempat umum.
Selama ini jika ia marah, ia hanya sebatas berdiam diri. Menahan emosi sebisa yang ia bisa.
Mungkin memang benar kata orang-orang.
Marahnya orang diam akan jauh lebih menyeramkan daripada orang yang memang pemarah.
*Tiiinnngggg~
Terdengar nada notifikasi dari HP milik Yixing. Segera ia mengeluarkan benda elektronik berbentuk persegi panjang itu dari saku celana olahraganya.
1 message from Hun
Pulang sekolah nanti tunggu aku di gerbang sekolah ya hyung. Kita pulang bareng. Dan temani aku main di rumah. Orang tua ku sedang pergi. Tenang saja, ada banyak makanan kok. Oke?
Yixing tersenyum sebentar sebelum akhirnya mengetik pesan balasan.
"Ck... kenapa sih kau selalu ada di waktu yang tepat...?".
.
.
.
.
.
.
.
Yixing melangkahkan kakinya dengan malas. Berulang kali pula ia menghela nafas.
Hingga kemudian ia berhenti tiba-tiba.
"Aaahhhhh jinjja~! Aku benar-benar tak ingin kembali ke lapangan! Ah... eotteokkee~".
Yixing menggaruk kepalanya dengan frustasi.
"Eoh?".
Ia menghentikan kegiatan mengeluhnya tadi dan melirik sebentar pada sesuatu di sekitarnya.
Dan ia pun menyadari satu hal.
Rupanya ia berhenti tepat di depan ruang musik.
Ruangan itu tampak sepi sekali. Sepertinya tak ada siapapun didalam.
Entah setan apa yang merasuki Yixing, ia langsung mengintip sebentar di pintu.
Tengok kanan.
Tengok kiri.
Aman...
Batin Yixing bicara meyakinkan.
Jangan tanyakan kenapa ia tiba-tiba sangat ingin masuk ke ruangan tersebut. Ia pun tak tahu alasannya. Hanya ingin masuk saja. Begitu katanya. Toh tak ada siapapun.
Tap..
Tap...
Langkah demi langkah, Yixing mulai memasuki ruang musik itu. Dan setiap langkah itu, entah mengapa kedua kakinya serasa menuntunnya untuk mendekati sebuah piano yang terletak di dekat jendela.
Sepertinya ia akan memainkannya.
Meskipun masih terdapat keraguan di raut wajahnya. Dan ketika ia menatap barisan tuts piano itu, terdapat kesenduan di mata sayunya.
Seolah berkata :
Apakah aku bisa?
Apakah aku masih memiliki kesempatan?
Sampai akhirnya ia pun mulai mengerakkan jari-jemari lentiknya dan menekan satu persatu tuts piano tersebut. Mengalunkan beberapa nada yang terkesan mellow.
Tanpa sadar, Yixing terlarut dalam permainan pianonya.
Hingga seseorang tiba-tiba muncul dari ruangan penyimpanan yang terdapat di pojok ruang musik tersebut.
Ia tersenyum tipis. Dan wajah yang terkesan... tampan.
Kemudian berjalan perlahan mendekati Yixing.
"River flows in you?".
Tepat saat seseorang tadi berbicara, saat itu pula Yixing mengehentikan permainannya.
Jemarinya bergetar hebat.
Bukan karena takut setelah ketahuan masuk diam-diam.
Tapi lebih karena ia mengetahui suara siapa itu, seseorang yang kini ada di belakangnya.
Ia menengok perlahan ke arah belakang.
Hanya ingin memastikan ia benar atau salah.
Dan sayangnya ia benar.
"J-jjj... Junmyeon s-ss...ss seonbae?".
Shit. Hanya menyebut namanya saja sudah membuat lidahnya kelu luar biasa.
Si seonbae itu lagi-lagi tersenyum tipis.
"Ne, ini aku. Kau masih mengenaliku ya. Syukurlah..".
Jangan tanyakan bagaimana keadaan Yixing saat ini.
Keadaan yang sama seperti saat seekor ayam akan dipotong.
"A... aaa- anu... Eeeuuuuu... M-mmm..mm maaf... s-sss.. seonbae...".
Yixing menunduk dalam. Ia lebih memilih menatap lantai ruangan ini daripada harus menatap langsung Junmyeon.
"Kau itu sebenarnya suka dengan musik kan? Kau bahkan bisa menguasai beberapa jenis alat musik dengan baik. Tapi kenapa justru kau berlagak buta nada dan 'nol' dalam hal musik? Menutupi bakat itu tak baik...".
Yixing terkejut luar biasa.
Benarkah orang dihadapannya itu berkata seperti itu? Ah bukan. Lebih tepatnya benarkah ia berbicara padanya? Pada seorang Zhang Yi Xing?
Yixing menatap heran pada Junmyeon. Berharap sang seonbae peka bahwa ia saat ini benar-benar terkejut dengan perkataannya tadi.
Kenapa kau seolah-olah tahu apa pun tentang diriku?
"Apa salah jika aku tahu sedikit tentang dirimu? Kan kau juga hoobae ku saat di junior high school".
Yixing kembali terkejut.
Heol! Apa dia bisa membaca pikiranku?!
Sang seonbae benar-benar mengunci pandangannya. Ia juga tak dapat berkata apapun. Mulutnya terasa kaku dan mati rasa.
Dan Junmyeon kembali tersenyum kepadanya.
Oh demi celana dalam goblin!
Insiden macam apa lagi ini..?
Aku harus bagaimana..?
.
.
.
To be continued...
Hai readers~ lama tak jumpa T_T
Maaf ya baru update sekarang ini ff udah ditinggalin berapa abad coba? :'3
Jujur aja karena ini ff pertama yang akhirnya aku publish secara umum, jadi tolong maklumilah karya amatiran ini yaa.. :'D
Terimakasih banyak yang untuk yang sudah kasih review ^^
Review adalah hal yang paling berharga bagi seorang author ff amatiran cem aku gini :'v
Neomu neomu gomawo~~~~~~
*salam SLHS INA :*
EXO saranghaja~~~
