My Precious Woman
.
.
.
A Remake from Kyumin's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place
Cast :
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Warning : a Genderswitch FF, Mature Content
.
.
.
Begitu sampai di kamarnya, Kyungsoo menangis keras. Sejadi-jadinya. Yah, siapa yang tidak menangis jika kesuciannya direnggut orang? Apalagi orang itu adalah orang yang dibenci.
Kyungsoo melangkah menuju kamar mandi dan membuka keran air. Kemudian ia duduk di lantai kamar mandi dan membiarkan dirinya tersiram air yang mengalir dari keran itu. Wajahnya ikut basah tersiram air, menyamarkan airmatanya yang juga mengalir deras.
Hatinya sakit, sakit sekali. Ia merasa kotor. Di kepalanya terngiang wajah sang Eomma, dan juga pesan untuk gadis itu.
'Kau harus bisa menjaga dirimu, Kyungsoo-ya. Karena Eomma tidak bisa lagi menjagamu.'
Pesan yang sangat berarti untuk Kyungsoo, karena tak lama setelah mengucapkan pesan itu sang Eomma pergi meninggalkannya. Pergi untuk menghadap Yang Maha Kuasa.
'Maafkan aku , Eomma. Aku tidak bisa menjalankan amanatmu dengan baik. Aku sudah kotor sekarang. Apa yang harus aku lakukan, Eomma?'
Setelah mengguyur diri berjam-jam lamanya, perlahan Kyungsoo bangkit. Tak dipedulikannya kulitnya yang nyaris membiru kedinginan. Ia melangkah ke kamar mungilnya dan berganti pakaian. Kemudian Kyungsoo menjatuhkan dirinya diatas kasur, dan mulai memejamkan matanya yang terasa berat dan bengkak. Berharap ketika terbangun nanti ia akan baik-baik saja dan semua kejadian ini hanyalah mimpi.
.
.
.
Rasanya baru beberapa menit Kyungsoo tertidur, namun kini ia terpaksa bangun. Dering ponselnya yang nyaring membuatnya mau tak mau membuka mata. Nomor tak dikenal muncul dilayar ponselnya. Kyungsoo berniat mengabaikannya, tetapi kelihatannya si penelepon tak menyerah. Kyungsoo ragu-ragu menekan tombol untuk menjawab.
"Yeoboseyo?"
Astaga, suaranya bahkan sampai serak seperti ini?
"Do Kyungsoo."
Kyungsoo membeku. Bahkan ketika mendengarnya melalui telepon seperti ini, Kyungsoo masih mengingatnya dengan baik. Suara bass dengan nada rendah itu. Kyungsoo mendudukkan dirinya secara mendadak.
"Aaakh!"
Tanpa sadar ia mengerang pelan. Bagian pinggang ke bawahnya terasa sakit, ngilu sekali.
"Do Kyungsoo, kau baik-baik saja?"
Suara bass itu terdengar lagi dari seberang sana. Kyungsoo tersentak mendengar suara itu lagi, ia memandang ngeri layar ponselnya. Dengan cepat ia memutuskan sambungan teleponnya.
"U-untuk apa dia meneleponku? Apa masih belum cukup dia menyakitiku?" gumam Kyungsoo ketakutan.
Ponselnya yang kembali berdering membuat Kyungsoo terlonjak. Tanpa mengangkat ponselnya, Kyungsoo melihat siapa yang meneleponnya sekarang. Nomor yang tadi lagi.
Kyungsoo semakin ngeri, kemudian ia meraih ponselnya dan melepas baterai didalamnya. Gadis itu kembali membaringkan tubuhnya yang terasa sakit dengan perlahan.
Ternyata semuanya bukan mimpi. Rasa sakit ditubuhnya terasa nyata, ditambah orang yang meneleponnya barusan. Kyungsoo menarik selimut tipisnya yang sudah usang, memakainya untuk menyelimuti tubuhnya yang menggigil. Kyungsoo kembali memejamkan matanya, mencoba kembali tidur walaupun dibayangi ketakutan.
Kyungsoo diam-diam merasa menyesal karena sudah menantang seorang Kim Jongin. Katakanlah ia naïf, karena nyatanya Jongin sudah membalasnya sekarang. Hal ini membuat tidur Kyungsoo tidak tenang, karena ia terus mendengar suara bass itu didalam tidurnya. Memanggil-manggil namanya dengan nada rendahnya yang biasa.
"…Kyungsoo…"
Kyungsoo semakin gemetar, walaupun matanya masih terpejam. Ya Tuhan, enyahkan suara pria itu dari kepalanya!
"…Kyungsoo…"
Suara itu terdengar nyata, seakan Kim Jongin sedang berada disampingnya saat ini.
"Do Kyungsoo! Kau mendengarku?"
Kini Kyungsoo merasa seseorang menepuk-nepuk pipinya. Kyungsoo merasa makin menggigil, dan akhirnya ia membuka mata untuk memastikan mimpinya. Matanya terasa berat dan panas, membuat pandangan matanya memburam. Kyungsoo mengerjap sesaat.
Wajah pria itu memenuhi pandangan mata Kyungsoo, dan yang tadi menepuk-nepuk pipinya ternyata adalah dia. Kyungsoo membelalak ngeri. Kim Jongin ternyata benar-benar ada disini, di kamarnya yang sempit. Lagi-lagi Kyungsoo mencelos karena tahu ini bukan mimpi. Kim Jongin membungkuk di atas kasurnya, ekspresi wajah pria itu tak terbaca.
"K-kau…"
Kyungsoo kehabisan kata-kata. Jantungnya berdegup kencang. Apa ini adalah saat terakhirnya untuk hidup dan melihat dunia? Jangan salahkan Kyungsoo berpikiran yang tidak-tidak, karena bukan tidak mungkin 'kan Kim Jongin akan menghabisinya sekarang?
"Do Kyungsoo, kau demam."
Tangan Jongin terulur mengusap keringat dingin di sekitar wajah Kyungsoo. Membuat gadis itu tersentak dan malah makin menggigil.
"K-keluar… Keluar dari sini, Kim Jongin…"
Suaranya serak dan tenggorokannya sakit ketika berbicara. Tetapi Kyungsoo masih sanggup melayangkan tatapan bencinya pada Jongin.
Jongin menatapnya sejenak, sebelum akhirnya melepas jas hitam yang dipakainya dan memakaikannya ditubuh Kyungsoo yang menggigil. Mata tajam Jongin melirik selembar selimut tak layak pakai yang menutupi separuh tubuh Kyungsoo.
"Ikut aku." Ucap Jongin pendek.
Tanpa banyak kata lagi, Jongin menarik tubuh Kyungsoo hendak membopongnya. Tetapi gadis itu menolaknya dengan keras. Kedua tangannya berusaha melepas jas Jongin yang melingkupi bahunya.
"Kubilang keluar dari sini!"
Kyungsoo berusaha berteriak walaupun hal itu membuat tenggorokannya semakin sakit. Kyungsoo memaksakan dirinya bangun. Ia berusaha keras menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, karena tubuhnya benar-benar terasa remuk. Ia menatap Jongin dan tangannya terangkat menuding ke arah pintu keluar.
Tetapi Jongin mengabaikannya. Pria angkuh itu malah mendekati Kyungsoo lagi dan kembali memasangkan jasnya di tubuh ringkih Kyungsoo.
"Apa kau tidak dengar?! Kubilang keluar, dan aku tidak akan ikut denganmu!"
Kyungsoo mendorong Jongin, yang tidak berpengaruh apapun. Pria itu malah menangkap tangan Kyungsoo dan mencengkeramnya erat.
"Ikut denganku!"
"Tidak akan! Aku tidak-"
Ucapan Kyungsoo terputus saat tangan Jongin terangkat menuju tengkuknya dan menyentuh titik lemahnya disana. Dalam sekejap tubuh Kyungsoo limbung ke arah Jongin. Dengan sigap Jongin mendekap tubuh yang menggigil itu.
Mata Kyungsoo sudah terpejam lagi. Keringat dinginnya keluar membanjiri keningnya. Wajahnya pucat, nyaris tidak berwarna. Jongin menatap wajah itu sejenak, sebelum akhirnya membawa Kyungsoo dalam gendongannya dan keluar dari apartment mungil Kyungsoo.
.
.
.
"Dia hanya demam biasa, walaupun suhunya cukup tinggi. Sepertinya dia juga mengidap anemia, jadi kusarankan agar dia meminum obat penambah darah ini."
Jongin hanya mengangguk mendengar penjelasan Joonmyeon, Kim Joonmyeon. Dokter sekaligus teman dekatnya.
Walaupun mengangguk tetapi mata Jongin tak lepas menatap sosok mungil yang kini terbaring di ranjangnya. Ekspresi wajahnya masih saja datar, tidak terlihat emosi apapun disana. Ia hanya menatap sosok gadis itu.
Joonmyeon ikut menoleh, mengikuti arah pandang Jongin.
"Kekasih barumu? Cantik. Tetapi baru kali ini kau memanggilku untuk memeriksa kekasihmu. Biasanya kau hanya peduli dengan service malam mereka."
Jongin masih saja tak mengalihkan pandangannya.
"Aku baru saja memperkosanya. Beberapa jam yang lalu."
Mata Joonmyeon melebar mendengar ucapan Jongin.
"Memperkosa? Bukankah biasanya gadis-gadis itu yang gigih ingin tidur denganmu?"
"Tetapi dia berbeda." Sahut Jongin cepat.
Joonmyeon termangu mendengarnya. Dipandanginya Jongin dan gadis yang terbaring di ranjang itu bergantian. Memang sepertinya ada sesuatu, Joonmyeon bisa merasakan itu.
"Apa orang yang baru saja kau perkosa bisa kau sebut sebagai kekasihmu?"
Tiba-tiba Jongin membuka suaranya. Pria Kim itu sedang menatapnya. Memang wajahnya masih saja datar tanpa ekspresi, tetapi Joonmyeon tahu Jongin sedang membutuhkan pendapatnya.
"Apa kau mencintainya?"
Joonmyeon bertanya balik kepada Jongin. Tetapi Jongin diam.
"Baiklah, mungkin bukan urusanku jika menyangkut perasaanmu. Tetapi, jika hatimu merasakan perasaan aneh untuknya, mungkin bisa dibilang… kau jatuh cinta."
Joonmyeon menjelaskan kemudian mengangkat bahunya sekilas. Jongin termenung mendengar penjelasan sahabatnya.
"Baiklah, aku masih ada pekerjaan. Aku pergi dulu, jangan lupakan obatnya. Pastikan kekasihmu itu meminumnya. Oh satu lagi, sediakan makanan hangat untuknya. Itu lebih baik. Sampai nanti."
Joonmyeon menepuk bahu Jongin dan melangkah keluar dari kamar luas itu. Meninggalkan Jongin yang berdiri mematung di sisi ranjangnya.
.
.
.
Jongin melangkah mendekati ranjang dan mengamati wajah pucat Kyungsoo. Pandangan matanya turun menelusuri tubuh Kyungsoo. Alisnya sedikit mengernyit saat menyadari baju tidur yang dipakai Kyungsoo. Gaun tidur sederhana itu sudah tidak pantas dipakai, setidaknya menurut Jongin. Dengan bagian leher dan lengannya yang sudah ada sedikit robekan, dan lagi baju itu sudah sangat tipis. Mungkin lebih pantas dijadikan lap di dapurnya yang mewah. Ah, bahkan untuk menjadi lap dapurnya saja tidak pantas.
Jongin jadi teringat keadaan apartment mungil Kyungsoo tadi. Tunggu, rasanya apartment juga tidak layak disebut ditempat itu. mungkin lebih tepatnya… rumah susun? Entahlah, Jongin tidak begitu mengerti istilah masyarakat "bawah".
Jongin memusatkan lagi perhatiannya pada wajah Kyungsoo. Tangannya terulur, menyentuh pipi gadis itu lembut.
"Apa yang sudah kau lakukan padaku, Do Kyungsoo? Kau berhasil membuatku tidak karuan seperti ini."
Jongin berbisik pelan, kemudian menarik bedcover tebalnya dan menutupi tubuh Kyungsoo rapat. Pria itu bahkan tidak beranjak sedikit pun dari ranjangnya. Ia terus duduk disana, diam memandangi wajah Kyungsoo. Merenungi kejadian beberapa jam yang lalu. Rasanya baru kali ini Jongin memperawani seorang gadis. Biasanya semua gadis yang sudah tidur dengannya itu sudah sering 'dipakai'. Yah mereka memang cantik dan berkelas, tetapi mereka benar-benar jalang.
Entah berapa lama waktu berlalu, yang jelas kini Jongin melihat Kyungsoo mulai bergerak-gerak gelisah. Kelopak mata gadis itu bergetar sesaat, sebelum kemudian terbuka sedikit demi sedikit.
"Kau merasa lapar?"
Lagi, suara bass itu masuk kedalam pendengaran Kyungsoo. Ia langsung tegang dan menoleh ke samping, dimana Jongin duduk dan sedang menatapnya.
"K-Kim Jongin… apa… ini dimana?" racau Kyungsoo.
"Ini kamarku, Do Kyungsoo."
Tangan Jongin maju dan meraba kening Kyungsoo. Masih sedikit panas.
"Sekarang kau makan dulu." Ucap Jongin sambil mengangsurkan semangkuk sup hangat yang sudah disiapkan pelayannya.
Kyungsoo perlahan duduk. Ia meringis dan menggigit bibir bawahnya saat merasakan bagian bawahnya berdenyut nyeri. Ngilu sekali.
Ia tersentak saat tangan Jongin membantunya duduk. Pria itu menyingkirkan bedcover yang menyelimuti tubuh Kyungsoo. Tangan Jongin melingkari tubuh Kyungsoo, tetapi gadis itu menepisnya.
"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Kyungsoo serak. Ia mengelus tenggorokannya yang sakit.
"Karena kau sakit."
Kyungsoo menatap Jongin dengan mata yang sedikit berair, efek dari demamnya.
"Apa pedulimu aku sakit atau tidak?"
"Aku peduli, oleh sebab itu aku membawamu kesini dan memanggilkan dokter untukmu."
"Aku tidak butuh rasa pedulimu yang palsu, Kim Jongin. Manusia sepertimu tidak mungkin memiliki rasa peduli."
"Kalau aku tidak peduli, mana mungkin aku datang ke gubukmu itu dan membawamu kesini?"
Kyungsoo menatap Jongin sengit.
"Rumahku bukan gubuk! Lagipula aku tidak memintamu datang kesana!"
Jongin hanya mengangkat bahunya.
"Aku mau pulang."
"Tidak akan. Lebih baik kau makan sekarang."
Kyungsoo menatap Jongin sengit. Ia menatap semangkuk sup yang tadi diangsurkan Jongin. Lalu kembali menatap Jongin.
"Kau mau mencoba membunuhku? Bagaimana aku tahu jika kau sudah memberikan racun didalamnya?"
"Menurutmu?"
Jongin malah balik bertanya dengan nada santai. Membuat emosi Kyungsoo semakin memuncak.
"Kenapa kau laukan ini kepadaku?"
Mata Kyungsoo kembali berkaca-kaca. Tetapi kali ini bukan karena efek demam, melainkan gambaran kemarahannya. Rasa bencinya kepada Jongin semakin bertumpuk.
Jongin menatap Kyungsoo tajam. Kemudian ia mendekati Kyungsoo hingga gadis itu terhimpit ke kepala ranjang. Kedua tangannya mengungkung tubuh Kyungsoo.
"Aku bisa saja menghabisimu, Do Kyungsoo. Sekarang juga, bahkan dengan tangan kosong sekalipun. Mudah bagiku menghabisi gadis mungil keras kepala sepertimu, tetapi aku masih memikirkan adikku. Dia pasti bertanya-tanya jika tunangannya menghilang begitu saja."
Jongin menekankan kata 'tunangan' dalam kalimatnya barusan. Jujur saja Kyungsoo sedikit bergidik mendengar kalimat Jongin barusan. Tetapi ia tidak mau terlihat takut didepan pria angkuh ini. Jangan biarkan Kim Jongin besar kepala dan merasa diatas angin.
"Kenapa diam? Kau tidak bawel dan berisik seperti tadi, huh?"
Jongin mencoba menantang Kyungsoo. Tetapi gadis itu masih diam, kemudian malah memalingkan wajahnya ke samping.
Jongin kesal melihatnya. Gadis ini benar-benar menjengkelkan. Ia baru saja hendak membuka suaranya lagi, tetapi pandangan matanya tertumbuk pada pipi Kyungsoo yang berada tepat didepan matanya. Pipi mulus itu seakan menggodanya. Mata Jongin bergerak dari pipi Kyungsoo ke telinganya yang sedikit tersembunyi oleh helaian rambut Kyungsoo.
Dari telinga terus turun ke rahang dan leher Kyungsoo, Jongin bisa melihat jelas kulit putih itu. Karena gaun tidur usang yang dipakai Kyungsoo memiliki garis leher yang lebar. Bahkan tulang selangka indah itu terlihat dalam pandangan Jongin, hingga ke jejak kemerahan yang masih nyata tertinggal disana.
Jongin mengatur nafasnya yang mulai memburu. Akhirnya ia memajukan wajahnya dan mengecup pipi Kyungsoo. Membuat Kyungsoo sedikit berjengit merasakan benda lembab dan hangat itu menyapa pipinya. Beberapa detik kemudian Jongin melepas kecupannya dan menjauhi Kyungsoo.
"Makan supmu sebelum dingin. Aku berani jamin kau tidak akan mati jika memakannya."
Dengan langkah yang terkesan cuek Jongin meninggalkan Kyungsoo sendirian, dan keluar dari kamarnya dengan debuman pelan bunyi pintu.
.
.
.
"Huh, hampir saja aku memperkosanya lagi. Sial!"
Jongin memegangi dadanya yang bergemuruh. Setelah menutup pintu kamar, Jongin tidak langsung pergi. Ia berdiri menyandar di pintu kamarnya. Berusaha menenangkan degup jantungnya yang membandel, berdetak sangat kencang.
"Aish, Do Kyungsoo. Kenapa gadis sepertimu bisa membuatku hingga seperti ini?"
Jongin bergumam sendiri, bertanya pada udara kosong.
'jika hatimu merasakan perasaan aneh untuknya, mungkin bisa dibilang… kau jatuh cinta.'
Kata-kata Joonmyeon melintas di kepalanya. Berputar-putar memenuhi pikirannya.
"Benarkah aku jatuh cinta padamu, Do Kyungsoo?"
.
.
.
Jongin melirik ke arah nakasnya, dimana semangkuk sup yang masih nyaris penuh tergeletak disana. Ia mendengus, dilihatnya Kyungsoo meringkuk diatas ranjangnya tanpa menggunakan bedcover.
Langsung saja Jongin menaiki ranjang, dan mulai membenarkan posisi berbaring Kyungsoo.
"Jangan sentuh aku! Lepaskan tanganmu!"
Kyungsoo memprotes, tetapi Jongin mengabaikannya. Ia membaringkan Kyungsoo, kemudian dirinya ikut berbaring dan mendekap tubuh Kyungsoo erat.
"Tidur dengan benar, Kyungsoo."
"Lepas! Aku mau pulang!"
"Apa begini tingkah orang yang sedang demam? Kalau kau tidak makan dan tidur dengan benar, bagaimana kau bisa sembuh?" sembur Jongin.
"Bukan urusanmu aku sembuh atau tidak!"
Jongin melirik lagi ke nakas. Obat yang harusnya diminum Kyungsoo masih utuh disana.
"Kau belum meminum obatmu juga?"
Kyungsoo melengos mendengar suara Jongin. Entah perasaanya saja atau memang ada nada khawatir disana? Ditepisnya pemikirannya tentang suara Jongin, Kyungsoo merasa ia mulai melantur.
"Kau punya anemia, kau harus meminum obat itu sekarang!"
"Bisakah kau hentikan akting sok pedulimu itu? Aku tidak butuh!"
Jongin membalikkan tubuh Kyungsoo dan langsung mencium bibirnya. Kyungsoo membelalakkan matanya tidak percaya. Kedua tangannya mendorong bahu Jongin, tetapi berhubung tubuhnya masih lemah tenaganya tidak cukup kuat. Malah Jongin semakin erat memeluknya.
Bibir Jongin awalnya bergerak kasar dan memaksa, namun lama kelamaan mulai melembut. Keningnya yang menempel dengan kening Kyungsoo bisa merasakan suhu tinggi gadis itu. Bibirnya mencecap pelan-pelan bibir Kyungsoo, kemudian mengulumnya halus.
Kyungsoo merasa aneh, mengapa Jongin malah menciumnya? Dengan lembut dan penuh perasaan pula.
"Sekarang apa kau bisa membedakan aku berakting atau tidak?"
Tanya Jongin pelan setelah melepas tautan bibir mereka. Ditatapnya kedua mata Kyungsoo. Tetapi gadis itu diam dan menunduk, menolak untuk menatapnya.
"Aku akan menyuruh pelayan membawa sup baru, setelah itu minum obatmu. Dan jangan membantah lagi, Do Kyungsoo."
.
.
.
ToBeContinue
Maaf banget ini updatenya telat T.T next diusahain fast update
Jangan lupa review yaa^^
