My Precious Woman

.

.

.

A Remake from Kyumin's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place

Cast :

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Warning : a Genderswitch FF, Mature Content

.

.

.

"Habiskan, Do Kyungsoo!"

Kyungsoo diam tak menjawab, ia nekat menaruh mangkuk sup yang isinya hanya habis sepertiganya saja.

"Kau tidak dengar? Habiskan supmu!"

"Tidak mau! Berhenti mengaturku ini dan itu!"

Kyungsoo menatap Jongin tajam, membalas tatapan kesal namja itu. Jongin menghela nafasnya.

"Kubilang tadi jangan membantah lagi, 'kan? Kenapa kau masih saja membantahku?"

Ucapan Jongin terdengar sedikit melunak. Kemudian ia meraih sejumlah obat diatas nakas dan mendudukkan dirinya di ranjang, tepat di sebelah Kyungsoo. Jongin yang sudah bisa membaca gerakan Kyungsoo yang berniat menjauh, cepat-cepat memerangkap pinggang yeoja itu dengan sebelah tangan.

"Lepas!"

"Sekarang obatmu, ayo diminum."

Jongin menyodorkan tiga tablet obat dan satu pil penambah darah untuk Kyungsoo. Gadis itu masih saja menatap marah pada Jongin, tetapi akhirnya ia menurut juga. Jemarinya mulai meraih obat di telapak tangan Jongin. Membuat Jongin merasa geli dalam hati melihat perbedaan telapak tangan mereka.

Ia memperhatikan Kyungsoo yang meneguk obatnya. Lagi-lagi matanya tertuju pada leher Kyungsoo. Ugh, melihat leher putih dengan sedikit bercak kemerahan itu membuat Jongin gatal. Gatal ingin meninggalkan jejaknya lagi disana.

Tetapi gaun tidur Kyungsoo sedikit mengganggu pandangan Jongin, terutama bagian yang robek itu. Alisnya mengernyit. Apa Kyungsoo benar-benar tidak mampu untuk sekadar membeli baju tidur? Memangnya kemana uang yang didapatnya dengan menjadi penyanyi café?

"Tidak bisakah kau memakai pakaian tidur yang lebih pantas? Baju seperti itu sudah tak layak pakai, kau tahu."

Ucapan Jongin membuat Kyungsoo menoleh kesal. Padahal Jongin hanya bertanya, tidak bermaksud menghina atau apa. Tetapi telinga Kyungsoo rupanya menganggap kalimat itu sebagai ejekan untuk dirinya.

"Tidak usah berbicara jika kau hanya berniat mengejekku. Aku bukan penggila saham yang mempunyai tambang uang sepertimu, jadi bukan urusanmu aku memakai baju seperti apa!"

Nafas Kyungsoo tersengal setelah menyemburkan kalimat barusan pada Jongin. Tetapi Jongin hanya menguap bosan dan mengangkat bahunya. Membuat Kyungsoo benar-benar ingin mencakar wajahnya yang menyebalkan itu.

"Do Kyungsoo, tadi aku sama sekali tidak berniat mengejekmu. Tetapi kau sendiri yang menyimpulkan begitu, ya sudahlah. Omong-omong, aku punya beberapa pakaian yang bisa kau pakai."

Jongin turun dari ranjang dan berjalan ke arah lemari pakaiannya yang berjejer di sepanjang sisi kiri kamarnya, dekat pintu balkonnya. Ia memilah-milah sejenak, mencari satu piyama tidurnya yang cocok untuk dipakai Kyungsoo.

Akhirnya ia mengambil satu piyama yang tidak pernah dipakainya. Piyama berwarna biru laut dengan gambar ikan badut oranye bergaris putih yang tersebar di atas kain itu. Piyama couple, yang diberikan oleh adiknya yang konyol itu. Jadi Sehun punya satu stel yang sama persis dengan yang Jongin pegang sekarang. Tentu saja Jongin tidak akan pernah mau memakai piyama yang kekanakan seperti itu.

"Pakai ini. Baju tidurmu itu harusnya menjadi lap dapurku saja."

Kali ini Jongin terdengar benar-benar menghina. Ditambah sedikit seringai di sudut bibirnya, membuat Kyungsoo muak. Ia memalingkan wajahnya dari Jongin. Tangannya terkepal melampiaskan amarahnya.

Satu sentakan di lengannya membuatnya menoleh. Jongin sudah mengganti seringai mengejeknya dengan sebuah senyuman kecil.

"Aku hanya bercanda, Kyungsoo-ya. Selera humormu benar-benar buruk. Sekarang ayo ganti bajumu."

Jongin menarik tubuh Kyungsoo pelan agar turun dari ranjang.

"Aku tidak butuh pakaian pinjamanmu! Aku mau pulang sekarang!" jerit Kyungsoo.

Jongin mencengkeram tangan Kyungsoo lagi, membuat yeoja itu meringis.

"Kau akan pulang kalau aku ingin kau pulang. Tetapi sekarang aku tidak ingin kau pulang, jadi kau tidak akan kemana-mana. Cepat ganti bajumu sekarang!"

"Tidak mau! Berhenti mengurungku dan memerintahkan ini itu kepadaku!"

"Kalau kau tidak mau, biar aku yang menggantinya!"

Kyungsoo tidak sempat menahan Jongin lagi. Tangan namja itu sudah menarik gaun tidurnya cepat, meloloskannya melewati kepala Kyungsoo. Semuanya terjadi begitu cepat, hingga Kyungsoo sadar kini dia nyaris naked lagi di hadapan Jongin. Hanya pakaian dalamnya saja yang tersisa.

Kyungsoo kembali gemetar ketakutan. Apa hanya akal-akalan Jongin saja ingin memakaikannya baju ganti, karena sebenarnya pria itu ingin memperkosanya lagi?

Jongin membuang begitu saja gaun tidurnya yang usang ke lantai. Kemudian mendorong tubuh Kyungsoo hingga terjatuh di ranjang lagi.

Kyungsoo membeliak takut.

"A-apa yang kau lakukan?"

Jongin yang hendak memakaikan celana piyamanya di kaki Kyungsoo berhenti sejenak. Suara pelan Kyungsoo yang bergetar terdengar ke telinganya. Jongin menatap wajah Kyungsoo, dan jelas sekali terlihat raut ketakutan disana.

Jongin mengerjap dan sadar Kyungsoo takut akan sikapnya barusan. Dengan cepat ia memakaikan celana piyamanya pada yeoja itu, lalu menarik tangan Kyungsoo pelan hingga yeoja itu terduduk. Kini tubuh Kyungsoo sudah tertutup seutuhnya, Jongin sedang mengancingkan atasan piyama itu. Ditatapnya Kyungsoo yang memejamkan matanya rapat.

"Aku hanya memakaikanmu piyama. Aku tidak melakukan apapun, Do Kyungsoo."

Jongin kemudian menarik tubuh Kyungsoo yang masih gemetar untuk berbaring.

"Tidurlah, aku akan keluar."

Jongin menutupi tubuh Kyungsoo dengan bedcover miliknya. Tangannya mengusap pipi Kyungsoo sekilas, kemudian ia turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamarnya. Meninggalkan Kyungsoo yang masih gemetar, walaupun matanya sayup-sayup mulai tertutup dan akhirnya tertidur pulas.

.

.

"Pakai jaketmu, lalu akan kuantar pulang sekarang."

Kyungsoo bergeming, lalu menatap Jongin malas. Namja itu sedang berdiri bersedekap tangan didepannya.

"Itu bukan jaketku, itu jaketmu 'kan? Kau saja yang pakai."

"Ck!"

Jongin berdecak kesal. Ia meraih jaket tebal yang tergeletak disamping Kyungsoo dan memakaikannya paksa di tubuh Kyungsoo.

"Aku tidak mau, kenapa kau senang sekali memaksaku hah?!"

Jongin menggeram kesal, tangannya merengkuh bahu Kyungsoo erat.

"Karena kau memang harus dipaksa, Nona yang keras kepala. Sekarang kau mau pulang atau tidak?"

Kyungsoo menatap Jongin kesal, lalu ia menepis tangan Jongin dari bahunya. Tanpa menjawab pertanyaan Jongin, Kyungsoo melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar Jongin. Membuat Jongin lagi-lagi berdecak. Do Kyungsoo memang yeoja paling keras kepala yang pernah ditemuinya!

Ekspresi takut Kyungsoo sebelum tidur tadi entah sudah hilang kemana. Yang jelas sejak demamnya turun dan terbangun beberapa saat yang lalu, Kyungsoo kembali lagi menjadi sosok keras kepala yang menjengkelkan bagi Jongin.

Jongin bergegas melangkah menyusul Kyungsoo, yang kini sedang berdiri termangu di teras rumahnya. Tampaknya yeoja itu bingung, karena Kyungsoo baru sadar jika ia tak memakai alas kaki. Sedangkan mobil yang akan dipakai Jongin untuk mengantar dirinya ada di seberang teras, tepat di tengah halaman. Apa boleh buat 'kan? Terpaksa ia menyebrangi halaman mansion Jongin dengan bertelanjang kaki.

Tepat sebelum anak tangga terakhir selesai dilewatinya, Kyungsoo merasa tubuhnya melayang. Ia terkesiap kaget dan menoleh. Mendapati Jongin sedang menggendongnya menuju mobil.

"Apa? Kau mau memprotes lagi?"

Kyungsoo urung membuka mulutnya yang hendak mengomel lagi. Jongin ternyata sudah menyemburnya lebih dulu.

Di sepanjang perjalanan menuju tempat tinggal Kyungsoo, keduanya terdiam. Tak ada yang berusaha membuka obrolan. Kyungsoo yang memang malas berbicara dengan Jongin dan Jongin yang sedang menahan geram dengan tingkah Kyungsoo.

Ketika sampai Kyungsoo turun begitu saja dari mobil Jongin. Tidak dipedulikannya Jongin yang ikut turun menyusulnya.

Kyungsoo menaiki tangga menuju kamar sewaannya dengan perlahan. Bagian selangkangannya masih lumayan perih jika dibuat berjalan. Jongin berjalan di belakangnya, seolah bersiap menangkap tubuh Kyungsoo jika gadis itu limbung.

Kyungsoo menghela nafas lega saat tiba didepan pintu kamarnya. Ia mendorongnya membuka dan akan langsung menutupnya jika saja tangan Jongin tidak menahannya.

"Apa lagi Kim Jongin?"

Jongin menatapnya tajam.

"Kau tidak pernah diajarkan cara berterima kasih, huh? Sopan sekali kau, Nona."

Kyungsoo mendengus.

"Aku? Berterima kasih? Kenapa aku harus berterima kasih pada orang sepertimu?"

Urat kekesalan tampak di pelipis Jongin. Menghadapi gadis seperti Kyungsoo memang membuat naik darah. Jika tidak ingat Kyungsoo sedang sakit, Jongin pasti sudah menyerangnya sedari tadi. Akhirnya namja itu menghembuskan nafasnya pelan-pelan, berusaha mengatur emosinya.

"Istirahatlah dengan baik, jangan lupakan obatmu."

Kyungsoo hanya mengangguk kaku. Pasalnya tadi ia melihat Jongin sudah emosi berat, terlihat dari raut wajah pria itu. Kyungsoo sudah bersiap akan balas membentak Jongin jika namja itu mengomelinya, tetapi kemudian Jongin hanya berkata seperti itu.

Jongin berbalik hendak pergi, tetapi ia menghentikan langkahnya. Ia kembali menghampiri Kyungsoo dan merengkuh tubuh yeoja itu cepat. Wajahnya maju dan bibirnya mendarat di kening Kyungsoo. Tidak lama, hanya beberapa detik sebelum akhirnya Jongin melepas pelukannya dan berjalan meninggalkan tempat Kyungsoo tanpa sepatah kata lagi. Mengabaikan raut terkejut dan tidak percaya dari Kyungsoo yang menatap punggung Jongin menjauh.

.

.

Dua hari setelah itu Jongin tidak lagi mengganggu Kyungsoo. Kyungsoo sedikit lega, karena setidaknya ia bisa menjalani harinya dengan tenang tanpa adanya gangguan macam-macam dari Jongin. Kyungsoo sebenarnya heran dengan sikap Jongin. Bukankah namja itu tidak suka padanya, sama seperti dirinya yang membenci Jongin? Tetapi mengapa saat dia sakit kemarin Jongin begitu perhatian padanya? Apa dibalik sikap manisnya itu Jongin masih merencanakan sesuatu? Sesuatu yang lebih kejam untuk dirinya?

Tentu saja masalah keperawanannya yang direnggut Jongin dengan paksa tempo hari hanya menjadi rahasia. Kyungsoo sadar itu adalah aibnya, jadi ia tidak berniat menceritakannya kepada siapapun. Bahkan jika nanti Sehun dan Luhan menelepon sekalipun. Dua hari yang lalu saat dirinya 'dikurung' di kamar Jongin, ponselnya tidak aktif. Kyungsoo bertanya-tanya apa kedua sahabatnya itu sudah menghubunginya atau belum.

"Hei, kau melamun?"

Kyungsoo tersentak saat pundaknya ditepuk seseorang. Tampak Ken menatapnya khawatir. Kyungsoo mengulas senyumnya dan membenarkan letak syal yang dipakainya.

"Aish, kau membuatku terkejut tahu! Aku tidak melamun, Ken."

Ken berdecak pelan.

"Tadi jelas-jelas kulihat pandangan matamu itu tidak fokus. Wajahmu juga sedikit pucat."

Ravi, temannya yang lain ikut menambahkan. Kyungsoo menggeleng dan bangkit dari kursinya.

"Tidak apa-apa, sudahlah. Ayo semangat, tinggal satu lagu lagi dan pekerjaan malam ini selesai."

Kyungsoo melemparkan seulas senyumnya dan Ken hanya menggelengkan kepalanya melihatnya. Dan yah, Kyungsoo menyanyikan lagu ballad lagi kali ini. Lagu itu berjudul My Immortal, yang dengan sempurna dibawakan dengan suara merdunya.

Tanpa Kyungsoo tahu, Jongin mengawasinya dari kursi VIP di sudut café. Tidak terlihat dan sangat strategis untuk mengawasi keadaan panggung. Entahlah, mengikuti keseharian Kyungsoo sudah menjadi rutinitasnya sekarang. Jongin juga tidak tahu mengapa ia mau melakukannya. Ia hanya merasakan dihatinya ada dorongan untuk melakukan semua kekonyolan ini.

Tahu itu adalah penampilan terakhir Kyungsoo malam itu, Jongin bangkit dari kursinya. Melangkah keluar dari café tersebut.

Sementara itu di ruang ganti, Kyungsoo sudah selesai membereskan tasnya. Setelah memastikan semua barang miliknya tidak ada yang tertinggal, Kyungsoo bergegas pamit pada teman-temannya dan berniat pulang.

"Aku duluan, kalian mau minum 'kan setelah ini?"

"Kau mau kami antar? Kelihatannya kau belum sembuh benar, Kyungsoo-ya."

Kyungsoo menggeleng pelan. "Tidak usah. Kalian saja yang habiskan minuman-minuman itu."

Teman-teman namjanya langsung saja menyerangnya. Mereka kompak mengacak-acak rambut Kyungsoo, hingga yeoja itu merengut kesal.

"Ya! Awas kalian semua!"

Namja-namja itu hanya tertawa mendengar omelan Kyungsoo.

"Baiklah, hati-hati Kyungsoo-ya."

"Nanti kami akan bawakan minuman ke rumahmu, kapan-kapan tapi."

Kyungsoo memutar matanya bosan, kemudian melambai pada mereka dan keluar dari ruang ganti.

Jalan raya didepan café masih cukup ramai. Kyungsoo mengamati sekelilingnya, berjaga-jaga. Takut jika tiba-tiba ada SUV serba hitam lagi yang nyaris menabraknya. Belum lagi sejumlah namja yang menculiknya waktu itu. Kyungsoo mulai melangkah pelan setelah yakin keadaan aman untuknya. Beberapa langkah lagi ia sampai di perempatan jalan dan hendak menyebrang, ketika sebuah sedan hitam mengilat berhenti.

Sesosok tubuh jangkung keluar dan berjalan menghampiri Kyungsoo. Kyungsoo merasa tahu siapa sosok itu, ia melangkah mundur hendak kabur tetapi sosok itu sudah menangkap pinggangnya lebih dulu. Dengan mudah kedua tangannya menyeret Kyungsoo masuk ke mobilnya.

"Kim Jongin! Lepas! Kau mau bawa aku kemana?! Aku mau pulang!"

Sosok itu, Jongin, mengabaikan teriakan Kyungsoo. Ia sibuk memegangi tubuh Kyungsoo yang berontak hebat dalam pelukannya.

"Jalan." Ucap Jongin datar kepada supirnya.

"Lepas, Kim Jongin!"

"Diam, Do Kyungsoo! Apa perlu aku membiusmu supaya kau diam?"

Kyungsoo terengah dalam cengkeraman tangan Jongin. Melawan Jongin terasa percuma. Yang ada tenaganya malah terbuang sia-sia, karena namja ini tidak mengendurkan sedikitpun pegangannya pada tubuh Kyungsoo.

Akhirnya Kyungsoo menyerah. Ia tak lagi meronta dalam pelukan Jongin. Hatinya was-was. Ternyata benar dugaannya. Jongin memang masih merencanakan sesuatu untuknya. Buktinya sekarang namja ini kembali menculiknya. Kyungsoo menggeliat, mencoba mencari tahu apa Jongin mengendurkan pegangannya. Ternyata ia salah, lengan kokoh namja itu mengungkungnya erat.

Tetapi mengapa Kyungsoo merasa…pelukan Jongin berbeda? Bukan sekadar untuk menahannya agar tidak berontak, tetapi juga terkesan melindungi? Entahlah, Kyungsoo tidak begitu paham. Yeoja itu menggelengkan kepalanya pelan, mengusir pikiran baiknya tentang Jongin.

"Apa susahnya bersikap tenang seperti ini, hm? Yang perlu kau lakukan hanya duduk diam dalam pelukanku, bukankah itu mudah? Banyak yeoja diluar sana yang mengincar posisimu sekarang, Do Kyungsoo."

Suara Jongin terdengar. Kali ini tak ada nada dingin dalam kalimatnya. Kyungsoo tidak merespon, ia mengernyitkan alisnya kesal mendengar kata-kata Jongin.

"Kalau begitu kenapa kau tidak cari yeoja lain saja?"

Jongin yang sedang menempelkan hidungnya di rambut Kyungsoo tersenyum kecil.

"Karena aku tidak ingin yeoja lain. Yang aku inginkan hanya kau, Do Kyungsoo."

"Kenapa harus aku? Aku tidak mau diinginkan olehmu, aku membencimu. Kau dengar itu?"

Jongin tertawa mendengar kalimat Kyungsoo.

"Silahkan saja kau membenciku. Semakin kau membenciku, semakin aku tidak akan melepasmu. Aku sudah pernah bilang 'kan? Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang."

Emosi Kyungsoo perlahan mulai naik. Ia meronta lagi, berusaha melepaskan dirinya.

"Sebenarnya apa maumu, hah?! Kau sudah tahu aku dan adikmu hanya pura-pura, kau sudah berhasil menyakitiku kemarin, mengambil hartaku yang paling berharga! Kau masih belum puas?! Kenapa kau masih saja menggangguku?!"

Jongin menatap balik mata jernih Kyungsoo yang memandangnya penuh amarah. Nafas Kyungsoo memburu, bahkan sepertinya yeoja itu tidak sadar sudah melampiaskan isi hatinya hingga airmatanya ikut keluar. Mengalir membasahi kedua pipinya.

Jongin mendekap lagi tubuh Kyungsoo yang sempat menjauh. Tangannya terulur mengusap airmata Kyungsoo. Kyungsoo mengerjap, dan malah membuat setetes airmatanya kembali mengalir turun. Ketika Jongin hendak menyekanya lagi, Kyungsoo memalingkan wajahnya. Diam-diam kesal pada dirinya sendiri.

'Airmata bodoh! Bisa-bisanya keluar disaat yang tidak tepat!' Maki Kyungsoo dalam hati.

Jongin memajukan wajahnya dan tangannya menyentuh dagu Kyungsoo. Sedikit menariknya agar wajah yeoja itu kembali menghadapnya.

Dan yang dilakukan Jongin kemudian membuat Kyungsoo membeku. Bibir namja itu menempel di pipinya, bergerak menghapus sisa-sisa airmata Kyungsoo yang tadi sempat mengalir keluar. Mata Jongin terpejam, menyembunyikan onyx kelamnya yang tajam. Kyungsoo benar-benar bingung sekarang.

"Jangan menangis, aku tidak suka melihatnya." Bisik Jongin pelan.

Matanya menatap Kyungsoo, ada sedikit sinar kelembutan disana. Entah Kyungsoo menyadarinya atau tidak. Jongin mengusap pipi Kyungsoo sekilas, kemudian merapatkan syal yang dipakai Kyungsoo.

"Kita sudah sampai. Ayo turun."

Nada suara Jongin terdengar sedikit membujuk. Kyungsoo menoleh keluar, dan ia mengernyitkan alisnya sedikit bingung. Kemudian Jongin menggenggam tangannya dan menariknya memasuki rumah sakit itu.

.

.

.

"Sehun, kenapa dua hari ini aku tidak bisa menghubungi Kyungsoo ya?"

Sehun yang sedang menatap pemandangan luar hotel melalui jendela kamarnya, melangkah mendekati Luhan yang duduk di tepi ranjang. Memeluk kekasihnya itu erat.

"Aku juga begitu, ponselnya selalu tidak aktif. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya."

Sehun bergumam pelan menjawab pertanyaan Luhan. Sekilas ia teringat hyung-nya. Ia tahu hyung-nya itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Tetapi sepertinya ia tidak mungkin berbuat macam-macam pada Kyungsoo. Mereka hanya bertemu sekali 'kan? Dulu saat Sehun memperkenalkan Kyungsoo sebagai 'tunangannya' itu. Jadi, sudah seharusnya Kyungsoo aman, karena Sehun yakin Jongin pasti akan mengabaikan hal yang dianggapnya tidak penting.

Sehun tidak tahu saja apa yang terjadi pada sahabatnya itu sekarang.

"Sehun, bahkan kecemasanku sudah muncul sejak aku belum berangkat kesini. Mungkinkah terjadi sesuatu padanya?"

Luhan menatap Sehun, raut wajahnya terlihat sekali tidak tenang. Yeoja itu menggigit bibir bawahnya, sesekali matanya melirik ponsel ditangannya.

"Chagi, jangan berpikir yang tidak-tidak. Nanti kita coba hubungi Kyungsoo lagi, mungkin saja dia sibuk dengan pekerjaannya."

"Sehun, bagaimana kal-mmh!"

Sehun memajukan wajahnya dan mengunci bibir kekasihnya cepat. Bibirnya rapat di bibir Luhan, dan mulai bergerak pelan untuk melumatnya. Ia ingin menenangkan yeoja dalam dekapannya ini. Tangannya menarik pinggang Luhan mendekat, merapatkan jarak tubuh mereka. Hingga tubuh mungil Luhan benar-benar menempel padanya.

"Mmmh…"

Suara lenguhan Luhan keluar saat Sehun menghisap kuat bibirnya. Tangan Sehun merayap di punggungnya, mengusap-usapnya lembut.

"Jangan cemas, Luhanie. Nanti kita hubungi Kyungsoo lagi, oke?"

.

.

.

Jongin terus berjalan menyusuri lorong lantai dua rumah sakit ini. Dengan Kyungsoo yang mengekor dibelakangnya, walaupun tampak jelas sekali yeoja itu bersungut-sungut. Tangan Jongin erat menggenggam tangan mungil itu, memastikan Kyungsoo tidak lari tiba-tiba. Akhirnya mereka berhenti melangkah di sebuah pintu, Jongin tanpa mengetuknya terlebih dulu langsung saja membukanya.

Jongin memutar matanya bosan, sementara Kyungsoo yang melihatnya dari balik punggung Jongin perlahan merasakan pipinya menghangat. Jujur saja, ia belum pernah melihat sepasang kekasih yang sedang bermesraan dalam posisi intim.

"Tidak bisakah kalian melakukannya di tempat lain?"

Suara datar Jongin membuat sepasang namja dan yeoja itu menghentikan kegiatan french kiss mereka.

"Kim Jongin, kau sangat mengganggu, kau tahu?"

Namja itu, Joonmyeon, tampak sedikit kesal dengan kedatangan Jongin. Ia kembali menatap kekasihnya yang baru saja beranjak dari pangkuannya.

"Jongin-ah, ada apa datang kesini malam-malam?" tanya kekasih Joonmyeon itu. Name tag bertuliskan Zhang Yixing terpasang di bagian depan seragam perawatnya.

Yeoja itu tersenyum ramah, memamerkan senyumnya yang 'membunuh'. Tetapi matanya menangkap sosok mungil yang berdiri di belakang Jongin.

"Eo, siapa itu? Jongin-ah, siapa dia?"

Jongin menoleh ke belakang, dimana Kyungsoo berdiri. Kemudian menarik Kyungsoo ke depan.

"Kekasihku. Aku ingin dia diperiksa."

Kyungsoo melotot tajam pada Jongin.

"Sejak kapan aku jadi kekasihmu? Kau benar-benar kurang ajar!"

"Sejak kita tidur bersama tiga hari yang lalu." Sahut Jongin santai.

"Kau!"

Kyungsoo hampir saja menerjang Jongin jika saja Yixing, si perawat itu, tidak cepat-cepat menahannya. Kyungsoo menatap Jongin sengit.

Jongin membuang muka dari pandangan Kyungsoo, ia beralih menatap Joonmyeon.

"Periksa dia, kau pasti tahu maksudku." Ucap Jongin pelan dan datar.

Joonmyeon langsung mengangguk, tentu saja. Ia paham maksud Jongin.

"Nona, tolong tenang dulu, oke?"

Yixing membujuk Kyungsoo yang masih saja meronta.

"Suntik bius saja supaya dia tenang, Yixing."

Sebelum Kyungsoo semakin emosi mendengar kalimat Jongin barusan, Yixing cepat-cepat merangkul Kyungsoo dan membimbingnya ke ruang periksa.

Joonmyeon memandang Jongin penuh arti.

"Kau benar-benar serius dengannya?"

Jongin mengangkat bahunya.

"Yang jelas aku tertarik padanya."

Joonmyeon mengangguk kecil.

"Sebaiknya kau berhati-hati. Jika kau sudah terperosok terlalu dalam, kau akan susah untuk keluar lagi."

Joonmyeon kemudian melangkah ke ruang periksa, menyusul Yixing dan Kyungsoo yang sudah masuk kesana terlebih dulu.

Sementara Jongin terdiam, kemudian ia menggeleng dan tersenyum kecil.

"Kurasa aku memang sudah terperosok jauh kedalam. Dan sepertinya aku tidak berniat keluar."

.

.

.

Kyungsoo tengah berbaring di ranjang rumah sakit. Hidungnya sedikit mengernyit mencium bau khas obat-obatan. Perawat bernama Zhang Yixing itu yang memintanya berbaring.

"Nona, tolong lepas syal dan jaketmu sebentar ya? Aku sedikit sulit memeriksamu kalau tidak dilepas."

Kyungsoo ragu-ragu menurutinya. Ia masih sedikit trauma jika diminta membuka bajunya didepan orang lain. Ia menatap Yixing dengan pandangan menilai.

"Hanya jaketmu saja, Nona. Tidak usah melepas bajumu juga."

Yixing tersenyum maklum melihat pandangan Kyungsoo. Ia menaruh jaket dan syal Kyungsoo diatas meja disamping ranjang. Kemudian menggulung lengan kanan blus Kyungsoo hingga sebatas siku.

"Dia memang seperti itu. Menyebalkan memang, tetapi abaikan saja. Kalau kau meladeninya, kau yang akan capek nantinya. Dia itu tidak mau kalah."

Kyungsoo tahu Yixing sedang membicarakan Jongin. Kyungsoo mendengus kesal.

"Tapi orang seperti dia memang harus dilawan. Memangnya dia siapa, hingga semua orang harus mematuhinya?"

Yixing hanya tersenyum kecil. Ia mengoleskan alkohol di lengan Kyungsoo. Kyungsoo menatap sinis.

"Kau mau menyuntikkan obat bius padaku?"

Yixing mengulas senyumnya lagi. "Memangnya kau mau?"

Kyungsoo dengan cepat menggeleng. Suntik bius? Tidak, terima kasih. Nanti Kim Jongin akan berbuat macam-macam padanya lagi jika dia tidak sadar.

Yixing tertawa. "Aku hanya ingin memberi antibiotik ini saja."

Tangan Yixing memakai sarung tangan dan mengambil jarum suntik steril. Lalu meraih botol antibiotik cair.

Suara pintu yang dibuka membuat Kyungsoo menoleh. Joonmyeon masuk dan melangkah mendekati ranjang.

"Halo, Nona. Kita bertemu lagi."

Kyungsoo mengernyit. "Nng, kurasa aku belum pernah bertemu dengan Anda."

Joonmyeon tertawa dan menepuk dahinya.

"Oh ya, tentu saja kau tidak tahu ya? Tetapi kita memang sudah bertemu, tiga hari yang lalu. Saat itu kau sedang tak sadarkan diri di kamar Jongin."

Kyungsoo hanya diam mendengar penjelasan Joonmyeon. Hatinya berkata agar jangan terlalu terbuka pada dua orang asing didepannya ini. Mereka itu teman Jongin, mungkin saja mereka bersekongkol.

Saat Joonmyeon memeriksanya, Kyungsoo terus memasang tatapan curiganya. Waspada dan sangat berhati-hati. Membuat Yixing yang mengamatinya diam-diam tidak bisa lagi menahan tawanya.

"Kenapa tertawa, chagiya?"

Yixing hanya menggeleng.

"Omong-omong, siapa namamu?" tanya Yixing.

Kyungsoo diam, tidak langsung menjawab.

"Do Kyungsoo." jawab Kyungsoo beberapa detik kemudian.

Yixing dan Joonmyeon mengangguk.

"Jadi, Kyungsoo-ya, kurasa kau sudah sembuh sepenuhnya. Hanya flu-mu saja yang belum sembuh. Kusarankan kau lebih banyak beristirahat. Oke?"

Joonmyeon menepuk lengan Kyungsoo sekilas, kemudian berbisik di telinga kekasihnya. Yixing sedikit mengernyit mendengar perkataan Joonmyeon, tetapi akhirnya ia mengangguk kecil. Joonmyeon mengulas senyumnya pada Kyungsoo sekali lagi, sebelum akhirnya meninggalkan ruang periksa itu.

"Oke, Do Kyungsoo. Ah, sebaiknya kupanggil Kyungsoo saja ya? Atau Kyungsooie juga terdengar lebih manis."

Yixing berusaha mencairkan suasana yang hening. Kyungsoo tampaknya masih menjaga jarak dengannya. Karena yeoja itu sama sekali tidak membalas senyumnya. Pasti Jongin yang membuatnya menjadi seperti ini, pikir Yixing.

"Sekarang, bisakah kau membuka rokmu, Kyungsoo-ya?"

Kyungsoo langsung menegang, tangannya refleks mencengkeram roknya erat. Ia menatap Yixing takut.

"Ke-kenapa aku harus membukanya?"

Yixing buru-buru menenangkan Kyungsoo sebelum yeoja itu melompat dari ranjang dan kabur.

"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memeriksanya saja. Beberapa hari yang lalu… Jongin memaksamu bercinta bukan?"

Kyungsoo langsung tersentak dan menatap nyalang pada Yixing.

"Aku hanya ingin melihat, apakah lukanya sudah pulih atau belum. Aku janji tidak akan melakukan apa-apa. Percayalah."

Yixing sampai mengangkat kedua tangannya agar Kyungsoo yakin dengannya. Kyungsoo menatap lama pada Yixing, yang dibalas dengan senyuman dan tatapan meyakinkan dari yeoja perawat itu.

Perlahan Kyungsoo mengangguk dan mulai menurunkan roknya. Membuat Yixing menghela nafas lega dan melanjutkan tugasnya.

.

.

.

"Dia sudah hampir pulih. Hanya flunya saja yang masih sedikit mengganggunya. Yixing sekarang sedang memeriksa…yah kau tahulah. Itu urusan yeoja, jadi aku tidak ikut campur didalam sana."

Jongin mengangguk menanggapi omongan Joonmyeon. Lalu namja itu menghembuskan nafasnya pelan.

"Dia benar-benar yeoja paling keras kepala yang pernah kutemui. Belum pernah aku menemukan yeoja seperti itu."

Joonmyeon mengangguk.

"Dia seperti agak menjaga jarak denganku dan Yixing. Mungkin yang ada di pikirannya adalah kami ini orang yang sama sepertimu. Karena kita akrab."

"Benarkah?" tanya Jongin.

"Ya, jika saja kau lihat wajahnya tadi." sahut Joonmyeon.

Jongin sedikit heran. Apa Kyungsoo benar-benar menganggapnya sejahat itu?

Suara pintu ruang periksa yang terbuka terdengar, kemudian Yixing keluar dan Kyungsoo mengikutinya di belakang. Yeoja itu sudah mengenakan lagi roknya, tentu saja. Beserta jaket dan syalnya. Jongin menatap Kyungsoo, tetapi yeoja itu memalingkan wajahnya.

"Bagaimana?" tanya Jongin, mengalihkan tatapannya pada Yixing.

"Oke, tak ada luka yang fatal. Dan organ vitalnya juga baik-baik saja, memar dan lecetnya sudah mulai hilang. Lain kali jangan lakukan itu lagi, ingat itu."

Yixing menajamkan kalimat terakhirnya dan melayangkan tatapan menegurnya pada Jongin. Jongin hanya memutar matanya jengah melihat tatapan Yixing. Namja itu lalu melangkah mendekati Kyungsoo yang berdiri canggung diantara mereka. Tangannya merapatkan lagi syal yang dipakai Kyungsoo.

"Ayo."

Jongin kembali menggenggam tangan Kyungsoo dan menariknya keluar dari ruangan Joonmyeon. Setelah pintu tertutup Yixing menggelengkan kepalanya.

"Sepertinya tidak mudah mendapatkan Do Kyungsoo."

Joonmyeon mengangguk menyetujui ucapan kekasihnya. Tangannya mulai bergerak memeluk tubuh perawat itu.

"Yeah, tapi kurasa Jongin benar-benar serius. Tidak pernah dia bersikap seperti itu pada yeoja."

Yixing tersenyum dan menoleh ke belakang.

"Do Kyungsoo cantik, bukan?"

Joonmyeon memutar matanya.

"Zhang Yixing, jangan menggodaku. Lebih baik kita teruskan yang tadi. Kau mau disini atau dirumah?"

Yixing terkekeh pelan sebelum menarik wajah kekasihnya mendekat, membuat namja Kim itu tersenyum senang.

.

.

.

"Apa lagi maumu, Kim Jongin?"

Kyungsoo bertanya dingin pada Jongin yang masih saja membuntutinya. Kyungsoo sudah lelah berdebat, ia hanya ingin tidur dan istirahat sekarang. Tetapi Jongin terus mengikutinya. Bahkan hingga di pintu depan apartment Kyungsoo.

Jongin tidak menyahut. Ia merebut kunci pintu dari tangan Kyungsoo dan menggunakannya untuk membuka pintu. Setelahnya ia mendorong tubuh Kyungsoo masuk kedalam dan dirinya ikut masuk.

"YA! Apa yang ka-mmph!"

Jongin membanting pintu hingga menutup dan memutar kuncinya. Lalu tangannya bergerak memeluk Kyungsoo dan langsung mencium bibir yeoja itu.

Kyungsoo menggeliat dalam pelukan Jongin yang erat. Satu tangan Jongin menyusup diantara helaian rambutnya, kemudian menekan lembut kepala Kyungsoo hingga tautan bibir mereka semakin rapat.

Dan yang terdengar disana kemudian hanyalah bunyi helaan nafas Jongin dan Kyungsoo, serta suara samar ciuman mereka.

Tiba-tiba dering ponsel Kyungsoo memecahkan keheningan. Kyungsoo memenfaatkan kesempatan saat pelukan Jongin sedikit mengendur, ia mendorong namja itu menjauh. Tangannya terburu-buru meraih tasnya dan secepat mungkin mengambil ponselnya.

Nama 'Sehun' terpampang di layar ponsel itu. Kyungsoo terkesiap saat Jongin merebut ponselnya.

"Sehun?" bisik Jongin.

"Kembalikan ponselku, brengsek!"

Jongin menoleh menatap Kyungsoo, kemudian menyodorkan ponsel itu kasar.

"Loudspeaker!"

Kyungsoo melotot.

"Tidak!"

"Kubilang loudspeaker!"

"Kubilang tidak!"

Mereka saling menatap tajam satu sama lain. Jongin menarik bagian depan blus Kyungsoo, menyentakkan Kyungsoo mendekat padanya.

"Jawab dengan loudspeaker, atau kau tidak akan pernah lagi menerima telepon dari Sehun?"

Suara rendah Jongin terdengar mengancam. Kyungsoo menatap marah padanya, hingga nafasnya yang memburu menerpa bibir Jongin.

Kyungsoo akhirnya menekan tombol jawab, lalu memilih 'Loudspeaker'.

"Yeoboseyo?"

ToBeContinue