My Precious Woman
.
.
.
A Remake from Kyumin's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place
Cast :
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Warning : a Genderswitch FF, Mature Content
.
.
.
Kyungsoo sedikit melambaikan tangannya kearah pintu kedatangan. Dua sosok sahabatnya tampak disana, balas melambaikan tangan kepadanya. Kyungsoo tak perlu menunggu lama hingga Sehun dan Luhan menghampirinya, kemudian Kyungsoo merasakan tubuhnya tenggelam dalam pelukan mereka.
"Astaga, Do Kyungsoo~ Aku sangat merindukanmu…"
Luhan masih memeluk Kyungsoo erat-erat walaupun ini sudah menit kesepuluh. Sehun tertawa kecil melihat keduanya.
"Ya, aku juga." Sahut Kyungsoo pelan.
Setelahnya mereka bertiga berlalu menuju restoran, Luhan sudah merengek kelaparan dengan alasan belum makan apapun saat berangkat dari London sana.
Di sepanjang jalan Kyungsoo menjadi sedikit pendiam, walaupun ia berusaha bersikap normal seperti biasanya. Mungkin ia berpikir ia berhasil bersikap biasa-biasa aja, tetapi tidak dengan kedua sahabatnya.
"Kyungsoo-ya, katakan padaku… Apa yang sebenarnya sudah terjadi disini selama kami pergi?"
Sehun menatap Kyungsoo dengan pandangan menyelidik. Kyungsoo mengangkat wajah dan balas menatap Sehun, berusaha agar rasa gugup yang tiba-tiba melandanya tidak terlalu kentara.
"Ah, kau ini bicara apa? Tidak terjadi apapun, percayalah."
Sehun menyipitkan matanya curiga, begitupun Luhan. Mereka mendengar dengan jelas perubahan suara Kyungsoo.
"Soo, katakan saja yang sejujurnya. Kami ada disini, kami akan membantumu kalau memang terjadi sesuatu."
Kyungsoo tetap menggeleng dan tersenyum menenangkan.
"Sudahlah, kalau kubilang aku baik-baik saja dan tak terjadi apapun, itu semua benar."
Sehun mengangguk, tidak ingin memaksa Kyungsoo lebih jauh. Tetapi tentu saja ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia yakin sekali, pasti ada sesuatu. Pria tampan itu hanya bisa berharap yang sudah terjadi bukanlah hal yang buruk.
.
.
.
"Kyungsoo-ya, sudah, stop dulu sampai disitu."
Kyungsoo menoleh linglung pada Ken yang baru saja menyuruhnya berhenti.
"Kau benar tak apa-apa?"
Kyungsoo mengangguk pelan, menatap heran pada teman-teman bandnya.
"Ya, aku baik-baik saja. Kenapa kau menyuruhku berhenti?"
Ken meletakkan gitar yang sedang dipegangnya, kemudian mendekati Kyungsoo dan telapak tangannya langsung memegang kedua bahu Kyungsoo.
"Kau yakin kau baik-baik saja?"
Kyungsoo mengangguk. "Ya, aku yakin."
Teman bandnya yang lain, Leo, ikut mendekatinya.
"Ada apa dengan kalian? Aku tidak sakit, aku—"
Kedua pria didepannya menggeleng.
"Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja, Kyungsoo. Mungkin kau tidak menyadarinya, tetapi kami semua merasa kau sedang tidak beres saat ini."
Kyungsoo balas memandang teman-teman bandnya. Semua menatapnya sama dengan Ken dan Leo, terkecuali Hyuk. Pria itu masih sibuk dengan keyboard-nya, tetapi ikut berkomentar.
"Lebih baik kau tenangkan dulu dirimu. Masalah latihan bisa kita atur lagi nanti, Kyungsoo-ya."
Semuanya mengangguk setuju, membuat Kyungsoo kalah. Ia menghela nafas panjang, kemudian meletakkan kertas partitur musiknya dan beranjak bangun dari kursinya.
"Baiklah, aku akan keluar, mencari udara segar seperti mau kalian."
Ken tersenyum.
"Begitu lebih baik, kau tampak seperti zombie. Tubuh dan pikiranmu tidak berjalan sinkron, kau benar-benar kehilangan fokusmu hari ini."
Kyungsoo memutar matanya malas dan meraih tasnya. Melambai pada teman-temannya dan keluar dari ruang latihan.
"Kenapa ya dia tampak aneh seperti itu akhir-akhir ini?"
"Ya, aku juga penasaran sebenarnya. Biasanya dia selalu bersemangat dan ceria, belakangan ini dia berbeda."
"Sudahlah, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Mungkin Kyungsoo hanya sedang lelah, berdoa saja semoga dia kembali membaik seperti biasanya."
.
.
.
Jongin duduk di kursi kerjanya, tampak begitu serius menghadapi pekerjaannya. Wajah stoicnya terpasang sempurna, membuatnya terlihat dingin dan arogan. Kelihatan sekali ia tidak ingin diganggu ditengah kesibukannya ini.
Ia sengaja sebenarnya. Bisa saja ia mengabaikan pekerjaannya itu, lalu beralih mengintai sesosok gadis yang beberapa waktu ini mencuri perhatiannya. Tetapi tidak, ia sudah bertekad ingin menjaga jarak dulu dengan gadis itu—Do Kyungsoo. Adiknya sudah pulang dari London sejak dua hari yang lalu, dan itulah salah satu alasannya menjauh dari Kyungsoo.
Tetapi sepertinya Jongin tidak berhasil dengan usahanya. Karena—
"Aish, shit!"
Baru saja ia mengumpat, karena semua dokumen yang dari tadi dibacanya tidak menyangkut sama sekali di otak jeniusnya. Jadi sedari tadi apa yang ia baca?
Jongin membanting bolpoinnya kasar. Kemudian melepas kacamata bacanya dan memijit pangkal hidungnya pelan.
Kyungsoo, Kyungsoo, Kyungsoo…
Semua tentang gadis itu berputar-putar dibenaknya. Membuatnya nyaris gila.
"Aish, Do Kyungsoo! Berani sekali kau mengacak-acak pikiranku! Sialan!"
Jongin memegangi dadanya yang berdetak kencang. Selalu saja seperti ini jika ia sedang memikirkan Kyungsoo. Tidak pernah ada gadis yang membuatnya berdebar seperti sekarang ini. Hanya sosok gadis mungil nan keras kepala itu yang bisa melakukannya.
Jongin menghembuskan nafasnya panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Suara dering smartphonenya terdengar memecah keheningan di ruang kerjanya. Jongin meraihnya dan mengernyit melihat nomor asing tampak di layar smartphone miliknya.
"Ya?"
"Jonginnie sayang~ Aku merindukanmu, kenapa kau tidak pernah menemuiku lagi?"
Jongin mengernyit, sedikit menjauhkan smartphonenya dari telinganya. Suara cempreng nan menjijikkan milik siapa ini?
"Siapa kau?" Balas Jongin ketus.
Suara di seberang mendesah sedih, membuat Jongin mengernyit tidak suka.
"Ini aku, Yooju, kekasihmu~"
"Aku tidak pernah membuat pernyataan jika kita memiliki hubungan, Kang Yooju-ssi. Jangan pernah menghubungiku lagi!"
Jongin memutuskan secara sepihak pembicaraan yang menurutnya tidak penting. Ia memang tidak pernah mengingat-ingat lagi gadis-gadis yang pernah berhubungan dengannya.
Sementara di seberang sana, gadis yang sok berlagak manja tadi menggeram marah. Tidak pernah sebelumnya Kim Jongin bersikap seketus itu padanya. Tidak pernah! Tetapi apa yang baru saja didapatkannya?
Kang Yooju merasa pantas berbangga diri, karena diantara pacar-pacar Jongin yang lain, ialah yang bisa bertahan paling lama. Tiga bulan ia berhasil menjadi kekasih Jongin, karena biasanya yang lain hanya bertahan dalam hitungan minggu. Jongin memberikan semua yang ia mau, credit card tanpa limit, gaun-gaun mahal karya desainer ternama, sepatu, segala macam hal yang diperlukan sebagai seorang gadis, terlebih ia model. Dan jangan lupakan permainan ranjang bersama Jongin.
Yooju marah, namun juga bingung. Apa yang membuat Jongin berubah terhadapnya? Pasti ada sesuatu, ia yakin itu. Dan ia harus mencari tahu apa penyebab Jongin seperti itu, dan gangguan itu harus segera disingkirkan secepat mungkin.
.
.
.
"Hyung, katakan padaku. Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan pada Do Kyungsoo?"
Jongin berpura-pura tak mendengar pertanyaan adiknya. Ia terus saja mengunyah makan malamnya dengan tenang. Berusaha mengacuhkan adiknya seperti biasa.
"Jongin hyung!"
TRAKK!
Sehun, benar-benar sudah tak tahan dengan sikap sok diam milik hyung-nya itu. Ia membanting sumpit yang dipegangnya hingga membentur piringnya sendiri. Kyungsoo tak menjawab apapun jika ditanya, dan sekarang ia hanya perlu memaksa hyungnya ini bicara.
Jongin mengangkat wajah dan menatap adiknya dingin.
"Kurasa aku selalu mengajarkanmu sopan santun. Ada tempatnya untuk berbicara, dan sekarang kita sedang berada di meja makan."
"Hyung tidak usah menceramahiku! Aku hanya butuh jawaban—"
"Habiskan makan malammu, Sehunna."
Jongin memotong ucapan adiknya tenang, mengabaikan Sehun yang tampak semakin kesal padanya. Pria itu akhirnya bangun dari kursinya, dengan kasar mendorong kursinya mundur dan melangkah meninggalkan meja makan. Mengabaikan tatapan Jongin pada punggungnya.
Lima menit, Jongin akhirnya menyerah. Mengalah pada egonya yang keras dan memilih menuruti kemauan adiknya. Ia berdiri setelah mengusap bibirnya dengan serbet makan, lalu melangkah ke teras samping. Ia tahu adik kesayangannya itu pasti sedang memandangi bagian taman favoritnya, kolam ikan disudut.
Jongin sedikit mengukir smirknya, mengingat apa yang pernah dilakukannya disana bersama Kyungsoo. Ah, lagi-lagi gadis itu.
Dan benar saja, punggung tegap adiknya nampak, sedang membungkuk di tepian pagar besi yang membatasi kolam ikan itu.
"Apa yang ingin kau ketahui, Sehunna?"
Sehun langsung berbalik, menatap dalam-dalam pada Jongin. Kedua tangannya menyelami saku celana panjangnya, sikapnya jika sedang serius. Jongin tersenyum tipis melihatnya, adiknya benar-benar penerus Kim, hanya saja wataknya sangat berbeda dengan dirinya yang keras.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Kyungsoo?"
Jongin mengangkat sebelah alisnya. Kau? Tidak menggunakan embel-embel 'hyung' seperti biasanya? Ini berarti Sehun benar-benar marah.
"Memang siapa dia bagimu? Kenapa kau peduli sekali padanya?"
Jongin membalas tenang. Ia balik menatap lurus pada mata adiknya.
"Dia tunanganku, bukankah sudah kukatakan?"
Jongin mengangguk. "Tunanganmu? Atau mungkin lebih tepatnya… tunangan palsumu?"
Sehun tampak terkejut, tetapi ia buru-buru menutupinya.
"Kyungsoo tunanganku, dan aku akan segera menikah dengannya!"
Jongin tertawa kecil, kemudian melangkah mendekati adiknya. Menepuk bahu Sehun pelan.
"Sudahlah, Sehunna. Aku sudah tahu semuanya."
Sehun melebarkan matanya menatap kakaknya. Jadi, apa masalah ini yang membuatnya tidak tenang di London kemarin?
"Do Kyungsoo bukan tunanganmu, tunanganmu yang sebenarnya adalah Xi Luhan, yang merupakan staff-mu. Gadis pirang itu yang akan kau nikahi, bukan Kyungsoo. Aku benar, bukan?"
Jongin mengamati reaksi Sehun yang tampak salah tingkah, kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Do Kyungsoo, gadis berusia dua puluh satu tahun, yatim piatu, pekerjaannya penyanyi café, berstatus tunangan palsumu sekaligus sahabat baikmu, tingginya hanya 160 cm, bergolongan darah A, keras kepala, galak, dan… beberapa waktu yang lalu baru saja kutaklukan di ranjangku. Kau perlu informasi lainnya, Sehunna?"
Sehun menatap tak percaya pada sosok kakaknya. Ia menepis tangan Jongin dari bahunya.
"Kau menidurinya?!"
"Memangnya kenapa? Itu balasan karena kalian sudah berani membohongiku. Kau juga—"
BUGH!
Sehun, yang sudah mengepalkan tangannya karena menahan amarahnya sedari tadi, kini lepas kendali. Ia mengarahkan tinjunya telak mengenai wajah Jongin, hingga hyung-nya itu terhuyung mundur ke belakang beberapa langkah.
Tidak puas, Sehun maju dan merenggut kerah kemeja Jongin dan kembali meninjunya dua kali. Tetapi Jongin juga tersulut emosi, ia balas menendang perut adiknya. Sehun tersungkur sambil terbatuk-batuk, bagaimanapun Jongin lebih besar darinya. Dan ilmu beladiri kakaknya itu tidak main-main.
Jongin mengusap darah di sudut bibirnya sembari mengumpat kasar. Matanya menatap tajam Sehun, selama ini adiknya itu tidak pernah memukulnya seperti ini.
"Awas kau, aku tidak akan segan—"
"Persetan dengan ancamanmu, Kim Jongin! Kau sungguh brengsek!"
Sehun berbalik meninggalkan Jongin, melangkah keluar rumah dan segera memacu mobilnya meninggalkan mansion Kim. Sehun tampak gusar, ia mengarahkan mobilnya menuju rumah kekasihnya terlebih dulu.
Ting tong!
Sehun membunyikan bel, berusaha sabar menunggu Luhan membuka pintu untuknya.
"Sehunna, kupikir siapa… ada apa kau kemari?"
"Bolehkah aku masuk?"
"Tentu saja. Memangnya apa yang terjadi?"
Luhan menutup pintu rumahnya dan berbalik menatap kekasihnya.
"Hyungku memperkosa Kyungsoo."
"Hah? Bagaimana… Bagaimana…?"
Sehun memeluk kekasihnya erat. Biasanya itu berhasil membuatnya tenang.
"Nanti kujelaskan. Biarkan dulu begini. Aku pusing."
.
.
.
Kyungsoo membalik tubuhnya ke arah kanan. Tidak lama, ia memutar ke arah kiri. Terakhir ia mengubah arah menjadi telentang,lalu mengerang frustasi.
"Ada apa denganku? Kenapa aku menjadi seperti ini?"
Kyungsoo mengusap wajahnya. Jongin bahkan sudah beberapa waktu ini menjauhinya, entah dengan alasan apa. Seharusnya itu hal yang bagus, tetapi kenapa hatinya merasa lain? Memang tak ada lagi yang mengganggu tetapi juga ia merasa kehilangan.
Hatinya terasa sesak, dan Kyungsoo mengerjap. Ia terkejut merasakan sebulir airmatanya mengalir turun dari sudut mata kanannya. Apa ini?
Kyungsoo terduduk, mengusap lelehan air bening itu di pipinya.
"Aku tidak percaya ini. Aku… menangisi Kim Jongin? Aku pasti sudah gila…"
Kyungsoo menggelengkan kepalanya, memikirkan hal tidak penting seperti tadi hanya akan membuatnya lebih sulit tidur.
Lebih baik ia beristirahat, karena mulai minggu depan bandnya akan sibuk dengan tampil berkeliling di café-café mewah yang tersebar di Seoul. Ia harus mengingat pesan Ken untuk menjaga staminanya.
Sementara itu…
Jongin menggoyangkan gelas wine di tangannya. Meminum minuman ini membuatnya sedikit merasa rileks. Masih terngiang ucapan adiknya tadi.
Benarkah ia se-brengsek itu?
Onyx kelamnya menerawang, memikirkan apa saja yang sudah dilakukannya kepada Do Kyungsoo. Runyam. Kenapa gadis mungil itu bisa membuat hidupnya jungkir balik dengan begitu cepat? Tidak melihatnya beberapa hari ia sudah seperti ini. Jongin menatap cairan merah keunguan yang bergolak di gelasnya. Kemudian meneguknya hingga tandas, matanya terpejam.
Begitu matanya kembali terbuka, tampak tekad kuat terlihat di kedua bola mata kelam nan tajam itu. Memiliki Kyungsoo adalah suatu keharusan. Dengan begitu mungkin ia akan merasa benar. Tidak kacau dan tidak jungkir balik. Tak peduli apa tanggapan adiknya nanti, bahkan Kyungsoo sekalipun. Ia tidak akan melepas Kyungsoo lagi.
.
.
.
"Kyungsoo, aku dan Luhanie ingin bicara."
Kyungsoo menatap bingung pada kedua sahabatnya. Ia sedang memasak pagi itu, dan mereka datang bertamu seperti biasanya.
"Bicara saja. Kenapa kalian serius se—"
"Jongin hyung menidurimu 'kan? Kenapa kau tidak mengatakannya kepada kami?"
Kyungsoo melepas begitu saja spatula yang sedang dipegangnya.
"A-aku…"
Sehun mendekati Kyungsoo, tangannya terulur memutar knop kompor hingga apinya padam. Matanya menatap Kyungsoo lekat.
"Kau pasti disakiti olehnya, aku tahu itu semua salahku. Tetapi mengapa kau menyembunyikannya?"
Kyungsoo menggeleng. "Tidak… Aku baik-baik sa—"
"Berhentilah mengatakan kau baik-baik saja! Aku tahu kau tidak baik-baik saja, Do Kyungsoo! Mana ada gadis yang baik-baik saja setelah diperkosa?!"
"Geumanhae!"
Kyungsoo menjerit dan menutup kedua telinganya dengan tangannya. Luhan buru-buru mendekati Kyungsoo yang sudah merosot di lantai dapurnya.
"Soo, kau tidak apa-apa?"
Dirangkulnya tubuh gadis yang sudah dianggapnya adik sendiri itu. Luhan melayangkan tatapan mencela pada kekasihnya.
"Kalian pikir… mudah mengatakan aib seperti itu? Aku… sudah kotor… lantas apa aku dapat dengan mudahnya mengatakan hal itu pada orang lain?!"
"Kau pikir kami orang lain?"
Kyungsoo terdiam, tubuhnya gemetar. Kedua matanya mulai berair. Entah mengapa ia mudah sekali menangis akhir-akhir ini, dan itu sangat dibencinya.
"Sehunna, sudahlah!"
"Lagipula… bagaimana aku mau mengatakannya? Dia terus bersamaku, mengikutiku kemana pun aku pergi. Aku tidak bebas sama sekali…"
Kini Sehun yang terdiam. Mengapa kakaknya sampai sejauh itu? Biasanya ia tidak peduli dengan hal-hal seperti itu.
"Jadi, waktu kami meneleponmu malam itu… Apa hyungku ada bersamamu?"
Kyungsoo mengangguk pelan. Luhan mengeratkan rangkulannya, satu tangannya mengelus kepala Kyungsoo lembut.
"Dia membawaku ke kamarnya… Ketika aku terbangun pakaianku sudah tidak ada. Aku tidak bisa melawannya, Sehunna, tidak bisa… Dia mengikat tanganku, aku… Hiks…"
Isakan Kyungsoo pecah. Luhan lantas membawanya ke dalam pelukan, menenggelamkan wajah Kyungsoo di dadanya. Sementara Sehun terhenyak. Tidak perlu Kyungsoo menceritakan detailnya hingga selesai, ia sudah sangat paham.
Akhirnya Sehun berjongkok, ikut merangkul Kyungsoo dan menepuk kepala gadis itu sekilas.
.
.
.
Setelah pagi itu, Sehun tidak lagi mengungkit-ungkit masalah mereka. Hanya saja ia menjadi lebih protektif pada Kyungsoo, bahkan menitip pesan pada Ken untuk menjaga Kyungsoo saat ia tidak bisa mengawasi sahabatnya itu.
"Tentu saja Sajangnim, Kyungsoo selalu aman bersama kami."
Sehun mengernyit mendengar panggilan itu. Sekilas panggilan itu mengingatkannya pada sosok Jongin.
"Jangan panggil aku seperti itu."
Ken tertawa. Sehun menatap Kyungsoo yang masih asyik dengan teman-teman bandnya.
"Kalian akan tampil dimana setelah ini?"
Ken tampak berpikir sesaat.
"Hmm, sampai akhir minggu ini kami masih tampil di Seoul. Nanti mulai bulan depan kami mulai bergerak ke kota lain."
Sehun menghela nafas.
"Pokoknya tolong jaga dia. Aku tidak bisa selalu mengawasinya seperti sekarang, aku juga sibuk dengan persiapan pernikahanku. Kau tahu, dia sudah seperti adikku sendiri."
"Aku tahu, Sehun-ssi. Kami akan menjaganya. Tetapi sebenarnya ada apa?"
Sehun menggeleng dan mengulas senyum tipisnya.
"Tidak apa-apa. Pokoknya jangan biarkan dia pergi sendirian."
Setelah mendapat anggukan Ken, Sehun pergi. Ia hanya bersikap lebih hati-hati, siapa tahu hyungnya itu kembali menyakiti Kyungsoo. Dan percakapannya dengan Ken itu sudah berminggu-minggu yang lalu.
Tetapi Sehun sepertinya tidak tepat menaruh rasa curiganya. Yang seharusnya ia cemaskan akan menyakiti Kyungsoo bukanlah Jongin, tetapi orang lain.
Malam itu, Kyungsoo dan band-nya baru selesai di sebuah café. Gadis itu terus mengeluh pusing dan mual, dan hanya duduk diam sementara teman-temannya riuh seperti biasa.
"Kau kenapa?"
Kyungsoo mengangkat bahu dan menggeleng.
"Masih mual?"
Sebuah anggukan pelan didapat Ken.
"Mau kami antar pulang?"
"Kalian kan belum selesai. Sudah, mungkin nanti mualnya akan hilang. Tidak apa-apa."
Ken berdecak. "Kau selalu saja begitu."
"Mungkin aku harus mencaari udara segar di luar."
"Aku temani."
"Tidak usah. Aku bukan anak kecil, ingat?"
"Aku harus melakukannya, Kyungsoo-ya."
"Ish, nanti mualku tidak hilang-hilang, Ken!"
Ken mendelik. Ia lantas mendekati Kyungsoo sementara gadis itu tergelak pelan. Dijitaknya kepala Kyungsoo pelan.
"Sudahlah, lagipula aku hanya sebentar diluar. Lima menit, dan aku akan segera masuk lagi."
Ken menatap Kyungsoo sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Ya sudahlah, lagipula hanya sebentar katanya. Jika dalam lima menit Kyungsoo tidak kembali, maka ia akan menyeret gadis itu masuk kesini.
.
.
.
Kyungsoo merapatkan sweater yang dipakainya. Malam ini sepertinya angin yang berhembus cukup dingin, wajar saja mengingat saat ini hampir memasuki musim gugur.
Kyungsoo berjalan ke trotoar, melupakan ucapannya kepada Ken tentang keluar selama lima menit. Ia bingung dengan dirinya sendiri, semenjak bertemu dengan Jongin tampaknya hidupnya seperti roller coaster. Ah, ngomong-ngomong sudah berapa lama ia tidak bertemu Jongin? Seminggu? Dua minggu? Sebulan? Dua bulan? Entahlah. Rasanya sudah lama sekali suara bass yang khas itu tidak terdengar di telinganya.
Kyungsoo mengehembuskan nafasnya panjang, dan mengangkat wajahnya. Seekor anak kucing tampak kedinginan di tepi jalan di seberang. Kyungsoo melebarkan matanya. Rasa ibanya muncul melihat kucing kecil berbulu oranye itu.
Ia bergegas menyebrang, tanpa melihat keadaan sekitar jalan.
TIINN!
Kyungsoo terlonjak kaget dan terkesiap. Merasa de javu, dimana ia pernah nyaris ditabrak SUV. Pengemudi sedan itu menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Hei, Nona! Kau ingin mati, hah?"
Kyungsoo membungkuk dalam-dalam pada pengendara itu.
"Maaf, saya terburu-buru menyeberang. Sekali lagi, maafkan saya."
Pengendara itu menggelengkan kepala dan kembali melaju. Kyungsoo mengusap dadanya lega, ia bergegas mendekati anak kucing tadi.
"Aigoo, kenapa kau sendirian, manis? Kemana ibumu?"
Kyungsoo mengangkat tubuh kecil kucing itu dan menimangnya, bermaksud membawanya pulang untuk dipelihara. Namun ia tidak menyangka kucing kecil itu dengan lincah melompat dari gendongannya.
Kyungsoo terperanjat dan melangkah mengejar anak kucing tadi. Tetapi, kali ini ia tidak bisa lolos dari hantaman mobil yang lewat di jalan itu. Kyungsoo bahkan tak sempat menoleh, yang ia tahu hanyalah tubuhnya yang seperti ditabrak beton, ia merasa melayang selama sepersekian detik sebelum akhirnya menghempas aspal hitam dibawahnya.
.
.
.
Ya Tuhan, apa aku sedang bermimpi? Tetapi kenapa rasa dingin ini begitu nyata? Aku butuh selimut, aku tidak kuat dengan rasa dingin ini.
"DO KYUNGSOO!"
Oh, kenapa suara itu? Aku pasti benar-benar bermimpi… Apa aku begitu merindukan suara itu? Rasanya aku sampai ingin menangis, aku ingin menoleh untuk melihat apakah itu benar-benar dia. Tetapi aku tidak kuat, seluruh tubuhku kebas, aku tidak bisa bergerak…
"Tidak, tidak… Kyungsoo, Do Kyungsoo!"
Kyungsoo berusaha keras membuka matanya yang terasa berat, pandangannya mengabur dan tidak jelas. Seperti ada sesuatu yang menghalangi matanya untuk melihat. Tetapi Kyungsoo tahu, walaupun berkabut dan tidak jelas, wajah yang sedang membungkuk diatasnya itu adalah dia…
…Kim Jongin.
Ah, aku tidak bermimpi. Tetapi, aku sangat mengantuk… Aku ingin tidur…
"DO KYUNGSOO!"
Pandangan Kyungsoo hitam total, dan kelopak matanya sudah terpejam rapat.
.
.
.
"Hah…hah..hah…"
Suara deru nafas gadis cantik itu terdengar jelas didalam mobil mewah itu. Jujur saja, ia belum pernah menabrak orang. Selicik-liciknya ia, ia tidak pernah sampai berniat melenyapkan orang lain. Tetapi kali ini berbeda. Tikus pengganggu seperti Do Kyungsoo memang harus mati, agar tak ada lagi penghalang antara dirinya dan Jongin.
Demi Jongin ia rela melakukan ini. Bahkan tanpa bantuan pembunuh bayaran. Alasannya karena ia ingin melihat dan merasakan sendiri rasanya menabrak si tikus pengganggu.
Ternyata memang puas, sangat puas melihat tubuh gadis itu menghantam mobilnya begitu keras. Seharusnya Do Kyungsoo itu sudah mati, karena saat ia melirik ke spion, tubuh gadis itu terguling lemas di aspal.
Dengan begitu ia bisa mendapatkan kembali perhatian penuh Jongin, kekasihnya.
Kang Yooju, tertawa seperti seorang psycho di mobilnya, memikirkan kemenangannya. Atau setidaknya yang ia pikir begitu.
.
.
.
ToBeContinue
