My Precious Woman
.
.
.
A Remake from Kyumin's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place
Cast :
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Warning : a Genderswitch FF, Mature Content
.
.
.
"Kudengar tadi kau merengek meminta pulang. Kau sudah bosan disini ya?"
"Kau menguping!" desis Kyungsoo dengan nada menuduh.
Jongin tertawa pelan. "Ya…katakanlah begitu. Sebenarnya, aku bisa meminta dokter untuk memberimu izin pulang sekarang juga."
Kyungsoo diam, tetapi dalam hati ia mulai berdialog sendiri.
'Benarkah? Aku benar-benar sudah tidak tahan keluar dari sini. Rumah sakit membuatku muak.'
Tetapi tentu saja ia tidak akan mengatakan 'ya' dengan begitu mudah kepada Jongin. Kyungsoo tidak ingin semua kebutuhannya bergantung pada pria itu, memangnya siapa Jongin?
"K-kau membual."
"Tidak percaya, hm?"
Jongin mengendus pipi Kyungsoo, membuat gadis itu menggeliat risih dan mendesis kesal.
"Kalau kau tidak percaya, baiklah. Aku akan ke ruangan Park Uisanim dan kau akan keluar dari sini hari ini juga."
Jongin melirik ekspresi wajah Kyungsoo. Jelas sekali terlihat binar di kedua mata bulat itu, dan Jongin gemas melihat Kyungsoo yang bertingkah kebalikan. Kenapa gengsi gadis ini tinggi sekali, eoh? Dan itu hanya berlaku kepadanya! Yaish, Do Kyungsoo benar-benar…
"Kau tidak tertarik?"
Kyungsoo masih diam. Batinnya bergolak. Ia percaya Jongin bisa melakukan apapun yang pria itu mau, tetapi rasanya berat sekali menerima pertolongannya. Kyungsoo masih belum memaafkan Jongin atas apa yang sudah pria itu lakukan padanya. Jemarinya mengerat selimutnya, bingung harus bagaimana.
"Aku memang sudah bosan disini…" Kyungsoo bergumam pelan, tetapi cukup didengar Jongin yang menempel di sebelahnya.
"Lalu dimana masalahnya? Aku membantumu agar cepat keluar dari sini dan kau bebas. Kau hanya perlu menurutiku Kyungsoo…"
Itulah yang membuat Kyungsoo enggan. Jongin dan sikap diktatornya. Selalu saja meminta—memaksa orang lain untuk menurutinya. Cih!
Kyungsoo masih bergeming. Menuruti pada kata-kata Jongin membuatnya jengkel pada dirinya sendiri, tetapi ia memang sudah tidak betah di rumah sakit.
"Lagipula tiga hari lagi Sehun menikah… Memangnya kau tidak ingin melihatnya?"
"…"
"Melihat Sehun menikah itu hanya sekali seumur hidup, itu pun kalau dia tidak selingkuh—"
"Berisik! Kalau kau memang mau melakukannya, lakukan saja! Tidak usah banyak bicara!"
Jongin terkekeh pelan. Sangat puas bisa menggoda Kyungsoo seperti ini.
"Kau semakin cantik jika sedang marah, BabySoo…"
Jongin mencium pipi Kyungsoo dan beranjak, hendak menemui Park Uisanim.
"Jangan berbuat macam-macam sementara kutinggal sebentar, oke?"
.
.
.
"Kau licik! Kau menipuku!"
Jongin hanya mengangkat alisnya mendengar suara berisik Kyungsoo. Jika ia tidak ingat siapa Kyungsoo, mungkin Jongin sudah menyumpal bibir bawel itu dengan saputangannya.
"Licik apa? Aku membantumu pulang lebih cepat, katakan padaku dimana letak kelicikanku?"
Kyungsoo menggeram kesal, ingin sekali mencakar wajah Jongin yang pasti tampak menyebalkan saat ini. Tetapi ia hanya bisa berharap, karena kedua tangan Jongin mengurungnya dalam pelukan erat. Tangan pria itu mengunci pergerakannya dengan sempurna, membuat Kyungsoo benar-benar tak berkutik. Lagipula, ia baru saja sembuh bukan? Mau melawan sekuat apapun ia akan tetap kalah. Akhirnya Kyungsoo hanya bisa mendengus kesal. Ia memilih memandang keluar jendela dan melihat jalan raya. Tetapi keningnya berkerut, tiba-tiba kembali merasa panik.
"I-ini bukan jalan menuju rumahku! Kau bilang kau akan mengantarku pulang, Kim Jongin!"
"Tapi aku tidak bilang akan mengantarmu ke gubuk itu 'kan?"
"Sudah kubilang rumahku bukan gubuk!"
"Terserah padamu, Nona."
"Aku mau pulang sekarang! Ini pemaksaan! Kau mau menculikku lagi, huh?!"
Jongin menyeringai. "Kalau kubilang ya, bagaimana?"
Kyungsoo bergidik. Ia merinding mendengar suara rendah Jongin, bibir pria itu menggesek daun telinganya tadi. Jongin terdengar seperti psikopat.
"A-aku mau pulang! Pulang!"
"Yaish, diam Kyungsoo-ya! Lama-lama suaramu membuatku pusing!"
"Aku tidak mau! Aku mau pulang!"
Jongin menggeleng pelan, lantas ia menarik Kyungsoo ke pangkuannya. Menekan tubuh gadis itu hingga benar-benar menempel ke dadanya. Tangan Jongin meraih dagu Kyungsoo dan sedikit mencengkeramnya, memaksa gadis itu mendongak menatapnya.
"Kau bisa diam atau tidak? Kalau masih bersuara tidak jelas seperti tadi, aku tidak akan segan melemparmu keluar dari mobil sekarang."
Tatapan Jongin begitu tajam menghunus pandangan Kyungsoo. Dalam hati Kyungsoo merasa ciut. Melihat onyx kelam yang tampak begitu menakutkan sekarang. Kyungsoo merasa dejavu, ingat saat dulu awal mengenal Jongin. Pria ini mengerikan!
Kyungsoo mengalihkan matanya ke arah lain, tidak berani menatap Jongin lebih lama lagi. Cengkeraman di dagunya mulai terasa menyakitkan, hingga mati rasa. Kyungsoo menelan ludahnya gugup, apa Jongin serius ingin melemparnya ke jalanan?
Tetapi tidak, Jongin sudah melepaskan tangannya dari dagu Kyungsoo. Ia kembali mendekap tubuh di pangkuannya itu dan tidak berbicara apa-apa lagi setelahnya. Tentu saja ia tidak serius dengan ucapannya tadi. Mana mungkin ia melempar Kyungsoo dari mobil yang melaju kencang ini? Gadis yang sempat ditangisinya saat koma kemarin.
Kyungsoo pun diam seribu bahasa, tidak lagi berisik seperti tadi. Jongin benar-benar sulit dipahami, terkadang bisa bertingkah lembut dan manis, tetapi kemudian berubah menjadi sosok kasar dan menakutkan. Ia bahkan tidak bertanya saat mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah besar, yang Kyungsoo tahu itu bukan Kim Mansion.
Mobil berhenti dengan sentakan pelan, lalu Jongin bergerak membopongnya keluar.
"Kau bisa berjalan sendiri?" Tanya Jongin pelan, dan Kyungsoo hanya mengangguk samar sebagai jawabannya.
Andai saja ia dalam keadaan sehat sepenuhnya, mungkin yang ia lakukan sekarang adalah menginjak kaki Jongin dan secepat mungkin kabur dari pria mengerikan ini. Tetapi Kyungsoo hanya bisa berharap karena Jongin sudah merangkulnya erat dan mulai menuntunnya berjalan memasuki rumah itu.
"Kita ada urusan sebentar disini, BabySoo, terutama kau."
Kyungsoo bergidik. Urusan? Urusan apalagi? Dan kenapa Jongin membawa serta dirinya?
Jongin mengajaknya berjalan menyusuri deretan pintu, agak ke bagian belakang rumah. Kyungsoo mengamati dinding dan plafon sepanjang lorong yang dilewatinya. Sepertinya rumah ini sudah tidak terurus lama, padahal ini rumah besar. Siapa pemiliknya?
Jongin berhenti melangkah didepan salah satu pintu, kemudian membuka pintunya dan membawa Kyungsoo masuk.
"Nah, sekarang terserah padamu, BabySoo. Kau mau apakan dia?"
Kyungsoo masih diam, bingung sebenarnya. Apa maksud semua ini? Di depannya tampak tiga orang pria kekar, dan Kyungsoo sedikit takut melihatnya. Ia ingat pria-pria suruhan Jongin yang dulu pernah menculiknya.
Tetapi alis Kyungsoo bertaut bingung, karena selain pria-pria tadi, ada juga seorang gadis. Gadis itu duduk terikat di kursi, wajahnya sedikit menunduk. Entah tidur atau pingsan, Kyungsoo tidak tahu.
Jongin melambaikan tangannya member kode pada pria-pria suruhannya, mereka mengangguk mengerti dan langsung bertindak.
BYUR!
Kyungsoo melebarkan matanya kaget saat tiba-tiba salah satu pria kekar itu mengguyur gadis tadi. Gadis itu langsung terbangun, terlonjak saat tiba-tiba air dingin mengguyurnya. Ia tampak gelagapan, dan mendongak mencari tahu siapa yang sudah membangunkannya dengan cara tidak manusiawi ini.
Saat pandangan matanya melihat ada tiga orang pria yang mengurungnya disini selama berminggu-minggu, ia tidak heran. Namun matanya melebar, berkilat bahagia melihat ada sosok Jongin disana.
"Jonginnie… Aku tahu kau pasti akan menolongku…"
Jongin berdecih jijik. Ia semakin merangkul Kyungsoo yang hanya terdiam bingung.
"BabySoo, kau tahu siapa dia?"
Jongin melembutkan suaranya sembari bertanya pada Kyungsoo. Diam-diam ia melirik Yooju—gadis tadi dan menyeringai kecil.
Kyungsoo ragu, samar-samar ia memang seperti pernah melihat gadis itu. Mungkin di televisi rumah sakit? Wajah cantik gadis itu mirip dengan seorang model yang sedang dikabarkan hilang.
"Aku…tidak tahu. Tetapi wajahnya mirip Kang Yooju, model terkenal yang sedang hilang itu." Kyungsoo menjawab tidak yakin.
Sementara gadis didepannya—Yooju, mendelik tajam memelototi Kyungsoo. Pandangan bencinya yang tertuju pada Kyungsoo terlihat sekali di matanya, dan Jongin semakin senang melihatnya.
"BabySoo, itu memang dia. Dia memang Kang Yooju yang dikabarkan hilang itu, dia juga yang menabrakmu beberapa minggu yang lalu."
"A-apa?"
Jongin mengangguk, menjawab pertanyaan bingung Kyungsoo yang sedang mendongak menatapnya.
"Dialah penyebab kau berada di rumah sakit kemarin, sayang. Jadi sekarang, dia harus mendapat balasan yang setimpal. Kau ingin dia diapakan? Aku akan melakukannya untukmu."
Kyungsoo kembali memandang gadis itu. Sedikit kasihan melihat wajah cantik terdapat memar-memar, mungkin para bodyguard Jongin sempat memukulnya.
"Jangan kasihani dia, Kyungsoo. Dia bahkan tidak merasa bersalah sama sekali sudah menabrakmu, membuatmu berada di ambang kematian."
"Tikus kecil itu memang pantas mati! Tidak ada yang boleh merebutmu dariku, Kim Jongin!"
Yooju dengan beraninya bersuara, matanya berkilat marah menatap Kyungsoo. Huh, harusnya waktu itu ia memastikan apakah gadis itu sudah mati atau belum, bukannya langsung pergi begitu saja. Dan lihat sekarang, Do Kyungsoo si tikus sialan itu sudah kembali sehat, dengan Jongin yang berdiri disampingnya dan merangkulnya erat. Itu posisinya!
"Dengar Kang Yooju, aku bukan kekasihmu, karena aku tidak ingat pernah mengatakan bahwa kita memiliki hubungan. Ingat itu!"
"Oh ya? Kau bilang gadis yang sudah tidur denganmu adalah kekasihmu. Kau tidak ingat malam-malam indah yang kita lalui bersama, Jongin? Apa aku tidak cukup memuaskanmu?"
Yooju berusaha mengiba pada Jongin, memasang airmata palsunya agar bisa kembali merebut hati Jongin. Tetapi Jongin memandangnya jijik, tatapannya jelas sekali meremehkan Yooju.
"Kekasihku hanya dia, tidak ada yang lain."
"Tidak! Tikus itu tidak pantas untukmu! Apa yang kau pikirkan, Jongin? Dia bahkan tidak sebanding dengan kita, dia gadis rendah yang tidak pantas bersanding denganmu!"
"Tutup mulutmu! Kau pikir siapa dirimu mengatai Kyungsoo-ku seperti itu?!"
Kyungsoo, berdiri limbung di samping Jongin dengan tatapan nanar. Benarkah semua yang diucapkan Jongin dan gadis itu? Ia sungguh bingung, pikirannya berputar kemana-mana.
"Hei, pelacur miskin! Kau beri apa Jongin hingga dia berubah seperti itu, hah?! Gadis rendahan sepertimu pasti memakai cara murahan 'kan? Kau berikan tubuhmu? Memang sebagus apa dirimu—
PLAK!
Kyungsoo tersentak mendengar suara tamparan keraas itu. Jongin sudah melepaskan rangkulannya dan menghampiri Yooju , lalu menampar wajah gadis itu keras. Sudut bibir Yooju robek, tetapi Jongin tidak peduli. Mulut gadis ini sudah keterlaluan. Harusnya gadis tidak tahu malu ini berkaca dulu, siapa sebenarnya yang lebih jalang. Berani sekali mulut kotornya menghina Kyungsoo-nya yang berharga! Cih!
"Bereskan dia! Jangan sampai ada jejak yang tertinggal!"
Jongin berujar dingin, menatap Yooju yang tampak ketakutan di kursinya. Ketiga anak buahnya mengangguk, kemudian Jongin berbalik dan melangkah menghampiri Kyungsoo kembali.
"Kyungsoo-ya, jangan dengarkan ucapannya. Ini semua salahku, seharusnya aku tidak perlu membawamu kesini."
Kyungsoo menunduk menyembunyikan airmatanya. Mendengar semua kata-kata gadis tadi, rasanya hatinya sakit sekali. Ia tidak merasa kenal dengan gadis itu, tetapi mengapa gadis itu bisa menuduhnya macam-macam?
Jongin tampaknya tahu Kyungsoo menangis diam-diam. Pria jangkung itu lantas memeluk Kyungsoo erat dan menenggelamkan kepala Kyungsoo didadanya.
Jongin mengernyit merasakan beban tubuh Kyungsoo yang bertambah berat. Jongin menunduk dan meraih dagu Kyungsoo. Wajah cantik itu terdongak ke arahnya, tetapi tampak pucat dan matanya terpejam. Pipi Kyungsoo masih basah bekas airmatanya tadi. Jongin panik.
"Kyungsoo-ya!"
Ditepuknya pelan pipi itu, tetapi tidak ada respon yang menyambutnya. Jongin mengumpat kecil. Dengan segera ia membopong tubuh mungil itu, secepat mungkin keluar dari sana. Tidak dipedulikannya jeritan Yooju yang terdengar memanggil namanya. Jongin tidak peduli. Saat ini hanya ada Kyungsoo dipikirannya, tak ada yang lain, apalagi gadis sampah macam Kang Yooju.
.
.
.
Jongin keluar dari kamar rawat Kyungsoo. Sudah pukul sepuluh malam, dan Kyungsoo terpaksa kembali dirawat di rumah sakit. Menurut Park Uisanim Kyungsoo hanya shock, dengan kondisi yang belum sehat sepenuhnya ia sudah mendapatkan peristiwa yang tidak mengenakkan. Jongin merasa bersalah, harusnya ia tidak perlu membawa Kyungsoo menemui Yooju.
Jongin tidak mengira Yooju masih berani menghina dan mengatakan macam-macam pada Kyungsoo. Harusnya ia tangani sendiri urusan gadis itu. Dan sekarang Kyungsoo-nya kembali terbaring di dalam sana.
Jongin mendesah pelan. Ponsel didalam sakunya bergetar, dan ia meraihnya.
"Ya?"
"…"
"Baguslah kalau begitu. Aku hanya perlu melihat beritanya di koran besok pagi."
"…"
"Ya."
Jongin menyeringai kecil. Kang Yooju, kini hanya tinggal nama. Jongin puas dengan cara kerja anak buahnya, mereka memang bisa diandalkan.
Jongin akan menyingkirkan siapapun yang sudah menyakiti Kyungsoo-nya. Tidak peduli pria atau wanita.
Baru saja ia memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya, ujung jemarinya menyentuh benda lain disana. Jongin penasaran, ia pun merogoh benda itu dari saku celananya. Ponsel milik Kyungsoo.
Tiba-tiba benda itu bergetar dan berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. Jongin bisa melihat nama 'Luhanie' tertera di layar ponsel Kyungsoo.
Tanpa ragu ia menjawab panggilan itu.
"Ya?"
"Soo-ya?"
Suara diseberang tampak ragu, mungkin heran kenapa yang mengangkat teleponnya bukan suara Kyungsoo.
"Ini aku, Jongin. Kyungsoo sedang tidur."
Suara diseberang tampak terkesiap panik, kemudian berganti dengan suara pria. Jongin tahu, ia sangat hafal suara siapa itu.
"Hyung, aku bersumpah aku akan menghajarmu kalau kau berani berbuat macam-macam pada Kyungsoo!"
Jongin tertawa pelan.
"Aku memang sudah berbuat macam-macam padanya. Kau mau apa? Menghajarku? Kau sudah melakukannya, dongsaeng…"
"Sialan! Kau benar-benar cari mati denganku, Kim Jongin!"
Jongin menggelengkan kepalanya pelan. Malas menghadapi tingkah emosi adiknya yang menurutnya kekanakan.
"Sudahlah, Sehunna… Aku sedang malas berkelahi denganmu. Aku pastikan Kyungsoo aman bersamaku, oke? Kau urus saja tunanganmu."
Jongin langsung mematikan sambungan telepon begitu saja. Tidak peduli, pasti adiknya sedang mengumpat di seberang sana.
Jongin memasukkan ponsel Kyungsoo kembali ke saku celananya. Ia melangkahkan kakinya kembali memasuki kamar rawat Kyungsoo. Ia mendekati ranjang Kyungsoo, meringis melihat selang infus kembali menancap di lengan kanan Kyungsoo. Wajah gadis itu sudah tidak sepucat tadi, dan itu membuat Jongin sedikit tenang.
Perlahan seolah tak ingin mengganggu Kyungsoo yang tertidur, Jongin menaiki ranjang Kyungsoo dan berbaring disamping gadis itu. Kedua tangannya melingkar di tubuh Kyungsoo, menunjukkan perlindungannya sekaligus keposesifannya.
Jongin memajukan wajahnya sedikit dan mencium pipi Kyungsoo sayang.
"Aku akan selalu menjaga kalian, Kyungsoo-ya, dan juga baby kita didalam sini…"
Jongin mengelus perut Kyungsoo lembut dari luar selimutnya. Ia sedikit geli mengingat Kyungsoo tidak menyadari sama sekali tentang kehamilannya. Padahal sekarang sudah menginjak minggu keenam. Biarlah, Jongin akan memberitahunya nanti, disaat yang tepat.
Sekarang Kyungsoo hanya perlu sembuh seperti sedia kala, cerewet seperti biasanya dan yang terpenting gadis itu harus mulai bersikap manis kepada Jongin.
Jongin menatap wajah pulas Kyungsoo. Mungkin ia harus mempersiapkan pernikahan juga untuk menyusul adiknya. Ia harus segera memiliki Kyungsoo, dengan sah di mata hukum, agar ia bisa leluasa menghabiskan waktunya bersama gadis keras kepala ini. Memulai hidup barunya di usianya yang sudah semakin tua, apalagi adiknya senang sekali menggoda umurnya ini. Hah!
"Kau harus menikah denganku, BabySoo, secepatnya…"
.
.
.
ToBeContinue
