My Precious Woman
.
.
.
A Remake from Kyumin's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place
Cast :
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Warning : a Genderswitch FF, Mature Content
.
.
.
Jongin sedang asyik mengusap pipi Kyungsoo. Pagi ini Park Uisanim memberi tahu Jongin, jika sampai siang keadaan Kyungsoo tetap stabil, maka ia diperbolehkan pulang hari ini juga. Jongin menghela nafas lega, bersyukur sekali tidak terjadi hal yang lebih buruk pada Kyungsoo. Sudah cukup gadis itu mendapatkan 'sakit' yang bertubi-tubi. Baik itu dari Jongin sendiri ataupun orang lain.
Lagipula, Kyungsoo sedang mengandung anaknya. Calon penerusnya. Jongin tidak akan membiarkan Kyungsoo dan bayinya mendapat gangguan macam-macam. Ia ingin menjadi sosok suami dan ayah yang baik kelak.
"Soo, bangun sayang…"
Jongin berbisik pelan , menoel pipi Kyungsoo. Jemari Kyungsoo yang berada di genggamannya terus dimainkan sedemikian rupa, seolah itu tangan boneka.
"Hmmh…"
Kyungsoo mulai melenguh pelan, kelopak matanya bergerak-gerak akan terbuka. Perlahan gadis itu membuka matanya, mengantisipasi sinar matahari yang sedikit masuk melalui celah-celah gorden tipis ruangan ini.
Eh, tunggu dulu…
"Hei sayang…"
Uh? Suara Jongin…?
Kyungsoo mengerjap sekali lagi dan mendapati wajah pria itu berada tepat disampingnya. Kyungsoo hanya menatap kosong pada Jongin sejenak, berusaha memutar kembali memorinya. Ia ingat Jongin memaksanya pulang bersama ke rumah pria itu. Kemudian ada sosok gadis asing yang…. Ah! Kyungsoo ingat, gadis itu tampak benci sekali padanya. Dan yang membuat Kyungsoo sakit hati adalah gadis itu menyebutnya pelacur. Pelacur siapa? Jongin?
Kyungsoo menatap Jongin, tepat di onyx kelam yang hari ini terlihat hangat dan lembut itu.
"Gadis itu…siapa?"
Senyum Jongin sedikit memudar mendengar suara serak Kyungsoo barusan. Ia tidak ingin Kyungsoo membicarakan masalah kemarin, tidak boleh.
"Siapa, Soo?"
"Yang kemarin… Yang menyebutku…pelacur? Siapa dia? Kekasihmu?"
Jongin memilih mengabaikan pertanyaan Kyungsoo, pria itu beralih memegang bahu Kyungsoo dan membantu gadis itu duduk.
"Karena kau sudah bangun, lebih baik kau makan. Kau belum makan apapun sejak kemarin sore."
Jongin mengatur ranjang rumah sakit agar sedikit menekuk keatas, supaya Kyungsoo bisa duduk menyandar selama ia makan. Jongin memperbaiki posisi Kyungsoo agar gadis itu duduk dengan benar, lalu ia meraih nampan berisi sarapan Kyungsoo.
"Jongin…siapa dia? Kenapa dia sangat membenciku?"
Jongin tertegun mendengar suara Kyungsoo yang memanggil lirih namanya. Biasanya gadis itu selalu saja berteriak memakinya.
"Bukan siapa-siapa, sudahlah. Aku tidak mau membicarakan ini, oke? Lebih baik kau makan sekarang, aku akan menyuapimu."
Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, menatap Jongin dengan kecewa. Sikap Jongin yang tidak terang-terangan malah membuatnya semakin sesak. Kyungsoo memejamkan matanya. Ia samar-samar ingat, gadis itu memang mengatakan bahwa dia adalah kekasih Jongin.
Oke, seharusnya Kyungsoo tidak perlu memikirkannya 'kan? Bukankah dia sudah tahu jika Jongin memang memiliki banyak gadis? Tetapi rasanya aneh...setelah melihat dan mendengar sendiri bahwa salah satu kekasih Jongin berbicara seperti itu di depan mata kepalanya. Kyungsoo belum pernah jatuh cinta…jadi ia tidak tahu apa yang disebut cemburu itu. Apa sekarang dia sedang cemburu?
Tanpa sadar Kyungsoo memukul pelan kepalanya, gemas dan kesal dengan dirinya sendiri, juga pada Jongin yang seperti menutup-nutupi identitas gadis itu.
"Kyungsoo, berhenti memukuli kepalamu."
Jongin dengan sigap mencekal satu tangan Kyungsoo dan menggenggamnya erat.
"Kau kenapa?"
Kyungsoo membuka mata dan menatap Jongin sayu, tampak memelas sekali.
"Siapa dia, Jongin? Aku ingin tahu… Kenapa dia benci sekali padaku? Kenapa dia menyebutku pelacur? Aku bukan pelacur… Aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali… Apa salahku padanya? Hiks..."
Isakan Kyungsoo pecah diujung kalimatnya. Dia masih berusaha menatap Jongin walaupun pandangan matanya memburam seiring bulir-bulir bening airmatanya yang mulai muncul dan memenuhi ruang penglihatannya.
"Astaga, Kyungsoo…"
Jongin beringsut mendekati Kyungsoo, dan meraih tubuh itu dalam pelukannya. Bahu Kyungsoo bergetar pelan, gadis itu terisak pelan dengan wajah terpendam di dada Jongin.
"Do Kyungsoo, dengarkan aku. Gadis itu bukan siapa-siapa untukku, dia hanyalah gadis sampah yang sifat busuknya tersembunyi di balik kecantikannya. Kau tidak usah memikirkan ucapannya, semua ucapannya itu karena dia iri denganmu. Kau mengerti? Jadi sekarang berhenti menangis, aku tidak suka melihat calon istriku menangis seperti ini."
Jongin mengangkat wajah Kyungsoo dan menghapus airmata gadis itu lembut. Jari-jarinya bergerak pelan, tidak ingin menyakiti wajah cantik itu, sekaligus mengagumi betapa halusnya kulit Kyungsoo. Seperti kulit bayi.
"Jangan mengingat-ingat ucapannya yang kemarin, lupakan saja seolah dia tidak mengatakan apapun. Ucapannya tidak pantas diingat."
Kyungsoo memang terdiam, ia menatap Jongin yang masih sibuk mengusap wajahnya.
"Tadi kau bilang apa? C-calon istri?" Tanya Kyungsoo dengan suara tercekat yang parau.
Kyungsoo mengerutkan sedikit alisnya, pertanda ia bingung. Tetapi Jongin hanya tersenyum simpul dan mencium hidung Kyungsoo gemas.
"Ayo makan, aku akan menjadi perawatmu hari ini."
.
.
.
Siang harinya, keadaan Kyungsoo sudah membaik. Park Uisanim memeriksanya sekali lagi sebelum pulang. Dokter paruh baya itu tersenyum ramah pada Kyungsoo setelah melepas stetoskopnya.
"Dia benar-benar sudah pulih, Uisa?"
Jongin yang sedari tadi diam mengamati membuka suaranya.
"Ya, sejauh ini keadaannya stabil. Nona Do boleh pulang hari ini."
Jongin mengangguk, sedikit mengulas senyum tipis. Matanya lekat menatap Kyungsoo yang tampak salah tingkah dipandangi olehnya. Park Uisanim berlalu dari ruang rawat Kyungsoo, meninggalkan hanya gadis itu bersama Jongin. Suasana hening sesaat, Kyungsoo yang jengah karena terus di perhatikan oleh mata tajam Jongin.
"Berhenti memandangiku seperti itu. Kau membuatku takut." Gerutu Kyungsoo sedikit kesal.
Jongin menahan tawanya, lalu melangkah mendekati Kyungsoo yang masih terduduk di ranjang rumah sakit. Pria itu membungkuk ke arah Kyungsoo, tangannya mulai melingkari tubuh Kyungsoo.
"Ah, Do Kyungsoo sudah kembali ketus padaku? Dan apa tadi? Kau ketakutan?"
Kyungsoo memalingkan wajahnya enggan, entah mengapa ia merasa wajahnya memerah sekarang. Keadaan mereka sekarang layaknya drama-drama di televisi, dimana sang pria menggoda tokoh gadisnya dan gadis itu langsung merona malu. Aish!
Suara bass Jongin yang terkekeh pelan terdengar di telinganya. Nafas hangatnya yang berbau mint tercium oleh Kyungsoo, dan tiba-tiba debaran jantungnya meningkat.
"Ayo pulang, Kyungsooie."
Kyungsoo menoleh menatap Jongin. "Pulang ke…rumahmu?"
Jongin mengangguk dan memajukan wajahnya, hendak mencium Kyungsoo. Tetapi gadis itu buru-buru memundurkan wajahnya dan melempar kalimat lain pada Jongin.
"A-aku mau pulang ke rumahku saja."
Jongin berhenti, hidungnya menempel di hidung Kyungsoo. Tatapannya tiba-tiba mengeras.
"Kau tidak akan pulang kesana lagi, Kyungsoo. Mulai sekarang kau harus tinggal denganku."
Jongin mengucapkannya lambat-lambat dan tegas. "Dan aku tidak mau ada penolakan."
Nada final itu seolah tak terbantah, tetapi Kyungsoo masih tidak terima kenapa Jongin senang sekali memaksanya. Ia mendorong Jongin menjauh dan berniat kabur, secepat yang ia bisa. Baru beberapa langkah kakinya maju, Jongin sudah menyambar tubuhnya dan membopongnya.
"Kau ini kenapa keras kepala sekali, hah? Kalau kau terus saja seperti ini bagaimana bisa aku tidak bertindak kriminal dengan menculikmu? Hanya menurutiku, Kyungsoo."
"Aku tidak suka kau selalu memaksaku! Kau bukan siapa-siapaku 'kan?"
'Memang benar 'kan? Dia sebenarnya menganggapku apa? Calon istri, aku tidak yakin, ia pasti hanya bergurau. Bukankah dia sangat berpengalaman menggombali gadis?'
Jongin melangkah pelan, tidak menghiraukan Kyungsoo yang terus bergumam pelan meminta diturunkan. Di lobby rumah sakit, supir pribadinya sudah menunggu dan langsung membukakan pintu mobil untuk Jongin.
"Please, Jongin, aku mau pulang ke rumahku…"
Kyungsoo masih berusaha mengiba, siapa tahu masih ada kesempatan terakhirnya sebelum pintu mobil menutup. Tetapi Jongin mengabaikannya, dan mobil mulai berjalan pelan meninggalkan rumah sakit.
Kyungsoo hanya bisa menatap kecewa ke luar mobil. Kembali terkurung di Kim Mansion, eoh? Beberapa gadis yang menginginkan posisinya pasti senang dengan keadaan itu. Mereka mungkin tidak peduli dengan tanggapan orang tentang itu, yang terpenting adalah mereka bisa bersama Jongin, satu atap.
Tetapi tidak dengan Kyungsoo, ia bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengan Jongin. Ia bisa mengenal pria itu pun dengan cara yang tidak menyenangkan. Kyungsoo tidak akan pernah melupakan malam dimana Jongin menyakitinya, yang tanpa ia tahu telah membuahkan hasil yang kini tengah bersemayam di dalam perutnya. Teringat malam itu, membuat Kyungsoo sesak. Kata-kata 'pelacur' kembali terngiang di telinganya. Ia sama sekali tidak menginginkan kejadian itu, bercinta dengan Jongin.
Apa masih bisa dikatakan bercinta jika saat itu dirinya menangis kesakitan menerima semua paksaan Jongin?
Kyungsoo kembali terisak tanpa suara, ia benci sekali dengan keadaan ini. Menangis di hadapan Jongin, bukankah ia sudah bertekad tidak akan lagi menangis didepan pria ini?
.
.
.
Jongin bukannya tidak tahu. Ia tahu, sangat tahu kalau gadis dalam pelukannya ini kembali menangis. Jongin menghela nafas, mengapa sulit sekali bersama Kyungsoo dalam keadaan normal? Mengapa susah sekali untuk Kyungsoo menerimanya? Jongin tidak bermaksud menyakitinya, demi Tuhan.
Tidak tahan lagi, Jongin meraih dagu Kyungsoo dan menundukkan kepalanya. Memang benar, airmata Kyungsoo sudah deras di kedua pipinya. Jongin mengusapnya sekilas, lalu menekan bibirnya diatas bibir gadis itu. Menekannya dalam-dalam, berusaha membuat Kyungsoo mengerti akan perasaannya.
Wajah keduanya seperti menyatu, dengan Jongin yang menunduk diatas Kyungsoo. Pipi Jongin menempel rapat di pipi Kyungsoo, dan membuat kulit wajahnya turut basah karena Kyungsoo belum berhenti terisak.
"Apa sebegitu sulitnya menerimaku, hm? Aku sama sekali tidak ingin menyakitimu, Kyungsoo-ya… Bahkan oleh diriku sendiri."
Kyungsoo tidak menjawab, tangannya sibuk mengerat kerah kemeja Jongin. Ia menggigit bibirnya yang memerah basah karena ciuman Jongin tadi, menahan agar isakannya tidak terlalu keras.
"Jangan menggigiti bibirmu, menangis saja, tidak apa-apa kalau itu membuatmu merasa lebih baik."
Jongin menjulurkan telunjuknya dan membebaskan bibir bawah Kyungsoo dari geratan giginya, sebelum gadis itu melukai bibirnya sendiri.
Jongin mengeratkan pelukannya yang sudah erat, membuat Kyungsoo bisa mendengar debaran jantung Jongin yang berdetak tenang.
"Kau tahu kenapa aku mengajakmu tinggal bersamaku? Aku hanya ingin kalian selalu berada dalam perlindunganku. Aku tidak ingin sesuatu mencelakai kalian, kau dan calon anakku yang sedang tumbuh disini."
Jongin mengusap perut Kyungsoo lembut, bibirnya mengukir senyum kecil saat Kyungsoo mendongak menatapnya. Mata bulat gadis itu mengerjap lucu, dengan sudut mata yang masih basah. Jongin ganti mengusap wajah Kyungsoo, membersihkan sisa-sisa tangisannya tadi.
"Kau sedang mengandung, Kyungsoo-ya, dan yang di dalam sana itu anakku. Anak kita."
Kyungsoo menunduk memperhatikan perutnya. Perlahan tangannya menempel disana, mencoba merasakan tanda-tanda kehidupan si jabang bayi. Lalu tangan Jongin ikut menangkup tangannya, menggenggamnya dan bersama-sama mereka mengusap perut Kyungsoo.
"Aku tidak mau kau celaka lagi, terluka lagi, apalagi sampai kritis seperti kemarin. Oleh karena itu kau harus selalu berada bersamaku, aku akan melindungimu dari apapun yang mungkin membahayakanmu dan Kim junior itu."
Kyungsoo masih berusaha mencerna semuanya. Kenyataan bahwa ia sedang mengandung, sedikit membuatnya terkejut. Ia tidak menyangka sama sekali, bahwa ternyata ada benih Jongin yang sedang berjuang hidup di dalam perutnya.
Anak kita.
Kata-kata itu terdengar manis sekali. Jongin mengakuinya, bahkan pria itu tahu lebih dulu dibandingkan dirinya. Kyungsoo pikir Jongin akan membuangnya setelah tahu ia ternyata mengandung hasil hubungan 'paksaan' waktu itu, biasanya begitu 'kan yang terjadi di drama?
Kyungsoo tanpa sadar tersenyum samar. Menyadari bahwa ia akan segera menjadi ibu, entah mengapa ia merasa bahagia. Ia tahu pasti tidak akan mudah menjalaninya, tetapi membayangkan harinya bersama seorang bayi yang lucu dan menggemaskan, Kyungsoo pikir itu tidak masalah. Menjadi seorang ibu, bukankah keinginan semua gadis? Karena hal itu mulia.
"Kau tidak berpikir yang macam-macam lagi 'kan?"
Kyungsoo tersentak saat Jongin menyentil hidungnya pelan. Sorot mata pria itu lembut menatapnya, Kyungsoo bisa melihat hanya ada pantulan dirinya di kedua onyx kelam itu.
"Kau harus tidur jika kita sudah sampai nanti. Kau terlihat lelah, apa karena akhir-akhir ini kau banyak menangis?"
Jongin mencoba bercanda, dan ia tertawa kecil mendapatkan remasan di kerah kemejanya. Digenggamnya tangan Kyungsoo erat.
"Setelah kau sudah benar-benar sehat seperti semula, kita akan segera sibuk. Aku ingin kau menikah denganku. Secepatnya."
.
.
.
"Hun, coba kau hubungi ponsel Kyungsoo. Ya Tuhan, dimana sih dia?!"
Luhan berseru gusar. Bagaimana tidak? Setahunya Kyungsoo masih dirawat disini kemarin, dan gadis itu belum boleh pulang sampai lima hari kedepan. Luhan ingin meminta izin dokter agar membolehkan Kyungsoo keluar hari ini saja.
"Tidak aktif, chagi. Jongin hyung juga tidak bisa dihubungi."
Luhan tampak cemas. "Seharusnya kita tidak meninggalkannya kemarin."
"Coba kita temui Park Uisanim. Mungkin dia tahu sesuatu."
Sehun tersenyum menenangkan dan merangkul kekasihnya berjalan meninggalkan kamar rawat yang tadinya ditempati Kyungsoo.
Namun ternyata di lorong rumah sakit, mereka sudah terlebih dulu berpapasan dengan Park Uisanim.
"Uisanim!"
Dokter paruh baya yang ramah itu tersenyum melihat sosok Luhan dan juga Sehun. Mereka pengunjung setia Kyungsoo, pasiennya, selain Tuan Kim selaku suaminya.
"Apa Kyungsoo sudah diperbolehkan pulang? Kenapa dia tidak ada dikamarnya?" Tanya Luhan tanpa basa-basi.
"Ah, Nona Do Kyungsoo ya? Tadi dia sudah dibawa pulang oleh suaminya, Tuan Kim. Memangnya kalian tidak tahu?"
Keduanya serempak menggeleng bingung.
"Dibawa pulang bagaimana, Uisanim?" tanya Sehun.
"Yah, sebenarnya kemarin Tuan Kim sudah memintakan izin agar Nona Do bisa pulang. Tetapi malamnya Tuan Kim datang kembali kesini membawa Nona Do yang pingsan. Saya terpaksa menahan Nona Do satu malam lagi disini agar ia benar-benar pulih. Dan siang ini Nona Do sudah baik-baik saja, Tuan Kim sendiri yang membawanya pulang tadi."
Luhan melebarkan matanya, lalu menoleh menatap kekasihnya. Sehun berusaha tenang, dan ia mengucapkan terima kasih pada Park Uisanim.
"Hun, Kyungsoo…"
"Tidak apa-apa, Lu. Aku akan menghubungi Jongin hyung lagi."
Luhan bukan tanpa alasan merasa cemas. Sikap Kim sulung itu masih abu-abu untuknya, belum terlihat jelas apakah pria itu memang memiliki niat baik untuk membantu Kyungsoo. Luhan tahu dengan jelas riwayat Jongin, ia takut sekali terjadi sesuatu lagi pada Kyungsoo.
"Tidak bisa tersambung. Lebih baik kita pulang saja, mungkin…Jongin hyung ada di rumah."
.
.
.
"Tidurlah, Soo, matamu terlihat bengkak. Nanti jika Sehun melihatnya, anak itu pasti akan memukulku lagi."
Kyungsoo masih tampak risih berbaring di ranjang ini. Kamar ini, kamar tempatnya menangis malam itu, dibawah tindihan Jongin. Sekarang ia berada di posisi yang sama sekali lagi, tetapi tanpa Jongin yang merasuki tubuhnya dengan paksa. Yang ada sekarang Jongin yang dengan hangat memeluknya, mengelus kepalanya dan membisikkan kata-kata lembut agar ia cepat tertidur.
"Kau tidak perlu takut, aku akan melindungimu bukan? Bahkan dari diriku sendiri."
Kyungsoo masih mendengar suara Jongin samar-samar, itu sebelum kedua kelopak matanya terasa berat dan akhirnya menutup. Ia bahkan merasakan bibir Jongin di keningnya, lalu semuanya hilang. Kyungsoo tertidur, hingga ia tidak tahu Jongin yang tersenyum memandang wajah pulasnya.
"Jaljayo, nae sarang…"
Jongin mencium kening Kyungsoo sekali lagi dan merapatkan selimut menutupi tubuh calon istrinya hingga sebatas dada, lalu bangkit dari ranjang. Pria jangkung itu berjalan ke arah balkon kamarnya, bermaksud menutup pintunya agar tidak ada angin masuk. Tetapi matanya menangkap mobil adiknya melaju memasuki halaman rumah. Jongin tersenyum kecil, ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi beberapa menit ke depan.
.
.
.
"Jongin hyung!"
Jongin baru saja keluar kamar dan menutup pintunya pelan di belakang tubuhnya ketika didengarnya suara adiknya memanggil. Tunangannya ternyata turut kesini, gadis pirang itu berjalan di belakang Sehun.
"Ada apa?"
"Kyungsoo… Kau kemanakan dia, hyung?"
"Dia ada dikamarku, kalian jangan ribut disini. Dia baru saja tertidur."
"Kenapa hyung tidak memberitahuku kalau Kyungsoo sudah keluar rumah sakit hari ini?"
Jongin hanya tersenyum miring. "Maaf dongsaeng, aku selalu melupakan semuanya jika sudah bersama Kyungsoo."
"Aku mau lihat keadaan Kyungsoo…"
Suara Luhan terdengar, gadis itu menatap takut-takut pada Jongin. Jongin membalas tatapan Luhan, lalu tersenyum hangat.
"Nanti kalau dia sudah bangun saja. Aku berani jamin sahabatmu itu dalam keadaan baik, tapi dia butuh tidur saat ini."
Luhan masih tampak keukeuh ingin melihat Kyungsoo.
"Hyung, tak bisakah kami melihatnya? Dia sahabatku, mengapa jadi kau yang menguasainya?"
"Tidak bisa, Hun… Dia milikku sekarang, dan saat ini statusnya adalah tawanan kamarku. Jadi aku tidak mengizinkan siapapun melihatnya. Kalian bisa melihatnya, tapi nanti."
"Hyung!"
"Sudahlah, lebih baik kau nikmati waktumu bersama tunanganmu. Ajak dia jalan-jalan keluar, tampaknya dia tegang sekali."
"Kau pikir karena siapa Luhanie begini, hyung?"
Jongin terkekeh, tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Ya sudah, maafkan aku, ne?"
Sehun menghela nafasnya, menatap aneh pada hyungnya yang entah mengapa terlihat sangat senang hari ini. Ia curiga hyungnya itu melakukan sesuatu lagi, tetapi entahlah. Hati kecilnya mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang buruk menimpa Kyungsoo. Andai saja hyungnya tidak berdiri di pintu kamar dan mengawasinya pergi, mungkin Sehun sudah nekat menerobos memasuki kamar hyungnya.
"Mulai sekarang, relakan saja Kyungsoo untukku, oke? Kalau kau terus menggangguku dan Kyungsoo, mungkin itu berlaku juga untuk tunanganmu."
Jongin mengucapkannya sambil menyeringai, dalam hati senang sekali melihat ekspresi horor sepasang kekasih di depannya ini.
"Berani menyentuh Luhanie, awas kau, Hyung!"
Sehun menatapnya tajam dan segera menarik tangan Luhan pergi menjauh dari sana. Jongin bersedekap satu tangan, karena tangan lainnya ia gunakan untuk menutupi bibirnya yang hampir saja tertawa keras. Untung ia punya pengendalian diri yang bagus. Oh, mungkin pengecualian jika ia dihadapkan pada Kyungsoo. Pengendalian dirinya yang hebat itu bisa runtuh seketika.
Hah! Lebih baik ia menonton wajah tertidur Kyungsoo, sembari menunggu ibu dari calon anaknya itu terbangun.
.
.
.
ToBeContinue
