My Precious Woman
.
.
.
A Remake from KyuSoo's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place
Cast :
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Warning : a Genderswitch FF, Mature Content
.
.
.
"Pernahkah kakakmu itu bertingkah seperti ini sebelumnya, Hun?"
Sehun menggeleng. Ia memejamkan matanya saat tangan kekasihnya mengusap surai coklat di kepalanya dengan lembut. Ini nyaman, dan yang penting adalah sekarang ia bebas melakukan ini—bermesraan, bersama kekasih tercintanya. Sehun menggerakkan kepalanya, mencari posisi ternyaman di atas pangkuan sang kekasih.
"Sejauh ini tidak pernah ia bersikap begitu. Membawa gadis ke rumah pun hampir tidak pernah. Hanya satu dulu, Soojung, yang bisa menginjakkan kaki di kamar Jongin hyung. Selebihnya ia selalu meniduri gadis di hotel atau cottage pribadinya."
Gadis itu—Luhan, hanya mengangguk mengerti. Tangannya terus bergerak mengusap kepala Sehun, membuat pria itu terlarut dan sayup-sayup mengantuk.
"Apa kakakmu benar-benar mencintai Kyungsoo?" bisik Luhan.
Sekelebat perasaan cemas itu tetap ada, walaupun Jongin sudah memberikan lampu hijau untuk mereka, tetapi dengan sahabatnya sebagai gantinya, Luhan belum bisa tenang. Tidak pernah ada yang tahu apa yang akan dilakukan Jongin, bisa saja didalam kamar itu Kyungsoo sedang membutuhkan pertolongannya, mungkin Jongin sedang menyiksanya atau apa, atau—
"Chagi, tenang. Memang tidak ada yang tahu isi hati Jongin-hyung, bahkan aku. Tetapi di satu sisi hatiku mengatakan ia tidak akan berbuat apa-apa pada Kyungsoo. Jongin-hyung tidak akan menyakiti Kyungsoo lagi, sepertinya kecelakaan kemarin membuat Jongin-hyung berubah."
Sehun menggenggam tangan kekasihnya erat. Mereka sudah bersama-sama dengan Kyungsoo sejak sangat lama, maka mereka tidak akan membiarkan Kyungsoo tersakiti. Sudah cukup Kyungsoo hidup sebatang kara, tanpa kasih sayang orangtua, dan sudah seharusnya Kyungsoo mendapatkan kebahagiaannya. Sehun hanya berharap, bahwa hyung-nya serius. Serius mencintai Kyungsoo, dan akan selalu menjaga sahabatnya itu dengan baik sebaik-baiknya.
.
.
.
Jongin benar-benar tidak pernah merasakan perasaan yang meluap-luap, begitu menyenangkan dan membuat hatinya seperti melayang. Euphoria aneh tetapi membahagiakan ini sama sekali asing untuknya, tetapi ia tidak keberatan. Selama delapan tahun perasaannya seperti membeku, dan ia hampir tidak pernah merasakan lagi apa itu cinta. Terakhir kali ia mengenal cinta adalah saat-saat bersama Soojung dulu, gadis pujaannya sedari sekolah menengah atas. Semua hati dan perasaannya ia curahkan hanya pada gadis itu saja.
Ketika Soojung ternyata bermain di belakangnya dan menganggapnya hanya sebagai anak ingusan, Jongin terpukul. Ia sangat kecewa, dan sakit hati. Mengapa gadis itu begitu tega mempermainkannya selama tujuh tahun lamanya? Lalu apa arti tujuh tahun kebersamaan mereka? Cinta pertamanya, perasaan tulusnya yang murni Jongin rasakan dan berikan pada Soojung ternyata sia-sia. Sejak perceraian orangtuanya, dulu, Jongin bersumpah tidak akan melakukan apa yang orangtuanya lakukan.
Jongin ingin yang menikah dengannya nanti adalah gadis setia yang bersedia mendampinginya sampai akhir. Dan Soojung memberinya harapan saat itu. Dengan bukti tujuh tahun kebersamaan mereka. Tetapi malam itu Jongin benar-benar tidak percaya. Mereka baru saja melakukan seks, well, mereka sudah tidak asing lagi dengan hal itu. Walaupun rencana pernikahan masih beberapa minggu lagi.
"Jongin-ah. Lebih baik cukup sampai disini. Aku sudah tidak bisa lagi membohongimu lebih lama. Calon suamiku akan menjemputku besok, setelah itu aku akan ikut dengannya ke Jerman. Sudah ya, maaf tidak jujur selama tujuh tahun ini."
Rasanya Jongin seperti mendengar bom meledak didalam kepalanya. Ia masih berusaha mencerna semua perkataan Soojung, bahkan Jongin tidak sadar Soojung sudah pergi meninggalkan kamarnya. Meninggalkan Jongin yang masih terpaku dalam kekecewaan, amarah dan rasa sakitnya. Jongin menangis kala itu, ia merasa sangat bodoh selama ini. Selesainya ia menangis, ia bersumpah, semua gadis ternyata sama. Jalang dan materialistis. Ibunya dan Soojung adalah contoh nyata. Ia mengerti sekarang apa sebabnya ayahnya menceraikan ibunya.
Tidak akan ia membiarkan dirinya dibodohi lagi, dikecewakan lagi. Soojung adalah pelajaran berharga untuknya, membuatnya memupuk rasa dingin dan benci terhadap gadis jalang semacam Soojung.
Tapi itu dulu, setidaknya sampai beberapa bulan terakhir sebelum Jongin mengenal gadis yang satu ini. Yang lain daripada yang lain. Yang berbeda sama sekali, dan membuat prasangka buruk Jongin salah untuk pertama kalinya. Dan dia yang satu-satunya berhasil meruntuhkan tembok kokoh di dalam hati Jongin, meleburkan es itu menjadi lumeran kasih sayang yang hangat. Dan juga cinta yang telah lama hilang dari hati Jongin. Mengembalikan senyum tulus itu terpatri di wajah pria itu, yang kini sudah jatuh terlalu dalam untuknya.
.
.
.
Kyungsoo tidak pernah tahu, setelah sekian tahun lamanya Jongin hidup dalam kebekuan hatinya, sekarang pria itu mulai bertingkah abnormal. Sangat lain dari biasanya. Yah wajar saja Kyungsoo tidak tahu. Ia masih pulas diatas ranjang Jongin. Sama sekali tidak terusik dengan tingkah Jongin, si penonton tunggal pertunjukan tidurnya.
Benar, rasanya Jongin ingin sekali terus mengurung Kyungsoo di kamarnya. Lihat saja wajah tidur itu. Jongin tidak pernah melihat wajah yang sebegini menggemaskannya saat tidur. Ia sudah sering menonton Kyungsoo tidur, tetapi tetap saja ia tidak bosan. Bagaimana kelopak mata itu tertutup, menyembunyikan mata bulat dan jernih yang sanggup membiusnya dan membuat Jongin jatuh berlutut. Pipi itu mulus sempurna, gembil dan putih sekali. Seperti roti atau… bakpao? Jongin jadi ingin tertawa.
Rasanya tidak mungkin gadis ini sudah berusia dua puluh satu tahun. Wajahnya seperti anak yang bersekolah di taman kanak-kanak dan perawakannya yang mungil. Hidungnya kecil, tetapi mancung dan lancip. Indah sekali, Jongin sampai gemas dan menciumnya berkali-kali. Dan terakhir yang diamati Jongin, dan yang paling menggodanya, adalah lekukan daging berwarna pink-peach itu. Bibir itu polos dan tidak dilapisi lipstick, tetapi tetap saja jutaan kali menggoda Jongin. Bibir yang akan membentuk pola hati saat tersenyum, unik dan cantik, bagaimana bisa Jongin tahan untuk tidak menciumnya terus?
Dan sekarang saat sedang pulas, bibir itu sedikit membuka. Jongin jadi tahu satu kebiasaan Kyungsoo. Ada saja hal yang membuatnya semakin mencintai gadis mungil tetapi keras kepala ini. Bahkan dalam keadaan tidur dan tidak melakukan apapun, Kyungsoo bisa membuat perasaannya meningkat dan semakin menjorokkannya ke jurang terdalam yang bernama cinta.
Jongin berbaring menyamping di sisi Kyungsoo, menyangga kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan satunya ia gunakan untuk menyentuh Kyungsoo. Entah itu mengusap rambutnya, mengelus dahinya, menoel pipinya, mencubit kecil hidungnya atau memainkan bibir Kyungsoo.
"Kenapa ada makhluk sepertimu, Kyungsoo? Kau sangat indah, tahu? Apa yang dipikirkan Tuhan saat menciptakanmu? Tuhan pasti sayang sekali padamu, ya? Tetapi aku jauh lebih mencintaimu dan menyayangimu, Tuhan harus tahu itu. Dia pasti merestui jika aku menikahimu, karena dia yang paling tahu perasaanku."
Jongin bermonolog sendirian. Nah lihat 'kan? Betapa tidak normalnya kelakuan pemimpin Kim Corporation ini. Huh.
Calon ayah baru ini terus saja memandangi wajah tidur Kyungsoo, seolah tak ada yang lebih menarik untuk dikerjakan selain melakukan ini. Hari mulai temaram, semakin sore. Dan Jongin belum menyalakan lampu. Lebih baik sekarang ia bangun, menutup tirai jendelanya dan menyalakan lampu. Agar saat Kyungsoo bangun nanti gadis itu tidak ketakutan karena keadaan kamarnya yang gelap, mengingat saat ia meniduri paksa Kyungsoo dulu, kamar ini tanpa penerangan sama sekali. Hanya lampu balkonnya saja yang menyala.
Menurut Jongin, berdua dengan Kyungsoo di tempat temaram itu romantis. Apalagi ia sudah sangat yakin dengan perasaannya sekarang. Ia tidak mungkin menyakiti Kyungsoo lagi. Tetapi lebih baik ia tidak bersikap egois dan semaunya, ia juga harus memikirkan perasaan Kyungsoo yang masih belum sepenuhnya nyaman bersamanya. Saat ini kenyamanan dan keamanan Kyungsoo adalah prioritasnya. Tak ada lagi yang akan menyakiti miliknya, ibu dari calon anaknya ini.
Jongin terkadang gemas dengan sikap keras kepala Kyungsoo. Tidakkah Kyungsoo mengerti dengan perasaannya yang meluap-luap ini? Ini bukan sekedar obsesi belaka, ini murni cinta dari dalam hatinya yang paling jauh. Jongin tak habis pikir. Sebenarnya Kyungsoo itu sangat lugu dan polos dalam urusan ini. Ia sudah menyelidiki semua hal tentang Kyungsoo, ingat? Dan ia belum pernah membaca laporan bahwa Kyungsoo pernah pergi berkencan dengan pria lain. Padahal pekerjaannya itu sarat akan kehidupan malam yang liar, tetapi Kyungsoo tidak seperti itu.
Dalam pandangan Jongin, Kyungsoo bukan bitch yang memanfaatkan keadaan dari pria-pria di sekelilingnya. Ia keras dari luar, tetapi sangat soft dan rapuh didalam. Hidup yang mengharuskan Kyungsoo memasang sikap seperti batu karang itu, terlebih saat berhadapan dengan Jongin. Pria itu sedikit menyesal, mengingat apa saja yang sudah dilakukannya pada Kyungsoo. Tetapi ia tidak menyesal sudah memperawani Kyungsoo, karena kini sudah ada hasilnya, yang akan semakin mengikat mereka. Ia tidak akan melepaskan Kyungsoo, gadis itu harus bertanggung jawab karena sudah membuatnya jatuh cinta dan tergila-gila seperti ini.
Jongin bangkit dari posisi berbaringnya menonton Kyungsoo tidur, dan beranjak ke jendela. Menutup semua tirainya. Menekan saklar lampu kamarnya agar lampu kristal itu menyala terang dengan sinar keemasan yang lembut dan menenangkan. Agar Kyungsoo-nya merasa nyaman dan tidak ketakutan.
Jongin ingat Kyungsoo belum makan sedari siang tadi, dan dirinya pun sama. Entahlah, memandang Kyungsoo yang sedang pulas itu jauh lebih menarik ketimbang turun ke ruang makan dan menghabiskan makan siangnya. Jongin berjalan menghampiri Kyungsoo di ranjang, membungkuk dan mencium pipinya pelan.
"Sebentar, sayang, aku mau ke dapur dulu." Bisik Jongin.
Dan ia berbalik memutar langkah menuju pintu kamar, keluar dengan suara pelan debuman pintu. Berniat turun ke dapur dan mengambil sesuatu untuk makan sorenya bersama Kyungsoo, di dalam kamar.
.
.
.
Pusing. Satu hal yang dirasakan Kyungsoo saat baru terjaga. Tubuhnya terasa aneh, pegal, padahal ia baru saja bangun. Matanya mengerjap beberapa saat, menyesuaikan dengan keadaan kamar yang terang. Eh, kamar? Kamar siapa?
Kyungsoo langsung melebarkan matanya, dan berusaha bangun ke posisi duduk. Kamar mewah ini luas dan terang, seperti kamar hotel. Ah, hotel pun kalah sepertinya. Sinar lampunya tidak menyilaukan, tidak membuat mata sakit karena sinar keemasannya yang lembut itu. Memberikan perasaan damai dan nyaman.
Sembari perlahan duduk, Kyungsoo mengedarkan pandangannya menyapu ke sekeliling kamar. perlahan memorinya terputar. Dan Kyungsoo ingat sekarang. Ini kamar Jongin!
Tetapi kenapa keadaannya sangat berbeda? Ruangan ini membuatnya nyaman sekarang, dengan sentuhan emas dan merah marun yang klasik dan elegan. Kyungsoo menunduk mencengkeram bedcover tebal yang membungkus setengah tubuhnya. Berwarna marun sama persis dengan seprai dan sarung bantal, senada dengan tirai yang menggantung anggun di jendela sana. Kemudian lemari besar Jongin yang berwarna coklat memenuhi sepanjang dinding di seberang samping dekat balkon itu.
Aneh. Kyungsoo bahkan ingat ia masih enggan menutup matanya tadi siang, karena kamar Jongin seperti menyimpan sesuatu yang menakutkan untuknya. Mungkin tadi ia tidak fokus dengan keadaan kamar yang sangat cozy ini, ia terlalu sibuk dengan rasa takutnya. Apa Jongin yang merubah suasana kamarnya agar menjadi lebih hangat? Jongin sengaja melakukannya dan membawanya kesini, benarkah begitu?
Kyungsoo bingung. Lalu dimana Jongin sekarang? Tadi sebelum ia tertidur Jongin ada di sampingnya, memeluknya dan mengusap kepalanya lembut. Kyungsoo menggelengkan kepalanya, sekarang ia merasa gugup. Berada di kamar Jongin lagi, dan ia tidak tahu apa yang akan pria itu lakukan padanya. Memang Jongin tidak memaksakan sesuatu kepadanya, kecuali tinggal di mansion megah ini.
Tangannya terulur menuju perutnya sendiri. Jongin mengatakan disana sedang tumbuh calon bayi, bayi hasil hubungan dirinya dan Jongin. Kyungsoo tidak menyangka sama sekali. Ternyata ada calon bayi berdarah Kim sedang berjuang hidup didalam tubuhnya. Dan Kyungsoo ibunya, ibu biologisnya dan Jongin ayahnya. Tidak pernah terpikir olehnya akan melahirkan bayi penerus Kim kelak. Sama sekali tidak.
Dalam bayangannya yang sederhana, Kyungsoo hanya mengharapkan sosok lelaki yang baik dan setia, juga sayang kepadanya untuk menjadi pasangan hidupnya. Lelaki tidak kaya pun tak masalah. Kyungsoo tak pernah tergiur dengan kekayaan, sejak ia tahu bahwa ayahnya meninggalkannya dan ibunya hanya karena uang. Membiarkan dirinya yang masih kecil dan butuh kasih sayang seorang ayah, menangis kala itu. Sejak itu ia hanya hidup berdua dengan ibunya, dan Kyungsoo benci sekali pada ayahnya yang tega membiarkan mereka berjuang hidup sendirian. Dimana tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, eoh? Meninggalkan anak perempuan semata wayang dan istri yang sedang sakit, demi mengejar harta seorang janda muda yang cantik dan kaya. Kyungsoo menganggap ia tidak pernah memiliki ayah sejak saat itu.
Sekarang, Kyungsoo masih tidak menyangka bahwa calon pasangan hidupnya adalah Jongin. Kim Jongin. Pria brengsek penerus Kim saat ini, milyarder muda yang sukses dengan saham tertanam dimana-mana. Pria yang dibencinya, sampai… saat ini? Entahlah, bahkan Kyungsoo ragu dengan perasaanya yang sedang tak menentu.
Kim Jongin-lah calon suaminya, Kim Jongin-lah ayah kandung dari jabang bayi yang sedang dikandungnya, dan Kim Jongin-lah yang mencintainya.
Benarkah? Benarkah pria itu mencintai gadis sepertinya? Kyungsoo tak perlu mencari tahu seperti apa gadis-gadis yang dikencani Jongin sebelumnya. Karena setiap berita Jongin berkencan dengan gadis, maka topik itu akan menjadi hot news dimana-mana.
Jujur saja, jauh didalam hatinya Kyungsoo merasa rendah diri. Biasanya ia selalu percaya diri, bahkan ketika berdiri di panggung di hadapan orang banyak. Ia tidak pernah malu dengan keadaannya, karena masa lalu dan soal keluarganya tak ada yang tahu. Ia dikenal sebagai bintang, dengan suara khas yang menyihir siapapun yang mendengarnya. Orang tidak memandangnya sebagai Kyungsoo yang sebatang kara dan miskin, tetapi sebagai Kyungsoo si bintang panggung.
Tetapi saat berhadapan dengan Jongin, ia merasa kalah. Seharusnya ia tahu diri dulu, tidak asal menantang Jongin, yang jelas saja menang tanpa perlawanan berarti darinya. Mereka itu bagai bumi dan langit, seharusnya bukan dia yang menjadi pasangan Jongin. Bukan Jongin yang menjadi pasangannya.
Tetapi takdir berkata lain bukan? Kyungsoo hanya perlu menerimanya, karena semua sudah terlanjur terjadi. Kyungsoo termenung dengan pikirannya sendiri, tidak menyadari sosok lain sudah masuk ke kamar itu.
"Kau sudah bangun?"
Suara bass yang khas itu menyentak lamunan Kyungsoo. Ia menoleh kaget dan mendapati Jongin sedang menaruh nampan penuh makanan diatas nakas, tepat disisinya. Diatas nampan yang dibawa Jongin, ada dua mangkuk yang masih mengepul. Ada bubur, sup, juga susu, buah dan air putih.
Kyungsoo meraba perutnya, dan baru menyadari jika ternyata ia lapar.
"Kau lapar ya? Ayo makan, aku akan menyuapimu."
Jongin membenarkan posisi duduk Kyungsoo. Ia menumpuk dua bantal besari di belakang punggung Kyungsoo agar gadis itu tidak menyandar ke kepala ranjang yang keras. Kyungsoo berusaha menahan perasaan hangat yang menjalar di dalam dirinya saat Jongin memegang lengannya dan dengan hati-hati menggeser duduknya.
"Nah, kau mau makan apa? Sup atau bubur?"
Kyungsoo menatap nampan itu. "Aku mau sup saja." Ia sudah terlalu bosan dengan bubur, karena saat dirawat di rumah sakit makanannya hanya itu setiap hari.
"Aku bisa makan sendiri." Tolaknya saat Jongin mengambil mangkuk sup beserta sendoknya, hendak menyuapinya.
"Tidak perlu malu denganku—"
"Aku tidak malu!" Kyungsoo setengah menyentak mengeluarkan suara kerasnya, ditambah bibirnya yang setengah maju itu.
Tanpa sadar mengeluarkan sisi aegyonya didepan Jongin, yang masih diam menatapnya tak percaya dan membiarkannya mengambil alih mangkuk sup. Jongin menelan ludahnya susah payah, astagaaaaa. Rasa gemasnya bertambah berkali-kali lipat didalam hatinya. Andai setiap saat Kyungsoo bersikap seperti itu, Jongin akan semakin betah berada dikamar.
"Habiskan supnya."
Oh apalagi ini? Kenapa suaranya jadi bergetar aneh seperti itu? Jongin meraba tenggorokannya dan masih menatap Kyungsoo yang tampaknya tidak mendengarkannya. Gadis itu asyik sendiri dengan santapannya, satu tangannya ia gunakan untuk memegang mangkuk sup dan tangan lainnya untuk memegang sendok.
Jongin menatap iri pada kepala sendok yang sudah beberapa kali tenggelam ke dalam mulut Kyungsoo. Entah cara makan Kyungsoo yang memang seperti itu atau gadis itu sedang sengaja menggodanya?
Jongin lebih memilih opsi pertama. Gadis ini masih polos dalam hal goda-menggoda, tetapi dia tidak sadar kalau cara makannya itu terlampau menggoda karena tidak sengaja melakukannya. Jongin sadar bahwa sekarang ia tidak lapar lagi. Melihat Kyungsoo makan membuat rasa laparnya hilang, berganti dengan sesuatu yang panas. Sepanas sup yang sedang mengepul di mangkuk Kyungsoo. Atau mungkin lebih panas?
Jongin merasa gerah, dan ia tahu bahwa ia harus cepat menyingkir jika tidak ingin kebablasan. Ia butuh air dingin, air es bila perlu!
"Ha-habiskan makananmu! Jangan kemana-mana, ak-aku mau mandi!"
'Sialaaaan, aku bahkan sampai tergagap di hadapannya! Aish! Memalukan!'
Jongin membatin sendiri dengan geram, geram dengan kelakuannya barusan. Ia bangun dari duduknya dan buru-buru melangkah ke kamar mandi secepat yang ia bisa. Tidak peduli Kyungsoo mendengarnya atau tidak. Tetapi lebih baik jika gadis itu tidak mendengarnya, apalagi sampai menyadari suara gagapnya tadi.
BLAM!
Kyungsoo sedikit berjengit mendengar bantingan pintu kamar mandi. Ada apa sih dengan Jongin? Sikapnya aneh sekali, atau mungkin pria itu… kebelet? Tanpa sadar Kyungsoo tertawa kecil memikirkannya, dan melanjutkan acara makannya sampai tuntas.
Sementara di kamar mandi…
"Sial, sial, sial! Hampir saja, hah! Aish, dia benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungku. Hah, hah, hah!"
Jongin ngos-ngosan, seperti ia telah menyelesaikan lari sprinter ratusan putaran.
"Kau bodoh, Kim Jongin. Seharusnya kau membiasakan dirimu untuk melihat sikap lucunya itu, yang barusan bahkan belum seberapa! Bagaimana jika dia sudah luluh padamu dan akan sering melakukan aegyo di hadapanmu? Kau mau mati, heh?!"
Jongin menatap pantulan dirinya di cermin toilet yang besar. Menatap balik wajahnya yang memerah dan berkeringat, dengan dada naik turun cepat menarik nafas. Berbicara sendiri pada bayangannya di cermin benar-benar membuktikan bahwa otaknya sudah tidak waras. Sinting. Dan itu hanya karena satu orang.
Do Kyungsoo.
AAAARGH!
Jongin buru-buru melepas pakaiannya dan menyalakan shower dengan setelan air dingin. Paling tidak ia harus berguyur air shower sampai rasa panas di tubuhnya hilang.
'Jangan keluar kamar mandi sebelum kau merasa sejuk, Jongin-ah. Jangan berani. JANGAN!'
Suara hatinya berteriak, menggema di kepala Jongin.
"Aku tahu!"
Karena tidak ada yang tahu, apa ia akan sanggup untuk tidak menyerang Kyungsoo yang sedang asyik menghabiskan semangkuk penuh sup diatas ranjangnya? Entah, yang terpenting sekarang biarkan Kim sulung ini diguyur air dingin dari shower. Agar rasa panas yang dideritanya hilang, sampai tuntas.
.
.
.
Kyungsoo mulai merasa bosan. Semangkuk supnya sudah habis sedari tadi, susunya tinggal tersisa setengah gelas, air putihnya sepertiga gelas. Buah-buahan itu hampir habis di piringnya, menyisakan tiga juring jeruk manis dan dua potong pir.
Kenyang. Kyungsoo bersandar ke belakang, dan merasa nyaman karena Jongin sudah menumpuk dua bantal besar disana. Jongin begitu perhatian padanya. Tadi siang saat ia menangis di mobil, Jongin mengatakan sesuatu. Tentang mencoba menerima pria itu dan mulai memahami perasaan Jongin untuknya.
Omong-omong, Jongin kenapa lama sekali di kamar mandi? Ah iya, dia juga belum mandi. Dokter bilang ia sudah sehat, tetapi entahlah. Yang pasti ia harus gosok gigi, tetapi Jongin tidak juga keluar dari kamar mandi. Ish, apa yang dilakukannya didalam sana hah?
Ceklek!
Suara pintu kamar mandi terbuka, tubuh jangkung Jongin keluar dari sana. Pria itu topless, hanya memakai selembar handuk putih besar untuk menutupi tubuh bawahnya. Sedang handuk kecil tersampir di kepalanya, sesekali Jongin mengusapnya agar rambut basahnya tiris.
Kyungsoo memalingkan wajahnya, tidak tahan melihat pemandangan intim seperti itu. Dia tidak pernah melihat pria bertelanjang tubuh di hadapannya, walaupun tidak telanjang sepenuhnya.
Tangan Kyungsoo mengerat bedcover , menahan rasa gugupnya saat didengarnya langkah Jongin mendekat. Ia tidak berani melihatnya. Apa yang akan dilakukan Jongin?
Kyungsoo memekik pelan saat Jongin menyentuh bahunya dan membalik tubuhnya. Ternyata Jongin sudah berpakaian, memakai celana santai dan polo shirt hitam.
"Hei, kau kenapa sih? Aku tidak melakukan apa-apa, lihat…"
Jongin mengangkat kedua tangannya seolah sedang tertangkap basah melakukan kejahatan. Kyungsoo masih mendelik menatapnya, matanya yang bulat itu semakin membulat lucu dan… Aigoo, Jongin harus menahan dirinya lagi untuk tidak mencium heart-shaped lips yang sedikit terbuka itu.
"Kau mau mandi tidak? Kalau mau, aku sudah menyiapkan air hangatnya untukmu. Atau perlu aku mandikan? Kelihatannya kau masih belum bisa mandi send—"
"Aku bisa mandi sendiri!"
Kyungsoo kembali menyentak dan langsung berusaha turun dari ranjang, menjauhi Jongin dengan memutar ke arah yang berlawanan sisi ranjang.
"Kyungsoo—
BLAM!
Pintu kamar mandi dibanting sekali lagi. Tadi Jongin, sekarang Kyungsoo.
"Dasar, lihat saja. Dia belum membawa pakaian gantinya ke kamar mandi. Dasar bodoh, kenapa menjauhiku seperti itu? Aku tidak bermaksud macam-macam, hanya ingin mengingatkannya mandi. Harusnya aku yang menjauh seperti itu. Dia yang membuatku panas tadi. Hah!"
.
.
.
Kyungsoo tidak bisa berbuat apa-apa saat Jongin duduk menempel padanya, dan pria itu mulai menciumi sisi kanan wajahnya. Ia kembali duduk bersandarkan bantal ke kepala ranjang, dan Jongin duduk dekat sekali dengannya. Tubuh Jongin rapat dengan tubuh bagian samping Kyungsoo, kedua tangannya seperti pagar yang mengurung sisi kanan dan kiri Kyungsoo.
"Kyungsoo-ya…"
Kyungsoo diam tak menjawab. Gugup dan takut, walaupun lebih besar rasa gugupnya. Rasa takutnya perlahan hilang, tetapi pengganti perasaan takutnya tidak membuatnya merasa lebih baik. Perasaan gugup itu semakin menggerogoti hatinya. Ia tahu Jongin sedang menatapnya lekat, dan Kyungsoo bahkan tak berani mengedip.
Tetapi ia menyerah saat Jongin menarik dagunya lembut, memintanya membalas tatapan matanya. Dan Kyungsoo melakukan itu, ia balik menatap onyx kelam Jongin yang sedang memandangnya. Kyungsoo tidak pernah berada sedekat ini dengan pria, ia tidak mengerti apa yang sedang dipancarkan kedua mata Jongin. Yang ia tahu hanyalah, ia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri disana.
"Kau merasakannya?"
"A-apa?"
"Cintaku untukmu, terpancar disini."
"A-aku tidak tahu, aku hanya melihat bayanganku disana."
Jongin tergelak pelan. Kyungsoo benar-benar polos, seperti malaikat yang baru turun ke bumi dan tidak tahu apa-apa. Innocent.
"Kyungsoo-ya…"
"Emm?"
"Aku tidak pernah paham, kenapa semakin hari kau tampak semakin cantik? Kau… indah."
Kyungsoo merasakan telinganya memanas, begitupun wajahnya. Jongin itu penggombal, berapa gadis sudah yang terkena rayuannya?
"Aku tidak sedang menggombal, dan aku juga tidak pernah menggombali siapapun. Aku serius saat ini."
Kyungsoo merasa tergelitik saat ujung jemari Jongin membelai sisi wajahnya, dan berakhir di permukaan bibirnya. Jongin menatap bibir indah itu lama, mengingat apa yang pernah dilakukannya disana. Menggigitnya hingga Kyungsoo terluka.
"Boleh aku menciummu?" suara Jongin berbisik di bibirnya.
Kyungsoo menahan nafas saat hidung bangir Jongin menggesek ujung hidungnya. Matanya menatap gugup pada Jongin, sekaligus tersanjung. Jongin tidak pernah meminta izin sebelumnya, lelaki itu selalu memaksakan kehendaknya pada Kyungsoo.
Jongin menangkap kegugupan Kyungsoo, dan ia membelai pipi Kyungsoo lembut dan tersenyum menenangkan.
"Jangan gugup, ini hanya aku, calon suamimu. Dan kau, calon istriku, aku… mencintaimu."
Kyungsoo memejamkan matanya merasakan bibir Jongin mendarat diatas bibirnya dengan gerakan teramat pelan. Lembut, halus. Tidak menuntut dan tidak memaksa. Perlahan membuainya, membuatnya melayang-layang dan berpusar dalam perasaan asing yang menggelitik tetapi menyenangkan.
Kyungsoo tidak pernah tahu jika Jongin bisa bersikap selembut ini. Dan sangat memujanya. Cukupkah ini menghapus bersih perasaan benci dan ragunya pada Jongin?
.
.
ToBeContinue
