My Precious Woman
.
.
.
A Remake from Kyumin's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place
Cast :
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Warning : a Genderswitch FF, Mature Content
.
.
.
"Kyungsoo, kau harus berjanji akan baik-baik saja selama aku pergi. Oke?"
Kyungsoo hanya tersenyum dan mengangguk. Ia sudah sangat lelah, kejadian hari ini adalah yang paling mendebarkan baginya. Begitu menguras emosinya sehingga ia merasa lelah, lahir dan juga batinnya. Tetapi lelah yang ia rasakan bukan berarti negatif. Kejadian yang menguras emosi hari ini juga bukanlah yang menguras amarahnya, tetapi ini adalah luapan kebahagiaannya yang bahkan sampai tidak bisa ia ungkapkan lagi dengan kata-kata.
"Ya, kau sudah mengatakannya berapa kali huh? Cerewet." Balas Kyungsoo.
Luhan hanya tersenyum dan mencubit kecil lengan Kyungsoo. "Ini karena aku mengkhawatirkanmu."
Luhan merendahkan suara ketika mengucapkan kalimat berikutnya. "Tentu saja aku khawatir. Kim Sajangnim itu dikenal sebagai bos yang paling tidak berperikemanusiaan di negeri ini. Dan sekarang sahabatku menjadi istrinya, bagaimana menurutmu pikiranku saat ini?"
"Hei, bagaimana pun dia kakak iparmu sekarang."
"Dan juga suamimu, aku tidak lupa, Soo."
Kyungsoo tergelak pelan. Sudut matanya sedikit melirik sosok jangkung yang berdiri tak jauh darinya, sedang asyik mengobrol bersama beberapa orang teman dekatnya yang belum pulang dari pesta pernikahan ini.
Lelaki itu, Jongin, yang kini sudah menyandang status sebagai suaminya, resmi dan sah dimata hukum negara juga Tuhan. Kyungsoo meliriknya, dan perasaan berbunga dalam hatinya kembali muncul. Perlahan-lahan memenuhi dirinya, hingga tanpa sadar membuatnya melengkungkan bibirnya membentuk senyuman tipis.
"Kau sudah mulai jatuh cinta ya padanya?"
Rupanya Luhan mengikuti arah pandangan mata Kyungsoo sedari tadi. Kyungsoo kembali menatap Luhan, mengulum senyum kalem yang ditahan-tahan.
"Jatuh cinta? Entah, aku tidak pernah merasakannya sebelumnya."
"Pasti ada yang kau lakukan hingga dia berubah seperti itu." Suara Luhan terdengar sedikit menuduh.
"Tidak tahu, dia memang menyebalkan, tapi."
Kyungsoo hanya menjawab seadanya. Sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang membuat Jongin seperti itu. Tetapi Kyungsoo mengakui, Jongin sudah banyak melakukan hal-hal manis kepadanya. Membuat Kyungsoo merasa benar-benar dihargai dan dicintai, dan Kyungsoo berpikir bahwa ia tidak perlu menceritakan kepada Luhan tentang detail hal manis yang Jongin lakukan. Cukup dirinya saja yang tahu…dan juga merasakannya.
"Yah, tapi aku harus mengatakan ini. Dia memang benar-benar berubah, tidak hanya kepadamu, tetapi juga kepadaku dan Sehun. Dia memberi kami tiket bulan madu. Luar biasa sekali, bukan?"
"Benarkah?" Kyungsoo membelalak takjub.
"Yeah, tidak hanya ke satu tempat, tapi ada banyak tempat yang bisa kami kunjungi. Kurasa itu bukan tiket, tetapi paket."
Kyungsoo termangu. Jongin, apa yang sudah merasukimu? Kenapa tidak sejak dulu kau bersikap baik hati seperti ini?
.
.
.
"BabySoo?"
Kyungsoo sedikit tersentak kaget mendengar suara bass itu. Ia sedang berdiri di depan cermin kamar mandi di kamar Jongin, membersihkan riasannya. Dan setahunya tadi Jongin masih sibuk dengan segala macam hal, tetapi kini pria itu sudah menyusulnya kesini.
Jongin menutup pintu kamar mandinya pelan, dan berdiri di belakang Kyungsoo. Sementara istrinya itu hanya mematung, bayangannya balik menatapnya dari cermin yang besar. Mungkin gadis itu terkejut dengan kehadirannya.
Jongin menjulurkan tangannya ke kepala Kyungsoo. Membantu melepaskan hairpin yang menyemat rambut Kyungsoo, membentuk sanggul sederhana yang menawan. Anak-anak rambut yang halus berjatuhan di tengkuk Kyungsoo, membuat Jongin harus meneguk ludahnya diam-diam.
"A-aku bisa sendiri."
Kyungsoo hendak menolak bantuannya, tetapi Jongin mengabaikan. Ia tidak suka ditolak, bukankah begitu?
"Tidak apa-apa. Kau ingin mandi?"
Kyungsoo mengangguk, tetapi tak lama ia menyesali keputusannya. Karena begitu melihat jawabannya, Jongin pun tampaknya ingin melakukan hal yang sama. Pria itu membuka kemeja putihnya—kemeja pengantinnya dan menaruhnya begitu saja di keranjang pakaian kotor di sudut. Jas hitamnya entah kemana, Kyungsoo tidak sadar Jongin sudah melepas jasnya sejak ia masuk ke kamar mandi ini.
Jongin dengan cekatan memutar keran, menyetel airnya dalam mode hangat. Tak lupa menuang sabun cair dengan wangi aroma terapi yang membuat rileks.
"Kyungsoo-ya, kenapa kau belum melepas pakaianmu?"
Suara Jongin menyentak Kyungsoo lagi, dan gadis itu sadar ia ternyata menggenggam erat gaun di bagian dadanya. Ia gugup, sangat. Apa maksud Jongin adalah, mereka mandi bersama saat ini?
Jongin melangkah mendekati Kyungsoo yang seperti membeku didepan cermin. Kyungsoo menatapnya tanpa kedip, jelas sekali Jongin bisa melihat sinar gugup itu.
"Kenapa? Malu mandi bersamaku?"
Kyungsoo menunduk menghindari tatapan Jongin, berusaha keras tidak melirik dada bidang Jongin yang basah karena cipratan air. Kyungsoo mencoba menggeleng, tetapi tidak berhasil. Ia yakin wajahnya sekarang pasti sangat merah, dan itu memalukan baginya.
Jongin tertawa pelan akan reaksi yang diberikan istrinya. Langsung saja ia memeluk tubuh Kyungsoo, membuat wajah gadis itu bertubrukan dengan dada telanjangnya. Kedua tangannya yang memeluk Kyungsoo merayap di sepanjang punggung gaunnya, dan mulai menarik ritsletingnya turun.
Kyungsoo terkesiap dengan gerakan tangan Jongin. Ia menekan bahu Jongin meminta lepas, tetapi pelukan Jongin terlalu erat. Setelahnya Kyungsoo merinding merasakan kedua telapak tangan Jongin mengelus lembut kulit punggungnya. Gaun itu semakin terasa longgar, dan perlahan merosot turun dari tubuh Kyungsoo.
Jongin menatap onggokan kain lembut gaun Kyungsoo di kaki istrinya itu, lalu mengalihkan pandangan pada wajah Kyungsoo yang juga sedang berusaha mendongak menatapnya.
"J-Jongin…"
Detik berikutnya Kyungsoo hanya memejamkan matanya merasakan bibir Jongin menciumnya, menekannya begitu lembut dan halus. Tubuhnya mulai rileks dalam pelukan suaminya, dan menurut saat Jongin menggiringnya menuju bak mandi.
Selama melangkah dalam tuntunan Jongin menuju bak mandi, Kyungsoo merasa jika tangan Jongin sedang berusaha melepaskan semua sisa kain yang terpasang di tubuhnya—pakaian dalamnya. Ia benar-benar merasa malu, dan Kyungsoo menekan dada Jongin menjauh dengan kedua telapak tangannya.
Ciuman itu terlepas, Jongin mengernyit dengan tindakan Kyungsoo barusan. "Kenapa?"
"Aku bisa melepasnya sendiri, kau tahu…"
Jongin terkekeh pelan, tetapi tidak menghentikan gerakan tangannya. Jemari panjang itu mencari kaitan bra di belakang punggung Kyungsoo, dengan satu sentakan cepat kain itu lepas dan Jongin melemparnya sembarangan ke lantai kamar mandi.
"Kenapa? Bukankah sudah kubilang tidak perlu malu padaku? Aku saja tidak malu telanjang bersamamu."
Kyungsoo memalingkan wajahnya saat Jongin mulai melepas celananya sendiri. Gadis itu berbalik dengan wajah merah padam. Sekarang tempat untuk menyembunyikan tubuhnya yang naked adalah air hangat yang penuh busa di bak mandi itu. Maka ia segera menenggelamkan diri didalamnya, hingga busa-busa harum itu menutupinya sebatas bahu. Berusaha keras mengabaikan Jongin, yang mungkin saja sekarang sudah sama telanjangnya seperti dirinya.
'Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Aku malu sekali.'
Lagi-lagi Kyungsoo terkesiap, tiba-tiba saja tubuhnya ditarik dari belakang dengan perlahan. Deru nafas berat Jongin terasa menerpa tengkuknya, membuat Kyungsoo sedikit bergidik.
"Hhhh… Kyungsoo-ya… "
Tangan Jongin mendekapnya erat ke belakang, membuat punggung Kyungsoo menempel di dada Jongin. Suaminya itu mulai menciumi tengkuk Kyungsoo yang basah, membuat gadis itu nyaris menahan nafas merasakan setiap ciuman yang diberikan Jongin. Kyungsoo merasa butuh sesuatu untuk pegangan, tangannya bergerak asal di bawah busa dan ia tidak sengaja mencengkeram paha Jongin.
Pria itu mendesis pelan merasakan sentuhan tangan Kyungsoo di pahanya. Ya ampun, selama ini ia sudah terbiasa dengan sentuhan-sentuhan banyak gadis yang tidur bersamanya. Sentuhan-sentuhan mereka yang nakal yang berusaha merangsang dirinya, tetapi barusan Kyungsoo hanya menyentuhnya sekilas dan tidak disengaja pula. Tetapi sensasinya jauh lebih membakar, Jongin menggeram pelan di tengkuk Kyungsoo, mengubur wajahnya di helaian rambut istrinya.
"M-maaf! A-aku—Aah…"
Kyungsoo langsung spontan mengeluarkan suaranya, gigi Jongin baru saja menggigit tengkuknya. Rasanya aneh, geli dan sedikit sakit, mengirimkan gelenyar asing ke seluruh tubuh Kyungsoo. Tadinya Kyungsoo bermaksud melepas cengkeramannya di paha Jongin, tetapi tidak jadi karena tindakan Jongin barusan.
"Soo-ya, Kyungsoo-ku…" Jongin mendesis pelan, kedua tangannya memerangkap tubuh Kyungsoo lebih erat. Menyandarkan tubuh Kyungsoo kepadanya, dan Jongin memajukan wajahnya ke bahu Kyungsoo demi melihat wajah istrinya itu.
Dari samping sini, wajah Kyungsoo terlihat luar biasa. Jongin belum pernah melihat Kyungsoo mandi sebelumnya, dan ia terpaku melihat wajah putih yang memerah itu basah dan tersengal-sengal.
Perlahan Jongin terbiasa dengan cengkeraman lembut jemari Kyungsoo di pahanya, tadi ia sungguh terkejut dan refleks menggigit Kyungsoo karenanya. Mata Kyungsoo terpejam rapat, dan Jongin mengulurkan jarinya untuk mengelus lembut kelopak mata Kyungsoo. Bibirnya mencium leher Kyungsoo sekali sebelum berbisik pelan.
"Kenapa kau terlihat sangat menawan, Soo?"
Kyungsoo membuka mata dan melihat Jongin tersenyum kecil padanya. Ia merasa jika wajahnya semakin merah padam sekarang, bahkan rasanya sampai ke telinga. Ia mengalihkan pertanyaan Jongin ke hal lain, sama sekali enggan menanggapi pertanyaan konyol barusan. Menawan apanya? Kyungsoo selalu merasa jika dirinya biasa-biasa saja.
"Kapan aku bisa memulai mandinya?"
Kyungsoo tidak pernah berendam seperti ini, kamar mandi di kamar sewanya hanya cukup untuk sebuah wastafel, shower dan closet duduk, sama sekali tidak ada tempat untuk berendam seperti ini.
"Sekarang pun kau sedang mandi, sayang. Kau lucu sekali ya..." Suara tawa Jongin selanjutnya terdengar menyebalkan untuk Kyungsoo. Ia hanya mendengus, dan mulai menarik dirinya dari Jongin.
Kyungsoo meluruskan kedua kakinya, bak mandi ini cukup besar sehingga bisa menampung dirinya dan juga Jongin. Sekarang saat ia menjulurkan kakinya pun masih tersisa ruang yang cukup banyak, dan Kyungsoo mulai memijat perlahan kedua kakinya. Rasanya sungguh pegal setelah hari pernikahan yang melelahkan ini, sungguh hari yang panjang.
"Kau kelelahan."
Didengarnya Jongin berkomentar, dan Kyungsoo mengacuhkannya. Tetapi ia tidak menyangka jika Jongin kembali menyentuhnya, kali ini di pundaknya. Kedua tangan Jongin mengusap bahunya lembut, awalnya, lalu mulai memijat bagian itu. Tekanan tangan Jongin terasa nyaman, Kyungsoo tergoda untuk memejamkan matanya dan melupakan pijatan pada kakinya.
Tetapi ternyata Jongin tidak hanya memijatnya, bahkan bibir lelaki itu ikut bekerja. Menyapu setiap inchi kulit tengkuk dan bahu Kyungsoo yang bisa dicapainya. Kyungsoo mengerang, tidak mampu meneruskan pijatan di kakinya sendiri. Fokusnya hanya satu, terpusat pada rasa geli di lehernya karena Jongin sedang menghisapnya kini.
"Sshh... "
Kyungsoo mendesis, menahan agar suaranya tidak keluar. Suaranya pasti terdengar memalukan sekali, bukan? Padahal tidak ada yang melarangnya bersuara, mengingat disini hanya ada dirinya dan Jongin. Tetapi Kyungsoo tetap belum siap dengan semua ini, dan tindakan Jongin sungguh membuatnya nyaris terbawa.
"Kyungsoo-ya..."
Tiba-tiba dalam sekejap Jongin membalik tubuh istrinya, memegangi kedua lengan Kyungsoo erat-erat. Kyungsoo tercekat dengan gerakan Jongin begitu cepat hingga keduanya kini berhadapan di dalam bak mandi penuh busa itu. Tangan Jongin yang terasa licin merayapi pinggang Kyungsoo, menarik tubuh itu mendekat. Kyungsoo menatap Jongin tepat di matanya dengan jantung yang berdegup kencang. Kilatan mata Jongin tampak seperti terbakar, penuh kobaran gairahnya yang begitu menyala.
Jongin menarik tubuh Kyungsoo hingga mencapai pangkuannya dan mendekap istrinya erat di dadanya. Wajahnya maju hingga jarak antara keduanya hanya tinggal sebatas hidung masing-masing saja.
"Aku mencintaimu."
Jongin membisikkan kata-kata itu tepat di bibir Kyungsoo, lalu mulai mencium bibir itu penuh-penuh. Kyungsoo yang masih terperangah hanya membelalakkan matanya, bibirnya terbuka tanpa pertahanan dan membiarkan saja Jongin menciumnya lebih dalam.
Kyungsoo mengerang pelan saat Jongin membelit lidahnya dan Kyungsoo buru-buru menutup matanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana intimnya keadaan ini, maka ia hanya berusaha mengikuti saja gerakan Jongin. Tangannya mencengkeram erat lengan Jongin yang ramping namun kokoh, yang semakin erat mendekap punggungnya. Kyungsoo bahkan nyaris lupa jika mereka masih berada di dalam busa-busa sabun di bak mandi, menyatu tanpa jarak dan kulit yang saling menggesek satu sama lain.
.
.
.
Kyungsoo tidak tahu kapan Jongin membawanya berbaring di ranjang. Yang jelas kini ia sudah berada di kasur Jongin yang beralaskan sprei lembut, dengan Jongin yang setengah menindih tubuhnya.
"Nngh—Ah!" Kyungsoo mengerang kaget, merasakan Jongin menggigiti dadanya. Tidak sakit sebenarnya, tetapi tetap saja rasanya aneh.
Jongin menghentikan aksi menggigitnya merasakan tubuh Kyungsoo bergetar di bawahnya. Ia menjilat dan mencecap bekas gigitannya tadi dan berakhir dengan menciumnya lembut. Tadinya tubuh Kyungsoo putih bersih, tanpa cela sama sekali. Tetapi sejak setengah jam yang lalu Jongin mulai menodainya, hingga kini bercak-bercak merah keunguan mewarnai tubuh Kyungsoo.
Tidak hanya dadanya, tetapi perut dan paha Kyungsoo pun tak luput dari jamahan bibirnya. Jongin mencium perut Kyungsoo lama, kemudian bergerak merayap ke atas untuk melihat wajah Kyungsoo.
Istrinya itu tampak kesusahan menghirup nafas, mungkin karena serangannya tadi. Jongin menyangga kedua tangannya pada siku agar tak sepenuhnya menindih Kyungsoo. Telapak tangannya menyusup ke bawah kepala gadis itu dan menjadikannya alas.
"Lelah, hm? Apa aku boleh melakukannya?"
Jongin bertanya pelan sambil menggesekkan hidungnya pada hidung Kyungsoo, sebelum akhirnya menciuminya gemas.
Kyungsoo menatap Jongin sejenak, tampak gugup dan panik. Melakukannya? Apa yang dimaksud Jongin adalah bercinta? Kyungsoo bahkan masih ingat betapa sakitnya saat dulu Jongin menyetubuhinya. Dan sekarang Jongin ingin melakukannya lagi?
"K-kau ingin melakukannya?"
Jongin hanya mengangguk. "Tentu saja, chagi."
Kyungsoo terdiam lagi. Kedua tangannya yang sedari tadi terkulai, kini mulai bergerak berusaha memeluk perutnya. "Lalu baby?"
"Aku sudah bertanya pada temanku yang seorang dokter, tidak apa-apa jika aku melakukannya dengan perlahan." Jongin mengusap pipi Kyungsoo. Tetapi sirat panik dan takut di mata Kyungsoo tetap tidak pudar. Gadis itu bahkan semakin memeluk erat perutnya sendiri.
"Sa-sakit... Aku tidak mau."
Jongin menghela nafas. Pandangan matanya berubah, menatap Kyungsoo dengan sorot sedih.
"Aku sangat keterlaluan ya saat itu? Bahkan kau masih belum melupakannya."
Kyungsoo diam, lagi-lagi ia hanya menatap Jongin tanpa kata. Ia tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan Jongin barusan. Ia ingin membenarkan perkataan Jongin, menyetujui bahwa semuanya benar. Jongin tidak tahu betapa malam itu Kyungsoo merasa sangat kesakitan.
Namun tatapan mata Jongin barusan sangat berbeda. Tampak menyesal dan kecewa, mungkin?
"Ya sudah, lebih baik kau tidur. Lagipula kau kelelahan, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu dan baby. Tidurlah, Soo."
Jongin mengusap dahi Kyungsoo dan menciumnya, lalu memeluk erat istrinya seraya menarik selimut. Mata Jongin terpejam, mencoba mengabaikan miliknya yang seakan sudah berteriak meminta dipuaskan. Tetapi Kyungsoo lebih penting, ia tidak ingin Kyungsoo mau melakukannya dengan terpaksa lagi. Maka ia hanya memeluk erat tubuh Kyungsoo, menumpukan dagunya di puncak kepala gadis itu dan mulai mencoba tidur. Dengan begitu rasa panas di tubuhnya mungkin akan hilang.
.
.
.
'Aku bingung.'
Kyungsoo heran pada dirinya sendiri. Setidaknya setelah sejam berlalu sejak Jongin menyuruhnya tidur, ia malah tidak bisa memejamkan matanya barang sedikit pun. Bukankah ini yang ia minta tadi? Ia menolak ajakan Jongin untuk bercinta, dan suaminya itu mengalah menuruti kemauannya. Sekarang muncul setitik perasaan bersalah di hati Kyungsoo. Aneh sekali, seharusnya perasaan bersalah ini tidak perlu muncul dan membuatnya bingung. Mengapa begini?
Jongin sepertinya sudah tertidur, entahlah, tetapi Kyungsoo merasakan deru nafas Jongin yang teratur dan menurut Kyungsoo itu tanda suaminya itu tengah terlelap. Jongin begitu erat memeluknya, membuat Kyungsoo sulit mendongak untuk sekedar melihat wajah Jongin.
Kyungsoo menghela nafasnya dalam. Matanya memandang kosong leher Jongin yang terpampang jelas di depan matanya, jemarinya mengusap tak tentu leher terbuka itu. Kyungsoo sedang berpikir, apa sebaiknya tadi ia tidak usah menolak Jongin? Bukankah itu sudah kewajibannya sebagai seorang istri? Tetapi jika kembali mengingat apa yang pernah Jongin lakukan, perasaan takutnya kembali muncul.
"Jongin..." Kyungsoo berbisik lirih dan akhirnya memutuskan untuk tidur menyusul Jongin.
.
.
.
Kyungsoo benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak malam itu. Saat merasakan ada yang mengusap wajahnya, Kyungsoo memutuskan untuk langsung membuka matanya. Mungkin ia terlelap baru beberapa menit, menurutnya. Dan saat ia membuka matanya, ia melihat Jongin sedang menunduk menatapnya. Ternyata Jongin yang mengusap wajahnya barusan. Ah, Kyungsoo lupa, seharusnya ia tahu. Siapa lagi memang yang bersamanya sekarang kalau bukan Jongin, suaminya itu?
"Hei, kenapa terbangun? Aku mengganggu ya? Maaf."
Jongin berhenti mengusap pipi Kyungsoo dan tersenyum kecil. Kyungsoo menggeliat pelan, lalu ganti melempar pertanyaan pada Jongin.
"Harusnya aku yang tanya, bukankah tadi kau sudah tidur?"
"Aku tidak bisa tidur."
Kyungsoo menatap Jongin lamat-lamat, seperti mempertimbangkan sesuatu. Tangannya terulur ke leher Jongin, menyamankan posisi meringkuknya yang hangat dalam pelukan pria itu.
"Kenapa memandangku seperti itu?" Jongin tampak geli melihat pandangan Kyungsoo.
"Aku juga tidak bisa tidur. Jam berapa sekarang?"
Jongin melirik jam kecil di nakasnya. "Jam dua lebih lima belas menit."
"Jongin..."
"Hmm?"
Kyungsoo tampak malu mengatakannya, dan ia tetap memandang leher Jongin. Tidak berani menatap langsung ke mata Jongin.
"Aku...kau, kau... boleh melakukannya."
Jongin termenung memikirkan ucapan Kyungsoo, lalu mengulurkan tangannya untuk mengangkat dagu Kyungsoo. Mata Kyungsoo menatapnya.
"Kau yakin?"
Kyungsoo menatap mata Jongin sejenak, memantapkan hatinya.
"Ya, aku yakin."
Jongin diam mencerna ucapan itu, dan ketika akhirnya dia paham, Jongin membalasnya dengan senyuman. Ciumannya langsung ia tujukan pada Kyungsoo, sekaligus berguling mencari posisi yang sesuai untuknya.
Kyungsoo diam, membiarkan Jongin menciumnya. Tangannya meremas bahu Jongin, melampiaskan berjuta perasaan asing yang menderanya. Jongin menyingkap selimut yang menutupi tubuh keduanya, membiarkan tubuh telanjang keduanya tak tertutup apapun.
Tangannya mulai menyentuh setiap bagian tubuh Kyungsoo, mantap tetapi lembut. Tentu saja, berhati-hati agar Kyungsoo tak lagi tersakiti. Jongin akan membayar lunas semuanya, agar bisa menghapus sisa ketakutan dan kesakitan Kyungsoo.
Dan tentu saja Kyungsoo bisa merasakan gairah Jongin yang kembali tersulut, terlebih setelah mendapat izin darinya tadi. Kyungsoo merasakan pusat gairah Jongin yang mengeras seperti menekan paha dalamnya, dan ia tahu mereka semakin mendekati inti.
.
.
.
"Ahh... hah...hah..."
Suara Kyungsoo yang berjuang menarik nafas terdengar mengisi keremangan kamar luas itu. Lelah, tentu saja. Ia sempat mengalami beberapa kali orgasmenya, dan baru saja Jongin mencapai puncaknya yang kedua. Kyungsoo merasakan jelas cairan hangat benih Jongin menyembur memasuki tubuhnya melalui penyatuan mereka di bawah sana.
Jongin benar-benar memegang ucapannya. Ia menyentuh Kyungsoo tanpa menyakitinya, ia berhasil membuat Kyungsoo mengerang dan melenguh merasakan kenikmatan yang diberikan olehnya. Tidak ada isak tangis dan gesture menolak dari istrinya itu. Kyungsoo malah dengan terbuka menyambutnya, kedua tangannya setia memeluk bahu dan leher Jongin.
"Nngh... Jongin-ah..."
"Hmm? Apa, sayang?"
Jongin baru selesai menciumi perut Kyungsoo, lagi, dan mendengar suara itu ia menyambangi Kyungsoo. Menangkup wajah berkeringat Kyungsoo, menyapu setiap titik lelah di wajah istrinya.
"Apa sakit? Mana yang sakit?"
Kyungsoo menggeleng, tangannya terasa sangat lemas. Padahal ia ingin memeluk bahu Jongin lagi, hangat tubuh Jongin membuatnya nyaman. Namun Jongin seperti mengerti dengan keinginannya, ia meraih tangan Kyungsoo dan menggenggamnya erat.
"Kyungsoo-ku, aku mencintaimu, sweetheart..."
Kyungsoo setengah tersenyum mendengar kalimat Jongin. Pria itu menciptakan banyak panggilan untuknya, dasar. Kyungsoo menatap Jongin dengan tatapan sayunya, sekembalinya ia dari fantasi nikmat di orgasmenya tadi. Sebelah tangannya yang tidak digenggam Jongin ia paksakan untuk bergerak meraih wajah Jongin.
"Aku masih mencoba untuk...menerimamu. Aku—"
Jongin memotong ucapannya yang belum selesai dengan ciuman kilatnya. "Sst, aku bisa mengajarimu kapan pun kau mau. Mengajarimu menerimaku, dan mencintaiku. Oke?"
Kyungsoo tersenyum lemah merasakan Jongin beralih menciumi pipinya bertubi-tubi.
"Kenapa tidak sejak dulu kau bersikap seperti ini?"
Jongin berhenti mencium pipi Kyungsoo, menatap Kyungsoo dalam-dalam.
"Karena aku belum bertemu denganmu. Aku belum mengenalmu, maka aku tidak bisa berubah."
Kyungsoo menyipitkan matanya.
"Terserah percaya atau tidak, tetapi semua ini hanya karenamu. Satu-satunya gadis yang sangat berani melawanku, menantangku dan tidak takut pada ancaman apapun yang kuberikan. Dan yah kau tahu, aku kalah pada akhirnya."
Kyungsoo mengulum bibir bawahnya, hatinya tak menentu.
"It's all because of you, because you are precious for me."
Kyungsoo tidak sempat membalas perkataan Jongin. Suaminya itu sudah mencium bibirnya penuh-penuh, tidak memberinya waktu untuk menarik nafas dan mempersiapkan diri. Jongin bergerak sekali lagi, mengulang penyatuan tubuh mereka yang sempat terhenti sejenak.
ToBeContinue?
Kyaaaaa eNCeh *tutupmata* kkkkkkk
Aku minta maaf banget kemaren-kemaren telat updatenya, tugas kuliah lagi banyak banget hikss
Yaasss dan My Precious Woman 2 chap lagi bakal tamat~~~
Terima kasih yang udah review muuacchh
Happy reading guys~~
