My Precious Woman
.
.
.
A Remake from Kyumin's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place
Cast :
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Warning : a Genderswitch FF, Mature Content
.
.
.
Ini sudah pagi hari. Terlihat dari cahaya matahari yang mengintip masuk melalui celah tirai kamar luas ini. Jongin membuka mata dan mengerjapkannya sebentar. Biasanya setelah ini ia akan berguling dan meregangkan tangan, melenturkan otot tubuhnya. Tetapi rasanya ada yang aneh.
Ada beban berat yang menimpa lengan kanannya, plus pundaknya. Jongin menoleh dan terdiam saat mendapati apa yang ada disana. Dasar bodoh, pikirnya.
Bagaimana bisa ia lupa kalau sekarang ia adalah lelaki beristri yang baru saja melewatkan malam pengantinnya? Hell...
Jongin mengeluarkan cengiran khasnya, lalu menepuk jidatnya sendiri setelah menyadari kebodohannya. Bagaimana bisa ia lupa kalau yang menimpa lengannya ini adalah istrinya sendiri, gadis mungil yang sangat keras kepala itu?
"Ah, Kyungsooya... Kau membuatku jadi terlihat bodoh."
Jongin lantas bergerak menyamping, mendekap tubuh itu erat. Tak lama Kyungsoo mulai menggeliat, mungkin terganggu dengan tindakan Jongin. Ia mengerang pelan, sedikit kesal karena terbangun.
Kyungsoo membuka matanya perlahan, menatap kosong dada bidang yang terbalut kulit tan di hadapannya. Lalu alisnya mulai mengerut dan bibirnya sedikit mencebik maju. Ia masih mengantuk, lelah luar biasa dan sekarang ada yang mengganggu tidurnya.
Jongin yang sedari tadi memperhatikan Kyungsoo terbangun, kini terkikik pelan. Melihat raut cemberut itu terpampang di depan matanya. Hah, lagi-lagi istrinya menunjukkan aegyeo itu. Mendengar suara Jongin, Kyungsoo berusaha mendongak. Ia makin sebal setelah sadar siapa pelaku pengganggu tidurnya. Ia memukul dada Jongin hingga terdengar 'buk' pelan.
"Berisik! Aku masih mengantuk!"
Jongin menangkap tangan Kyungsoo yang memukulinya, lalu meremasnya lembut.
"Maaf, sayang... Tidurlah lagi, aku tidak akan mengganggumu."
Kyungsoo mendengus kesal, mana bisa ia kembali terlelap jika sudah terjaga seperti ini? Jongin tidak ingat apa betapa ia sangat ganas semalam? Mengerjai Kyungsoo semalam suntuk. Kyungsoo bahkan tidak ingat kapan mereka selesai, ia masih bisa mendengar suara samar Jongin yang menyebut namanya terus, tetapi karena ia sudah terlalu lelah akhirnya Kyungsoo tertidur.
"Aku tak akan bisa tidur lagi." Kyungsoo mengeluh pelan, wajahnya masih cemberut seperti tadi.
Jongin tersenyum menyesal, ia mengelus rambut Kyungsoo dan mencium dahinya lembut. Membuat rona merah samar-samar terlihat di wajah yang cemberut itu.
"Oke, oke. Lalu apa yang ingin kau lakukan?"
Jongin merasakan Kyungsoo menggeleng, hidung istrinya itu menggesek dada telanjangnya. Sejenak mereka hanya diam, meresapi kedekatan dan kehangatan satu sama lain. Kyungsoo yang hanya diam di pelukan Jongin, dan Jongin yang juga terdiam sambil jemarinya memainkan sejumput rambut istrinya.
"Kyungsoo-ya, aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi kau jangan marah ya?"
Kyungsoo sempat mengerutkan alisnya bingung, namun ia hanya mengangguk seadanya.
"Aku ingin...kau berhenti bekerja sebagai penyanyi cafe." Ucap Jongin pelan dan hati-hati.
Kyungsoo mendongak. "Berhenti?"
"Ya, kau jadi ibu rumah tangga saja. Lagipula kau sedang hamil, Soo."
Kyungsoo terdiam. Ini gila, dan jujur saja Kyungsoo terkejut. Menjadi penyanyi cafe sudah menjadi mata pencahariannya selama hampir empat tahun, dan sekarang Jongin dengan mudahnya memintanya berhenti?
"Hei, hei, aku tidak bermaksud apa-apa. Sungguh. Aku hanya ingin kau aman di rumah, terhindar dari segala macam bahaya di luar sana., itu saja. Aku tidak mau kau dan baby celaka, Soo."
Kyungsoo masih diam, tetapi ia merasakan jika pelukan Jongin semakin erat. Tangan suaminya itu mengelus kepalanya lembut, dan Kyungsoo memejamkan matanya. Bingung harus mengatakan apa.
"Aku ingin kau melanjutkan sekolah. Kau masih muda, masih banyak yang bisa kau capai nantinya."
Jongin melanjutkan kalimatnya setelah jeda sesaat tadi. Ia sungguh tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin yang terbaik untuk istrinya kelak.
"Bagaimana...tanggapan orang lain?! Mereka akan berpikir kalau aku memanfaatkanmu. Aku tidak seperti itu!"
"Ssh, hei, kenapa kau memikirkan orang lain? Abaikan saja orang-orang diluar sana, mereka hanya iri dan mereka tidak tahu apa-apa tentangmu. Lagipula aku yang memaksamu menikah denganku, bukan kau yang mengemis cinta dariku."
Jongin menenangkan Kyungsoo dengan sedikit nada bercanda di ujung kalimatnya. Ia mengacak rambut Kyungsoo dan tertawa setelahnya, membuat wajah Kyungsoo yang tadi sempat tegang kini kembali cemberut. Dan melihat wajah cemberut itu membuat sesuatu di diri Jongin 'bangun'. Ops...
"Kyungsoo-ya..."
Jongin setengah berbisik dan mulai mengubah posisi. Ia berguling ke samping dan menindih Kyungsoo. Sebelah tangannya sudah menahan tangan Kyungsoo, berjaga kalau gadis itu menolak.
"A-apa sih?!"
Kyungsoo mulai merasakan wajahnya memanas, mungkin sudah merah saat ini, saat melihat senyuman Jongin yang berada diatasnya. Ia hendak mendorong Jongin, namun sebelah tangannya sudah diperangkap tangan Jongin.
"Kyungsoo, kau tahu tidak? Bercinta itu bagus untuk ibu hamil, jadi aku akan sering mengajakmu bercinta. Aku tidak mau istriku menjadi labil emosi, stress, atau menderita mual seperti kebanyakan ibu hamil di luar sana. Lagipula, dengan bercinta kau akan terlihat lebih cantik."
Kyungsoo berusaha meredam rasa panas yang menjalar sampai ke telinganya. Tetapi mendengar kata-kata Jongin tadi, mengapa pria itu tahu banyak soal ibu hamil? Itu sangat...menakjubkan. Menunjukkan bahwa Jongin benar-benar peduli padanya.
"Jadi, tidak keberatan 'kan pagi ini kita mengulang yang semalam? Aku tahu kau lelah, aku akan bermain pelan-pelan agar baby tidak terganggu juga."
"T-tapi aku-"
Jongin sudah mencium Kyungsoo cepat, menyambar bibir sewarna peach yang ia tahu akan melontarkan penolakan tadi. Sebenarnya, yang Jongin ucapkan tadi bukan sekedar rayuan dan gombalan semata. Lelaki itu memang sudah mencari ke berbagai sumber, bertanya dan berkonsultasi ke dokter ahli yang ia ketahui. Dan soal Kyungsoo semakin cantik jika melakukan seks bersamanya, setengahnya adalah gombalan murahan. Tidak perlu bercinta dengannya pun Kyungsoo sudah sangat cantik, tolong catat itu baik-baik.
"Mmmh... Jong-hmh..."
Jongin tidak mendengarkan awalnya hingga akhirnya ia terpaksa melepas ciumannya karena Kyungsoo menjambak rambutnya lembut.
"S-setidaknya biarkan aku bernafas dulu." Kyungsoo mencoba terdengar ketus, alih-alih merasa bersalah Jongin malah terkekeh.
"Nah, aku sudah cukup membiarkanmu bernafas. Jadi mari kita mulai dengan serius, sayang..."
Kyungsoo hanya bisa menarik nafas saat Jongin kembali menyerangnya, pertama ini memang bibirnya tapi nanti pasti berlanjut ke daerah lainnya. Menambah jumlah kissmark di bagian tubuhnya yang lain. Kyungsoo mulai melemas dan rileks saat Jongin mulai memperdalam cumbuannya, terasa saat lidah suaminya itu mengelus belahan bibirnya meminta membuka.
Entah, Kyungsoo sudah merasa tidak perlu mengkhawatirkan semuanya kini. Sepertinya tindakan halus Jongin tadi malam sudah berhasil membuatnya percaya pada pria itu, dan ia menyerah kini. Mengikuti segala kendali yang dipegang Jongin, sang nahkoda kapal kehidupannya kedepan nanti.
.
.
.
"Hei, apa yang sedang kau lakukan disini? Angin malam tidak baik untukmu, Soo."
Pria jangkung itu betah menggerutu dan mengomeli sosok mungil yang berstatuskan istrinya. Sedari kamar ia terus mengoceh sembari berjalan ke balkon dan membawa sehelai selimut tebal. Bukannya dia marah, hanya saja ia kurang menyukai kebiasaan baru Kyungsoo setiap malam. Dan istrinya yang keras kepala itu mana pernah sih mendengarkannya, huh?!
"Berisik. Aku tidak apa-apa, kau terlalu berlebihan, tahu?"
Pria jangkung itu makin geram mendengar jawaban istrinya, langsung saja ia menyerang sosok itu dari belakang.
"Yah! Yak! Lepas, Jongin-ah! Kau ini apa-apaan?!"
"Kau bilang apa tadi? Berisik? Aku berisik? Rasakan ini dasar Nyonya Keras Kepala!"
Jongin, si pria jangkung tadi, langsung membungkus tubuh Kyungsoo dengan selimut tebal yang dibawanya. Setelah tubuh mungil dengan perut yang membuncit itu terkurung sempurna, Jongin langsung mendekapnya dari belakang. Menunduk menciumi leher Kyungsoo, belakangan Jongin tahu, bagian yang memang sudah sensitif itu makin menjadi seiring dengan bertambahnya usia kehamilan istrinya.
"Ahaha... Yah! Yah! L-lepas, Jongin-ahhh... Geliih~"
"Tidak akan! Sekarang ayo masuk kamar!"
Jongin dengan tegas menyeret tubuh Kyungsoo yang ada dalam pegangannya menuju kamarnya, tidak lupa menutup pintu balkon dengan kakinya. Bibirnya terus iseng mencium leher putih itu, hanya kecupan ringan yang memang membuat geli, bukan ciuman atau hisapan panas yang akan menciptakan bekas. Jongin sudah cukup bisa mengontrol dirinya sekarang, saat kehamilan Kyungsoo semakin membesar memasuki bulan ketujuh. Biasanya dia hanya meminta 'bagiannya' setiap satu minggu sekali.
Sementara istrinya yang 'bandel' itu masih berusaha menjauhkan lehernya dari jangkauan suaminya, walaupun gagal total tentu saja. Tangannya terkurung di dalam lilitan selimut, membuatnya tidak bisa memukul tangan Jongin yang mendekapnya.
Ini sudah hampir memasuki bulan kelima usia pernikahan mereka, hampir tak ada lagi rasa canggung. Terkadang kecanggungan itu masih ada walau sedikit, tetapi jika mereka sudah asyik bercanda seperti sekarang, maka rasa canggung itu terlupakan. Diantara Jongin dan Kyungsoo, memang lebih banyak Jongin yang memulai untuk mencairkan suasana. Dan karena Jongin sudah bersikap seperti itu, Kyungsoo hanya mengikuti atau sesekali ia yang mengambil alih.
Mungkin tidak ada yang menyangka jika pemimpin Kim Corporation yang terkenal dingin ini sedang berbuat konyol bersama istrinya tercinta, disertai cengiran lebar di bibirnya dan mata menyipit karena senang melihat sang istri terkulai dalam bungkusan selimutnya.
"Su-sudah Jongin-aahh... Lelah... Hah... Hah..."
Kyungsoo yang sudah terkuras energinya karena sibuk mengelak dari ciuman Jongin di lehernya tadi, kini terengah nyaris kehabisan nafas. Ia hanya bersandar pada tubuh suaminya itu, menumpukan berat tubuhnya sepenuhnya pada sosok kokoh itu.
Jongin tertawa pelan, perlahan ia membuka lilitan selimut tebal di tubuh Kyungsoo. Kemudian membawa istrinya rebah diatas ranjang empuk mereka. Ia mengusap perut buncit Kyungsoo dengan sayang. "Apa aku menyakitimu tadi?"
Jongin rupanya cukup sadar diri jika dia keterlaluan. Yah, terkadang sikap keras kepala Kyungsoo memang menguras kesabaran. Sudah tahu dirinya melarang berdiri di balkon malam-malam, tetapi istrinya ini tidak mendengarkan.
Setelah nafasnya sudah kembali teratur, Kyungsoo mulai membuka mulut untuk menjawab.
"Tidak apa-apa, hanya saja tiba-tiba aku langsung merasa lemas."
Jongin terkekeh geli dan ganti mencium pipi Kyungsoo. Tunggu sebentar, ia rasanya tahu kalau Kyungsoo akan meminta apa setelah ini.
"Jongin-ah, aku mau stik coklat itu lagi."
Jongin memutar matanya. "Pepero?"
Kyungsoo sedang menggemari makanan itu sekarang. Jongin yang bingung pernah mencoba bertanya pada istrinya apa dirinya sudah pernah memakannya atau belum? Lalu kenapa sekarang sangat menyukainya? Jawaban yang didapat Jongin sungguh konyol. Kyungsoo berkata jika ia suka makanan itu karena bintang iklannya adalah boygrup EXO yang terkenal tampan-tampan.
Istrinya hanya mengangguk, membuat Jongin tidak tahan untuk tidak mencium dan menggigit hidung bangirnya itu karena gemas.
"Cium aku dulu."
Kyungsoo menggeleng. "Aku mencintaimu. Sudah 'kan?"
"Ciumannya belum, sayang. Disini." Jongin menunjuk bibirnya.
Kyungsoo mengerucutkan bibir, lantas maju mengecup bibir Jongin lembut. Pria itu nyengir dan beranjak.
"Tunggu disini, jangan keluar lagi ke balkon, ara?"
Kyungsoo kembali mengangguk.
"Kau mau ocha juga sekalian?" tawar Jongin selagi ia beringsut dari ranjang.
Kyungsoo menjawab dengan anggukan dan senyuman yang membuat matanya menyipit. Jongin menghela nafas melihatnya. Jika tidak ingat Kyungsoo sedang hamil tua, Jongin sudah menindihnya sejak tadi dan mulai menyerang setiap inchi tubuh istrinya itu. Tapi calon ayah ini masih punya akal, lagipula ia berjanji 'kan pada dirinya dan juga Kyungsoo untuk tidak lagi menyakiti gadis itu?
Sekembalinya ia dari dapur, Jongin mendapati Kyungsoo masih duduk tenang diatas ranjang menunggunya. Gadis itu sudah mengikat rambut panjangnya agar tidak mengganggu acara makannya nanti.
Matanya berbinar menatap isi nampan yang dibawa Jongin. Ada segelas susu khusus ibu hamil dan segelas ocha, beserta beberapa bungkus Pepero yang dimintanya tadi.
"Ini pesanan Anda, Nyonya..."
Jongin menaruh nampan di nakas, terlebih dulu menyodorkan gelas susu ke bibir istrinya. Untuk masalah yang ini, Kyungsoo patuh dan menurut pada Jongin. Ia tanpa melawan langsung meneguk dulu cairan putih pengisi gelas panjang itu, setelah habis setengahnya baru ia berhenti meneguk.
"Pepero dulu..."
Kyungsoo menjauhkan bibirnya dari gelas susu dan tangannya meraih bungkusan Pepero tadi. Jika sudah begini Jongin hanya bisa menggeleng dan menghela nafas, lagi. Ia menaruh gelas susu yang masih terisi setengah ke atas nakas dan membiarkan istrinya asyik melahap makanan kegemarannya saat ini.
Jongin berlalu menuju sisi nakas yang lain, melihat smartphone miliknya yang tadi sedang di-charger. Setelah membaca indikator yang berbunyi bahwa baterai smartphone-nya sudah full, Jongin melepas charger-nya dan mulai mengotak-atik benda canggih di tangannya.
Ada satu pesan. Dari adiknya yang konyol itu tentu saja. Jongin membukanya dan membaca.
From: Sehun
Hyuuuuuunnngg...!
Jongin mengerutkan alisnya. Hanya itu isi pesannya? Mengirim pesan malam-malam begini demi hanya memanggilnya seperti itu? Dasar konyol, Jongin membatin dalam hati.
Reply To : Sehun
Hei, kenapa kau mengirim pesan tak penting seperti ini? Tengah malam, dasar. Mengganggu, kau tahu?!
Tak ada setengah menit ia membalas pesan Sehun, malah nomor adiknya itu memanggil. Membuat smartphone Jongin bergetar.
"Hm?"
"Hyung, kau belum tidur?"
"Belum."
"Kenapa? Ini sudah tengah malam, Hyung..."
"Sudah tahu tengah malam, tapi mengirimi kakakmu sms tak penting. Apa maksudnya itu, hah?!"
"Hehe... Tidak, hanya saja...aku mau tanyakan sesuatu."
"Apa?"
"Nngg, Luhanie... sedang mengandung, Hyung! Aku juga akan menjadi Appa! Hahaha..."
Jongin mengerutkan alisnya, walau begitu tapi ia mengulas senyumnya. Turut merasa senang dengan kehamilan adik iparnya, si gadis pirang itu. Ia hanya menggeleng mendengar tawa bahagia yang kekanakan dari adiknya di seberang sana.
"Hmm, selamat ne? Sudah berapa lama?"
"Tadi Uisa bilang sekitar... empat minggu, Hyung."
"Oke, bagus kalau begitu. Bersikaplah dewasa mulai sekarang, Hunna. Jangan terus childish seperti itu, kasihan keponakanku nantinya."
"Yaish, Hyung! Aku memang sudah dewasa, buktinya Luhan sudah kuhamili."
Jongin tergelak pelan. "Lalu apa yang ingin kau tanyakan?"
"Umm, itu... Apa Kyungsoo mengalami mual-mual, Hyung? Luhan hampir setiap pagi seperti itu, aku kasihan. Aku harus bagaimana, Hyung?"
Jongin melirik Kyungsoo yang sedang asyik dengan Peperonya.
"Kyungsoo... hampir tidak pernah mual, setahuku. Dia selalu memakan apapun untuk sarapan paginya, begitu pun dengan makan siang dan malamnya. Tapi aku terus mengawasi, ada makanan yang tidak boleh untuk ibu hamil."
"Tidak pernah mual? Hebat sekali, kupikir semua ibu hamil mengalami hal yang sama."
"Kau tahu apa rahasia agar istri yang sedang hamil tidak mengalami mual-mual?"
"Apa itu?"
"Ajaklah bercinta dengan rutin, tetapi kondisikan juga dengan keadaan istrimu."
"MWO?!"
Jongin terkekeh mendengar suara terkejut itu. "Tidak percaya? Ya sudah, tetapi itu yang kulakukan pada Kyungsoo. Hasilnya, ia tampak semakin cantik dan sehat selama hamil."
Kyungsoo menoleh mendengar Jongin menyebut namanya. Ia mengerutkan alisnya penasaran, tetapi memutuskan tidak peduli.
"Benarkah itu, Hyung? Ini bukan akal-akalanmu saja 'kan?"
"Sudah kubilang, terserah percaya atau tidak. Kau bisa tanyakan pada Uisa di rumah sakit."
"Y-yah, oke. Oke, akan kutanyakan pada ahlinya. Omong-omong, kenapa kau belum tidur, Hyung?"
Jongin melirik Kyungsoo lagi, dan sepertinya saatnya tidak tepat. Istrinya itu sedang menjilat sisa coklat di ujung jari manisnya, membuat Jongin berdesir. Desiran aneh yang familiar.
"Eh... itu, aku sedang menemani Kyungsoo. Cemilan tengah malam, kau tahu."
"Oooh... Oi, KYUNGSOO-YAA! Aku merindukanmu!"
Jongin menjauhkan smartphone dari telinganya saat adiknya di seberang sana berteriak keras.
"Yah, kenapa kau berteriak di telingaku, bodoh?!"
Jongin membalas kasar, kesal dengan tingkah sang adik. Sehun hanya tertawa di seberang sana.
"Jongin-ah, ada apa?"
Kini Kyungsoo bangkit berdiri dan menghampiri Jongin yang seperti marah-marah. Ia meraih smartphone milik suaminya dan menempelkannya ke telinganya sendiri.
"Sehun?" sapanya langsung.
"KYUNGSOOIIIEE~ Aku merindukanmu, chagi..."
Kyungsoo tertawa mendengar suara kekanakan yang khas milik sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Ya ya ya, aku juga merindukanmu, Hunna..."
"Yah, apa-apaan kalian? Berkata saling merindukan tepat di depanku? Kalian tidak sadar ya?!"
Jongin kembali sewot mendengar dua sahabat itu malah terkikik geli mendengar kalimatnya barusan.
"Ya! Sehun! Kau sudah beristri, hampir memiliki anak juga tetapi masih merindukan istriku!"
"Eoh? Hun? Maksudnya Luhan juga hamil?"
"Neeee, akhirnya Luhanie menyusulmu Kyungsoo-ya..." Sehun menjawab riang.
"Wah, syukurlah... Hei, apa Luhan ada—eh, Jongin!"
Jongin merampas smartphone miliknya dari tangan Kyungsoo. Mematikan sambungan teleponnya dengan Sehun sang adik, lalu meletakkan kembali smartphone-nya di atas nakas.
"Jongin-ah, aku belum selesai tadi!"
"Untukku sudah selesai. Kalian bisa mengobrol lagi besok."
Kyungsoo menyipitkan matanya kesal dengan tingkah seenak dan semaunya sendiri milik Jongin.
"Kau menyebalkan!" Tidak akan pernah bisa berubah sepertinya.
"Apa Pepero-mu sudah selesai?"
Kyungsoo tidak menjawab.
"Apa susumu sudah habis?"
Kali ini Kyungsoo melirik ke gelas susu yang masih tersisa setengah. Lalu melirik kembali pada Jongin.
"Habiskan." Titah Jongin pelan.
Kyungsoo menekuk bibirnya, tetapi tidak membantah. Ia merangkak diatas ranjang agar bisa mencapai gelas susunya, dan berusaha menghabisinya. Tidak sadar dengan tatapan 'memangsa' milik Jongin tepat menghujam padanya.
Jongin menyusul naik ke ranjang, memposisikan dirinya di belakang Kyungsoo. Kyungsoo sudah selesai dengan susunya, tangannya baru saja menaruh gelas kosong kembali ke nakas saat tangan Jongin sudah memerangkapnya erat.
Suaminya itu mencium dan mengendus bahunya, terus naik ke lehernya dan telinganya, lalu ke rahang dan pipinya.
"Sepertinya aku harus meminta jatahku sekarang."
Kyungsoo mengerang, setengah kesal setengah geli karena Jongin sudah mencium lehernya lagi.
"Nnngg, masih d-dua hari lagi... Tahan sedikit kenapa, huh?"
"Tidak bisa sayang, 'dia' sudah bangun sejak kau menjilati jarimu tadi."
"Hah? A-apa yang—mmh!"
Kyungsoo selalu tidak sadar jika kebiasaannya menjilat ujung jarinya setelah makan dengan tangan itu sudah mengganggu Jongin. Suaminya itu mati-matian menekan hasratnya yang serasa naik ke ubun-ubun, menyala dengan level 'AWAS'.
Kyungsoo berusaha mengambil nafas disela ciuman serangan Jongin yang selalu tiba-tiba. Dan sekarang ia merasa dirinya sudah terbaring diatas bantalnya, mungkin Jongin tidak tega dengan posisi duduk miringnya yang akan membuat pegal.
Yah, sepertinya malam ini akan panjang. Sudah biasa untuk Kyungsoo, hihihi.
.
.
.
Eleven years later...
"Taemin-ah, setelah pulang sekolah jangan kemana-mana ne? Appa pulang hari ini, sayang."
"Daddy pulang hari ini, Mom—ah maksudku Eomma?"
Kyungsoo melirik tajam anaknya yang sedang nyengir sembari mengunyah roti di sampingnya. Lalu ibu dua anak ini mendengus sebal. Tunggu dulu, dua anak? Bukankah hanya ada seorang anak perempuan di meja makan itu?
"Mom, aku tidak usah sarapan. Kalau sarapan aku mengantuk di kelas."
Kyungsoo menoleh dan mendapati anak sulungnya sudah berdiri disana. Kim Taeoh, kakak kembar Kim Taemin, bocah perempuan yang tadi.
Kyungsoo melangkah mendekati anak laki-lakinya yang sedang meneguk susu coklatnya, lalu menjulurkan tangan menjewer telinga anaknya.
"Mom! Eomma, sayang, bukan Mom! Kenapa kalian lebih mendengarkan ajaran Appa kalian sih?"
Kyungsoo kesal karena anaknya ini selalu memakai istilah western jika sedang di rumah. Ia tidak suka itu.
Taeoh yang dijewer hanya berdecak kecil, tidak menghiraukan protes ibunya sama sekali.
"Ck, Mom... C'mon, it's just a little thing. Yang penting aku mencintai Mommy dengan sepenuh hatiku, sama seperti Daddy."
Si jangkung duplikat ayahnya itu mencium pipi dan dahi ibunya sayang, lalu berbalik.
"Aku berangkat, Mom. Taeminnie baby, cepat." Taeoh menyuruh adik kembarnya, lalu berjalan menuju pintu depan.
Kini ganti si bungsu yang mencium Kyungsoo disertai pelukan kecil pada ibunya itu.
"Minnie berangkat, Mom! Daaah!" dan senyum manis Taemin hilang saat ia menyusul kakaknya untuk berangkat ke sekolah bersama-sama.
"Haaahh..." Kyungsoo mendesah panjang sambil membereskan sisa sarapan anaknya.
.
.
.
Sekarang sudah siang hari. Jongin baru saja pulang setengah jam yang lalu, tetapi ada yang membuat Kyungsoo bingung. Suaminya itu aneh. Sangat aneh.
Biasanya jika pulang darimana pun, Jongin akan mencari Kyungsoo dan jika sudah melihatnya maka Jongin akan memeluk erat istrinya, tidak lupa ciuman rindunya itu. Tetapi kali ini tidak. Oke, bukannya Kyungsoo mengharap dicium seperti biasa. Hanya saja aneh sekali Jongin tidak melakukan kebiasaannya itu.
Lelaki itu hanya diam dan mengangguk pada Kyungsoo yang menghampirinya. Kemudian berlalu ke kamar sambil menyeret kopernya. Hampir tak ada senyum yang dilihat Kyungsoo. Apa di New York terjadi sesuatu?
Kini wanita itu hanya terdiam memikirkan perubahan sikap Jongin. Suaminya itu sedang membersihkan diri di kamar mandi, dan belum keluar juga. Kyungsoo menghampiri koper besar yang dibawa Jongin, hendak membereskan isinya.
Tiba-tiba pintu kamarnya menjeblak terbuka, dua sosok anak kembarnya muncul disana.
"Park auntie bilang Daddy sudah pulang, Mom. Benarkah?"
Kyungsoo mengangguk lesu.
"Aku mau hadiah yang dibawa Daddy! Mana, Mom? Daddy 'kan sudah janji padaku."
Kyungsoo tersenyum. "Sebentar sayang, Eomma buka dulu koper Appa. Ugh, berat sekali sih..."
Taeoh masuk dan ikut membantu ibunya membongkar koper Jongin. "Sekarang Daddy mana?"
"Sedang mandi." Sahut Kyungsoo pendek. Ia tidak tahan lagi dengan rasa penasarannya, dan meminta pendapat anaknya.
"Appa kalian berubah sejak pulang tadi. Tidak menyapa sama sekali, hanya diam dan langsung masuk ke kamar mandi. Menurut kalian kenapa?"
Taemin tampak berpikir dan menggaruk pipinya, mencari jawaban yang bisa membantu ibunya. Sementara Taeoh hanya mencebik dan mengedikkan bahunya acuh, ia lebih sibuk dengan ritsleting koper ayahnya.
Koper terbuka, berisikan pakaian Jongin dan segala macam buah tangan untuk anak-anaknya. Taemin langsung memekik senang melihat miniatur figure kartun Disney, koleksi miliknya belum lengkap dan ia meminta Daddy-nya untuk membelikannya lagi agar lengkap.
Taeoh dan Kyungsoo hanya menggeleng dengan tingkah si bungsu itu, dan tak lama pintu kamar mandi terbuka. Sosok kepala keluarga mereka muncul, hanya memakai handuk di pinggangnya untuk menutupi bawah tubuhnya. Tangannya memegang handuk kecil yang digunakan untuk mengeringkan rambut.
Tetapi ketiga sosok itu tidak sadar dengan keberadaannya. Jongin yang sejak tadi sudah tidak tahan untuk memeluk istrinya, langsung mendekati Kyungsoo dan menyentak tubuh itu hingga berbalik. Kyungsoo tampak terkejut, dan Jongin hanya menyeringai seperti biasa.
Tanpa aba-aba, dengan telak Jongin mendaratkan ciumannya di bibir istrinya yang sudah dirindukannya selama hampir dua puluh tiga hari ini. Tidak peduli kedua anaknya masih berada disana menontonnya, Jongin terus saja melumat gemas belahan kenyal sewarna peach yang tak pernah gagal menggodanya itu.
"Mmh..."
Kyungsoo tampak kepayahan menghadapi Jongin, belum lagi ia malu karena anak-anaknya melihat. Ia ingin Jongin berhenti sebentar, setidaknya sampai kedua anaknya keluar dari kamar ini. Tetapi suaminya ini malah tidak melepaskannya, malah semakin gencar menciumnya.
"Yah, Daddy~~ Bukannya tunggu kami keluar. Ish!"
Taemin menghentakkan kakinya kesal, sembari membawa hadiahnya ia berjalan keluar dari kamar orangtuanya. Ia sudah sangat sering disuguhi adegan seperti itu oleh Daddy-nya. Untung saja ia anak jenius, jadi ia tidak berpikir macam-macam. Taemin malah terkadang senang, itu menunjukkan betapa ayahnya itu sangat mencintai ibunya. Walaupun caranya mesum sekali.
Taeoh pun sama. Ekspresinya sangat malas, memutar matanya acuh dan menyingkirkan koper ayahnya ke sudut. Sudah sangat bosan ia melihat ibunya diserang seperti itu oleh ayah mesumnya.
'Daddy memang tidak punya malu. Untung aku dan Minnie baby anaknya. Aish!'
Setelah koper besar itu berhasil ia singkirkan ke sudut, Taeoh berbalik dan mendapati ayahnya sudah menindih ibunya diatas ranjang. Dan Taeoh tahu, sebentar lagi handuk yang dipakai ayahnya itu akan terlepas. Ia semakin risih dan sebal. Lebih baik ia keluar menyusul adiknya.
"Dad, pintunya akan kukunci dari luar. Aku yakin Daddy punya kunci duplikatnya seperti biasa."
Setelahnya Taeoh berbalik dan berjalan keluar dari sana. Suara erangan ibunya mulai terdengar.
BLAM!
CKLEK! CKLEK!
"Hah, dasar pervert Daddy. Kurasa aku tahu apa yang membuat Mommy bingung tadi. Daddy sudah tidak tahan lagi, makanya memutuskan mandi dulu sebelum menyerang Mommy. Hah!"
Sembari menimang kunci di tangannya, Taeoh melangkah ke ruang keluarga. Menonton televisi lebih baik daripada menonton orangtuanya bergumul membuat adik untuknya.
.
.
.
"Nnngh, Jonginnhhh-ahh!"
Kyungsoo hanya bisa mengerang pasrah, niatnya tadi ingin memukul kepala Jongin karena lagi-lagi suaminya itu bersikap seenaknya di depan anak-anak mereka. Tetapi sentuhan Jongin dengan gairahnya yang sudah di puncak itu membuatnya kalah, menyerah dan tidak jadi memukul Jongin. Mungkin nantilah.
"BabySoo, aku sangat merindukanmu...aku mencintaimu..."
Jongin terus menggerakkan pinggulnya dengan teratur, menumbuk titik sensitif didalam tubuh istrinya. Ia menghisap gemas dada Kyungsoo, meninggalkan jejaknya disana. Setiap gerakannya akan dibalas dengan erangan dari bibir istrinya itu.
"Apa sampai weekend ini kau ada jadwal mengajar?"
"Ti-tidak tahu... S-sepertinya ada... ahh..."
Jongin tersenyum. "Kalau begitu kau harus cuti, baby. Aku mau 'menghabisimu' sampai weekend."
Kyungsoo terbeliak mendengarnya, baru saja hendak berteriak memprotes Jongin tetapi suaminya itu sudah membekap bibirnya dengan ciuman penuhnya. Membuat Kyungsoo mengerang lagi karena lidah Jongin yang menjelajahi isi mulutnya.
Kyungsoo sudah terlanjur menjanjikan anak didik vokalnya untuk latihan penuh di hari Sabtu, tetapi semuanya terancam batal. Karena ulah suaminya yang seenaknya ini. Kyungsoo merasa tidak enak dengan ketua yayasan disana juga murid-muridnya.
"Tenang, nanti aku yang menjelaskan pada Han Seonsaengnim. Oke?"
Selalu itu yang akan dikatakan Jongin. Dasar.
Jadi sekarang biarkan dulu Daddy tampan ini menghabisi Mommy-nya Taeoh dan Taemin. Yeah, rindu dan hasrat yang terpendam selama dua puluh tiga hari lamanya itu bukan masalah sepele, lho. Hahahaha. Biarkan Kim Sajangnim ini puas 'memakan' istrinya. Tapi kurasa dia tak akan pernah puas, setuju?
.
.
.
End
