My Precious Woman

.

.

.

A Remake from Kyumin's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place

Cast :

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Warning : a Genderswitch FF, Mature Content

.

.

.

"Nnngh, J-Jonginnnh-ahh!"

Kyungsoo hanya bisa mengerang pasrah, niatnya tadi ingin memukul kepala Jongin karena lagi-lagi suaminya itu bersikap seenaknya di depan anak-anak mereka. Tetapi sentuhan Jongin dengan gairahnya yang sudah di puncak itu membuatnya kalah, menyerah dan tidak jadi memukul Jongin. Mungkin nantilah.

"BabySoo, aku sangat merindukanmu...aku mencintaimu..."

Jongin terus menggerakkan pinggulnya dengan teratur, menumbuk titik sensitif didalam tubuh istrinya. Ia menghisap gemas dada Kyungsoo, meninggalkan jejaknya disana. Setiap gerakannya akan dibalas dengan erangan dari bibir istrinya itu.

"Apa sampai weekend ini kau ada jadwal mengajar?"

"Ti-tidak tahu... S-sepertinya ada... ahh..."

Jongin tersenyum. "Kalau begitu kau harus cuti, baby. Aku mau 'menghabisimu' sampai weekend."

Kyungsoo terbeliak mendengarnya, baru saja hendak berteriak memprotes Jongin tetapi suaminya itu sudah membekap bibirnya dengan ciuman penuhnya. Membuat Kyungsoo mengerang lagi karena lidah Jongin yang menjelajahi isi mulutnya.

Kyungsoo sudah terlanjur menjanjikan anak didik vokalnya untuk latihan penuh di hari Sabtu, tetapi semuanya terancam batal. Karena ulah suaminya yang seenaknya ini. Kyungsoo merasa tidak enak dengan ketua yayasan disana juga murid-muridnya.

"Tenang, nanti aku yang menjelaskan pada Han Seonsaengnim. Oke?"

Selalu itu yang akan dikatakan Jongin. Dasar.

Kyungsoo meremas lengan Jongin, tidak tahu harus berpegangan pada apa saat lagi-lagi Jongin menumbuk titik nikmatnya. Bibirnya sudah terasa sangat pegal, tetapi lumatan panas Jongin membuatnya terbuai dan rasa pegalnya terlupakan. Bagian bawah tubuhnya, terutama liang senggamanya sudah terasa sangat basah, campuran antara cairannya dan cairan Jongin.

Tangan Jongin yang semula berada di pahanya, perlahan merangsek naik. Mengelus permukaan kulit Kyungsoo lembut, sedikit memijat pelan saat tiba di pinggul istrinya itu. Menyentuh pinggangnya, memainkan jemarinya disana dengan pola-pola tak teratur, dan berakhir di dada Kyungsoo. Lagi-lagi jemari Jongin bermain disana, meremas lembut lekukan daging itu.

"Akh!"

Kyungsoo tersentak, dan ia langsung melepas paksa ciuman Jongin. Matanya sedikit terpejam, alisnya mengernyit.

"Kyungsoo? Sakit, ya?"

Jongin tampak cemas, padahal ia sudah berusaha lembut tadi. Karena dia tahu, ada yang berubah dalam diri Kyungsoo akhir-akhir ini, bahkan sebelum ia pergi ke New York kemarin.

"S-sedikit, sih. Tidak apa-apa. Lanjutkan saja, tapi p-pelan-pelan..."

Jongin tersenyum miring. 'Kenapa dia masih tidak mau mengatakannya, huh?', Jongin membatin dalam hati. Ia mengamati dengan teliti ekspresi Kyungsoo yang masih setia dengan alis mengerutnya itu, dan sekarang wanita itu sedang menggigit bibirnya.

"Yakin tidak apa-apa?" Jongin bertanya, mengusap lelehan keringat di pelipis Kyungsoo.

Mendapati istrinya hanya mengangguk, Jongin kembali meneruskan gerakannya yang sempat tertahan tadi. Niatnya ingin 'menghabisi' Kyungsoo hingga weekend, tapi dia tidak tega. Ini baru hari Kamis, dan yah... Jongin harus mengalahkan egonya.

Jongin menjauhkan tangannya dari dada Kyungsoo, ia merunduk lebih rendah hingga wajahnya berada tepat diatas wajah istrinya. Jemarinya lembut mengelus bibir bawah Kyungsoo, kemudian kembali menciumnya. Kakinya membelit erat kaki Kyungsoo, dan yah... keduanya kembali larut dalam permainan.

.

.

.

Jongin mengeluarkan miliknya dengan hati-hati dari dalam tubuh Kyungsoo. Wanita itu sudah jatuh tertidur sejak beberapa menit yang lalu setelah mereka mencapai puncak bersama-sama. Wajar saja, Jongin menyerangnya sejak pukul dua siang dan sekarang sudah pukul delapan malam lebih tiga puluh menit. Hasrat kepala keluarga Kim itu sungguh gila, dan sudah maklum jika istrinya kelelahan menghadapinya.

Setelah berhasil keluar sepenuhnya, Jongin menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh telanjang Kyungsoo. Bibirnya mengulas senyum miring, karena di hadapannya tubuh sang istri sudah tak lagi putih bersih seperti tadi siang. Itu hasil karya bibirnya, yang dengan ganas menodai kulit seputih susu itu. Lelaki yang sudah menginjak usia empat puluh empat tahun itu membenarkan posisi berbaring Kyungsoo agar istrinya tertidur lebih nyaman, lalu memandang wajahnya cermat.

Tidak ada yang berubah sejak sebelas tahun yang lalu, hanya saja garis wajah Kyungsoo terbentuk semakin dewasa. Jongin tersenyum, mengusapkan punggung tangannya sekilas ke pipi Kyungsoo dan beranjak. Memunguti pakaiannya dan pakaian Kyungsoo yang berceceran, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasa lelahnya menguap entah kemana, dan sekarang dia butuh bercengkerama dengan kedua anak kembarnya. Si kembar yang juga dirindukannya selama ia pergi tugas ke New York, yang tadi siang diacuhkannya karena semua perhatiannya hanya terfokus pada Kyungsoo.

"Yah, Kim twins, kalian akan segera punya adik."

Jongin bergumam sembari menutup pintu kamar mandi, merasa bahagia dan yakin sekali dengan pemikiran itu. Yang ia heran adalah, mengapa Kyungsoo tidak memberitahukan kabar gembira ini padanya dan juga kedua anaknya?

.

.

.

"Auntie Luhan, kenapa uncle Sehun tidak ikut kesini?"

Taemin bertanya karena tidak melihat sosok paman riangnya itu dirumahnya. Hanya ada sosok auntie-nya itu bersama anak semata wayangnya, Haowen. Dan kini auntie Luhan sedang sibuk memakai dapur ibunya, berhubung sang ibu tidak keluar dari kamar sedari siang. Tentu saja karena ulah ayahnya itu.

Sedangkan kakak kembarnya, Taeoh, sedang battle game dengan Haowen di ruang tengah. Yah, yang tersisa hanya dirinya dan Luhan saja.

"Uncle Sehun masih sibuk, sayang. Tadi sih bilangnya pulang jam sembilan malam. Oh ya, apa Daddy-mu sudah pulang?"

"Sudah, tadi siang. Dan Daddy langsung mengurung Mommy di kamar sampai sekarang. Makanya aku lapar Auntie, Mommy kan belum masak untuk makan malam. Di kulkas hanya ada puding, aku tidak akan kenyang."

Luhan tertawa mendengar gerutuan keponakan manisnya itu. Tadi dia hanya berniat mengantarkan Haowen untuk menginap disini, karena Taeoh mengajaknya battle. Tetapi saat Taemin keluar dan melihat dirinya, bocah perempuan manis itu langsung menarik tangannya menuju dapur, meminta dibuatkan makanan olehnya.

"Taeminnie sayang, kau mau makan apa? Mommy-mu punya banyak persediaan bahan disini."

Luhan sedang mengamati isi kulkas di dapur Kyungsoo, mencoba berpikir makanan apa yang akan dibuatkannya untuk Taemin.

"Omelet saja Auntie, pakai cabai yang banyaaak. Umm, aku juga mau sup jagung sih, hehehe."

Taemin terkekeh, tampak malu-malu tapi mau mengatakan pesanannya pada Luhan. Imo-nya itu hanya menggeleng dan mulai mengambil bahan di kulkas.

"Eh tapi kalau jagungnya tidak ada, tidak usah, Auntie. Omelet saja cukup, tapi porsi besar ya."

"Jagung ada, tapi memang hanya cukup untukmu saja. Oke, Auntie akan memasak untukmu. Kau duduk saja di meja makan, atau kau mau bergabung bersama Oppadeul di ruang tengah?" tawar Luhan sembari memakai apron.

Taemin menggeleng enggan, bibirnya mengerucut persis ibunya. "Aku pasti akan dianggap tidak ada jika mereka sudah berteriak-teriak main game seperti itu."

Tak lama Luhan sudah sibuk dengan kompor dan segala macam bahan makanan. Biasanya urusan memasak hanya Kyungsoo yang turun ke dapur, para maid yang bekerja di mansion Jongin hanya sekedar membantu merapikan meja makan atau membersihkan dapur. Terlebih selewat jam enam sore, Kyungsoo sudah melarang maid-nya bekerja. Mereka harus beristirahat, karena mereka telah memulai pekerjaan sejak pagi-pagi buta.

Obrolan Taemin dan Luhan mengalir lancar, karena memang gadis kecil itu termasuk anak yang bawel. Ia tak hentinya mengajak bibinya berbicara, apa saja ia jadikan bahan obrolan dengan Luhan. Sampai kasus tadi siang dimana ayahnya yang baru pulang itu langsung menyerang ibunya di tempat tanpa mempedulikan keberadaannya dan Taeoh.

"Daddy keterlaluan sekali, dipikirnya aku ini boneka pajangan apa? Ish, menyebalkan!"

Luhan tertawa dan ia merasa kalau ia sedikit merona mendengar Taemin membicarakan adegan dewasa tadi. Untung ia sedang berkutat dengan kompor, mungkin wajar jika wajahnya memerah. Sepertinya Jongin dan adiknya memang sama-sama pervert, karena Luhan pun sering berada di posisi Kyungsoo. Diserang secara tiba-tiba.

"Hahaha, itu tandanya Daddy mencintai Mommy, sayang. Memangnya kau tidak senang ya kalau Daddy mencintai Mommy?"

Taemin menggeleng. "Bukan Auntie, aku senang kok. Tapi Daddy senang sekali menyerang Mommy seperti itu didepan aku dan Taeoh oppa, kami 'kan jadi risih."

Luhan tertawa, ia tengah menaruh omelet yang sudah matang ke piring. Omelet itu besar, Luhan pikir mungkin bisa untuk yang lain nantinya. Benar saja, selagi ia meneruskan obrolannya dengan Taemin, sosok Jongin melangkah memasuki dapur.

Pria yang wajahnya tidak terlihat seperti sudah kepala empat itu berjalan santai, dengan celana training hitam dan kaus polo berwarna putih. Ia lebih memilih menyambangi dapur, karena saat baru turun dari tangga tadi, suara berisik di ruang tengah sudah cukup memberinya info jika sedang ada battle disana.

Benar saja bukan, ia melihat sosok gadis kecilnya disana, sedang duduk di kursi makan sembari mengobrol bersama seorang wanita berambut coklat yang ia tahu adalah adik iparnya. Jongin melangkah makin dekat, dan menghampiri Taemin segera sambil mengangkat tubuh anaknya itu dari kursi makan.

"Hey! Apa yang kau lakukan disini, cantik?"

Jongin menggendong tubuh gadis kecilnya dan menciumi pipinya gemas, walau tahu anaknya mengelak dari serangannya.

"Ish, Daddy! Turun, aku 'kan sudah besar! Turunkan aku, Dad!"

Luhan tertawa dan kembali fokus pada masakannya, membiarkan Jongin menggoda anaknya.

"Yaish, Daddy menyebalkan!"

Jongin tertawa mendengar omelan anaknya. Ia lantas mencium pipi Taemin sekali lagi, lalu menurunkan si bungsu itu dari gendongannya.

"Luhan-ah, kau datang sendiri?"

Luhan menoleh sekilas sembari tersenyum pada kakak iparnya itu.

"Ne, Oppa, aku datang sendiri. Sehun masih sibuk, tadi katanya mau pulang jam sembilan. Oh, sekarang sudah jam sembilan." Luhan melirik jam tangannya.

"Haha, aku pergi tiga minggu dan dia yang sibuk ya. Baguslah." Jongin tertawa tanpa rasa bersalah.

Pria itu melirik ke arah kompor, juga sepiring besar omelet yang sedang dicomoti Taemin sekarang.

"Yah, Taemine! Kau menyuruh auntie-mu memasak lagi?!"

"Aku lapar, Dad! Mommy belum memasak apapun untuk makan malam, Daddy 'kan terus saja mengurung Mommy di kamar." Sahut Taemin cuek sembari mengunyah omeletnya.

Jongin tampak kikuk, anaknya menyebut langsung hal itu, apalagi ada adik iparnya disana. Tetapi ia berusaha tenang.

"Daddy 'kan merindukan Mommy, sayang. Sudah tiga minggu Daddy pergi, jadi wajar saja bukan?"

Jongin ikut duduk di kursi makan di sebelah Taemin, mengambil garpu dan mencoba omelet buatan Luhan.

"Kau masih memasak apalagi, Luhan-ah? Kau tidak ikut makan?"

Jongin beranjak mengambil semangkuk nasi untuk anaknya. Dilihatnya Luhan masih sibuk di kompor. Wanita itu hanya tersenyum menjawabnya, sebelum kembali fokus pada sepanci sup jagung.

"Ini aku buatkan sup, Taeminie yang memintanya. Mungkin untuk Kyungsoo juga nanti, dia pasti belum makan 'kan Oppa?"

Jongin tersenyum kaku, kembali kikuk. Mengapa sepertinya dua wanita di depannya ini sudah menuduhnya secara tak langsung?

"Yah, dia memang belum makan. Apa dua pria di ruang tengah itu sudah makan?"

"Tadi Haowen sudah beli cemilan untuk bekal battle game. Dan biasanya mereka tidak butuh makanan lagi." Sahut Luhan.

"Oh ya sudah. Kalau kau sudah selesai, cepatlah makan. Nanti suamimu itu mengomeliku lagi."

Jongin kembali duduk di kursi makan, membawa semangkuk nasi untuk Taemin. Baru saja ia menyuap, terdengar suara riang dari pintu depan.

"Luhanie!"

Jongin memasang tampang malas, ia sudah tahu siapa itu. Tak lama, sosok lain datang memasuki dapur yang merangkap ruang makan itu. Senyumnya terulas lebar, tak kelihatan wajah lelahnya sama sekali. Apalagi setelah melihat keponakan manisnya itu.

"Taeminnieeee!"

Sehun, sosok yang baru datang itu, langsung memeluk anak Jongin itu erat-erat sembari mencium pipinya. Tak peduli bocah itu merengut karena acara makannya terganggu.

"Yah, anakku sedang makan! Kau pikir apa yang kau lakukan, hah?!"

Jongin menyela tindakan Sehun tadi. Yang ditegur tidak merasa bersalah sama sekali, ia hanya terkekeh pelan.

"Memangnya tidak boleh, Hyung? Aku 'kan pamannya." Sehun mengusap kepala Taemin, lalu melepasnya.

"Luhanie, kupikir tadi kau meminta izinku hanya untuk mengantar Prince Haowen, kenapa kau malah berakhir di dapur seperti ini? Pasti Tuan Kim ini yang menyuruhmu ya?"

"Kau juga Kim, dasar bodoh." Jongin bergumam pelan, dan kembali makan bersama anaknya. Tidak mempedulikan suara protes Sehun dan juga pembelaan Luhan. Membiarkan suasana dapur menjadi hangat karena ramainya suara debat itu. Jongin tersenyum kecil, inilah sesungguhnya suasana keluarga yang ia dambakan sedari dulu. Bukannya suara pertengkaran seperti yang ia alami waktu kecil.

.

.

.

"Kyungsoo-ya, bangun dulu, sayang."

Jongin berbisik pelan di telinga istrinya. Kyungsoo tertidur sangat pulas. Padahal dari tadi Jongin sibuk mengurusnya, membersihkan tubuhnya dengan handuk dan air hangat. Bahkan sempat memindahkannya ke sofa sebentar karena Jongin mengganti sprei yang terasa lembab setelah pergumulan mereka sepanjang siang hingga tadi. Tetapi Kyungsoo sama sekali tidak terbangun, hanya sesekali melenguh pelan.

Jongin juga membawa semangkuk sup jagung, Luhan sengaja menyisakannya tadi. Sekarang sudah hampir pukul sebelas malam, dan Jongin tahu Kyungsoo memang belum memakan apapun dari pagi.

Sekarang istrinya itu sudah bersih, sudah memakai piyama terusannya yang biasa, oh tentu saja Jongin yang memakaikannya. Ranjang mereka juga sudah bersih, dengan sprei pengganti berwarna kuning gading dengan motif taburan mawar merah yang lembut.

Jongin benar-benar tidak tahan dengan wajah tidur itu, dan ia mulai iseng. Makanan yang dibawanya untuk Kyungsoo terlupakan begitu saja diatas nakas, karena kini Jongin sibuk menggoda istrinya yang masih pulas.

Jongin menindih tubuh itu, tangannya memeluk erat Kyungsoo dan wajahnya merunduk. Mulai menggigiti dagu Kyungsoo halus, terus ke rahangnya dan telinganya. Kyungsoo mulai melenguh merasa terganggu, tapi belum terbangun.

Cklek!

Jongin menghentikan aksinya, menoleh ke arah pintu kamarnya yang dibuka tadi. Ternyata dua anaknya muncul, berjalan menuju ranjangnya dan langsung naik kesana.

"Apa yang kalian lakukan disini?!"

"Aku mau tidur sama Mommy." Jawab Taemin cepat sembari merangkak mendekati ibunya yang masih dalam tindihan ayahnya.

"Kalau aku hanya mengikuti Minnie baby saja. Haowen tidak jadi menginap disini, tadi pulang bersama auntie dan uncle." Taeoh menyahut setelah mendapat deathglare ayahnya itu. Ia turut naik ke ranjang, berbaring diatas bantal ayahnya.

"Daddy, lepaskan Mommy. Aku juga mau peluk, dari tadi siang Daddy terus, ish!"

Jongin tambah mengrengut mendengar celotehan anaknya, ia sebenarnya masih ingin berlama-lama berdua saja dengan Kyungsoo. Tapi bocah-bocah ini mengganggu malamnya. Huh!

Akhirnya daddy tampan itu mengalah, ia melepas pelukannya dan beranjak dari atas tubuh Kyungsoo. Ia hanya mendengus kesal, melihat si bungsu itu yang kini menciumi ibunya.

"Mom, bangun. Mommy belum makan." Taemin menangkup pipi ibunya dan menciumi bibir Kyungsoo lembut.

Jongin mengernyit sambil mengawasi, ia lantas terkekeh melihat usaha anaknya gagal.

"Hahaha, kau memang belum jagonya. Lihat Daddy, ne?"

Taemin merengut setelah mendapat cubitan kecil di pipi dari daddy-nya. Ia menyingkir sedikit, membiarkan ayahnya kembali merunduk mendekati ibunya. Jongin menyeringai menatap anaknya sesaat, lalu mencium langsung heart-shaped lips milik Kyungsoo. Taeoh yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, kembali memasang tampang jengahnya. Ia menarik adiknya dan menutupi kedua mata Taemin dengan telapak tangannya.

"Dad, tidak bisakah berhenti memberi kami tontonan seperti itu terus? Aku risih melihatnya!"

Tetapi Jongin tidak mendengarkan, karena merasa Kyungsoo mulai merespon ciumannya. Suara erangannya terdengar pelan, lalu kelopak mata itu terbuka. Jongin melepas cumbuannya dan tersenyum senang.

Tetapi saat dahinya menyentuh dahi Kyungsoo, Jongin mengernyit heran.

'Hanya perasaanku atau dia memang demam? Kenapa aku merasa de javu? Apa ini berhubungan dengan kehidupan Kim junior yang baru didalam sana?'

"Apa sih, Jongin-ah? Aku lelah~"

Kyungsoo menggeliat tak senang saat lagi-lagi Jongin mengganggu tidurnya. Ia sudah sangat sering dibuat kesal karena terbangun dari tidurnya, dan sepertinya Jongin tak pernah jera dengan omelannya.

"Mom!"

Taemin kembali memeluk ibunya saat melihat Kyungsoo membuka matanya. Kyungsoo tersentak, sedikit terkejut mendapati anaknya ada disini. Ia menoleh dan melihat Taeoh juga ada disini.

Kyungsoo hanya pasrah saat anaknya menenggelamkan wajah ke lehernya, ia hanya mengusap sayang punggung Taemin.

"Kenapa kalian belum tidur? Ini sudah malam 'kan?"

Kyungsoo bertanya bingung, lalu menguap dan menutupinya dengan sebelah tangannya. Tetapi tak ada yang menjawab.

"Apa kalian bersekongkol dengan appa kalian untuk mengganggu eomma tidur?!"

Kyungsoo mencoba menuduh, tetapi mereka semua malah terkikik mendengar pertanyaannya.

"Tidak, aku dan twins tidak bersekongkol, mereka datang begitu saja menggangguku." Sahut Jongin membela diri.

"Dan kau sudah mengganggu tidurku!" balas Kyungsoo ketus.

Taemin yang sedati tadi bergelung pada Kyungsoo, mengerutkan alisnya merasakan hangat tubuh ibunya yang tidak biasa. "Mommy demam?"

Kyungsoo mengerjap. "Hng? Benarkah? Rasanya tidak apa-apa kok."

"Lebih baik Mommy makan dulu, sedari siang belum makan apapun 'kan?" Taeoh menyela seraya mengambilkan sup jagung yang terlupakan diatas nakas.

Taemin yang mengerti segera beranjak dari posisi bergelungnya, membiarkan ibunya duduk. Jongin membantu menyingkirkan selimut tebal yang menutupi separuh tubuh Kyungsoo.

Hening sesaat, mereka diam membiarkan Kyungsoo makan. Jongin duduk rapat di sampingnya, satu tangannya merangkul erat bahu istrinya itu. Dan ya, ia memang merasa jika Kyungsoo memang demam, walaupun tidak parah. Karena suhu tubuhnya semakin hangat saja.

"Kurasa kau memang demam." Komentar Jongin setelah meraba dahi Kyungsoo dengan telapak tangannya. Kyungsoo hanya mengangkat bahunya, meneruskan acara makannya dan tak terlalu mempedulikan omongan Jongin.

.

.

.

"Jadi, kenapa kau tidak memberitahukan kabar bahagianya pada kami?"

"Apanya?" tanya Kyungsoo balik, merasa heran.

Ia sudah selesai makan sedari tadi. Kini ia dan Jongin sudah kembali berbaring diranjang, tidak hanya mereka, si kembar Kim itu juga jadi ikut tidur disana. Taeoh tidur di bagian paling kiri, lalu Taemin yang masih saja bergelung pada ibunya, dan yang diujung sebelah kanan adalah Jongin. Dan pria itu harus merelakan lengan kanannya menjadi bantal untuk Kyungsoo dan Taemin.

"Kau sedang hamil 'kan?" tanya Jongin to the point, menekankan kata 'hamil'.

Kyungsoo yang sedang mengelus kepala Taemin, menghentikan gerakan tangannya. Ia menoleh ke samping tepat pada wajah Jongin.

"Aku...hamil? Entah, aku tidak tahu. Aku bahkan belum memeriksanya. Kenapa kau berpikiran bahwa aku sedang hamil?" cecar Kyungsoo penasaran. Ia jadi heran sendiri.

Jongin tampak sangsi. "Demi Tuhan Kyungsoo, apa kau sama sekali tidak menyadarinya? Bahkan aku sudah yakin sekali kau hamil, sebelum aku pergi ke New York kemarin!"

Sekarang Kyungsoo yang tampak bingung setelah mendengar perkataan Jongin. "Benarkah? Aku hanya merasa... nafsu makanku berkurang, itu saja."

Jongin terkekeh gemas dengan tingkah ajaib dari Kyungsoo. Bagaimana bisa dia tidak menyadari kehamilannya sendiri? Pria itu lantas menggigit telinga Kyungsoo pelan, meluapkan perasaan gemasnya.

"Kau benar-benar, Kyungsoo-ya... Tak ada wanita yang sepertimu."

"Jadi menurutmu aku hamil? Kenapa kau yakin sekali?"

"Karena aku selalu melakukannya di masa suburmu. Aku selalu memantau kapan waktunya kau subur dan tepat untuk diajak bercinta, dan aku selalu melakukannya lebih dari satu kali setiap malamnya. Aku yakin sekali sedang ada Kim junior lagi di dalam sana."

Jongin merangkulkan sebelah tangannya di perut Kyungsoo, mengelusnya dengan gerakan memutar yang lembut.

"Dan dengan demammu, aku jadi merasa de javu. Kau tahu... pertama kali aku melakukannya padamu... Dan kau demam setelahnya."

Jongin tampak hati-hati mengeluarkan kalimatnya. Itu adalah hal kelam yang pernah mereka alami, jauh sebelum mereka menemukan sinar kebahagiaan mereka.

Kyungsoo terdiam. Mau tidak mau ia jadi teringat lagi saat Jongin memaksanya dulu.

"Tapi itu dulu Kyungsoo, aku sudah menebusnya lunas 'kan? Lagipula aku tidak pernah menyesal sudah memperawanimu, karena aku mendapatkan imbalannya. Yaitu twins ini."

Jongin menunjuk Taemin dengan dagunya dan mengusap kepala Taeoh yang terjangkau oleh ujung jemarinya.

Kyungsoo hanya mengangguk, tidak tahu harus menimpali apa. Dirasakannya Jongin menumpukan dagu diatas kepalanya.

"Kau ingat tidak? Aku pernah mengambil fotomu saat sedang naked, dan aku masih menyimpannya sampai sekarang."

Jongin berucap jahil dengan cengiran lebar di bibirnya. Dilihatnya dari samping wajah Kyungsoo memerah, dan wanita itu sudah siap menyemburnya dengan kalimat protes.

"Kau! Kau sudah punya dua anak, dan sikap kurang ajarmu tetap tidak berkurang, hah? Kau-sungguh menyebalkan Kim Jongin!"

Kyungsoo sudah mengeluarkan suara ketusnya dan Jongin malah tertawa pelan tepat di telinganya.

"Yah, aku memang menyebalkan. Memangnya kau baru tahu?"

Kalau saja tangannya tidak tertahan oleh Taemin, mungkin Kyungsoo sudah memukul Jongin. Ia hanya bisa mendengus kesal mendengar Jongin tertawa, sangat menyebalkan.

"Menyingkir sana!"

Jongin menghentikan tawanya, berganti dengan senyum simpul. Tangannya mengeratkan pelukannya di perut Kyungsoo, dan bibirnya bergerak mencium pipi Kyungsoo untuk menenangkannya.

"Aku minta maaf, jangan marah. Kau semakin cantik jika marah-marah, dan sangat menggairahkan untukku. Kau mau tanggung jawab jika milikku terbangun dan kembali menyerangmu seperti tadi siang?"

"Mesum!"

"Aku mesum hanya padamu."

"Dan jangan sering melakukannya di depan anak-anak. Kau sudah mengajarkan yang tidak benar pada mereka, kau tahu?"

"Lho, memangnya aku salah jika aku ingin anak-anakku tahu bahwa aku sangat mencintai ibu mereka? Aku hanya berusaha menunjukkan rasa cintaku saja, kok."

Kyungsoo diam, malas membalas argumen Jongin. Ia selalu kalah jika sudah berdebat dengan Jongin.

"Ya ya ya terserah kau saja, Tuan Kim."

"Besok coba kau periksakan ke rumah sakit. Aku akan menemanimu."

"Kau tidak ke kantor memangnya? Tarik selimutnya kesini, aku takut twins kedinginan." Kyungsoo menyuruh Jongin menarik selimut tebal di kaki mereka.

Jongin menurut, berusaha meraih ujung selimut dengan sebelah tangannya, dan menariknya menutupi tubuh mereka berempat.

"Aku akan mengambil cuti. Pergi tugas itu melelahkan, tahu? Lagipula aku ingin menghabiskan weekend bersama kalian." Jongin menjawab sambil mengelus kepala Taemin, lalu Taeoh.

"Sebenarnya rasa rinduku padamu belum tuntas sepenuhnya." Jongin menambahkan dengan berbisik di telinga Kyungsoo.

Istrinya itu mengerang lelah. "Yaish...yang tadi siang itu apa namanya, Jonginnie? Aku tidak mau lagi, setidaknya untuk malam ini."

"Ya, aku tahu."

Jongin mulai memindahkan kepala Taemin yang bersandar di lengannya dengan lembut agar gadis kecilnya itu tidak terbangun. Setelah kepala mungil itu berpindah keatas bantal-bantal empuk miliknya, Jongin menarik tubuh Kyungsoo agar berbaring telentang, tidak lagi berbaring miring membelakanginya.

"K-kubilang 'kan aku tidak mau, Jong-emh!"

Jongin memotong kalimat protes Kyungsoo dengan menempelkan bibirnya di bibir bawel itu. Sepertinya dari sanalah Taemin menjadi anak yang bawel juga. Jongin memperdalam ciumannya, matanya terpejam menghirup wangi pipi Kyungsoo. Dan tak lama istrinya sudah terhanyut juga dalam cumbuannya. Dengan kaki saling membelit di bawah sana, tangan Kyungsoo yang meremas lembut lengannya dan hidung yang saling menggesek satu sama lain.

"Setidaknya biarkan aku menciummu saja, oke?"

Jongin memberi jeda sesaat diantara lumatannya, lalu kembali mencium Kyungsoo. Dalam dan hangat. Penuh akan cinta dan kasih sayangnya yang tak pernah pudar, juga rasa rindunya yang masih meluap-luap.

Err, lagipula kedua anaknya itu sedang tidur, jadi tak akan ada yang memprotes Jongin seperti biasa. Jadi sangat aman bagi daddy tampan itu untuk mencium istrinya sepuasnya.

.

.

.

END (Really End)

Ini udah bener-bener END guys~~

Aku mau ngucapin terima kasih buat kalian yang uda baca, yang selalu komen dan yang selalu nunggu cerita ini mwwaahhh

Terima kasih juga author Another Girl in Another Place yang sudah menulis FF super keren ini, sarangeeee

Sampai jumpa di cerita lainnya guys~~~