Sabtu pagi, meskipun kepalanya masih terasa berat, efek tidur terlalu larut semalam, Taeyong memaksakan dirinya bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan. Bukan, bukan untuk dirinya, tapi untuk Jaehyun.
Taeyong membuat sandwich spesial dengan extra keju, telur, dan daging sapi, ukuran sandwich nya pun cukup besar. Ia berpikir Jaehyun perlu energi yang banyak agar kuat latihan sampai siang nanti.
Taeyong menyiapkan beberapa potong sandwich, sereal, dan susu di meja makan. Karena ia membuat banyak sekali sandwich, maka ia memutuskan untuk membawanya sebagian ke sekolah. Siapa tahu di sela-sela latihan nanti Jaehyun kelaparan.
Taeyong tersenyum puas saat melihat sandwich-sandwichnya tertata dengan sangat cantik di meja makan. "Semoga rasanya enak."
"Hyuuuuung, kenapa tidak membangunkankuuuuu?" Terdengar teriakan Jaehyun dari dalam kamar.
"Hah? Sekarang kan baru jam 5, Jae! Kau kan latihan jam 7." Taeyong bingung melihat Jaehyun yang berlari ke sana kemari, meraih handuk kecil yang bersih di lemari kamar mandi, seragam basket, t-shirt, dan sepatu.
"Sekarang sudah jam setengah 7, hyung!" Jaehyun melepaskan baju tidur yang dia kenakan begitu saja dan langsung memakai seragam basketnya.
"JAE, GANTI BAJUMU DI KAMAR!" Taeyong memekik panik saat melihat perut six-pack Jaehyun. Astaga! Taeyong tidak pernah mengira "mantan adik tirinya" ini ternyata sekarang sudah tumbuh menjadi pria dewasa. Seingatnya, dulu perut Jaehyun itu gendut, penuh lemak.
"GOSOK GIGI DAN MANDI DULU!"
"Mandi mana sempat, hyung!" Jaehyun langsung berlari ke kamar mandi untuk gosok gigi, cuci muka, dan mengganti celana. Ia masih waras untuk tidak melepas celananya juga di hadapan Taeyong!
Taeyong berlari ke kamarnya untuk mengecek jam. "Ya ampuun! Ternyata jam di kamarku mati! Pantas saja."
Taeyong, yang merasa bersalah, cepat-cepat membungkus semua sandwich yang ada di meja makan, memasukkannya ke dalam Tupperware, serta memasukkan susu ke dalam tumbler.
"Hyung, ayo! Aku tidak mau diomeli Johnny hyung." Jaehyun memakai sepatu basket nya dengan cekatan, meraih kunci mobil, dan langsung menarik tangan Taeyong, berlari menuju basement apartemen.
Untung aku sudah mandi. Ujar Taeyong dalam hati.
Taeyong melirik Jaehyun. Rambutnya acak-acakkan. Refleks, Taeyong mengulurkan tangannya dan merapikan rambut hitam Jaehyun, menyisir rambut lembut dan lebatnya itu dengan menggunakan jemari.
Jaehyun menyalakan mesin. Terlalu panik untuk menyadari jemari Taeyong yang mengusap rambutnya dengan lembut.
"Hyung, sabuk pengaman!" Jaehyun berkata sebelum tancap gas.
"Sudah kok." Taeyong hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Jaehyun yang tergesa-gesa. "Hati-hati, Jae! Jangan menyetir cepat-cepat! Astaga! Kau bisa membuatku jantungan!"
"Maaf, hyung. Tapi kalau aku terlambat lagi, Johnny hyung akan benar-benar menghukumku. Dia tidak main-main saat mengatakan akan membuatku jadi pemain cadangan untuk pertandingan bulan depan."
Taeyong membelalak lebar. "Jadi kau sering terlambat?"
Jaehyun mengangguk, lalu terkekeh.
Taeyong mendecakkan lidahnya. "Kau pasti tidak pernah sarapan dulu."
"Kau juga tidak pernah sarapan, hyung! Aku tidak sarapannya kalau terlambat latihan saja."
Taeyong mengulurkan lengannya ke jok belakang, meraih tas yang di dalamnya terdapat Tupperware-tupperware besar berisi sandwich.
"Aaaaa…" Taeyong mendekatkan salah satu sandwich ke mulut Jaehyun. Tanpa pikir panjang lagi, Jaehyun langsung membuka mulutnya dan menggigit sandwich buatan Taeyong besar-besar.
"Enak sekali, hyung!" Mata Jaehyun berbinar-binar.
Taeyong tertawa. "Kau tidak berubah, Jae! Dasar pecinta makanan!"
"Tidak semua makanan kok, hanya makanan yang dibuat oleh hyung saja." Jaehyun menoleh sekilas ke arah Taeyong untuk mengedipkan sebelah matanya, membuat mobil agak oleng karena ia hampir saja menabrak gerobak penjual nasi goreng, dan Taeyong memekik kaget karenanya.
"Menyetir yang benar, Jung Jaehyun! Astaga!"
Jaehyun terkekeh. "Tenang saja, hyung. Aku ini pembalap yang handal." Kali ini pandangan Jaehyun terus terfokus ke jalan di hadapannya. "Suapi aku lagi dong hyung." Jaehyun nyengir, wajahnya tanpa dosa, padahal baru satu menit yang lalu hampir saja ia menjadi orang yang berdosa, hampir mecelakakan Taeyong, penjual nasi goreng, dan dirinya sendiri.
"Iya-iya." Taeyong menurut. Dasar! Tanpa disuruh pun, Taeyong pasti akan menyuapinya. Jaehyun tidak lihat apa?! Tangan Taeyong kan penuh dengan sandwich ukuran jumbo untuknya!
Saat lampu merah, akhirnya Jaehyun bisa dengan leluasa menatap Taeyong. Taeyong tentu saja masih menyuapi Jaehyun. Ini sudah potongan sandwich yang ke-4. Untung tadi Taeyong membuat 15 potong!
"Hyung, kenapa kau pakai short pants sih?" Jaehyun mengerutkan keningnya. Sejak bangun tidur tadi sampai sekarang, memang baru kali inilah Jaehyun menatap Taeyong dengan saksama dan menyadari apa yang Taeyong kenakan. Kaos putih longgar bertuliskan "coffee" dan short pants biru tua.
"Tadi kan kau langsung menarik tanganku, Jae. Mana sempat ganti baju dulu. Untung aku sudah mandi." Taeyong mengendus-endus pundaknya sendiri. "Ih, ternyata aku bau daging panggang dan keju."
"Tidak apa-apa hyung, kan lezat." Jaehyun nyengir jahil, tapi sedetik kemudian kerutan dalam terlihat jelas di keningnya.
"Tapi pahamu itu jadi kelihatan, hyung." Jaehyun meraih tas selempangnya di jok belakang, mengeluarkan jaket varsity, dan meletakkannya di atas pangkuan Taeyong, merapikannya sehingga jaket itu menutupi paha dan betis Taeyong. "Nanti pas hyung melihatku latihan, pakai ini ya. Jangan dilepas!"
Taeyong membuka mulutnya, tapi tidak mengatakan apapun. Speechless.
'Kenapa jantungku berdebar-debar?' Taeyong menggelengkan kepalanya. 'Pasti karena perutku lapar!' Taeyong pun meraih potongan sandwich dari dalam Tupperware lagi, tapi kali ini alih-alih menyuapi Jaehyun, ia memakannya sendiri. Kedua telinga dan pipinya masih terasa panas. Entahlah, Taeyong juga bingung.
Jaehyun tidak melihat betapa merahnya pipi dan telinga Taeyong saat ini karena lampu sudah kembali hijau.
.
.
.
Pukul 7 kurang 5 menit, Jaehyun sudah sampai di lapangan basket sekolah. Napasnya terengah-engah, dan ada bulir-bulir keringat di pelipis dan lehernya karena tadi ia berlari sekuat tenaga dari parkiran mobil yang letaknya cukup jauh, sampai kemari.
Jaehyun melirik Taeyong yang berjalan ke arah bleachers, dan sama seperti Jaehyun, napasnya pun terengah-engah. Jaehyun jadi merasa bersalah karena membuat Taeyong kelelahan. Tapi seulas senyuman hangat terukir di wajah Jaehyun saat ia melihat Taeyong memakai jaket Jaehyun untuk menutupi paha, seperti yang sudah Jaehyun minta saat di mobil tadi.
'Taeyong hyung sangat nurut padaku. Hehehe.' Jaehyun terkekeh senang.
"Siapa bidadari itu?" Kapten tim basket, Johnny, tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Jaehyun dan membuyarkan senyuman Jaehyun.
Jaehyun mendelik kesal pada seniornya itu. Ia tidak suka melihat cara Johnny memandang Taeyong saat ini. Seperti serigala yang sedang kelaparan!
"Taeyong hyung." Ten menjawab karena Jaehyun sejak tadi hanya terdiam dan menatap Johnny seperti mau mencakarnya. Sedangkan Johnny yang masih terus menatap Taeyong dari kejauhan sama sekali tidak sadar dengan aura mengerikan yang menguar dari tubuh Jaehyun.
Ten menatap Jaehyun dan Johnnya bergantian. Bingung.
"Tunggu! Taeyong?" Johnny akhirnya sadar dari lamunannya tentang Taeyong. Percayalah, tidak ada yang ingin melihat apa yang Johnny bayangkan di dalam otak mesum-nya itu. "Taeyong? Lee Taeyong? Anak baru di kelas 12-G? Jadi, pria cantik itu Taeyong? Yang kerja sambilan sebagai gigolo?"
"DIA BUKAN GIGOLO!" Jaehyun dan Ten langsung menyanggah, kompak.
"Jangan percaya gossip murahan yang disebarkan Kai hyung dan Sehun hyung!" Ten menambahkan. "Taeyong hyung itu sangat baik, dan dia sangat jauh berbeda dengan apa yang digosipkan."
Johnny terkekeh. "Kupikir anaknya seperti apa. Ternyata secantik ini. Iyalah, mana mungkin dia itu berandalan dan pecandu! Sama sekali tidak ketampangan. Kulitnya saja mulus begitu. Mana mungkin dia nyandu. Tapi kalau gigolo… ah, seandainya saja benar. Hehehe. Dia benar-benar tipeku."
Jaehyun menggeram. Saat ini ia tidak tahu mana yang membuatnya lebih kesal. Gossip buruk tentang Taeyong yang ternyata sudah menyebar dengan sangat luas – lebih luas dari perkiraannya yang sebelumnya – gara-gara si mulut besar Kai? Atau Johnny yang menatap Taeyong penuh hasrat dan berkata bahwa Taeyong adalah tipenya? Atau… teman-teman klub basket nya yang lain, yang saat ini jadi ikut-ikutan menatap Taeyong secara terang-terangan? Atau justru malah merasa kesal pada Taeyong yang melambaikan tangan dengan bersemangat sambil tersenyum manis ke arah Jaehyun, mengira Jaehyun sedang memperkenalkannya pada teman-teman klub Jaehyun?
Sepertinya membawa Taeyong datang kemari untuk menonton latihan basket adalah ide yang buruk. Sangat buruk.
.
.
.
Catatan Author : Makasiiiiih yang udah review di chapter sebelumnya. Aku jadi semangat nih. Hehehe.
Sekarang saatnya nonton NCT Life. Yippie!
