SPECIAL CHAPTER

Saat Jaehyun berumur 7 tahun dan Taeyong 8, tinggi badan Jaehyun sudah jauh melebihi Taeyong. Tentu perbedaannya tidak se-jauh saat ini, tapi tetap saja, bahkan sejak kecil pun Jaehyun lebih terlihat seperti kakak dibanding adik.

Satu tahun sekali, selama seminggu penuh setiap awal musim panas, mereka pasti pergi berlibur ke rumah kakek dan neneknya Taeyong di Kyoto, Jepang.

Jaehyun senang sekali memakai yukata dan pergi ke festival-festival musim panas, membeli berbagai macam jajanan yang menurut Taeyong rasanya sangat aneh, mencoba berbagai macam permainan tradisional Jepang, sampai menonton tarian tradisional dan memeragakannya di hadapan kakek dan nenek Taeyong di rumah.

Jaehyun kecil memang sangat pandai mencuri perhatian kakek dan nenek Taeyong dengan tingkahnya yang lucu. Taeyong tidak keberatan tentu saja, karena Taeyong pun menganggap Jaehyun sangat lucu, terutama ketika Jaehyun memakai Yukata dan mulai menari tarian-tarian konyol sambil menyanyikan lagu Jepang yang lebih banyak salah ucapnya sehingga terdengar jauh lebih lucu lagi.

Satu hal yang membuat Taeyong cemas adalah ketika Jaehyun berlari ke sana ke mari di tengah kerumunan dengan terlalu bersemangat. Taeyong tidak bisa berlari se-cepat Jaehyun. Taeyong tidak mudah tertarik dengan layang-layang besar berbentuk ikan. Taeyong tidak suka mencoba memakan makanan pinggir jalan yang dijual di festival, ia lebih suka ramen buatan neneknya. Taeyong juga tidak begitu tertarik melihat kembang api, karena festival kembang api pasti selalu diadakan tepat sebelum tengah malam, dan Taeyong terlalu mengantuk untuk terus terjaga.

Tapi, agar ia bisa selalu berada di samping Jaehyun setiap saat, setiap detik, 24/7, Taeyong rela berlarian ke sana-kemari mengejar Jaehyun yang larinya cepat sekali, jauh lebih cepat dari Sonic – karakter games kesukaan Taeyong - membuat kaki-kaki kecilnya kewalahan, pegal setengah mati. Tapi Taeyong tidak pernah protes pada Jaehyun. Tidak pernah memerintahkannya untuk berjalan saja pelan-pelan daripada berlari. Malah, pada akhirnya, Taeyong jugalah yang membantu memijiti kaki Jaehyun sepulangnya dari festival.

"Hyung, kakiku pegal. Hehehe."

Taeyong hanya mencubit pelan pipi chubby Jaehyun, kemudian tanpa mengeluh sedikitpun ia mulai memijiti kaki Jaehyun. Padahal kakinya sendiri juga terasa luar biasa pegal, tapi ia tidak mengatakan apapun.

.

Demi Jaehyun, Taeyong rela berdiri di bawah teriknya sinar matahari, bermain layang-layang, bahkan sampai mengikuti lomba layangan karena Jaehyun memaksanya. Taeyong tidak bisa menolak saat Jaehyun dengan semangatnya meminta menjadi "partner" menerbangkan layang-layang besar berbentuk ikan, entah ikan apa, Taeyong tidak ingat, yang pasti bentuknya aneh sekali dan memiliki sayap. Taeyong tidak mengeluh meskipun tubuhnya terasa terbakar. Rasanya tiduran di lantai kayu di rumah neneknya sambil makan es krim lebih nikmat dibanding main panas-panasan seperti ini, di musim panas pula! Kulit Taeyong yang memang tidak se-putih kulit Jaehyun jadi terlihat semakin gosong. Teman-temannya di sekolah nanti pasti mengira dia menghabiskan liburan musim panas dengan berjemur di pantai, meski pada kenyataanya dia berjemur di tengah padang rumput sambil menatap ke langit dan menerbangkan layang-layang bodoh!

"Hyung, kau capek tidak?" Jaehyun nyengir lebar. Kedua matanya yang sipit membentuk bulan sabit yang terlihat menggemaskan.

Tentu saja Taeyong capek, tapi melihat betapa bersemangatnya Jaehyun saat ini… entah kenapa rasa capeknya tidak sebanding. Tidak sebanding dengan melihat senyuman manis Jaehyun, terutama eye smile nya.

"Kau capek tidak, Jae?" Taeyong balik bertanya.

Jaehyun menggeleng. "Tentu saja tidak! Aaah, hyung, awaaas! Nanti benang nya membelit benang peserta lain. Ayo jalan pelan-pelan ke sini…" Jaehyun menarik ujung t-shirt Taeyong karena kedua tangan Taeyong kini memegang benang layangan.

"Nah, iya, di sini hyung. Layangan kita sudah terbang tinggi sekali yaa hyung. Katanya yang layangannya bisa bertahan sampai akhir, akan mendapatkan hadiah. Kita harus berhati-hati hyung, soalnya banyak saingan. Anak-anak yang lain sudah jauh lebih besar dari kita." Jaehyun tak berhenti mengoceh. Taeyong menghela napas lelah. Keringat bercucuran di kening dan lehernya.

"Sini hyung, gantian pegangnya." Jaehyun pada akhirnya merebut benang di tangan Taeyong, membuat Taeyong kegirangan. "Uwaaaa… anginnya pas sekali!"

Taeyong terduduk lemas di atas rumput, kedua matanya menyipit silau menatap langit tanpa awan – benar-benar biru jernih membentang tak terbatas – dan kini dipenuhi puluhan layangan dengan berbagai bentuk dan warna.

"Hyung, wajahmu merah sekali. Kulit hyung kan sensitif. Tadi pakai sunscreen dulu tidak? Harusnya hyung bawa topi juga!"

Kata-kata Jaehyun berikutnya membuat Taeyong terkekeh. Iya sih, Taeyong memang sangat lelah, kepanasan, dan menurutnya lomba layangan ini sangatlah konyol. Taeyong memang lebih memilih tiduran di rumah neneknya yang sejuk daripada berada di lapangan rumput yang terasa seperti gurun gersang ini. Tapi, bila ia harus memilih, ia tetap akan memilih di manapun Jaehyun berada, bahkan di padang rumput yang luar biasa panas ini sekalipun! Taeyong rela, asalkan ia bisa melihat Jaehyun tertawa lepas seperti saat ini.

.

Menurut Taeyong, miso ramen buatan neneknya sangatlah juara! Tak ada yang bisa menandingi kelezatannya. Sudah enak, gratis pula! Taeyong rela makan ramen terus setiap hari dibanding makan sandwich, burger, steak, apalagi nasi! Tapi lain halnya dengan Jaehyun. Anak itu lebih suka jajan jajanan di pinggir jalan. Apalagi kalau ada festival tahunan besar-besaran seperti sekarang ini! Jaehyun pasti akan mencoba SEMUA makanan dan minuman yang dijual di festival, yah kecuali sake dan minuman beralkohol lainnya tentu saja, bisa diomeli habis-habisan nanti saat ibu kandungnya dan ayah tirinya datang menjemputnya ke Kyoto.

Taeyong tidak suka coba-coba jajajan aneh di pinggir jalan. Ia masih ingat ketika Jaehyun membeli mochi mini berbagai rasa yang ternyata rasanya aneh-aneh. Taeyong muntah ketika memakan mocha rasa wasabi!

"Wasabi itu enak, hyung! Terus, katanya kan wasabi itu berfungsi sebagai penetralisir setelah kita makan ikan mentah. Kalau ada bakteri, nanti bakterinya mati."

Taeyong hanya tersenyum masam. "Waah kau pintar sekali Jaehyunnie!" Ini bukan sindiran, tapi benar-benar pujian, meskipun wajah Taeyong sama sekali tidak menyiratkan kebahagiaan. Masalahnya, Jaehyun sudah berlarian lagi ke sana-kemari, siap mencoba jajanan unik – aneh kalau menurut Taeyong – lainnya.

Seperti bayangan, Taeyong mengikuti Jaehyun diam-diam. Takut kehilangan.

.

Taeyong tidak kuat menahan kantuk. Pesta kembang api pasti selalu ada setiap malam, dan herannya Jaehyun tidak pernah merasa bosan untuk menontonnya. Di hari pertama, kakek dan nenek menemani mereka melihatnya di pusat kota, agar lebih jelas katanya. Di hari ke-2, mereka melihatnya di dekat kuil di dekat rumah. Di hari ke-3, saat Jaehyun ingin melihatnya lagi, kakek dan nenek memintanya agar melihatnya dari rumah saja, di halaman depan. Di hari ke-4, Jaehyun ingin melihatnya lagi, dan Taeyong terpaksa menemaninya terjaga, lagi dan lagi.

"Hyung ngantuk?" Jaehyun cemberut.

Taeyong menggeleng, tapi tubuhnya tak bisa berbohong. Kedua matanya merah, dan mulutnya terbuka, menguap lebar.

"Tidur dulu saja sebentar hyung, nanti aku bangunkan." Jaehyun menarik Taeyong mendekat dan membuat kepala Taeyong bersandar di bahu lebar Jaehyun.

"Gomawo, Jaehyunnie." Taeyong tersenyum. Sedetik kemudian, ia pun terlelap dengan damai.

"HYUUUUNG…HYYUUUNG BANGUUUUUN! KEMBANG APINYAAAA!"

Rasanya Taeyong baru memejamkan mata satu detik, padahal aslinya sudah 30 menit berlalu. Guncangan pelan di tubuhnya membuat kedua mata sayu nya terbuka lebar.

"Woaaahhhh…. Kereeennnn!" Kedua mata Jaehyun berbinar. Senyumannya benar-benar lebar.

Mau tak mau, Taeyong pun ikut tersenyum. Sepertinya, senyuman Jaehyun menular. "Kau suka sekali kembang api ya Jaehyunnie?"

"Hmm!" Jaehyun mengangguk cepat. Matanya masih menatap langit dengan sungguh-sungguh, dipenuhi binary-binar kekaguman. "Nanti kalau sudah besar… aku mau menciptakan kembang api yang bisa terlihat indah meskipun dilihat di siang hari."

"Hah? Pasti aneh melihat kembang api di siang hari, Jaehyunnie."

"Iya, karena itulah aku ingin menciptakan kembang api yang terlihat bagus meskipun dilihat di siang hari."

Taeyong tertawa geli. Konyol, pikirnya. Tapi, jawaban Jaehyun berikutnya membuatnya terdiam.

"Soalnya hyung nggak pernah kuat tidur larut malam. Aku ingin hyung menikmati kembang api juga, tanpa merasa lelah dan ngantuk seperti ini." Jaehyun nyengir polos.

Mata Taeyong berkaca-kaca.

Malam berikutnya, setelah acara merengek manja Taeyong kepada kakek dan neneknya, tanpa sepengetahuan Jaehyun, akhirnya ia dan Jaehyun bisa menyalakan kembang api kecil di taman rumah nenek setelah makan malam.

"Kembang apinya mahal sekali, Tae." Gumam kakek.

"Tidak apa-apa kek, yang penting Taeyong senang." Timpal nenek.

Taeyong terkekeh. "Sssst, jangan bilang Jaehyun ya kalau aku yang minta kalian membelikan ini."

Malam itu, Taeyong bisa tidur lebih awal. Ia juga merasa bahagia. Bukan karena kembang apinya, tapi karena Jaehyun bahagia.

"Hyung, aku baru tahu ada kembang api yang bisa dipegang seperti ini!" Kedua mata Jaehyun membulat sempurna.

"Jangan disentuh!" Taeyong panik.

"Iya iya, hyung bawel. Aku hanya memegang batang pegangannya kok. Aku kan jenius, masa percikan apinya aku pegang?!"

"Kembang api itu bukan percikan api, jenius!" Taeyong menyeringai.

"Terus apa dong? Ya percikan api doong hyung! Sudah jelas-jelas ada kata API nya!" Jaehyun ngotot sambil melotot tajam.

Taeyong mengangkat bahu. "Iya, iya, terserah. Yang penting, bisa lihat kembang api sebelum tengah malam kan?"

Jaehyun nyengir. "Iya hyung! Meskipun kembang apinya kecil, tapi jauh lebih menyenangkan karena aku bisa melihatnya sedekat ini. Daaan, hyung juga jadi bisa melihatnya tanpa ngantuk. Hehehe."

Udara malam itu memang hangat, tapi hati Taeyong jauh lebih hangat. Aah, ia sangat beruntung memiliki adik yang baik hati seperti Jaehyun.

"Hyung, besok sore ikut lomba kimono yuk! Meskipun itu lombanya khusus buat anak cewek sih. Tapi hyung ikut saja ya! Menyamar. Hyung kan cantik. Hyung pasti menang! Aku mau hadiahnya. Ya hyung? Please… please… hyuuung, hadiahnya bisa makan takoyaki sepuasnya di restoran yang enak itu, sama dapat voucher ke taman bermain juga." Jaehyun memelas dengan puppy eyes andalannya.

Jaehyun itu baik, meski lebih sering menyebalkan.

Kapan sih, Taeyong bisa menolak permintaan Jaehyun tanpa merasa bersalah?!

.

Sekarang, saat Jaehyun 16 tahun, dan Taeyong 17, entah kenapa rasanya Taeyong tidak se-penurut dulu!

Pengandaiannya, dulu… kalau Jaehyun meminta Taeyong lompat ke jurang sekalipun, Taeyong pasti akan melakukannya.

Tapi sekarang… Jaehyun memintanya untuk tidak perlu melihat Jaehyun latihan basket saja susahnya minta ampun! Ke mana perginya Taeyong hyung nya yang penurut itu?!

"Hyuung, kenapa hyung datang ke sini?!" Napas Jaehyun terengah-engah. Peluh membanjiri sekujur tubuhnya. Ia tengah berlatih basket untuk persiapan turnamen ketika matanya menangkap sosok Taeyong yang berjalan mendekati lapangan basket, lalu duduk di kursi penonton.

"Doyoung yang mengajakku kemari." Taeyong menjawab dengan cuek, mengabaikan siulan-siulan jahil yang dilontarkan Johnny.

Doyoung mendelik kesal pada Taeyong. "Hyung! Bukannya kau yang…"

"Diam!" Taeyong mencubit pinggang Doyong sambil berbisik pelan.

"Sejak kapan kalian berteman?" Jaehyun mengernyitkan keningnya heran.

"Kami tidak berteman!" Taeyong dan Doyoung langsung menjawab kompak.

Jaehyun mengangkat kedua tangannya. "Oke, oke, terserah."

"Taeyongieeee~~~~" Johnny berlari mendekat dengan cengiran nakal. Jaehyun menghembuskan napas kesal.

"Aku sudah lama tidak melihatmu." Johnny mengedipkan sebelah matanya genit.

"Bukannya kita baru bertemu saat di kantin tadi? Saat makan siang?" Taeyong bertanya dengan bingung, dan kelewat polos.

"Tapi aku sudah merindukanmu, sweetie." Johnny menggoda dengan lihai.

"HYUNG, KAU MAKAN SIANG DENGAN JOHNNY HYUNG?!" Jaehyun heboh.

Taeyong mengangguk. "Hmmm."

Wajah Jaehyun yang memang sudah pucat jadi terlihat semakin pucat. Lain kali, ia tidak akan pernah mau lagi mengadakan rapat sambil makan siang! Atau, kalaupun harus rapat, Taeyong harus ikut bersamanya!

"Sama Jisung, Jeno, Chenle, Renjun, Jaemin, dan Haechan juga." Taeyong nyengir lebar dengan wajah tanpa dosa. "Makan dengan mereka asyik kan, John?"

Johnny mengangguk, kelewat bersemangat. "Tentu saja, Sweetie! Apalagi makan dengannmu. Atau memakanmu?" Kalimat Johnny yang terakhir terdengar berbahaya. Rasanya Jaehyun ingin menonjok wajah kakak kelasnya yang buaya itu saat ini juga!

"Ih, aku kan nggak enak! Hahaha." Taeyong malah menimpali dengan bodoh. Johnny tertawa. Jaehyun menatapnya dengan kobaran api di kedua matanya yang membelalak lebar dan mengerikan, siap membunuh. Doyoung mendengus dengan sebal.

"Dasar kakak kelas gombal!" Doyoung berkata dengan keras dan berani.

"Hey Doyoungie… jangan marah doong karena aku berpaling darimu." Johnny mengedip genit.

"Cih!" Doyoung semakin sebal. Tanpa sadar ia menggandeng lengan Taeyong. "Ayo Tae hyung, lebih baik kita pulang duluan, atau makan tteokpoki daripada melihat wajah buaya darat, aaah, bukan buaya tapi komodo, dinosaurus super playboy ini!"

Johnny hanya tertawa terpingkal-pingkal, sama sekali tidak merasa sakit hati dengan ejekkan Doyoung.

"Jaehyunnie, aku duluan ya!" Taeyong masih sempat melambaikan tangannya meskipun saat ini ia tengah diseret Doyoung dengan paksa, menjauhi lapangan.

"Iya hyung!"

Dalam hati, Jaehyun sangat berterimakasih pada Doyoung.

"Tapi aneh. Kupikir…, Doyoung naksir padaku. Apa ia jadi naksir Taeyong hyung ya? Ah, nambah lagi dong 1 sainganku."

.

.

.

Catatan Author : Udah nulis ini dari Sabtu kemarin, tapi belum selesai, akhirnya malam ini beressss! Hihihi