.
.
.
"Kim..."
"...Tae..."
"...Tae..."
"...ssi"
"...hyung-ssi!"
"...Tae...-ssi!"
"Kim Taehyung-ssi!"
Seperti ada yang menarik jantungnya, dalam sekali tarikan nafas, pemuda itu membuka matanya. Menghempaskan karbon dioksida dengan terburu-buru dan dengan rakus mencoba kembali mengambil oksigen. Tidak berhasil melalui hidung, dia membuka mulutnya lebar-lebar. Mencoba, berharap sang oksigen memasuki paru-parunya yang terasa terhimpit beban berat.
Gagal.
Ia tidak berhasil meraihnya sekeras apapun ia berusaha. Paru-paru terasa menghianati tubuhnya yang kini mulai menggigil kedinginan. Ia mati rasa. Tubuhnya terasa begitu berat bahkan untuk digerakkan sepersekian milimeter sekalipun.
Ia tak mampu melihat sekitarnya, selain lampu sorot yang terang benderang menyorotnya dari atas. Membiaskan keadaan disekitarnya. Tidak membiarkan retinanya menangkap jelas keadaan sekitar selain putih yang menyilaukan.
Meski begitu, ia masih merasakan ketika beberapa orang mengerumunginya. Beberapa menggunakan baju putih dan beberapa lagi menggunakan baju berwarna biru muda. Mereka melakukan sesuatu pada tubuhnya, meski ia tidak yakin apa itu.
Suara ribut terdengar disekitarnya meski tak ada satu katapun yang berhasil ia maknai. Terlalu ribut dan terlalu buram. Rasanya ia terjepit pada rasa takut besar yang bahkan tidak ia sadari untuk apa rasa takutnya itu. Terhadap apa ia merasa takut? Kenapa ia menjadi takut?
Semua terasa asing sampai sesuatu dirasa memasuki mulutnya. Sesuatu yang panjang, lembut tapi keras bersamaan menerobos masuk kerongkongannya. Melesak seperti menembus paru-parunya. Di saat itu lah ia melihat sesuatu yang sangat jelas di hadapannya.
Seorang pemuda.
Mengabaikan silaunya lampu penerangan dan berisiknya suara beberapa manusia dan beberapa mesin. Berdiri di sampingnya dengan senyum lembut yang hangat. Terkesan kekanakan tetapi memberikan perlindungan secara bersamaan. Memberikan dirinya rasa rindu yang seketika membuncah. Dan bahagia itu kini terpancar dari matanya.
"Jin-hyung?" Ia tidak tahu di mana suara itu berasal. Seingatnya mulutnya sekarang sedang dijejali oleh sesuatu yang panjang yang bahkan membuat kerongkongannya terasa terbakar. Tapi ia yakin suara itu adalah suara dirinya. Suara yang berasal darinya.
"Tae..."
Jelas sekali pemuda yang dipanggil Jin-hyung itu membalasnya. Tanpa terasa air mata mengalir menerobos pipinya yang sudah sedingin es.
Jin-hyung hanya menatap ia yang dipanggil Tae dengan senyum yang semakin lebar. Tapi matanya menyiratkan kesedihan yang kentara. Mata itu seketika membuat Tae diliputi rasa kesedihan.
"Kenapa?" Tanya Tae dengan bingung.
Jin-hyung menggeleng pelan. Tangannya terulur untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi Tae. "Jangan menangis..."
Tae akhirnya tersenyum. "Apa Jin-hyung datang untuk menjemputku?"
Ia tidak membalas apapun. Hanya tersenyum dengan air mata yang mengalir.
Bersamaan dengan itu, terdengar bunyi mesin yang memekakan telinga. Bunyi bip panjang yang statik. Menandakan satu lagi kehidupan telah menyerah pada kematian.
Alternative Uinverse (INU), crime, suicide, child abuse
Inspirated by BTS (of course)
Story © Terunobozu
=Prolog —Finished=
A/N. Melanggar peraturan itu menyenangkan.
—End
