Namjoon-ie
.
.
.
Seorang wanita dengan tergesa memindahkan beberapa pakaian dari dalam lemari pada tas ransel yang lusuh. Hanya beberapa, tidak sampai membuat lemari itu kosong karena ia tahu, ransel lusuh yang sedang ia pegang tidak akan mampu menampung semua pakaian dari dalam lemari. Dengan tangan yang masih bergetar ia menutup zip ransel dan menyerahkannya pada pemuda yang sedari tadi terduduk, menatapnya bingung.
"Noona, apa kau benar-benar mengusirku?" Tanya pemuda itu bingung.
"Kau harus pergi dari sini, secepatnya!" Perempuan itu berdiri dan memegang salah satu tangan pemuda itu dengan kedua tangan kecilnya. Menariknya dengan sekuat yang ia mampu.
"Noona! Aku tidak ingin pergi!" Bentak sang pemuda yang masih tidak beranjak sama sekali dari duduknya. Kekuatan perempuan yang ia panggil dengan Noona itu ternyata belum mampu memindahkan tubuhnya.
"Lalu kau mau apa?!" Teriak sang Noona yang terlihat frustasi.
"Aku ingin di sini, tetap di sini, menemanimu." Pemuda itu berucap dengan lirih. Air mata mulai merasuk di kelopaknya. Ia sungguh benci keadaan sentimentil seperti ini. Membuat ia merasa seperti pria tak berguna yang hanya bisa menangis.
Sang Noona terdiam sesaat. Air matanya ikut mengalir membasahi pipinya. Dengan tangan bergetar, ia meraih wajah adiknya. Menangkupnya dalam kedua telapak tangannya.
Sang adik masih merasakan tangan kakaknya yang bergetar. Ia terisak. Kakaknya pun terisak.
"Taehyung, dengar...," lirih sang kakak dengan suara sepelan mungkin. Hampir berbisik. Isakannya kini mulai terdengar jelas. "Jika kau masih di sini, polisi akan tahu kau hidup kembali. Mereka akan menangkapmu... kita akan tetap terpisah... tapi keadaannya berbeda. Kau tidak bebas, kau akan di penjara..."
"Tapi Noona, aku tidak bisa meninggalkanmu..."
"Taehyung-ah, kau sudah mati..." Sang kakak terdiam sesaat. Menarik nafas dengan pelan-pelan. Hatinya tiba-tiba terasa sakit ketika mengatakan itu. Tapi ia harus kuat, demi adiknya dan demi dirinya sendiri. "Kau sudah mati, beberapa hari yang lalu, tenggelam setelah membunuh appa... kau paham?"
Tangan bergetar sang kakak mulai menengadahkan wajah Taehyung. Menangkupnya dengan erat. Memaksanya untuk menatap wajah masing-masing. Suara isakan kembali terdengar lirih. Isakan yang berasal dari sepasang kakak adik tersebut.
"Tidak ada cerita kau bangun lagi dari peti...
Tidak ada cerita kau bernafas lagi...
Kau masih di dalam sana, di dalam peti mati dan akan dikuburkan bersama appa...
Kim Taehyung sudah mati...
Kau paham?" sang kakak kembali menekankan perkataannya. Memandang adiknya dengan lekat. Mencoba meyakinkan adiknya bahwa itu adalah jalan yang terbaik. Jalan untuk adiknya dan untuk dirinya sendiri.
"Noona..."
"Taehyung-ah... Noona mohon..." Sang kakak kini bergerak merangkul adiknya. Tangisnya mulai pecah. Bersamaan dengan rangkulannya yang semakin erat. "Noona mohon... pergilah... pergilah...pergilah..."
Sejujurnya Taehyung masih bingung. Apa yang harus ia lakukan? Benarkah ia harus lari? Meninggalkan kakaknya?
Taehyung tidak yakin apa yang harus ia lakukan. Menuruti kakaknya atau menuruti kata hatinya. Ia masih terdiam kebingungan dan membiarkan kakaknya memeluknya dengan erat. Menemaninya menangis dalam diam.
"Waktu kita tidak banyak, Tae... Kau harus dengarkan perkataan Noona-mu."
Taehyung menengadah ketika mendengar suara yang tidak asing baginya itu. Tepat ketika ia menemukan si pemilik suara, air mata kembali mengalir keluar dari matanya.
Dengan mata yang ikut basah, pemuda bernama Seokjin itu berdiri terdiam di depan pintu. Menatap sepasang kakak adik yang sedang berpelukan. Melepaskan semua beban hati mereka. Membebaskan semua kepenatan yang menghimpit jantung mereka.
Seokjin tersenyum ketika Taehyung melihatnya. "Ayo kita bertemu dengan mereka, para brandalan kurang ajar itu."
Bersamaan dengan itu, Taehyung membalas rangkulan sang kakak. "Maafkan aku, Noona... maafkan aku..."
.
.
.
Gerbong itu tidak sepi. Suara roda besi dan rel yang saling beradu terdengar jelas mengisi kehampaan ruang kosong di gerbong. Merambatkan bunyi yang riuh ditengah para penumpang yang terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mengantar ratusan orang menuju Seoul.
"10 menit lagi kita sampai..." Seokjin berucap sambil melihat pengumuman digital yang terpampang di atas pintu gerbong mereka.
Taehyung yang duduk di sampingnya terperanjat. Pikirannya masih dipenuhi oleh beragam hal ketika akhirnya makhluk yang mirip Seokjin itu membuka percakapan.
"Aku tidak yakin mereka mau menemuiku, Hyung," balas Taehyung dengan wajah muram.
Melihat keputusasaan di wajah sahabatnya itu, Seokjin menepuk pundak Taehyung pelan. "Mereka merindukanmu, Tae."
Taehyung tersenyum samar. "Entahlah...," ujarnya kembali menundukkan pandangannya. Meremas tangannya erat.
Lalu terdengar suara deheman dari seseorang yang duduk di samping Taehyung, membuat pemuda dengan surai kecoklatan itu kembali melihat ke arah Seokjin. Tapi itu bukan Seokjin. Orang yang berdehem tadi terlihat salah tingkah. Diambilnya sebuah buku di dalam tas selempang yang ia bawa. Bergerak kaku untuk membacanya.
Awalnya Taehyung bingung.
Butuh beberapa detik untuk mencerna hingga akhirnya ia melihat Seokjin menampilkan cengiran khasnya pada Taehyung.
Seketika Taehyung terasa dipukul oleh realita.
Seokjin duduk di sana, tepat bersamaan dengan pria yang duduk di samping Taehyung. Seorang pria yang kini membaca buku dengan canggung. Seokjin menembus tubuh pria itu.
Sial! Aku lupa Seokjin-hyung tidak terlihat.
Cengiran Seokjin semakin lebar. Lebar —dan lebar. Dalam seketika tawa pun mulai membahana. "Ups, Sorry Tae-ah."
Sial!
Dengan wajah memerah, Taehyung kembali menundukkan wajahnya. Menutup kepalanya dengan hoodie hitam yang sedang ia pakai.
Sial, ia pasti dianggap gila karena berbicara dengan pria di sampingnya tiba-tiba.
Sial.
Sial.
Sial.
—dan suara tawa Seokjin semakin keras di telinga Taehyung.
.
.
.
"Jadi, yang akan kita temui pertama kali adalah dia?"
Pertanyaan Seokjin terlontar ketika ia sampai di tempat yang tidak asing bagi mereka. Di sebuah statsiun tidak terpakai. Rel kereta yang berkarat karena sudah tidak terpakai. Bersamaan dengan gerbong-gerbong kereta yang diletakan serampangan. Acak dan tidak rapih. Terlihat kumuh. Ditambah dengan beberapa orang yang tinggal di gerbong-gerbong tak terpakai itu menambah kesan miris di dalamnya.
Taehyung memalingkan wajahnya ke arah Seokjin. Tersenyum kecut. "Aku tidak tahu siapa yang harus kuhubungi terlebih dahulu. Tapi..." Taehyung terdiam sejenak. Tidak yakin dengan alasannya sendiri mendatangi tempat ini. "—hatiku bilang, setidaknya kita harus menyapanya terlebih dahulu."
Cengiran khas Taehyung ia pamerkan pada Seokjin membuat makhluk tak nampak itu tertegun. Tatapannya tiba-tiba memancarkan kerinduan.
Melihat hyung-nya terdiam seperti itu membuat Taehyung bingung. Cengirannya hilang digantikan oleh mimik hawatir. "Kau baik-baik saja, Hyung?"
"Setelah beberapa hari kita bersama, akhirnya aku melihat lagi senyum kotakmu, Tae. Aku merindukannya."
"Aish, Hyung! Apa maksudmu?" Muka Taehyung langsung merona. Tapi ia kembali menampilkan cengiran khasnya itu. "Tapi pesonaku memang kuat sih, Hyung. Kau tidak akan pernah bisa menghindarinya." Ia acungkan jempol dan telunjuk kanannya hingga membentuk sebuah tanda 'V' lalu menempatkannya di bawah dagunya.
Seokjin melotot kaget mendengar ucapan Taehyung yang begitu percaya diri. Tapi akhirnya ia menggapai helaian rambut Taehyung. Mengasaknya pelan dengan senyum yang merekah. "Kau sudah besar."
Sekarang giliran Taehyung yang dibuat tertegun oleh Seokjin. Tanpa terasa, air mata mengalir dengan kurang ajarnya menerobos kelopak mata kiri Taehyung. Membuat Seokjin menatap Taehyung kaget.
Andaikan Seokjin tahu, betapa Taehyung merindukan tangan itu. Merindukan senyum itu. Merindukan usapan lembut hyung-nya itu pada helaian rambutnya. Merindukan semua perlakuan Seokjin padanya.
"Tae—
"Taehyung?!"
Ucapan Seokjin terpotong oleh panggilan bingung dari arah sebrangnya. Suara yang juga sangat dirindukan oleh Taehyung dan Seokjin.
Pandangan Seokjin menghangat ketika ia melihat pemuda disebrangnya yang memanggil Taehyung. Ia kembali menyunggingkan senyumnya. Senyum hangat. Senyum kerinduan.
Taehyung yang mendengar namanya dipanggil berbalik ke arah sumber suara. Hingga akhirnya ia menemukan seorang pemuda yang sudah lama ia tidak temui. Seorang pemuda yang memutuskan mereka tidak akan kembali bertemu tepat setelah satu bulan kematian sahabatnya. Kim Seokjin.
"Namjoon-ie hyung..."
Alternative Universe, Angst, crime, suicide, child abuse
Inspirated by BTS (HYYH)
Story © Terunobozu
You need to survive.
Taehyung termenung menatap tulisan yang terpampang di sebuah cermin di kamar Namjoon.
Seokjin menghampiri cermin itu dan merabanya pelan. Tentu ia tidak bisa menyentuhnya. Bahkan bayangannya pun tak terpantulkan oleh cermin tersebut.
"Ini aneh, kan?"
Pertanyaan Seokjin membuat Taehyung mengalihkan perhatiannya pada Seokjin.
"Bagaimana aku tidak bisa menyentuh apapun selain tubuhmu, Tae?"
Taehyung mengerutkan keningnya. Tiba-tiba menyadari apa maksud Seokjin. Sahabatnya itu selalu tak terlihat di mata orang lain. Selalu menembus apapun yang bersentuhan dengannya. Kecuali dirinya.
Taehyung bisa menyentuh Seokjin dan Seokjin bisa menyentuhnya.
—dan Taehyung bisa melihat Seokjin.
"Mungkinkah, jika aku sebenarnya masih mati, Hyung?" Pertanyaan lirih Taehyung menggantung di udara. Mereka saling menatap satu sama lain tanap mengeluarkan suara.
Hingga akhirnya derap langkah Namjoon terdengar. Memutus kebingungan Seokjin dan Taehyung dalam seketika.
Mungkin... mungkin... mungkinkah, sebenarnya dia tidak hidup lagi?
"Bagaimana kabarmu?" Namjoon menyerahkan secangkir cola pada Taehyung. "Sorry! Aku tidak punya meja, jadi kau harus memegangnya." Namjoon terdiam sejenak sebelum menghela nafas. "—dan yang kupunya hanya cola." Sambungnya lalu duduk di hadapan Taehyung.
Cola dalam cangkir itu memantulkan wajah Taehyung dalam buram. Ia mengernyit memandang pantulannya pada cola.
Tapi aku hidup...
Melihat Taehyung terlihat serius dengan cola-nya membuat Namjoon kembali menghela nafas. Disinilah alien Taehyung kembali, pikirnya dengan senyum samar. Tanpa sadar, rindu itu menyelusup di relung dada Namjoon. Membuat pemuda itu berpaling. Mencoba mengubur rasa itu dalam-dalam.
Pandangannya menatap tulisan yang ia tulis tadi pagi di permukaan cermin. Tapi bukankah ini sudah hampir enam jam dari semenjak Namjoon menulisnya, kenapa tulisan itu masih ada? Seharusnya hilang bersamaan dengan embun pada permukaan cermin tersebut.
Entahlah.
Namjoon beranjak dari tempatnya. Menghampiri cermin tersebut. Menembus Seokjin yang terdiam di sana tanpa ia sadari. Telapak tangannya bergerak dan menghapus tulisan di cermin tersebut.
"Hyung!" panggil Taehyung yang dibalas gumaman oleh Namjoon.
"Ayo kita hancurkan perjanjian itu."
Namjoon menatap Taehyung dengan kernyitan bingung.
Taehyung balas menatap Namjoon dengan tatapan tajam. "Kematian Kim Seokjin bukan salah kita."
Seketika mata Namjoon membulat ketika mendengar ucapan Taehyung. Nafasnya memburu. Tanganny terkepal dengan buku-buku jari memutih. Wajahnya memerah padam.
Taehyung menyunggingkan senyum sinisnya. "Kim Seokjin mati karena ia tolol."
"KIM TAEHYUNG, JAGA BICARAMU!"
Akhirnya emosi Kim Namjoon tidak bisa tertahankan lagi.
—dan di sana, Seokjin hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Nah, nah, nah, kenapa kau kasar sekali Tae-ah?!"
= 1st Namjoon-ie has finished =
A/N. Ini sepertinya agak mirip dengan Anohana. Kayaknya sih. Baru nyadar setelah jadi 1 chapter. Ditambah typo di mana-mana.
Yea, sorry about that.
But, special thanks to:
hirokisasano1 || ChintyaRosita || no name || Guest || Yuuki Asuna41 || ParkceyePark
Thank you so much. Chapter ini tidak akan ada jika tidak ada kalian yang menanti.
The Last, saya tidak tahu kapan akan update lagi, tapi terima kasih atas apresiasi kalian. I Love You.
