2nd JUNGKOOK-IE

.

.

.

Dingin merambat memasuki pori-pori pipi Taehyung. Membuat pemuda itu meringis sakit. Linu dan perih datang secara bersamaan. Ditambah dengan tekanan yang semakin kuat, membuat Taehyung akhirnya berteriak kesakitan.

"Ya! Ya! Ya! Hyung! Itu sakit!" teriak Taehyung

"Rasakan!" Seperti tidak punya rasa belas kasih, pemuda yang dipanggil hyung itu menambah intensitas tekanan pada pipi Taehyung.

"Ya! Hyung!" Taehyung menyerah dan akhirnya merebut kain yang melapisi es itu dari tangan sang hyung, Kim Namjoon. "Itu sakit!" Protesnya langsung mengambil alih si buntalan es di dalam kain dan menempelkannya di pipinya yang membengkak.

"Ini salahmu! Tidak bisa kah kau merasa kasihan?" sinis Taehyung dengan bibir mengerucut.

Namjoon yang menatap itu tidak merubah mimik kesalnya. Dengan ketus ia menjawab, "itu balasan untuk mulut lancang sepertimu."

Mendengar balasan Namjoon tidak membuatnya membaik. Maka, Taehyung hanya memutuskan untuk mendengus sebal.

"Seokjin tidak akan senang melihat kau menggunakan kekerasan."

Taehyung melirik sekilas orang yang duduk di samping kirinya, sementara Namjoon duduk di samping kanannya. Pemuda tak kasat mata yang dilirik Taehyung tak menggubris lirikan pemuda kurus itu. Ia masih setia menatap langit dengan awan putih yang berarak mengejar sang matahari —yang sebentar lagi akan tertidur di ufuk barat.

"—hyung," ujar Namjoon pelan dan tiba-tiba.

Taehyung dan Seokjin melihat ke arah Namjoon bersamaan. Mengernyit bingung.

"Seokjin hyung, Tae... hormatilah hyung-mu," lanjut Namjoon mengoreksi perkataan Taehyung.

Seokjin tersenyum lembut melihat Namjoon membelanya. Berbanding terbalik dengan Taehyung yang justru langsung memberenggut lucu.

"Aku akan memanggilnya Hyung jika ia berhenti menggangguku."

Seketika mata Seokjin melotot mendengar penuturan Taehyung. "Hei! Aku tidak mengganggumu!"

Tidak ingin dianggap gila, Taehyung mengabaikan pembelaan Seokjin. Ia berdiri dan menepuk pantatnya yang dilapisi jeans belel berwarna hitam dengan pelan. Mengusir debu yang menempel di sana akibat ia duduk di besi rel tanpa alas.

"Tapi mungkin, aku akan tetap memanggilnya hyung, karena dia kembali menggangguku."

Namjoon mengernyit bingung mendengar penuturan Taehyung. Dia sudah terbiasa dengan keanehan Taehyung, dulu. Tapi sekarang begitu asing baginya. Bahkan melihat bocah kurus itu di hadapannya pun membuat Namjoon mendesir sakit. Meski tanpa sadar ada luapan rindu juga di sana.

"Berhenti membuatku bingung, Kim Taehyung."

"Kau yakin tidak ingin menjadi ketua di misi mempersatukan 'berandalan bodoh', hyung?" Taehyung mengabaikan ungkapan Namjoon tentang dirinya.

"Apanya yang mau dipersatukan? Tidakkah jelas keputusan kita setahun lalu—

"—sepuluh bulan yang lalu," potong Taehyung membuat Namjoon terperangah.

"Tae-ah, please! Aku tidak mau membahasnya lagi. Berhenti saling menyakiti."

"Pikiranmu yang menyakiti, hyung. Mungkin Jin hyung dipikiranmu berbeda dengan Jin hyung yang sesungguhnya."

"Tolong jangan mulai lagi, Tae-ah. Ini sudah berakhir, kita semua sudah ber—

"—kau lari lagi, hyung," potong Taehyung. "Ini harus dibenahi," lirih Taehyung dengan pandangan meredup. Iris karamelnya menyiratkan luka.

Taehyung lelah dengan semua ini. Dengan hidupnya. Dengan keadaanya. Dengan Kim Seokjin.

Tapi, ia ingin semua lelah ini dibayar mahal. Ia ingin semua lelah ini berakhir bahagia. Sebahagia dirinya ketika Seokjin kembali menampakkan diri. Kembali bahagia, ketika ia bisa mengantarkan Seokjin dalam ketenangan abadi.

Ia ingin lelahnya berbuah manis.

Ia ingin lelahnya juga bersama lelah seorang pemuda bernama Kim Namjoon berakhir bahagia.

Ia ingin lelahnya dan lelah teman-teman lainnya terbayar dengan senyuman tulus.

Bukan lagi kepura-puraan yang membawa mereka bersembunyi di sudut kemunafikan. Menampilkan yang terbaik dengan jiwa yang digerogoti kesakitan.

"Aku harus bekerja."

Namjoon memilih kembali lari. Ia berdiri dari duduknya. Melakukan hal yang sama seperti Taehyung tadi. Memukul pelan bagian belakang tubuhnya. Menghilangkan debu di sana.

"Jika kau ingin bermain permainan bocahmu, tolong jangan libatkan aku."

"Hyung..."

"Tolong jangan temui aku lagi. Melihatmu membuatku ingin membunuh diriku sendiri." Namjoon tidak menatap Taehyung ketika mengatakan hal menyakitkan itu. Ia lebih memutuskan berbalik dan berjalan menjauhi Taehyung. Mengikuti jalan setapak yang membawanya kembali menghindar.

Taehyung merasakan sebuah rangkulan. Tidak hangat. Bahkan terasa dingin. Tapi hatinya entah kenapa menghangat. Air matanya kembali mengalir. Ia menatap kepergian Namjoon dengan pelukan dari Seokjin. Itu tidak membuatnya jauh lebih baik. Sebaliknya, ia merasa lebih nelangsa dari sebelumnya.

"Kenapa hanya aku yang bisa melihatmu, hyung?"

Pertanyaan Taehyung tidak bisa dijawab Seokjin. Karena sesungguhnya Seokjin juga tidak tahu kenapa ia bisa muncul dihadapan Taehyung.

"Maafkan aku, Tae-ah... aku sungguh minta maaf."

Tangan Taehyung terangkat menepuk pelan punggung Seokjin. "Kau bodoh hyung...," bisik Taehyung pelan di telinga Seokjin.

"Aku tahu... maafkan aku karena kebodohanku menghancurkan kalian..."

.

.

.

Seorang pemuda memasuki sebuah rumah sederhana dengan pekarangan yang berantakan. Tanaman di pot-pot itu telah mati kekeringan. Tanah di dalamnya retak seperti menuntut asupan air. Tertinggal rumput ilalang setinggi dada pemuda itu yang kini memenuhi pekarangan rumah. Hanya menyisakan jalan setapak kecil menuju pintu utama rumah.

Sejauh ia ingat, rumah itu hangat. Masih jelas terpantri dalam kotak ingatannya, tawa renyah dari sahabat-sahabatnya yang kesemuanya lebih tua darinya memenuhi ruang kosong udara di sana. Menggemakan tawa bahagia mereka dibalik kerusakan hidup mereka. Mereka hancur, menangis, tertawa, bahkan bernafas bersama.

Pemuda itu merindukannya.

Membuka pelan pintu utama rumah. Sepi langsung menyergapnya dengan asing. Ya, ini tetap asing baginya meski sepuluh bulan telah ia lalui, ia tetap merasa asing dengan keadaan ini.

"Hyung?" Suaranya menggema di dalam ruangan yang kosong itu. Hanya ada satu kursi, sebuah nakas kecil, dan cermin sepanjang tubuhnya yang menyambut dirinya di sana.

Tidak hanya mengintip, ia memutuskan untuk melangkah masuk. Ketika langkah pertamanya terasa menendang sesuatu, pemuda itu melirik ke bawahnya. Didapati seorang pemuda lainnya tertidur di sana, dengan pakaian lengkap dan sepatu masih terpakai.

Pemuda itu menghela nafas hingga akhirnya memutuskan menghampiri di mana kepala pemuda berambut mint itu berada. Berjongkok di sana dan menepuk pipinya pelan.

"Yoongi hyung, bangun!" Pemuda itu menepuk kembali pipi sang pemuda berambut mint. Menyadarkannya dari pengaruh —yang pemuda itu yakini sebagai alkohol. Tercium dari bau khas yang memenuhi ruangan.

"Hyung! Bangunlah!"

Kembali, pemuda itu mencoba membangunkan Yoongi dari tidurnya yang memabukkan. Hingga akhirnya alis itu mengernyit. Jelas sekali terganggu.

Yoongi membuka matanya pelan. Mengerjap. Dunia masih terasa berputar baginya. Tapi ia masih bisa mengenali pemuda yang tengah berjongkok melihatnya. Ia mengeluarkan cengirannya. Menampilkan deretan gigi mungilnya yang rapi.

"Kook-ie, uri dongsaeng," racaunya yang dengan sempoyongan mencoba duduk.

Pemuda yang sedari tadi berjongkok itu membantu Yoongi untuk meraih posisi duduknya. "Hyung, kau menghabiskan berapa botol kali ini?" tanya pemuda yang dipanggil Kook-ie —Jeon Jongkook itu.

"Kook-ie, manisku..." Alih-alih menjawab, Yoongi malah menyambar tubuh Jongkook dan memeluknya.

"Hyung, kau bau sekali."

Jongkook memegang lengan Yoongi yang memerangkapnya dalam pelukan. Menariknya untuk dapat berdiri. Tentu berdiri dengan tidak sempurna, karena Jongkook masih harus menopang sebagian besar berat badan Yoongi yang kini seperti diseret Jongkook. "Kau harus membersihkan diri, Hyung."

"Aku bersih Jongkook-ie, aku tidak kotor. Itu salah appa Jin hyung... dia membuat kita seolah kotoran."

Langkah Jongkook untuk sesaat terhenti mendengar racauan Yoongi yang tengah dalam keadaan mabuk. Demi Tuhan, ini sudah sepuluh bulan. Dan Yoongi masih meracaukan hal yang sama.

Senyum miris tersirat dari bibir tipis Jungkook. Ia sungguh ingin menangis sekarang. Meratapi keadaan. Tapi ia tidak ingin menyerah. Tidak ingin jatuh. Setidaknya untuk sekarang. Karena jika ia tumbang, lalu bagaimana nasib Yoongi?

Bukannya ia melupakan hyung-nya yang lain. Tapi semua akses seperti tertutup untuknya. Kecuali Yoongi. Hanya ia lah hyung-nya yang masih membuka akses masuk untuknya.

"Kau benar-benar harus mandi, hyung. Agar kau sadar dari hangover-mu."

Jongkook kembali menyeret Yoongi ke kamar mandi di rumah itu. Melewati dinding yang dipenuhi oleh berbagai macam foto. Foto keluarga Yoongi, foto Yoongi dan foto mereka

—bertujuh tersenyum lima jari ke arah kamera.

.

.

.

Namjoon memasuki toserba di perjalanannya menuju pom bensin —tempatnya bekerja. Toserba itu tidak menampakan kasir di tempat pembayaran ketika ia masuk, membuat tidak ada yang menyambutnya ketika ia memasuki toserba tersebut.

Tapi itu bagus. Namjoon tidak suka di sapa orang asing. Meski itu hanya basa-basi dan sebuah formalitas belaka.

Membutuhkan waktu beberapa menit untuk Namjoon menemukan sepaket lolipop di toserba tersebut. Itu maklum, mengingat ini pertama kalinya ia memasuki toserba yang biasanya ia lihat di jendela bis menuju tempatnya kerja dan ia lalui begitu saja.

Namjoon menghela nafas ketika ia mengingat bodohnya dia. Pikirannya yang semrawut membuatnya berhenti di halte yang salah dan mengharuskannya melanjutkan ketempat kerja dengan berjalan kaki. Padahal butuh dua halte lagi untuk dirinya sampai di halte yang ia tuju. Mungkin ia harus mulai mencari pekerjaan yang dekat dengan tempat tinggalnya.

—meninggalkan semua kenangan mereka di tempat kerjanya.

Selamanya.

Namjoon tahu. Ia lari. Tapi ia masih belum rela melepas kenangan mereka. Sahabatnya. Saudaranya. Kakak-kakaknya. Adik-adiknya.

Pemikirannya mulai kembali kacau.

Pemuda tinggi itu menggeleng, mengenyahkan pemikirannya. Ia kembali berjalan dan mencoba mengingat tujuannya memasuki toserba itu. Membuat pikirannya kembali sibuk. Mengenyahkan pikiran apapun tentang mereka.

Namjoon menyambar sebotol air mineral dalam daftar belanjaannya sebelum memutuskan ke kasir. Membayar semua belanjaannya —sepaket lolipop dan sebotol air mineral. Namun yang ia dapati di meja kasir masih sama, tidak ada siapapun di sana.

Jika ia bukan warga negara yang baik, mungkin ia akan keluar begitu saja. Toh belanjaannya tidak begitu mahal. Mungkin pemilik toserba tidak akan menyadarinya.

Namun sedetik kemudian ia menggeleng.

Yang namanya mencuri tetap mencuri. Tak peduli seberapa kecil pun barang yang dicuri.

Dengan begitu, meski enggan, akhirnya Namjoon memutuskan bersuara. "Permisi!" —mencoba memanggil sang kasir yang entah di mana.

"Permisi! Maaf, aku mau membayar!" teriak Namjoon sekali lagi.

Butuh beberapa detik hingga akhirnya ada suara derap langkah mendekatinya dari arah sudut ruangan. Mungkin sang kasir baru dari toilet.

Dengan langkah tergesa ia menuju meja kasir. Berdiri di sebrang Namjoon dengan membungkuk meminta maaf.

"Ah, maafkan aku!" sang kasir adalah seorang pemuda yang seumuran Namjoon.

Namjoon tahu itu. Tapi yang membuatnya terbelalak saat ini bukanlah hal itu, melainkan orang yang sekarang berada di balik meja kasir adalah seseorang yang sangat ia kenal dan ia asingkan secara bersamaan.

"Ah, apakah hanya ini saja?" tanya sang kasir tanpa melihat tatapan terkejut si pembeli. Ia tidak sadar raut muka sang pembeli saat ini. Ia tampak fokus men-scan barkode yang ada pada produk yang dibeli pemuda dihadapannya. Menyebutkan total belanjaan hingga akhirnya ia menatap sang pembeli.

Telak.

Sang kasir menampilkan ekspresi yang sama dengan Namjoon.

Terkejut.

Tapi itu tak berlangsung lama. Karena tatapan itu mulai meneduh.

"Apa kabar, Joon-ie?" sang kasir menyapa tapi tak dibalas oleh Namjoon.

Pemuda tinggi itu lebih memilih merogoh sakunya. Mengeluarkan selembar uang pada sang kasir daripada menjawab pertanyaan kasir tersebut.

"Kembaliannya!" pintanya tanpa mengindahkan tatapan sedih dari sang kasir.

Pemuda dibalik meja kasir itu menghela nafas sedih. "Kau baik-baik saja, kan?"

"Aku tidak mengenalmu, Hobi. Lebih baik segera beri aku kembaliannya, aku terlambat," jawab Namjoon sedikit kesal. Menyembunyikan perasaan sakit yang mulai menelusup kembali.

Sial.

Kenapa ia harus bertemu dua orang dalam kenangannya di hari yang sama?

"Ah, maafkan aku." Pemuda kasir itu merutuk dirinya sendiri. Mengambil beberapa kembalian dan menyerahkannya pada Namjoon.

Pemuda tinggi itu tidak menunggu lama untuk mengambil kembalian dan belanjaannya yang sudah berada dalam plastik. Sesegera mungkin meninggalkan toserba tersebut. Meninggalkan pemuda kasir itu dengan senyum miris. Menatap punggung yang ia kenal sebagai sandaran dirinya dan sahabat-sahabatnya beberapa waktu silam.

"Apa yang tidak mengenal, kau bahkan memanggil namaku." Pemuda kasir itu menggumam miris, "—bahkan alih-alih memanggil namaku dengan benar, kau memanggilku dengan panggilan 'Hobi'"

.

.

.

Jongkook merapatkan jaketnya. Udara malam berhembus menembus kulitnya. Serasa menusuk tulangnya yang selalu ia klaim dalam masa pertumbuhan —dulu.

Malam di awal musim gugur selalu buruk. Di tambah sebulan ke depan adalah tepat satu tahun hal terburuk yang terjadi padanya dan sahabatnya. Jongkook menggertakan giginya kesal.

Ia kesal.

Kesal dengan keadaanya.

Kesal dengan dirinya.

Dirinya dan keadaan memperburuk suasana.

Jongkook menghentikan langkahnya di trotoar jalan. Kendaraan-kendaaraan yang berseliweran di jalan utama seperti dunia lain baginya. Dunia yang tidak ia pahami.

Toko-toko yang mulai sibuk ditutup oleh pemiliknya terasa putaran film yang di luar jangkauan Jongkook.

Ia masih terdiam di tengah orang-orang yang tergesa berjalan. Mungkin mereka bersiap untuk ke tempat kerjanya —yang mendapat bagian kerja malam. Mungkin mereka semangat untuk pulang ke rumah mereka. Disambut keluarga tercinta. Disambut selimut hangat. Disambut acara TV yang ditayangkan. Disambut orang terkasih dengan senyuman.

Jongkook pun mau disambut seperti itu. Pulang ke rumah. Mendapat cengiran-cengiran khas itu lagi. Memberinya kembali rasa hangat.

Tapi ia tahu, rumah seperti itu sudah tidak ada lagi baginya. Rumah seperti itu hanya tinggal kenangan baginya.

Bahkan rumah satu-satunya yang masih terbuka untuknya mulai semakin hancur. Hingga menunggu akses masuk itu ditutup oleh sang pemiliknya —dan Jongkook tidak akan tahu lagi, tempat seperti apa yang ia panggil rumah.

Malam semakin beranjak. Trotoar yang tadi dipenuhi pejalan kaki telah sepi. Toko-toko pun telah tertutup rapi. Tidak ada yang masih menampakannya cahayanya. Hanya kendaraan di jalan utama yang masih sesekali melewatinya.

Tapi Jungkook belum beranjak.

Jongkook menengadah. "Aku lelah. Sungguh," ia bergumam pada angin malam. Tatapannya sekelam langit malam yang saat ini tak nampak bintang dan bulan.

"Hyung... aku menyerah." Sebulir air mata mengalir melewati mata jernihnya.

Pemuda yang akan beranjak menjadi dewasa dalam beberapa minggu lagi itu membuang nafas keras. Berbalik menghadap jalan. Sorotnya tajam dan menggelap. Ia tak peduli. Ia tak punya apapun lagi. Tak punya siapapun yang akan peduli padanya. Rumahnya telah roboh. Harapannya telah hancur.

Langkahnya semakin memantap ketika ia berjalan menuju jalan utama. Jika ia sial, maka ia akan menyebrangi jalan utama tanpa ada mobil yang lewat. Tapi jika ia beruntung, maka perjalanannya menyebrangi jalan utama akan disambut sebuah mobil. Ia tahu, jalan utama di tengah malam membawa kendaraan dengan kecepatan tak terkendali. Dan ia mengharapkan itu. Mengharapkan kendaraan tak terkendali itu menghempaskan tubuhnya ke dalam absis paling dasar di perut bumi.

Jongkook tidak memejamkan mata. Tidak gentar. Tidak takut. Bahkan mata kelamnya membantu langkahnya untuk semakin mantap menyebrangi jalan utama tersebut. Hingga sebuah klakson nyaring berbunyi.

—dan ia tersenyum melihat kendaraan dengan kecepatan tinggi itu siap menghantamnya.


Alternative Universe, Angst

Inspirated by BTS (HYYH)

Story © Terunobozu


"Jadi, siapa sekarang?" tanya Seokjin pada Taehyung yang berjalan dengan riang di sampingnya. "Apakah Jimin-ie?" Seokjin tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya menatap Taehyung yang ceria seperti itu.

Hanya satu hal yang Seokjin tahu. Taehyung tidak akan menampilkan raut muka seperti ini jika bukan untuk partner in crime-nya, yaitu jika bukan Park Jimin, maka ia adal—

"Jongkookie!" sahut Taehyung riang sambil berlari dengan kecepatan penuh.

Seokjin melihat arah Taehyung berlari dan ikut tersenyum ketika melihat apa yang dituju oleh Kim Taehyung. Dia adalah Jeon Jungkook. Berdiri di tepi jalan.

Awalnya Seokjin tersenyum bahagia ketika melihat sahabat termudanya itu. Tapi seketika senyumnya lenyap tergantikan oleh tatapan khawatir. Ia sadar apa yang akan terjadi. Posisi Jungkook berdiri sungguh mencurigakan. Hal itu tambah mencurigakan ketika ia melihat sang magnae berjalan dengan tatapan kosong ke jalan utama.

Shit!

Taehyung menyadarinya. Karena seketika ia berhenti dan memfokuskan pandangannya pada Jungkook.

Sial!

—untuk sesaat kemudian kembali berlari dengan sekuat tenaga yang ia punya. Meraih tangan Jungkook. Menariknya ketika sebuah mobil hampir menghantam pemuda bergigi kelinci itu.

Taehyung tahu ia menarik Jungkook sekuat yang ia bisa hingga tubuh mereka terhempas di trotoar jalan. Menggesek punggung Taehyung yang hanya berlapis kaos dan Sweater tebal dengan jalan beralas aspal di trotoar. Tapi ia tidak merasa sakit sama sekali. Apalagi ketika ia melihat Jungkook yang ada di atas tubuhnya.

Berhasil di selamatkan.

Umpatan dari supir mobil yang hampir menabrak Jungkook mampir di telinga mereka berdua. Mobil itu berlalu begitu saja dengan kata yang tak pantas. Tapi Taehyung tahu, baik dia maupun Jungkook tidak berminat menyimpan kata-kata kotor itu. Taehyung lebih memikirkan keadaan magnae mereka dibanding kata kotor dan sumpah serapah itu.

Taehyung beranjak duduk dan mendudukkan Jungkook di hadapannya. Ia melihat Jungkook lalu tersenyum dengan senyuman khasnya.

"Jungkook-ie!" seru Taehyung dengan kebahagiaan yang tidak bisa ia tutupi.

Jungkook yang melihat Taehyung dihadapannya hanya bisa terperangah. Ia seperti mimpi melihat partner in crime-nya itu. Ini nyata, kan?

—dan semua serasa tidak nyata ketika Taehyung menerjangnya dengan sebuah pelukan.

"Kook -ie ah, aku merindukanmu!" seru Taehyung dengan tangan yang memeluk punggung Jungkook erat.

Sementara Jungkook butuh waktu beberapa detik untuk menyadari ini nyata dan akhirnya membalas pelukan Taehyung tak kalah erat. Tangisnya langsung pecah. Ia meraung dan memanggil namanya hyungnya berulang kali yang dibalas Taehyung dengan usapan pelan di punggung Jungkook.

Seokjin yang menatap mereka dalam ketiadaan hanya mampu tersenyum. Ia bahagia. Sungguh. Hampir saja mereka kehilangan magnae mereka yang berharga. Sang Golden Magnae. Jeon Jungkook.

"Kau hampir membuatku mati lagi, Kook-ie."


=2nd Jungkook-ie has finished=


A/N. Ini terinspirasi dari HYYH, tapi ceritanya agak sedikit mirip Anohana kayaknya. Masalah teori, mungkin memang terinspirasi dari sana. Tapi kayaknya ceritanya tidak akan sesuai dengan teori /grin

Yeah, Jin-ie mati, dan Tae? Masih misteri kenapa dia bisa ketemu Jin pas lagi sekarat /grin

Typo(s)? Sorry about that.

Special thanks to:

Hirokisasano1 || ChintyaRosita || Summer Chii || Yuuki Asuna41 || and Guest —siapapun dirimu.

Thank you so much, I love you!

Terima kasih atas apresiasi kalian, dan semoga cerita ini tidak mengecewakan. Love You so Much!