Disclaimer : NCT (c) SM Entertainment


Masquerade


Jung Jaehyun x Kim Doyoung

2

Anonym96


"Apakah anda seorang gay?"

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Jaehyun berdecak kagum dalam hati, tidak menyangka Doyoung yang seorang laki-laki berani bertanya seperti itu kepada dirinya yang memiliki gender sama. Namun harus Jaehyun akui pria ini sedikit menarik perhatiannya sedari awal mereka bersitatap selama wawancara. Jika dia mengaku secara gamblang kalau dirinya seorang gay, maka semua wawancara ini akan berakhir begitu saja. Jaehyun tak ingin itu terjadi, dia menginginkan pria ini memasuki teritorial pribadinya. Jaehyun rasa tak apa sedikit bermain untuk menarik pria itu ke sisinya. Jaehyun memberikan jawaban yang ambigu dengan sedikit senyum yang mampu menarik para wanita dan pria di luar sana dengan mudah padanya.

"Menurut anda?"

Doyoung tersenyum canggung, ujung lidahnya menjilati bibirnya yang terasa kering. Doyoung mengalihkan pandangannnya pada kertas wawancara di tangannya. Jaehyun beranjak dari kursinya.

"Ah maafkan saya...umhh."

Degup jantung Doyoung terdengar keras hingga telinganya.

"Tidak masalah Tuan Kim, tak perlu takut, aku memang orang yang penuh privasi, khususnya untuk kehidupan pribadiku." Suara langkah itu berhenti tepat disamping Doyoung. Doyoung menghela napas lega, berharap pertanyaannya tadi benar-benar tidak menyinggung pria itu. Dia mengalihkan pandangannya dari kertas wawancara.

Crap

"Apakah kau tau?" Tanya Jaehyun santai. "Kau sepucat kapas. Apa kau sakit?"

Iris hitam Jaehyun menyorot tajam ke dalam matanya. Tanpa ada sinar humoris. Doyoung merasa tidak nyaman. Seakan tatapan pria itu mencoba meniti apa yang ada dalam pikirannya. Doyoung membuka mulutnya, namun kembali tertutup saat suara ketukan dari pintu dan seorang wanita masuk dengan sebuah clipboard di tangannya.

Jaehyun berdecak. Doyoung bisa mendengarnya.

"Pak, maafkan saya menyela, ada klien yang ingin bertemu dengan anda."

"Bukankan kau bilang ini jadwal terakhir ku? Katakan padanya aku tidak bisa."

"Maafkan saya Pak, klien memaksa, saya sudah mengatakan jika anda tidak bisa ditemui saat ini."

Jaehyun menghela nafasnya. "Kami sebentar lagi selesai."

Wanita itu mengangguk, lalu menghilang dari balik pintu. Jaehyun kembali ke balik mejanya. Mengambil telepon genggamnya. "Nah Tuan Kim, apa ada hal yang ingin kau tanyakan lagi?"

"Tidak, aku sudah mendapatkan semua yang aku butuhkan." Doyoung berdiri dan memberi isyarat kepada rekan cameramannya. "Terima kasih atas wawancaranya." Doyoung dan rekannya setengah membungkuk.

Jaehyun berjalan melewati Doyoung dan temannya. "Suatu kesenangan bisa diwawancarai oleh mu Tuan Kim. "

Doyoung mengerutkan kening. Begitupun dengan rekannya yang melemparkan pandangan bertanya padanya. Doyoung mengangkat kedua bahu ke atas. Acuh. Berjalan menyusul Jaehyun yang terlebih dahulu keluar.

Doyoung terkesiap saat melihat aksi gentle seorang Jung Jaehyun yang membukakan pintu untuk mereka dan sekarang berdiri di samping pintu yang terbuka lebar.

"Tuan Jung?" Doyoung menyebut nama pria itu sarat dengan tanya. Aksinya membuat Doyoung terhenyak. Karena ini adalah seorang Jaehyun. Jung Jaehyun yang hebat tengah menahan pintu untuk mereka.

"Anggap saja sebagai permintaan maafku membuatmu tak nyaman tadi."

Pikiran Doyoung melayang ke arah kejadian beberapa saat lalu. Saat pria itu mengatakan kalau wajahnya terlihat pucat.

"Tak apa, terima kasih Tuan Jung. Anda sangat perhatian," ucap Doyoung sambil tersenyum kecil. Jaehyun membalas senyumnya lebar. Pria itu kemudian menutup pintu ketika kedua tamunya telah keluar dari ruang kerjanya.

Doyoung dan rekannya berjalan terlebih dahulu. Jaehyun berjalan dibelakang. Doyoung merasa diikuti, namun dia memilih diam. Barulah saat mencapai lift pertanyaan dalam pikirannya terjawab ketika Jaehyun juga masuk ke dalam lift yang dia tempati bersama rekannya. Mereka berdiri canggung. Atau mungkin hanya Doyoung yang merasa seperti itu. Jaehyun berdiri di sampingnya dan dia bisa merasakan aura maskulin pria itu memenuhi ruang sempit ini. Saat pintu lift terbuka Doyoung bersama rekannya segera saja bergegas keluar pintu. Doyoung menyempatkan diri untuk menatap ke belakang, pada Jaehyun yang masih bersandar pada dinding lift.

Iris mereka bertemu. Jaehyun mengantar kepergian Doyoung dengan seringaian di bibirnya. Bibir Jaehyun terbuka menyampaikan sebaris kalimat tanpa nada, hanya udara kosong. Doyoung bisa membaca pelafalannya. Sebelum akhirnya pintu lift memisahkan pandangan mereka berdua.

Sampai berjumpa lagi, Kim Dongyoung.

.

.

.

Doyoung berjalan menuju apartemen yang dia tinggali. Dia menghembuskan napas lega saat mencapai pintu apartemennya yang berwarna pastel. Rasanya napasnya terhenti begitu saja saat tatapan dan aura seorang Jung Jaehyun menyapa batas kenyamanannya. Apalagi saat berdekatan dengan dirinya. Oh tidak itu sangat tidak baik. Doyoung menggeleng menghembuskan napas keras lalu memasuki apartemennya.

"Oh Doyoung kau sudah selesai." Doyoung melihat temannya yang sedang berbaring di sofa. Setumpuk buku terbuka lebar diatas meja, beserta sebuah laptop. Foto-foto berserakan di lantai. Doyoung yakin sekali temannya ini sedang menyusun artikel milik Doyoung. "Bagaimana wawancaranya?"

"Cukup lancar kupikir. " Doyoung mengangkat tas yang berisi kamera.

"Sicheng kemana? Kenapa hanya kameranya yang ada pada mu? Oh iya, bagaimana Jung Jaehyun?"

Doyoung memutar kedua matanya saat temannya itu melempar pertanyaan beruntun. "Ten, kebiasaanmu." Ten, temannya itu, hanya memberi tanda damai ke arah Doyoung.

"Sicheng sedang membeli bubur untukmu, karena itu dia menitip kameranya padaku agar segera kau lihat. Dan untuk Jung Jaehyun ―kau tau, sedikit mengitimidasi, membuatku tidak nyaman. Tentu saja dia memang tampan seperti yang kebanyakan orang katakan."

"Apa kau tertarik denganya?" Doyoung melemparkan pandangan sinis pada Ten. Dan temannya itu hanya tertawa. "Sorry. Kupikir seorang Jung Jaehyun bisa menarik perhatian mu."

"Jadi karena itu kau memintaku untuk menggantikanmu?"

"Tentu tidak kawan, kau tau sendiri apa alasan aku tidak bisa melakukan wawancara." Ten duduk bersandar pada sofa dan Doyoung menyamankan diri di sebelah pemuda yang lain.

"Yah bagaimana demammu Tennie? Apa kau sudah meminum obatmu?"

"Lumayan baik. Terima kasih telah menggantikan aku, artikelmu sudah selesai kususun. Apa kau ingin kubuatkan segelas kopi?" Ten menyerahkan sebuah flashdisk pada Doyoung.

"Kita impas kau menyusun artikelku dan aku menggantikanmu untuk wawancara. Kurasa tidak perlu, aku ingin ke café setelah menyerahkan berkas."

"Kau yakin? Kau terlihat sedikit pucat dan berkeringat."

Doyoung berdehem. "Well, ada sedikit insiden tadi."

"Insiden apa? Kau dilecehkan Jung Jaehyun?" Ten berbinar di ujung katanya. Doyoung berdecak.

"Astaga, lebih baik kau lihat sendiri videonya."

Doyoung segera meninggalkan temannya yang memiliki sedikit gangguan syaraf menurutnya itu.

.

.

.

Suasana cukup ramai saat Doyoung memasuki kafe. Beberapa karyawan yang bertugas sebagai pelayan menyapanya saat mereka berpapasan. Doyoung tersenyum kecil sembari tetap meneruskan langkahnya menuju ruang ganti. Seorang berkulit kuning langsat, yang memiliki usia kurang lebih sama dengan Doyoung tengah mematut dirinya dihadapan cermin.

"Doyoung aku pikir kau tidak akan kembali kesini setelah wawancara."

Doyoung terkekeh pada orang itu. "Itu hanya wawancara, tak akan membutuhkan waktu yang lama, Yuta."

"Okay, Young aku duluan."

Mereka saling melempar lambaian tangan, sebelum akhirnya Yuta keluar dari ruang ganti. Doyoung segera menyusul Yuta untuk melakukan pekerjaannya. Namun saat Doyoung keluar dari ruang ganti, dia merasakan seseorang menariknya ke belakang konter.

"Doyoung kenapa kau tidak pernah mengatakan kalau kau mengenal orang setampan Jung Jaehyun." Itu Wendy, berbisik setengah terpekik padanya. Doyoung mengangkat satu alisnya. Setahunya hanya Yuta yang mengetahui siapa saja orang yang dia wawanacarai. Mengingat Yuta yang sekarang menggantikan orangtuanya menjaga kafe ini.

"Apa maksud mu?"

"Ah sudahlah, ini pesanan kau antar ke meja nomor 7, jangan kembali sebelum pembicaraan kalian selesai. Okay!" Wendy mendorong Doyoung keluar meja kasir setelah menyerahkan segelas americano dan sepiring steaks tenderloin. Doyoung menatap bertanya pada Yuta di meja kasir. Tapi pria kelahiran Jepang itu hanya melempar senyum manis padanya. Doyoung mengangkat kedua bahunya dan berjalan menuju meja nomor 7.

"Pes―" Ucapan Doyoung terhenti saat tatapannya menemukan seorang pria yang baru saja dia wawanacarai beberapa waktu lalu. "Tuan Jung?"

Jaehyun tersenyum, cekungan pada sisi bibirnya menambah ketampanan pria itu. "Senang bertemu dengan anda lagi Tuan Kim." Suara baritonnya menggema dalam gendang telinga Doyoung. Pria ini tidak hanya tampan tapi juga memiliki sisi ideal yang umumnya hanya jadi pengandaian saja bagi kaum pria kebanyakan. Doyoung contohnya. Sedikit rona merah menghiasi pipi Doyoung. Rasanya Doyoung tiba-tiba merasa insecure. Doyoung menggigit bibir dan sedikit menjilatinya. Sebagaimana kebiasaannya saat sedang gugup.

"Bagaimana bisa anda mengetahui saya berada disini?" Doyoung menaruh pesanaan Jaehyun.

"Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, bisakah Tuan Kim duduk terlebih dahulu? Dan Panggil saya Jaehyun, tak perlu seformal itu, kita sudah tidak dalam sesi wawancara kan?"

Doyoung tersenyum canggung sembari mendudukkan dirinya. "Anda juga tak perlu memanggil saya seformal itu, Tuan Jaehyun." Mata Jaehyun menyorot tajam.

"Cukup Jaehyun, tanpa embel-embel apapun yang mengikutinya."

"Okay, kau bisa memanggilku Doyoung."

"Bukankah namamu Dongyoung?"

"Itu sedikit sulit menyebutnya, jadi kebanyakan orang yang kukenal memanggilku Doyoung." Jaehyun mengangguk mengubah posisi duduknya menjadi bersandar pada kursi. "Jadi Jaehyun bagaimana kau tau aku disini?"

"Aku disini untuk urusan pekerjaan." Jaehyun melempar senyum menggoda kepada Doyoung. Doyoung merutuk dalam hatinya.

"Maaf, maksud ku bagaimana kau mengetahui aku disini?"

"Aku tak sengaja melihatmu masuk ke belakang, aku tak menyangka kau bekerja disini. Bagimana dengan artikelmu?"

Rasanya sudut pipi Doyoung sedikti berkedut, karena malu. Mengingat pertanyaannya tadi seakan seorang Jung Jaehyun kesini memang untuk menemui dirinya.

"Kupikir baik."

Jaehyun meminum kopinya, namun tatapan tak lepas dari Doyoung.

"Kenapa kau bekerja disini?"

"Apa kau sekarang sedang mencoba mewawancarai aku, Jaehyun?" Jaehyun terkekeh. Dan Doyoung merasakaan seolah sedang banyak lonceng gereja berdentang di sekitarnya.

"Hanya ingin mengenalmu lebih jauh. Apa itu salah?"

"Tentu tidak." Doyoung segera menggeleng. Rona merah menghiasi pipinya. Bayangkan apa maksud pria tampan ini mengatakan hal klise seperti itu. "Aku bekerja disini untuk mengisi sebagian waktu kosongku. Dan aku bersyukur pemilik toko ini menyediakan part time job bagi orang seperti ku."

"Apa kau memiliki lebih dari satu pekerjaan?"

"Yeah bisa dibilang seperti itu, kau tau? Hidup di ibukota tidak semudah yang orang lain pikirkan. Kau mesti bekerja banting tulang untuk memenuhi konsumsi hidupmu." Doyoung meneguk ludahnya di akhir, tatapan intens Jaehyun seolah berkilat mendengar ceritanya tadi.

"Begitukah?" Congkak, itu nada yang terdengar di telinga Doyoung terucap dari bibir Jaehyun setelah mendengar ucapannya ―curhatannya.

"Apa kau sedang mencoba menyombong Tuan Jung?" Doyoung merengut menatap Jaehyun. Lagi Jaehyun terkekeh. Tangan kananya terulur mencubit pipi kiri Doyoung. Doyoung memukul tangan itu.

"Ku pikir kau orang yang cukup lucu." Jaehyun melepaskan cubitannya. "Well, Doyoung jika kau mau, kau bisa mengisi bagian divisiku yang masih kekurangan orang."

"Apakah itu bisa menjamin hidupku?" Doyoung masih merengut menatap Jaehyun.

"Hanya mencoba menawari." Jaehyun menyerahkan selembar kartu nama pada Doyoung. "Hubungi aku jika kau membutuhkannya."

Jaehyun menyeringai, tidak tersenyum seperti sebelum-sebelumnya. Doyoung mengambil kartu yang diserahkan Jaehyun.

"Terimakasih atas tawarannya." Doyoung tersenyum manis. Tanpa menyadari raut Jaehyun yang sempat terpaku padanya.

"Apa kau akan akan segera pergi?"

"Ah ya begitulah. Senang mengenal mu Doyoung." Jaehyun menepuk kepala Doyoung sebelum akhirnya beranjak keluar.

"Me too, Jung Jaehyun."

.

.

.

Langkah Jaehyun seolah menggema, seiring dengan magnet yang menggoda orang-orang sekitarnya untuk terus menatap pria itu. Hingga dirinya berhenti dihadapan seorang pria yang sedang bersandar pada mobil suv merah.

"Sudah selesai?"

Jaehyun mendengus. Memilih untuk memutar langkahnya kesamping mobil. "Jika belum selesai, aku tak akan ada disini Lee Taeyong."

Pria yang dipanggil Lee Taeyong itu tertawa hambar lalu memasuki mobil menyusul Jaehyun yang telah masuk terlebih dahulu tadi.

"Yah setidaknya ini membayar tindakan ku tadi kan?"

"Tidak. Waktuku berbicara akan lebih lama dari ini jika kau tak memaksa bertemu."

"Sorry, bro." Taeyong memutar musik dalam mobil mereka. Musik The Corrs mengalun dalam mobil. "Tapi Tumben." Taeyong memutar stir mobil mereka keluar kafe.

"Apanya?"

"Tak biasanya kau bermain lambat seperti ini."

"Heum kurasa dia sedikit berbeda."

"Apa kau tertarik dengannya?"

"Yah semacam itu."

"Well kuharap orang itu bisa mengubah mu Jae."

"Thanks, brother." Jaehyun mengukir senyuman tipis dibibir.

.

.

.

TBC

.

.


Terima kasih banyak telah mampir di chapter kedua dari Project FF JaeDo

Jangan lupa follow,rav, dan reviewnya~

Sampai bertemu di chapter selanjutnya~