Disclaimer : NCT (c) SM Entertainment
Masquerade
Jung Jaehyun x Kim Doyoung
3
Hyeji-Sani
"Gila kau, Doyoung!"
Doyoung baru saja menjejakkan kaki di apartemen kecilnya saat suara agak cempreng yang sudah familiar di telinganya sejak enam tahun lalu itu menggema. Pemuda itu mengerutkan dahi, melepas sepatunya dengan tenang. Sepertinya kondisi Ten sudah benar-benar membaik untuk menyambutnya dengan 'hangat' seperti itu.
"Gila, gila. Kau benar-benar menanyakannya? Kau benar-benar menanyakannya?!"
"Apa sih?"
Jam memang sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi itu tidak berarti Ten merasa harus mengecilkan suaranya. Doyoung menyingkirkan pemuda berdarah Thailand itu dari hadapannya untuk menuju ke dapur. Dia haus sekali setelah harus berjalan dari kafe tempatnya bekerja sampai ke apartemennya. Lagipula Ten tanpa diminta juga mengekor di belakangnya, menanyakan hal yang sama lagi.
"Kau benar-benar menanyakan hal itu pada Jaehyun? Jung Jaehyun CEO Jung Corp itu?!"
"Satu-satu, Ten." Sela Doyoung. Dia duduk di kursi terdekat untuk meminum segelas air dingin yang baru saja dia ambil. "Pertanyaan yang mana?" tanyanya, setelah menghela napas merasakan dahaganya hilang. Dari sekian banyak pertanyaan yang dia ajukan tadi, mana mungkin dia mengingatnya satu persatu.
"Kau bertanya apa dia gay!"
Pergerakan Doyoung terhenti saat ingin mengambil segelas air mineral lagi. Oh, sial. Kenapa Ten harus mengingatkannya lagi soal itu. Doyoung dalam hati merutuki Ten sambil mencoba menjawab dengan hati-hati. "Err.. ya? Lalu?"
"Apa kau sudah gila?! Pertanyaan macam apa itu? Johnny tidak akan suka ini."
"Hei, tidak usah bawa Johnny!"
"Kau tahu dia akan mengecek semua video yang terekam. Tanpa terlewat," ujar Ten penuh penekanan dengan gaya yang menyebalkan. Doyoung mendelik, baru menyadari betapa fatalnya itu untuk karirnya. Johnny adalah tipe bos yang perfeksionis dalam urusan pekerjaan, tidak pernah membiarkan satu kesalahanpun lolos. Dia sosok dibalik majalah Voice yang sukses itu.
"Sudah kubilang itu insiden."
Wajah Ten sekarang dihiasi ekspresi aneh yang membuat Doyoung menaikkan sebelah alisnya. "Apa?" tanyanya galak, tidak tahan dengan seringai dan tatapan itu.
"Kau tahu apa."
"Tidak. Aku tidak tahu." Tidak mau tahu, ujar Doyoung sambil memutari temannya untuk keluar dari dapur mininya. Ten mengekori pemuda kurus itu lagi sampai ke kamarnya.
"Ayolah, Doyoung. Jaehyun bisa saja tertarik padamu!"
"Oh yang benar saja, Ten!"
"Benar! Aku lihat semuanya, videonya."
Doyoung mengerutkan keningnya, berusaha mengingat bagian mana yang membuat temannya ini berpikir Jaehyun akan tertarik padanya. Namun yang kembali ke ingatannya hanyalah senyum mautnya, dan kunjungannya ke kafe tadi sore. Oh, dan juga tawaran pekerjaan untuknya. Dia pasti sudah pergi ribuan meter lagi ke langit kalau Ten tidak mengguncang tubuhnya.
"Kembali ke bumi, Doyoung!"
"Ha?"
"Ish, pasti kau sedang memikirkan senyumnya. Oh astaga, Jaehyun tadi menemuimu di kafe."
Doyoung menoleh cepat. "Yuta bilang padamu ya?" Ten hanya menyeringai lagi dan Doyoung sepertinya tahu apa yang ada dipikirannya. Dengan sembarangan, pemuda itu melempar baju gantinya ke tempat tidur yang di duduki Ten, tidak peduli kalau itu mengenai wajah temannya.
"Dia hanya menawariku pekerjaan."
"Hmm.." Ten menggumam dengan nada menggoda. Doyoung tidak tahan untuk tidak memutarkan matanya, kemudian menutup pintu lemarinya kembali. Tumben sekali pemuda berdarah Thailand itu tidak protes terkena lemparan bajunya.
"Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, tapi ini jelas-jelas bukan cerita fifty shades of apapun itu yang sudah kau tonton ribuan kali."
"Hmm…"
Kali ini gumamannya lebih panjang dan Doyoung segera menendang tulang keringnya main-main. "Cepat keluar dari kamarku. Aku ingin istirahat!"
"Hmmm….."
Ten tertawa saat Doyoung menggusurnya keluar dari kamarnya. Temannya akan terlibat kisah cinta dengan seorang CEO muda tampan yang kaya raya? Itu sebuah cerita yang dia sukai. Pemuda berdarah Thailand itu optimis sekali dengan teorinya.
"Serius, Ten! Keluar dari kamarku sekarang juga!"
"Baiklah baiklah. Selamat malam, Nona Steele," ujar Ten dengan kedipan sebelum sukses menyelamatkan diri dari tendangan Doyoung. Tawa kerasnya bersatu dengan teriakan kesal Doyoung.
"Chittaphon Leechaiyapornkul!"
.
Dua hari berlalu tanpa kabar.
Jaehyun mulai tak sabar. Berulang kali dia sudah tanyakan pada Minkyung, tapi jawabannya tetap sama.
"Tidak ada yang menghubungi saya dengan nama Dongyoung, Pak."
"Baiklah. Silahkan lanjutkan pekerjaan anda, Minkyung-ssi."
"Saya permisi, Pak." Perempuan itu setengah membungkuk sebelum keluar dari ruangan bosnya. Kebingungannya ditelan sendiri, tentang mengapa bosnya sangat menantikan telepon dari seorang jurnalis yang tempo hari mewawancarainya. Bukan tempatnya untuk bertanya. Lagipula, Jaehyun membuat batas jelas antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan.
Yang ini, Minkyung asumsikan sebagai urusan pribadi.
Harusnya dia memberikan nomor pribadinya. Bukan nomor kantor.
Tapi Minkyung bisa tak acuh dengan itu. Setumpuk permintaan janji dengan CEO Jung Corp menunggu untuk disortir; mana yang akan diterima dan menjadi jadwal Jaehyun di hari mendatang, dan mana yang tidak diterima dan dikirimi balasan minta maaf.
Sementara itu Jaehyun sudah memutari ruangannya sebanyak tiga kali.
Mendapat kontak Doyoung akan semudah dia menjentikkan jari, tapi dia tidak mau. Dia ingin menunggu Doyoung datang padanya. Seklise kedengarannya, Jaehyun hanya memastikan apakah lelaki itu pantas dia kejar atau tidak. CEO muda itu memutari ruangannya sekali lagi sebelum melihat siluet seseorang di depan pintunya.
"Masuklah."
Antisipasi berkembang di hatinya saat orang tersebut membuka pintunya. Harapannya makin tinggi saat melihat kalau orang itu adalah seorang laki-laki. Pintu terbuka sedikit demi sedikit sampai menunjukkan sosok orang itu seutuhnya.
"Kau terlihat kecewa," adalah kata pertama yang diucapkan lelaki itu dengan cengiran lebar khasnya. Jaehyun tidak berekspresi sedikitpun, hanya memperhatikan bagaimana lelaki yang memiliki surai coklat itu mempersilakan dirinya sendiri untuk duduk di salah satu sofa yang tersedia.
"Sedikit. Belum ada telepon darinya."
Lelaki itu menahan tawanya, "Kau ini benar Jung Jaehyun? Sepupuku?"
"Memangnya siapa lagi," jawab Jaehyun malas-malasan. Dia menekan tombol interkom dan meminta dibawakan minuman untuk menjamu tamunya ini. Lee Taeyong, lelaki tadi, masih memasang cengiran lebar yang entah kenapa hari ini sangat mengganggu bagi Jaehyun.
"Ini bukan gayamu sama sekali, Jae. Aku jadi khawatir kau kerasukan atau sejenisnya."
Jaehyun mendengus. "Memangnya gayaku seperti apa?"
"Gerak cepat? Harusnya pemuda itu sudah ada di sampingmu sekarang."
Ada jeda sebentar sebelum Jaehyun mulai menjawab. "Sudah kubilang dia berbeda."
"Berbeda atau tidak, dia mungkin tidak tertarik padamu. Lihatlah, sudah dua hari berlalu dan tidak ada kabar darinya."
"Tidak mungkin dia tidak tertarik bekerja di perusahaan ini. Dia bekerja dua pekerjaan sekaligus."
"Nyatanya dia tidak ada."
Pintu ruangan itu diketuk dan masuklah Minkyung membawa nampan. Taeyong berterimakasih pada sekretaris Jaehyun itu dan langsung mencicipi minuman mixedberry itu. Jaehyun tetap tenang di kursinya, mengangguk pada Minkyung yang pamit.
"Kenapa kau tidak mencoba datang ke kafe itu lagi?"
"Bukankah itu akan terlihat mencurigakan?"
"Mencurigakan apa maksudmu? Memangnya kau benar-benar menginginkan dia sebagai pegawaimu, disini?"
Jaehyun mengernyit. "Maksudmu?"
"Kau tahu maksudku. Bukankah kau bilang kau tertarik padanya?"
"Well, aku ingin dia datang padaku. Cepat atau lambat, dia akan datang padaku."
Taeyong mendengus.
"Paling besok pagi juga kau akan menghubunginya lebih dulu."
Senyum tipis Jaehyun terlihat dari balik gelas yang di pegangnya. "Kita lihat saja nanti."
.
.
Doyoung menaruh kepalanya di meja, menghela napasnya untuk yang kesekian kalinya. Dia mencoba mengingat-ingat dimanakah dia menyimpan selembar kertas pemberian CEO Jung Corp. itu. Teledor sekali dia menyimpan kartu nama itu di saku apron-nya yang kemudian dipakai Yuta keesokan harinya lalu menghilang tanpa jejak.
Memang keajaiban tidak datang dua kali, Jaehyun pun tidak pernah tiba-tiba muncul lagi di kafe tempatnya bekerja. Padahal kalau dia muncul, Doyoung ingin berkata jujur kalau kartu nama pemberiannya hilang dan dia tidak punya cara lain untuk menghubungi Jaehyun.
Masalahnya itu adalah kartu nama pribadi Jung Jaehyun.
Doyoung mengingatnya dengan jelas. Warna keemasan yang mengkilat dengan nama Jung Jaehyun tertera di atasnya, bukan kartu nama Jung Corp yang berwarna jet black. Kelabakan Doyoung mencarinya diseluruh sudut kafe. Dapur, meja kasir, sampai apartemen kecilnya dia geledah demi selembar kertas itu. Tapi nihil, satu-satunya kontak Jung Jaehyun yang eksklusif sudah menghilang.
"Doyoung! Aku tidak menggajimu untuk melamun!" seru Johnny, entah darimana datangnya. Doyoung kaget sampai buru-buru duduk tegak, kepalanya hampir membentur monitor komputer di depannya. Ten menahan tawanya, melihat Doyoung berusaha menenangkan detak jantungnya.
"Jangan dikagetkan begitu dong, hyung." Protes Doyoung pada pria yang lebih tua satu tahun darinya itu. Johnny tertawa kecil.
"Memangnya apa yang kau pikirkan? Jung Jaehyun?"
"Bukan." Jawab Doyoung langsung tanpa banyak berpikir. Sayangnya, jawaban yang sangat cepat itu hanya mengonfirmasi kecurigaan Johnny. Dipikir Doyoung bisa membohongi jurnalis senior itu? Pemuda bermarga Kim itu sedikit panik. Johnny tampaknya masih kesal padanya karena pertanyaan tiba-tibanya pada Jaehyun tempo hari.
Bukan salahnya kalau dia penasaran, 'kan?
"Cepat selesaikan artikelmu lalu kau boleh melamunkan CEO tampan itu sepuas hatimu."
"Aku tidak memikirkannya!"
"Terserah kau mau bilang apa. Ingat deadlinenya malam ini."
Johnny mengetuk dahi mulus Doyoung dengan jarinya sebelum pergi meninggalkan mejanya, mengangguk pada Ten yang menyapanya. Jangan salah sangka, meskipun dia tampak galak pada Doyoung, sebenarnya dia sangat peduli pada pegawainya itu. Dan pada semua pegawainya yang lain. Ten langsung mengambil kesempatan untuk menertawakan Doyoung terang-terangan begitu Kepala Redaksi itu menghilang ke ruangannya.
"Ini yang katanya tidak akan tertarik pada Jaehyun,"
"Diamlah, Ten."
Doyoung memasang kembali kacamatanya dan mulai mengerjakan artikelnya yang stuck di halaman dua. Johnny benar, lebih baik dia menjaga pekerjaannya sekarang daripada harus memikirkan kesempatan bekerja di Jung Corp. yang entah benar atau tidak itu. Ten nyengir, menusuk-nusuk tubuh samping Doyoung dengan bolpoin.
"Kau merindukannya 'kan? Iya 'kan? Iya 'kan?" tanya Ten mengganggu dengan tusukan setiap akhir nada tanya. Doyoung menghindar, tubuhnya miring ke samping namun tetap tidak bisa menghindari Ten dan bolpoinnya.
"Merindukan apanya? Bisakah kau diam?!" dengan sekali gerakan Doyoung menarik bolpoin itu dari tangan Ten dan menaruhnya ke sisi mejanya yang lain. Ten terkekeh.
"Galaknya kelinci yang satu ini. Kalau rindu bilang saja, aku tahu."
Doyoung memutuskan untuk tidak menghiraukannya. Kenapa juga dia harus merindukan pria dengan senyum menawan yang membekas di hatinya yang dia kenal tiga hari yang lalu itu? Tidak. Tidak masuk akal. Doyoung menggeleng. Dia melanjutkan artikelnya dengan pikiran berputar, dan suara agak cempreng milik Ten yang masih saja menggodanya.
"Jangan mengabaikanku, Doyoung."
Lelaki itu tetap mengetik.
"Doyoung,"
Tidak ada jawaban.
"Kim Dongyoung."
Nihil. Ten menghela napasnya, mengeluarkan selembar kartu berwarna keemasan itu dari saku kemejanya.
"Padahal aku ingin memberikan ini padamu. Tapi karena aku diabaikan, sebaiknya ini untukku saja." Ujar Ten dengan suara sedih yang dibuat-buat. Doyoung hampir saja mengabaikannya lagi kalau kilatan kartu nama itu tidak tertangkap di ujung matanya, membuatnya buru-buru mengulurkan tangan untuk merebutnya dari Ten.
"Eits," dengan gerakan halus Ten menjauhkan kartu itu dari jangkauan Doyoung. "Jawab dulu pertanyaanku tadi."
"Yang mana?"
"Yang tadi. Apa kau merindukan Jaehyun?"
"Bagaimana bisa aku merindukan pria yang baru kukenal tiga hari hanya untuk wawancara? Memangnya aku kau?"
Ten mendelik. "Memangnya aku merindukan siapa?"
"Cih, pura-pura tidak tahu. Pewaris Jin Group yang kau wawancarai dua bulan lalu? Hmm.. dia Lee Tae—"
"—Jangan disebutkan lagi, terimakasih." Potong Ten sambil membekap mulut Doyoung dengan tangannya. Pemuda bermarga Kim itu melepaskan tangan Ten lalu nyengir lebar.
"Kemarikan kartu namanya."
"Dasar licik." Rutuk Ten akhirnya menyerahkan kartu nama itu juga pada Doyoung. Senyum temannya itu sangat lebar sampai Ten tidak tega menggodanya lagi. Dia tahu betapa sulitnya Doyoung hidup selama ini dan tawaran pekerjaan ini mungkin bisa mengubah hidupnya (jangan lupakan teori fifty shades of greynya).
"Ingat deadline malam ini."
Senyum Doyoung terhapus, berganti menghiasi wajah Ten. Pemuda berdarah Thailand itu mengedip lalu kembali ke mejanya, meninggalkan Doyoung yang lemas di tempat, mesti berkutat kembali dengan artikelnya. Meski deadlinenya malam ini, baginya pukul tiga sore ini karena dia harus bekerja di kafe.
Semangat, Kim Dongyoung.
.
"Apakah Nak Jung tidak akan masuk?"
Pak Yoon bertanya karena sudah sekitar tiga menit mereka sampai di depan kafe Paradise, namun Jaehyun tak kunjung turun, tidak juga melakukan sesuatu dengan ponselnya. Dia hanya melihat ke seberang jalan, dimana kafe berdinding kaca itu berada sambil sesekali menghela napas.
Jaehyun mengecek arlojinya sebelum berkata, "Tidak. Tapi saya akan turun."
CEO muda itu benar-benar turun tak lama kemudian, tapi seperti yang dia bilang sebelumnya, dia tidak masuk ke kafe itu. Ia berjalan sampai depan mobilnya lalu bersandar disana, melipat kedua tangannya. Matanya tak pernah lepas memperhatikan seseorang di seberang sana, di dalam kafe itu.
Pandangannya melunak melihat orang itu tersenyum saat menyapa pelanggan. Tubuh kurusnya membungkuk saat membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan seorang wanita berkacamata. Gerakannya sangat cekatan. Senyumnya saat mengantar dessert ke pelanggan membuat Jaehyun tanpa sadar menarik ujung bibirnya juga.
Manis.
Mungkin senyumnya yang membawa Jaehyun ke sini. Mungkin mata besarnya. Mungkin gigi kelincinya. Jaehyun tidak tahu. Yang dia tahu dia hanya meminta Pak Yoon mengantarnya ke sini dan bukannya ke restoran dimana Kyungri meminta untuk bertemu dengannya. Ponselnya yang bergetar terus-menerus di genggamannya tidak dipedulikan, dia hanya terfokus pada satu hal.
Orang itu sedang membersihkan meja untuk yang kesekian kalinya saat ia menyadari sepasang mata memperhatikan gerak-geriknya. Jaehyun terdiam, berusaha menyembunyikan senyum tipisnya yang rasanya melebar begitu mata mereka bertemu. Dia tidak tahan melihat orang itu seperti membeku, menyadari keberadaannya disini. Mungkin dia akan dianggap stalker setelah ini, mungkin dia akan dihindari orang itu selamanya.
Tapi kemudian, orang itu tersenyum.
Senyum malu-malu yang hanya bertahan beberapa detik, sebelum dia menyelesaikan acara membersihkan mejanya dan buru-buru pergi darisana.
Jaehyun tertawa kecil melihat aksi itu, menganggap semua tingkahnya lucu. Mungkin dia tidak perlu mencemaskan soal dianggap stalker, tapi dia heran dengan perasaan hangat yang memenuhi dadanya sekarang. Rasanya seperti anak SMA lagi. Entah kapan terakhir kalinya dia merasa seperti ini.
Orang itu tidak terlihat lagi sampai tiga menit kemudian dan Jaehyun memutuskan kalau itu cukup untuk malam ini. Dia masuk kembali dengan senyum terukir di wajahnya, mengundang Pak Yoon untuk menaikkan sebelah alisnya, namun tidak bertanya apapun.
"Kita pulang, Pak."
Tapi melihat ekspresi lembut dan senyum itu di wajah Jaehyun setelah sekian lama, Pak Yoon tersenyum juga.
"Baik, Nak Jung."
.
.
TBC
.
.
A/N:
Maafkan chapter paling mengecewakan ini. Terimakasih sudah membaca sampai akhir, dan kuharap ff ini tidak akan kehilangan pembaca karena aku .-.
