Disclaimer : NCT (c) SM Entertainment


Masquerade


Jung Jaehyun x Kim Doyoung

5

pandagame


"Apakah telingamu hanya pajangan, Jung Jaehyun?"

Jaehyun seolah tersentak saat nada sarkasme mengalun dingin di telinganya. Sedikit berdecak, Jaehyun menatap Taeyong yang balik menatapnya tajam. Hell yeah, jika bukan karena seorang Lee Taeyong yang berniat membuka banyak rahasianya pada Sang Eomma, dia takkan sudi mendengarkan meeting berkedok curhat ini.

"Lee Taeyong-ssi, kau bisa dengan mudah mendapatkan banyak yeoja atau namja di luar sana, tapi untuk mendapatkan satu namja tsundere saja kau tak sanggup? Oh, apa kabar si cantik pemilik café itu?"

Sebenarnya curhat pada seorang Jung Jaehyun yang playboy dan tidak pernah serius itu tidak berguna, tapi ini semua berkat Kim Doyoung yang satu apartemen dengan seseorang bernama Ten, dan bekerja di café milik seorang namja bernama Yuta.

Apa namanya kalau bukan takdir?

Taeyong punya kesempatan. Oh, dia memang selalu punya kesempatan, tapi semua tampak tak berguna karena tunangannya itu, untung saja yeoja Park itu akan berakhir, baik reputasi maupun keluarganya, secepatnya. Tapi masalahnya hanya satu dan tampak sepele. Dia punya dua crush.

Damn! Kenapa pilihan selalu ada?

"Jika penggelapan pajak yang dilakukan yeoja itu terbukti, toh kita bisa menjebloskannya ke penjara, tapi kau malah mengamati dua namja itu dari kejauhan terus. Siapa yang bermain lambat sekarang?" Terkutuklah Jaehyun dan sifat pendendamnya itu.

"Perkembangan pesat, Jaehyun-ah?" tanya Taeyong yang sebenanrnya penasaran dengan tatapan tak menyenangkan Jaehyun dari awal dan senyum -uhuk- mesum -uhuk- yang dia keluarkan jika menyangkut Doyoung. "Sudah kukatakan, cepat atau lambat dia akan jatuh ke pelukanku."

"Omong kosong apa ini, Jaehyun-ah?"

Jaehyun menatap tajam seorang namja manis yang mmbuka pintu ruangan Taeyong dengan santai, tapi matanya melebar saat sesosok namja lainnya masuk dengan langkah anggun. "Eomma?"

Tatapan Sang Eomma yang tadinya lembut mulai menajam. "Apa lagi yang kau lakukan, anak nakal?"

.

.

"Hoi, hoi! Aku menggajimu untuk bekerja, bukan melamun!"

Doyoung hanya meringis saat kata-kata bernada keras itu menerpa telinganya. Ten hanya terkikik sementara Sicheng sudah tertawa lebar.

Kesehariannya kembali dimulai dengan freelance di tempat Johnny. Semuanya biasa saja, sih. Sicheng yang bolak-balik kuliah-kantor, Ten masih mengerjakan deadline-nya -yang dimajukan- dengan terkantuk-kantuk, dan dirinya yang masih membantu Ten dengan tambahan upah -kalau tidak ada upah dia sudah pulang dari tadi-.

Tapi satu yang tidak biasa adalah, Doyoung yang kini terlalu banyak bengong.

Sebenarnya semenjak pertemuannya dengan Si Pengusaha Sukses Jung Jaehyun, Doyoung sudah sering melamun. Tapi kali ini berbeda. Tatapannya tidak sekosong itu, kali ini lebih ke malu?

"Doyoung-ah, sudahlah! Kalau begini pekerjaanku malah bertambah,"

Doyoung menatap Ten dengan tatapan tajam yang tidak cocok dengan mata besarnya.

"Aih~ kyeopta," kata Mina gemas. Dia bahkan memutar kursinya dan mencubit pipi Si Bunny.

"AWWW! APPO!"

"PARK MINA!"

"Aye, Captain~"

Sebenarnya kalau suasana hati Johnny baik, dia pasti turut mengejek Doyoung. Ini semua karena masalah rumah tangga mereka yang rumit dan tidak jelas. Maksudnya, ayolah, Johnny memeluk Ten saja bisa menjadi perdebatan tiga jam non-stop. Kalau begitu kan para bawahan yang kena getahnya.

Nasib menjadi bawahan.

"Hei, hei Doyoung hyung!" panggil Sicheng agak berbisik. Johnny yang dari tadi memelototi mereka kini pergi karena teleponnya berdering, mungkin dari Hansol. Doyoung menoleh malas ke arah Sicheng yang wajahnya secerah lampu 30 watt. "Waeyo, Sicheng?"

Sicheng menatapnya antusias sebelum bertanya, "Sejauh mana hubunganmu dengan Jung Jaehyun?"

Doyoung bahkan nyaris menjatuhkan cangkir kopi yang akan dia minum. "What?"

"Benar, benar! Bagaimana hubunganmu dengan Si Presdir Tampan nan kaya itu?" sahut Ten dengan mata berbinar yang tidak singkron dengan mata pandanya. Doyoung ternganga sebelum menjawab diplomatis, "Kami hanya teman." Jawaban yang membuat kedua orang itu memicingkan matanya. "Eeei~"

"Sicheng, Sicheng! Kau tahu Doyoung sering melamun kan? Kau tahu kalau Doyoung sedang jatuh cinta kan?" tanya Ten menggebu-gebu. Sicheng yang idiot mengangguk antusias dengan tatapan polos. "Itu semua karena presdir Jung Jaehyun-ssi kan?"

"Tepat!" kata Ten seolah memberi applause untuk anak SD yang berhasil menjawab pertanyaan gurunya. "Sicheng memang hebat!" lanjut Ten. Sicheng cengengesan, sebodolah dengan Johnny nanti. "Hei, hei! Menurutmu apa Doyoung sudah melakukan 'itu' dan menjadi sugar baby Jaehyun?" tanya Ten dengan imajinasi 18+ yang membuat mata dan mulut Doyoung menganga lebar.

"HAH?!"

"Bisa jadi sih, jadi Doyoung hyung bakal keluar dong? Kan penghasilannya sudah terjamin."

"Iyalah Sicheng! Oh, dia pasti pindah ke mansion Jung yang ulala besar itu! Hah, aku pasti tidak akan merindukanmu, teman satu apartemen."

"Hee~Doyoung hyung hebat juga, ini semua berkat Ten Hyung yang sakit, sih."

"Benar, Doyoung-ah! Kau harus berterimakasih padaku nanti!"

"Oh ya, apa kalian sudah mencoba ******?"

"YA!" teriak Doyoung yang mulai sakit kepala dengan obrolan tak bermutu dan bersifat dewasa dari Ten dan Sicheng. Baru dia akan membuka mulut lagi saat Johnny dengan wajah kusut kembali ke ruangannya di sebelah mereka.

BRAK!

Dengan membanting pintu tentunya.

"Ige mwoya?" tanya Nayeon saat menatap kertas yang membuat Johnny makin pusing. Sang sekretaris melebarkan matanya, apa-apaan ini?

"Sejak kapan perusahaan kita ditekan karena kesalahan pemberitaan?"

.

.

Jaehyun menatap datar kertas di hadapannya. Sang Eomma menatapnya dengan tajam, mata doe yang menawan itu kini berkilat marah. "Apa lagi ini, Jaehyun-ah?"

"Bukan apa-apa, Eomma." Yang terpenting bagi Jaehyun adalah menenangkan Sang Eomma, urusan berita itu nanti saja. "Hanya isu, bagaimana bisa eomma percaya begitu saja pada kabar burung seperti ini?"

BRAK!

"Kau bilang ini kabar burung?! Kalau begitu katakan pada eomma, kemarin kau ke mana?" tanya Sang Eomma. Jaehyun hanya merutuki Taeyong, ya dia pasti yang memberitahu eomma-nya. Oh, jangan lupakan peran si namja manis di sebelah eomma-nya.

"Eunwoo, jangan sok polos dan bantu hyungmu!"

Eunwoo -si namja manis- hanya tersenyum manis. "Aku tidak tahu apa yang harus dibantu dari hyung yang memang sudah salah."

"Ck, adik kembar menyusahkan!"

"Kakak kembar tidak tahu diri!"

"YA!"

Jaehyun dan Eunwoo hanya terdiam sambil merutuk dengan pelan. Eomma mereka galak sekali, sih. "Kenapa anak-anakku menyusahkan, sih?" gumam Sang Eomma lelah. Taeyong yang sudah berinisiatif menghibur, mendekati nyonya Jung itu. "Jaejoong Ahjussi, Jaehyun pasti khilaf. Khilaf yang disengaja,"

Sialan kau, Lee Taeyong.

"Ne, ne. Ahjussi selalu tahu, sifat playboy-nya pasti dari Yunho! Eunwoo masih polos, ah jangan sampai darah playboy Yunho menurun juga padanya," kata Jaejoong dengan wajah lelah. Dia baru saja tiba dari Jepang dan disuguhi berita semacam ini, membuat kepalanya semakin pusing saja.

"Itu badai, Eomma. Eomma masa mau anak tersayangnya tersapu badai," kata Jaehyun dengan sedikit aegyo yang membuat Taeyong menyernyit jijik. Jaejoong hanya berdiri dari kursi kebesaran Taeyong -ingat, mereka masih di perusahaan Taeyong- dan berjalan anggun ke arah Jaehyun. Kemudian dia menyunggingkan senyum menawan ala Kim Jaejoong.

"AWWWW!"

Tidak lupa menjewer Jaehyun dengan sekuat tenaga. Dia memang uke, tapi tenaga dari ototnya tak bisa diremehkan.

Eunwoo tertawa kecil sembari mereka menyaksikan kejadian memalukan itu, lumayan untuk blackmail nanti. Sementara Taeyong melirik berita yang Jaejoong bawa dari tadi, penasaran juga dengan beritanya.

'Presdir dari Jung Corporation Memiliki Namjachingu? Rumor Gay selama ini Benar?!'

Taeyong melebarkan matanya saat melihat nama majalah itu. Majalah Voice.

'Bukankah majalah Voice punya sistem sensor yang ketat? Atau-'

"Eomma! Jeongmal Mianhae~" kata Jaehyun mulai merengek. Jaejoong tetap menjewer Jaehyun dengan kekuatan penuh. "AWW! APPO!" pekiknya yang tidak menyurutkan semangat Jaejoong.

"Apa ini anak nakal?! Kau mau menjatuhkan nama baik majalah yang akan menjadi kolega kita? Apa maumu hah?!"

Jaehyun yakin, Eunwoo-lah dalang Jaejoong bisa tahu masalah ini. Jaehyun selalu tahu, Minkyung bisa menanganinya dengan baik dan yang tahu ketertarikan Jaehyun pada Doyoung hanya-

"Eomma tidak mau tahu! Apapun yang kau lakukan, jangan merusak hubungan eomma dengan kolega eomma!"

-Taeyong dan Eunwoo. Maklum, Eunwoo memang selalu mengawasi Jaehyun atas perintah eomma mereka. Menyebalkan!

"Eomma, aku bisa memperbaikinya, janji deh,"

"Apa yang kau incar, anak nakal?"

Jaehyun tersenyum kecil. "Seseorang yang akan menjadi menantu eomma"

Jaejoong memelintir telinga Jaehyun dengan keras. "AWWW EOMMA!"

"Berapa kali kau mengatakan hal itu anak nakal? Berapa kali kau berganti-ganti pasangan?"

Taeyong dan Eunwoo hanya menatap datar mereka berdua. "Jaehyun akan kehilangan wibawa-nya kalau ada eomma," kata Eunwoo berusaha memecah es di antaranya dan Taeyong. Taeyong melirik Eunwoo yang menatap adegan kekerasan-dalam-keluarga itu dengan puas. "Ne, kuharap Jaehyun bisa berhenti jadi playboy," kata Taeyong bersungguh-sungguh. Hei, dia lelah juga kalau bersama Si Playboy yang skandalnya selalu ditutupi hanya karena dia punya kuasa. Eunwoo menatap Taeyong dengan tatapan menyelidik. "Kau juga bermain lambat, Hyung."

"Huh?" Taeyong tidak pernah bisa meremehkan jaringan informasi dari seorang Jung Eunwoo.

"Mau kubantu? Si Pemilik Café atau Si Wartawan, kau bisa mendapatkan keduanya."

"Tidak, terima kasih."

.

.

"Doyoung-ah?"

Doyoung menatap Yuta dengan tatapan bertanya sementara Yuta menggelengkan kepalanya prihatin.

Yuta sudah mendengar ceritanya, kalau tidak salah majalah tempat Doyoung bekerja dituduh membuat berita palsu. Presdir Jung sendiri akan mengklarifikasinya besok, tapi akibat berita ini saham mereka menjadi turun.

Jika terbukti majalah Voice membuat berita palsu, mereka bisa dibubarkan, ditutup dan kosakata lain yang berarti 'out of bussiness'. Inti lainnya, ratusan pekerja juga akan di-phk dan ini berita buruk bagi Doyoung. Karena hal itu, Doyoung tampak murung dan berbeda dengan bengong-karena-cintanya itu.

Kalau tahu begini, mending dia memanggil Kun saja. Doyoung tidak seproduktif biasanya.

"Kau bisa pulang sekarang, Doyoung-ah," kata Yuta prihatin, baik pada kondisi Doyoung maupun gelas yang sedang dicucinya. Kalau jatuh kan bisa mengurangi inventorinya, yang berarti mengurangi kas karena dia harus membeli yang baru.

Kling!

Entah orang mana yang datang ke café jam sembilan malam, yang pasti Yuta merutukinya.

"Doyoung-ah, kalau sudah selesai pulang ya," kata Yuta lugas. Doyoung hanya menggelengkan kepalanya. Dia punya pemikiran soal 'kenapa majalah tempatnya bekerja bisa seperti ini'

Pertama, majalah dengan artikel tanpa sensor itu bukan kebiasaan Johnny. Johnny tidak akan mengangkat tema yang dianggap tabu bagi sebagian besar orang Korea Selatan sebagai trending topic. Pasti ada orang yang memaksa atau ada editor di majalah Voice yang mengeluarkan berita seperti ini.

Kedua, Doyoung memang baru satu tahun bekerja di sana, tapi dia tahu siapa saja yang punya 'kepentingan' jika ada perusahaan yang jelek namanya. Doyoung cukup jeli dan hal ini menjadi keunggulannya sebagai wartawan. Tapi Doyoung punya firasat perkiraan ini salah, jadi ada satu perkiraan yang agak aneh tapi cukup masuk akal.

Ini adalah kali pertamanya mewawancarai seorang presdir, dan kenapa narasumber yang satu ini masuk terlalu dalam ke kehidupannya?

Doyoung belum yakin, tapi apa Jaehyun yang melakukan ini? Tapi untuk apa? Apapun alasan pelakunya, dia sudah membuatnya dan teman-temannya kehilangan pekerjaan!

Doyoung tidak bisa membiarkan ini, dia ingat Sicheng yang bekerja dan tinggal sendiri di Seoul demi pendidikannya. Dia bisa luntang-lantung di jalan. Adik kecil itu

Yuta pergi ke luar untuk melayani pelanggan yang tadi masuk, meninggalkan Doyoung yang masih termenung. Meninggalkan Si Bunny yang akhirnya mengambil suatu keputusan.

Doyoung menaruh gelas yang tadi dia cuci dan melap tangannya. Ponsel dan sebuah kartu nama. Dia memegang erat sebelum menekan nomor yang ada.

Tutt.. Tutt..

Ceklek

"Yobeoseyo? Jaehyun-ssi?"

"Ah, Doyoung? Ada apa? Kenapa menelpon begitu malam?"

Bagaiman bisa dia tetap tenang? Doyoung tidak suka ini.

"Anu,"

Sial, Jung Jaehyun. Kau membuat Doyoung begitu marah, kesal dan rindu di saat bersamaan.

"Aku Bisakah aku bekerja di perusahaanmu?"

Doyoung akan mencari celah dan menukan kelemahan Jaehyun. Jika kelemahannya adalah cinta-

"Ah, kau bisa datang ke perusahaan jam 10. Oke, Doyoung?"

-Doyoung akan coba memanfaatkannya.

"Ah baik, gamsahabnida Jaehyun-ssi"

Cklek

Doyoung entah kenapa terengah, seperti sedang berlari sprint dengan sekuat tenaga.

Perasaan apa ini? Benci atau?

Doyoung menggelengkan kepalanya kuat. Dia harus pulang dan beristirahat, besok akan menjadi hari yang panjang.

PRANG!

Doyoung yang mendengar suara gelas pecah dari arah café langsung membuka pintu penghubung bagian karyawan dan café.

"Yuta? Taeyong-ssi?"

.

.

TBC

.

.


Hello, it's pandagame. Sebelumnya, maaf jika chapter ini mengecewakan dan kurang jaedo momentnya. Oh, tolong jangan lempari panda kalau chapter ini pendek, ide panda menguap soalnya(?)

Terima kasih pada para reader dan yang udah review, walau panda dan author sebelumnya gak bales kalian. Tapi kami pasti baca kok. Oh ya, jangan lupa review okehhh.

Arigatou minna-san!

-Pandagame-