Disclaimer : NCT (c) SM Entertainment


Masquerade


Jung Jaehyun x Kim Doyoung

6

El Lavender


"Yuta? Taeyong-ssi?

Doyoung mengamati dua orang yang sedang berhadapan dengan piring pecah di depan mereka. Yuta berjongkok dan membersihkan pecahan piring tersebut.

"Aku bantu." Taeyong ikut berjongkok untuk membersihkan pecahan piring tersebut.

"Tidak usah Taeyong-ssi, kau duduk saja di bangkumu." Ujar Yuta datar, Si Keras Kepala Lee Taeyong tidak mendengarkannya dan tetap membantunya hingga-

"AWWW!"

-pecahan piring tersebut mengenai tangannya. Yuta hanya menatap jengkel kepada pemuda di depannya itu.

"Sudah aku katakan jika tidak usah, kau sangat keras kepala Taeyong-ssi. Ini lah akibatnya-" Yuta membersihkan sisa pecahan piring tersebut sebelum mengenai orang lain.

"Doyoung-ah, bisa tolong kau ambilkan kotak P3K? Kita harus mengobati tangan Si Tuan Keras Kepala ini." Doyoung yang sejak tadi hanya diam memperhatikan Yuta dan Taeyong bergegas mengambil apa yang disuruh oleh atasannya itu.

Doyoung hanya heran, sejak kapan Yuta kenal dengan seorang Lee Taeyong yang merupakan pewaris dari Jin Grup? Dan dari interaksi yang dilihatnya, mereka bukanlah dua orang yang baru saja kenal, bahkan Doyoung berpikir ada yang berbeda dari tatapan Taeyong kepada Yuta.

Doyoung memberikan kotak tersebut kepada Yuta, "Terimakasih Doyoung-ah, sekarang kau boleh pulang." Ujar Yuta yang langsung membersihkan tangan Taeyong dari darah yang terus mengalir dan juga mencabut pecahan piring di tangannya.

"Tapi aku masih belum menyelesaikan piring-piring itu, Yuta." Doyoung merasa tidak enak jika ia pulang begitu saja tanpa menyelesaikan pekerjaannya.

"Sudahlah tak apa, aku yang akan melanjutkannya." Yuta tersenyum meyakinkan Doyoung, ia tahu jika Doyoung lebih baik betistirahat dari pada melanjutkan pekerjaannya di sini yang tidak akan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.

Kling!

"Yuta, apa Doyoung sudah boleh pul-" Seorang pemuda manis yang baru saja memasuki café menghentikan ucapan dan langkahnya setelah melihat apa yang tersaji di hadapannya.

"Ah, maaf mengganggu. Doyoungie, aku tunggu di luar." Ten langsung pergi ke luar begitu saja.

Doyoung tahu sahabatnya itu pastilah terkejut dengan apa yang dilihatnya. Doyoung pamit kepada Yuta dan Taeyong sebelum pergi meninggalkan mereka menuju lokernya, ia tidak ingin sahabatnya itu menunggu terlalu lama.

"Ck! Seharusnya ini semua tidak terjadi." Yuta menatap tajam kepada Taeyong yang sejak tadi hanya diam saja.

Disisi lain Ten sedang merenung menunggu Doyoung di depan café, belum cukup kesedihannya dengan kabar yang menimpa tempat ia bekerja sekarang kesedihannya bertambah dengan melihat apa yang baru saja terjadi saat ia memasuki café. Ia tak menyangka jika Yuta sedang berpegangan tangan dengan orang yang selalu diceritakannya kepada Yuta terlebih lagi orang tersebut adalah orang yang disukainya.

"Tidak baik jika seorang namja manis sepertimu melamun sendirian di sini." Ten menoleh ke sumber suara.

"Jaehyun-ssi?" Tanyanya bingung, apakah benar yang sedang dilihatnya saat ini adalah seorang Jung Jaehyun.

"Bukan, aku kembarannya. Namaku Jung Eunwoo." Ucap pemuda itu tersenyum manis kepada Ten.

"Kembaran? Aku kira Jung Jaehyun-ssi adalah anak tunggal." Ten akui jika pria di sampingnya ini tidak kalah tampan dengan Jung Jaehyun, bahkan sama. Tentu saja karena mereka kembar.

"Hahaha... Semua orang memang berkata seperti itu. Aku tidaklah sepopuler hyungku dan aku tidak mempermasalahkan hal itu, aku menikmati hidup yang seperti ini." Ucap pemuda itu bersandar ke bangku yang sedang ia duduki.

"Ah, maafkan aku." Ten merasa bersalah berkata seperti itu kepada pemuda yang bernama Eunwoo ini.

"Tak apa, wajar jika kau tak tahu karena selama ini aku menempuh pendidikan di luar negeri dan mengurus perusahaan milik Appa di sana. Aku baru saja kembali beberapa bulan yang lalu." Ten menyimak cerita pemuda itu.

"Jadi, apa yang membuat namja manis sepertimu bersedih?" Lanjut Eunwoo dengan senyuman mautnya, Ten merona dengan apa yang didengarnya dan dilihatnya.

"A-ah, bukan apa-apa dan panggil saja aku Ten. Terlalu aneh mendengarmu memanggilku namja manis."

"Kenyataannya memang seperti itu." Ten tidak kuat dengan semua perkataan Eunwoo yang lebih mirip seperti gombalan itu.

"Ah sudahlah, terima kasih sudah membuat moodku kembali baik Eunwoo-ssi. Senang berkenalan denganmu, aku pergi dulu." Ten berpamitan kepada Eunwoo setelah melihat Doyoung yang akan keluar dari café. Eunwoo melihat kepergian mereka dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya.

"Ayo kita pulang." Tak berapa lama kemudian, Taeyong datang mengajak Eunwoo untuk pulang. Pemuda itu memang bersikeras untuk ikut setelah tahu kemana tujuan Taeyong, alasannya karena ingin melihat pemuda incaran sang kakak dan juga si pemilik café.

Tetapi takdir juga mempertemukannya dengan seorang pemuda manis incaran dari seorang Lee Taeyong.

"Hyung, sepertinya kau harus memutuskan siapa yang akan kau pilih." Taeyong hanya berdecak mendengar perkataan Eunwoo.

.

.

"Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak tahu mengapa hal seperti ini menimpa perusahaan kita, dan juga kenapa artikel itu bisa tersebar begitu saja? Bukankah majalah dengan artikel tanpa sensor itu bukan kebiasaan Johnny?" Ten mengeluarkan semua keluh kesahnya, saat ini mereka sedang berada di jalan menuju apartemen.

"Ten, firasatku mengatakan ini semua ada hubungannya dengan Jung Jaehyun."

"Hah? Apa maksudmu?" Ten tidak mengerti dengan perkataan sahabatnya itu, bukankah sahabatnya ini mulai tertarik dengan Jung Jaehyun dan mengapa pula ia menyalahkannya.

"Ya, firasatku mengatakan jika dia dalang dibalik semua ini." Ucap Doyoung dengan tatapan kosong.

"Kita tidak punya bukti, lagipula kita tidak bisa menyalahkannya begitu saja."

"Aku tidak tahu apa tujuannya melakukan semua ini, yang jelas aku tidak suka dengan caranya-" Ten dapat melihat kilatan amarah di mata sahabatnya.

"Besok pagi aku akan menemuinya." Lanjut Doyoung.

"Hei, hei! Jangan mencari masalah. Untuk apa kau menemuinya?" Ten tidak ingin sahabatnya mendapatkan masalah baru.

"Tenanglah, aku hanya berkata padanya jika aku ingin bekerja di perusahaannya dan dia menyuruhku untuk datang besok pagi." Kini mereka sedang berada di sebuah supermarket yang tidak jauh dengan apartemen tempat mereka tinggal, membeli beberapa bahan makanan untuk mengisi kulkas mereka.

"Kau akhirnya memutuskan untuk bekerja di Jung Corp?" Tanya Ten kembali, saat ini mereka tengah memilih beberapa bahan makanan.

"Ya, dan aku ingin tahu apa sebenarnya motif seorang Jung Jaehyun dibalik semua ini." Mereka membayar semua barang yang dibeli sebelum kembali ke apartemen.

Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju apartemen yang mereka tempati.

"Tenie, Apa kau cemburu?" Ten menghentikan langkahnya yang membuat Doyoung juga menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu?"

"Yuta dan Taeyong-ssi-"

"Aku sedang tidak ingin membahasnya." Ten melanjutkan jalannya. Doyoung menghembuskan napasnya, seharusnya ia tidak membicarakan tentang itu sekarang dan membuat mood sahabatnya menjadi buruk kembali.

.

.

Pagi ini Doyoung memutuskan untuk mampir ke majalah Voice terlebih dahulu, Ten sudah berada di sana sejak pagi karena Johnny menyuruh sahabatnya itu untuk datang pagi-pagi sekali, begitu pula dengan Sicheng.

"Hansol hyung?" Doyoung yang berada di depan gedung bertemu dengan istri atasannya yang sedang melamun.

"Ternyata benar kau adalah Hansol hyung. Kenapa tidak masuk hyung? Johnny pasti akan senang melihatmu?" Lanjut Doyoung.

Hansol hanya menggeleng, "Tidak Doyoung-ah, aku takut Johnny memarahiku." Ia menunduk menggenggam sebuah tas kecil yang Doyoung yakini berisi makanan untuk Johnny.

"Percayalah, dia tidak akan memarahimu hyung. Kau tahu, mood Johnny sedang buruk akhir-akhir ini setelah kau kabur dari rumah hyung. Itu artinya dia merindukanmu." Doyoung tersenyum lembut untuk meyakinkan Hansol.

Hansol akhirnya percaya dengan perkataan Doyoung, mereka berdua memutuskan untuk masuk ke dalam gedung.

"Siapa yang membuat berita sampah macam ini?! Bukankah aku sudah menyuruh untuk mengeditnya?! Apa salah satu diantara kalian melakukan hal ini?! Jawab aku!" Johnny melemparkan majalah yang dibawanya. Semua karyawan hanya diam, tidak ada yang berani angkat bicara jika atasan mereka sedang mengamuk seperti sekarang.

"Kemana pula perginya Doyoung, bukankah dia yang mewawancarai si Pewaris Jung Corp itu?! Hancur sudah reputasi majalah Voice." Johnny masih berteriak kepada karyawannya.

"John,"

Suara ini.

Johnny menoleh ke sumber suara, ia melihat sang istri sedang berdiri bersama dengan Doyoung di sana. Ia tidak percaya apakah yang dilihatnya nyata ataukah hanya ilusi semata.

"Hansol? Kau kah itu?" Johnny menghampiri istrinya. Hansol mengangguk, membiarkan suaminya meraba wajahnya karena masih belum percaya.

Karyawan yang lain hanya menghembuskan napas mereka lega melihat kehadiran istri dari Sang Atasan yang bisa menjinakkannya.

"Kenapa kau marah-marah kepada mereka John?" Tanya Hansol mengerjap lucu.

"Perusahaan sedang dalam masalah Sayang. Selama ini kau kemana saja? Aku sudah mencarimu kemana-mana." Johnny menatap sendu istrinya.

"Aku di rumah orangtuaku, aku kesal kepadamu John, jadi aku memutuskan untuk pulang dan menyuruh mereka untuk berbohong jika kau mencariku."

"Maafkan aku, mari bicara di ruanganku." Johnny mengajak istrinya untuk masuk ke dalam ruangannya.

"Berjanjilah jika kau tidak akan memarahi keryawanmu seperti itu lagi, kau sangat menyeramkan John." Perkataan Hansol sukses membuat semua karyawan di situ menahan tawa mereka.

"Johnny, hari ini aku ijin tidak bekerja." Sela Doyoung sebelum Johnny dan Hansol menghilang di balik pintu.

"Terserah kau saja." Sepertinya kedatangan Hansol membuat mood atasan mereka menjadi baik.

"Huh~ kau menyelamatkan kami Doyoung-ah." Ujar Nayoung.

"Benar, jika saja kau membawa Hansol hyung tidak tepat waktu maka habislah kita." Sicheng mengelus dadanya.

"Hyung, kau mau kemana dengan berpakaian seperti itu?" Tanya Sicheng kembali.

"Aku ingin pergi ke Jung Corp."

"Wah Doyoung hyung ingin menghampiri Si Presdir Tampan Nan Kaya itu ya?" Mata Sicheng berbinar jika mambahas tentang hubungan Doyoung dengan Jung Jaehyun.

"Tepat sekali Sicheng~ hahaha" Timpal Ten, Doyoung hanya memelototinya.

"Doyoungie, aku menang." Ten menyeringai kepada Doyoung.

"Hah, apa maksudmu Ten?" Doyoung sama sekali tidak mengerti dengan maksud sahabatnya itu.

"Taruhan, kau tidak lupa dengan tahuran kita, kan? Hansol hyung bilang dia kabur ke rumah orang tuanya."

Doyoung menepuk keningnya, mengapa ia bisa lupa dengan taruhan yang mereka buat. Ia hanya menghela napas kasar, kali ini ia pasrah dengan apa yang akan diminta oleh Ten lagi pula ia telah kalah dengan tarurah yang ia buat sendiri.

"Baiklah, apa maumu?" Ujarnya pasrah.

"Aku ingin kau menanyakan kepada Yuta, dari mana dan sejak kapan Yuta kenal dengan Lee Taeyong?" Doyoung yang mendengar itu hanya mengernyit, ia kira sahabatnya akan meminta yang aneh-aneh kepadanya. Ternyata sahabatnya itu penasaran dengan hubungan Yuta dan Lee Taeyong.

Doyoung tidak berani bertanya apa-apa lagi kepada Ten, ia hanya menyanggupi permintaan sahabatnya itu. Mungkin setelah selesai dari Jung Corp Doyoung akan mampir ke café sebentar.

"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa semuanya, semoga Hansol hyung benar-benar bisa menjinakkan Johnny." Doyoung berpamitan kepada rekan kerjanya di majalah Voice. Ia pun memutuskan untuk menuju Jung Corp menggunakan taksi.

.

.

"Hahaha... Itulah akibatnya jika seorang playboy sepertimu tidak menentukan pilihan dengan cepat. Bagaimana rasanya terjebak dalam situasi seperti itu? Sangat menyenangkan?" Jaehyun masih terus tertawa setelah mendengarkan cerita dari Taeyong bahwa ia bertemu dengan kedua crushnya secara bersamaan.

Saat ini mereka sedang berada di Jung Corp. Jaehyun terkejut melihat Taeyong yang tadi memasuki ruangannya dengan tangan kirinya yang diperban dan pemuda itu menceritakan semuanya kepada Jaehyun mengapa tangannya bisa seperti itu.

"Diamlah Jung!" Taeyong melemparkan bola baseball di tangannya kepada Jaehyun.

"Lagi pula, untuk apa kau malam-malam ke café itu? Apa kau merindukan Si Pemilik Café? Bukankah kau bercerita jika ia selalu menjaga jarak denganmu?" Taeyong mendengus mendengar perkataan Jaehyun.

"Ya, aku merindukannya. Kau puas! Aku tidak tahu jika pemuda Thailand itu juga akan datang. Dan memang benar jika pemuda Jepang itu menjaga jarak denganku selama dua bulan ini, padahal sebelumnya kami baik-baik saja dan kau tahu bahkan semalam dia selalu berkata sengit kepadaku." Taeyong menghembuskan napasnya.

"Makanya hyung, kau harus memilih satu di antara mereka." Eunwoo berjalan mendekati mereka.

"Hei bocah, sejak kapan kau di sini?" Ujar Jaehyun kepada adiknya.

"Sejak Taeyong hyung bercerita jika ia merindukan Si Pemilik Café." Eunwoo mendudukan dirinya di kursi sebelah Taeyong.

"Hei bocah, untuk apa semalam kau ikut Taeyong ke café itu?"

"Hyung, mengapa kau selalu memanggilku bocah? Jika aku bocah kau apa? Kita ini kembar hyung, kita berasal dari sel telur yang sama, kita berbagi ruang di rahim eomma. Jadi berhenti memanggilku bocah hyung." Jaehyun dan Taeyong hanya memutar matanya jika Eunwoo sudah mulai dengan ceramahnya.

"Ya ya ya~ sekali lagi, untuk apa kau ikut dengan Taeyong ke café adikku yang manis~" Jaehyun ingin muntah memanggil Eunwoo seperti itu.

"Tentu saja aku ingin melihat calon kakak iparku dan juga melihat si pemilik café, tapi aku diberi bonus bertemu dengan namja mungil yang manis itu. Taeyong hyung berikan dia untukku."

Tok tok tok!

Suara pintu menghentikan pembicaraan mereka.

"Permisi, maaf mengganggu. Tuan Jung, Kim Dongyoung sudah datang." Ujar Minkyung.

"Baiklah Minkyung-ssi, suruh dia masuk sebentar lagi." Ujar Jaehyun kepada sekretarisnya itu.

"Baiklah, saya akan menyampaikannya Tuan." Sekretarisnya menghilang di balik pintu.

"Kalian pergilah, jangan menggangguku. Sudah aku katakan cepat atau lambat ia akan jatuh ke pelukanku." Jaehyun menyeringai.

"Hahaha! Jangan senang dulu Jung Jaehyun-ssi yang terhormat, belum tentu ia mau kepadamu setelah apa yang kau perbuat." Taeyong bangkit dari duduknya dan akan meninggalkan ruangan Jaehyun, diikuti oleh Eunwoo di belakangnya.

"Semangat hyung~" Eunwoo menyemangati kakak kembarnya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.

Tok tok tok!

Jaehyun mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Doyoung, bahkan ia memastikan dirinya benar-benar rapi dan cukup tampan untuk membuat seorang Kim Doyoung terpesona.

Jaehyun mempersilahkan Doyoung untuk masuk. Pemuda itu menggunakan kemeja berwarna peach yang menambah kesan imut dan manis di wajahnya.

Jaehyun berusaha sebisa mungkin menahan ekspresi wajahnya untuk tidak tersenyum, entah kenapa saat ini dia merasa sangat bahagia melihat pemuda bunny di hadapannya itu. Padahal mereka baru satu hari tidak bertemu, tetapi Jaehyun tidak bisa menahan rasa rindu terhadap pemuda itu.

"Ehem! Jadi Doyoung-ssi, kau telah memutuskan untuk bekerja di perusahaanku?" Jaehyun menutup laptopnya yang ia gunakan untuk berpura-pura sibuk.

'Sial, kenapa dia manis sekali! Tahan dirimu Jung.'

"Ya, jika tawaran itu masih berlaku, Jaehyun-ssi." Doyoung menatap Jaehyun penuh percaya diri, ia menyingkirkan perasaan gugup, malu, serta rindunya kepada pemuda itu mengingat kasus yang menimpa majalah Voice.

"Tentu saja. Jika kau mau, kau bisa menjadi sekretaris pribadiku. Waktu yang kita miliki semakin banyak." Ujar Jaehyun menyeringai kepada Doyoung.

"Bagaimana dengan Minkyung-ssi? Tidak, terima kasih. Aku lebih suka memulai dari bawah." Doyoung tidak tahu apa tujuan pemuda itu menjadikannya sebagai sekretaris pribadinya, yang pasti ia menolaknya.

"Aku bisa memecatnya. Baiklah kau diterima, kau bisa bekerja mulai besok." Jaehyun mendengus karena ia tidak berhasil membujuk pemuda yang diincarnya itu.

"Sebenarnya ada tujuan lain mengapa aku menemuimu-" Ucap Doyoung yang membuat Jaehyun tertarik.

Jaehyun melihat ada yang berbeda dari Doyoung. Doyoung yang ini berbeda dengan Doyoung yang mengajaknya untuk menginap kemarin lusa.

"Apa kau dalang di balik semua ini? Mengapa kau menyebarkan berita seperti itu, padahal kami tidak akan menerbitkan artikel itu tanpa sensor terlebih dahulu. Bukankah itu berita palsu?!" Tanya Doyoung to the point, hilang sudah tata krama yang dimilikinya karena terbawa emosi. Jaehyun yang mendengar itu sedikit terkejut.

'Sudah ketahuan ternyata, dia boleh juga.'

"Instingmu tepat sekali Doyoung-ssi, dan berita itu benar adanya. Kau sendiri yang bertanya apa aku gay? Dan jawabannya adalah benar. Ya aku seorang gay." Jaehyun kembali menyeringai.

'Sialan, jadi benar dia pelakunya.'

"Mengapa kau lakukan itu Jaehyun-ssi? Kau membuat perusahaan itu terkena masalah dan membuat teman-temanku kehilangan pekerjaannya, mengapa?"

"Tenanglah Doyoung-ssi, aku bisa memperbaiki semuanya. Aku punya kuasa, dengan uang semua masalah dapat teratasi. Tetapi aku memiliki satu syarat untukmu." Doyoung mengepalkan tangannya mendengar penyataan Jaehyun yang menurutnya sangat memuakkan. Pemuda itu seenaknya saja memanfaatkan kekuasaan dan juga uangnya.

"Apa itu?"

"Jadilah kekasih kontrakku."

.

.

TBC

.

.


Hai hai~ El Lavender di sini~ Maaf chapter ini mengecewakan, banyak typo, Jaedo momentnya sedikit sekali, updatenya ngaret, ceritanya semakin aneh. Maaf kalau Doyoung sikapnya berubah banget ke Jae x'D Maaf kalau ceritanya juga gak nyambung sama chap sebelumnya T.T Maaf beribu maaf~ *bow*

Terimakasih buat readers dan reviewers ff ini, maaf kami tidak membalas review kalian satu per satu. Semoga chapter ini gak bikin readersnya lari(?) xD

Siders? Review please~~~