Disclaimer : NCT (c) SM Entertainment
Masquerade
Jung Jaehyun x Kim Doyoung
7
aspartam
"Apa itu?"
"Jadilah kekasih kontrakku."
.
Tangan Doyoung gatal ingin mengorek telinganya sendiri. Sayang itu perlakuan kurang pantas untuk dilakukan saat ini. Tapi kata-kata Jaehyun barusan terdengar janggal. Pasti dia salah dengar, 'kan? "Maaf?" Doyoung pun meminta pria di hadapannya untuk mengulangi pernyataannya.
"Kau mendengarku." Sedangkan Jaehyun justru menjawab dengan tegas, dengan senyum penuh wibawa yang biasanya membuat hati perempuan manapun meleleh.
Doyoung menggeleng kecil sambil tertawa hambar. "Yang kudengar soal kekasih kontrak atau semacamnya. Hahaha, pasti ada yang salah dengan―"
"Kau mendengarkannya dengan baik. Aku memang memintamu jadi kekasihku."
Mata Doyoung membulat sempurna tidak percaya. Yang benar saja? Sungguh, beberapa hari terakhir belakangan memang ia sedang kasmaran. Merasa secara relatif dekat dengan seorang pewaris Jung Corp. yang terkenal tampan itu. Digoda oleh rekan-rekan kerjanya dan ia tak bisa mengelak. Doyoung sepatutnya sedang berbunga-bunga sekarang diminta menjadi kekasih dari seorang Jung Jaehyun.
Jika saja pria itu tidak menambahkan kata kontrak di belakang kata kekasih. Jika saja pria itu tidak menganggap remeh dengan bermain-main dengan majalah tempatnya bekerja. Dibanding merasa berbunga-bunga, Doyoung sedang menahan emosinya yang meledak-ledak sekarang. Kekasih kontrak? Ohoho, Doyoung merasa diperlakukan bagai barang sewaan. Apalagi setelah reputasi majalah tempat ia dan puluhan rekannya mencari nafkah sedang dipertaruhkan. "Jangan bercanda," tutur Doyoung dengan nada geram. Kalau ia ingat ini bukan soal masalahnya pribadi, Doyoung sudah membanting meja yang memberi jarak di antara keduanya.
"Aku tidak bercanda. Aku sangat serius." Jung Jaehyun itu justru menuturkan dengan santai, masih dengan senyum yang sama. "Tidak ada ruginya untukmu, kan?"
Doyoung menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan emosinya. "Memang, tapi boleh aku bertanya? Kalau begitu apa untungnya kontrak ini untukmu?"
"Tentu saja ada untungnya. Apa aku perlu memberitahumu?"
Doyoung mengepalkan tangannya kuat supaya tidak kelepasan berkata kasar.
Lain halnya dengan pria yang satu lagi, Jaehyun jelas menyadari ketidaksukaan Doyoung terhadap tingkahnya. Jaehyun tahu, ia salah langkah. Jaehyun tidak pula menyesalinya. Sudah berapa kali ia katakan? Kim Dongyoung itu spesial. Untuk mendapatkannya perlu cara yang spesial pula.
"Tentu saja perlu. Kalau tidak, bukankah wajar jika aku menolak tawaran ini karena menganggapnya sebagai kontrak yang berat sebelah?" Doyoung akhirnya kembali menyuarakan dirinya setelah merasa berhasil menyembunyikan emosinya.
Jaehyun tersenyum miring. Ia berdiri dari tempatnya duduk. Memutari meja dan memposisikan diri di belakang Doyoung. Pemuda dengan fisik mirip kelinci itu sendiri enggan mengikuti ke mana sosok jangkung itu melangkah, meski dapat merasakan Jaehyun kini berada di belakangnya dan menunduk. Napas Jaehyun bahkan menerpa tengkuknya membuat bulu kuduk Doyoung berdiri. "Keuntungannya bagiku, aku semakin dekat dengan sesuatu istimewa yang kuincar." Jaehyun mengucapkannya dengan nada berbisik. Memberi kesan suara bariton itu semakin sensual.
Doyoung meneguk salivanya sendiri. Bukankah ia begitu marah pada Jung Jaehyun tadi? Kenapa sekarang ia malah seperti terintimidasi sekaligus... ah, lupakan!
"Dan apa kau ingin tahu sesuatu itu, Doyoung-ssi?"
Perlahan, Doyoung mengangguk.
"Kau."
.
Doyoung merasa tubuhnya kosong saat ini. Jiwanya melayang entah ke mana. Doyoung memijit pelipisnya di perjalanan pulang dengan diantar supir pribadi Jaehyun. Jaehyun tentu saja dengan senang hati menawarkan diri untuk mengantar Doyoung secara personal selepas makan siang bersama dadakan yang Jaehyun paksakan terjadi. Sayangnya Minkyung mengacaukan niat atasannya dengan menjejali Jaehyun tumpukan berkas yang perlu diperiksa dan ditandatangani. Jaehyun sudah banyak menunda pekerjaan, Minkyung tidak mau menumpuk pekerjaan, jadi terpaksa Jaehyun harus mengikhlaskan kesempatan untuk mengantar kekasih barunya.
Iya, kekasih.
Memang, setelah mempertimbangkan dan membicarakan banyak hal, Doyoung dengan TERPAKSA menerima kontrak yang Jaehyun maksud. Benar, terpaksa. Di satu sisi Doyoung memang tidak ikhlas, tidak sudi, tidak yakin mau menerima segala tawaran Jaehyun. Sisi lainnya, Jaehyun dengan otak bisnisnya begitu licik membuat Doyoung tidak bisa untuk menolak. Pebisnis sialan. Tidak heran Jung Corp. selalu memenangkan saham jika pewarisnya begitu lihai dalam negosiasi dan perundingan. Tak heran pula jika Doyoung yang hanya seorang wartawan dan karyawan magang di sebuah cafe tidak mampu memberi perlawanan apapun. Namun di sisi lain yang tersembunyi, Doyoung tak bisa membohongi dirinya bahwa ia bersyukur dapat menjadi seorang kekasih Jung Jaehyun meski hanya sebuah kontrak dan Doyoung benci ia tak dapat menyangkal perasaan itu.
Pak Yoon, supir pribadi Jaehyun, melirik Doyoung lewat kaca spion. Ia terkekeh, apa yang dilakukan tuan mudanya sampai membuat pria manis di kursi penumpang tak berhenti menghela napas? Biasanya, incaran Jaehyun selalu tersenyum tanpa henti karena termakan rayuan pria itu. Tapi yang ini, malah tidak menunjukkan rasa suka sama sekali. Oh, bekerja di keluarga Jung bertahun-tahun membuat Pak Yoon hafal tingkah laku dan kebiasaan Jaehyun. Tanpa diberitahu, Pak Yoon sudah tahu jika pemuda yang tengah ia antar ini adalah incaran Jaehyun. Jangan remehkan insting pria paruh baya berpengalaman.
Sampai belasan menit sudah berlalu. Pak Yoon berhasil mengantarkan Doyoung pulang dengan selamat. "Terima kasih sudah mengantarku," ucap Doyoung sedikit menunduk begitu Pak Yoon memarkirkan mobil di depan apartemen Doyoung dan Ten.
Pak Yoon mengibaskan tangannya. "Tidak perlu berterimakasih, Nak. Memang sudah jadi tugasku."
Doyoung menggaruk tengkuknya canggung. Pejalan kaki sepertinya memang sulit merasa nyaman untuk diantar menggunakan mobil mewah. Setelah pamit, Pak Yoon pun kembali ke kantor Jung Corp.
.
Doyoung membuka pintu dengan helaan napas berat. Tidak dikunci, artinya ada Ten di dalam. Mungkin pemuda itu sudah izin pada Johnny untuk menyelesaikan pekerjaannya di rumah saja.
"Kau pulang lebih cepat dari yang kuduga. Jadi, bagaimana, pegawai baru Jung Corp.?" Ten langsung menjejalinya dengan pertanyaan. Doyoung sudah menduga ini. Sebelum menjawab,
Doyoung terlebih dahulu merebahkan diri di samping Ten. Mencari kenyamanan untuk punggungnya yang lelah. "Aku diterima jadi sekretaris pribadinya." Dan Doyoung rasa, ia belum siap bercerita pada Ten soal kontrak itu. Karena―
"MWO?! SEKRETARIS?!"
―baru sekretaris saja Ten pasti hebohnya luar biasa dan itu terbukti.
Ten langsung menurunkan laptop dari pangkuannya. Abaikan saja pekerjaannya dulu, sekarang ada yang lebih panas dari artikel yang ditulisnya. "Bukannya Jung Jaehyun sudah punya sekretaris? Perempuan yang cantik itu. Siapa namanya?"
"Minkyung-ssi? Dia dipindahtugaskan menjadi sekretaris untuk kepala divisi pengembangan."
Ten mengguncang tubuh Doyoung, sedangkan Doyoung tidak punya tenaga lagi untuk melawan. "Astaga, apa yang kau lakukan, Kim Dongyoung? Jung Jaehyun sampai menyingkirkan sekretarisnya untuk merekrutmu! Padahal kau sendiri tidak punya pengalaman manajemen, kan?"
Doyoung tidak bisa menahan rotasi pada bola matanya. "Demi Tuhan, Ten! Aku sendiri tidak mengerti!" Nada suaranya meninggi. Oh, Doyoung sudah tidak kuat menahan untuk melampiaskan segala hal yang mengganggu pikirannya saat ini.
"Jelas-jelas dia mengincarmu, Doyoungie! Ah, sebagai sahabat sejatimu aku turut bangga!" Ten bahkan memeluk Doyoung erat setelahnya."
Cih, di saat seperti ini kau baru berkata aku sahabatmu?" Doyoung mendecak. Dan, ya. Jung Jaehyun memang mengincarnya lalu apa yang Doyoung perlu lakukan soal itu?
"Omong-omong kurasa aku akan mengambil cuti sampai aku menyelesaikan masalah ini. Besok aku titip surat izin cutiku padamu, ya?"
Ten mengerinyit bingung. "Masalah apa?"
Refleks, Doyoung menjitak dahi mulus Ten yang langsung disambut rintihan sakit dari sang korban. "Masalah yang menimpa Voice! Kau lupa tujuanku mendatangi Jaehyun?!" Doyoung melotot garang.
"Jadi memang benar artikel itu ada hubungannya dengan Jung Jaehyun?"
Doyoung tidak menjawab verbalis. Melainkan hanya dengan sebuah anggukan. Menyiapkan diri dengan bombardir pertanyaan yang keluar dari mulut Ten setelah ini.
.
Hansol masih menemani suaminya sibuk. Sejak menjadi istri seorang Johnny Seo, Hansol memang melepas pekerjaannya dan secara tidak langsung membuatnya punya banyak waktu senggang untuk menunggu Johnny yang terlalu sering lembur. Jadi tidak heran jika Hansol menjadi seorang istri yang posesif dan sensitif karena tanpa kesibukan, ia punya waktu terlalu banyak untuk berpikir yang tidak-tidak.
Seperti saat ini, ia masih setia menunggui Johnny yang masih disibukkan dengan seleksi artikel yang bisa diterbitkan untuk majalah edisi selanjutnya. Ia tidak punya pekerjaan selain menonton suaminya. Ia sebenarnya ingin pergi keluar untuk mengusir bosan, tapi ia tahu suaminya tak akan mengizinkannya. Kepulangannya ke rumah orang tuanya tanpa bilang-bilang tentu bukannya tanpa menyebabkan akibat. Selain itu Hansol kini tidak tega meninggalkan sang suami dengan beban pikirannya yang luar biasa berat. "John, kau perlu istirahat," tegur Hansol melihat Johnny mulai mengerang kecil tiap menitnya.
Johnny membalas dengan gelengan. "Tidak ada waktu untuk itu."
Hansol mendengus. Ia bergerak dari sofa tamu ruangan Johnny menuju tempat suaminya duduk berkutat dengan kesibukannya. Hansol memeluk Johnny dari belakang. "Sudah berapa hari kita tidak bertemu? Tidak merindukanku?" Bukan tipikal Hansol mengucapkan kalimat mengundang seperti itu. Tapi kalau tidak dibeginikan, Johnny akan benar-benar mengabaikannya.
Benar saja, Johnny melepas kacamata bacanya. Melonggarkan lengan yang terkalung di lehernya agar pemuda setengah Amerika itu dapat membalik badan. "Majalahku sedang terpuruk. Sementara penyebab yang membuat artikel sialan itu terbit tanpa sepengetahuanku belum diketahui, aku harus bekerja keras agar majalah ini mendapat kepercayaan kembali."
"Aku tahu, tapi jangan paksa dirimu."
Johnny mendengus. "Aku ini pimpinan redaksi, Hyung. Aku harus bertanggung jawab agar semua yang bekerja dalam pengawasanku―"
"Justru karena kau seorang atasan, John. Kau punya bawahan yang mendukungmu dan bisa kau andalkan." Hansol tak akan membiarkan Johnny menyelesaikan kalimatnya. Ia bahkan sudah memasang tampang garang yang cukup ampuh membuat Johnny bungkam dan pasrah membiarkan Hansol berbicara sampai selesai terlebih dahulu. "Kudengar Doyoung sampai pergi mendatangi Jung Corp.? Menurutmu karena apa?"
Johnny masih terdiam. Kali ini sambil menyelami setiap kata yang diucapkan Hansol.
"Nayoung-ssi juga, kudengar ia sedang membuat survei pembaca untuk menemukan solusi dari masalah ini. Ten juga sedang melakukan sesuatu. Mina-ssi juga. Bahkan Sicheng juga."
Johnny tersenyum. Kepulangan Hansol benar-benar sebuah obat dari segala stres yang menghampirinya. Johnny mungkin bisa gila jika Hansol tak kunjung pulang. "Baik, kalau begitu sekarang kita bicarakan apa yang kau lakukan di rumah orang tuamu, hm?"
Hansol tersenyum pahit. Ya, harusnya dia tahu Johnny pasti akan menanyakannya perihal tersebut dengan segera.
.
Sore menjelang malam di kafe milik Yuta. Doyoung sudah meminta Kun untuk menukar shift, karena ini adalah kesempatan terakhir Doyoung dapat bekerja sebelum mengambil cuti.
"Kau benar-benar diterima di Jung Corp.? Aku terkejut!" Wendy menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Doyoung sebelum pesanan yang ia perlu antarkan siap.
Yuta yang berada di meja kasir pun ikut menyela. "Aku harap kau tidak akan mengacaukan jadwal kerja Jung Jaehyun, Doyoung-ah!"
"Ish! Jangan menakutiku, Hyung!"
Tawa Wendy dan Yuta pun sama-sama mengudara. Doyoung cemberut menanggapinya. "Daripada itu, Hyung. Sebagai salam perpisahan, bolehkan aku bertanya?" Untung saja Doyoung ingat soal taruhannya dengan Ten, ia bisa sekalian mengalihkan topik.
"Tentu saja. Apa?" Yuta dengan santai menanggapi.
"Sejak kapan kau mengenal Lee Taeyong?"
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Yuta terdiam sejenak bahkan bahunya menengang. "Untuk apa kau bertanya hal itu?" tanya Yuta balik pada akhirnya.
Doyoung mengangkat bahu. "Heran saja karena... yah, kemarin malam kalian terlihat sudah saling mengenal."
"Seriously? Doyoung dengan Jung Jaehyun dan sekarang bosku dengan Lee Taeyong pewaris Jin Corp. itu?! Oh, tak bisakah kalian membagi pria tampan dan mapan padaku?" Wendy yang masih berada di dekat mereka pun tak dapat menahan diri untuk tidak menyela. Perempuan manapun pasti merasakan hal yang sama.
"Ya, Noona! Memangnya aku―"
"Pesanan untuk meja nomor 3." Doyoung yang hendak protes terpaksa disela oleh Mingyu yang baru saja membawa kentang goreng buatannya untuk diantar Wendy."
Aku mengenalnya mungkin dari 4 bulan lalu. Sejak saat itu kadang-kadang kami bertemu." Yuta menjawab pertanyaan Doyoung yang sempat disela beberapa kali. Tapi dari suaranya yang terkesan dingin, Doyoung jadi tidak berani bertanya lebih lanjut meski ingin. Apalagi tangan Yuta malah mencomot asal kentang goreng yang sudah hampir dibawa pergi Wendy.
"Ya, Yuta! Itu untuk pelangga―"
"Tidak enak. Buat ulang."
Mingyu tidak bisa tidak tercengang. Nakamoto Yuta yang bahkan masih berkata enak pada nasi gosong dan selada terlalu asin mengatakan masakannya tidak enak? Apalagi itu hanya sepiring kentang goreng yang notabene sangat mudah dibuat.
Berdasarkan kalimat Yuta itu, dapat Doyoung, Wendy dan Mingyu simpulkan mood atasan mereka menurun drastis saat membicarakan Lee Taeyong.
.
Ruang makan keluarga Jung terkesan ramai. Tidak biasanya karena dari ayah sampai anak, anggota keluarga konglemerat ini memang orang sibuk semua. Yunho memimpin sarapan mereka dengan khidmat. Tapi jika Jaehyun dan Eunwoo sudah disatukan, yang namanya keheningan itu nyaris tidak ada. Jaejoong sendiri sudah angkat tangan dengan 'keakraban' kedua anaknya itu.
"Hyung, jadi bagaimana Kim Doyoung?" Eunwoo memulai konversasi mereka. Kedua orang tua mereka yang sedang khidmat dengan hidangan mereka pun melirik-lirik penasaran.
Sedangkan yang ditanya sendiri, tersenyum lebar. Mungkin senyum paling lebar yang pernah ia tunjukkan saat sarapan bersama. "Mulai hari ini dia bekerja sebagai sekretarisku."
"Ya, anak nakal! Lalu Minkyung kau apakan? Dia sudah sangat sabar menghadapi anak bandel sepertimu." Jaejoong menyela mendengar anaknya mendapat sekretaris baru. Ia merasa kerja Minkyung cukup bagus dibandingkan dengan sekretaris Jaehyun sebelum-sebelumnya yang terlalu banyak bawa perasaan hanya karena atasan mereka bertampang rupawan. Karena itu Jaejoong sedikit menyayangkan jika Minkyung digantikan.
Jaehyun menyengir lebar. "Minkyung-ssi kupindahkan ke tempat yang lebih baik."
"Daripada itu, siapa itu Kim Doyoung? Aku tidak ingat punya pegawai dengan nama seperti itu." Sang kepala keluarga mulai angkat bicara.
"Calon menantumu, Appa," celetuk Eunwoo tiba-tiba membuat telapak kaki Jaehyun dengan senang hati menginjak kaki kembarannya.
Sebelah alis Yunho terangkat naik. Mata musangnya memicing penasaran. "Oh, ya? Kalau begitu lain kali bawa dia kemari." Berbeda dengan suaminya, Jaejoong justru tampak ragu dengan penuturan Eunwoo. "Cukup Jung Jaehyun. Jangan menyakiti perasaan siapapun lagi. Lebih baik kau selesaikan masalah isu yang mencemarkan nama baikmu itu."
Jaehyun tertawa kecil. "Aku tidak main-main kali ini, Eomma."
Dan pengakuan Jaehyun mengundang tatapan tidak percaya dari kedua orang tuanya. Tetapi baik Yunho maupun Jaejoong, tidak mampu mengeluarkan pertanyaan yang terbesit dalam pikiran mereka.
"Oh, omong-omong soal isu itu." Eunwoo kembali menyela, kali ini sambil menatap Jaehyun dengan tatapan memelas andalannya saat kecil membuat kembarannya sendiri mengerinyit jijik. "Biar aku yang mendatangi Voice untuk mengklarifikasi dan berdiskusi dengan mereka. Ya, Hyung?"
Dahi Jaehyun semakin mengkerut, sedang Yunho dan Jaejoong mulai memilih fokus dengan sarapan mereka. Biarkan anak mereka berbuat sesukanya. "Kenapa harus kau yang pergi, bocah? Darimana aku tahu kau tidak akan membuat namaku justru semakin tercemar?"
"Eish." Eunwoo mengibaskan tangannya. "Aku tidak sejahat itu padamu, Hyung-ku tersayang! Coba pikirkan. Daripada membuang-buang waktumu ke sana, lebih baik kau gunakan waktumu sebaik mungkin bersama Kim Doyoung itu."
Jaehyun mengangguk-anggukkan kepalanya, cukup setuju dengan ide yang Eunwoo berikan. Namun tetap saja. Terasa ada yang aneh di sini. "Kenapa kau mau repot-repot bertingkah seperti juru bicaraku, bocah?" Jaehyun menatap saudaranya curiga sambil kembali menyendok potongan muffin yang menjadi menu sarapannya.
Eunwoo menanggapi dengan senyum lebar lebih dulu. "Tentu saja untuk bertemu dengan namja manis!" serunya girang. "Aku bukan bocah, omong-omong. Berapa kali harus kukatakan padamu?"
Jaehyun melotot. "Kau benar-benar mau memerangi Taeyong? Dia masih punya crush pada pemuda Thailand itu!"
"Dia punya satu crush lain, kan? Dia bisa berbagi padaku." Eunwoo mengangkat bahu tak peduli. Melahap habis potongan bacon yang ada di piringnya kemudian.
"Taeyong tak akan membiarkanmu. Kau tahu itu."
.
Yuta baru membalikkan papan penanda kafe dibuka beberapa belas menit lalu. Sekarang ia sudah tersenyum masam melayani pelanggan pertamanya. Demi Rem—karakter anime favoritnya belakangan ini—yang tidak jadi mati dimakan paus! Kenapa dari puluhan juta penduduk Seoul harus manusia ini yang mengawali paginya. Manusia dengan paras nyaris sempurna bernama Lee Taeyong. "Sungguh, Tuan. Kau bisa duduk di meja manapun, pegawaiku akan mengantarkan buku menu dan mencatat pesananmu."
"Tidak perlu, aku berniat take away." Lee Taeyong justru membalas santai, seolah tidak ingat semalam ia memecahkan piring di kafe ini—atau lebih tepatnya seolah tidak ingat ia bertemu dua crush-nya sekaligus di saat yang sama.
Yuta ingin Lee Taeyong cepat-cepat pergi dari hadapannya, jadi ia hanya mendengus dan menuruti kemauan Taeyong. "Jadi, pesananmu, Tuan?" Yuta pun mengambil nota yang ada di dekatnya untuk mencatat pesanan pelanggannya.
"Satu Americano dan satu set croissant."
Yuta mengangguk dan langsung memberikan notanya pada Mingyu agar juru masaknya itu dapat menyiapkan hidangannya dengan segera—sesegera mungkin.
"Yuta-kun."
"Hm?"
"Kenapa sikapmu berubah terhadapku?" Taeyong sudah memendam pertanyaan ini sejak lama tapi tak pernah ia tanyakan langsung karena tak mau membuat lelaki di depannya ini bersikap semakin menjauh darinya. Tapi setelah yang terjadi semalam, ia butuh kepastian agar ia sendiri dapat menentukan pilihannya segera.
Yuta menatap pria di hadapannya sesaat. "Maksudmu berubah?" Meski pada akhirnya berpura-pura tidak mengerti.
Yuta bukannya tanpa alasan merubah sikapnya. Pada awal pertemuannya dengan Lee Taeyong, tentu saja ia senang ada orang berdompet tebal mendatangi kafenya. Kemudian mulai menaikkan harapannya karena pewaris perusahaan besar itu beberapa kali mengajaknya bertemu, merasakan dirinya diperlakukan istimewa. Yuta tidak bisa bohong jika ia senang akan hal itu.
Tapi tidak lagi, sejak Ten datang padanya bercerita tentang wawancaranya yang fantastis pada seorang Lee Taeyong. Ten memang sering mendatangi tempat Yuta. Sebagai teman satu flat Doyoung, Ten sering berkunjung ke tempat kerja sambilan pemuda itu, yang membawanya pada Yuta. Mengobrol banyak dengan pemuda Jepang itu dan justru membuat mereka sudah menjadi teman akrab satu sama lain. Ten bahkan tidak segan-segan bercerita masalah hatinya pada Yuta.
Namun tidak pada Yuta. Yuta tidak pernah menceritakan tentang pertemuannya dengan Lee Taeyong pada Ten sama sekali. Ia tidak mau Ten tahu. Di saat yang bersamaan ia merasa bersalah karena mengetahui perasaan Ten. Semuanya membuat Yuta bingung. Berakhir malah membuatnya bersikap dingin pada Taeyong karena ia terlalu takut. Entah pada apa, Yuta sendiri tidak mau mencari tahu.
Jadi biarkan ia seperti tidak tahu apa-apa. Biarkan ia menjadi orang asing bagi Lee Taeyong.
Meski Taeyong sendiri sepertinya tidak bisa membiarkan hal itu.
.
.
Doyoung sudah tak bisa menghitung lagi sudah berapa kali ia menghela napas sejak menghadap pintu di depannya ini. Padahal ia yakin ia sudah siap seratus persen saat bekerja di rumah tadi. Ten juga sudah begitu—kelewat—aktif menyemangatinya, bahkan masih mengirimnya puluhan chat berisi kata-kata penyemangat sampai sekarang. Tapi tetap saja, memikirkan ia bekerja sebagai seorang sekretaris untuk seseorang dalam ruangan ini membuatnya gugup.
Memikirkan Jung Jaehyun sendiri selalu membuatnya gugup. Tapi gugup kali ini berbeda. Ada terlalu banyak hal yang Jung Jaehyun lakukan dan harapkan padanya. Membuatnya merasa terbebani sekaligus direpotkan di saat yang sama. Doyoung tidak pernah terpikir jika ia akan mendapat perlakuan istimewa nantinya. Ia sendiri lupa jika ia menjalani satu kontrak lain dengan Jung Jaehyun.
"Sampai kapan kau mau berdiri di sana, Tuan?" Suara itu sungguh membuat jantung Doyoung bagai melompat dari rongga dadanya.
"M-maafkan aku!" Entah kenapa, Doyoung justru meminta maaf bahkan sambil menunduk.
Wanita yang mengagetkannya pun tertawa kecil. "Aigoo, kenapa kau lucu sekali." Wanita itu pun melangkah mendekati Doyoung, atau lebih tepatnya pintu ruangan sebelum mengetuknya. "Direktur? Sekretaris barumu sudah datang."
Doyoung melotot karena mendapat bantuan yang sesungguhnya tidak diharapkan itu. Demi apapun, hatinya lebih siap sepenuhnya.
"Suruh dia masuk!" Suara Jaehyun dari dalam terdengar tegas. Membuat Doyoung semakin ingin kabur saja. Namun pada akhirnya wanita itu membukakan pintu untuk Doyoung, menyuruh lelaki itu untuk masuk ke dalam menemui atasan mereka. Pada akhirnya Doyoung melangkah masuk dengan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Wanita itu menutup pintu begitu badan Doyoung sudah berada di dalam ruangan sepenuhnya. Kepalanya ia paksa untuk tegak menghadap depan sehingga menemukan Jaehyun yang sedang tersenyum ramah padanya. Mirip dengan kali pertama mereka bertemu.
"Selamat pagi, sayang. Siap untuk hari pertamamu?"
.
.
.
TBC
.
.
a/n: cries. Untuk yang dapet giliran setelah aku, aku minta maaf. Untuk reader juga, aku minta maaf karena chapter ini kurang memuaskan terus terlalu banyak maksa masukin bait di sini (ini jumlah words paling banyak yang pernah saya tulis dalam satu chapter, omong-omong).
Lastly, thanks for reading this chapter! Don't forget to keep following up the nexts!
