Disclaimer : NCT (c) SM Entertainment
Masquerade
Jung Jaehyun x Kim Doyoung
8
sblackpearlnim
"Selamat pagi sayang. Siap untuk hari pertamamu?"
.
Jung Jaehyun mempermainkannya.
Seharusnya sudah bukan kejutan lagi, tapi entah kenapa Doyoung dengan naifnya merasa jantungnya seakan berhenti berdetak pada detik yang sama pandangannya mendarat kepada senyum si presdir. Belum pernah Doyoung merasa sebadut ini dalam dua puluh tujuh tahun eksistensinya di dunia.
Doyoung adalah seorang manusia idealis dengan ide-ide rasional. Harga diri dan egonya jauh lebih tinggi dari Empire State. Dia tahu permainan apa yang sedang coba diundang Jaehyun untuk diikutinya dan sudah melakukan perdebatan mental sepanjang jalan Jeonnam hingga Gangwon ―oke itu sedikit berlebihan― sebelum secara suka rela menerjunkan diri dalam labirin akal bulus Jung Jaehyun. Seberapa banyak dia mengambil langkah mondar mandir, maju mundur, berjalan zig zag dan meloncat bodoh di apartemennya sambil berteriak "Kau bisa melakukan ini Kim Doyoung. Kau bisa!" bersama Ten. Dan seberapa menyedihkannya bagaimana tembok kepercayaan diri dan optimismenya untuk menguar kelemahan Jaehyun dengan memanfaatkan perasaan pria itu runtuh begitu saja. Hanya oleh satu senyum dan beberapa deret kata, dinding yang dibangunnya dengan susah payah selama puluhan jam hancur, bahkan hingga bata terakhir.
"Kurasa… aku siap." Doyoung menjawab dengan kening mengernyit menunjukkan ketidakyakinan akan jawab yang baru saja meluncur dari bibirnya sendiri. Kondisi di bawah lapisan kulitnya sama sekali jauh dari siap. Kecuali 'siap' sudah mengalami pergeseran makna dengan 'chaos'.
Jung Jaehyun membalas dengan tersenyum. Lesung pipi dan mata bulan sabitnya bekerja dengan baik memberi aura yang meneduhkan di wajahnya. Tapi Doyoung sama sekali tidak merasa teduh.
"Aku senang kau sama siapnya denganku untuk memulai kisah cinta kita, Kim Dongyoung," ujar Jaehyun dari tempatnya. Jantung Doyoung bergerak dengan brutal.
Permainan dimulai. Jaehyun sudah bersiap menginjak pedal gas dengan kencang namun Doyoung bahkan belum memasang sabuk pengaman.
.
"Maksudku, aku tahu kalau aku yang sudah memutuskan untuk bekerja dengannya," Doyoung berbicara panik kepada telepon selulernya. Dia sedang bersembunyi di salah satu bilik toilet pria dan membuat panggilan telepon darurat kepada Ten yang merasa sangat keberatan diganggu di pagi hari dengan suara panik Doyoung. Tahu dengan pasti kalau sahabatnya hanya panik untuk alasan yang sama sekali tidak perlu menjadi kekhawatirannya. Tapi Doyoung mengabaikan keluhan temannya itu seutuhnya dan malah melanjutkan, "Kurasa aku sama sekali tidak bisa mengatasi ini."
Ten mengerang keras di ujung sambungan mereka. "Ya Tuhan Doyoung. Aku tidak tahu apa yang membuatmu mengalami krisis kepercayaan diri hanya setengah jam setelah kau memulai hari pertamamu jadi sekretaris Presdir Jung dan aku tidak yakin kau mau aku melakukan apa."
"Kau sahabatku kau seharusnya memberi dukungan moral."
"Dukungan moral untuk apa?" Doyung merasa bisa melihat Ten sedang mengernyitkan kening di depan komputernya saat bertanya.
"Dukungan moral untuk melakukan ini," dia menjawab lemah. "Aku tidak sanggup melakukannya."
"Kau membuatnya terdengar seperti Jaehyun baru saja melakukan sesuatu dan mempersulitmu."
Well dia memang melakukannya. Dan bukan hanya baru saja.
Di saat seperti ini ingin rasanya Doyoung membeberkan bagaimana dia bisa berakhir duduk di salah satu kloset properti Jung Corp. menelepon sahabatnya dengan panik setelah menjalani profesi barunya selama kurang dari enam puluh menit. Menceritakan kalau dia ada di sini bukan hanya untuk menjadi sekretaris pribadi Jaehyun tapi juga merangkap sebagai kekasih Presdir muda itu. Oh jangan lupakan kata kontrak yang mengikutinya. Salah satu alasan kenapa Doyoung merasa pekerjaan ini terasa seribu kali lebih berat. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa dibaginya begitu saja dengan enteng bersama Ten. Memikirkan suara cempreng Ten dan reaksi berlebihannya membuat Doyoung berpikir jutaan kali untuk melakukan itu.
Jadi Doyoung mendehem singkat dan membalas lagi, "Well kau tahu bagaimana mengintimidasinya dia dan…"
"Kurasa dia tidak akan mengintimidasimu," potong Ten cepat. "Bukannya dia suka denganmu?"
Kali ini giliran Doyoung yang mengerang. "Siapa yang mengatakan seperti itu?"
"Hm melihat betapa mudahnya dia menggeser sekretarisnya hanya untuk menyusupkanmu di perusahaan, kurasa itu sudah jadi indikasi. Tidak?"
Ten tidak sepenuhnya salah. Dan Doyoung benci mengakuinya. Seandainya saja temannya itu tahu kalau tepatnya rasa suka Jaehyun itulah yang menjadi akar permasalahan ini.
"Dia tidak suka padaku."
"Ya. Dan aku sekarang sudah jadi selingkuhan Johnny."
"Hah?"
"Kita sama-sama mengatakan kebohongan yang jelas."
Doyoung memutar bola mata atas pertanyaan Ten itu. Dia membuang napas tidak semangat sebelum kembali berbicara, "Ah sudahlah, berbicara denganmu terkadang malah membuat leherku seperti dipelintir seratus kali. Ngomong-ngomong bagaimana Johnny? Apa dengan kembalinya Hansol hyung sekarang dia bisa bekerja tanpa membuat kantor jadi seperti neraka?"
"Kau tahu kalau dia setiap hari membuat tempat ini menjadi neraka." jawab Ten sakastis. Doyoung mendengarnya membanting keyboard. Tapi tidak berani berkomentar apa-apa soal itu serta membiarkan Ten melanjutkan, "Tapi yah setidaknya setelah Hansol pulang, dia hanya membuatnya jadi empat puluh sembilan persen neraka dan itu sudah cukup baik karena kehadiran Hansol hyung menguranginya lebih dari setengah. Tapi dia melimpahkan semua pekerjaanmu kepadaku dan Kim Doyoung aku bersumpah kalau kau sama sekali tidak membawa kabar baik dari Perusahaan Jung pacarmu itu, aku yang akan membuat apartemen kita menjadi neraka."
"Hei kenapa tiba-tiba menjadi ganas begitu?" protes Doyoung. Tidak mengerti dengan perubahan tiba-tiba mood lawan bicaranya. "Memangnya pekerjaanku sebanyak itu?"
Suara nafas Ten terdengar sangat berat pada receivernya dan Doyoung merasa buruk karena mungkin pekerjaan Ten betul-betul menjadi berkali lipat karena absennya Doyoung. Kemudian pemuda Thailand itu berbicara dengan lemah, "Kurasa aku hanya sedang mengalami hari yang menyebalkan," Ten berkata meski sesungguhnya masih terlalu pagi untuk menyimpulkan hari itu sebagai hari menyebalkan. Tapi lagi-lagi Doyoung tidak berani menyanggah. "Sudahlah Young. Tutup teleponnya. Karena aku harus menyelesaikan sepuluh ribu kata artikel ini sementara kau bekerja santai di ruangan mewah ber AC milik calon suamimu. Hah AC di sini bahkan sepertinya tidak bekerja. Aku juga mau ada konglomerat yang tergila-gila padaku."
"Ok tapi sejak kapan dia naik status menjadi calon suami?"
"Sejak kau menjadi sekretaris pribadinya," jawab Ten skeptis. "Sudah ya. Johnny sedang mengawasiku yang tidak mengetik sejak tadi. Kumatikan. Kalau kau mendapat masalah di sana, jangan hubungi aku."
Lalu Ten memutuskan sambungan telepon mereka secara sepihak. Bocah itu.
.
Pekerjaan sebagai sekretaris pribadi Jaehyun berjalan dengan sedikit mulus jika mempertimbangkan pengalaman zero Doyoung dalam profesi ini. Meski sedikit kelabakan mengatasi telepon yang tidak berhenti berdering dan mengantar berkas ini dan itu bolak balik ke meja Jaehyun, Doyoung tidak akan mengatakan kalau dia sepenuhnya mengacau dalam pekerjaannya.
Satu-satunya yang membuat ini menjadi sulit hanyalah Jung Jaehyun. Dan lesung pipinya. Oke, itu membuatnya menjadi dua. Juga tatapan sugestifnya. Tiga. Dan bagaimana pria itu dengan sengaja menyentuhkan kulit mereka ―Doyoung tahu seperti apa jenis sentuhan yang tidak sengaja dan dia tidak akan mengkategorikan cara Jaehyun menggenggam tangannya sangat lama hanya untuk menerima selembar kertas dan map sebagai sentuhan tidak sengaja. Sebenarnya itu belum semua tapi mencoba menyebut satu per satu hanya akan berakhir dengan Doyoung yang tidak bisa meluruskan kembali pikirannya dan akan memukulkan jidatnya dengan keras ke meja sampai terasa sakit. Atau sampai bayangan akan pria itu menyingkir dari kepalanya.
Demi Tuhan kalau ini terus berlanjut, maka upaya untuk mendapat kelemahan pria itu dan membuatnya menyesali apa yang sudah dilakukannya dengan Voice tinggal ambisi tidak tuntas belaka. Doyoung tidak mau itu.
"Hei jangan lakukan itu, nanti kau terluka."
Sebuah suara segera menarik Doyoung kembali menuju kesadarannya. Dia mengangkat kepala untuk melihat siapa yang baru saja masuk tanpa dia sadari dan bertemu dengan Jung Jaehyun yang memandang khawatir ke arahnya. Eng Jung Jaehyun yang tiba-tiba tidak lagi memakai jasnya?
"Ah jadi dia benar-benar membuatmu jadi sekretaris pribadinya ya," ujar Jaehyun seraya tertawa.
Alis Doyoung menukik tajam mendengarnya. Apa-apaan?
"Ah aku bukan Jaehyun. Kalau itu yang sedang kau pikirkan," kata pria itu lagi. Dan dia tersenyum cerah sampai-sampai rasanya mata Doyoung terasa silau memandangnya ―kiasan. "Aku adik kembarnya. Eunwoo."
Ah. Adik kembar. Doyoung membulatkan mulut seraya mengangguk. Mereka memang mirip. Doyoung sama sekali tidak tahu kalau Jung Jaehyun memiliki versi lain yang terlihat lebih ceria dan tidak terlihat seperti dia sedang merencanakan sesuatu yang licik sepanjang hari.
"Ah adik kembar. Apa kau mencari Jaehyun? Biar aku memberitahunya," ujar Doyoung cepat.
Tapi Eunwoo menggelengkan kepala dan tersenyum. Sungguh. Dia sangat banyak tersenyum. Sama seperti kakaknya. Hanya saja yang ini senyumnya terlihat lebih tulus dan tidak dibuat-buat. "Aku ke sini karena ingin menyapamu."
Jawabannya mendapat reaksi tepat seperti yang sudah diprediksi oleh si Jung nomor empat. (Yunho nomor satu, Jaejoong nomor 2, Jaehyun ketiga, dan Eunwoo yang paling muda adalah keempat). Doyoung mengerutkan wajah dan memberinya pandangan bingung. Matanya membesar lucu. Betul-betul seperti kelinci, pikir Eunwoo. Eunwoo kembali berbicara santai, "Tidak usah terlalu dipikirkan. Aku hanya ingin melihatmu lebih jelas."
Tapi perkataannya malah membuat Doyoung semakin memperdalam kerutan keningnya. Malah semakin kepikiran karena dia menyuruhnya untuk tidak memikirkannya. "Lebih jelas? Jadi kau pernah melihatku dengan tidak jelas?"
"Menurutmu?" si adik kembar membalas dengan memberi pertanyaan lain.
"Em aku bertanya Eunwoo-ssi."
"Ah sudahlah," kata Eunwoo. Pemuda itu memutar bola matanya. Memperjelas kalau dia tidak ingin memberi detail lebih banyak tentang kapan dan bagaimana dia melihat Doyoung secara tidak jelas. Itu membuatnya terdengar seperti penguntit.
Lalu tiba-tiba Eunwoo mencondongkan tubuh kepada Doyoung. Membuat pemuda yang lain memundurkan kepala untuk menjaga jarak. "Ngomong-ngomong namanya siapa?"
"Eh? Doyoung."
Eunwoo merotasikan bola matanya. Lagi. "Kalau namamu aku sudah tahu."
"Jadi?"
"Itu. Salah satu dari crushnya Taeyong hyung. Yang lebih kecil."
Doyoung mengerjap bingung untuk beberapa saat. Jadi Taeyong betul-betul mempunyai crush dengan kedua temannya. Yang lebih kecil berarti "Ten maksudmu?"
"Ten?" Eunwoo mengulangi. "Kenapa dia menggunakan angka sebagai namanya?"
Doyoung ingin menjawab dengan sarkastis seperti 'mana kutau? Apa aku terlihat seperti ayah atau ibu yang memberinya nama itu?' namun untuk alasan tertentu mendapati dirinya tidak mampu melakukan hal seperti itu kepada si Jung Jaehyun 'versi lebih baik'. Sebagai gantinya dia hanya mengedik seraya berkata, "Percayalah aku sudah bertanya-tanya selama sepuluh tahun."
"Ah memangnya siapa peduli?" kata Eunwoo lagi kemudian. Dia menarik kembali tubuhnya menjauh dari Doyoung dan tersenyum. Serius. Dia benar-benar suka tersenyum. "Hari ini aku akan pergi ke Voice dan bertemu Ten."
"Untuk apa?" tanya Doyoung. Dalam kepalanya sudah cukup menebak apa yang ingin dilakukan pemuda itu. Nampaknya dia memiliki ketertarikan dengan Ten. Hooh jadi begitu sekarang. Sementara Jaehyun menahan Doyoung di perusahaannya dan menjadikannya kekasih kontrak, adiknya sibuk berkeliaran seperti seorang yang punya banyak waktu luang dan mengejar-ngejar sahabat Doyoung. Ah Doyoung seketika ingat dengan harapan Ten tadi pagi. Katanya dia juga mau mempunyai seorang konglomerat yang memujanya? Oh, jodohmu sedang dalam perjalanan Ten. Tapi sungguh dua bersaudara yang―
"Tentu saja untuk menyelesaikan masalah yang dibuat oleh si Bocah Jaehyun."
―punya kelakuan unik. Eh?
EH?
"Kau akan menyelesaikannya?" Doyoung langsung bertanya dengan semangat begitu menyadari makna kalimat Eunwoo. "Kau akan ke Voice dan menyelesaikan masalah yang dibuat Jaehyun?" Karena kalau menyelesaikannya hanya dengan memberi tahu nama Ten kepadamu, lalu untuk apa aku repot-repot berada di sini?
"Tentu saja itu hanya alasan untuk bertemu Ten hehe."
Doyoung mengabaikan wajah malu-malu dan rona di pipinya. Dia kembali mencecar pertanyaan, "Tapi kau akan menyelesaikannya?"
Melihat wajah penuh harap Doyoung, Eunwoo segera mengoreksi kalimatnya. "Bukan menyelesaikan sih. Lebih ke mengklarifikasi. Membersihkan nama baik Jaehyun yang dicemarinya sendiri?" Eunwoo terdengar tidak yakin. "Yah intinya supaya berita soal dia itu tidak membuat kecemasan masyarakat. Kalau itu memang mencemaskan."
Ah seperti itu. Doyoung mendengus kecewa dan itu membuat Eunwoo tertawa. "Hei jangan memasang wajah kecewa begitu. Tenang saja, ini semua pasti akan berlalu kok. Majalahmu tidak akan bangkrut."
Doyoung masih tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepala dengan lemas.
Lalu Eunwoo berkata lagi, "Kalau begitu aku pergi sekarang ya."
Doyoung mengangkat kepala untuk membalas perkataannya. Tetapi adik Jaehyun itu berbicara terlebih dahulu, "Sampai jumpla lagi," dia tersenyum mencurigakan sebelum melanjutkan. "Kakak ipar."
Apa-apaan?
.
Saat jam istirahat makan siang Jaehyun memanggil Doyoung ke kantornya. Dan Doyoung tidak berhenti mengutuk lelaki itu karena sudah menunda jam makan siang yang sudah dinanti. Rasanya Doyoung tidak bisa bertahan lebih lama di ruangan ber AC yang secara mengejutkan terasa gerah ini. Dasinya serasa mencekik lehernya dan Doyoung betul-betul tidak tahan.
Doyoung mengetuk pintu Jaehyun sebanyak dua kali sebelum dipersilahkan masuk oleh si pemilik ruangan. Dan dia langsung disambut oleh lesung pipi si Presdir begitu menginjakkan kaki di ruangannya. Tipikal.
"Jadi bagaimana hari pertamamu bekerja?" pria itu langsung bertanya tanpa menyapa terlebih dahulu.
Doyoung mengangkat bahu berpura-pura acuh. "Biasa saja. Kecuali bisik-bisik pegawai saat aku ke mesin fotokopi, tidak ada yang istimewa."
Tentu saja ada bisik-bisik. Dan ada cibiran. Doyoung sama sekali tidak heran. Dia tiba-tiba saja dipekerjakan dan menjadi sekretaris Presdir tanpa ada rekomendasi dan gelar yang menjanjikan. Memikirkan ada berapa banyak orang yang menginginkan posisi ini. Terutama para gadis yang jelas-jelas memandang Jaehyun seolah-olah ada gambar hati di mata mereka a.k.a tergila-gila dengan si presdir muda. Tentu saja orang akan mencibir.
"Jangan pedulikan mereka," kata Jaehyun. "Bagaimana rasanya menjadi sekretaris pribadiku?"
"Biasa saja." Jawab Doyoung konsisten.
"Apa kau tidak senang? Kau bisa melihatku lebih lama dari yang biasa bisa kau lihat. Bukankah itu menyenangkan?"
Doyoung sekali lagi mengedikkan bahu.
"Ah padahal aku senang sekali karena bisa mengawasimu sepanjang hari, aku sedih karena perasaan itu hanya sepihak." ujar Jaehyun lagi. Berpura-pura kecewa dalam pandangannya.
Doyoung tidak berhenti bertanya dalam hati, apa lagi yang akan dikatakan oleh Jaehyun untuk membuat jantungnya bekerja seperti workaholic yang suka menyiksa diri sendiri. Karena saat ini, mendengar perkataan Jaehyun membuat jantung Doyoung serasa mau meledak karena detaknya yang terlalu cepat. Apa ini akan terjadi setiap hari? Karena Doyoung rasa mungkin dia tidak akan bertahan lebih dari satu minggu sebelum mencapai ajalnya akibat mulut manis Jaehyun.
Tapi apa yang disampaikan Doyoung berlawanan dengan apa yang ada di dalam hatinya. "Apa kau melakukan ini kepada semua sekretaris pribadimu?"
Pertanyaannya membuat Jaehyun tertegun tak berkata selama beberapa detik. Betul-betul berbeda dari semua incarannya sebelumnya. Sekedar kalimat sama sekali tidak akan memenangkan hati Kim Doyoung. Si Presdir segera menguasai dirinya lagi. Tersenyum dan berbicara, "Tentu saja tidak."
"Benarkah?" tantang Doyoung. "Lalu kenapa melakukannya kepada sekretaris pribadi yang ini?"
"Tentu saja karena kau berbeda dari mereka."
"Berbeda?"
Jaehyun terkekeh dari tempatnya. "Sekretaris-sekretaris sebelumnya tidak ada yang merangkap menjadi kekasihku. Karena itu kau berbeda."
Oh.
Fucking oh. Bagaimana bisa Doyoung melupakan itu?
"Kenapa wajahmu terkejut begitu?" Jaehyun terkekeh lagi. Dia berbicara sambil mempertemukan biji matanya dengan Doyoung dan Doyoung menemui dirinya yang sama sekali tidak kuasa memecah pertumbukan mata itu. Dia hanya berdiri di sana. Menunggu Jaehyun melanjutkan. Dan pria itu melakukannya. "Kita kan sudah setuju kalau kau menjadi kekasihku."
Doyoung sama sekali tidak menjawab.
"Kenapa kau hanya diam di situ? Jangan bilang kau berniat membatalkannya. Karena aku sama sekali tidak akan membiarkan itu terjadi."
Doyoung masih tidak menjawab selama beberapa saat. Dan ruangan itu menjadi begitu hening. Masih saling menatap, tapi kali ini ada kekhawatiran mewarnai pandangan Jaehyun kepadanya. Dia jelas mengantisipasi jawaban Doyoung dan terlihat siap untuk melakukan sesuatu ―Doyoung tidak mau menerka apa― jika mendapat jawaban yang tidak sesuai dengan yang ditunggunya.
Setelah terdiam selama beberapa sekon, akhirnya Doyoung yang pertama memecah hening itu. "Tidak kok," jawabnya.
Baik dari pekerjaan ini untuk membuat Jaehyun membereskan kekacauan di Voice maupun menjadi kekasih kontraknya, Doyoung tidak akan mundur semudah itu.
Dari senyum dan sorot mata Jung Jaehyun, Doyoung tahu kalau dia sudah memberi jawaban yang memuaskan pemuda itu. Tentu saja. Lalu Jaehyun berbicara lagi, "Kalau bagitu apa lagi yang kau tunggu?"
Menimbulkan kebingungan Doyoung. "Hah?"
"Kenapa masih berdiri di situ? Duduklah."
Doyoung menukikkan salah satu alisnya mendengar perintah Jaehyun. Hanya ada satu kursi dalam ruangan itu ―yang sekarang sedang ditempati Jaehyun sendiri― lalu dimana pria itu menyuruh Doyoung untuk duduk? Di lantai? Dia melempar pandangan heran kepada Jaehyun. Apa dia sungguh serius?
Seolah mengerti pertanyaan di balik alis yang berjengit itu, Jaehyun menjawab "Dimana lagi? Tentu saja di sini." sambil menepuk pahanya.
Dan pada detik itu, jantung Doyoung bukannya berdetak dengan keras seperti yang selalu terjadi akibat Jaehyun. Kali ini Doyoung rasa yang terjadi adalah jantungnya berhenti berdetak. Seutuhnya. Terlalu terkejut dengan perintah pria di hadapannya. Tidak ada yang memberitahunya ―bahkan Jaehyun sendiri tidak― kalau hari pertama bekerja berarti hari pertama menjalankan fungsi sebagai kekasih kontrak dan hari pertama untuk melakukan kontak yang terlalu provokatif begitu. Sebenarnya apa yang sedang coba dilakukan Jung Jaehyun?
Jaehyun, di sisi lain, melihat Doyoung yang sama sekali tidak bergerak dari posisinya dan sekarang sedang berwajah seolah-olah baru saja bertemu dengan mayat hidup, mendecakkan lidah tidak sabar. "Kau akan melakukannya atau tidak?" hardiknya.
Barulah Doyoung mengumpulkan suaranya yang seolah mengkhianatinya tadi, "Itu agak…"
Tapi Jaehyun menghentikan kalimatnya dengan menunjukkan telapak tangannya kepada Doyoung. Menyuruhnya berhenti. Seolah memang sudah mengetahui dari awal respon dari Doyoung. Pemuda itu berdiri dari kursinya. Berjalan menuju yang lain dengan langkah percaya diri. Hanya dalam beberapa langkah yang besar dan cepat, Jaehyun sudah mengeliminasi jarak mereka. Dia berdiri di depan Doyoung. Menatap sejajar ke dalam mata si pemuda yang lebih tua dan tersenyum miring.
Doyoung merasa isi kepalanya kosong. Tetapi Jaehyun berbicara tanpa ampun. "Kau sudah setuju menjadi kekasihku, kau tidak akan mundur kan?"
Doyoung menggeleng. Untuk pertanyaan itu, sudah ada jawab pasti. Sama sekali tidak ada niatan dirinya untuk mundur. Tetapi permintaan Jaehyun yang tadi memang agak sedikit terlalu melewati limit. Karena demi Tuhan ini hari pertama mereka menjadi kekasih dan Jaehyun membuatnya terdengar seolah mereka sudah saling mencium atau melakukan kontak fisik secara natural selama ribuan tahun. Dan pemikiran itu membuat Doyoung bergidik. Jaehyun terlalu ahli.
"Kalau begitu kenapa kau tidak bersikap seperti kekasihku?"
Doyoung mengerutkan kening. Hal yang rasanya sudah terlalu banyak dilakukannya hari ini. "Aku tidak yakin apa yang harus kulakukan sebagai kekasihmu," ujarnya ragu. Itu adalah kalimat terpanjang yang dia ucapkan hari ini kepada Jaehyun.
"Apa yang kau lakukan biasa dengan kekasih-kekasihmu dulu?"
"Em kencan?"
Jaehyun memutar bola mata. "Membosankan."
"Menonton berdua?"
"Biasa."
"Makan siang berdua?"
"Kita selalu bisa melakukan itu besok."
Kenapa tidak melakukan sekarang saja? Doyoung ingin berteriak tapi mengurungkan niat itu seraya memberi sugesti lain.
Hingga sepuluh usul dan penolakan mentah dari Jaehyun kemudian, akhirnya Doyoung menyerah dan bertanya, "Lalu apa yang kau ingin aku lakukan?" Meski dia sudah mengetahui jawabannya hanya dari tatapan pria di hadapannya. Matanya sejak awal sudah meneriakkan apa yang dia inginkan. Doyoung hanya berpura-pura bodoh sejak tadi.
"Aku senang akhirnya kau bertanya," Jaehyun berbicara dan seketika udara dalam ruangan itu seperti mengalami kenaikan hebat. Apa AC nya tidak bekerja?
"Aku ingin melakukan ini," kata Jaehyun singkat. Lalu dia tidak berkata apa-apa lagi juga tidak memberi Doyoung kesempatan memberi respon. Dengan cepat dia menarik belakang kepala Doyoung, memajukan kepalanya sendiri dan membiarkan wajah mereka bertemu di tengah. Atau tepatnya bibir mereka yang bertemu.
Doyoung membelalakkan matanya. Sama sekali tidak mengantispasi itu meski sudah tahu kalau Jaehyun akan melakukannya cepat atau lambat. Tapi dia tidak membiarkan keterkejutannya bertahan lama. Perlahan dia menutup mata. Membiarkan Jaehyun bekerja sesuai keinginannya di sana. Karena meski benci mengakuinya, Kim Doyoung juga sudah menginginkan bibir itu sejak lama. Dan walaupun dengan motif menjadi kekasih kontrak serta melaju terlalu kencang di jalur permainan Jaehyun yang sama sekali tidak dia tahu arah pastinya, Doyoung akan menerima apa yang diberikan Jaehyun. Apapun. Oleh sebab itu Doyoung membiarkan bibir Jaehyun menari di atas miliknya. Menggerakkan bibirnya sendiri untuk membalas. Membawa lidahnya berdansa bersama dengan milik Jaehyun. Ciuman itu cepat dan terburu-buru. Menggambarkan dengan jelas rasa lapar Jaehyun akan dirinya. Jadi sejak kapan Jaehyun sudah menginginkan ini? Namun pertanyaan itu tidak diberi kesempatan untuk mendistraksi dirinya terlalu lama. Pada kesempatan ini dia akan membiarkan seluruh dunia menjadi buram di sekitarnya dan hanya pertemuan bibirnya dengan Jaehyunlah satu-satunya yang terasa signifikan saat ini.
Jaehyun menciumnya.
Dan Doyoung menyukainya.
Jaehyun bergerak terlalu cepat.
Doyoung berusaha mengabaikannya.
Dia tidak mengerti sepenuhnya dengan apa yang terjadi. Apa yang dia lakukan dan hasil seperti apa yang akan didapat dari ini. Tapi kakinya sudah terlanjur menapak di atas area pemainan Jaehyun. Meski pria itu menginjak pedal gasnya dengan terlalu kencang, Doyoung tidak akan lari dari sirkuitnya.
.
.
.
TBC
.
.
a.n. aku sudah berdosa dan aku merasa bersalah /bow/ ini beneran deh sungkem sesungkemsungkemnya ke kalian semua karna setelat2nya chapter, blm pernah ada yg setelat aku kan :") tp aku punya pembelaan. kmrn aku udh blg kalo aku bedrest seusai ujian kan ㅋㅋㅋ krn kmrn kesehatanku bener2 drop jd plis maapkan aku gaes /.\
btw aku mau ngucapin makasih buat kalian semua yg ikutan proyek ini, yg udh bikin chapter pendahulu, yg komen, fav, yg bakal melanjutkan habis aku, kalian semua, you rock gaes. Maafkan kalau chapter ini tidak berkenan di hati kalian ㅋㅋㅋ but still, please give this fic lots of love. Dan tetap nantikan kelanjutannya ^^
―sblackpearlnim
