Disclaimer : NCT (c) SM Entertainment
Masquerade
Jung Jaehyun x Kim Doyoung
9
ichinisan1-3
Sebaiknya kita mulai untuk berbicara soal pekerjaan lebih serius. Nah, just kidding. Jaehyun sangat serius tentu saja masalah pekerjaannya. Mungkin memanfaatkan pekerjaannya untuk kepentingan pribadi tidak terdengar seperti sesuatu yang dilakukan profesional. Tapi secara keseluruhan, ia sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Atas operasionalisasi. Peranannya sangatlah krusial untuk ukuran sebuah perusahaan rintisan teristimewa. Operasi, penciptaan budaya perusahaan, sumber daya manusia, perekrutan tenaga kerja, pemutusan relasi, dan tanggung jawab tinggi lainnya. Sejauh ini ia selalu menjalankan mandat dengan baik.
Sangat jarang ia mendelegasikan tugas kepemimpinan yang kurang ia kuasai pada Joy selaku Chief Revenue Officer atau CRO. Bukan tidak percaya pada orang-orang yang mestinya jadi kaki-tangannya, tapi terkadang ia sering merasa lebih nyaman untuk mengerjakan hal-hal yang menurutnya penting dengan tangannya sendiri. Tentu, ia mengerti kalau kemudian itu terlihat egois dari sisi lain. Tapi, siapa peduli?
Kaki-kaki panjang gadis itu membuat dirinya terlihat mencolok, terlebih karena ia adalah satu-satunya manusia yang berdiri di dalam ruangan. Akan jadi penghinaan besar jika ia tidak menjadi pusat perhatian, mengingat ia yang kini sedang berbicara di depan mereka yang menghadiri rapat.
Rapat besar yang dihadiri para petinggi dari beberapa perusahaan membutuhkan ruangan besar. Dan seperti itulah meeting room Jung Corp. tidak hanya luas, namun juga mewah. Dengan lantai berlapis permadani cokelat gelap, kapasitas 30 kursi, 3 d-light motorized screen, speaker besar di setiap sudut ruangan seperti home theatre, dan 1 layar sentuh transparan.
Sebuah rapat tidak harus selalu mencakup lebih dari 100 partisipan untuk bisa dikatakan skala besar. Yang menentukan adalah jenis dan konten rapat itu sendiri.
Joy berdiri di antara dua layar yang menampilkan grafik hasil sorotan cahaya proyektor.
"Kami membuka sesi tanya-jawab terakhir. Atau barangkali saran untuk strategi penaikan kembali profit?" sang CRO berbicara pada para investor, relasi, dan sponsor yang hadir di sana. Hanya cukup memfokuskan pandangan pada satu arah, karena jangka pandang ekor matanya dapat menangkap lebih dari dinding yang membatasi ruangan itu.
Ia mempersilahkan seorang pria representatif dari Jones Inc untuk berbicara begitu ia mengangkat tangan.
"Dalam kasus infrastruktur, apakah pengaplikasian desentralisasi pada Jung Corp akan merealisasikan influens? Likuiditas tidak harus selalu mengusung konsep seperti hukum rimba."
Singkat, padat. Dan rumit. Cukup relevan sebagai topik penutup.
Itu bukanlah jenis pertanyaan yang dapat dijawab dengan mudah oleh pebisnis biasa. Karena implikasi sesungguhnya dari pertanyaan itu memiliki konteks berbeda. Beberapa perwakilan dari perusahaan yang baru mengenal Jaehyun, bahkan sedikit ragu apakah CEO berwajah rupawan itu akan bisa menjelaskannya? Karena 96 persen dari semua orang yang hadir di sana tidak mengetahui jawabannya.
Jaehyun menyemat senyum santai. Sesantai ia menjawab.
"Begini," ia mengedarkan pandangan pada seluruh audiens, karena pertanyaan dari satu orang barusan mewakili kepentingan semua pihak. Jaehyun tidak perlu mencondongkan tubuh untuk mendekatkan bibir pada microphonekecil di hadapannya. Mic dengan harga di atas rata-rata itu begitu sensitif, sehingga dapat menangkap suara sekecil apapun, "Anda semua tentu tidak mengantisipasi factoring. Akan terlihat perbedaan signifikan jika terjadi inflasi. Kita ambil trade credit sebagai sample. Semua itu konstan…" dan bla... bla... bla... mengalir uraian panjang soal berbagai tetek bengek permasalahan infrastruktur, formalitas birokrasi perusahaan dan berbagai hal lainnya tentang bisnis ini.
Ya, sesuai dugaan. Ia selalu bisa menjawab dengan baik. Maksudnya, kau tidak main-main dengan pemilik gelar Master di bidang bisnis dan politik.
Dan seperti inilah sebagian kecil isi pertemuan ini. Selalu ada banyak pertanyaan seputar perusahaan yang diajukan pada Jaehyun. Dan setelahnya CEO Jung yang menempati tempat duduk utama itu akan menanggapi dengan penjelasan memuaskan selama kurang lebih lima menit.
"Untuk selanjutnya, Tuan Kim Doyoung selaku sekretaris Tuan Jung akan membacakan konklusi dari pertemuan hari ini. Silahkan Tuan." Joy kembali mempersilahkan. Tak lupa ia membuat gesture agar pemuda yang baru disebut namanya itu untuk mulai bicara.
Doyoung yang duduk tidak jauh dari sang CEO itu melumasi tenggorokan sebelum menjelaskan, "Baiklah, konklusi untuk hari ini. Persentase penurunan income dibandingkan bulan sebelumnya. Kata 'bersaing' sebenarnya kurang tepat untuk mendeskripsikan perusahaan kami. Karena bersama perusahaan lainnya, kami berpacu dengan kecepatan yang sama, untuk tujuan yang sama. Rencana pembangunan cabang di Gwangju atau Chungnam. Memulai sebuah kerjasama baru dengan para investor dari Jones Inc, Johnams Group, dan Nonesuch Company; Relasi dari Bank Wells Fargo, Rumah Sakit Internasional Hover, Universitas Swasta Internasional Cheeseparing, dan Harrison Bennett Entertainment; dan sponsor dari LG, Hyundai, dan VISA, yang telah hadir di sini. Membagi laba kepada masing-masing perusahaan yang menaruh saham." Ia sedikit mengangguk pada audiens, sebagai tanda akhir pembacaan dengan beberapa tarikan nafas itu.
Jaehyun memperhatikan dengan seksama kata perkata yang keluar dari mulut sekretarisnya tentu saja. Lagipula dia tetap seorang bos yang harus memastikan pekerjaan bawahannya dilakukan dengan baik.
Tapi masalah lainnya adalah masalah pribadi. Hal-hal personal seperti pertanyaan, Oh! Jaehyun melakukan gerakan alis itu lagi! Bagaimana sebuah alis bisa terlihat begitu indah? Dan ia seharusnya berhenti menggigit bibir bawahnya karena nervous, lihat sekarang bibirnya merah dan terlihat –Apa istilahnya? Plum? Ya. Plum. Jadi Jaehyun selalu profesional dan bertanggung jawab atas pekerjaannya. Tapi di bawah itu, ia punya sedikit gambaran-gambaran sensual tentang apa yang ia ingin lakukan pada bibir kemerahan sekretarisnya.
"Terima kasih Tuan Kim." Lamunan dan konsentrasi Jaehyun tersibak suara mengalun Joy.
Joy dan Doyoung saling melempar senyum formal. Gadis itu lalu kembali sedikit mengedarkan bola mata, "Rapat berikutnya akan dilaksanakan minggu depan pada pukul satu siang, untuk perihal pengikatan kontrak dan kota yang akan dijadikan sebagai lokasi untuk membangun cabang sebagai aset baru penanaman saham."
Sematan senyum serupa ia lemparkan pada sang pimpinan utama yang dibalas setara, "Terima kasih kepada Tuan Jung Jaehyun selaku Chief Executive Officer atas strateginya yang luar biasa pada pemasaran, pendanaan, penjualan, dan public relation. Telah menjadi pembicara selama 30 menit dan menjawab semua pertanyaan dari peserta rapat dengan detail dan memuaskan. Dan terima kasih kepada seluruh perwakilan pimpinan besar dari perusahaan-perusahaan yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri dan berdiskusi bersama dalam rapat besar ini. Semoga kita dapat segera menyelesaikan konflik dari follow-up yang telah ditentukan. Kami, segenap kru dari Jung Corp juga berterima kasih atas perhatian dan kerjasama anda sekalian. Saya cukupkan pertemuan sampai di sini. Selamat sore, dan sampai jumpa minggu depan."
Tanpa diminta, riuh tepuk tangan terdengar membahana di dalam ruang rapat yang dihadiri lebih dari 20 partisipan itu. Jaehyun menenggak habis segelas air mineral di atas meja. Menjadi salah satu pembicara utama telah menguapkan lebih banyak cairan tubuhnya dari biasanya. Dia harus lebih banyak minum air mineral mengingat hal terakhir yang dibutuhkan perusahaannya adalah ia yang dehidrasi atau terkena sakit ginjal karena terlalu kelelahan bekerja di depan komputer, duduk berjam-jam tanpa pergerakan juga dapat membuat tubuhmu lelah.
Satu-persatu pria dan wanita berpakaian perlente meninggalkan ruangan, setelah melakukan jabat tangan dengan Jaehyun dan seluruh perwakilan pimpinan perusahaan berbadan hukum yang memiliki banyak perusahaan di bawahnya itu. Jadi Jaehyun berusaha melakukan yang terbaik untuk selalu menampakkan senyum profesionalnya, seperti boneka Ken? Tidak, tentu ia tidak merasa sangat mirip atau bagaimana dengan boneka pria pasanganBarbie itu. Tapi ia terkadang merasa seperti Ken, merasa harus menahan senyum menawan setiap saat. Senyum terprogram.
Terkadang ia berharap untuk lebih terlihat seperti Penguin of Madagascar. Terlihat lucu dan menggemaskan.
Berbicara soal lucu dan menggemaskan, kembali ke bibir sekretarisnya yang merah dan plum. Entahlah, itu tidak ada hubungannya, tapi Jaehyun baru saja memaksa kerja otaknya. Tentu ia diperbolehkan untuk setidaknya membayangkan sesuatu yang 'iya-iya' dengan bibir itu. Lagi. Ia sudah merasakannya. Jadi bayangan itu semakin kuat.
Jaehyun menjadi sosok terakhir yang meninggalkan ruangan, diikuti sang sekretaris yang berjalan beriringan dengan iPad di tangan. Menggunakan lift menuju lantai di mana ruangan kantor Jaehyun berada.
Bicara dari sisi Doyoung. Sesuatu juga terjadi pada pemuda itu. Ada spark kecil. Suatu perasaan yang tidak ia perhatikan sebelumnya bisa ia rasakan terhadap bosnya ini. Sejak pintu lift menutup dan meyakini hanya ada mereka berdua –dan kamera CCTV yang mengawasi setiap detail gerak-gerik mereka tentu saja, ia tidak bisa berhenti menatap Jaehyun yang bahkan tidak memutar otot leher untuk menoleh padanya sedikitpun di sampingnya.
Itu adalah sebuah tatapan kagum.
Yang merasa diperhatikan akhirnya menoleh. Entah saraf refleks Doyoung yang tidak bekerja, atau ia memang tidak keberatan ditatap balik seperti itu. Sungguh, ia merasa tidak perlu. Ia tidak merasa menjadi maling yang ketahuan mencuri-curi, lagipula. Ia melakukannya terang-terangan.
"Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, Tuan Kim?" suara Jaehyun kelewat profesional tentu saja untuk seseorang yang memikirkan bibir sekretarisnya sambil menjelaskan tentang profit perusahaan kepada koleganya.
Di sisi lain. Bukannya langsung menjawab, Doyoung malah terus menatap mata sang lawan bicara. Alhasil, ada sekitar sepuluh detik penuh pertarungan tatap-tatapan di antara keduanya. Sampai akhirnya Jaehyun mengernyit. Mengalah karena tidak melihat ada keuntungan yang bisa dihasilkan dari pertarungan kecil ini.
"Hei. Kenapa kau menatapku seperti itu? Ada yang salah denganku?" suara Jaehyun tidak keluar seperti seseorang yang khawatir jika benar-benar ada yang salah dengannya. Lebih terkesan seperti menantang untuk menunjukkan apa yang bisa salah soal dirinya.
Dan ngomong-ngomong soal pertanyaan terakhir Jaehyun tentang apa ada yang salah dengannya, jawabannya adalah, ya. Terlalu banyak. Hingga Doyoung justru menganggap itu sebagai hal natural yang tidak perlu dipertanyakan ulang. Apakah Jaehyun kurang berkaca? Sepertinya Doyoung baru saja mendapat ide untuk memberi kekasihnya sebuah cermin besar sebagai hadiah ulang tahunnya kelak.
"Atau… ada sesuatu di wajahku?" Jaehyun menangkup kedua pipi tembamnya sendiri. Jung Eunwoo akan segera mencari toilet untuk segera memuntahkan isi perut jika melihat itu. Namun orang lain normalnya termasuk Doyoung tentu menganggap itu adalah hal menggemaskan. Terlalu menggemaskan untuk ukuran seorang pemimpin perusahaan besar yang berwibawa setiap kali memimpin rapat.
Ya, ada sesuatu di wajah tampan luar biasa sempurna (Doyoung tidak bisa berpikir lebih lagi tentang ini, penggambaran visualnya sudah sangat maksimal) bosnya itu. Tepatnya pada iris mata cokelat gelapnya. Doyoung melihat refleksi wajahnya di sana.
Sejenak ia berharap bahwa ia akan selalu berada di sana. Sejenak ia berharap bahwa yang selalu mata Jaehyun tuju adalah dirinya.
Sedikit yang ia tahu, Jaehyun mungkin tidak setiap saat menatap dirinya. Tapi bosnya itu menatapnya sekali, lalu sekali lagi. Dan kemudian sibuk membayangkan dirinya sepanjang waktu di sela-sela hal penting lain yang seharusnya dipikirkan sinapsis otaknya.
Satu dentingan yang menandakan mereka sampai, menyadarkan keduanya. Pintu lift terbuka.
Jaehyun menarik kedua sudut bibir yang membentuk ukiran memabukkan. Ia menepuk bahu sang sekretaris, "Kau bisa mengungkapkannya di ruanganku."
Hanya memerlukan beberapa langkah lebar, mereka sampai. Jaehyun mendudukkan diri di atas singgasana. Doyoung berdiri di hadapannya setelah menutup pintu dan menyusul langkah.
Jaehyun mengangkat sebelah alis, "Jadi?"
Doyoung bepikir soal dignitas dirinya dan berpikir untuk tidak mengatakan apa-apa. Tapi apa salahnya mem-boosting self esteem bosnya ini sampai meroket? Ia kembali membasahi tenggorokan setelah tegukan terakhirnya sebelum membacakan konklusi di ruang rapat tadi.
"Penampilanmu sungguh menawan Tuan Jung. Ini adalah perdana bagiku untuk menyaksikan secara langsung rapat sebesar itu. Aku tahu tanggung jawabmu adalah yang terbesar. Tapi aku tidak pernah menerka bahwa tidak sesederhana itu kau menjalankannya. Kau bisa membuat semuanya terkendali. Kau terlalu intelek hingga ada beberapa baris kalimat yang tidak aku mengerti. Entah karena aku yang masih harus banyak belajar, atau-"
"Kau benar," kalimat Jaehyun menginterupsi. Membuat Doyoung tersadar bahwa ia baru saja menunjukkan betapa banyak hal mengganjal dalam keterdiamannya di dalam lift tadi, "Kau memang perlu banyak belajar. Itulah sebabnya kau harus berada di dekatku."
Kalimat itu…
Semakin membuat perasaan Doyoung campur aduk. Antara membencinya, atau merasa semakin menginginkannya. Segala jenis pemikiran baik dan buruk berkecamuk. Serahkan padaku untuk memberikan pujian pada seorang narsistik macam manusia satu ini...
Dan detik ketika Doyoung berpikir ulang untuk menarik ucapannya dan mulai balik memaki bosnya itu.
"Dan terima kasih." Jaehyun tiba-tiba sedikit melunak ekspresinya. Bukan wajah tampan nan angkuh dan berwibawa seperti biasanya.
"Eh?" apa yang baru saja Jaehyun ucapkan kembali menyadarkan Doyoung dari lamunan pendek lainnya.
"Kau bukanlah orang pertama yang memberikan jenis pujian seperti itu padaku. Namun untuk yang ini aku merasa sangat tersanjung. Ingat? Kau itu istimewa." Jaehyun sama sekali tidak terganggu soal itu. The whole you're the special one for me, biasanya membuat manusia normal merasa harus bersikap malu-malu untuk mengatakannya. Tapi Jaehyun sama sekali tidak terlihat awkward soal hal tersebut.
Doyoung semakin mengeratkan sentuhan telapak tangan kanan pada pergelangan tangan lainnya.
"Kau bukan orang pertama yang menempati kursi di dekatku ketika rapat. Tapi seperti halnya aku, kau juga memberikan penampilan terbaikmu petang ini. Bahkan aku sedikit terkejut. Caramu berbicara itu lebih dari apa yang aku ekspektasikan. Memang masih beberapa tingkat di bawah kecakapan Nona Kim Minkyung, tapi untuk ukuran seseorang tanpa pengalaman di bidang itu, kau benar-benar hebat." Tanpa sadar Jaehyun membuka forum evaluasi pribadi, "Kinerjamu selama kau di sini membuktikan bahwa tidak hanya wanita yang memiliki sifat multi-tasking. Kau bisa memfokuskan diri tidak hanya pada satu hal saja."
Beberapa baris kalimat panjang itu membuat Doyoung merona, "Terima kasih. Kau yang telah mengajarkanku sebelumnya."
"Satu hal lagi. Sebenarnya apa yang aku lakukan tadi tidaklah seberapa. Bukannya sombong, tapi menurutku karena ini adalah pertama kalinya bagimu, maka kau melihatnya sebagai hal besar. Seiring berjalannya waktu, kau akan terbiasa dan akan menganggapnya biasa saja. Sekali lagi terima kasih atas kerjasamamu. Kuharap selanjutnya kau akan berkembang menjadi lebih baik dan membantu memajukan perusahaan ini dengan baik."
Tentu. Lalu kapan kau akan memperbaiki kekacauan yang kau lakukan pada perusahaan majalahku?
Dan lagi, apa saja yang dilakukan Jung Eunwoo selama beberapa hari ini? Tentang dirinya yang akan mengklarifikasi?
"Jam kerja telah berakhir. Aku sempat meninggalkan berkas-berkas berita acara yang harus kutandatangani tadi. Aku ingin kau menyimpannya di atas mejaku besok pagi bersamaan dengan terhidangnya secangkir kopi buatanmu."
Doyoung melakukan inspirasi. Menghembuskan nafas dengan cara yang dibuat selega mungkin.
Seperti yang pernah dikatakan saudara kembar sang kekasih beberapa hari yang lalu. Voice tidak akan dibubarkan. Semuanya akan berjalan dengan baik. Ia hanya perlu mengalir mengikuti alur yang dibawa pimpinannya ini.
"Aku mengerti."
.
Bruk!
"Argh!" suara dua orang memekik nyaris bersamaan.
Doyoung yang kurang berhati-hati sepulang dari kantornya ini. Ia habis melompat dari dalam bis dan sedikit berlari dengan kecepatan semakin kecil sebagai residu lompatannya. Dan tabrakan dengan seorang pria bertubuh jauh lebih tinggi darinya yang sedang meluncur menggunakan skateboard itu tak terelakkan. Seluruh bagian belakang tubuh Doyoung membentur trotoar dengan cukup keras. Penderitaannya semakin bertambah karena pria tinggi itu menindih tubuhnya. Sial sekali nasib pegawai Jung Corp itu. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Tidak, dalam kasus ini, tertimpa tiang.
Terbenamnya matahari dan pohon papyrus di depan toko kecantikan menjadi saksi atas jarak 10 senti di antara wajah mereka.
"Rowoon! / Doyoung!" keduanya berteriak bersamaan. Tubuh mereka menempel sehingga mereka merasakan dentuman kurang ajar jantung satu sama lain. Menunjukkan betapa baiknya kinerja pompa salah satu alat vital mereka. Yang sedang bekerja tidak baik adalah alat vital Doyoung yang lain. Paru-parunya.
Ia berusaha mendorong tubuh pria yang –tidak sengaja menindihnya itu, "Menyingkirlah dari atasku Kim Seokwoo… hhh… aku tidak bisa bernafas…" namun tubuh pria itu terlalu berat. Tidak masalah, pria jangkung yang akrab disapa Rowoon itu memang sudah memiliki inisiatif untuk bangkit. Ia membawa tubuhnya menjauh dari sentuhan fisik yang terlalu menempel itu. Kemudian membantu teman sekelas semasa SMA-nya itu untuk bangun.
Ia membantu Doyoung menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya yang kotor.
Doyoung mencengkeram pergelangan tangan Rowoon untuk menahan, "Kenapa dari beberapa bagian tubuhku, harus bokongku yang kau tepuk-tepuk? Kau tidak lihat aku merasa kesulitan untuk membersihkan punggung?"
Rowoon menarik tangannya agar sentuhan itu terlepas, "Refleks." Pria itu memungut papan seluncurnya dan mengapitnya di antara trisep dan tulang pinggul.
Doyoung membungkuk untuk meraih tas kerja yang tergeletak di atas beton, "Kau memiliki spontanitas yang sama buruknya dengan nilai-nilai kuis sosiologimu."
Rowoon terkekeh, "Kau masih ingat saja. Lama tidak berjumpa, Kim Doyoung."
Spontan Doyoung ikut tertawa kecil, "Benar. Kau sudah besar ya sekarang." Mereka lalu melakukan bro-fist seperti apa yang selalu mereka lakukan setiap kali bertemu.
"Aku memang sudah besar dari dulu." Ujar Rowoon yang sedikit berteriak seakan jika nada suaranya lebih tinggi ia akan mendapatkan lebih banyak pembenaran dari pernyataannya barusan.
"Apanya yang besar? Auw!" Doyoung meringis setelah merasa geli sendiri dengan godaan garingnya. Barusan itu si pria jangkung menjitak kepala Doyoung yang tingginya hanya sebatas bibirnya. Jika dibandingkan, Doyoung memang mudah ditindas dengan ukuran tubuhnya itu. Sebenarnya Doyoung memiliki tubuh yang tinggi. Di atas rata-rata tinggi badan pria Korea malah. Namun tubuh temannya, entah harus dikatakan bagaimana.
"Tentu saja badanku. Memangnya apa lagi? Nafsu makanku? Hahaha. Kalau yang satu itu sih tidak usah ditanya." Rowoon menepuk dadanya bangga, teman lamanya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat bahwa kebanggan anak ini masih berkutat pada alasan-alasan tidak penting.
Mereka bercakap-cakap basa-basi untuk beberapa saat. Akan ada pertanyaan-pertanyaan seperti kau kerja di mana sekarang? Sudah menikah atau belum? Sudah punya rumah? Kau sudah membayar hutangmu pada bibi kantin sekolah? Sudah punya pacar? Oh, kau punya, berapa kali seminggu kau melakukan seks? Hal-hal 'normal' semacam itu. Tapi mereka merasa lebih menyenangkan untuk bicara di tempat lain, jadi selanjutnya pemain olahraga ekstrim itu menerima ajakan Doyoung untuk mampir ke apartemennya. Hanya perlu berjalan melewati tiga blok, dan mereka sampai.
Di ruang tengah rumah yang terletak di lantai lima itu, mereka melakukan hal normal sebagaimana yang biasanya dilakukan tamu dan penghuni rumah. Duduk berhadapan di atas sofa dengan minuman terhidang di atas meja. Melakukan obrolan ringan. 10 tahun tidak melakukan interaksi, mereka memiliki begitu banyak topik yang ingin dibagi.
"Zuho batal menerima ajakanku ke Michigan untuk menonton konser FT Island hanya karena ia akan menghabiskan masa cutinya bersama kekasihnya. Seulgi sialan. Sama sialannya dengannya. Aku jadi meragukan statusnya sebagai teman dekat sejak sekolah. Gadis itu sangat beruntung. Tapi aku yang jadi tidak beruntung."
Doyoung memutar bola mata. Merasa jengah meskipun topik menyebalkan ini belum lama dibawakan. Karena apa yang selalu menjadi pembahasan Rowoon itu tipikal. Itu bukan seperti Rowoon tidak pernah meninggalkan Zuho untuk bermesraan dengan kekasihnya ketika ia sedang memacari seseorang. Kadang Doyoung tidak habis pikir bagaimana Zuho bisa keep up dengan semua sikap posesif Rowoon dari dulu hingga sekarang.
Ya, Doyoung mungkin sekarang punya bos merangkap kekasih yang menyerempet ke arah posesif. Tapi terkadang sekedar menyebut Rowoon posesif? Understatement of the century.
"Kalian selalu begitu dari dulu. Zuho yang pecinta wanita. Dan kau yang selalu berlebihan menanggapinya. Ya ampun. Kau benar-benar mencintai band itu hingga mengejar mereka ke Amerika. Kupikir menyaksikan live performance mereka di studio acara-acara musik di sini saja bisa membuatmu cukup bosan." Dan kehabisan uang tentu saja. Doyoung juga punya beberapa musisi favorit dan terkadang membeli karya mereka saja sudah cukup menguras isi dompet.
"Tidak. Aku tidak boleh melewatkan penampilan mereka satu detikpun." Rowoon bukan hanya punya rasa posesif hebat pada sahabatnya tapi juga obsesi luar biasa pada band favoritnya itu. Perasaan yang diberikannya pada sesuatu bisa jadi sangat luar biasa.
"Kenapa kau tidak mengajak kakakmu saja kalau begitu? Kukira ia selalu mengerti apa yang adik 'kecil'nya ini butuhkan?" Doyoung sedikit berdiri hanya untuk meraih dan mengacak rambut Rowoon di seberang, sekedar untuk mendapatkan death glare dari Rowoon yang kesal.
"Tidak bisa. Inseong Hyung sudah menikah. Ia sudah tidak sebebas dulu, untuk menghabiskan banyak waktu bersamaku meskipun itu hanya akhir pekan."
Doyoung mengernyit, oh, ada sedikit perubahan rupanya. Rowoon bisa menerima keputusan kakaknya soal prioritas. Menarik.
"Mereka memiliki prioritas. Kau harus memakluminya." Ujar Doyoung.
Rowoon mendesah sambil mengangguk, "Tentu saja aku memahaminya. Tapi bagaimana denganku? Kan sayang sekali tiket yang sudah kubeli mahal-mahal ini tidak berguna."
Doyoung mengedik acuh, "Ya… ajaklah pacarmu."
"Aku tidak punya pacar." Rowoon mendesah lebih panjang lagi. Bahunya makin turun.
Jeda berdetik-detik mengisi keheningan. Lalu wajah Rowoon berbinar menandakan ia baru saja mendapat sebuah ilham luar biasa dari pemilik jagat raya. Lalu Doyoung melihat Rowoon berpindah tempat duduk ke sampingnya.
Doyoung, just simply feels something bad's gonna happen now.
"Bagaimana kalau kau yang menggantikan Zuho? Terbanglah bersamaku ke Michigan Kim Doyoung. Sekalian berkencan denganku di sana. Aku akan memuaskanmu." Langsung dengan tatapan puppy eyes dan tangannya yang menggelayut di bahu Doyoung.
Doyoung sedikit memundurkan wajahnya dari wajah excited Rowoon. Apakah teman lamanya ini baru saja mengajaknya berkencan? Lebih dari itu, ke Amerika?
"Kebetulan gedung konsernya terletak di dekat perbatasan Kanada. Jadi kita bisa sekalian berwisata ke Menara CN, air terjun Niagara, dan pegunungan Rocky. Hanya tinggal menggunakan subway dan menyewa mobil untuk sampai di sana."
Hal lain yang ia ingat tentang Doyoung adalah Doyoung pernah bercerita di kelas bahwa ia ingin sekali pergi ke tempat-tempat itu. Jadi, apakah Doyoung akan dengan mudah menolak? Hei, ini kesempatan jalan-jalan ke tempat-tempat wisata impiannya. Dan gratis. Sebagai seseorang yang berkecimpung dalam lomba perbisnisan liberal yang kejam, itu tentu bukan sesuatu yang patut dilewatkan.
"Tapi-"
"Aku akan menanggung biaya akomodasimu 100 persen. Kau boleh mengajakku berkunjung ke tempat manapun di sana. Kau boleh membeli apapun di sana. Semuanya aku yang bayar."
Sungguh, temannya ini kenapa? Kenapa bisa seantusias ini? Doyoung bahkan belum menjawab. Namun dari sorot matanya, Rowoon benar-benar terlihat berharap. Memang ia punya uang sebanyak itu? Setahu Doyoung, temannya ini hanya menjalankan usaha penyewaan studio musik band. Penghasilannya kan tidak seberapa.
Ia benar-benar ingin berkencan dengannya, atau hanya karena ia tidak mau tiket konser itu mubazir? Terlebih, tadi ia bilang menggantikan Zuho? Jadi Doyoung hanya pelarian?
"Maafkan aku Rowoon. Aku tidak bisa." Nada sesal terdengar jelas mengiringi kalimat itu.
Spontan Rowoon menampilkan raut kecewa, "Kenapa?"
"Aku sedang berkencan." Doyoung tidak percaya barusan ia mengatakan itu.
Pupus sudah rencana dadakan Rowoon untuk memberi judul '14 Hari di Amerika Bersama Kim Doyoung. Just Both of Us ALONE'. Tiga variabel itu sudah bisa menjadi pengganti judul skripsi Rowoon beberapa tahun yang lalu, jika saja ia bisa memutar waktu. Dan jika saja sesuai dengan prodi yang ia ambil.
Rowoon bisa menjanjikannya pergi ke Amerika secara cuma-cuma. Namun Jaehyun, ia bisa menjanjikannya pergi keliling dunia.
Tapi bukan itu alasan utama Doyoung.
"Makanya aku tidak bisa. Karena akan terlihat tidak baik." Nada penyesalan itu masih tersisa.
"Kita pergi sebagai teman? Tidak bisa?" dan Rowoon masih berharap.
Doyoung menggeleng lemah, "Tidak bisa."
Rowoon melihat bayangan seseorang dalam wajah Doyoung. Wajah orang yang sama, namun 10 tahun lebih muda.
"Kim Seokwoo?" Doyoung mencoba memanggil pria yang tiba-tiba terlihat melamun di depannya itu. Tatapannya hampa.
"Kim Seokwoo, ayo kita ke perpustakaan bersama-sama. Gongmyung Hyung bilang para alumni yang baru saja lulus minggu kemarin mendonasikan banyak sekali buku menarik. Siapa tahu kau mengubah cita-citamu menjadi seorang jurnalis juga seperti aku."
Ia tidak sedang sendiri. Namun sosok yang duduk di hadapannya jelas-jelas sudah bukan murid kelas tiga SMA lagi. Hanya saja tiba-tiba wajah Doyoung yang sekarang meremajakan ingatannya. Tentang masa-masa pertemanan yang indah semasa sekolah.
"Bolehkah aku tahu siapa teman kencanmu? Apakah aku mengenalnya?" ia mencoba untuk tidak terlihat kecewa. Dan kekecewaan yang ditunjukkan wajahnya terlalu jelas.
Namun Doyoung berpura-pura untuk tidak menyadari rasa kecewa itu, "Bisa jadi. Tapi… apakah aku harus mengatakannya padamu?"
"Kenapa tidak? Kita masih berada dalam sesi berbagi cerita kan?" pemuda itu kembali dengan ekspresi cerianya dalam waktu beberapa detik. Doyoung tidak yakin antara apakah ia memang punya sedikit tendensi berubah-ubah mood dalam waktu singkat atau ia hanya berpura-pura.
Yang manapun ia mengambilnya sebagai jalan keluar untuk situasi awkward barusan.
"Ya…" ujar Doyoung masih sedikit tidak yakin apa ia ingin membagi cerita ini.
"Siapa namanya? Dan siapa dia?"
"Jung Jaehyun. Dari Jung Corp. Ia-"
"Wow. Jung Jaehyun dari Jung Corp? Tentu saja aku tahu. Wajahnya pernah menghiasi sampul majalah bisnis internasional 'CEO'. Ia membagi tips 'How to Perfect the Art of Criticism' ala sudut pandangnya." Rowoon tidak tinggal di dalam gua, terima kasih banyak. Jadi tentu ia tahu soal pengusaha muda itu.
Baiklah, Rowoon ternyata mengenal Jaehyun. Jadi Doyoung tidak perlu menjelaskan lagi lebih jauh kan?
"Aku tidak tahu kau memiliki ketertarikan untuk membaca majalah berbau perusahaan seperti itu. Kau ingin bekerja di tempat semacam begitu?" jadi ia mengalihkan pembicaraan soal minat kerja Rowoon seketika itu juga. Ia tidak begitu tertarik untuk membicarakan bos slash kekasihnya itu dengan teman lamanya saat ini.
Rowoon mengedikkan bahu, "Tidak juga. Aku hanya tidak sengaja menemukan majalah itu di bookshelf ruang tengah rumah Inseong Hyung."
Tapi ujung-ujunganya kau baca juga kan? Kalau tidak tertarik, mana mungkin kau sudi membuka-buka buku itu…
"Aku mengaguminya. Setiap deretan kalimatnya adalah motivasi dan inspirasi bagiku untuk bisa berpikir lebih kritis dan membangun usaha menjadi lebih baik. Aku benar-benar merasakan pengaruh kata-katanya dalam diriku." Tidak biasanya Rowoon tedengar benar-benar terpesona tentang seseorang. Biasanya ia berkata bahwa para motivator muda cuma orang-orang beruntung yang kebetulan sudah punya modal banyak karena orang tuanya memang kaya.
Aku tahu itu. Jung Jaehyun memang cerdas… dan ya, itu, dia bekharisma. Sialnya... pikir Doyoung yang akhir-akhir ini dibuat galau antara untuk merasa jijik melihat bosnya atau merasa kagum.
"Benarkah?" ia berusaha sedikit mengimbangi keantusiasan temannya.
"Tentu. Jika tidak, aku tidak akan memiliki kepercayaan diri setinggi ini untuk menyanggupi segala kebutuhanmu di Amerika."
Oh ayolah. Jangan ungkit lagi. Kau sengaja ingin membuatku semakin merasa bersalah karena menolak ajakanmu?
"Kedengarannya ia hebat sekali. Sampai bisa memberikan pengaruh besar pada seseorang yang sering membolos sekolah sepertimu." Cara ia menanggapi seolah ia tidak lebih tahu banyak tentang kekasihnya.
Rowoon terkekeh, "Kau tahu, kalian sama-sama beruntung dalam hal memiliki pasangan."
Yang benar saja…
"Dari jutaan pemuda di Korea Selatan, kenapa harus kau sih yang berhasil mencuri hatinya?" Rowoon terdengar sedikit sentimentil sekarang.
"Kenapa? Kau mau menjadi pacarnya?" Doyoung tidak cemburu tentu saja. Ia tahu sejak lama banyak yang mengincar bos slash pacarnya itu. Dan ia baik-baik saja soal hal itu. Sudah biasa. Lowkey, mungkin tidak.
"Aku? Tentu saja… tidak." Rowoon mengibaskan tangan, "Kau pasti bercanda." Sekarang wajahnya berekspresi seperti sedikit merinding memikirkan ide yang Doyoung lontarkan barusan.
"Kenapa harus bercanda? Bisa saja kan?" Doyoung tidak tahu kenapa ia malah merasa harus meng-encourage ide ini di kepala temannya?
"Tidak, terima kasih. Tidak perlu seseorang yang wajahnya sudah go international seperti itu. Memilikimu saja sudah membuatku bahagia."
Doyoung menautkan sepasang alis, "Maaf?" Oke. Teman lamanya ini membuatnya bingung sekarang.
"Maksudku, jika aku disuruh memilih. Kalau tidak ada pilihan seperti itu, tentu aku akan memilih untuk mengencani orang lain. Aku sudah mengetahui banyak belangmu. Makanya jangan terlalu percaya diri." Ia sedikit tertawa puas atas leluconnya sendiri. Manipulasi. Begitulah cara ia menelan kekecewaan yang ia dapatkan malam ini.
"Hei! Kalau kau memang memilih untuk berkencan dengan orang lain, lalu kenapa kau mengajakku? Dasar tukang cari pelarian."
"Kenapa kau jadi terlihat tidak terima? Apa sebenarnya kau menyukaiku tapi si Jung itu menjadi penahan?"
"Menyukaimu? Kau mimpi di siang bolong."
"Ini sudah malam. Wajar kan kalau bermimpi?"
"Lupakan."
Jeda berdetik-detik itu terjadi lagi. Sang penghuni membiarkan tamunya menenggak sekaleng soda dingin hingga habis setengahnya. Suara tegukan terdengar begitu jelas di dalam ruangan yang hening.
Rowoon kembali meletakkan kaleng bermotif semangka itu di atas meja, "Apa kau bekerja di perusahaan yang sama dengannya?"
"Ya." Doyoung tidak memerlukan waktu lama untuk menjawab itu.
Sang lawan bicara bertepuk tangan satu kali dan menjentikkan jari, "Jackpot."
"Kau sama saja dengan Ten."
"Lalu kenapa ia tidak mengantarmu pulang menggunakan Mercedes-benz hitam metalik-nya?"
"Sebenarnya sejak Hyundai menjadi sponsor kami, Jaehyun memakai Hyundai Veloster."
"Mana kutahu ia menambah mobil lagi. Aku kan membaca profil lengkap dia di majalah tiga tahun yang lalu." Jelas Rowoon, "Jadi bagaimana? Kenapa kau tidak diantar pulang?"
"Ia memenuhi undangan makan malam."
"Bersama siapa?"
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Karena aku menyukainya. Kau tahu itu." Demi 100 butir mutiara di dashboard mobil Jaehyun, tanpa rasa bersalah Rowoon mengatakan itu pada kekasih Jung Jaehyun sendiri. Pria ini benar-benar terlalu banyak makan sehingga otaknya agak tersumbat.
Namun Doyoung tidak ambil pusing, "Alasan lain?"
"Karena ada beberapa jenis undangan makan malam lainnya yang memungkinkannya untuk membawamu."
Benar juga. Kenapa si brengsek itu tidak mengajakku di acaranya?
"Park Kyungri." Doyoung menjawab pada akhirnya.
"Park Kyungri? Apakah Park Kyungri ini seperti apa yang sedang kupikirkan sekarang?"
"Kalau yang terbesit dalam benakmu adalah seorang aktris sekaligus model cantik, maka kau mendapatkan nilai 100 dariku."
"Makan malam bersama seorang wanita dan membiarkanmu pulang sendirian? Kau tidak curiga pada mereka? Park Kyungri adalah seorang playgirl, to be known. Ia sudah lebih dari 1000 kali berganti pasangan." Jelas Rowoon hiperbolis.
"Mereka tidak sendirian. Ada aktris lainnya dan beberapa kolega Jaehyun."
"Lalu kenapa kau hanya menyebut nama Park Kyungri?"
"Highlight."
"Setidaknya jika ia membiarkanmu pulang sendiri, ia harus membelikan mobil untukmu."
"Itu terlalu berlebihan."
Ketika ia memakai Omega pemberian Jaehyun saja, ia langsung menerima ucapan pedas dari pria Thailand yang sekamar dengannya.
"Voice berada di ambang kehancuran dan kau menerima banyak hadiah mahal dari seseorang yang menjadi penyebab kehancuran itu. Ironis sekali."
Padahal itu hanyalah sebuah jam tangan. Dengan 457 butir berlian 40 karat di atasnya. Dan berbingkai emas. Bukan apa-apa dibandingkan Mercedes lama Jaehyun yang dibeli dengan harga 351,461 Dollar. Sebenarnya Jaehyun tidak mengingat berapa banyak uang yang dihabiskan untuk mobil itu. Dan memang tidak perlu tahu. Karena ia membelinya menggunakan unlimited platinum black card dari salah satu sponsor lainnya.
.
"Makanlah yang banyak nak. Spesial untukmu, aku dan Taeyong yang memasak semua ini dengan tangan kami sendiri." Jung nomor dua –Jaejoong berujar sebelum memasukkan sepotong buffalo jerky ke dalam mulutnya.
Doyoung yang menempati kursi di samping Jung nomor tiga –kekasihnya dan berhadapan dengan Jung nomor empat –adik kekasihnya itu, mengangguk sopan selagi mengukir senyum canggung, "Iya, Eommonim." Ia hanya bisa menyantap perlahan olahan lobster di hadapannya. Salah satu di antara banyaknya masakan Eropa yang terhidang di atas meja kayu bercat hitam mengkilap –hingga merefleksikan cahaya chandelier berlian yang menggantung di langit-langit.
Ia terjebak di tengah-tengah keluarga Jung dengan satu meja penuh makanan sebagai hidangan makan malam. Ruang makan penthouse yang terletak di lantai 50 –lantai teratas apartemen itu full menggunakan kaca tembus pandang tanpa tirai di bagian utara dan barat ruangan sebagai pengganti dinding beton. Doyoung bisa melihat langit hitam dan gemerlap cahaya bintang melatari punggung Jaejoong, Eunwoo, dan Taeyong. Ia juga bisa melihat warna-warni cahaya dari kota. Sementara sekitar lima meter di belakang punggungnya terdapat sebuah perapian.
Ia hanya bisa mengunyah pelan sambil sesekali mencuri pandang ke setiap sudut ruangan di mana setiap detail hal di sana bisa dikagumi dan dinikmati.
"Kenapa dengan wajahmu? Yang sedang kau makan itu buatanku. Aku sudah mengukur tingkat kematangannya. Atau… apakah kau kurang menyukai bumbu sausnya? Katakan saja. Aku akan memperbaikinya lain kali." Ujar Taeyong. Sejauh ini semua orang terlihat baik-baik saja. Tidak ada keluhan. Apa yang membuatnya berpikir bahwa Doyoung merasa masakannya kurang enak? Apa ia pikir lidah seseorang dari kalangan seperti Doyoung memiliki selera yang berbeda?
"Tidak. Masakanmu enak sekali. Buatan Eommonim juga. Semuanya sempurna. Aku seperti memakan masakan ibuku sendiri."
"Anak baik dan pintar. Ayo tambah. Kau tidak tahu kan kapan akan mencicipi masakan kami lagi? Jaehyun, ayo tambahkan lagi quesadillanya untuk Doyoung."
"Tentu Eomma." Jaehyun menyendok makanan legit berselimut tortilla itu menggunakan pizza shovel dan meletakkannya di atas piring Doyoung, "Here you go, honey." Ia menyemat senyum ketika kekasihnya itu menatapnya.
Doyoung beralih tatap pada ibu Jaehyun dan memasang senyum yang sama, "Terima kasih Eommonim."
"Aku tahu kau pasti sangat menyukai masakan Eomma dan Taeyong Hyung. Hanya saja saat ini kau merasa sedikit gugup. Benar begitu, kakak ipar?"
Doyoung sedang menelan daging lobster ketika satu-satunya saudara kandung Jaehyun –yang kukuh mengaku sebagai adik iparnya itu menyebut panggilan itu. Untung saja ia tidak tersedak.
Jaehyun tertawa, "Kau pintar sekali adik. Akhirnya kau bisa melakukan sesuatu yang benar." Untuk kali ini ia sudi menghilangkan kata 'kecil' yang biasanya ia sandingkan pada kata 'adik' setiap kali ia memanggil saudara kembarnya itu. Sedikit reward atas sesuatu yang membuatnya senang.
"Bukannya selama ini kau ya yang suka membuat masalah? Hingga ada salah satu perusahaan relasi Eomma untuk Jung Corp yang terancam dibubarkan?" sindiran telak. Pria yang wajahnya pernah menghiasi sampul majalah bisnis internasional Fast Company itu terlihat puas melihat ekspresi sang kakak setelahnya.
Doyoung merasa dilempar ke dinding berduri mendengar itu. Tidak cukupkah rasa gugupnya membunuh selera makannya? Kenapa adik kekasihnya itu harus mengingatkan konflik itu di saat seperti ini sih?
Sepasang alis Jaehyun berjengit. Ia menggenggam erat garpu di tangan kiri, "Baru saja dipuji. Malah menyangkutpautkan pada masalah lain. Kau tidak punya senjata yang konstan dengan konteks?"
"Aku bahkan tidak mendengar itu sebagi pujian. Dan kau harus mengakui kalau masalah yang terjadi memang karena kesalahanmu. Kesalahan yang disengaja."
Doyoung menatap dumbfounded Jung bersaudara itu bergantian.
Aku tidak melihat perbedaan antara kalangan atas dan menengah ke bawah di saat makan…
"Aku mengizinkan kalian berbicara ketika makan. Tapi tidak dengan keributan. Bisakah kalian berhenti bertingkah kekanakan? Kalian adalah pemimpin dari perusahaan bergengsi. Lalu ada Doyoung di sini. Apa kalian tidak malu?" dari resonansinya, Jaejoong terdengar sedang meminta kedua putranya untuk lebih bijak berbicara.
Tanpa melanjutkan pertengkaran kekanakan barusan, kedua Jung bersaudara itu melanjutkan kegiatan makan.
Doyoung merasa pusing sendiri. Apa yang salah dengan kakak-beradik ini? Terutama Jung Jaehyun. Sosok yang ia lihat sebagai tokoh pebisnis luar biasa dengan tindakan mengagumkan yang ditunjukkan di perusahaan. Seperti orang yang berbeda dengan Jung Jaehyun yang berada di sekeliling keluarganya saat ini.
Sementara Taeyong dan Yunho tidak ambil pusing.
Jiwa ayah dan ibu memang berbeda.
"Ngomong-ngomong nak Doyoung," Jaejoong kembali memulai setelah menelan suapan kelima.
Takut-takut Doyoung menatap mata calon mertuanya itu.
Tunggu, calon mertua?
Tentu saja. Dengan undangan diam-diam makan malam istimewa ini, lalu ayah dan ibu Jaehyun yang sama sekali tidak keberatan ketika putra bungsu mereka memanggil Doyoung dengan sebutan kakak ipar. Ada sebutan yang lebih cocok untuk Doyoung selain calon-anggota-keluarga-Jung?
Sepasang saudara kembar identik dan satu sepupunya itu ikut mengarahkan indera penglihatan pada si pembicara. Mengantisipasi apa yang akan dikatakan ibu mereka ini pada calon menantunya. Memberi pesan untuk mengawasi dan menjaga Jaehyun dengan baik dan sepenuh hati?
"Kami akan memastikan bahwa masalah yang menimpa Voice akan segera berakhir. Percayalah. Meskipun Jaehyun adalah anak nakal, ia selalu bertanggung jawab atas ulahnya. Jangankan karena kesalahannya. Kesalahan pegawai saja selalu ia yang menanggulangi. Terbukti, Jung Corp pun sempat berada di ambang kebangkrutan sebanyak beberapa kali semasa di bawah kepemimpinannya ini. Namun ia selalu cekatan mengambil tindakan hingga akhirnya Jung Corp selalu berakhir selamat dan tetap berjaya."
Tentu saja putra kesayangan anda ini bisa menyelesaikannya dengan cepat. Ia sendiri yang bilang, dengan uang, ia bisa mengakhiri semua ini. Yang masih betah untuk tidak ia akhiri dalam waktu dekat ini adalah permainannya…
Sementara Doyoung tenggelam dalam pemikirannya tentang Jaehyun, pria yang berada dalam pikirannya itu merasa lega. Akhirnya sang ibu bisa mengatakan hal-hal baik tentang dirinya di hadapan kekasihnya. Meskipun tidak bisa menghilangkan sisipan frasa 'anak nakal'.
"Terima kasih, Eommonim."
"Sudahlah. Jangan dulu membahas hal-hal berat seperti itu ketika jam makan berlangsung. Itu bisa menghilangkan selera makan. Kalian tidak mau kan kalau makanan yang sudah dibuat susah-susah ini menjadi sia-sia?" akhirnya sang kepala keluarga angkat bicara.
Calon ayah mertua ini pengertian sekali sih, pikir Doyoung. Sudah sejak awal ia ingin menghindari topik sensitif semacam tadi. Dan si Jung nomor satu –Jung Yunho menjadi penyelamat jiwanya.
Semua ini terasa semakin membingungkan Doyoung sebenarnya. Awalnya ia menyukai Jaehyun. Lalu naik ke level menginginkannya. Sayangnya ia sempat membenci Jaehyun karena perbuatan yang semena-mena. Namun ketika Jaehyun memberikan apa yang selama ini ia inginkan, ia tidak menolak. Dan terkadang hatinya bersedia dibeli segudang hadiah. Lalu sekarang, ditambah kehangatan keluarga kekasihnya yang diberikan padanya. Benar-benar berhasil mengambil hatinya. Kedua orang tua Jaehyun terutama sang ibu, terlihat begitu berharap. Merasa cocok dengan Doyoung, dan Doyoung jadi merasa memiliki ikatan lain yang terlihat lebih jelas di sini. Jelas sekaligus tidak jelas.
Dunia Doyoung sudah cukup sempit, ia rasa. Namun Jung Jaehyun benar-benar menerobos masuk dan menyesaki dunia itu.
Ia harus bagaimana?
"Kalau aku bilang aku sedang dekat dengan Ten, itu bukan hal berat kan?"
Doyoung memilih untuk tidak melirik siapapun saat ini dan memandangi napkin di pangkuannya sampai sehelai kain itu mungkin bisa berlubang akibat tatapannya.
Sementara spontan Jaehyun dan Taeyong menatap si bungsu Jung yang malah terlihat cengar-cengir tanpa dosa setelah mengatakan itu.
"Kurasa bukan," Jaehyun melirik pada Taeyong, "Hanya saja… mungkin sama sensitifnya dengan topik tentang Voice. Apalagi dia juga datang dari perusahaan itu."
"Jadi anak-anakku sekarang sedang terlibat dalam perasaan lebih pada orang-orang Voice? Sementara banyak orang tua yang menjodohkan anak-anak mereka untuk mempersatukan dua perusahaan, kalian di sini malah melakukannya sendiri tanpa perintah kami." Jaejoong tersenyum jenaka. Terlihat sarkastik. Namun ia senang dengan fakta itu.
Dasar Jung Eunwoo idiot. Kalau kau sudah mengatakannya di hadapan orang tuamu begini, bagaimana aku akan mengalami kemajuan pendekatan pada pria Thailand itu?! Batin Taeyong. Seketika ia menyesal tidak mencampurkan serum virus thalassemia Zimbabwe ke dalam venison yang sedang disantap Eunwoo. Lain kali sebelum memasak ia akan melihat terlebih dahulu siapa yang akan memakannya.
Ia benar-benar akan mengajak Eunwoo bicara empat mata begitu acara makan malam ini selesai.
"Nak Doyoung," kali ini Yunho yang mengajaknya bicara. Suaranya lembut dan berwibawa dalam satu tarikan nafas, Doyoung tidak mengerti bagaimana pria itu melakukannya.
Ia kembali membagi fokus antara makanan dan mata musang milik pria paruh baya berwajah rupawan itu. Namun kali ini ia tidak sewas-was tadi. Karena ia sudah hapal bahwa seorang Jung Yunho tidak akan membawa mereka pada topik menegangkan.
Haha. Betapa salahnya dia begitu kalimat berikutnya mengalir tenang dari bibir berbentuk hati pria itu.
"Kapan kami bisa berkunjung ke rumah orang tuamu? Kita bisa membicarakan dan mempertimbangkan tanggal pernikahan di sana." diakhiri dengan senyum ringan dan penuh pengayoman.
Doyoung tercekat. Dan berharap bumi terbelah lalu menelannya hidup-hidup begitu saja. Ini gila. Ia bahkan belum bisa memutuskan perasaan apa yang ia miliki pada Jaehyun, apalagi untuk memutuskan menikahinya? Just, Hah?!
Berbanding terbalik dengan apa yang Doyoung harapkan. Ternyata pria mantan top 10 playboy Korea Selatan itu malah mengambil perbincangan mematikan. Baiklah, tentu memang itu bukan pertanyaan yang di luar ekspektasi jika kau bertemu dengan orang tua 'kekasih'mu. Tapi hidup Doyoung sudah cukup rumit dengan segala perasaan yang campur aduk di kepalanya.
Bukankah ia hanya menjadi kekasih kontrak Jaehyun? Kenapa jadi sejauh ini? Sebenarnya mau dibawa ke mana permainan ini?
Ia mendelik pada sang kekasih yang ia tak percaya bahwa si sulung Jung itu bisa-bisanya melahap makan malamnya dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Apa yang ia rencanakan?
Jung-fcking-Jaehyun…
.
Doyoung benar-benar tidak bisa mempercayai ini. Semua yang telah Jaehyun lakukan telah membuatnya gila. Terlalu gila hingga membuatnya mengabaikan keindahan pantulan cahaya bulan pada permukaan kolam renang di sampingnya.
Doyoung menyelesaikan acara makan malam itu dengan sukses, dan setelahnya Jaehyun membawanya ke tempat outdoor ini. Sekarang Doyoung bisa memandang bintang-bintang dengan lebih jelas, tanpa terhalang kaca. Dan kolam renang di lantai 50 ini adalah yang terbaik.
"Kau tidak bilang kalau kau tinggal bersama kedua orang tuamu di penthouse ini." ujar Doyoung membuka pembicaraan.
"Ada yang salah dengan itu? Bukankah adalah hal normal apabila seorang anak yang belum berumah tangga masih tinggal seatap dengan kedua orang tua dan saudara kandungnya? By the way, sepupuku itu diminta ibuku untuk membantunya memasak. Ia tidak tinggal di sini." Jaehyun menjelaskan hal lainnya tanpa ditanya.
Doyoung hanya mengalihkan tatapannya ke arah malam yang gelap, "Kupikir orang sepertimu akan tinggal sendirian." Benar sekali. Sepertinya Nona Steele versi pria ini terlalu terpaku pada kisah selewat Fifty Shades of Grey yang pernah roommate-nya ceritakan ketika dengan begitu puas menggodainya. Jadi apakah sepenuhnya salah Jaehyun?
"Sudahlah sayang. Aku tidak sengaja mengundangmu dalam acara makan malam ini." ia berkomentar ringan, seringan tiupan angin malam yang menyibak sedikit poni rambut Doyoung.
Doyoung memandangi Jaehyun setengah jengah, setengah tak percaya, "Ya, tidak sengaja. Ketidaksengajaan yang terorganisir." Berharap jika ia punya kekuatan super pandangan laser yang mematikan. Dan mungkin tidak sengaja membunuh kekasih kontraknya ini karena kekuatan barunya yang tidak bisa ia kendalikan akan terdengar lebih baik di kepalanya.
Jaehyun merengut, "Baiklah. Semua ini memang rencanaku. Aku telah berjanji pada Appa dan Eomma untuk membawamu pada mereka. Maka kami menyiapkan segala sesuatu yang istimewa hanya untuk menyambut kedatanganmu malam ini."
"Kenapa kau melakukannya?" Doyoung menyipit sinis sekarang. Benar-benar berharap jika ia punya kekuatan super apapun itu muncul saat ini dan ia bisa menggunakannya untuk membunuh Jung Jaehyun perlahan-lahan. Tidak ada yang lebih buruk daripada acara makan malam barusan.
"Aku ingin memberikan sebuah kejutan untukmu. Dan aku harap kau merasa senang dengan semua itu."
"Bukan, bukan yang itu. Maksudku…" Doyoung sempat memalingkan wajah. Tidak lama. Sampai akhirnya kembali menatap sang kekasih, "Kenapa kau melakukannya hingga sejauh ini? Kita adalah kekasih kontrak. Bahkan belum sampai enam bulan. Tapi tadi orang tuamu membicarakan hubungan kita hingga ke jenjang pernikahan. Sebenarnya apa lagi sih yang kau rencanakan? Kau tahu Jung Jaehyun? Aku merasa aku sedang kau permainkan di dalam permainan kecil yang berada dalam permainan besar."
Doyoung tetap menceritakan tempat tinggal kedua orang tuanya pada orang tua Jaehyun tadi, omong-omong. Dan Jung Yunho sedang memikirkan waktu yang tepat dimana ia dan istrinya akan membawa Jaehyun ke tempat itu.
"Kau benar. Kita adalah kekasih kontrak." Ujar Jaehyun.
"Tentu saja. Tidak perlu kau tegaskan. Jika kontrak ini berakhir, maka hubungan kita pun selesai. Iya kan?" Doyoung merasa sesak dan tidak rela di kalimat terakhir Jaehyun dan juga kalimat terakhirnya sendiri.
"Ya." tidak ada penolakan. Jaehyun lebih mirip terlihat pasrah saat ini. Logika Doyoung terasa berputar di tempat yang salah saat ini. Di satu sisi, Jaehyun seperti tidak ingin ini berakhir. Tapi ketika dikonfrontasi bahwa ini, tentu saja, akan berakhir begitu kontrak habis. Ia terlihat tenang-tenang saja. Hah?!
"Lalu?"
"Ketika kontrak ini habis, kau bukan kekasihku lagi."
Kalau bisa, Doyoung ingin sekali mengatakan pada Jaehyun untuk tidak mereduplikasi kalimat itu. Dasar tidak kreatif. Terlebih karena ia tidak ingin diingatkan lagi.
"Karena pada saat itu tiba, aku telah mengganti statusmu dari kekasih, menjadi istri."
Doyoung mengangkat sebelah alis, "Maaf?"
"Aku tidak ingin setelah kontrak ini berakhir, kita kembali berjalan di balik dinding pemisah masing-masing. Mari kita hancurkan dinding itu dan membangun satu yang baru. Yang akan terus mempersatukan kita."
"Ada keributan apa ini?" tanya seseorang yang baru saja hadir di tengah-tengah mereka.
Sepasang kekasih itu menoleh ke asal suara, "Sedang apa kau di sini?" tanya Jaehyun.
"Hanya numpang lewat."
"Aren't you talking about a great deal with Taeyong?"
"Bukan urusanmu."
Jaehyun memutar bola mata, "Pergilah bocah. Orang dewasa sedang mencoba untuk menyelesaikan masalah di sini."
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi sebelumnya, aku ingin mengutarakan sesuatu pada Kim Doyoung."
Eunwoo berjalan hingga berdiri di hadapan Doyoung. Ia lalu meraih telapak tangan pemuda di depannya itu. Menggenggamnya.
Jaehyun hendak melepaskan genggaman itu, "Hei! Apa-apaan-"
Eunwoo langsung mendorong dada Jaehyun dengan tangan lainnya. Berusaha untuk menjauhkannya. Jaehyun termundur dua langkah hingga sepasang tumitnya sudah berada dekat tepian kolam.
"Kim Doyoung," Eunwoo menggantungkan kalimat.
Baik Jaehyun maupun Doyoung, memperhatikan perkembangan situasi yang terjadi. Sebenarnya apa yang akan pria ini lakukan?
"Would you be my brother-in-law?"
"Hah?" Doyoung baru saja menampilkan ekspresi wajah terburuknya hari ini. But seriously, lagi-lagi, like hah?!
Doyoung tahu bahwa kebanyakan orang kaya adalah orang aneh yang gila. Ia hanya tidak pernah tahu bahwa kegilaan bisa merata di satu keluarga.
Setelah sedikit mencerna, Jaehyun menahan tawa. Ia merasa bodoh.
"Eunwoo. Kau tahu saja kalau aku sedang melamarnya." Jaehyun sekarang malah menatap adiknya bangga. Membuat Doyoung makin mengernyit dengan semua kegilaan malam ini.
"Tentu. Kau kan adalah belahan jiwaku, Jaehyun. Aku selalu tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Aku merasakan kebahagiaan yang kau rasakan. Aku merasakan kesedihan yang kau rasakan. Aku merasakan sakit yang kau rasakan. Kau adalah separuh hidupku. Begitu juga sebaliknya. Benar kan?"
Doyoung memperhatikan bagaimana Eunwoo menatap Jaehyun dengan sapuan kasih yang tidak ia kenal cara untuk menginterpretasikannya.
Jaehyun tertawa kecil, "Menggelikan mengakui ini. Tapi apa yang kau katakan itu benar."
"Dan kau memanggilku dengan nama asliku barusan. Kau sedang merasa senang saat ini."
"Tidak ada perasaan yang bisa aku sembunyikan darimu Jung Eunwoo. Hanya kau yang mengetahui segalanya tentangku lebih dari siapapun."
Otot leher Doyoung bolak-balik. Melihat dua pasang mata para pria di sekitarnya bergantian.
Hellooo… aku di sini. Kenapa kalian malah jadi saling confess perasaan satu sama lain? Bukankah saat ini akulah pemeran utamanya?
Seakan bisa membaca pikiran Doyoung, Eunwoo kembali menatapnya, "Aku akan sangat senang jika kau bersedia menjadi kakak iparku. Kebahagiaan Jaehyun adalah segala-galanya bagiku. Jadi, apa kau bersedia?"
Jaehyun tersenyum, menunjukkan lesung pipi favorit sang kekasih yang sepaket dengan matanya yang tersenyum ketika kekasihnya itu menoleh padanya.
Doyoung mengembalikan pandangan pada Eunwoo, "Aku…"
Jaehyun percaya diri. Ia tidak melepas senyumannya sama sekali.
"Akan mempertimbangkannya."
Kedua saudara kembar itu mengendurkan otot bibir. Senyum antusias keduanya memudar begitu saja. Memperlihatkan kekecewaan yang jelas.
"Setidaknya kau tidak bilang tidak. Berarti masih ada harapan." Ujar Eunwoo, "Sesuai janjiku, begitu aku selesai mengutarakan apa yang ingin kukatakan, aku akan pergi. Selamat bersenang-senang kakak-kakak."
.
Awalnya Doyoung hanya mencubit pelan pipi pria Thailand itu. Ia tahu itu tidak akan berhasil, tapi lucu saja melihat pipi pemuda itu melar akibat cubitannya.
"Ayo bangun Ten."
Doyoung mengguncang-guncangkan tubuh teman sekamarnya –satu ruangan apartemen tapi tidak tidur di kamar yang sama- itu dengan kuat. Membuat tempat tidur Ten sedikit berdecit.
"Tidak mau." Ten menampik tangan si pengganggu kenikmatan tidurnya.
"Jangan seperti itu. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Ayo."
Ten membuka mata sedikit dan pandangan kaburnya menangkap langit-langit kamar berputar.
Dengan malas ia berjalan ke ruang tengah mengikuti sang roommate dan duduk bersila di atas sofa. Dengan mata setengah terpejam.
Doyoung menyodorkan sehelai toast dengan marmelade ke mulut Ten hingga menempel di bibirnya. Ten membuka mulut dan menggigit roti panggang itu. Akhirnya memegang dan mengunyahnya, masih dengan gerakan malas yang terlihat jelas. Setelah itu Doyoung kembali menyodorkan sesuatu di hadapan wajah teman sekamarnya itu. Kali ini segelas susu. Dan masih dengan kadar kemalasan sama, Ten menerima gelas itu dan meminum beberapa teguk isinya. Ucapan terima kasih berintonasi datar menyusul setelah ia meletakkan gelas di atas meja.
"Bagaimana perkembangan hubungan kalian?" Doyoung memulai topik ketika ia menekan tombol remote TV untuk mengganti saluran. Ia bukan anak-anak. Film animasi makhluk kuning bernama Larva tidak cocok untuknya. Berakhir pada saluran berita pagi, keduanya tidak begitu menyimak dengan baik. Mereka tidak yakin apakah berita tentang bursa saham Korea Selatan bergerak positif pada perdagangan yang sedang ditayangkan itu ada hubungannya dengan kehidupan mereka.
"Aku dan siapa?" otak baru bangun tidur tidak bisa bekerja secepat yang Doyoung harapkan. Pemuda itu seharusnya sudah mengerti akan hal ini sekarang.
"Si bungsu Jung itu. Siapa lagi memangnya?" dengan suara matter of fact Doyoung menjelaskan.
"Oh. Kami hanya berteman. Tidak ada yang istimewa. Ia sendiri hanya bermaksud berteman denganku."
Setelahnya Ten mendengar dengus perlahan.
"Coba pikirkan. Ia sering mendatangimu. Orang seperti dia tidak akan membuang waktunya sembarangan hanya untuk menemui seseorang jika orang itu tidak memiliki arti untuknya." Doyoung berbicara perlahan, seperti sedang menjelaskan pada anak kecil bahwa bayangannya di cermin bukan orang lain, tapi sesungguhnya dirinya juga.
"Entahlah." Ten memasang ekspresi berpikir sesaat. "Tapi ia memang suka menggodaku sih." ujarnya lagi setelah berpikir ulang dan logika bangun tidurnya mulai berjalan lebih cepat.
"Nah. Apa kau tidak merasa kalau ia menyukaimu? Lagipula kau bilang ingin didekati pria kaya juga kan?" Doyoung menggoda sambil menaik turunkan alisnya.
Ten hanya memutar bola matanya dan sama sekali tidak terlihat tergoda atau malu-malu soal probabilitas itu, "Aku tidak ingin berharap banyak. Dan pria kaya yang kuinginkan bukanlah dia."
"Jangan sia-siakan pria sebaik Jung Eunwoo. Nanti kau menyesal." Doyoung lalu bersiul sebagai akhir argumennya.
Ten berhenti lagi sesaat. Mengeluarkan ekspresi berpikirnya. Lalu menatap Doyoung dengan rasa ingin tahu, "Kau mengira kalau dia benar-benar menyukaiku?"
"Sebelum aku memiliki perkiraan seperti itu, ia sudah lebih dulu bilang padaku." Doyoung tersenyum lebar pada kenaifan di pertanyaan Ten barusan.
"Benarkah?" sekarang pemuda itu kembali dengan ekspresi skeptisnya.
"Ya. Sebaiknya kau memilih yang pasti-pasti saja. Jangan menunggu dan berharap pada seseorang yang tidak memberimu kepastian."
Ten mengulum senyum unik. Sebuah tarikan otot bibir yang memiliki lebih dari satu makna, "Terima kasih atas saranmu. Tapi aku akan tetap melakukan apa yang terbaik menurutku."
Dengus itu terdengar lagi, "Terserah."
"Jadi kapan kau akan membawa kabar baik itu?" kali ini Ten yang bertanya. Baiklah, mereka telah melalui proses yang baik untuk berpindah topik.
"Tunggu saja." Doyoung berdiri untuk membereskan perabot bekas ia memasak.
"Sampai kapan aku harus menunggu?" ujar Ten yang sedikit nada suaranya naik karena agak kesal.
"Kupastikan tidak lama. Jadi jangan khawatir." Doyoung mengerling.
Ten cemberut. Tidak menyukai sesuatu yang tidak pasti dari kalimat roommate-nya itu.
"Bagaimana mungkin aku bisa tidak mengkhawatirkan hal ini?"
"Sudahlah. Habiskan saja sarapanmu. Setelah itu kita akan menghabiskan hari libur ini bersama-sama."
Ten merengek. Ia mengacak brutal rambutnya yang baru saja dicukur kemarin hingga sangat pendek, "Aku lelah. Aku ingin tidur seharian."
"Tapi sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua."
"Kau yang membuatnya begitu. Kau sibuk dengan Jung Jaehyun."
"Kau sendiri sibuk kerja lembur."
"Aku menggantikan tugasmu bodoh."
Doyoung memutar bola mata, "Hari ini kita sama-sama kosong. Kapan lagi?"
"Lain kali saja."
"Kau tidak menyenangkan."
"Kalau kau tidak ingin hanya berdiam diri di rumah dan ingin pergi keluar, ajaklah pacarmu itu."
"Tidak. Yang kuinginkan adalah dirimu."
"Tapi aku benar-benar lelah. Kau tidak kasihan padaku?"
Denting pemberitahuan obrolan masuk terdengar dari ponsel Doyoung. Ia meraih benda itu dari atas meja di hadapannya dan membaca nama si pengirim.
Jung Jaehyun.
Aku akan membawamu ke resort Millenium Seoul Hilton untuk bermain golf. Aku akan menjemputmu siang ini. Bersiap-siaplah.
"Dan aku akan berterimakasih pada Jung Jaehyun setelah ini. Tahu saja ia kalau aku ingin menghabiskan waktu liburku dengan beristirahat penuh." Celetuk Ten yang ikut membaca isi obrolan Doyoung di sampingnya, "Kau benar-benar sosialita sekarang."
.
"Kau menyogok seorang editor Voice untuk memalsukan berita." Jung Eunwoo baru saja memasuki ruangan kantor saudara kembarnya tanpa mengetuk pintu. Dan mengungkapkan kalimat itu tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Jaehyun memberi jeda pada kegiatan menandatangani berita acara. Ia menarik otot bibir perlahan. Seulas senyum tipis. "Sudah ketahuan modusnya ternyata. Sepertinya kau sudah terlalu sering datang ke sana sehingga bisa mengetahui hal itu."
"Tega sekali kau membuat salah satu perusahaan relasimu memiliki seorang penghianat di dalamnya."
Jenis senyum Jaehyun berubah, "Santailah. Di setiap perusahaan pasti ada penghianat. Jadi tidak perlu merasa heran. Lagipula kau juga sudah tahu kan kalau aku adalah dalang di balik semua ini? Kenapa sekarang kau terlihat protes sekali?"
"Tolong hentikan semua ini Jung Jaehyun. Bebaskan Voice sebelum dunia tahu bahwa Jung Corp menekan perusahaan majalah itu. Klarifikasi pada mereka bahwa kau memang gay tapi hal itu tidak akan membawa pengaruh buruk pada perusahaanmu ini. Sehingga masalah ini clear dan Voice bisa kembali bergerak dengan tenang. Dan berita tentangmu tidak membuat kecemasan pada masyarakat." Sikap diplomatis Eunwoo datang dari hati.
"Tanpa kau jelaskan cara untuk membersihkan masalah itu, aku sudah tahu. Aku sudah membuat konsep dan kerangka sebelum aku membayar editor itu. Kau pikir aku melakukan semua ini begitu saja? Tentu aku juga tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Mudah saja."
"Lalu apa yang kau tunggu? Ayo selesaikan sekarang. Ingatlah selalu status sosial yang baik di mata masyarakat."
"Aku memiliki sebuah rencana dan sedang menjalankannya. Dan aku tidak berniat untuk menghentikannya secepat itu. Masih banyak yang harus kulakukan. Untuk hal itu, juga untuk saat ini. Aku sangat sibuk. Jadi tolong tinggalkan aku."
"Tidak perlu mengusirku. Aku memang akan meninggalkanmu. Juga meninggalkan kalian semua. Dan kau benar-benar tidak akan melihat wajahku lagi selama beberapa tahun ke depan."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan kembali ke Kansas untuk menjalankan perusahaan Appa di sana."
Jose-J Inc. Anak perusahaan Jung Corp yang memiliki cabang di Washington, Arizona, dan California. Kepemilikannya bersifat transferable dan memiliki saham yang bisa diperjualbelikan secara bebas. Jika dibilang sebagai perusahaan milik Jung Yunho, sebenarnya Jung Corp juga milik Jung Yunho. Tadinya. Hingga akhirnya sejak beberapa tahun yang lalu perusahaan itu telah diserahkan pada Jaehyun.
"Aku akan mengambil penerbangan besok pagi. Itu kan yang kau inginkan? Jadi aku tidak perlu lagi menyaksikan semua kekacauan ini."
"Kenapa mendadak sekali? Lalu bagaimana dengan Ten? Kau akan meninggalkannya begitu saja?"
Eunwoo telah berpamitan dengan Ten di hari sebelumnya. Itu adalah hal terberat yang pernah ia lakukan selama beberapa bulan tinggal di negerinya ini. Entah mengapa reaksi pemuda pendek yang ia sukai itu menunjukkan bahwa ia bisa melepas Eunwoo. Namun ada perasaan sakit dan tidak rela yang terlukis di wajah Ten saat itu. Membuat Eunwoo merasa semakin terbebani. Jika sejak awal ia tahu ia akan kembali ke Kansas secepat ini, ia tidak akan berkeliaran untuk mendekati seseorang.
Ia juga berpikir bahwa dengan kepergiannya ini Taeyong tidak perlu bersaing dengan siapapun lagi untuk mendapatkan Ten. Apalagi untuk mendapatkan pria Jepang bernama Yuta yang memang sejak awal tidak ada saingan.
Sang adik tersenyum miris, "Apa pedulimu?"
"Aku saudaramu. Tentu aku peduli."
"Aku ragu akan hal itu." Sang adik berujar skeptis sekali lagi. Tapi ia tersenyum. Ia menghargai kebohongan untuk basa-basi.
"Kau benar-benar meninggalkan kesan buruk untuk sebuah perpisahan." sang kakak bicara, seakan tidak suka. Namun sesungguhnya, sepenuhnya khawatir dan merasa sedikit, entahlah, bagaimana menyebutnya? Bersalah?
Tapi toh, sang adik tidak peduli soal kesan yang ia tinggalkan. Jelas terdengar dari kalimat yang keluar berikutnya dari bibirnya, "Bukan aku. Kau yang melakukannya."
"Apa kau bilang?"
Eunwoo melangkahkan kaki-kaki panjangnya semakin mendekat pada meja kerja Jaehyun. Menumpukan sepasang lengan di atas meja itu dan mendekatkan wajah pada sang kakak. Hingga membuat Jaehyun spontan memundurkan badan, karena jarak wajah keduanya terlalu dekat.
"Selamat tinggal Jung Jaehyun."
.
"Kalau kau memang benar-benar menginginkanku, kau bisa kan melakukannya baik-baik? Kita sudah melewati proses awal yang baik. Dan kau mengacaukan segalanya." Tidak perlu jauh-jauh membahas seorang CEO tampan yang menerobos masuk ke dalam dunia sempit Doyoung, pria kaya itu baru saja menerobos masuk ke dalam teritorial paling pribadi Doyoung. Kamar tidurnya. Dan mereka telah melalui beberapa topik lumayan berat hingga akhirnya Doyoung melontarkan kalimat kekecewaan itu.
"Memangnya kalau aku tidak menggunakan cara ini, kau bersedia untuk menjalani semuanya denganku?" dunia Jaehyun berhasil teralihkan jika menyangkut sang kekasih. Hingga ia lupa bahwa ibunya memberitahunya bahwa kemarin sang adik telah mendarat di belahan bumi bagian barat dengan selamat.
"Menurutmu?" Doyoung mengeluarkan smirk kecil. Semakin handal dalam permainan percintaan antara bosnya ini dengan dirinya.
Jaehyun merasa ditantang. Dan ayolah, kau tidak menantang seorang Jaehyun tentu saja.
Ia segera memberikan serangan berupa ciuman. Aksi yang terkesan terburu-buru, namun entah bagaimana Doyoung selalu menerima itu. Bibir keduanya bergumul beberapa saat memperebutkan dominasi. Tapi Doyoung tentu tahu bahwa ia harus mengalah, kau tahu, terkadang mengalah dalam hal seperti ini dan membiarkan kenikmatan menguasai lawan mainmu menjadi strategi lebih tepat daripada sekedar menang dalam dominasi pergumulan bibir namun membuat ciumanmu terasa hambar.
Tahu-tahu mereka mendapati diri mereka sudah berada di atas ranjang. Jaehyun menelisik atasan pakaian sang kekasih. Menanggalkan secara total kemudian. Tanpa menanggalkan ciuman.
Wajah mesum Jaehyun seakan mendapat latar yang tepat ketika berada di atas tempat tidur, memposisikan diri di atas tubuh Doyoung. Menatap kekasihnya selama beberapa saat. Berbisik, "Kau selalu tahu apa yang harus kau lakukan, bukan begitu?"
Doyoung tidak menjawab. Hanya membawa Jaehyun lebih dekat kembali ke bibirnya. Mereka berciuman lagi selama beberapa saat.
Sampai bibir Jaehyun kemudian melakukan perjalanan hingga menyentuh kulit leher Doyoung yang terasa halus. Sempat terbesit dalam benak, apakah Kim Doyoung mengaplikasikan perawatan metroseksual pada dirinya setiap malam?
Tidak ada alasan cukup masuk akal bagi mereka untuk menghentikan kesenangan itu saat ini.
.
.
TBC
.
.
.
Sekian lama ga liat momen JaeDo. Dengan kambeknya mereka dalam satu unit yang sama –lagi, JaeDo shipper seperti berlibur. Meskipun sempet ada 'sesuatu' yg berhasil bikin kita kocar-kacir :v Tapi lupakan itu. Yg penting sekarang mereka satu unit lagi oke? Bakal ada banyak momen mereka setelah ini.
Makasih buat semua yg terlibat dalam ff ini. Penulisnya, pembacanya, terutama yg ngasih umpan balik. Aku cinta kalian :*
Makasih juga buat matkul Conversation for Business yg bikin aku ngerti sedikit-banyak perihal tentang perusahaan besar.
Semoga pembaca masih mantengin kisah JaeDo di sini. Ga berangsur-angsur kabur. Ga mundur dengan teratur. Dan aku harap chapter ini memuaskan.
Sampai jumpa di chapter berikutnya.
Much love and many kisses from ichinisan1-3 :***
