Gloomy
Casts:
-Johnny
-Jaehyun
-Jeno
-Hansol
-Taeyong
-Ten
-Doyoung
-Yuta
-Taeil
-Renjun
Part 2
1 tahun berlalu setelah kejadian pembunuhan yang terjadi di rumah keluarga Johnny, kasus tersebut sampai sekarang ini belum bisa terpecahkan oleh polisi, bahkan polisi tidak bisa menetapkan tersangka karena tidak adanya bukti yang kuat, kasus tersebut sampai sekarang masih menjadi kasus besar yang diberi nama The great Murderer karena sang pelaku dengan mudahnya melakukan aksi pembunuhan di rumah mewah dengan pengawasan ketat tanpa cacat dan sangat apik dan dengan teganya membunuh korban didepan mata keluarga korban, menyebabkan trauma besar terhadap keluarga korban terutama kedua anaknya. Johnny, Jaehyun dan Jeno merupakan saksi utama dalam kasus pembunuhan tersebut, mereka sudah memberikan kesaksian mereka namun tetap saja polisi masih tak mampu menetapkan siapa tersangka utama dalam kasus ini, bahkan Hansol yang pada malam itu menelpon polisi juga tidak bisa memberikan keterangan apapun Ia berdalih tidak melihat kejadian tersebut, Ia hanya mendengar suara keributan dari luar kamarnya dan bersembunyi, lalu menghubungi polisi.
Saat ini Johnny sedang duduk di meja kerjanya dengan setumpukan berkas yang harus ditanda tanganinya, disampingnya berdiri seorang pria, tangan kanannya sebut saja Hansol sedang sibuk memainkan jari-jarinya diatas Ipad untuk memastikan seluruh jadwal atasannya tersebut.
"Kau tidak perlu melihatnya" Johnny menandatangani berkas terakhirnya dan berbalik menghadap Hansol.
"Ya? Apa maksudmu Johnny? Apa kau ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan?" Hansol menyimpan Ipadnya diatas meja kerja Johnny, Ia dengan santai memanggil atasannya dengan hanya menggunakan nama tanpa embel-embel pak atau tuan atau panggilan formal lainnya, mereka akan bersikap seperti seorang teman jika sedang berdua saja, Hansol hanya akan memanggil Johnny dengan sebutan formal pada saat pertemuan kerja atau pada saat mereka berada disekitar karyawan, selebihnya mereka akan terlihat seperti teman bahkan ketika berada didepan Jaehyun dan Jeno, Hansol hanya memanggil Johnny dengan namanya saja.
"aku ingin makan bersama Jaehyun dan Jeno, kau tau aku sudah lama tidak makan bersama mereka"
"kau masih punya waktu untuk bertemu dengan para pemegang saham sebelum makan bersama dengan kedua anakmu" Hansol mengumpulkan dan merapikan semua berkas yang sudah ditanda tangani oleh Johnny.
"Jaehyun sedang sibuk dikampusnya, dia akan pulang sekitar jam 7 malam, sedangkan Jeno sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian, percuma jika kau pulang sekarang, mereka tidak akan ada dirumah" lanjutnya, tanpa menatap lawan bicaranya.
"hhh….semakin besar semakin sulit bertemu dengan mereka" Johnny melonggarkan dasinya dan bersandar di bangkunya.
"Johnn, mau sampai kapan kau melakukan semua ini?" seusai merapikan semua berkas itu Hansol menatap Johnny dan bertanya serius kepadanya "bukan hanya kau, tapi kedua anakmu juga"
"apa maksudmu?"
"aku tau kau mengerti maksudku, kesaksianmu, kesaksian kalian bertiga, mengapa kalian tidak mendeskripsikan wajah pembunuh itu dengan jelas, kau melihatnya bukan? Dan aku yakin pula kau akan bisa mendeskripsikan wajahnya dengan jelas, tapi kenapa kalian berkata tidak mengingat wajah pembunuh itu?" kini ruangan itu berubah menjadi sunyi setelah Hansol mengeluarkan suaranya, Ia menunggu jawaban dari sang lawan bicara yang hanya terdiam.
"aku tidak akan menyerahkan keparat itu dengan santai kepada para polisi" kini Johnny menatap tajam Hansol yg berada didepan meja kerjanya "Ia hanya akan mendapatkan hukuman penjara dan itu sangatlah tidak adil, bahkan untuk hukuman seumur hidup pun"
"Tapi kau melibatkan kedua anakmu"
"Aku tidak melibatkan mereka, apa kau tau apa yang Jaehyun dan Jeno katakan pada malam itu?" Hansol terdiam menunggu lawan bicaranya melanjutkan perkataannya "Mereka mengatakan 'hukuman yang legal tidak pantas untuknya' aku tidak memerintahkan mereka untuk melakukan hal yang sama sepertiku, itu semua adalah kemauan mereka sendiri, dan karena itulah aku semakin merasa bahwa mereka mendukungku" Hansol terdiam, Ia tidak tau harus mengatakan apa lagi, ini sudah kesekian kalinya Ia membujuk Johnny untuk menyelsaikan kasus ini, setidaknya Jika Johnny dan kedua anaknya mendeskripsikan wajah sang pelaku dengan jelas, polisi dapat membuat sketsa dan itu akan lebih memudahkan polisi untuk menangkap pelakunya, namun tetap saja Johnny selalu menolak permintaan Hansol tersebut.
"Apa kau tidak kasihan kepada mendiang istrimu? Jika Ia melihat kau dan anak-anakmu hidup dalam dendam seperti ini Ia tidak akan tenang disana" lanjut Hansol
Johnny terdiam, mendengar Hansol menyebut istrinya membuatnya merindukan sosok istrinya itu "Jangan membuatku merindukan dirinya" Johnny merapikan dasinya kembali "kau bilang kita ada pertemuan dengan para pemegang saham kan? Ayo berangkat" Johnny berdiri dari tempatnya dan berlalu melewati Hansol yang masih terdiam ditempatnya "aah…Dan satu lagi, jangan pernah membujukku untuk berhenti, karena kau tau apa jawabannya kan" setelah mengucapkan hal itu Johnny berlalu keluar ruangannya.
"hhh…Keras kepala sekali" Hansol mengambil Ipad dan juga berkas-berkas yang dibutuhkan, lalu menyusul Johnny keluar.
Seorang pria berjalan sepanjang koridor membuat semua mata baik wanita maupun laki-laki tertuju padanya, stylenya mungkin sangatlah simple namun percayalah semua yang Ia kenakan, baik ransel, pakaian, sepatu, semua yang melekat pada dirinya dari ujung kaki hingga ujung kepala merupakan barang-barang branded yang harganya selangit, ditambah dengan wajah yang tampan, siapa pun pasti ingin dekat dengannya paling tidak menjadi teman yang bisa saling sapa saja pasti mereka sudah senang.
"Jaehyun" pria yang dipanggil dengan nama Jeahyun itu berhenti dan berbalik memandang wanita yang memanggilnya.
"ada apa chaeyeon?" Jaehyun menatap wanita yang dipanggil dengan nama Chaeyeon itu tanpa mengubah ekspresi datarnya.
"ini, aku ingin mengembalikan buku catatan mu, terimakasih yah, catatan mu cukup jelas dan mudah dimengerti" Chaeyeon menyerahkan buku bersampul biru laut yang terdapat inisial nama 'Jae' dipojok kanan atas buku tersebut kepada Jaehyun dengan memasang senyum terbaiknya, berharap setidaknya lawan bicaranya itu melakukan hal yang sama, bisa tersenyum ramah padanya.
Jaehyun mengambil buku tersebut dan berlalu begitu saja membuat Chaeyeon terdiam, namun belum ada tiga langkah, Jaehyun berbalik menghampiri Chaeyeon dan berkata "lain kali catatlah semua materi mu sendiri, kau tidak bisa mengandalkan orang lain terus menerus, untuk apa kau datang ke kelas jika kau tidak memperhatikan dosen yang ada didepanmu, dan satu lagi, konsenterasi lah saat berada dikelas jangan kau habiskan waktumu untuk menatapku, karena aku merasa tidak nyaman" Chaeyeon terkejut dengan ucapan Jaehyun barusan, sangat pelan namun penuh penegasan. Chaeyeon berani bersumpah, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Ia dengar dari mulut Jaehyun.
Jaehyun berlalu dan kali ini Ia benar-benar meninggalkan Chaeyeon. Jaehyun sangatlah populer dengan sebutan Ice Prince dikampusnya, semua mengenalnya, bukan hanya ketampanan dan kekayaannya saja tapi juga kepintarannya, dan karena sikap dinginnya itulah banyak orang yang enggan mendekatinya walaupun ingin. Dan satu lagi semua mahasiswa ataupun dosen di kampusnya belum pernah melihatnya tersenyum barang sedikitpun. Jaehyun tidak sesadis itu koq, dia juga pernah tersenyum,
PING!
Jaehyun mengambil smartphone nya dari kantong celananya
From: The cutest Jeno
"Hyuuuuung…..jemput aku yaaah aku lelah harus naik bus, pleaseeeee…"
To: The cutest Jeno
"Baiklah tunggu aku didepan halte bus sekolahmu"
Jaehyun tersenyum menampilkan lesung pipinya yang cute dan menawan setelah membaca dan membalas pesan dari adiknya Jeno, sayangnya tidak ada orang beruntung yang melihat itu, sang Ice Prince Jaehyun akan mencair bila Ia berurusan dengan adik tersayangnya Jeno, See…bahkan Ia menyimpan kontak Jeno dengan nama yang sangat cute.
Kantor polisi
Kali ini suasana rapat yang sangat membingungkan, memusingkan bahkan bisa membuat kepala kalian terasa ingin pecah jika kalian bergabung dengan para pria yang sedang duduk dimeja bundar di salah satu ruangan.
"apa salah satu dari kalian telah menemukan titik terang?" seorang pria yang memimpin rapat tersebut mengeluarkan suaranya memecah keheningan.
"Taeil hyung, sudah berapa kali kita bilang, kita semua itu buntu, cctv dirusak, saksi yang tidak jelas, sidik jari pun tak ada? Senjata? Tak mungkin juga pelaku dengan bodohnya meninggalkan senjatanya ditempat" Yuta orang yang sedari tadi menunduk berpikir, mengeluarkan suaranya, Ia lelah dengan kasus ini, selama hidupnya menjadi detektif, baru kali ini Ia merasa sangat bodoh.
"sebenarnya kita bisa menyelsaikan kasus ini jikalau saksi bisa mendeskripsikan wajah pelaku dengan jelas"
"kau benar Taeyong hyung, kita sebenarnya punya saksi tetapi percuma saja, saksi tersebut seperti saksi bisu" kali ini Doyoung yang bersuara, Ia sedari tadi hanya diam membuat lingkarang-lingkaran tidak jelas dikertasnya.
"Kita tidak bisa memaksakan mereka, biar bagaimanapun mereka keluarga korban, bisa saja mereka shock berat dan membuat mereka lupa akan wajah pelakunya, kalian tidak bisa membayangkan kan melihat keluarga kalian di tembak mati didepan mata kalian?" kali ini Ten yang bersuara.
"aaaarghhh…Kenapa ketua tidak mencabut kasus ini aja siiih…Keluarga korban saja terlihat tidak peduli" Yuta mengacak rambutnya frustasi.
"kasus ini melibatkan salah satu keluarga yang berpengaruh, mau di taruh dimana wajah kepolisian bila kita tidak bisa menyelsaikan kasus ini" ucap Taeyong
"bagaimana kalau kita membuat opsi baru?" Taeil yang sedaritadi mendengarkan keluhan anggota teamnya akhirnya kembali bersuara.
"Apa maksudmu hyung?" Doyoung yang daritadi terlihat tidak tertarik, meletakan pulpennya dan menghentikan acara membuat lingkarannya kini memfokuskan dirinya pada Taeil.
"sekarang aku tanya kalian, apa yang akan kalian lakukan jika kalian berada di posisi Johnny dan kedua anaknya?"
"tentu saja melaporkannya kepada polisi"
"bukan seperti itu maksudku Tae, anggaplah hukum didunia ini tidak ada, atau anggaplah tidak ada yang namanya polisi dalam negara ini"
"Balas dendam?"sahut Ten
"Tepat sekali Ten, bagaimana jika mereka sengaja tidak memberikan deskripsi yang jelas dikesaksian mereka karena mereka ingin balas dendam dengan tangan mereka sendiri tanpa campur tangan orang lain termasuk kita, polisi"
"sedikit masuk akal sih" Yuta mengangguk mengerti "jadi sekarang kau mencurigai kelurga itu?" lanjut Yuta.
"ya kau bisa mengatakan kalau aku sedikit mencurigai mereka, aku punya rencana untuk ini" Taeil membuka map yang ada didepannya, mengambil beberapa lembar foto, lalu menempelkannya di papan kaca agar semua anggota teamnya bisa melihat.
"empat orang ini Johnny, Jaehyun, Jeno dan Hansol, keempatnya berada di TKP pada saat kejadian, mereka berempat adalah saksi utama dalam kasus ini, namun..." Taeil berhenti sejenak dan melingkari foto Johnny, Jaehyun, dan Jeno.
"ketiga orang ini lah yang melihat wajah si pelaku, karna Hansol hanyalah mendengar apa yang terjadi tetapi tidak melihat"
"Jelaskan inti dari rencanamu hyung!" Doyoung mulai frustasi dengan penjelasan Taeil yang menurutnya terlalu bertele-tele.
"baiklah, rencanaku adalah, aku ingin kalian mengikuti kegiatan sehari-hari dari keempat orang ini"
"APA?" sahut keempat orang yang secara bersamaan membuat Taeil sedikit terkaget dibuatnya.
"kalian mau membuatku jantungan yah?" Taeil mengelus dadanya "jadi gini, mereka lah kunci utama siapa si pelaku itu, siapa tau kita akan menemukan titik terang jika mengawasi mereka, dan jikalau dugaan ku benar soal balas dendam itu maka kita bisa menghentikannya sebelum mereka berbuat demikian" lanjut Taeil.
"aku setuju" Ten mengangguk mengerti.
"aku akan membagi tugas, karena pada saat penyelidikan, aku dan Doyoung yang bertanya pada mereka mengenai kesaksian mereka, otomatis aku dan Doyoung tidak bisa melakukan ini, karena mereka akan mengenali wajah kami, jadi Ten, Taeyong dan Yuta lah yang akan maju ke lapangan" unjuk Taeil kepada tiga orang yang namanya disebutkan tadi.
"mungkin menyamar jadi seorang mahasiswa untuk mengawasi Jaehyun akan mudah, tapi menyamar untuk menjadi anak SMA dengan umur kita ini untuk mengawasi Jeno sepertinya akan sedikit tidak masuk akal" Taeil terdiam sejenak memikirkan cara lain untuk menjalankan misinya.
"bisakah kita melibatkan orang lain?" Doyoung angkat bicara
"orang lain? Siapa?"
"Adikku, aku dengar Ia satu sekolah dengan Jeno, aku akan menjamin atas kerahasiaan misi ini, aku yang akan bertanggung jawab" Doyoung meyakinkan.
"baiklah" Taeil mengangguk "Siapa nama adikmu?"
"Renjun, namanya Renjun"
Taeil mengangguk, Ia membuka spidolnya dan membuat catatan-catatan penting dipapan kaca "aku akan membagi tugas, Ten dan Yuta, kalian akan mengawasi Johnny, untuk kalian berdua, cukup awasi seperti biasa kita lakukan saja, kalian cukup mengawasi Johnny dari jauh, aku dengar Hansol juga selalu ada kemanapun Johnny berada, Ia tangan kanan Johnny yang menjabat sebagai sekertarisnya dan Ia juga tinggal di rumah Johnny" Yuta dan Ten mengangguk mengerti.
"dan untuk Jeno kita akan serahkan kepada adiknya Doyoung, Renjun, dan kau Taeyong, menyamarlah sebagai mahasiswa dan awasi Jaehyun, sudah jelas?"
Semua team membuat catatan di note mereka masing-masing dan mengangguk mengerti. "Baiklah kalau begitu rapat dibubarkan" Taeil membereskan semua berkas-berkasnya lalu pamit keluar meninggalkan anggota teamnya yang lain.
"hhhh…Aku tidak menyangka akan menjadi seorang mahasiswa lagi" Taeyong meregangkan badannya yang sedari tadi terasa sangat kaku. Ia maju kedepan dan melihat papan kaca yang berisi catatan-catatan serta beberapa foto yang tertempel disitu, Ia memperhatikan targetnya dengan seksama, Jaehyun.
"kau tau Ia lebih tampan daripada di foto ini, jangan sampai kau jatuh hati padanya" Doyoung menepuk bahu Taeyong.
"diamlah kau!" Taeyong menepis tangan Doyoung yang ada dibahunya "kita lihat saja seperti apa targetku ini" Taeyong menyeringai tipis, Ia berharap ini merupakan awal baru yang dapat menjadi titik terang dari kasus ini.
TBC
Annyeonghaseyo...~
aku kembali dengan ff gak jelas ini, aku bingung apakah akan memasukan pairing dalam ff ini karena memang pada rencana awal ff ini gak akan berfokus pada hal seperti percintaan, dan untuk rated M yang aku berikan itu aku berikan bukan karena ada adegan2 dewasa, aku hanya takut suatu saat ff ini akan mengandung adegan kekerasan. oh iya aku sebenrnya tidak mengerti tentang hal-hal yang bersifat hukum dalam kepolisian, jadi bagi siapapun yang membaca dan mengerti tentang hukum dalam kepolisian aku mohon maaf atas ketidak masuk akalan dalam cerita ini, karena cerita ini hanya hasil pemikiran ku saja. aku akan berusaha untuk meng update setiap chapternya denga cepat tapi aku gak janji karena tugas kampus yang numpuk, dan terimakasih untuk memberikan fav dan review, karena ini ff pertama aku jadi aku seneng banget ternyata ff ini ada yang review, walaupun sedikit, semoga kalian tak bosan yaah dengan cerita yang aneh ini selamat membaca.
-100BrightStar-
